Bukan Sekadar Kebaya: Kisah Spiritual R.A. Kartini yang Menginspirasi Lahirnya Tafsir Al-Qur’an Berbahasa Jawa
Kisah RA Kartini mengungkap perannya dalam menginspirasi lahirnya tafsir Al-Qur’an berbahasa Jawa melalui KH Sholeh Darat. Dalam perspektif tasawuf, semangatnya mencerminkan nilai keikhlasan, adab, dan ilmu yang diamalkan untuk kemaslahatan umat.
Peringatan Hari Kartini selama ini identik dengan kebaya dan semangat emansipasi perempuan. Namun di balik itu, tersimpan kisah spiritual yang jarang terangkat dalam buku sejarah. Sebuah kisah yang menunjukkan bahwa Raden Ajeng Kartini bukan hanya pejuang perempuan, tetapi juga sosok yang memiliki perhatian besar terhadap pemahaman Al-Qur’an.
Kisah ini disampaikan oleh Rais 'Ali JATMAN, KH Achmad Chalwani, dalam sebuah video wawancara dengan tim NU Online. Dalam penuturannya, beliau mengungkap sisi lain Kartini yang sejak kecil dikenal sebagai santri yang kritis dan haus akan ilmu agama.
Saat berusia sekitar 13 tahun, Kartini belajar mengaji di Mayong, Jepara, kepada seorang ulama besar, KH Sholeh Darat. Berbeda dari kebiasaan saat itu yang banyak menggunakan bahasa Arab tanpa penjelasan, Kiai Sholeh Darat mengajarkan tafsir Al-Qur’an menggunakan bahasa Jawa agar lebih mudah dipahami masyarakat.
Metode ini ternyata sangat membekas di hati Kartini. Ia merasakan ketenangan saat memahami makna ayat-ayat Al-Qur’an dalam bahasa yang ia mengerti. Dari pengalaman itulah muncul gagasan besar yang kemudian mengubah sejarah literasi Islam di Nusantara.
Kartini mengusulkan kepada gurunya agar Al-Qur’an ditafsirkan secara lengkap dalam bahasa Jawa. Ia berharap, tafsir tersebut bisa menjadi pegangan bagi perempuan-perempuan Jawa agar lebih memahami ajaran Islam, bukan sekadar membaca tanpa mengerti.
Permintaan itu bukan hal sederhana. Dalam tradisi keilmuan Islam, menafsirkan Al-Qur’an membutuhkan penguasaan berbagai disiplin ilmu, seperti nahwu, sharaf, balaghah, hingga asbabun nuzul. Hal ini sejalan dengan peringatan Allah dalam Al-Qur’an agar manusia memahami wahyu dengan benar, sebagaimana firman-Nya:
كِتٰبٌ اَنْزَلْنٰهُ اِلَيْكَ مُبٰرَكٌ لِّيَدَّبَّرُوْٓا اٰيٰتِهٖ وَلِيَتَذَكَّرَ اُولُوا الْاَلْبَابِ ٢
Artinya: (Al-Qur’an ini adalah) kitab yang Kami turunkan kepadamu (Nabi Muhammad) yang penuh berkah supaya mereka menghayati ayat-ayatnya dan orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran. (QS. Shad [38]: 29).
Lebih lanjut KH Chalwani menuturkan. Karena kuatnya keyakinan Kartini kepada gurunya akhirnya mampu menggugah hati Kiai Sholeh Darat. Dengan penuh haru, beliau menerima usulan tersebut. Dari sinilah kemudian lahir sebuah karya monumental berjudul Faidurrahman fi Tafsir Ayatil Qur'an.
Kitab ini dikenal sebagai salah satu tafsir Al-Qur’an pertama di Asia Tenggara yang ditulis dalam bahasa daerah, membuka jalan bagi masyarakat luas untuk memahami isi Al-Qur’an dengan lebih dekat. Semangat ini juga sejalan dengan pesan Rasulullah SAW:
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
Artinya: Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya” (HR. Bukhari).
Kisah ini mencerminkan nilai tasawuf yang menekankan pentingnya talab al-‘ilm (mencari ilmu), adab kepada guru, serta keikhlasan dalam mengamalkan ilmu untuk kemaslahatan umat. Kartini tidak hanya mencari pengetahuan untuk dirinya sendiri, tetapi memiliki visi agar ilmu tersebut menjadi cahaya bagi orang lain. Sebuah cerminan maqam ihsan, yaitu beribadah dan beramal seakan-akan melihat Allah, serta menghadirkan manfaat bagi sesama.
Melalui kisah ini, KH Achmad Chalwani mengingatkan bahwa peringatan Hari Kartini seharusnya tidak berhenti pada simbol-simbol seremonial. Lebih dari itu, ada nilai besar yang perlu diteladani, yaitu semangat mencari ilmu, keberanian berpikir, dan kepedulian terhadap literasi keagamaan.
Kartini, dalam kisah ini, tampil bukan hanya sebagai ikon emansipasi, tetapi juga sebagai pelopor kesadaran bahwa Al-Qur’an harus dipahami, bukan sekadar dibaca. Sebuah pesan yang tetap relevan hingga hari ini, di tengah kebutuhan umat untuk kembali mendekatkan diri pada makna ajaran Islam secara utuh.