Rahasia Hidup Aman dan Diridai Allah Menurut KH Achmad Chalwani
Pesan KH Achmad Chalwani menegaskan bahwa syukur sejati adalah menggunakan nikmat untuk ibadah, bukan sekadar ucapan. Dalam perspektif tasawuf, hal ini menjadi jalan menuju ketenangan batin dan ridha Allah.
Di tengah kehidupan yang penuh ketidakpastian, setiap muslim tentu mendambakan satu hal yang sama, yaitu hidup yang aman, tenteram, dan selalu berada dalam bimbingan Allah SWT. Pesan itulah yang disampaikan oleh Rais 'Ali JATMAN, KH Achmad Chalwani, dalam sebuah tausiyah singkat dalam sebuah video yang banyak menyentuh perhatian warganet.
Dalam penjelasannya, beliau mengungkap rahasia sederhana namun mendalam, ada sifat-sifat tertentu yang harus dimiliki seorang hamba agar hidupnya dijaga Allah, baik secara lahir maupun batin, serta selalu mendapatkan petunjuk dan ridha-Nya. Salah satu yang paling ditekankan adalah syukur.
Syukur yang dimaksud di sini bukan sekadar ucapan “Alhamdulillah”. KH Achmad Chalwani menjelaskan dengan ungkapan khasnya dalam bahasa jawa, “Syukur meniko nggunakaken kanikmatan damel ngibadah”, yang artinya syukur itu menggunakan kenikmatan untuk beribadah. Di sinilah letak kedalaman makna syukur—ia semestinya bukan berhenti pada lisan, tetapi harus terwujud dalam tindakan nyata.
Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Ibrahim ayat 7:
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ ٧
Artinya: “(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.” (QS. Ibrahim: 7).
Ayat ini tidak hanya berbicara tentang bertambahnya nikmat, tetapi juga mengisyaratkan bahwa syukur adalah jalan untuk menjaga nikmat itu tetap membawa keberkahan.
Lebih jauh, beliau juga menjelaskan bahwa ibadah tidak terbatas pada ritual formal semata. Dengan kalimat sederhana, beliau menegaskan, “Ibadah niku nopo? Nopo mawon sing oleh ridhane Gusti Allah”—ibadah adalah segala hal yang mendapatkan rida Allah. Artinya, seluruh aktivitas dalam hidup kita, selama diniatkan dan dijalankan dalam koridor yang diridhai Allah, maka dapat bernilai ibadah.
Hal ini selaras dengan sabda Rasulullah SAW: “Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam perspektif tasawuf, pesan ini menjadi semakin dalam maknanya, di mana inti perjalanan spiritual seorang hamba adalah mengelola nikmat sebagai sarana mendekat kepada Allah. Syukur bukan hanya bentuk pengakuan, tetapi transformasi batin—dari sekadar menerima menjadi mengabdi.
Dalam tradisi tasawuf, syukur juga berkaitan erat dengan maqam (tingkatan spiritual). Seseorang yang benar-benar bersyukur akan memandang setiap nikmat sebagai amanah, bukan sekadar kepemilikan. Dari sini lahir sikap wara', zuhud, serta kesadaran bahwa segala sesuatu harus dikembalikan kepada Allah melalui amal yang diridai-Nya.
Dengan cara pandang ini, keamanan hidup bukan lagi sekadar terbebas dari masalah, tetapi lebih pada ketenangan batin karena selalu merasa dekat dengan Allah. Sebagaimana firman-Nya:
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُۗ ٢
Artinya: “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).
Tulisan ini mengajak kita untuk tidak berhenti pada simbol-simbol syukur, tetapi melangkah lebih jauh, yaitu menghidupkan syukur dalam tindakan. Sebab, pada akhirnya, hidup yang diridhai Allah bukan ditentukan oleh seberapa banyak nikmat yang dimiliki, melainkan sejauh mana nikmat itu digunakan para salik untuk menggapai ridha-Nya.