Pesan Puang Makka dalam Peringatan Haul Drs KH Muh Harisah AS

Haul IX Anre Gurutta KH. Muh. Harisah AS.,  pendiri Pondok Pesantren An-Nahdlah Makassar dilaksanakan pada hari Ahad (22/05) di Balai Manunggal Prajurit Jenderal M. Jusuf Kota Makassar.

Agustus 29, 2023 - 09:33
 0
Pesan Puang Makka dalam Peringatan Haul Drs KH Muh Harisah AS

Makassar, JATMAN Online –  Haul IX Anre Gurutta KH. Muh. Harisah AS.,  pendiri Pondok Pesantren An-Nahdlah Makassar dilaksanakan pada hari Ahad (22/05) di Balai Manunggal Prajurit Jenderal M. Jusuf Kota Makassar.

Beberapa tamu penting hadir memenuhi gedung, di antaranya Sekertaris Deputi Pengembangan Pemuda Kemenpora RI Dr. H Amar Ahmad, Plt Rektor UIM Prof. Dr. Arfin Hamid, SH., MH., tamu dari Kerajaan Campa Malaysia, keluarga besar civitas akademik, ribuan alumni, santri, dan orang tua santri Pondok Pesantren An-Nahdlah Makassar.

Turut hadir pula Rais Syuriah NU yang juga selaku ketua MUI Provinsi Sulawesi Selatan Prof. KH. Najamuddin, MA. Ph. D., dan Mustasyar PBNUyang juga menjabat sebagai Rais Awwal Idarah Aliyah JATMAN Syekh Sayyid Abdul Rahim Assegaf Puang Makka yang bertindak sebagai penceramah.

Dalam kegiatan tersebut, Puang Makka menjelaskan bahwa makna dan pentingnya haul disebutkan di dalam al-Quran sebanyak dua puluh enam kali. Ajaran Islam menuntun para generasi agar tidak memutuskan dengan para pendahulu sebelumnya. Al-Qur’an memberikan pelajaran tentang perkara hukum maupun akidah, umumnya menjadikan pelajaran dari umat terdahulu. Sebagaimana firman Allah swt.

فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ

“Maka ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berpikir.” (Qs. al-A’raf/ 7: 176)

Begitu pula dalam hadis dijelaskan bahwa Rasulullah saw. ketika isra’ Mi’raj, ia tetap memberikan penghargaan kepada setiap nabi dan rasul yang ditemuinya. Seolah mengisyaratkan kepada umatnya, bahwa dengan segala kebesaran dan kemuliaan nama yang melekat padanya, ia tetap mappatabe’ (menziarahi) nabi-nabi sebelumnya.

Sama halnya dengan alumni di sebuah pondok, meskipun sudah memeroleh gelar yang tinggi, jangan melupakan pondoknya untuk memperoleh keberkahan. Bagaimana mungkin memperoleh berkah, jika lupa terhadap asal usul keilmuan dan adab.

“Bagaimana mungkin masuk cahaya ke dalam hati, jika syekh, kiai dan ustaz yang selama ini membimbing dilupakan.” Ungkap Puang Makka

Kemudian, Habib Puang sejenak mengajak seluruh hadirin untuk memejamkan mata sembari menghadirkan sosok kiai dan ustaz yang dengan tulus memberikan dan membimbing ilmu selama ini. Suasana kemudian menjadi hening dan penuh haru.

“Salah satu rusaknya peradaban keislaman, sebagian kecil umat banyak mengambil konten-konten di handphone, kemudian lupa kepada pesan-pesan gurunya. Saat ini, ada upaya untuk memutuskan sanad ulama-ulama dahulu kita, seperti Syekh Alim Allamah KH. Muhammad As’ad, KH. Yunus Maratan, KH. Junaid Sulaiman, KH. Abdurrahman Ambo Dalle. Apa yang pernah dibuat oleh Anre Gurutta, oleh kelompok sebelah divonis bid’ah. Padahal belum tentu mereka lebih baik dari warisan ulama kita terdahulu.” Tuturnya.

Mengambil keteladanan dari Shahibul Haul, Puang Makka menyampaikan kesaksian bahwa ketika Anre Gurutta Harisah bersilaturahmi ke rumahnya dan bertemu orang tuanya yaitu Syekh Sayyid Djamaluddin Assegaf Puang Ramma (Muasssis NU Sulsel), Anre Gurutta Harisah duduk di depan Puang Ramma dengan tenang tanpa berani memandang wajahnya, apalagi menatap langsung kedua matanya.

“Setelah Anre Gurutta Harisah pulang, saya kemudian diberitahu oleh Abahku Puang Ramma bahwa beliau itu wali (awalli anjo). Karena tutur katanya yang lemah lembut, adabnya bagus, beliau ini wali Allah yang sebenarnya.”

“Beliau juga pernah berguru kepada Alim Allamah Nashirus Sunnah KH. Muhammad Nur. Tanda kewalian Anre Gurutta Harisah adalah sinkronnya kewafatan beliau yang tepat dengan Hari Kebangkitan Nasional dengan nama pondok An-Nahdlah atau kebangkitan.” Jelas Puang Makka.

Diakhir mauizah, Puang Makka juga menyampaikan pesan kepada para hadirin untuk tetap melestarikan ajaran-ajaran dari guru.

“Jika ingin sukses dan berkah hidup kirimkan surah al-Fatihah, ziarahi kuburnya, ikuti pola-pola guru dan merasa mampu tanpa membawa kebesaran nama orang tua.”

“Jangan cukupkan dengan doa saja tanpa ziarah. Ahlus Sunnah itu mensyiarkan zaiarah kubur, justru bid’ah jika tidak ziarah kubur. Rasul hamba yang paling maqbul doanya, tapi senantiasa keluar ziarah kubur ke baqi’. Lain doa, lain ziarah kubur”

“Apa yang dikatakan syeikh dan gurumu, maka ikutilah. Jika ditemukan kebimbangan, keraguan, maka Kembalilah kepada pesan Gurutta.” Pungkas Puang Makka.

Pewarta: Hardianto
Editor: Khoirum Millatin