Connect with us

Opini

Sejarah Islamisai Di Aceh

Published

on

Berdasarkan data pra-sejarah yang ditemukan di beberapa lokasi di wilayah pantai timur Tamiang, kemungkinan Bumi Aceh sudah di huni oleh ras Australiod sejak sekitar 6.000 tahun silam. Selanjutnya berkembang atau ada kumpulan lain yang menggantikannya, dan juga telah terjadi percampuran antara keduanya yang kemudian melahirkan sebuah suku bangsa baru sebagai cikal bakal masyarakat Aceh. Interpretasi ini tentu saja masih harus dilakukan kajian selanjutnya dalam membuktikan asal-usul masyarakat Aceh secara valid. Dalam peta asal pemukiman dan penyebaran penduduk di wilayah Aceh disebutkan suku Bangsa Aceh, yakni dalam kelompok etnis Melayu. Kedatangan etnis Melayu ke tanah Aceh terjadi dalam dua masa, yaitu Melayu Tua yang datang dari Champa (Indocina) lewat Tanah Genting di Semenanjung Malaysia lebih kurang 3.000 tahun sebelum Masehi. Migrasi gelombang kedua ialah Melayu Muda yang datang dari daerah yang sama yaitu Melayu Tua dalam tahun yang lebih kurang 1.500 tahun sebelum masehi (Peta 3.1).

Menurut Zainuddin (1961) etnik Melayu berasal dari Babylon (Irak) dan India. Secara geografis, territorial Aceh sangat dekat dengan kawasan semenanjung Malaysia dan telah terlibat hubungan perdagangan dengan dunia luar dalam kurun waktu yang cukup lama. Oleh karena itu, ada sekelompok masyarakat Aceh yang berbicara mirip dengan bahasa Nikobar. Bangsa inilah yang disebut dan dikenal dengan sebutan orang Mantir atau Mante di Aceh (Ismuha, 1988;182). Setelah kelompok migrasi yang berasal dari Indocina melintasi Selat Malaka, mereka tinggal di beberapa wilayah Aceh. Kelompok Melayu Tua bermukim di sekitar Indrapuri dan Jantho Aceh Besar, sementara kelompok Melayu Muda bermukim di Langsa dan sekitar Aceh Timur. Kemudian masing-masing kelompok tinggal di berbagai kawasan Aceh dan menjadi asal muasal keturunan Aceh selanjutnya. Kehadiran kelompok pendatang ke Aceh sebagaimana disebutkan diatas, adalah tidak terlepas dari keadaan dunia pada waktu itu dan posisi Aceh yang terletak di Selat Malaka yang merupakan jalur lalu lintas perdagangan internasional yang paling sibuk di Asia Tenggara. Melalui hubungan perdagangan yang dilakukan di Aceh dengan dunia luar, telah terjalin hubungan kebudayaan internasional yang berlangsung di Aceh. Akibatnya adanya perbedaan dan persamaan kebudayaan yang berlangsung di Aceh, sehingga etnis Aceh memiliki kesamaan dengan etnik Melayu lainnya, seperti etnis melayu di Semenanjung Malaysia, Brunei dan juga Patani (Thailand Selatan).

Sebagai salah satu bukti yang menyatakan etnis Aceh berasal dari Champa (Indocina) dapat dilihat melalui pengaruh dan kesamaan antara bahasa Champa dengan bahasa di Aceh, diantaranya dalam pelafalan kata cin (Champa), cicem (Aceh), burung (Melayu), ia (Champa), ie (Aceh), air (Melayu), khim (Champa), khem (Aceh), senyum (Melayu). Kesamaan bahasa secara antroplogi sedikit banyak karena mereka berasal dari nenek moyang yang sama, paling kurang sebagian dari penduduk tersebut berasal dari nenek moyang yang berbahasa sama (Usman, 2003;14). Geografis Aceh sebagai sebuah wilayah yang terletak pada jalur strategis di Selat Malaka. Letak geografis yang merupakan suatu tempat yang menjadi tujuan persinggahn bangsa-bagnsa asing datang mencari rempah-rempah yang banyak dijumpai di sana. Dalam percaturan untuk menguasai Selat Malaka oleh berbagai bangsa, mereka saling berebut pengaruhnya. Ketika kerajaan Funan menguasai jalur lalu lintas perdagangan melalui Genting Kra, sebagain bangsa Champa pindah ke sana dan sebagian lainnya pindah ke Aceh.

