Connect with us

Artikel

Urgensi Mursyid dalam Tasawuf

Published

on

Perkataan mursyid berasal dari kata irsyada, yaitu memberi tunjuk-ajar. Dengan kata lain, mursyid berarti seseorang yang ahli dalam memberi tunjuk-ajar terutama dalam bidang spiritual, dalam istilah para sufi.

Mursyid secara istilahnya (menurut kaum sufi) adalah mereka yang bertanggung jawab memimpin murid dan membimbing perjalanan rohani murid untuk sampai kepada Allah Swt. dalam proses tarbiah yang teratur, dalam bentuk tarekat sufiyah.

Para mursyid merupakan golongan pewaris Nabi Muhammad Saw. dalam bidang pentarbiah umat dan pemurnian jiwa mereka (tazkiyah an-nafs), yang mendapat izin irsyad (izin untuk memberi bimbingan kepada manusia) dari para mursyid mereka sebelum mereka, yang mana mereka juga mendapat izin irsyad dari mursyid sebelum mereka dan seterusnya, sampai silsilah izin irsyad tersebut sampai kepada Rasulullah Saw. (tanpa terputus turutannya). Jadi pada kebiasaannya, ia dari keturunan ulama.

Imam Al-Ghazali dalam kitab Khulashah al-Tashanif al-Tashawwuf  dalam membicarakan kualifikasi seorang  mursyid menjadikan kebebasan dari kecintaan terhadap harta dan kedudukan sebagai kriteria awal. Adapun syarat-syarat mursyid adalah orang yang:

  1. Dari hatinya sudah keluar kecintaan terhadap harta dan kedudukan.
  2. Format pendidikannya berlangsung di tangan seorang mursyid juga, dan begitulah seterusny hingga silsilah itu berakhir pada Nabi Saw.
  3. Mengalami riyadha (latihan jiwa) seperti sedikit makan, bicara, tidur, serta banyak melakukan shalat, sedekah dan puasa.
  4. Memperoleh cahaya dari cahaya-cahaya Nabi Saw,
  5. Terkait kebaikan biografinya, dan kemuliaan akhlaknya seperti, sabar, syukur, tawakal, yakin, thumainah, sakinah, qanaah. amanah, hilim (lemah lembut), bermakrifat, shidiqin, berwibawa, malu, tenang, tidak tergesa-gesa dan lain sebagainya.
  6. Suci dari akhlaq tercela, seperti sombong, kikir, dengki, tamak, berangan-angan panjang, gegabah dan lain sebagainya.
  7. Kaya dengan ilmu yang diperoleh langsung dari Rasullullah Saw sehingga tidak membutuhkan ilmu orang-orang yang mengada-ada (ilm al-Mukallafin)

Di dalam tasawuf, peran utama mursyid itu sebagai penunjuk jalan bagi si murid untuk sampai kepada Allah Swt. Syaikh Ahmad Ibn Muhammad Al-Tajibi Ibnu Al-Banna Asy-Syarqathi dalam kitab Kitab Al-Futuhat Al-Ilahiyyah fi Syarh Al-Mabahit Al-Asliyyah berkata dalam sebuah syair:

وانما القوم مسافرون  لحضرة الحق وظاعنون

فافتقروا فيه إلى دليل  ذي بصر بالسير والمقيل

قد سلك الطريق ثم عاد.  ليخبر القوم بما استفاد

Kaum sufi tidak lain sedang melakukan musafir (perjalanan) ke hadirat Al-Haq Yang Maha Benar Maka mereka membutuhkan penunjuk jalan yang benar-benar mengenal seluk beluk jalan itu Dia telah melalui jalan itu, lalu dia kembali untuk mengabarkan apa yang telah didapati.

