Rais ‘Ali dan Mudir ‘Ali Hadiri Haul dan Pelantikan Syu’biyyah JATMAN Magelang

Januari 27, 2026 - 12:23
Rais ‘Ali dan Mudir ‘Ali Hadiri Haul dan Pelantikan Syu’biyyah JATMAN Magelang
Mudir 'Ali JATMAN melantik Idarah Syu'biyyah JATMAN Kab. Magelang bersama Rais 'Ali, Wakil Mudir dan Sekum di PP. Darussalam Timur Watucongol | Foto: LTN JATMAN

Magelang, JATMAN Online

Rais ‘Ali JATMAN K.H. Achmad Chalwani Nawawi dan Mudir ‘Ali JATMAN Prof. Dr. K.H. Ali Masykur Musa hadir dalam peringatan haul Syekh Ali Imam Abu Hasan As-Syadzili, di Pondok Pesantren Darussalam Timur, Watucongol, Magelang. Senin pagi, (26/1/2026).

Selain Imam Abu Hasan As-Syadzili, tokoh-tokoh lain juga diperingati haulnya seperti Nyai Kamaliyah Dalhar, Nyai Djamilah Ahmad Abdul Chaq dan K.H. Ahmad Baidlowi Lasem.

Pengasuh Ponpes Darussalam, K.H. Ali Qoishor mengatakan haul ini sebagai peringatan rutin tahunan di Ponpes Darussalam Watucongol. Haul tahun ini juga sekaligus pelantikan Idarah Syu’biyyah dan Ghusniyyah JATMAN se-Kabupaten Magelang.

“Terima kasih kepada para Bapak dan Ibu semua dapat hadir di haul rutinan Syekh Imam Abu Hasan As-Syadzili. Acara ini juga sekaligus pelantikan Idarah Syu’biyyah dan Ghusniyyah JATMAN se-Kabupaten Magelang”, sambutannya yang sekaligus sebagai Mustafadl Idarah Aliyyah JATMAN.

Dalam acara yang sama, Kiai Chalwani memberi nasihat kepada hadirin bahwa dulu ia langsung mendengar dari Kiai Ahmad Abdul Chaq untuk selalu membaca wirid setelah shalat.

“Saya mendengar sendiri, Mbah Mad dulu bilang: Shalat tanpa wirid, bagai kapal tanpa penumpang. Kapal (meski) besar jika tanpa penumpang, di samudera kena ombak, pastinya goyang. Sama seperti ojek online tanpa penumpang, tidak dapat uang” ucapnya.

Kiai Chalwani menuturkan apabila orang shalat, namun tidak dilanjutkan dengan membaca wirid juga tidak akan tenang. Menurutnya, wirid juga memerlukan guru agar ajeg.

“Maka orang (setelah) shalat yang tidak membaca wirid, disuruh khusyuk pasti sulit. Wiridan yang ajeg harus punya guru yang namanya ‘thariqah’”, tuturnya.

Mudir ‘Ali juga memberi tausiyah di haul tersebut. Ia mengutip redaksi ‘wajhullāh’ dan ‘liqāillāh’ sebagai bagian dari konsep tarekat.

“Kata-kata wajhullāh, kata-kata liqāillāh di dalam Al-Qur'an banyak. Dan itu adalah cita-cita yang tertinggi umat Islam yang ahsanu at taqwīm, yang kāmil, dan itulah yang disebut dengan min ahli at-tharīqah.” ungkapnya.

Menurutnya, ikut tarekat itu bukan hanya sebagai permainan.  Tetapi sarana masuk surga bertemu Allah dan Rasulullah SAW.

“Jadi, masuk thariqah itu bukan untuk main-main. Masuk thariqah itu janjinya akan dimasukkan surga dan bertemu dengan Gusti Allah bersama Rasulullah SAW.” ungkap Mudir ‘Ali.