H.M. Zainuddin (1961) mengatakan bahwa orang dari suku Batak atau Karee membentuk kaum Lhee Reutoih. Orang asing lainnya seperti Arab, Persia, Turki, Keling (dagang), Melayu Semenanjung, Bugis membentuk kaum Tok Batee Sultan berasal dari kaum Tok Batee. Kaum percampuran dari Hindu dan Batak Karee membentuk group baru menjadi kaum Ja Sandang. Pimpinannya diberi gelar dengan panglima kaum dengan gelar kaum imeum peut. Sedangkan orang Gayo. sebagaimana dikutip Gerini menghubungkannya dengan Dagroian sesuai dengan catatan- catatan Marcopolo. Menurutnya, Dagroian berasal dari kata-kata drang dan gayu, yang berarti orang Gayo. Masyarakat tumbuh dan berkembang dari waktu ke waktu. Perubahan itu bisa saja berpusar dalam masyarakat itu sendiri atau bersumber dari luar lingkungan masyarakat yang bersangkutan. Aceh mempunyai comparative advantage karena menjadi pusaran dunia, transit pertama sebelum merambah atau berlayar ke wilayah Nusantara lainnya.

Menurut P. Wheatley dalam The Golden Kersonese: Studies in the Historical Geograpy of the Malay Peninsula Before A.D 1500, yang paling awal membawa seruan Islam ke Nusantara adalah para saudagar Arab yang sudah membangun jalur perhubungan dagang dengan Nusantara jauh sebelum Islam lahir. Kehadiran saudagar Arab (Ta Shih) di Kerajaan Kalingga pada abad ke-VII yaitu era kekuasaan Ratu Shima yang terkenal keras dalam menjalankan hukum, diberitakan cukup Panjang oleh sumber-sumber China dari Dinasti Tang. S.Q Fatimi dalam Islam Comes to Malaysia, mencatat bahwa pada abad ke-X Masehi terjadi migrasi keluarga-keluarga Persia ke Nusantara (Sunyoto: 2016). Dimana saat itu, umat Muslim yang berpaham ahlusunnah wa al-jama’ah diintimidasi oleh penguasa Bani Muawiyah. Sehingga banyak warga Islam yang melakukan hijrah ke negara atau daerah lain yang keadaan tatanan sosial masyaraktnya lebih kondusif.

Hubungan bisnis para pedagang dari Timur Tengah dengan Nusantara telah terjalin harmoni sejak lama. Karena selat Malaka posisinya sangat strategis dalam jalur perniagaan di Asia Tenggara. Masa itu, sebagian besar pedagang menggunakan transportasi laut sebagai akses ekspedisinya. Sehingga pada masa menunggu angin muson atau musim, sebagian dari para saudagar Arab memanfaatkan kesempataan tersebut untuk mengembangkan ajaran Islam di Aceh. Lalu-lalang para saudagar Arab yang melakukan niaga di bandara Aceh sangat masif, bahkan sampai terjadi pernikahan antara pedagang-pedagang dari dataran Arab dengan masyarakat Aceh. Sehingga tumbuh dan berkembang menjadi pekauman atau kampung-kampung Arab. Sikap masyarakat Aceh yang tealah turun-temurun diwariskan oleh para leluhurnya menyebabkab para saudagar-saudagar dari tanah Arab atau China menjadi merasa nyaman dalam melakukan usaha atau bertempat tinggal di bumi Aceh.

John Crawford menyatakan bahwa Islam hadir dari Arab melalui para pedagang yang melakukan niaganya di Nusantara. Catatan Tiongkok mengabsahkan bahwa orang-orang Arab dan Persia memiliki pusat perniagaan di Canton semenjak tahun 300 Masehi. Adapun fakta tentang berkembangnya Islam di bumi Aceh dimentori oleh para pedagang dari Arab dan Persia diantaranya: 1) Terdapat kampung Arab atau Ta Shih, 2) Persamaan penulisan sekaligus kesusastraan antara Aceh dengan Arab, 3) Kesamaan budaya dan musik, seperti tari Zapin, dan 4) Karya-karya yang menceritakan pengislaman raja setempat oleh Syekh dari Arab, misalnya Hikayat Para Raja Samudra Pasai menerangkan bahwa Raja Maik diislamkan oleh ahli sufi dari Arab, yakni Syekh Ismail.

