Biografi Teungku Peulumat menampaki Makam Waliyullah Aceh

Februari 16, 2024
Biografi Teungku Peulumat menampaki Makam Waliyullah Aceh

BIOGRAFI TENGKU PEULUMAT MENAMPAKI MAKAM WALIYULLAH ACEH

Teungku Peulumat dengan nama aslinya Teungku Syeh Abdul Karim, Lahir pada tanggal 8 Agustus 1873 di Kota Baru Sungai Tarap Batu Sangkar Minangkabau Sumatra Barat, sejak kecil sampai dewasa Teungku Peulumat berada di kampungnya, setelah dewasa merantau ke Aceh dan menetap di Peulumat Labuhan Haji Timur Kabupaten Aceh Selatan, dia kawin dan berumah tangga di Peulumat. Di Peulumat beliau belajar dan memperdalam ilmu agama di pondok pesantren Darussalam Labuhan Haji yang kemudian pesantren ini dipimpin oleh keponakan dia yang bernama Syekh Haji Abuya Muhammad Muda Wali Al Khalidy Bin Muhammad Salim bin Tuangku Malim Palito. 

Kisah keramat Teungku Peulumat, dan Makam terletak di desa Beutong Peulumat Kecamatan Labuhan Haji Timur, suatu hari Syeh Muda Waly datang kerumah “ Tuanku Peulumat “ untuk bertanya masalah hukum rokok dan memang Abuya bukan sorang perokok. Sampai di rumah Tuanku Peulumat, Abuya dipersilahkan masuk. Lalu Abuya dijamu oleh Tuangku Peulumat. Abuya belum bertanya masalah rokok, hanya saja Abuya mau buka kitab yang dibawanya. ketika mau dibuka kitabnya, tiba-tiba Tuangku Peulumat berkata kepada Abuya, “Sebentar Tengku Muda, jangan buka kitab dulu, karena saya mau bakar rokok dulu”. setelah

Abuya mendengar ucapan dan melihat Teungku Peulumat membakar rokoknya, langsung Abuya berkata “Baiklah Teungku, saya izin pulang kalau begitu”.

Abuya belum bertanya, hanya mau buka kitab dulu, namun Teungku Peulumat sudah tau isi hati Abuya. Teungku Peulumat Masyhur sebagai Aulia Allah pada masanya di Aceh Selatan. dia adalah saudara Abuya dari pihak ayah Abuya yaitu Syeh Muhammad Salim. Teungku Peulumat ahli Syariat, Thariqat dan Hakikat. Ia seorang Waliyullah. Ia hidup dengan ajaran sufi yaitu kaum yang hidup wara’ dan qana’ah yang tidak cinta dunia. Kesucian dan kebeningan jiwa Tengku Peulumat beliau menjadi auliya Allah. Banyak hal-hal di luar logika terjadi pada diri Tengku Peulumat seperti : ia bisa menghilang dengan sekilas mata.

Teungku Peulumat pernah membawa pulang anaknya yang berada di Padang Sumatra Barat dalam waktu singkat, kisahnya ketika Teungku Peulumat melihat istrinya sedang sedih dan menanggis karena rindu dengan anaknya yang merantau ke Padang, lalu Teungku Pelumat berkata jangan sedih dan ia langsung masuk ke kamarnya tidak berapa lama dia masuk ke kamarnya, tiba – tiba ada yang mengetok pintu, Tengku Peulumat berkata pada istrinya bukalah pintunya, katika dibuka ternyata anaknya yang merantau ke Padang sudah ada di depan rumahnya. Dikabarkan bahwa ia langsung menyemput anaknya dipadang dan membawa pulang ke Aceh Selatan dalam sekejap mata memandang.