Penunjuk jalan itu tak lain adalah Mursyid Arif Billah akan dapat mengantarkan seorang Salik sampai ketempat tujuan/finis yang aman yaitu Ahadit Dzat dan dapat menjauhkan Salik dari berbagai gangguan-gangguan selama perjalanan. Sebab murysid tersebut telah mengenal dan telah terlebih dahulu melewati jalan itu dibawah bimbingan orang penunjuk jalan sebelumnya (Mursyid dari Murysid itu).

Apabila si Salik berjalan dengan ilmunya sendiri Tanpa adanya murysid (penunjuk) jalan maka dikhawatirkan Setan dan nafsunya sebagai penunjuk jalan yang akhirnya ia akan tersesat dan hasil yang diperoleh akan membawa malapetaka bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain.

Syaikh Sayyidi Muhammad Al-Hasyimi dalam kitab Haqa’id At-Tashawwuf berkata

“Wahai saudaraku, bersuluk (berjalan) lah engkau dibawah bimbingan seorang Syaikh [murysid] yang bermakrifat kepada Allah, tulus, selalu memberimu nasihat, serta memiliki ilmu yang benar, himmah yang tinggi, kondisi Ruhani yang diridhai. Sebelumnya Syaikh itu telah menempuh tarekat dibawah bimbingan mursyid sebelumnya, mengambil akhlaknya dari akhlak mereka yang mulia dan mengetahui seluk beluk jalan menuju Allah. Maka jika demikian, maka Syaikh Murysid itu akan menyelamatkan mu dari jalan-jalan yang membinasakan, mengarahkanmu untuk bergabung dengan Allah dan mengajarimu untuk menjauhi dari selain Allah. Dia akan berjalan bersamamu, hingga engkau sampai kepada Allah. Dia akan membebaskanmu dari penyakit-penyakit nafsumu dan mengenalkanmu dengan kebaikan Allah kepadamu. Apabila engkau tela- Nya, maka engkau akan bermujahadah di jalan-Nya, apabila engkau telah bermujahadah di jalan-Nya maka dia akan menunjukkan kepada Jalan-Nya dan memilih mu untuk berada di dekat-Nya.  Allah Ta’ala berfirman, “Dan orang-orang berjihad (mencari keridhaan) Kami (yaitu Allah), benar-benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami (yaitu jalan untuk dekat keapdaNya). (QS. al-Ankabut: 69).”

Untuk memahanmi ilmu tasawuf wajiblah seseorang itu berguru dengan seorang mursyid, karena makna-makna didalam tasawuf sangat halus kental dengan isyarat-isyarat, rumus-rumus dan kalimat simbolik yang dapat difahami oleh ahlinya.

Imam Al-Qusyairi dalam kitab Risalah Al-Qusyairiyah fi ilm Al-Tashawwuf menegaskan “Pohon apabila tumbuh dengan sendirinya, hanya tumbuh dengan daunnya, tetapi tidak berbuah. Begitupula dengan murid (orang menempuh Thariqoh Sufi), apabila ia tidak berguru dengan seorang Mursyid Arif Billah, hanya menyerap begitu saja ajaran tasawuf melalui metodenya sendiri, maka murid itu adalah penempuh Thariqoh Nafsu dan ia penghamba hawa nafsu yang tidak akan sampai ke tujuan. Dan berkata  Syaikh Abu Yazid Al-Busthami :

“من لم يكون له استاذ فإمامه الشيطان

“Barangsiapa yang tidak memiliki murysid maka setanlah mursyidnya.”

Abuya Syech H. Amran Wali Khalidi  Pimpipan Majelis Pengkajian Tauhid dan Tasawuf Indonesia [MPTT-I] dan mursyid Tarekat Naqsyabandiyah Khalidyah Aceh menjelaskan  ada beberapa tugas mursyid, yaitu murysid yang dapat membawa kita untuk kebaikan dunia dan akhirat kemenangan dalam kehidupan.