Marcopolo mewartakan bahwa pada abad ke-VIII, Sumatra terbagi dalam delapan buah kerajaan yang semuanya menyembah berhala, kecuali Kerajaan Perlak yang berpegang teguh pada ajaran Islam. Hal ini karena Perlak selalu didatangi oleh para pedagang-pedagang Saracen (Muslim) yang menjadikan penduduk bandar memeluk undang-undang Muhammad (undang-undang Islam). Awalnya ajaran Islam berkembang di Kerajaan Perlak, dipengaruhi oleh mazhab Syiah yang bertebaran dari Persia atau Bashrah ketika terjadi revolusi Syiah (744-747 Masehi) oleh Abdullah ibnu Muawiyah. Kemudian masa dari kepemimpinan Sultan Alauddin Sayyid Maulana Abbas Shah (888-913 Masehi).

Dengan bereferensi diatas, maka dapat dikerucitkan bahwa Islam sudah masuk ke Indonesia sejak pertengahan abad ke-VII Masehi, salah satu jalur aksesnya yakni selat Malaka di semenanjung bumi Serambi Makkah atau Aceh. Untuk mengelobarasi lebih jauh, penduduk daerah pesisir yang secara ekonomi bergantung pada perdagangan internasional, dalam satu atau lain hal, cenderung menerima ajaran Islam dalam rangka mempertahankan para pedagang Muslim yang sudah berada di Nusantara sejak paling kurang abad ke-VII untuk tetap mengunjungi dan berdagang di pelabuhan-pelabuhan mereka. Dengan masuk Islam, penguasa lokal pada batas tertentu mengadopsi aturan-aturan perdagangan Islam untuk digunakan dalam masyarakat Pelabuhan sehingga pada gilirannya akan menciptakan suasana yang lebih mendukung bagi perdagangan.

Para ahli sejarah seperti Moquette, Snouck Hurgronje, Hamka, Ali Hamsjmy dan lain-lain sepakat bahwa tempat paling awal kedatangan Islam di Indonesia adalah Aceh, yang kemudian berkembang ke seluruh Nusantara dan Asia Tenggara. Namun demikian, dalam menetapkan daerah mana di Aceh yang paling awal menerima Islam masih terdapat beraneka ragam pendapat dari para ahli sejarah. Beberapa ilmuwan sejarah menyebutkan, bahwa Peurulak (Perlak) di Aceh Timur merupakan daerah paling awal dalam menerima ajaran Islam, yaitu pada abad ke-IX Masehi (Hasjymy,1983). Sementara pendapat dari para ahli sejarah lainnya menyebutkan tempat paling awal menerima Islam di Aceh adalah Samudra Pasai di Aceh Utara, yaitu pada Abad ke-XIII Masehi (Jakub, 1973; 2). Oleh karenanya, dalam membicarakan awal Islam di Aceh harus dilihat terlebih dahulu beberapa tempat yang merupakan daerah awalnya Islam pernah disebut dalam beberapa catatan sejarah.

1. Kampung Pande

Kampung Pande yang terletak dalam Kawasan Kota Banda Aceh merupakan salah satu tempat arkeologi Islam yang tergolong tertua di Aceh. Lokasi kampung Pande terhampar diatas bekas kerajaan Hindu Indrapurba yang diduga sebagai bagian dari Negeri Lamuri. Kampung Pande merupakan saah satu kawasan kota Lamuri yang didiami oleh orang-orang pandai para teknokrat termasuk juga para ahli. Dalam perkembangannya kerajaan tersbut pernah mengalami pasang surutnya termasuk menghadapi serangan dari kerajaan-kerajaan lain, seperti China dan Sriwijaya (Hasjmy;1985;55). Menurut Hasjmy, peralihan status kerajaan Indrapurab dari Hindu menjadi Islam dilakukan pada upacara Majelis Peresmian Kerajaan Darussalam oleh Umat Islam  Indrapurba pada hari Jumat bulan Ramadhan 601 H (1205 M). Raja yang pertama diangkat waktu itu adalah Meurah Johan dengan gelar Sultan Alaiddin Johan Syah.

