Mukasyafah Menuju Peradaban Fitrah
“Al DIN al Muamalah.” Ini disampaikan dalam sebuah Hadist Rasulullah Shallahuallaihiwassalam. Sang Hujjatul Islam, Al Imam al Ghazali mengatakan, ilmu muamalah mendahului ilmu mukasyafah. Muamalah disini maknanya adalah ‘perilaku.’ Bukan dalam makna fiqh, seperti tijariah (perdagangan). Ilmu tentang ‘perilaku’, mendahului ilmu mukasyafah. Shaykh Abdalqadir as sufi, tanpa menegasikan apa yang disampaikan Imam al Ghazali mengungkapkan, era kini maka perlunya ‘ilmu mukasyafah, mendahului ilmu muamalah.’ Ilmu tentang mukasyafah, mesti didahului ketimbang muamalah.
Mukasyafah, ini sebuah istilah. Tentang realitas penyingkapan yang kerap dialami manusia, terutama para Salik. Karena para Salik, mereka yang melakukan Suluk. Ini kosakata dalam Tasawuf. Istilah yang muncul untuk menggambarkan realitas yang diajarkan Sayyidina Rasulullah Shallahuallaihiwassalam.
Dalam kisah perang mu’tah, di mana Rasulullah Shallahuallaihiwassalam, sebelum perang telah menetapkan tiga orang Amir. Pemimpin pasukan. Pertanda, dalam setiap perjalanan dan perkumpulan, keberadaan seorang Amir (pemimpin muslimin), mutlak diperlukan. Tak ada jamaah Islam, tanpa Amir. Khalifah Umar bin Khattab berkata, ‘Tiada Islam tanpa jamaah. Tiada jamaah tanpa Amir (kepimpinan). Tiada Amir tanpa baiat.’ Biat yang dimaksud adalah baiat syariat. Amal setiap muslimin mengucap janji setia pada seorang pemimpin Islam. Amalan yang telah hilang pasca keruntuhan Daulah Utsmaniyya, 1924. Dihapuskannya kepemimpinan Islam, maka terhapuslah baiat. Hilangnya baiat, maka hilangnya jamaah. Lenyapnya jamaah, maka Islam pun melemah. Ini yang berlangsung kini.
Masih dalam kisah perang mu’tah, Sayidina Rasulullah Shallahuallaihiwassalam, yang berada di Madinah, beliau tidak ikut serta dalam pasukan perang muslim itu, menceritakan secara detail jalannya perang yang berada di gurun Mu’tah. Jaraknya sekitar enam hari perjalanan. Tapi Rasulullah mengabarkan detail peperangan itu, tentang siapa yang gugur, termasuk ketiga Amir yang telah ditunjuk bergantian itu, kepada para Sahabat. Beliau bak menceritakan sebuah tayangan film (dalam dunia modern kini), kepada para Sahabat yang duduk mengelilingan di Masjid Nabawi. Inilah penggambaran kasyaf yang nyata. Hingga perang usai, pasukan muslimin Kembali ke Madinah, mereka terheran dengan para Sahabat di Madinah, yang tidak ikut berperang, tapi telah mengetahui bagaimana jalannya perang tersebut.
Tentu, era itu belum tersedia video call maupun live seperti kini. ‘Tayangan langsung’ itu di-streaming oleh ‘penglihatan’ Rasulullah Shallahuallaihiwassalam secara nyata. Yang tentu itu bagian dari Sunnah. Bukan mistisisme yang menyimpang. Jauh dari kemampuan 'aql, tapi tersingkap melalui qalbu. Era modern, manusia tak mempercayai itu. Karena berpatokan pada paham filsafat materialism –Imam Ghazali menyebutkan sebagai filsafat dahriyyun (ateisme)–. Yang menyakini ‘segala sesuatunya hanya materi.’ Ditambah era modern, manusia seolah telah mampu melakukan ‘live streaming’ dengan bantuan sains. Seolah perihal mukasyafah makin dibantah. Padahal, dibalik ilmu al mukasyafah, disitulah tersingkap Kebenaran. Bukan pembenaran. Istilah Martin Heidegger, filsafat (materialism dan ketuhanan) hanya mampu mengungkap ‘kebenaran essensialis,’ bukan Kebenaran eksistensialis. “Essensialis bukanlah Kebenaran sama sekali,” tegasnya dalam ‘Being and Time.’
