Jejak Humanis K.H. Achmad Chalwani: Menebar Nilai Kasih di Tengah Umat
K.H. Achmad Chalwani bin K.H. Muhamad Nawawi merupakan sosok kiai Pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan Purworejo sekaligus Mursyid Thariqah Qadiriyyah Wan Naqsyabandiyyah
K.H. Achmad Chalwani bin K.H. Muhammad Nawawi merupakan sosok kiai pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan, Purworejo, sekaligus Rais ‘Ali Jam’iyyah Ahlith Thariqah al-Mutabarah an-Nahdliyyah. Sosoknya dikenal humanis dalam mendakwahkan Islam rahmatan lil ‘alamin di kalangan masyarakat Jawa Tengah, nasional bahkan mancanegara, di antaranya Singapura, Malaysia, Hongkong, dan beberapa negara lainnya.
Lahir dan tumbuh di lingkungan keluarga yang gandrung akan dunia pesantren dan dunia thariqah, memberikan bekal bagi pria yang memiliki motto “Hidup untuk Ibadah” ini untuk senantiasa mencintai ilmu dan mengamalkannya guna mencapai kehidupan yang diridai Allah Swt., baik di dunia maupun di akhirat.
Bapak Bagi Keluarga dan Santri
Sebagai sosok Bapak bagi putra dan putrinya, Kiai Chalwani tak pernah alpa menunaikan tugas lahir dan batinnya, khususnya dalam menanamkan makna penting pendidikan, baik bagi laki-laki maupun perempuan. Dalam berbagai kesempatan, Kiai Chalwani menegaskan bahwa sabda Nabi Muhammad Saw. tentang kewajiban menuntut ilmu bagi muslim laki-laki dan muslim perempuan bukanlah semata kewajiban yang harus digugurkan, melainkan menjadi fardhu ‘ain tanpa memandang gender sekalipun. Sehingga bagi Kiai Chalwani, diperlukan kesungguh-sungguhan dalam menuntut ilmu.[1]
“Menuntut ilmu tidak sekedar wajib, tapi sangat diwajibkan. Maka redaksi Haditsnya, “thalabul ‘ilmi faridhatun ‘ala kulli muslimin wa muslimat.” Ada ta’ mubalaghah dalam kata faridhatun yang maknanya nemen-nemeni (bersungguh-sungguh),” jelas Kiai Chalwani.
Kiai Chalwani juga mengedepankan nilai kesetaraan (al-musāwah) dengan memberi kesempatan kepada putra dan putrinya untuk mengenyam pendidikan tinggi. Hal ini dibuktikan Kiai Chalwani dengan mengamanahkan kepemimpinan kampus IAI An-Nawawi Purworejo kepada putri pertamanya, Hj. Ashfa Khoirun Nisa’.[2]
Adapun bagi para santri syariat yang mukim di pesantren maupun santri thariqah, Kiai Chalwani juga memegang peran penting sebagai Bapak ideologis. Dalam pengajiannya, Kiai Chalwani mengutip Hadits Nabi SAW.[3]
آبَاؤُكَ ثَلَاثَةٌ: أَبُوْكَ الَّذِي وَلَدَكَ، وَأَبُوْكَ الَّذِي زَوَّجَكَ بِنْتَهُ، وَأَبُوْكَ الَّذِي عَلَّمَكَ، وَهَذَا أَفْضَلُهُمْ.
“Bapak itu ada tiga: bapak yang menjadi sebab kelahiranmu (bapak kandung), bapak yang menikahkanmu dengan anaknya (bapak mertua) dan bapak yang mendidikmu (bapak guru). Bapak (yang mendidikmu) ini lah yang paling utama di antara bapak yang lain.”
Kiai Chalwani menjelaskan, Hadits ini menjadi tuntunan bagi anak didik untuk medahulukan pendapat guru daripada orang tua, mertua, apalagi pendapat pribadi.[4]
“Maka saya minta kepada para santri An-Nawawi baik yang masih di pesantren maupun yang sudah alumni, tolong pendapat guru didahulukan daripada pendapat orang tua dan mertua, apalagi pendapat pribadi. Pendapat pribadi itu senang sesaat, tapi jangka panjang kecewa. Sedangkan pendapat guru sesaat tidak enak, tapi jangka panjang enak. Sementara kita hidup kan untuk jangka panjang. Ini petunjuk Nabi Muhammad Saw. Demikianlah ilmu pesantren,” tutur Kiai Chalwani.