Tengku Peulumat belajara agama dengan sungguh-sungguh dan memperdalam ilmu agama di pondok Pesantren Darussalam Labuhan Haji yang dikenal sampai saat ini, dan murid nya pun tidak pernah kosong, banyak generasi yang kesana untuk menuntut ilmu agama, karena mereka tau itu tempat belajarnya para ulama-ulama besar. Kemudian pesantren ini dipimpin oleh keponakan beliau. yang bernama Syekh Muda Waly Al Khalidy. Ia belajar syariat, hakikat dan makrifat serta belajar kitab kuning bermazhab syafii yang dikatakan mereka serta belajar kitab lainnya. karena Teungku Peulumat sangat menggandrungi ilmu tasawuf, ia hidup dengan ajaran sufi yaitu kaum yang hidup warak dan khana’ah yang tidak cinta dunia. Hidup mereka hanya untuk akhirat dan tidak lebih. Pendidikan Teungku Peulumat dia selaku da’i guru dan ulama menyebarkan nilai-nilai agama Islam. Dia mendapatkan gelar kehormatan Syekh yang biasa di pakai di awal namanya. Adapun sanad tarekat beliau adalah tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah yang mayoritas tarekat tersebar di Sumatra Barat.

Kiprah Teungku Peulumat dalam masyarakat kemukiman Peulumat tidak begitu besar, namun selama hidupnya Teungku Peulumat diakui oleh masyarakat setempat sebagai seorang wali atau Aulia Allah. Banyak hal-hal yang diluar logika terjadi pada diri Teungku Peulumat seperti: ia bisa menghilang dan berjalan di atas air dan shalat Jumat ke Masjidil Haram dalam waktu singkat dan bisa kembali ke Peulumat. Sebagaimana cerita yang sudah populer di masyarakat Aceh Selatan bahwa pada suatu hari. Teungku Peulumat pergi ke pasar ikan membeli ikan, dalam perjalanan pulang tiba-tiba ia ditegur seorang anak yatim, karena mendapat teguran itu, lantas ikan itu diberikannya kepada anak yatim tersebut.

Hal itu sempat dilihat oleh istrin beliau,istri Teungku Peulumat bertanya kepada Teungku Peulumat, kenapa ikan itu berikan kepada anak yatim, sedangkan kita dalam keadaan alfakir / miskin, dengan tenang Tengku Peulumat mengatakan bahwa ganti ikan itu sudah ada tergantung di dekat tungku dapur, tiba – tiba istrinya datang ke dapur dan melihat ikan itu utuh, seekor ikan laut sebesar batis yang masih segar dan masih hidup, seperti mana yang dikatakan Teungku Peulumat.

Pada tahun 1938 sampai 1943 M Teungku Peulumat sering datang ke masjid Tuo Kampung Padang terletak di gampong Padang Tapaktuan Aceh Selatan yang didirikan pada tanggal 10 Agustus 1118 M oleh syeh Al – Jazirazi Farsyiah bin Ibni Manshur Untuk melaksanakan sholad dzuhur dan ashar bahkan dikatakan juga Teungku Peulumat keramat ini sering tidur siang menunggu waktu sholad asar. Kemudian pada hari yang lain, saat Sholad ashar tiba-tiba Teungku Peulumat, sudah ada didepan perkarangan masjid Tuo dalam keadaan basah kehujanan. Salah seorang jamaah bertanya kepadanya : “ bagaimana Teungku sholad basah seperti itu?” lantas aulia Allah ini membuka bajunya lalu dikibaskannya beberapa kali sehingga semua pakaian yang lagi basah di tubuhnya itu kering seperti baru di angkat dari jemuran.

Teungku Peulumat Meninggal Pada Tanggal 22 Sya’ban 1364 H Tahun (1943). Makam yang nama aslinya Teuku Syeh Abdul Karim terletak di Desa Beutong Kecamatan Labuhan Haji Timur tepatnya di atas Perbukitan di Desa Beutong. Makam Teungku Peulumat sampai sekarang masih ramai di ziarahi Masyarakat.

Penulis : Budi Handoyo, SH.,MH Anggota Penguruh Rumah Moderasi Beragama [RMB] STAIN Teungku-Dirundeng Meulaboh