Habib Luthfi Jelaskan Tasawuf Dapat Bersihkan Hati untuk Mengenal Allah

September 28, 2023
Habib Luthfi Jelaskan Tasawuf Dapat Bersihkan Hati untuk Mengenal Allah

Pekalongan, JATMAN Online – Rais ‘Aam Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh Al-Mu’tabaroh an-Nahdliyyah (JATMAN) Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya menyampaikan tasawuf sudah ada pada zaman Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wassalam. Tasawuf dapat membersihkan hati untuk mengenal Allah Taala.

“Tasawuf sudah ada pada zaman Baginda Rasulullah, tidak mengambil dari salah satu yang lain. Tasawuf adalah untuk membersihkan hati dari segala bentuk kotoran yang menghalangi kita untuk kenal Allah Taala,” kata Habib Luthfi

Hal tersebut disampaikan Maulana Habib Luthfi bin Yahya di Rutinan Kliwon Kanzus Shalawat Pekalongan, Majelis Dzikir, Ta’lim, dan Shalawat, Jumat Kliwon, (30/12).

Habib Luthfi mengungkapkan bahwa tasawuf bagi orang awam adalah bagaimana menjalankan syariat atau perintah Allah Taala dalam maqamatil ubudiyah secara sungguh-sungguh. Dari hal itu kemudian menumbuhkan kesadaran sebagai makhluk yang selalu butuh bimbingan dari-Nya.

“Contohnya seperti saat kita makan. Banyak yang hafal doa makan ataupun setelah makan. Tapi lain dari pada itu pernahkah kita menyadari ketika mengunyah, lidah kita merasakan manis, asin, itu siapa yang memberi fungsi kalau tidak Allah Taala,” paparnya.

Dari lidah atau lisan itu, lanjut Habib Luthfi, bisa keluar istilah-istilah, kosa kata dan bahasa yang berbeda-beda namun tetap memahamkan. Misalnya saja dalam istilah jawa ada batuk dan bathuk.

“Itu pengucapannya hampir sama, tapi yang satu bermakna penyakit yang satunya bermakna jidat. Itu pun siapa yang memberi pemahaman kalau bukan Allah Taala,” kata Anggota Pertimbangan Presiden (Wantimpres RI) ini.

“Kemudian pula, lidah atau lisan itu ada yang bisa diajak dzikir ada juga yang awam berdzikir. Maksudnya, ketika kita diberi lisan itu mampu tidak menemukan yang menciptakan lisan?” imbuhnya.

Ketua Forusm Sufi Dunia ini menjelaskan kalau mampu, pasti malu kepada yang menciptakan lisan maka akan dibuat untuk berkata yang baik. Bukan asal mengucap kata-kata yang memecah belah dengan hoaks misalnya. Bukan pula asal mengeluarkan ujaran yang menyakiti orang lain sehingga timbul rasa benci.

“Maka, bisa tidak kita mengajak lisan kita menemukan yang menciptakan lisan? Jadi, lisan kita bisa kita ajak membaca dzikir. subhanallah, lailahaillallah, shalawat dan sebagainya,” jelasnya

“Sudah sejauh mana syukur kita kepada Allah Taala, ini ilmu tasawuf. Apalagi kalau kita makan bisa menemukan yang membuat kenyang itu siapa?, hati-hati makan itu bisa menyebabkan syirik, kalau tidak makan mati. Seolah-olah nasi itu memberi hidup dan mati,” imbuhnya.

“Jadi ikhtiar itu hanya sarana tapi tidak memastikan, yang mempunyai memastikan hanya Allah Taala. Kita makan itu hanya mencari kenyang. Tapi kenal tidak kepada yang memberi kenyang, kalo iya makan akan bersyukur terus,” tambahnya.

Habib Luthfi menyampaikan, demikian itulah perlunya tasawuf. Yaitu supaya bisa mendidik kita agar taat kepada Allah Taala. Supaya juga kita bisa kenal kepada yang menciptakan kita. Kalau sudah kenal, tentunya akan malu untuk melakukan maksiat ataupun dosa.