Kisah Yahya bin Mu’adz Ar-Razi, Sufi Iran Mimpi Bertemu Rasulullah Saw

Salah satu impian terbesar seorang mukmin adalah dapat bertemu Nabi Muhammad Saw dalam mimpinya, seorang Sufi yang berasal dari negeri Persia yang saat ini adalah Iran. Mendapatkan anugerah luar biasa yakni mimpi bertemu dengan Rasulullah Saw.
Terdapat hadis yang diriwayatkan oleh Muslim dan At Tirmidzi sebagai berikut:
-حَدَّثَنَا أَبُو الرَّبِيعِ سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ الْعَتَكِىُّ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ – يَعْنِى ابْنَ زَيْدٍ – حَدَّثَنَا أَيُّوبُ وَهِشَامٌ عَنْ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ رَآنِى فِى الْمَنَامِ فَقَدْ رَآنِى فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لاَ يَتَمَثَّلُ بِى ». رواه مسلم و الترمذي و ابن ماجه. وفى رواية الدارمي : (لا يتمثل مثلي)
Diriwayatkan dari Abu Rabi’ Sulaiman bin Daud Al Ataki dari Hamad yakni Ibnu Zaid diriwayatkan Ayyub dan Hisyam dari Muhammad dari Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, Artinya; “Barangsiapa yang melihatku dalam mimpi, maka ia akan melihatku dalam keadaan sadar karena setan tidak bisa menyerupai diriku (Nabi),” (HR. Muslim dan At-Tirmidzi).
Dan juga berdasarkan hadis riwayat al-Bukhari dari Abu Hurairah:
من رآني في المنام فسيراني في اليقظة ولا يتمثل الشيطان بي
“Siapa yang melihatku saat mimpi, maka ia akan melihatku dalam keadaan sadar. Dan setan tidak dapat menyerupai diriku.”
Yahya bin Mu’adz ar-Razi, lahir tahun 830 Masehi, di Rayy, Iran. Sebuah kota tua yang masuk bagian dari Provinsi Teheran. Abu Zakariya Yahya bin Mu’adz, saat usia remaja meninggalkan Rayy berkelana ke Balkh, Afghanistan. Sampai saatnya dia balik ke negerinya, tapi tidak kembali ke Rayy, dia memilih menetap di Nishapur, Iran. Sampai dia meninggal di sana pada tahun 871 Masehi. Meninggal dalam usia yang relatif muda, 41 tahun.
Yahya bin Mu’adz meminjam uang sebesar seratus ribu dirham kepada seseorang. Kemudian membagi-bagikannya kepada orang-orang yang berperang di jalan Allah. Orang-orang yang berangkat ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji, orang-orang miskin, yang menuntut ilmu dan juga kepada para sufi. Tidak lama kemudian, orang-orang yang meminjamkan uang tersebut menagihnya sehingga Yahya bin Mu’adz menjadi sangat gundah.
Suatu malam ia bermimpi. Dalam mimpi itu Nabi Muhammad saw berkata kepadanya, “Yahya, janganlah engkau berduka cita, karena aku pun turut bersedih menyaksikan kegundahanmu itu. Bangunlah dan pergilah menuju Khurasan. Engkau akan menjumpai seorang perempuan yang telah menyisihkan tiga ratus ribu dirham untuk melunaskan utang-utangmu yang sebanyak seratu ribu dirham itu.”
“Ya Rasulullah,” seru Yahya bin Mu’adz. Di kota manakah dan siapakah perempuan itu?”
“Berjalanlah dari satu kota ke kota lain dan berkhotbahlah,” jawab Nabi. “Kata-kata-mu akan mendatangkan kesembuhan jiwa bagi ummat manusia. Seperti halnya aku menemuimu di dalam mimpi, maka akupun hendak menemui perempuan itu di dalam mimpi pula.”
Yahya bin Mu’adz Ar-Razi pergi menuju ke Kota Hirat, setelah perjalannya ke beberapa Kota -Kota seperti Naisabur, Balkh. Beberapa orang meriwayatkan, dengan melalui Merv. Dalam hotbahnya di Kota Hirat ini pun ia mengisahkan mimpinya itu, Puteri Pangeran Hirat kebetulan mendengarkan dan mengirim pesan kepadanya.
“Wahai Imam, janganlah engkau berkeluh kesah lagi karena utangmu. Pada malam itu Nabi berbicara kepadamu di dalam mimpi itu, ia telah berbicara pula kepadaku“. Aku berkata kepadanya “Ya Rasulullah, aku akan pergi mencarinya. “ Rasulullah menjawab, “Tidak usah, dia akan datang kemari mencarimu“. Sejak malam itu aku menanti-nantikanmu. Jika gadis lain hanya memperoleh tembaga dan kuningan, maka ketika ayah menikahkan aku, aku memperoleh emas dan perak. Barang-barang perakku berharga tiga ratus ribu dirham. Semuanya akan kuserahkan kepadamu dengan syarat bahwa engkau harus berkhotbah di kota ini empat hari lagi.
Yahya bin Mu’adz Ar-Razi mendapat julukan sebagai lautan kebenaran, pembimbing
ulama, dan penjelajah jalan menuju Tuhan. Yahya bin Mu’adz Ar-Razi Ar-Razi disebut sebagai Sufi pertama yang menyatakan secara langsung kecintaannya kepada Allah Swt.
Berikut adalah perkataan Yahya bin Mu’adz Ar-Razi
ثلاث خصال من صفات الأولياء: الثقة بالله في كل شيء، والغنى به عن كل شيء، والرجوع إليه في كل شيء
“Tiga perkara dari sifat-sifat Aulia (Wali) : pertama percaya kepada Allah dalam segala hal, kedua merasa cukup dengan Allah dalam segala hal, dan mengembalikan segalanya kepada Allah Swt.”
Penulis : Abdul Mun’im Hasan
Editor: Warto’i