Khalifah Umar ibn Khattab, tersingkap juga perihal serupa. Kala Perang Yarmuk, dia berada di Madinah. Jauh dari wilayah Yarmuk, tempat perang berkecamuk. Umar ibn Khattab di sudut Madinah tetiba memanggil seseorang Sahabat yang ikut dalam peperangan, “Lihat ke gunung itu!” Karena mereka diserang dari tempat yang dia tidak bisa melihat, dan Khalifah Umar melihatnya. Alhasil dia memberitahu Sahabat yang berperang di sana. Dari Madinah ke Yarmuk, Khalifah Umar ibn Khattab mendapatkan ‘penyingkapan’ hingga memberitahu informasi perihal keberadaan musuh, yang mengancam pasukan muslimin.
'Penyingkapan' Menurut Para Filusuf
‘Penyingkapan’ ini jauh berbeda dengan teori para filosof. Al Farabi, dedengkot mu’tazilah, menggambarkan perihal ‘emanasi.’ Mereka menyebutnya sebagai ‘penyingkapan’ juga. Tapi filosof menganggap, penyingkapan itu adalah buah kinerja aql dalam mengurai segala sesuatu (being). Dia merujuk teori Aristoteles, yang mengistilahkannya dengan ‘substantie.’ Plato menyebutnya ‘teorie.’ Makanya segala sesuatu mesti di-teorikan lebih dulu melalui ‘emanasi’ akal. Filosof menyebutnya sebagai ‘berpikir.’ Tapi Heidegger membantahnya. Dia tegas mengatakan “berpikir’ bukan melahirkan ‘Kebenaran.’ Karena ‘berpikir’ hanya perbuatan sebatas ‘mengingat, menghitung, menghapal, dan perbuatan yang sejatinya telah kita ketahui.’ “Itu bukan Kebenaran,” tukasnya dalam kitabnya “The End of Philosophy.” Matinya Filsafat. Jadi, katanya, filsafat sama sekali tidak melahirkan Kebenaran. Nietszche telah memvonis, “Filsafat itulah berhala.” Karena membuat manusia percaya pada hal-hal inderawi semata.
Shaykh Umar Ibrahim Vadillo mengatakan, “Ma’rifatullah itulah ‘berpikir.’” Dia menukiskan antithesis perihal ‘Sains adalah berpikir’ yang dipuja para penganut materialism. Karena menganggap sains sebagai penyingkap ‘kebenaran.’ Yang padahal adalah ‘kebenaran palsu.’
Shaykh Abdalqadir as sufi, Wali Allah dari Barat, berkisah dalam kitabnya ‘The Commentaries,’ mengatakan, ilmu mukasyafah memberikan mutlak Kebenaran di era modern yang kembali diperlukan muslimin. Beliau yang lahir dari jantung musuh Islam di barat, dari Inggris, memberikan gambaran pentingnya "Kembali Tasawuf."
Shaykh Abdalqadir as sufi mengkisahkan perihal Maulana Jalaluddin Rumi, ulama besar dari Konya. “Dalam Ma'rifanya yang ekstrim dan tinggi mengatakan, “Ribuan anak dibunuh oleh Firaun agar Sayyiduna Musa dimasukkan ke dalam keranjang dan didorong ke sungai, dan ditemukan dan dibawa ke sana sehingga dia pada akhirnya dapat menghadapi Firaun secara langsung.” Tetapi untuk melakukannya, ribuan orang harus dibunuh.” Inilah rahasia dibalik ‘penyingkapan.’ Karena hakekat sebuah peristiwa, terkandung didalamnya. Sebagaimana Al Quran kerap memberikan pesan perihal demikian.
