JATMAN Lampung Timur Mantapkan Struktur, Thariqah Jadi Ruh Perjuangan NU
Pelantikan 20 Idarah Ghusniyyah JATMAN Lampung Timur ditegaskan sebagai momentum penguatan struktur dan ruh thariqah dalam tubuh NU. KH Achmad Chalwani: Thariqah adalah kekuatan spiritual dan perjuangan umat.
Lampung Timur, JATMAN Online
Sebanyak 20 Idarah Ghusniyyah Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (JATMAN) Lampung Timur resmi dilantik dalam satu rangkaian acara bersama di Pondok Pesantren Raudlatul Hidayah, Mengandung Sari, Kecamatan Sekampung Udik, Ahad (15/2/2026).
Pelantikan tersebut dihadiri langsung oleh Rais Ali Idarah Aliyyah JATMAN, KH Achmad Chalwani. Turut mendampingi jajaran Idarah Wustha JATMAN Provinsi Lampung, di antaranya Rais Idarah Wustha KH Saifudin Zuhri dan Katib Idarah Wustha KH Riyadu Sholihin. Hadir pula Ketua PCNU Lampung Timur KH Dardiri Ahmad, Rais Idarah Syu’biyyah JATMAN Lampung Timur KH Yusuf Tohirin, Mudir Idarah Syu’biyyah KH Syamsuddin Abbas, serta jajaran pengurus Wathonah tingkat Wustha dan Syu’biyyah.
Prosesi pelantikan dipimpin oleh Rais Idarah Wustha Provinsi Lampung, KH Saifudin Zuhri. Surat Keputusan (SK) dibacakan oleh Mudir Idarah Syu’biyyah Lampung Timur, KH Syamsuddin Abbas.
Suasana pelantikan semakin khidmat saat dibuka dengan pantun yang mengajak jamaah memperkuat khidmah dalam barisan thoriqoh:
Pergi haji ke Kota Makkah,
Ziarah makam Nabi di Madinah.
Jika ingin rezeki berkah melimpah,
Mari berkhidmah di JATMAN dan Wathonah.
Pelantikan ini menjadi penanda komitmen bersama untuk memperkuat peran JATMAN sebagai wadah pengembangan thariqah yang berakar pada manhaj Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah.
Thoriqoh sebagai Ruh NU
Dalam tausiyahnya, KH Achmad Chalwani menegaskan bahwa thariqah bukan sekadar jalan spiritual, tetapi juga sumber kekuatan perjuangan.
“Pangeran Diponegoro menjadi bukti bahwa thoriqoh mampu melahirkan keberanian melawan penjajah,” ungkapnya.
Menurut beliau, thariqah harus menjadi ruh dalam tubuh Nahdlatul Ulama. Jika ruh itu hidup, maka NU akan tetap dinamis dan relevan menjawab tantangan zaman.
“Jika thariqah menjadi ruh, NU akan selalu hidup, bergerak, dan memberi arah,” tegasnya.
Beliau juga mengingatkan bahwa Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari selain mendalami ilmu syariat, juga menjalani talqin dan mengamalkan thariqah.
“Maka tugas JATMAN adalah memasyarakatkan thariqah dan menthariqahkan masyarakat, agar nilai-nilai spiritual benar-benar hidup di tengah umat,” tandasnya.
33 Hari, 20 Idarah Ghusniyyah Terbentuk
Mudir Idarah Syu’biyyah JATMAN Lampung Timur, KH M. Syamsuddin Abbas, menjelaskan bahwa pelantikan ini merupakan puncak dari proses konsolidasi yang berlangsung selama 33 hari.
Sejak 11 Januari hingga 14 Februari 2026, telah terbentuk 20 Idarah Ghusniyyah di tingkat kecamatan se-Lampung Timur, dengan sekitar 600 pengurus yang terdiri dari para kiai, mursyid, badal, dan pengamal thariqah lainnya.
“Ini baru awal dari kerja besar JATMAN. Langkah berikutnya adalah membentuk Idarah Sya’fiyah di tingkat desa agar thariqah benar-benar hadir hingga ke akar rumput,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa JATMAN merupakan satu-satunya badan otonom NU yang menaungi berbagai thariqah mu’tabarah.
“JATMAN adalah rumah besar para pengamal thoriqoh untuk membangun kekuatan spiritual umat. Karena itu, tanggung jawab kita adalah menjaga, mengembangkan, dan menguatkan perannya di tengah masyarakat,” katanya.
Para pengurus di setiap tingkatan diimbau segera menggelar rapat kerja sebagai bagian dari konsolidasi dan perumusan program.
Momentum Ikrar Pengabdian
Rais Idarah Wustha JATMAN Provinsi Lampung, KH Saifudin Zuhri, menyebut pelantikan bersama 20 Idarah Ghusniyyah ini sebagai momentum ikrar pengabdian.
“Kader thariqah harus hadir di tengah masyarakat membawa nilai tasawuf yang menyejukkan dan membimbing umat,” ujarnya.
Dengan struktur yang semakin solid, ia berharap JATMAN Lampung Timur mampu menjalankan amanah organisasi secara lebih terarah.
“Kader thariqah harus siap menjadi penggerak spiritual sekaligus sosial di wilayahnya masing-masing,” pungkasnya.
Kontributor: A. Aan Uly Rosyadi
Editor: Khoirul Anam