1. Ta’lim yaitu mengajarkan ilmu fardhu ain, dan ilmu-ilmu lainnya.

2. Tarbiyah yaitu melatih murid agar dapat mengamalkan ilmu, disebut juga mendidik.

3. Tahzib yaitu melatih murid dapat memperbagus amal dan akhlak.

4. Taşlık, yaitu menjalankan kemauan murid untuk mendekati Allah dan memutuskan selain Allah didalam ingatannya disebut juga dengan Tashfiyah atau memperjalankan ruh untuk wushul bermakrifat kepada Allah.

5. Takmil atau Tamkin yaitu menyempurnakan sebagai Insan Kamil, penyebab Wushul/sampai kepada Allah atau menetapkan keberadaan Allah di dalam bathin hambaNya yaitu Mursyid yang faham syari’at dan hakikat dan telah Tamkin pada dirinya dimana dia berada. Mursyid yang seperti ini sudah jarang adanya, kalau kita melihat, bertemu dengan nya teringat kita Allah.

Sebagai pewaris Nabi dan sahabat-sahabatnya. Kita wajib untuk mendapatkan Mursyid tingkat ke lima sekalipun kita harus menyeberang lautan api. Walaupun kita punya ilmu yang banyak, alim dibelahan dunia,”

Demikanlah pengertian dan peran mursyid, jadi mursyid itu termasuk ulama, namun dalam konteks ulama khusus atau ulama bathin yang dapat memberikan bimbingan spiritual bagi si murid. Mursyid disebut juga sebagai dokter bathin, yang dapat mengobati hati murid dari penyakit-penyakit nafsu. Dan mursyid itu diibaratkan sebagai penunjuk jalan bagi musafir ruhani yaitu murid untuk wushul [sampai] kepada Allah Swt.

Wallahu a’lam bi shawwab
Ilahi anta maqshudi waridhaka mathlubi

Penulis: Budi Handoyo

(Dosen Prodi Hukum Tata Negara Islam Jurusan Syariah dan Ekonomi Islam STAIN Teungku Diruendeng Meulaboh-Kabupaten Aceh Barat)

Artikel

Model-model Pembersihan jiwa (Tazkiyatun Nafs)

Published

on

Pembersihan jiwa atau Tazkiyatun Nafs adalah upaya menghilangkan keburukan-keburukan yang sudah lama terbenam dalam hati hamba. Proses ini berfungsi untuk menyiapkan diri menerima cahaya dari Allah Swt. Karena tidak mungkin cahaya bisa masuk dalam ruang yang gelap tanpa adanya setitik kebaikan di dalamnya. Gelapnya hati inilah hijab yang menghalangi makrifat terhadap Allah.

Oleh sebab itu, untuk membersihkan hati dari kotoran-kotoran tersebut perlu dilakukan beberapa cara, di antaranya:

1. Lapar (Al-Ju’)

Sesungguhnya lapar merupakan keadaan ahli hakikat. Menurut al-Ghazali, lapar dapat mengurangi dan memutihan darah dalam hati (al-qalb). Putihnya darah adalah cahayanya. Dengan cahaya dapat menghancurkan lemak hati. Hancurnya lemak dapat melembutkan hati dan hati yang lembut bisa menjadi kunci mukasyafah, sedangkan kerasnya hati adalah hijabnya.

2. Melanggengkan Wudlu (Dawam al-Wudlu’)

Wudlu adalah cahaya dan dosa akan berguguran ketika seorang hamba berwudlu. Para ulama menyatakan bahwa melanggengkan wudlu akan meluaskan rizki. Perbuatan itu juga merupakan amaliyah waliyullah sebagaimana yang dilakukan oleh Syekh Abdul Qadir al-Jilani

3. Khalwat

Khalwat menurut Kiai Muhammad Shiddiq Piji adalah menyendirinya hati dari manusia. Menurut sebagian ulama, tarekat khalwah adalah pembicaraan rahasia (muhadatsat al-Sirri) bersama al-Haqq. Khalwah merupakan salah satu kebiasaan Nabi Muhammad saw. saat memulai perjalanan ruhaninya hingga mendapat wahyu untuk berdakwah