Beliau juga mengutip kitab Shaykh al Akbar Muhyiddin Ibnu Arabi, “Futtuhat al Makkiyah.” Shaykh al Akbar, memberikan istilah perihal itu dengan ‘Al Khayyal.’ Ini sebagai ilmu pengetahuan tentang alam barzakh, yang diberikan di alam dunia. Tentu ini diberikan kepada kaum yang telah mengecap segel Ma’rifatullah. Derajat fana.’ Yang mana Khalifah Umar ibn Khattab telah mencontohkannya. Di mana, setiap manusia yang bermujahadah, akan bisa mendapatkan mukasyafah. Walau itu tak mutlak seperti ‘pemikiran pendidikan modern.’ Di mana orang yang berkuliah, pasti akan mendapat sarjana. Karena ini bukan proses saintifik, yang mutlak wajib didapatkan dari pendidikan reguler. Melainkan bergantung pada tingkatan maqam seorang Salik. Karena tak semua Sahabat, yang menurut Maulana Shaykh Abdalqadir al Jailani dalam kitab Al Gunyah, berjumlah sekitar 113.000 orang, semua Sahabat mendapatkannya. Beliau dan juga Imam Al Ghazali mengatakan, tingkatan manusia terbagi dalam tiga gambaran besar. Kaum awam, kaum khawas dan kaum khawas bil khawas. Para khawas bil khawas ini yang biasanya mendapatkannya. Dan itu bersifat rahasia. Bukan yang diumbar didepan makhluk agar mendapatkan ‘derajat’ dimata manusia.
Khayyal al Mumfassal dan Khayyal al Muttasal
Shaykh Al Akbar Ibnu Arabi menggambarkan ilmu al Khayal ini sebagai “Manifestasi Ilahi, tentang penampakan, tajaliyyat –tentang Yaumil al Qiyamah dalam mengubah bentuk (gambar).” Jadi, al Khayal ini sifatnya bak hadiah. Pemberian kemampuan ‘penyingkapan.’ Yang tujuannya tentu untuk memahami haqq (Kebenaran). Dan ini bukanlah tujuan dari Salik. Pejalan. Tapi merupakan suatu stasiun yang bisa dilewati dalam perjalanan. Stasiun, tentu hanya bak persinggahan menuju stasiun berikutnya. Pengalaman dan persinggahan di sebuah stasiun, tentu bukan untuk digemborkan. Melainkan menjadi panduan untuk menuju perjalanan. Memahami Kebenaran. Yang haq.
Proses penyimpangan juga bisa terjadi. Dengan dalih ‘disingkapkan,’ manusia yang jahil bisa ditipu oleh musuhnya, setan laknatullah, yang membocorkan rahasia Langit. Ini yang kerap diberikan pada dukun dan sejenisnya, yang bertujuan menjadi tipu daya bagi manusia. Tentu ini bukan mengarahkan pada haq. Melainkan menyesatkan. Termasuk pula ‘penyingkapan’ oleh sains, yang cenderung membawa manusia menihilkan adanya ‘Kehendak Tuhan.’ Tapi lebih meyakini sepenuhnya sebuah perbuatan adalah ‘kehendak manusia.’ Voltaire, Marx, Leipniz, Descartes, Kant, dan para filosof materialism, mereka yang terjebak di sana. Karena seolah ‘penyingkapan’ rasionalitas, telah mampu memberikan sebuah gambaran ‘kebenaran.’ Yang ujungnya manusia yang mengikuti mereka, cenderung pada ateisme. “Tuhan telah mati,” kata Nietszche. Karena Tuhan, bagi kelompok mereka, dianggap sebagai ‘bagian dari penyelidikan manusia.’ Mereka mengecap bahwa “Manusia bukanlah objek yang diamati. Melainkan subjek yang mengamati.” Kondisi ini yang lambat laun membunuh qalbu manusia. Karena dengan demikian mengarah mutlak pada ateisme. Tuhan dianggap bekerja dalam perbuatan sekunder. Bukan primer. Kausalitas, muncul akibat ‘perbuatan manusia.’ Bukan Kehendak Tuhan. Imam Ghazali telah membantahnya telak dalam ‘Tahafut al Falasifah.’
