Keterkaitan Sanad, Mursyid, Wushul dan Makrifat

September 20, 2023 - 00:08
 0
Keterkaitan Sanad, Mursyid, Wushul dan Makrifat

Makrifat adalah nampaknya batin kita pada rahasia ketuhanan serta ditampakkannya oleh Allah Swt. mengenai ilmu tentang keteraturan persoalan wujud yang meliputi segala wujud. Adapun makrifat itu terjadi di Hati. Sayyidina Ali bin Abi Thalib Ra, berkata:

عرفت ربي بعين قلبي لا شك انت انت

Dalam keterangan ini, Sayyidina Ali Ra. menyaksikan Allah Swt. dengan mata batin dan tidak ada keraguan di dalamnya.  Sayyidina Ali Ra. juga memberitahu bahwa yang bisa mencapai makrifat hanyalah hati, maka mata hati disebut juga dengan Sirr, atau ‘ainul bashirah.

Sirr (سر) dalam bahasa Al Quran disebut juga lub (لب)  sehingga orang yang mata hatinya sudah terbuka dan kasyaf disebut juga “اولو الألباب”. Orang yang demikian itu memiliki dua kemampuan, yaitu:

– Ia yang dalam posisi apapun, baik berdiri, duduk bahkan berbaring, hanya Allah Swt. yang ia ingat di hatinya

– Ia yang ahli dalam berargumen, sehingga tidak mungkin Allah Swt. mengutus seorang wali yang memiliki keterbatasan berfikir di antara manusia-manusia lain

Untuk melatih diri menuju maqam makrifat, murid harus memiliki mursyid yang sudah wushul dan sanadnya sudah tersambung pada Rasulullah Saw. Syeikh Abdul Qadir al Jilani dalam kitab Sirrul Asrar mengatakan bahwa manusia itu terhijab dan untuk membuka hijab itu membaca laa ilaaha illallah yang ditalqinkan orang yang sambung sanadnya ke Rasulullah Saw.

Pada suatu ketika, Imam Hanafi mengajak muridnya pergi ke suatu tempat. Namun keduanya dihadapkan oleh sungai besar. Karena tidak ada alat untuk menyebrang, Imam Hanafi mengajak muridnya untuk berjalan di atas air. Ia berkata, “Nanti jika engkau menyebrangi sungai ini, maka ucapkanlah, “يا شيخي حنفي”. Sedangkan pada saat itu, Imam Hanafi hanya berucap, Bismillahirrahmanirrahim. Lalu keduanya berjalan di atas air selayaknya berjalan di atas kaca. Sesampainya di tengah penyebrangan sang murid berfikir, “Mengapa aku membaca kalimat tersebut? Bukankah dalam hadis disebutkan setiap perkara itu harus dimulai dengan bismillah?” Kemudian ia mengubah bacaannya dengan bismillah. Seketika ia tercebur ke dalam air dan ditolong oleh Imam Hanafi. Kemudian sang wali bertanya, “Bacaan apa yang engkau ubah? Kembalilah pada bacaan sebelumnya.” Dan keduanya kembali berjalan sebagaimana perjalanan semula.

Setelah mereka berdua sampai di tepi sungai, sang murid bertanya, “Mengapa ketika aku membaca bismillah, justru aku tenggelam? Tetapi mengapa ketika menyebut namamu justru aku tidak tenggelam? Dan mengapa engkau menyebut bismillah tetapi tidak tenggelam?” Imam Hanafi menjawab, “Sesungguhnya aku sudah mengenal Allah. Sehingga ketika aku menyebut nama-Nya, maka semua ditundukkan kepadaku. Sedangkan engkau tidak mengenal Allah dan hanya mengenalku.”

Dalam kisah di atas jelas diterangkan bahwa seorang murid tidak akan bisa wushul tanpa mursyid yang sudah wushul. Maka ketika seseorang ingin membaiat dirinya kepada suatu thariqah, sesunggunya ia telah menyambungkan sanad sampai pada Rasulullah Saw. Karena ia yang telah diangkat sebagai mursyid sejatinya karena telah mendapat restu dari Rasulullah Saw.

Selain pentingnya keberadaan mursyid, untuk mencapai wushul ila ma’rifatillah diperlukan juga adab yang baik. Puncaknya adalah ketika syariat sudah baik, untuk masuk ke dalam hakikat, syaratnya adalah syariat dan adab. Tanpa keduanya, wushul tidak akan pernah terjadi. Sehingga setelah murid sampai pada makrifatillah, ia akan ditampakkan diantara dua hal sebagaimana yang dijelaskan oleh Syeikh Abdul Qadir al Jilani:

– Ditampakkannya Jalalullah. Jika yang dibuka adalah Jalalullah (Keperkasaan Allah) maka efek batinnya orang itu akan merasa kecil, merasa hina, seolah-olah dalam perasaan batinnya, ia digenggam dan dicengkeram oleh kekuasaan Allah Swt. (Qabdh). Akibatnya, ia akan menangis terus-menerus. Karena itu Sayyid Abdullah al Haddad mengatakan bahwa jangan mengambil guru orang yang tidak pernah menangis.

– Ditampakkannya Jamalullah. Jika yang dibuka adalah jamalullah (Keindahan Allah), maka efek batinnya orang itu akan selalu bahagia. Ia akan ditunjukkan dengan maqamnya, dipertemukan dengan rasulullah, batinnya seperti lapangan yang begitu luas (basth). Akibatnya, ia akan banyak tersenyum dan tertawa. Karena itu Imam Quthb Abu Hasan al Sadzili mengatakan bahwa jangan mengambil guru yang tidak pernah tersenyum.

Sehingga, murid yang diangkat menjadi waliyullah itu terbagi menjadi dua, yaitu yang senang menangis dan yang senang tertawa. Tergantung bagaimana hijab yang dibuka oleh Allah Swt. Dan yang paling penting sebelum mencapai maqam tersebut adalah bagaimana kesiapan batin kita sebagaimana yang telah dijelaskan Imam Ghazali bahwa syaratnya makrifat itu tiga, yaitu suci, batin yang kuat dan serius menghadap Allah Swt.  

Wallahu a’lam bis shawwab