Rais ‘Ali JATMAN Ungkap Sanad Tarekat dan Pentingnya Hormat Pada Guru
Beliau mengutip hadis tentang bahaya meremehkan guru (istikhaffa bi ustādzihi). Orang yang menyepelekan guru akan terkena tiga bala. Nasihat ini sangat relevan bagi santri atau murid tarekat untuk menjaga adab.
Purworejo, JATMAN Online
Rais ‘Ali JATMAN K.H. Achmad Chalwani Nawawi dalam sambutannya, mengungkapkan sanad tarekat K.H. Zarkasyi dan Hadratussyekh Hasyim Asy’ari dalam peringatan Haul Muassis Pondok Pesantren An-Nawawi, Berjan, Purworejo Jawa Tengah. Rabu pagi, (4/2/2026).
Kiai Chalwani banyak mengupas tentang sejarah keilmuan (sanad) dan pentingnya tarekat dalam tubuh Nahdlatul Ulama.
Ia menjelaskan bahwa Kiai Zarkasyi (muassis Berjan) adalah murid syariat dari Kiai Sholeh Darat Semarang, namun mengambil baiat tarekat dari Syekh Abdul Karim Banten (Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah).
“Guru Syariat Mbah Zarkasyi itu Mbah Sholeh Darat. Sedangkan Mbah Zarkasyi mengambil ilmu thariqahnya Syekh Abdul Karim Banten. Seangkatan dengan Mbah Ibrahim Brumbung Mranggen Semarang dan Syekh Asnawi Caringin Bogor," ungkap pengasuh ponpes An-Nawawi di hadapan jamaah haul.
Pernyataan Kiai Chalwani itu menunjukkan betapa pentingnya memegang teguh sanad tarekat yang muttasil (bersambung).
Rais ‘Ali juga menegaskan bahwa pendiri NU, Hadratussyekh KH. Hasyim Asy'ari adalah pengamal tarekat. Beliau mengambil baiat Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah dari Kiai Mahfudz Termas (Pacitan) saat di Makkah. Hal ini disampaikan untuk menegaskan bahwa warga NU, khususnya pengurus, selayaknya tidak asing dengan dunia tarekat.
Bahaya Menyepelekan Guru
Beliau mengutip hadis tentang bahaya meremehkan guru (istikhaffa bi ustādzihi). Orang yang menyepelekan guru akan terkena tiga bala. Nasihat ini sangat relevan bagi santri atau murid tarekat untuk menjaga adab.
“Orang yang menyepelekan guru, akan terkena tiga bala. Pertama lisannya kelu (sulit bicara kebenaran). Kedua, lupa hafalannya. Dan yang paling mengerikan adalah ketiga, yaitu wafat dalam keadaan hina (sū’u al-khātimah)”, terangnya.
Dalam kesempatan ini, Kiai Chalwani juga memberikan ijazah umum.
Doa "Momong Anak" agar anak gemar mengaji dengan membaca “Lā ilāha illallāh al-Maliku al-ḥaqqu al-mubīn, Muhammadu ar-rasūlullāh aṣ-ṣādiqu al-waʿdi al-āmin" dan doa tawassul saat ziarah kubur yang didapat dari Kiai Makhrus Aly Lirboyo (dari Mbah Dalhar Watucongol) dengan membaca “Yā ṣāḥiba hādzihi al-maqbarah [menyebutkan ahli kubur yang diziarahi], innī atawassalu bika ilallāhi taʿāla fī qaḍāʿi ḥajātī [sebut hajatnya]”.
"Pedang yang Terhunus" dan Rābiṭah Rūḥaniyyah
Mauiẓah ḥasanah juga disampaikan oleh Gus Reza dari Lirboyo, yang menekankan pada ikatan batin (rābiṭah) antara murid dan guru yang sudah wafat.
Mengutip dari Syekh Sulaiman Hilmi Tunahan, Gus Reza menjelaskan bahwa ketika seorang Waliyullah atau Ulama yang telah wafat, kekuatan doa dan keberkahannya justru semakin tajam, ibarat pedang yang keluar dari warangkanya.
“Saya pernah diceritakan oleh teman dari Turki, ada seorang ulama yang bernama Syekh Sulaiman Sulaiman Hilmi Tunahan. Ia pernah dawuh “Idzā māta ʿālimun fakaannahu sayfun kharaja min qirābihi”. Kalau ada seorang alim, shaleh atau wali yang wafat, maka ibarat pedang yang terhunus dari sarungnya. Dalam arti doa dari orang-orang yang wafat tersebut lebih berkah dan manjur”, ucapnya.
Ia juga mengutip dari kitab Sirāju aṭ-Ṭālibīn karya Syekh Ihsan Jampes bahwa waliyullāh yang sudah wafat memiliki kepedulian yang lebih kuat kepada murid-muridnya dibandingkan saat masih hidup.
“Yang namanya cinta, itu imtizāju ar-ruḥ (kumpulnya ruh). Kita hadir dalam peringatan haul ini dalam rangka proses ittiṣālu ar-ruḥ wa imtizāju ar-ruḥ antara ruh kita dengan wali-wali yang dihauli. Maka kita tidak akan terpisah”, terang Gus Reza.
Gus Reza mengibaratkan seperti air yang bercampur dengan air; jika sudah menyatu, tidak bisa dipisahkan lagi. Ini adalah inti dari tabarruk dalam tradisi tarekat.
Ia juga memperingatkan keras tentang bahaya i'tiradh (menentang atau berpaling) dari guru. Barang siapa yang berpaling atau hatinya menyelisih gurunya, maka fasada ʿaqdu aṣ-ṣuhbah (rusaklah ikatan persahabatan atau kemuridan). Putusnya ikatan ini dianggap sebagai musibah besar dalam dunia spiritual karena memutus aliran berkah.
Acara ditutup dengan doa khusyuk yang dipimpin oleh Kiai Chalwani, menguatkan kembali ikatan spiritual antara ribuan jemaah yang hadir dengan para Muassis pesantren. Haul ini menjadi momentum tazkiyatu an-nafs dan penguatan rābiṭah bagi para salikin di jalur Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah khususnya dan warga Nahdliyin pada umumnya.