Bukti dari berkembangnya paham ini adalah dunia modern. Dimana manusia hanya percaya ‘segala peristiwa’ adalah bagian dari ‘mekanika kuantum alam semesta.’ Bukan adanya ‘campur tangan Tuhan.’ Makanya setiap bencana hanya dimaknai sebagai buah dari kesalahan manusia dalam berbuat. Bukan diprioritaskan pada makna pesan dari Tuhan. Teori positivism menyebutnya sebagai ‘dolus dan culpa.’ Sepenuhnya sebab ‘kelalaian dan kesengajaan manusia.’ Unsur ‘Ketuhanan’ telah dieliminasi. Dan ini situasi yang membuat dunia berada dalam bencana, sejak 300 tahun terakhir. Bencana kemanusiaan yang akut. Karena matinya perihal ‘al Khayyal’ tadi. Manusia modern terjebak pada sains, yang tak mengungkap Kebenaran. Karena dengan ‘penyingkapan ala sains,’ manusia digiring meyakini materialism semata, yang seolah-olah bisa menjalani kehidupan dengannya. Padahal sejatinya digiring pada ateisme yang membuat manusia meninggalkan ‘Kebenaran Tuhan.’ Sehingga kebathilan dan haq, tak lagi bisa dibedakan. Kondisi inilah yang mendorong mayoritas manusia modern tak sadar berada dalam system yang memperbudak. Karena tak lagi mampu membedakan haq dan bathil tadi.
Shaykh al Akbar, dimana pesan Shaykh Abdalqadir as sufi mengatakan, jangan sekalipun membaca ulasan perihal Ibnu Arabi yang ditulis oleh kaum kuffar dan para modernis Islam, karena mereka sama sekali tak memahami Ibnu Arabi, membagi perihal ‘al Khayyal.’ Ada ‘Khayyal al Mumfassal dan Khayyal al muttasal.’
Khayyal al Mumfassal inilah adalah ‘al khayal pemisah.’ Shaykh Abdalqadir as sufi mengatakan, “ Ini adalah dasar dari kecerdasan. Ia juga merupakan elemen pemisah dari semua ciptaan fisik. Bahkan jika Anda turun ke alam mineral ada Khayal yang memisahkan – emas adalah emas dan timah adalah timah. Sebelum kita menilai, itu sendiri memiliki bentuk yang berbeda, gambar yang berbeda, tetapi pandangan kita tentang gambar itulah yang membuat kita menempatkan timah rendah dan menempatkan emas tinggi. Ini adalah evaluasi yang dimasukkan ke dalam 'Aql kita untuk mengenali pentingnya emas karena memiliki keindahan, karena memiliki keabadian relatif dan karena perhiasan, ia menghiasi. Ini memiliki karakteristik jamali.”
Ini yang diperlukan bagi para Salik era kini. Shaykh Al Akbar mencontohkan, "Ini adalah dunia yang kehadiran batinnya muncul dalam indera yang dialami sebagai terpisah dari orang yang menonton Khayal. Khayal Pemisah itu seperti Sallallahu ‘alayhi wa sallam mengenali Jibril yang menjelma menjadi wujud seorang pemuda. Ketika Pemuda itu muncul, dan Rasul, sallallahu 'alayhi wa sallam, dalam mengenali pemuda itu tidak mengatakan, “Itu adalah pemuda,” katanya, “Itu adalah manifestasi dari Malaikat Jibril yang datang untuk mengajari DIN kepada kita.”
