Perpustakaan Leiden University Menyimpan Khazanah Tasawuf Nusantara

Mei 1, 2026 - 21:10
Mei 1, 2026 - 21:37
Perpustakaan Leiden University Menyimpan Khazanah Tasawuf Nusantara

Leiden, JATMAN Online

Keinginan untuk mengunjungi Perpustakaan Leiden University akhirnya terwujud. Dalam perjalanan tersebut, saya bersama KH Irawan Santoso bertolak dari Den Haag menuju Leiden dengan kereta api, setelah sebelumnya bermalam di salah satu hotel di Den Haag.

Setibanya di Leiden, kami bersilaturahmi dengan beberapa mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh studi di sana. Di antaranya Adi Yudi, alumni Fakultas Teknik UNUSIA Jakarta yang tengah melanjutkan studi magister bidang kecerdasan artifisial dengan beasiswa LPDP. Kami juga bertemu Imron, peserta Suluk Matan tahun 2018 di Al-Rabbani, yang kini sedang menempuh program doktoral. Pada sore harinya, silaturahmi dilanjutkan ke kediaman Nur Ahmad, Ketua PCINU Leiden, yang juga sedang menyelesaikan disertasi doktoralnya.

Untuk dapat mengakses Perpustakaan Leiden, pengunjung harus terlebih dahulu melakukan pendaftaran. Dengan bantuan Imron, proses tersebut dapat dilalui hingga akhirnya memperoleh kartu akses perpustakaan. Kartu ini tidak hanya membuka pintu fisik perpustakaan, tetapi juga memberikan akses ke laman resmi yang memuat berbagai koleksi, termasuk manuskrip-manuskrip berharga.

Perpustakaan Leiden dikenal sebagai salah satu pusat penyimpanan manuskrip Islam terbesar di Eropa. Di dalamnya tersimpan berbagai naskah penting, termasuk manuskrip tasawuf karya ulama Nusantara. Koleksi ini tidak lepas dari peran Christiaan Snouck Hurgronje, yang pada masa kolonial turut mengumpulkan berbagai naskah dari wilayah Nusantara.

Manuskrip-manuskrip tersebut merekam jejak ajaran tasawuf yang pernah berkembang luas di berbagai kawasan, mulai dari Aceh, Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga wilayah Asia Tenggara seperti Mindanao (Filipina), Pattani (Thailand), dan Terengganu (Malaysia). Di dalamnya tersimpan khazanah pemikiran para ulama yang menjadi fondasi spiritual masyarakat Nusantara.

Keberadaan manuskrip tersebut tentu tidak boleh hanya menjadi arsip yang tersimpan rapi di rak-rak perpustakaan. Ia harus dihidupkan kembali melalui kajian, penelitian, dan pengamalan. Di sinilah peran akademisi, pengamal tarekat, serta para pegiat kajian tasawuf menjadi sangat penting.

Forum-forum akademik, zawiyah, pesantren, hingga halaqah ilmu perlu menjadi ruang untuk mengkaji kembali mutiara-mutiara tasawuf tersebut. Sebab, di tengah kehidupan modern yang kerap diwarnai kegelisahan dan kekeringan spiritual, ajaran tasawuf menawarkan jalan ketenangan dan kedalaman makna hidup.

Leiden seakan menjadi pengingat bahwa khazanah tasawuf Nusantara tidak hanya berharga di masa lalu, tetapi juga relevan untuk menjawab tantangan zaman. Tugas kita hari ini adalah menghadirkannya kembali sebagai cahaya yang menerangi hati dan kehidupan umat.

Leiden, 29 April 2026

Editor: Khoirul Anam

Ali M. Abdillah Sekretaris Umum JATMAN Periode 2025-2030