Dalam surat kabar Analisa yang terbit 31 Desember 2008, memuat pernyataan Edmund Edwards McKinon, arkeolog asal Inggris yang sudah 30 tahun mengenal Aceh menyatakan bahwa di Aceh agama Islam sudah wujud sejak 100 tahun sebelum masuk ke Samudra Pasai Aceh Utara. Hal ini diperkuat dengan tulisan yang dimuat di salah surat kabar yang terbit di Perancis pada tahun 1995 yang menyatakan bahwa Raja Sulaiman adalah penguasa Kerajaan Islam di Lamreh (Lamuri) Aceh Besar yang mangkat pada tahun 608 H (1211 M).

2. Peureulak

Kerajaan Peureulak pernah mengalami pasang surut sebagai sebuah kerajaan Islam. Dalam perkembangannya, banyak menghadapi tantangan dari kerajaan-kerajaan lain yang pernah maju pada masa itu. Pada tahun 986 Masehi, Kerajaan Peureulak pernah berperang melawan Kerajaan Sriwijaya. Pernah mengalami puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Makhdum Malik M. Amin Syah (1225-1263 Masehi) dengan ibukotanya adalah Bandar Khalifah yang sangat berperan dalam penyebaran Islam di Asia Tenggara, dalam perkembangannya , Bandar Kahalifah banyak dikunjungi oleh orang asing, seperti Parsi dan Hindia. Selain berdagang, mereka juga datang menyebarkan agama Islam ke negara0negara yang pernah mereka singgahi.

Dalam beberapa catatan dan juga hikayat seperi hikayat Nurul ‘Ala disebutkan bahwa Kerajaan Peureulak memiliki kebudayaan yang tinggi dan juga dalam catatan Marco Polo yang pernah singgah di Perlak dan beberapa kerajaan di Sumatera dalam perjalanan kembali dari China menuju Persia pada tahun 1292 M, menyebutkan salah satu kerajaan yang pernah disinggahinya ialah Kerajaan Ferlec, yang sekarang dikenali sebagai Peureulak atau Perlak (Azra: 1989; 3).

3. Samudera Pasai

Terletak didaerah Aceh Utara, nama Samudera Pasai muncul pada akhir abad ke-XIII M, dan mencapai kejayaannya pada abad ke-XIV. Pada masa kejayaannya Kerajaan Samudera Pasai terletak pada dua sungai besar yaitu Sungai Peusangan dan Sungai Pasai. Letaknya yang strategis di jalur Selat Malaka sebagai jalur pelayaran tersibuk yang menghubungkan dunia timur dengan dunia belahan barat, sehingga selat Malaka ini tidak pernah sepi dilalui oleh pedagang-pedangan asing. Kerajaan Samudra Pasai juga disebutkan pernah menjalin hubungan diplomatik dengan negeri China.

Ketika Samudra Pasai telah tumbuh dan berkembang menjadi negeri penting yang memiliki pengaruh Islam yang kuat dan dikenal oleh banyak negeri lain, seorang pengembara terkenal Ibnu Batutta dalam perjalanan pulang dari Delhi ke China pernah dua kali singgah di Samudra Pasai dalam tahun 1345-1346 M dan diceritakan bahwa situasi negeri dalam sistem pemerintahan Kerajaan Samudra Pasai berlangsung tertib. Jejak peninggalan Kerajaan Samudra Pasai hingg saat ini masih dapat dilihat di daerah Samudera Aceh Utara dengan Bukti-bukti makam dan nisan-nisan yang indah dengan berbagai gaya motif ukiran kaligrafi yang terpahat pada makam dan nisan-nisan tersebut.

Oleh karena itu, proses Islamisasi di Aceh terjadi dikarenakan letak geografis Aceh yang sangat mendukung dan strategis di jalur lalu lintas pelayaran perdagangan Internasional yakni Selat Malaka, yang dilalui oleh berbagai bangsa di dunia, juga karena pengaruh bahasa Melayu Serantu memiliki latar belakang sejarah kebudayaan yang sama.

Penulis: Komarudin

Opini

Urgensi Ruhani terhadap Pencapaian Cahaya Ilahi

Published

on

Inti dari Tasawuf adalah akhlak terpuji sebagaimana tujuan utama Rasulullah saw. diutus ke dunia untuk memperbaiki akhlak manusia menjadi akhlak yang mulia (Akhlakul Karimah). Seorang yang mengamalkan tasawuf secara otomatis menjaga sikap dan tingkah laku agar selaras dengan apa yang diperintahkan Allah Swt.

