Habib Jindan bin Novel KisahkanTokoh Alawiyin yang Sangat Menghargai Waktu

Ia mengungkap ada sosok Alawiyin di Hadramaut Habib Fulan yang sangat menghargai waktu. "Habib yang waktunya habis untuk ibadah, mengajar, dzikir, baca Al-Quran dan lainnya untuk meraih ridho Allah Ta'ala," ucap Habib lulusan Madrasah Jam'iyatul Khair Tanah Abang.

Maret 18, 2024
Habib Jindan bin Novel KisahkanTokoh Alawiyin yang Sangat Menghargai Waktu

Jakarta, JATMAN Online - Habib Jindan bin Novel bin Salim bin Jindan merupakan pendakwah (Adda'ilallah), ulama dari kalangan Alawiyin yang saat ini menjadi Pimpinan Yayasan Al Fachriyah, Tangerang, Banten.

Ia merupakan cucu dari Habib Salim bin Ahmad bin Jindan, seorang mubalig tersohor di Betawi pada tahun 1906-1969 dengan julukan "Singa Podium".

Ia bercerita ada sosok Alawiyin di Hadramaut, yakni Habib Fulan yang sangat menghargai waktu.

"Habib yang waktunya habis untuk ibadah, mengajar, zikir, baca Al-Quran dan lainnya untuk meraih ridho Allah Ta'ala," ucap Habib lulusan Madrasah Jam'iyatul Khair Tanah Abang. 

Lanjutnya, Habib Fulan meminta kepada setiap anak-anaknya agar di bulan Ramadan mereka memiliki kegiatan spesial yang istimewa, baru dan istiqomah. 

"Semua anak-anaknya menjawab dengan jawaban yang berbeda-beda. Kemudian salah satu anaknya bertanya kepada Ayahnya 'kalau Ayah sendiri apa kegiatannya?' ujarnya. 

Habib Jindan melanjutkan ceritanya bahwa Habib Fulan menjawab, “saya tidak menambah kegiatan apa pun, karena kegiatanku sudah full time 24 jam (di luar Ramadan)”. 

Di lansir dari website muwasala.org, Habib Fulan tersebut adalah Al-Habib Abdullah bin Husain bin Thahir Ba'alawi. 

Tokoh Alawiyah ini merupakan penulis sejumlah risalah tentang berbagai unsur agama, salah satunya adalah menulis kitab Sullamu At-Taufiq Ila Mahabbatillah ‘Ala At-Tahqiq.

Silsilah Habib Abdullah bin Husain bin Thahir

Habib Abdullah bin Husain bin Thahir adalah salah satu dari sekian banyak zurriyyah Rasulullah saw. Adapun silsilah nasabnya adalah Al-Habib Abdullah bin Husain bin Thahir bin Muhammad bin Hasyim bin `Abd al-Rahman bin `Abdullah bin `Abd al-Rahman bin Muhammad Maghfun bin `Abd al-Rahman bin Ahmad bin `Alawi bin Ahmad bin `Abd al-Rahman bin `Alawi `Amm al-Faqih (paman dari al-Faqih al-Muqaddam) bin Muhammad Sahib Mirbat bin `Ali Khali` Qasam bin `Alawi bin Muhammad Sahib al-Sawma`ah bin `Alawi bin `Ubaydullah bin al-Imam al-Muhajir il-Allah Ahmad bin `Isa, bin Muhammad al-Naqib bin `Ali al-`Uraydi bin Ja`far al-Sadiq bin Muhammad al-Baqir bin `Ali Zayn al-`Abidin bin Husain al-Sibt bin `Ali bin Abi Thalib dan Fatimah al-Zahra', putri Nabi kita Muhammad, Nabi Penutup ﷺ .

Habib Abdullah bin Husain bin Thahir bahkan waktu makannya digunakan untuk menambah ilmu. Saudaranya makan lalu dia membacakan untuknya lalu dia makan dan saudaranya membaca. Tepat sebelum bulan Ramadan dia akan mengumpulkan seluruh anggota keluarganya dan berkata kepada mereka,

“Seluruh waktuku telah penuh dan aku tidak dapat melakukan ibadah lebih dari yang telah aku lakukan. Siapa yang akan menjual sebagian waktunya kepada saya?”

Habib `Abdullah bin `Umar bin Yahya, berkata tentangnya,

“Dia menyucikan dirinya dari segala sifat yang merusak dan mencapai semua sifat buruk. Sifat terpuji yang menyelamatkan seseorang dari kehancuran. Sifat-sifatnya adalah yang terkandung dalam Ihya ’ dan lainnya.” 

Habib `Abdullah berkata tentang Ihya,

“Barangsiapa ingin berada di jalan yang lurus. Ingin menyempurnakan ketaatannya pada Nabi Muhammad saw, ingin datang kepada Allah dengan hati yang sehat, ingin mencapai akhlak mulia, dan ingin meraih kebahagiaan abadi, maka ia harus berbuatlah sesuai dengan apa yang terkandung dalam Ihya' `Ulum al-Din.”

Penulis: Abdul Mun'im Hasan