Jadi itu adalah kemampuan melihat dan menafsirkan, dan ini adalah yang tertinggi di antara orang-orang yang mengetahui fakta bahwa Allah adalah Penguasa, Allah adalah Penentu, Allah adalah Yang Mengatur Segalanya. Jadi orang-orang ini melihat maknanya – mereka beralih dari indrawi ke maknanya. Di dunia ini, segala sesuatu yang indrawi harus ditafsirkan dengan makna dan diakui maknanya. Di Alam Berikutnya semua makna akan dirasakan sebagai hal-hal indrawi seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur'an sebagai hadiah dan manfaat dari al Janna (Surga).
Al Khayyal al Mumtassal ini yang memberikan jalan menuju kembalinya fitrah. Karena akan membawa pada Kebenaran. Pemahaman dibalik sebuah ‘bentuk.’ Yang mana kini kaum kuffar banyak membuat system yang mengubah ‘bentuk.’ Walau ini secara dzahiriah. Termasuk dalam memahami system. Kuffar mengubah kertas menjadi ‘uang,’ dengan nilai yang mereka tetapkan. Orang yang memiliki kasyf ilmu, tentu akan memahami itu adalah penyimpangan. Kebathilan. Karena kertas adalah kertas. Sementara dalam fitrah, emas adalah emas dan perak adalah perak. Dimana setiap benda, terkandung dzat dan sifatnya. Sifat emas, sebagaimana diciptakan Allah, adalah menjadi fitrah bagi alat tukar. Sementara jebakan kaum modernis kuffar, menggesernya menjadi alat tukar, yang berujung pada superioritas mereka. Inilah perbudakan modern, yang dikanalisasi oleh sains. Yang didasari pada ateisme tadi. Yang mempercayai ‘segala sesuatunya kehendak manusia.’ Maka dengan mudah manusia modern digiring untuk mempercayai dan meyakini ‘kertas yang mereka ciptakan adalah uang.’
Kemampuan al Khayyal al Mumfassal, sebagaimana dicontohkan Ibnu Arabi tadi, tentu menjadi bagian untuk memahami bagaimana bentuk asal. Malaikat adalah Malaikat. Dan manusia adalah manusia. Kala Malaikat menjelma menjadi manusia, maka dengan ‘al Khayyal al Mumfassal,’ kita bisa mengelinya. Sebagaimana disunnahkan Sayidinna Rasulullah Shallahuallaihiwassalam tadi.
Inilah ilmu yang diperlukan untuk ‘Al DIN al Muamalah.” Ilmu mukasyafah mendahului ilmu muamalah, sebagaimana statement Shaykh Abdalqadir as sufi tadi. Karena dengan al kasyf, akan memahami sejatinya haq. Bathil adalah bathil. Tidak bisa bathil dijadikan haq.
Jamak manusia terjebak pada pesona saintifik dan ‘penyingkapan’ ala kuffar, yang sejatinya dihembuskan dari setan. Pujangga Jerman, Goethe, memberikan pesan: penciptaan uang kertas itu adalah hasil bisikan setan. Ini menunjukkan sejatinya sumber ‘penyingkapan’ ala kafirun yang bertujuan memperdaya manusia. Maka kaum yang memiliki al Khayyal al Mumfassal, tak akan terperdaya olehnya.
Shaykh Abdalqadir as sufi menceritakan, “Pada masa Mahdi (pemimpin pasukan Islam di Sudan) dari Sudan yang memerangi tantara Inggris (abad 20), seorang perwira Inggris menulis bahwa setelah pertempuran, salah seorang pasukan muslim meninggal dalam kesakitan yang hebat akibat luka-lukanya, dan perwira ini berkata kepadanya, “Ambil ini, ini akan membantu. Anda dengan rasa sakit, "dan dia menawarkan dia brendi (minuman beralkohol-red). Tentara Inggris itu tidak pernah lupa bahwa orang yang sekarat ini berkata, “Apa yang kamu lakukan? Gerbang Janna (Surga) terbuka di depanku dan kamu ingin menutupnya di depan wajahku!”
Itulah kegunaan suatu yang ‘tersingkap.’ Penglihatan atas Kebenaran. Yang tak tertipu daya jerat 'kuffar'.