Mengubah akhlak manusia dalam jangka pendek bisa dilakukan dengan memberian nasihat serta pendidikan-pendidikan secara zahir baik pendidikan agama maupun pendidikan lain yang menekankan kepada moral. Akan tetapi untuk bisa mengubah akhlak manusia jangka panjang secara permanen harus dari dalam, di mana hati manusia disinari dengan Kalimat Allah maka dengan itu pula hati dan seluruh badannya akan bersinar dan tunduk kepada hukum-hukum yang telah ditetapkan Allah Swt.

Nasihat yang keluar dari zahir guru akan ditangkap oleh zahir murid, disimpan dalam akal pikiran dan suatu saat akan hilang ditelan zaman. Sebagaimana kita ketahui bahwa akal pikiran manusia memiliki keterbatasan di mana dalam kondisi tidak sadar atau tidur akal tidak berfungsi sama sekali. Pelajaran yang diterima secara zahir oleh akal ini tidak akan bisa menjawab persoalan-persoalan yang berhubungan dengan gaib, alam kubur apalagi alam akhirat. Bagaimana mungkin manusia bisa menjawab pertanyaan malaikat tentang “Siapa Rabb mu?” sementara akal sudah hilang bersama hancurnya jasad bersama tanah.

Maka diperlukan guru yang bisa mentransfer ilmu dari ruhani kepada ruhani murid, sehingga ruhani murid memahami agama secara zahir dan batin. Di sinilah letak pentingnya ilmu Tasawuf/Tarekat lewat metodologi zikir yang diajarkan Rasulullah saw. kepada para sahabat, kepada genarasi setelah sahabat hingga sampai kepada kita hari ini. Mengajarkan ruhani harus dengan ruhani sebagaimana mengarjakan yang zahir harus dengan zahir, ini hukum yang berlaku di alam dan sangat ilmiah.

Pada hakikatnya guru Mursyid yang berfungsi sebagai pembimbing para murid tidak mengajarkan dengan akal pikirannya saja akan tetapi ruhaninya tersambung kepada Arwahul Muqaddasah Rasulullah saw., bersambung kepada Nur Muhammad, Nur itulah yang mengajarkan sekalian ummat tentang hakikat agama sehingga segala kegelapan menjadi terang benderang.

Nabi Muhammad saw. junjungan kita bukan hanya mendapat pengajaran zahir, akan tetapi Jibril as. mentransfer pengetahuan murni dari sisi Allah langsung kepada Qalbu Nabi sehingga dengan itu pula ia memahami segala sesuatu yang tidak dipahami manusia biasa.

Proses transfer pengetahuan dari Allah Swt. kepada Nabi Adam as. di surga sebagaimana yang digambarkan dalam al-Qur’an juga bukan sekedar transfer zahir tapi transfer ruhani, sehingga Adam yang berasal dari tanah naik derajat menjadi Khalifah dan seluruh malaikat diperintahkan sujud kepada Adam. Proses transfer ini kita kenal dengan kalimat “Telah Ku tiupkan sebagian Ruh-Ku”.

Siapapun manusia tanpa kecuali memiliki kewajiban untuk menuntut ilmu, mencari guru yang bisa menuntun dan membimbing dia agar bisa sampai dengan selamat kehadirat Allah Swt. Kesempatan yang diberikan Allah kepada kita hidup di dunia ini bukan untuk menumpuk harta, bukan untuk mengejar pangkat dan jabatan tetapi mencari dan menemukan jalan untuk bisa kembali kehadirat-Nya.

Tasawuf dengan metodologi Tarekat adalah warisan para nabi yang tidak lain adalah agar manusia bisa mengamalkan syariat Islam dengan benar, sesuai dengan sunnah Nabi, sesuai dengan kehendak Allah bukan mengikuti akal pikiran dan hawa nafsu manusia yang lebih banyak salah dari benarnya.

Tasawuf adalah proses secara perlahan masuknya cahaya Allah kedalam hati yang telah bersih dengan zikrullah, hati yang bersih inilah yang bisa menerima pancaran cahaya Ilahi. Ketika cahaya Ilahi masuk ke dalam hati manusia maka segala kegelapan yang menutup hati dan jiwa akan hilang dan ruhani manusia akan senantiasa berdampingan dengan Allah Swt.