Dakwah yang Meneduhkan
Kiai Chalwani dikenal dengan tutur katanya yang meneduhkan. Kepiawaian Kiai Chalwani dalam mengemas dakwah bil hikmah membuatnya mudah diterima di berbagai kalangan. Dakwah bil hikmah ini dapat diartikan sebagai dakwah yang penuh dengan kasih sayang, dakwah yang mengutamakan cara yang halus dan dakwah melalui akhlaqul karimah, sebagaimana dakwah ala Nabi Muhammad SAW saat menyikapi Sang Istri Sayyidah Aisyah yang dicaci-maki oleh orang-orang Kafir Quraisy.[5]
“Nabi Muhammad SAW bersabda, “Begini Aisyah, Allah lebih mencintai orang yang dakwah dengan cara yang halus daripada dengan cara kekerasan,”” tutur Kiai Chalwani dalam salah satu pengajiannya.
Bagi Kiai Chalwani, dakwah seperti ini lah yang membedakan cara dakwah Nahdlatul Ulama dengan yang lain.
“Inilah yang membedakan Nahdlatul Ulama dengan yang lain,” ucap Kiai Chalwani menguatkan.
Meskipun demikian, bukan berarti perbedaan cara dakwah Nahdlatul Ulama dengan yang lain lantas dijadikan penghambat ukhuwwah insaniyyah. Mengutip pesan K.H. Achmad Shiddiq Jember, Kiai Chalwani menyampaikan tentang watak NU.[6]
“Nahdlatul Ulama ini organisasi keagamaan-kemasyarakatan yang berakidah Ahlussunnah Wal Jama’ah. NU tidak pernah punya watak menghimpun suatu kekuatan untuk dihadapkan dengan kekuatan lain. Akan tetapi, NU punya watak menghimpun berbagai kekuatan yang ada untuk bersama-sama mewujudkan rahmatan lil ‘alamin,” ungkap kyai yang diamanahi menjadi Rais ‘Ali JATMAN ini.
Kiai Chalwani menguatkannya dengan menukil Q.S. al-Anbiya ayat 107, yang artinya, “Dan tidaklah kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai kasih sayang bagi seluruh alam.”
Lebih dari itu, Kyai Chalwani menegaskan, dakwah melalui akhlaqul karimah, adab dan tatakrama lebih diutamakan daripada dakwah melalui ilmu.
“Al-Adab fauqal jami, tatakrama di atas segala-galanya, bahkan di atas ilmu.”
Selain cara dakwah yang penuh lemah lembut, Kiai Chalwani juga memberi tips dakwah agar mudah diterima dan diingat di berbagai kalangan, mengutip Habib Sagaf bin Ahmad Al-Jufri, Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Purworejo tempo dulu.[7]
“Pertama, pendidik harus ikhlas. Dan kedua, harus siap, artinya apa yang akan disampaikan harus dikuasai betul,” terang Kiai Chalwani.
Dengan cara lembut dan sedikit tips tersebut, sejatinya Kiai Chalwani telah mengajak kita untuk berdakwah, supaya mudah diterima di berbagai kalangan.
Pesan Untuk Generasi Muda
Kepada generasi muda yang tumbuh dalam keramaian algoritma, namun rapuh dalam kesunyian jiwa, Kiai Chalwani megingatkan kita melalui syair Syauqi Beyk agar tetap menjadi manusia dengan versi terbaik dirinya. Manusia otentik yang tidak melupakan perjuangan leluhurnya.[8]
شِرَارُ الْعَالَمِيْنَ ذَوُوا حُمُوْلٍ * اِذَا فَاخَرْتَهُمْ ذَكَرُوا الْجُدُوْدَ
وَخَيْرُ النَّاسِ ذُو شَرَفٍ قَدِيْمٍ * أَقَامَ لِنَفْسِهِ شَرَفًا جَدِيْدًا
“Seburuk-buruk generasi adalah mereka yang bertopang dagu. Diam, nggak punya kreasi, nggak punya gagasan. Kalau orang lain mengingatkan, mereka hanya meromantisasi sejarah kegemilangan neneka moyangnya. Dan sebaik-baik generasi adalah generasi yang mempunyai kegemilangan masa lampau. Punya nenek moyang yang ahli berjuang, akan tetapi ia tidak mengandalkan nenek moyangnya. Ia membangun kegemilangan masa kini untuk ia sendiri.”[9]
Syair ini menjadi oase untuk kita generasi muda yang melintasi gurun kering sosial media dalam menemukan jati diri, bak kompas yang memandu kehidupan di akhir zaman. Dan tentunya dengan tetap bersungguh-sungguh menimba ilmu serta menghiasinya dengan akhlaqul karimah. Tanpa keduanya, ilmu tidak akan mengeluarkan buahnya dan manusia akan jatuh dalam kehancuran. Kiai Chalwani mengutip Hadits Nabi Muhammad Saw.[10]
النَّاسُ كُلُّهُمْ هَلْكَى إِلَّا الْعَالِمُوْنَ، وَالْعَالِمُوْنَ كُلُّهُمْ هَلْكَى إِلَّا الْعَامِلُوْنَ، وَالْعَامِلُوْنَ كُلُّهُمْ هَلْكَى إِلَّا الْمُخْلِصُوْنَ.
