Karamah Ayah Habib Luthfi Pekalongan, Bershalawat di Desa yang Gagal Panen

Maret 31, 2024
Karamah Ayah Habib Luthfi Pekalongan, Bershalawat di Desa yang Gagal Panen

Habib Luthfi merupakan ulama karismatik dari Pekalongan. Kealiman beliau tidak hanya diakui oleh tokoh-tokoh nasional saja, akan tetapi juga diakui oleh tokoh-tokoh Internasional. Selain itu, kewibawaan beliau tidak hanya dihormati dari kalangan santri atau kalangan Muslim saja, akan tetapi dihormati juga oleh kalangan non-Muslim dan semua lapisan masyarakat, mulai dari masyarakat bawah hingga pejabat pemerintahan.

Sering kali kita mendengar bahwa orang yang hebat biasanya dilahirkan dari keluarga yang hebat pula. Ungkapan ini sangat sesuai dengan haliyah Habib Luthfi, yang merupakan seorang yang hebat, yang dilahirkan dari keluarga yang hebat pula. Ayah beliau, yang bernama Habib Ali juga merupakan tokoh karismatik di masanya. Bahkan tidak sedikit kisah tentang karamah dari Habib Ali.

Di antara sekian banyak karamah Habib Ali, Habib Luthfi pernah menceritakan secara langsung pada saat pengajian rutin Ramadan di Pekalongan, bahwa dahulu ayah beliau merupakan seseorang yang gemar bershalawat melalui gambusan atau semacamnya.

Suatu hari Habib Ali diundang oleh seorang kepala Desa di daerah Cirebon yang bernama Tarmin (untuk nama desanya dalam hal ini tidak penulis sebutkan). Kepala Desa tersebut pusing dan bingung karena selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun desanya ini gagal panen secara terus menurus.

Entah kenapa pada saat itu Pak Tarmin ini terbesit untuk mengundang Habib Ali. Tujuan awalnya hanya sebatas untuk menghibur masyarakat desa yang sedang pusing karena masalah gagal panen.

Singkat cerita Habib Ali dan rombongannya shalawatan dengan gambusan atau semacamnya di Desa tersebut. Pada saat itu suasana sangat ramai dihadiri banyak masyarakat desa. Mereka semua ikut bershalawat bersama Habib Ali dengan khusyu dan riang gembira, sembari melepaskan penak sejenak memikirkan masalah gagal panen.

Selesai acara, Habib Ali mengobrol dengan pak Tarmin dan bertanya kepadanya. “Tumben sekali, kenapa tiba-tiba memanggil saya untuk shalawatan di sini?”

Pak Tarmin menjawab, “Anu bib, di sini sudah berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun gagal panen terus sawahnya, semua padi tidak ada yang berhasil panen satu pun. Jadi kasihan warga karena mereka pusing memikirkan masalah ini. Oleh karenanya saya berinisiatif mengundang Habib untuk shalawatan di sini, supaya setidaknya warga desa terhibur dengan shalawatan dengan Habib.”

“Pak Tarmin, jangan khawatir, besok sawah panen semua, insya Allah,” tiba-tiba Habib Ali menjawab curhatan Pak Tarmin dengan mengatakan bahwa besok sawah di desa itu akan panen semua. Mendengar jawaban tadi pak Tarmin tentu terheran dan merasa percara tidak percaya.

Esok harinya, salah satu warga desa ada yang berlari menuju rumah pak Tarmin dengan terburu-buru sambal berteriak, “Pak Lurah, kita panen pak, Alhamdulilah.”

Mendengar laporan warganya tersebut Pak Tarmin mengucap syukur dan teringat janji Habib Ali semalam. Masya Allah begitu dahsyatnya karamah Habib Ali, ayahanda dari pada Habib Luthfi bin Yahya.

Penulis juga sangat terkesima saat Habib Luthfi menceritakan kisah ini, karena beliau berulang kali berkata, “sakjane aku isin nyeritake iki” yang artinya sebenarnya saya malu mau menceritkan ini. Hal ini merupakan bentuk ketawadhuan Habib Luthfi, beliau tawadlu karena sebenarnya tidak enak hati untuk menceritakan kehebatan orang tuanya, sedangkan saat ini begitu banyak orang yang membangga-banggakan cerita orang tuanya tiada lain untuk menyombongkan dirinya atau niat lainnya.

Atau ketawadluan beliau karena merasa malu, merasa belum bisa menjadi sosok yang sehebat ayahnya. Masya Allah, begitu banyak pelajaran dan hikmah yang bisa diambil dari kisah ini. Semoga kita bisa meneladani kehebatan guru-guru kitsa semua.