Sangat penting bagi kita semua tanpa terkecuali untuk mengambil warisan berharga Islam ini yang sangat ditakuti oleh musuh-musuh di luar sana yang setiap saat menghembuskan keraguan dan adu domba dari dari dalam agar ummat jauh dari tasawuf, jauh dari api Islam. Ketika api itu dibuang maka hilanglah gairah dalam beragama dan beragama hanya bersifat rutinitas keseharian semata.

Semoga tulisan singkat ini memberikan semangat kepada kita semua untuk terus belajar menyempurnakan diri sebelum dipanggil kembali oleh Allah Swt. dan kembali dalam kondisi jiwa yang tenang, kembali lewat jalan yang telah kita lewati berulang kali semasa hidup di dunia….

Penulis: Tgk Selamet Ibnu Ahmad (Mudir Idaroh JATMAN Syu’biyyah Bener Meriah)
Editor: Khoirum Millatin

Continue Reading

Artikel

Mimpi Menurut Kaum Sufi dan Barat

Published

on

By

Ilustrasi Mimpi

Mimpi menjadi perdebatan antara Barat dan Timur. Bagi Barat–mengikuti teori psikologi–mimpi merupakan pengalaman psikologis yang menunjukkan bagaimana otak manusia tidak terhubung dengan lingkungan sekitarnya dapat mengalami kondisi dunia sadar dengan sendirinya (Nir & Tononi, 2009).

Bagi golongan Timur, mimpi bukan hanya bunga tidur setiap manusia saja, namun lebih dari itu mereka membagi dua istilah mimpi yaitu ahlam dan ru’ya. Kata ahlâm adalah jamak dari hulm yang berasal dari kata halama, yahlumu, hulm. Kata ini dalam al-Qur‟an selalu dikaitkan dengan kata adghâth (jamak dari daghth) untuk menunjukkan arti kecemasan-kecemasan ilusif, ketercampuran yang membingungkan, dan membutuhkan kejelasan apa yang dilihat dan kuatnya gambaran yang hadir. Dengan kata lain bahwa mimpi jenis ini selalu menunjukkan mimpi campur aduk yang tidak jelas maknanya dan untuk menunjukkan kekacauan, atau bermakna mimpi buruk seperti nightmare dalam bahasa Inggris. Mimpi ini selalu dikaitkan dan disandarkan kepada setan. Hal ini berdasarkan penjelasan nabi dalam salah satu hadisnya (Ibn Manzur, Vol.14: 297).

Sedangkan kata al-ru’yâ berasal dari akar kata ra’â, yarâ, ra’y atau ru’yah yang berarti melihat (al-Hâfiz Ibn Hajar al-Asqalânî, al-Ru’yâ wa al-Ahlâm fi Daw’ al-Kitâb wa al-Sunnah, 1997: 5). Kata-kata tersebut, walaupun berasal dari akar kata yang sama namun menghasilkan variasi retoris karena perbedaan konteks-konteks penandaannya. Al-ru’yah dipergunakan untuk penglihatan indrawi dalam keadaan sadar, dalam bahasa Ibn Hajar al-‘Asqalânî disebut al-khawâtir (Aisyah Abdurrahman, 1997: 190). Sedangkan al-ru’yâ adalah melihat dalam keadaan tertidur, dan al-ra’yu menunjukkan pemikiran dan simbol-simbol (Abû Hâmid al-Ghazâlî, al-Madnûn Bihî ‘alâ Ghayr Ahlihî: 337).

Antropolog Ellen Basso mendeskripsikan mimpi rakyat lebih cenderung “Progresif” sedangkan mimpi Barat bersifat “Regresif” yang menggunakan mimpi sebagai jendela untuk melihat keinginan dan konflik yang ditekan.

Sedangkan Sigmund Freud merangkum sebuah mimpi dalam bab pertama yang cukup panjang dari karya masterpiece-nya The Interpretation of Dreams. Ia menekankan perbedaan antara pendekatannya sendiri terhadap mimpi, sebagai pengungkapan konflik individu yang belum terselesaikan, dan mimpi perspektif kenabian, bahkan ketika ia memihak teori mimpi tradisional dengan mengakui bahwa mimpi memiliki makna yang harus ditafsirkan. Penekanan pada makna ini berbeda dengan pendekatan koleganya yang lebih berpikiran mimpi ke berbagai penyebab somatik seperti gagasan bahwa gambar mimpi hanyalah pelepasan listrik acak dari otak (Freud: 1953).