“Semua manusia akan hancur, kecuali orang yang memiliki ilmu. Semua yang memiliki ilmu akan hancur, kecuali orang yang mau mengamalkan ilmunya. Dan semua yang mengamalkan ilmu akan hancur, kecuali orang-orang yang ikhlas.”
Hadits ini mengisyaratkan satu jalan yang dapat ditempuh step by step oleh generasi muda agar selamat dari kebinasaan, yakni dengan memperdalam cakrawala, merepresentasikan kedalaman cakrawalanya ke dalam laku dan dengan cara ikhlas. Orang Jawa menyebutnya legowo. Legowo ini termasuk dari akhlaqul karimah yang paling luhur, karena membutuhkan latihan secara terus-menerus.
Lebih lanjut, Kiai Chalwani berpesan kepada generasi muda agar tidak berkecil hati jika besok di desa ada beberapa anak yang ingin mengaji kitab-kitab dasar. Meskipun sedikit, Kiai Chalwani mengajak agar tetap mengajar mereka, karena pahalanya lebih besar daripada mengajar di pesantren.[11]
“Tidak perlu berkecil hati seumpama besok kamu di rumah ada beberapa anak yang ingin ngaji meskipun sedikit, semisal satu, dua atau tiga anak, ingin ngaji Fashalatan, ingin ngaji Al-Quran, tolong diajarkan. Itu balasan pahalanya lebih besar daripada mengajar di pondok seperti ini, karena ngaji di desa itu sulit karena masih dasar, sedangkan ngaji di pondok itu kan mudah karena sudah punya dasar,” pesan Kiai Chalwani.
Kiai Chalwani menegaskan bahwa orang yang wafat namun tanah tidak berani merusak jasadnya itu bukan hanya orang yang hafal Al-Quran, tapi juga kiai-kiai di desa yang mengajarkan kitab-kitab kecil seperti Fasholatan dan Risalatush Shiyam.
“Walaupun tidak hafal Al-Quran, jasadnya masih utuh. Saya punya teman di Lirboyo, namanya Pak Jami’ul Muslimin. Itu nggak hafal Al-Quran. Di rumah hanya kiai biasa yang mengajar Fasholatan, mengajar Al-Quran. Ternyata, setelah wafat beberapa tahun, dibongkar (makamnya) dan jasadnya masih utuh, padahal tidak hafal Al-Quran. Sekali lagi, jangan berkecil hati. Jangan menganggap sepele mengajar kitab kecil di desa-desa. Jadi, dakwah yang seperti itu lah yang lebih diutamakan. Dulu para Wali Songo datang ke Jawa juga rekoso kok (bersusah payah), ya mengajar di desa, ya mengajar orang yang belum tahu apa-apa,” ajak Kiai Chalwani, mengingatkan.[12]
Semoga dihari kelahirannya ini, 19 Desember 2025, Kiai Chalwani senantiasa diberikan umur yang panjang dan berkah, dilimpahkan kesehatan dan kekuatan dalam mendidik anak-anak, baik biologis maupun ideologis, serta dicurahkan kasih sayang Allah Swt. dengan sebaik-baik kasih sayang. Dan semoga, kita selaku anak ruhaninya senantiasa diberikan petunjuk untuk dapat meneruskan perjuangannya dalam menebar tunas-tunas Islam rahmatan lil ‘alamin dan dapat berperan aktif bagi agama, bangsa dan negara. Aamiin Allahumma aamiin.
[1] https://www.youtube.com/live/MWQf5q2q1NU?si=a16pyCoxyV2xdwEw
[2] https://iaiannawawi.ac.id/profil/struktur-organisasi/
[3] https://www.youtube.com/live/j9W8m7JXF_Y?si=PDiD02c0PfbLTUaB
[4] https://www.instagram.com/p/CD5Q3bUJZQR/?igsh=MWt5ZzBrMWNkaHBxMQ==
[5] https://www.instagram.com/p/B-qSuWKJcaa/?igsh=NjV2aWhyOGU5M3lr
[6] https://youtu.be/ChTkNBBrQJ0?si=pjwlYcKAYwJKhj9B
[7] https://www.instagram.com/reel/CUEwKsJpA37/?igsh=anh4eXlhNnRta3F5
[8] TIM PP “An-Nawawi”, Mengenal K.H. Nawawi Berjan, Cet. Ke-2, (Surabaya: Khalista, 2023), hlm. 30.
[9] https://www.instagram.com/reel/CamXkW5J0Kd/?igsh=MWdnamduajFteHZtag==
[10] https://www.instagram.com/p/CBMuqELJe7W/?igsh=ZGprajFmYXd6ajkw
[11] https://www.instagram.com/reel/CcNZ0KLpajX/?igsh=dzJ6NW1hY2VoaW0w
[12] Ibid.