4. Zikir

Zikir dalam keterangan Kiai Muhammad Shiddiq Piji merupakan rukun terpenting dalam tarekat. Tidak mungkin seseorang bisa wushul kepada Allah kecuali dengan membiasakan zikir itu. Zikir adalah ibadah yang bisa dilakukan dalam kondisi apapun dan kapanpun. Oleh sebab itu para ulama’ tarekat mengatakan barang siapa diberikan istiqamah dalam zikir, maka ia telah mendapat hamparan dunia kewalian (wilayah). Dalam al-Qur’an, Allah memberi perintah zzikir lebih banyak dari perintah ibadah yang lainnya.

Di antara ke empat proses Tazkiyatun Nafs, zikir menjadi nyawa yang mengisi setiap proses ibadah. Ibn Athaillah menjelaskan bahwa macam macam zikir dalam tarekat dapat berupa zikir lisan lafaz, zikir qalbi, dan zikir sirril khafiy. Sedangkan manfaat zikir menurutnya dapat menghilangkan duka, kesusahan dan gundah gulana; mensucikan bagian tubuh yang terbangun dari makanan haram; menghilangkan gelap dan noda hati; menghilangkan kerak atau karat hati; melembutkan hati; membakar nafsu (syahwat dan ghadab); mencegah ketaatan tubuh pada prilaku yang menyimpang dari agama; mematahkan bisikan syetan; mencegah keburukan, menjaga dari segala sesuatu; membuka pintu ghaib/mengangkat hijab; menjadikan ruh mencintai Allah, dan menjadikan sufi selalu bersama Allah.

Continue Reading

Artikel

Sufi adalah Golongan Ahlus Sunnah wal Jamaah

Published

on

Permasalahan apakah orang-orang sufi termasuk bagian dari Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah sebuah polemik yang dipertanyakan oleh sebagian orang yang belum mengenal tasawuf secara utuh. Bahkan banyak anggapan bahwa ajaran ini berasal dari Hindu dan Budha dan para Filsuf Yunani.

Menurut Syekh Abul Fadhol dalam Syarh Kawakib al-Lama’ah, ini terjadi karena kebanyakan orang muslim melihat adanya kemiripan antara tokoh-tokoh sufi dan kebiasaan orang-orang Budha, termasuk dalam akhlak mereka, perilaku zuhud serta menahan hawa nafsu. Atas dasar inilah mereka menduga ada korelasi antara ajaran tasawuf dan Budha.

Lebih ekstrem dari itu, ada ungkapan bahwa tokoh-tokoh sufi seperti Abu Yazid al-Busthami, Ma’ruf al-Karkhi dan Abu al Qasim al-Junaidi adalah orang-orang bodoh yang tidak tahu syariat Islam. Mereka menciptakan amalan fisik maupun hati bersumber dari Agama Budha dan mencampurkannya dengan Syariat Islam.

Yang dimaksud oleh anggapan-anggapan tersebut adalah bagian dari Sinkretisme. Tentu saja ini merupakan kesalahan besar. Bahkan seorang tokoh yang bernama Abu Abdillah al-Marizi, hanya menilai al-Ghazali dari murid-muridnya saja, tidak dengan membaca karyanya. Tentu ini tidak komprehensif untuk mengetahui penilaiannya terhadap ajaran tasawuf al-Ghazali. Padahal, ajaran-ajaran yang disampaikan oleh para sufi memiliki dasar yang kuat.

Seperti definisi tasawuf menurut al-Ghazali, yaitu mengosongkan hati dari hal selain Allah dan menganggap rendah selain-Nya. Kemudian dijelaskan oleh Syekh Jalaludin al-Mahalli dalam Kitab Syarh Jam’ul Jawami’ bahwa jalan yang ditempuh oleh al-Junaid itu terbebas dari bid’ah-bid’ah yang berputar atas kepasrahan kepada Allah serta terbebas dari hawa nafsu.

Hal ini sesuai dengan apa yang diungkapkan sendiri oleh al-Junaid,

“Jalan menuju Allah Swt. itu tertutup atas makhluknya, kecuali atas orang-orang yang mengikuti jejak Rasulullah saw.“

Dan ungkapannya yang lain,

“Mazhab kita, wahai golongan sufi, ini diikat (berdasarkan) dasar-dasar al-Quran dan Sunnah.”

Juga dipertegas lagi oleh Ibnu Athaillah,

“Allah telah mengumpulkan seluruh kebaikan dalam suatu gedung, dan Dia menjadikan sebagai kuncinya adalah dengan mengikuti Nabi Muhammad saw.”

Dari pendapat tersebut, mana bisa ahli tasawuf disebut sebagai orang-orang yang bodoh dan mencampuradukan syariat serta bukan bagian dari Ahlus Sunnah wal Jamaah. Padahal penjelasan di atas menunjukkan bahwa mereka memiliki dasar tasawuf yang kuat, yaitu dengan mengikuti jejak Nabi Muhammad saw. dan menaatinya.

Sehingga, ini selaras dengan yang disampaikan oleh Syekh Abul Fadhol,

“Barangsiapa yang menjadikan ilmu tasawuf sebagai bagian dari hukum-hukum syariat, ia benar. Namun, ia tidak akan merasakan bahwa tasawuf itu bagian dari syariat kecuali orang yang luas wawasannya di bidang syariat hingga puncak sesuai kemampuan manusia.”

Adapun orang-orang yang mengaku menempuh jalur sufi namun tidak memenuhi syariat adalah kesalahan yang besar. Dan orang-orang yang mengingkari tasawuf secara kesuluruhan hanyalah menilai sesuatu yang umum terhadap sesuatu yang khusus.

Continue Reading

Artikel

Tasawuf dalam Menjawab Problematika Sosial Di Era Milineal

Published

on

Umat Islam dalam skala global maupun lokal menghadapi berbagai problem yang kompleks dan mendasar. Dikatakatan kompleks karena mencakup berbagai unsur kehidupan, baik sosial, politik maupun budaya. Dan mendasar karena mencakup akar identitas dari umat yaitu keislaman itu sendiri.

Kejayaan dan kemunduran umat, bisa dilihat dari tiga variable yang menentukan, yaitu: hubungan dengan Allah, hubungan dengan sesama, dan hubungan dengan agama serta Negara. Adapun kejayaan umat Islam ditandai dengan:

1. Adanya kedekatakan individu hubungan tiap-tiap individu warga umat dengan Allah yaitu berupa ketaqwaan
2. Adanya semangat persaudaraan/ukhuwah islamiyah
3. Adanya tanggung jawab dakwah dan amar ma’ruf nahi mungkar

Pada kenyataannya kondisi umat Islam tidak mencerminkan tiga indikator di atas, bahkan sebaliknya dilanda tiga kelemahan dan kehancuran dalam tiga bidang tersebut yakni:

1. Lemahnya ketaqwaan (moral force), yang ditunjukkan dengan merajalelanya kemaksiatan
2. Lemahnya ukhuwah islamiyah (brotherhood), yang ditunjukkan banyaknya pertikaian, permusuhan, disintegrasi umat baik secara vertikal maupun horizontal
3. Lemahnya tanggung jawab dakwah amar ma’ruf nahi mungkar, sehingga umat Islam kehilangan self control maupun social control yang menyebabkan Islam menjadi tersisih dan tertindas oleh peradaban sekuler

Kenapa bisa demikian? hal ini disebabkan ada dua faktor, internal dan eksternal:

1. Internal; kedangkalan terhadap agama, kecenderungan cinta dunia dan tiada kepeminpinan umat yang efektif
2. Eksternal; yaitu adanya konspirasi musuh-musuh umat melalui rekayasa sosial dan politik (social and political engineering)

Dua faktor itulah yang menyebabkan umat Islam mengalami kemunduran dan kejatuhan sehingga tersisihkan peranannya sebagai mercusuar dan pimpinan dunia. Lalu apa yang harus dilakukan?