Bagi kalangan sufi mimpi bisa diartikan suatu kebenaran bukan hal yang ‘mengada-ada’, begitu pula yang terjadi pada mursyid tarekat yang diakui mimpinya seringkali dianggap benar oleh muridnya. Tradisi mimpi kenabian yang dialami wali atau mursyid ini seringkali didengungkan kalangan pesantren. Hal ini menjadi semangat dan motivasi para santri dan murid untuk bisa merasakan seperti apa yang terjadi oleh gurunya, yakni mimpi bertemu nabi Muhammad Saw.

Dalam tradisi ketarekatan mimpi bertemu nabi merupakan hal yang dianggap wajar dan bukan rekayasa. Begitu juga ditekankan dalam hadis, Nabi bersabda: “Barangsiapa yang melihatku dalam mimpi, maka itu benar aku karena setan tidak mungkin menyerupaiku.” (HR. Tirmidzi). Dalil ini menjadi pegangan umat Islam bahwa mimpi bertemu nabi merupakan fenomena nyata.

Dalam konsep mimpi di kalangan sufi dikenal juga dengan kata Al-Ru’yâ, mimpi yang benar, membawa pesan penting berupa kabar baik dari Allah Swt sehingga memotivasi seseorang untuk melakukan perbuatan baik, atau memberinya petunjuk, atau bahkan membawa pesan yang merupakan peringatan dari-Nya yang berkenaan dengan dosa kita sehingga kita akan lebih berhati-hati dan berusaha menjauhi perbuatan maksiat. Mimpi ini sangat jelas dan tidak mudah kita lupakan. Imam Al-Ghazâlî mengatakan bahwa orang yang tidak mengerti dan tidak mengetahui hakikat mimpi ini, dia tidak akan tahu hakikat-hakikat yang tersembunyi dalam mimpi tersebut, seperti hakikat bermimpi para rasul serta hakikat bermimpi bertemu Allah.

Baik al-hulm maupun al-ru’yâ sering terjadi dalam kondisi tidur. Filosof Muslim Al-Kindî mengatakan bahwa tidur adalah pengambil alihan jiwa atas seluruh alat inderawi. Keadaan tidur dapat dicapai saat manusia tidak menggunakan indera eksternalnya walaupun pada saat itu ia berada dalam proses berpikir yang mendalam, karena jiwa pada dasarnya tidak pernah tidur, bahkan ia selalu tahu dan sadar (Muhammad Utsman Najati, 2002: 31).

Ibn Arabî menjelaskan bahwa tidur ada dua jenis. Yang pertama adalah tidur biasa di mana seseorang dapat memenuhi hasratnya, dan untuk menghilangkan kepenatan tubuh. Itulah tidur yang dimaksudkan di dalam firman Tuhan, bahwa tidur adalah mengistirahatkan setiap bagian tubuh dan menghilangkan kepenatan, dan merupakan saudaranya kematian. Yang kedua adalah tidur transferal (intiqâl), yaitu tidur yang biasanya terdapat mimpi-mimpi. Jiwa tertransferasikan dari yang kasat mata menuju yang gaib, sehingga mampu melihat apa yang terdapat di dalam perbendaharaan imajinasi (khizânat al-khayâl), di mana perasaan mampu mengangkat objek-objek indrawi, dan yang memperoleh bentuk dari Sang Pemberi Bentuk, sebagai bagian dari perbendaharaan (Ibn Arabi, Futuhat Al-Makkiyah: 378).

Dengan demikian, mimpi bagi golongan Timur, kaum sufi dan tarekat sangat berbeda dengan apa yang digambarkan oleh golongan barat. Mimpi bagi kaum sufi merupakan suatu peristiwa kebenaran yang dialami. Boleh jadi juga mimpi sebagai isyarat dari Allah Swt dan atau mimpi bertemu dengan Rasulullah Saw sebagai petunjuk untuk mendakwahkan nilai-nilai luhur kepada para murid-murid. Wallahua’lam


[1] Istilah Mursyid seringkali dinisbatkan pada organisasi tarekat yang memiliki arti guru, yaitu guru yang mengajarkan tentang suatu ajaran tarekat, dan membimbing murid untuk bisa berada sedekat mungkin dengan Tuhan petunjuk sekaligus memberikan contoh bagaimana ibadah yang benar secara syari’at dan hakikat. Lihat, Cecep Alba. Cahaya Tasawuf. (Bandung : CV. Wahana Karya Grafika. 2009. h. 145).

Penulis: Warto’i (Pemred JATMAN Online)

Continue Reading

Opini

Pengaruh Suluk terhadap Akhlak dengan Bimbingan Syekh Kamil Mukammil

Published

on

Tidak ada seorangpun manusia yang tidak melakukan kesalahan dan dosa. Untuk itu, siapapun yang menghendaki kehidupan yang baik selama dunia maupun di akhirat, maka ia harus ruju’ atau kembali dan bertaubat kepada Allah Swt. dari semua kesalahan tersebut, baik dosa zahir maupun dosa batin,

Allah Swt. berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ التَّوَّابِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ

“Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri. (Al-Baqarah: 222)

Salah satu cara kembali kepada Allah adalah melalui suluk. Suluk adalah berjalan menuju Allah Swt. dengan mengharapkan kasih sayang-Nya.

Dalam suluk murid dianjurkan untuk tidak banyak berbicara, bahkan dibatasi jumlah perkataannya.

Selain itu murid hanya boleh bertanya untuk hal yang sangat penting, tidak mendengar hal-hal yang tidak bermanfaat, mengurangi tidur dan mengurangi makan serta memperbanyak zikir siang dan malam.

Dengan mengurangi banyak bicara, maka qalb akan semakin ‘hidup’ dan terkoneksi dengan Allah Swt. siang dan malam. Hasilnya, akan semakin mudah bagi kita berkomunikasi dengan Allah Swt. lewat zikir yang intensif.

Suluk merupakan sekolah ruhani yang resmi dari Allah Swt. untuk manusia dengan begitu sempurnanya, atas hasil riset dari para Nabi dan kemudian disempurnakan oleh para Wali, mengikuti perkembangan zaman dan sesuai dengan kebutuhan manusia di zamannya. Lewat suluk ruhani murid dinaikkan secara bertahap dari satu maqam ke maqam berikutnya sampai mencapai tahap makrifat yang sempurna, yaitu memandang Wajah Allah Swt. Yang Maha Agung dan Maha Sempurna.

Siapa yang bisa menuntun ruhani murid demikian sempurnanya? Ia adalah Mursyid yang Kamil Mukammil yang dalam dirinya telah bersemayam Arwahul Muqaddasah Rasulullah saw. yang bisa mensucikan seluruh ruhani orang-orang yang bersama dengannya.

Suluk juga melatih murid untuk disiplin dalam ibadah dan menumbuhkan rasa persaudaraan di antara pelaku suluk. Keakuan dan kesombongan secara perlahan akan memudar karena semua diperlakukan dengan sama tanpa memandang status sosial dan pangkat duniawi yang disandangnya. Suluk adalah sarana paling ampuh untuk membina ukuwah Islamiah, mencintai saudara seperti mencintai diri sendiri seperti yang disampaikan Nabi Muhammad saw. dalam hadistnya,

Maka, jika seorang hamba telah jenuh dengan rutinitas dunia dan segudang masalah yang tersimpan di memori otak sulit terhapus serta gairah hidup semakin menurun, maka suluk adalah solusi yang tepat untuk men-charger kembali energi hidup, sehingga setelah keluar dari suluk, akan menjadi pribadi yang benar-benar baru, penuh semangat serta dapat menelusuri kehidupan dunia dengan tanpa keraguan.

Suluk pada intinya adalah memperbaiki akhlak dan tingkah laku, memperkuat keyakinan akan kesadaran keberadaan Tuhan, kehendak Tuhan dan juga kehendak jiwa serta menyadari kedudukan hamba. Suluk tidak akan terlepas dari proses mensucikan jiwa yang bersinggasana dalam hati seseorang.

Penulis: Tgk Selamet Ibnu Ahmad (Pembantu Majelis Pengkajian Tauhid Tasawuf Indonesia MPTT-I Kec. Wih Pesam, Bener Meriah, Pimpinan Iqadzhul Ummah Alwaliyah)
Editor: Khoirum Millatin

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending