KONTROVERSI ILMIAH DHAMIR HUWA KALAM SYEKH ABDUL KARIM AL-JILI

April 2, 2025 - 07:57
April 2, 2025 - 08:00
 0
KONTROVERSI ILMIAH DHAMIR HUWA KALAM SYEKH ABDUL KARIM AL-JILI

PROBLEMA KONTROVERSI ILMIAH DHAMIR HUWA KALAM SYEKH ABDUL KARIM AL-JILI.

Timbulnya berbagai fitnah terhadap Al-Mukaram Abuya Syekh H Amran Waly Al-Khalidi dan Majelis Pengkajian Tauhid Tasawuf (MPTT-I) di mulai dengan penyampaian kalam Syekh Sayyidi Abdul Karim Al-Jili dalam kitab Al-Insan Al-Kamil hal 60 yaitu:

الحرف الخامس من هذا الاسم : هو الهاء، فهو إشارة إلى هوية الحق الذي هو عين الإنسان، قال الله تعالى: «قل» يا محمد وهو الإنسان «الله أحد » [الإخلاص، الآية: 1]

 

Huruf kelima dari ini isim adalah Haa'. Ia merupakan isyarat dari Huwiyyah al Haq, adalah iiin (hakikat ) manusia. 

Allah berfirman: (Katakanlah) wahai Muhammad. (Dia) yakni manusia. (Allah Yang Maha Esa).

Abuya Syekh Amran Waly menjelaskan: Syekh Abdul Karim Al-Jili dalam salah satunya mengembalikan Dhamir huwa kepada Muhammad/Insan dalam surat al-Ikhlas."Katakanlah olehmu hai Muhammad, Dianya engkau/insan itu Allah."

Mereka ulama2 zahir menafsirkan secara aqidah, meng'itikadkan Muhammad adalah Allah, makanya mereka tidak sependapat tidak sesuai aqidah.

mengembalikan Dhamir هو kepada إنت Muhammad/ Insan adalah menurut ajaran kesufian Ihsan yaitu rukun ketiga agama untuk menerangkan bahwa hakikat Insan adalah Allah bukan pengembalian dhamir atas dasar aqidah/iman rukun agama yang pertama, yang mengi'tikadkan Muhammad itu Allah.

Dalam memahami kajian ini, bukanlah di pahami melalui kaca mata aqidah dan syariat melainkan dengan konsep irfan sufi. 

Abuya menjelaskan lagi, "Hakikat Wujud Muhammad/Insan adalah Allah", bukan untuk menyatakan bahwa ta'yin/kenyataan Muhammad, karna kenyataan/ta'yin Muhammad/insan adalah makhluk/alam. Ungkapan Syekh Abdul Karim Al-Jili adalah menurut ajaran keshufian, karena tidak ada hakikat wujud yang berdiri sendiri melainkan Allah, yang lain-Nya tidak wujud dengan wujud sendirinya, dengan istilah قيامه بنفسه bukan قيامه بغيره sesuai Aqidah Ahlussunnah wal Jama'ah.

Kalam Syekh Abdul Karim Al-Jili diperkuat oleh beberapa ulama-ulama Sufi, diantara Syekh Syamsuddin Asy-Syumatrani dalam kitab Jauhar al-Haqa’id hal 68-69 menjelaskan:

يا أخي العارف.. فاعرف عينك الثابته! فعينك الثابته فإنها عبارة عن صورة معلومية الحق متلبسة بشؤونها. واعرف من إنت حيث عينك الخارجية، فما أنت من هذه الحيشية إلا الوجود الحق منصبغا بأحكام عينك الثابتة وأثارها. 

واعرف ما هويتك السارية في عينك الثابتة أولا، وفي عينك الخارجية ثانيا! فهو يتك في عينيك المرتبتين هوية الله السارية في جميع الموجودات. واعرف ما نسيتك إلى الحق! فنسبتك إلى الحق نسبة المقيد إلى المطلق.

Wahai Saudaraku yang al-Arif... Kenalilah entitasmu (ain tsabitah)! Entitasmu ibarat shurah (bentuk lahiriah entitas) yang telah diketahui Al-Haqq karena menempati keadaan-keadaan tertentu. Kenali juga siapa engkau, dari aspek mana entitas eksternalmu (ain kharij)! Maka dari aspek keadaan eksternal ini, engkau itu sebenarnya Wujud Al-Haqq yang terbalut dengna tatanan hukum entitias ain mu (ain tsabitah) dan efek-efeknya.