Setidaknya ada beberapa point sebagai solusi mengatasi problematika di atas:

1. Memacu semangat generasi muda untuk mengkaji agama secara intesif dengan dibangunnya lembaga-lembaga pendidikan yang qualified baik sistem sekolah, unversitas maupun pesantren-pesantren. Membangkitkan kembali semangat spiritual agama yaitu kehidupan bertasawuf melalui tarekat-tarekat yang shahih dan mu’tabarah
2. Menghidupkan kembali lembaga kesultanan dan ruhnya yaitu tauhid tasawuf sebagai pusaka keramat kerajaan

Syekh Abul Abbas Ahmad Zarruqimengartikan tasawuf adalah ilmu yang bertujuan untuk memperbaiki hati dan memfokuskan hati hanya untuk Allah semata. Kedudukan tasawuf seperti kedudukan ruh dan jasad, karena untuk mencapai Ihsan yang dijelaskan Rasullullah dalam sebuah hadis dikatakan:

مَا الإِحْسَانُ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاك

“Ihsan ialah bahwa engkau menyembah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, kalau engkau tidak mampu melihat-Nya, ketahuilah bahwa Allah melihatmu. (HR.Muslim).”

(Al-Futuhat al-Rahmaniah fi Hall Alfaz al-Hikam al-Ataiyah, Dar Nashirun, Beirut, Hal 43-44).

Selama ini umat islam telah kehilangan ruhnya yaitu tasawuf sehingga Islam di era milineal sekarang ibarat jasad yang mudah menjadi rekayasa sosial dan potitik melaui konspirasi dari musuh-musuh Islam untuk merusak tatanan diniyah. Kehadiran tasawuf di era milienal  sangat dibutuhkan untuk memperbaiki moralitas bangsa. Sayyidi Abu Hasan Asy-Syadzili berkata,

التصوف تدريب النفس على العبودية، وردها لأحكام الربوبية

“Tasawuf itu tadrib al-nafs (melatih nafsu) untuk tekun beribadah dan mengembalikannya kepada hukum-hukum Rububiyah (ketuhanan).”

(Kitab Haqa’id at-Tasawuf, Dar al-Taqwa Damaskus hal 18).

Syekh Ahmad bin Muhammad Ajibah al-Hasani, menjelaskan terdapat lima pokok dan dasar tasawuf yang dapat membaguskan amal yang benar, yaitu,

1. Takwa kepada Allah di kala sepi dan keramaian
2. Mengikuti sunnah Nabi Muhammad saw. baik dalam perkataan dan perbuatan
3. Tidak bergantung kepada makhluk baik di hadapan maupun di belakangnya
4. Ridla dengan pemberian Allah baik banyak maupun sedikit
5. Segala permasalahan diserahkan kepada Allah baik waktu gembira maupun susah.

(Al-Futuhat al-Ilahiyyah fi Syarhi al-Mahabits al-Ashaliyyah, Dar-Al-Kotob al-Ilmiyah, Beirut, hal 354).

Tujuan tasawuf  adalah  untuk memperbaiki tiga varibel yaitu memperbaiki variabel vertikal yaitu  memperkokoh iman melalui peningkatan tauhid makrifat dan membersihkan kotoran-kotoran nafsu yang ada dalam hati dan membersihkan sangkutan hati dari selain Allah Swt. sehingga hubungan antara hamba dan Allah menjadi baik. Kemudian perbaikan dua variabel horizontal dengan  memperbagus akhlak sehingga hubungan sesama, masyarakat dan agama serta negara menjadi baik. 

Penulis: Budi Handoyo (Dosen Prodi Hukum Tata Negara Islam Jurusan Syariah dan Ekonomi Islam STAIN Teungku Diruendeng Meulaboh-Kabupaten Aceh Barat)
Editor: Khoirum Millatin

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending