Talqin Dzikir, Bibit Unggul Qolbu Murid yang Butuh Dirawat, Pembekalan Akhir Qini Nasional 161
Talqin dzikir sebagai titik awal keterhubungan ruhani murid dengan mursyid dan sanad Nabi Muhammad yang harus dirawat secara istiqamah agar berbuah keberkahan dan kedalaman spiritual.
Tasikmalaya, JATMAN Online
Rangkaian riyadhoh dalam Qini Nasional yang dilaksanakan pada 15–18 Januari 2026, menjadi momentum penguatan kembali ruhani murid di Tarekat Idrisiyyah. Salah satu kegiatan yang sarat dengan pengalaman spiritual adalah pembekalan akhir mursyid dan pentalqinan kalimat dzikir yang ijazahkan langsung oleh Syekh Akbar di Masjid Al-Fattah, bakda Subuh hari terakhir kegiatan Qini Nasional itu. Dalam pembekalan akhir itu diungkapkan makna talqin sebagai langkah pertama seorang murid baru dalam menempuh perjalananan spiritualnya menuju Allah.
Di pembekalan itu juga Syekh Akbar mengingatkan bahwa proses talqin dzikir bukan sekedar formalitas , melainkan awal dari keterhubungan ruhani sang guru dengan murid barunya atas izin Allah,
“Talqin dzikir itu ibarat pendaftaran, dengan mendapatkan talqin, ruhani murid diikatkan kepada ruhani gurunya. Guru mursyidnya adalah pemilik sanad ruhani yang secara estafet sambung‑menyambung hingga sampai kepada Nabi Muhammad ﷺ. Maka murid yang sudah menerima talqin, hatinya tidak lagi akan sendirian,” ucap Syekh Akbar.
Menegaskan tentang silsilah, Syekh menjelaskan pentingnya sanad ruhani dalam perjalanan ruhani murid dalam dzikirnya. Syekh Akbar juga menceritakan ada pengalaman seseorang yang telah bergelar kiyai dan telah lama dan banyak menempuh jalur keilmuannya, namun ia mengaku baru merasakan kedalaman bathin dalam dzikirnya setelah mendapatkan sanad ruhani dari mursyidnya,
“Pernah ada seorang kiyai berkata kepada bapak, ‘Syekh, baru kali ini saya berdzikir bisa sampai menangis dan bertaubat’ , Padahal beliau itu seorang kiyai. Itu terjadi karena sebelumnya (kiyai itu) baru punya sanad ilmu dzahir (fiqih), ia belum punya sanad ruhani, sanad silsilah ruhani inilah yang menyambungkan hati kita kepada Nabi melalui wasilah para mursyid,” jelas Syekh Akbar.
Syekh Akbar juga memberikan analogi tentang Talqin dzikir, ia ibarat sebuah bibit unggul buah yang harus dirawat agar bisa berbuah, “Talqin dzikir seorang mursyid itu seperti seorang penyuluh pertanian yang memberikan satu butir bibit unggul pohon kurma. Bibitnya itu unggul dan sangat bagus, tapi kalau (bibit itu) tidak dirawat, tidak disiram, tidak dipupuk dan tidak dijaga dari hama, apakah akan berbuah?” jelasnya. Beliau menegaskan bahwa semua murid mendapatkan bibit unggul ruhani yang sama yang ditanamkan kedalam qolbu melalui talqin dzikir.
Perbedaan akan tampak pada tingkat kesungguhan murid dalam merawat bibit ruhani (kalimat dzikir) tersebut. “Semua murid mendapatkan bibit yang sama. Kalau talqin dzikir tidak dirawat, tidak dijaga, bisa saja berbuah, tapi buahnya pahit. Maka dzikir itu harus dirawat dengan dijalankan secara istiqamah agar tumbuh dan berbuah dalam kehidupan,” pesan Syekh Akbar.
Ditegaskannya kembali bahwa proses talqin dzikir dari seorang mursyid bukanlah akhir perjalanan pencarian seseorang (menuju Allah), melainkan titik awal dari tanggung jawab ruhani seorang salik . Melalui proses talqin, seseorang dinyatakan sah sebagai murid yang ruhaninya akan dibimbing karena tersambung dalam mata rantai guru-guru mursyid hingga kepada baginda Rasulullah ﷺ , sehingga memiliki arah yang jelas dalam mengamalkan agama Islam.
Pembekalan akhir mursyid di Qini Nasional akan selalu menjadi pengingat bahwa ilmu yang didapatkan serta talqin dzikir yang telah diterima harus dapat terus dijaga, dirawat dan diamalkan secara istiqomah saat di kampung halaman masing-masing agar kehidupannya senantiasa diliputi keberkahan dari Allah, dan suluk bathinnya wusul (sampai) kepada Allah SWT.