Kenaliah juga apa huwiyyah-mu (ke-Dia-an) yang berlaku pada entitas ain mu dahulu, kemudian pada entitas eksternalmu kemudian! Maka huwiyyah-mu yang berada di dalam dua entitasmu yang tersusun (ain tsabitah dan ain kharij) adalah huwiyyah aspek batin Ahadiyyah Allah yang berlaku pada semua maujud/Ciptaan-Nya. Dan kenalilah hubunganmu kepada Al-Haqq adalah hubungan sesuatu yang al-muqayyad (terikat) kepada sesuatu yang Al-Muthlaq (absolut).

Maka penjelasan Syekh Syamsuddin Asy-Syumatrani diatas dapat difahami, terhadap penjelasan Syekh Al-Jili, bahwa Muhammad, Dia Engkau/insan itu Allah. Sesungguhnya Muhammad itu adalah Wujud al-muqayyad yang adam (ketiadaan) dalam arti wujud Muhammad itu berasal dari pada Allah semata2 bukan dalam arti bertukar makna Muhammad menjadi Allah. Ini jelas pemahaman yang sangat keliru sekali.

Dalam hal ini Syekh Nuruddin Ar-Raniry dalam kitab Lataif Al-Asrar hal 64 menerangkan:

Berkata ahlu tahqiq wujud itu terbagi atas dua bahagian:

1. Wujud al-muqayyad 

2. Wujud Al-Muthlaq 

Maka wujud yang al-muqayyad itu yaitu wujud adam ma'had kembalinya pun kepada adam (ketiadaan) jua. Yaitulah8 wujud sekalian mumkinat. Hanya sesungguhnya adalah kejadian Wujud itu dari pada Haq Ta'ala. Umpama wujud bayang-bayang yang kelihatan dalam cermin dengna nisbah kepada Wujud yang menilik kepada cermin itu. Dan adalah bayang2 itu pada hakikat wujud yang empunya bayang2 jua, dan Wujud yang Al-Muthlaq itu sekali kali tiada sertanya Adam, yaitulah Wujud Allah yang Wajibul al-Wujud. Dan lagi maujud sendiri-Nya tiada dengan lainnya hanya sesungguhnya adalah Dia menjadikan bagi Lainnya.

Dengan demikian Muhammad Dia itu Insan Allah adalah Muhammad itu sebagai Wujud al-muqayyad berasal dari Wujud Al-Haq yang Al-Muthlaq dapat dijelaskan sebagai al-Insan al-Kamil merupakan cerminan Al-Haq. Sebagai penjelasan Syekh Abdul Karim Al-Jili dalam kitab Al-Insan Al-Kamil:

أعلم أن الإنسان الكامل هو الذي يستحق الأسماء الذاتية والصفات الإلهية استخقاق الأصالة والملك بحكم المقتضى الذاتي، فإنه المعبر عن حقيقته بتلك العبارات والمشار إلى لطيفته بتلك الإشارات، ليس لها مستند في الوجود إلا الإنسان الكامل، فمثاله للحق مثال المرآة التي لا يرى الشخص صورته إلا فيها، وإلا فلا يمكنه أن يرى صورة نفسه إلا بمرآة الاسم الله فهو مراته، والإنسان الكمال أيضاً مرآة الحق، فإن الحق تعالى أوجب على نفسه أن لا ترى أسماؤه ولا صفاته إلا في الإنسان الكامل، وهذا معنى قوله تعالى: "أنا عرضنا الأمانة على السموت والأرض والجبال فابين أن يحملنها واشفقن منها وحملها الإنسان إنه كان ظلوما جهولا" (سورة الأحزاب: ٧٢) يعني قد ظلم نفسه بأن أنزلها عن تلك الدرجة، جهولا بمقداره لأنه محل الأمانة الإلهية وهو لا يدري.

Ketahuilah, bahwasanya Insan Kamil itu dialah yang berhak atas nama-nama yang berdimensi Dzat, dan sifat-sifat Ilahiyyah dengan akar kepemilikan yang berdasarkan kepatutan, berikut berikut penguasaan berdasarkan hukum ketuhanan secara Dzat, semua metafor asma-asma dan sifat-sifat Nya yang berdemensikan Dzat terlanskapkan dalam diri Insan Kamil, pemisalan terhadap Al-Haq adalah semisal cermin yang orang bisa melihat bentuk gambar dirinya secara utuh di dalamnya, jika tidak maka orang tersebut tidak bisa melihat bentuk gambar dirinya kecuali dengan cerman asma Allah yang pada hakikatnya adalah cermin-Nya. Insan Kamil adalah cerminan Al-Haq. Fahamilah Al-Haq memaklumatkan Diri-Nya, tidak bisa dilihat asma-asma Nya, sifat-sifat Nya, kecuali pada diri Insan Kamil, itulah hakikat makna firman Allah : "Sesungguhnya kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khwatir akan mengkhianati nya dan dipikullah amanat itu oleh manusia, sesungguhnya manusia itu amat dzalim dan amat bodoh." (QS. Al-Ahzab: 72). Yakni manusia dzalim dengan dirinya sendiri, karena ingkar terhadap amanat ketuhanan dan keingkaran itu menurunkan kredibilitas dirinya dengan keagungan dan ketinggian derajat, manusia menjadi bodoh karena tidak memahami hakikat dirinya yang tidak lain pengemban amanat Ilahiyyah. Maka hakikatnya manusia bodoh itu manusia yang tidak mengerti amanat Ilahiyyah yang harus dipikul dan yang wajib ditunaikan. (Kitab Al-Insan Al-Kamil fi Ma'arifat Awa'il wa Awakhir Juz II, Dar Al-Kotob Al-ilmiyah, Beirut hal 280)

Ungkapan Syekh Abdul Karim Al-Jili diatas dijelaskan pula oleh Syekh Hamzah Al-Fansuri dalam kitab Al-Muntahi hal 3, dengan mengutip isyarat Nabi Saw:

من عرف نفسه فقد عرف ربه 

Barangsiapa mengenal dirinya maka ia mengenal Tuhannya.

Adapun dirinya itu, sungguhpun beroleh nama dan rupa, namun haqiqatnya rupanya dan namanya tiada. Seperti bayang2 dalam cermin; rupanya dan namanya ada, haqiqatnya adam (tiada). Seperti Sabda Nabi Saw;

المومن مرآة المومن

Yang Mukmin itu cermin samanya mukmin.

Yakni nama Allah Al-Mukmin. Maka hambaNya yang khas pun namanya Mukmin. Jika demikian, sama-sama dengan Tuhannya, karena Insan tiada bercerai dengan Tuhannya, dan Tuhanpun tiada bercerai dengan Insan. Syekh Sayyid Ahmad bin Muhammad Al-Ajibah Al-Hasani Asy-Syadzili menjelaskan:

حقيقة الإنسان هي روحانيه، وهي لطيفة نورانية لاهوتية حبووتية، ثم احتجبت ببشرية كثيفة ناسوتبة، فسبحان من ستر سر الخصوصية بظهرر وصف البشرية، وظهر باظهر الربوبية في مظاهر العبودية 

Hakikat Insan adalah ruhaniyah, merupakan cahaya kelembutan kekusaan ketuhanan (lahutiyah jabarutiyah), kemudian di hijabkan pada basyariah (sifat kemanusiaan) dapat tersingkap pada diri manusia (nasut).

Maha suci Allah pada tertutup rahasia kekhususan Nya dhahir pada sifat kemanusiaan, dan dhahir pada pendhahiran Rububiyyah pada madhar ubudiyah. (Kitab Futuhat Al-Ilahiyyah fi Syarh Al-Mabahits Al-Asliyyah, Dar Al-Kotob Al-Ilmiyah, Beirut hal 29 )

Penjelasan Syekh Hamzah Al-Fansuri tidak  jauh berbeda dengan ungkapan Syekh Syamsuddin Asy-Syumatrani dan Nuruddin Ar-Raniry diatas.

Sebagai mana ungkapan Syekh Abdul Karim Al-Jili diatas, mengembalikan Dhamir huwa surat Al-Ikhlas "Katakanlah olehmu hai Muhammad, Dianya engkau/Insan (Insan kamil) itu Allah.

Karena Muhammad Dia engkau Insan adalah Wujud al-muqayyad sebagaimana bayang2 dalam cermin, sementara Allah empunya bayang2 Sebagai Wujud Al-Muthlaq. Maka wujud yang ada dalam cermin hanyalah majazi semata2 yang adam (ketiadaan) namun Wujud yg ada dalam cermin bukan yang lain dari Wujud yang bercermin.

Dengan demikian Muhammad sebagai Insan al-Kamil juga dinamakan gambaran Al-Haq Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dalam kitab Jami'ul al-Asrar, hal 12 " bahwa Insan al-Kamil kejadiannya Nur fayid Ilahiyyah Dzat Ta'alah, maka ialah dirinya yang qaim ia dengan Wajibul al-Wujud, ialah bernama a'yan ash-Tsabitah dan Shuratul Rahman atau Shuratul Al-Haq atau Shuratul Ilahiyyah atau Shuratul'allah Sebagai Sabda Nabi Shalallahu Alayhi Wasallam, 

إن الله خلق آدم على صورة الرحمن 

Bahwasanya Allah menjadikan Adam atas rupa sifat yang bernama Ar-Rahman.

Dan lagi Sabda Nabi Shalallahu Alayhi Wasallam:

إن الله خلق آدم على صورته 

Sesungguhnya Allah menjadikan Adam atas rupa atau sifat yang qaim ia dengan Dzat-Nya.

Kemudian, Syekh Syamsuddin Asy-Syumatrani menjelaskan:

واعرف بما انت حق! فأنت حق من حيث الحقيقة وبما أنت خلق وعالم فأنت خلق وعالم من حيث التقييد والتعين. فتحقق بالله. إيها العارف في هذا الفصل يرشدك الله سبحانه وتعالي [الى] صراط الله المستقيم

 

Kenalilah juga apa sebabnya engkau itu (mewakili) Al-Haqq! Sebab, engkau itu Haqq (yang hakikat) dari aspek hakikat maujud. Dan mengapa engkau itu ciptaan (khalq) dan orang tahu (alim)! Kamu itu ciptaan dan orang yang mengerti dari aspek taqyid (keterikatanmu dengan Al-Haqq) dan ta'ayun (penampakkan Al-Haqq pada dirimu). Maka realisasikan hakikatmu bersama Allah wahai Saudaraku yang arif mudah-mudahan Allah Ta'ala membimbing mu pada jalan-Nya yang lurus.[ Kitab Jawahirul Haqa'id, Maktabah Al-Wataniyah, hal 68-69 ]

Muhammad yang dimaksud dalam dhamir huwa diatas adalah bukan diartikan Muhammad yang ada di Makkah, melainkan Haqiqatul Muhammadiyah yaitu al-Insan al-kamil sebagai mana yang dijelaskan oleh ulama2 sufi diatas. Dapat di ibaratkan Allah itu ibarat Matahari (Ahadiyah) dan Muhammad itu ibarat cahaya-Nya (Wahdah) dan Sinaran pancaran cahaya-Nya ibarat sifat dan asma-Nya (Wahdiyah) yang ter tajalikan pada potensi Alam dan manusia. Maka katakan Muhammad itu Allah ibarat cahaya matahari yang menunjukkan adanya matahari dan sesungguhnya cahaya itu adalah matahari semata2 maka cahaya matahari bukanlah matahari rapi cahaya matahari bukan selain dari matahari itu sendiri.

Makna Hakikat Muhammad tidak lain merupakan qadar maklum [dalam ilmu Allah] di tanazulkan dalam rupa syahadah pada gudang asma-Nya adalah هو (Dia) Muhammad sebagai barzakiyah (pemisah) antara ghaib pada esensi setiap gambaran syahdah (nyata).

Maka dapat kita fahami dalam konsep Maratibul Wujud dijelaskan: pada martabat Ahadiyah Allah masih dalam ke-mujarrad-an Nya yaitu Allah menyaksikan t Diri-Nya dengan Diri-Nya pada Dzat-Nya.

Pada martabat Wahdah Allah ber tajalli atau menyaksikan Diri-Nya dengan nama-nama dan sifat-sifat Nya pada Diri-Nya sendiri inilah Hakikat Muhammad atau Muhammad Bathin. Muhammad adalah tajalli atau madhar Sifat-sifat dan asma-Nya sebagai mana seseorang menyaksikan dirinya pada semua cermin. Maka kesempurnaan Ilahiyah ada pada sifat Muhammadiyah.

Pada martabat Wahidiyah Allah menyaksikan dan ber tajalli dengan nama-nama dan sifat-sifat-sifat Nya pada potensi Alam semesta. Dalam makna Hakikat Muhammad itu lah penyebab terjadinya alam semesta. Sebagai mana hadits Al-Qudis Rasulullah SAW bersabda;

إنا من الله، والمؤمنون منى

Aku dari Allah, dan orang mukmin berasal dari diriku (HR. Dailami).

Maka oleh karena itu, bagi kalangan2 ulama-ulama dhahir Syariat, maka belajarlah ilmu keshufian kepada ahlinya supaya memperoleh wawasan spiritual yang sempurna tidak hanya pandai dari segi intelektual. Dan bagi yang belum faham atau tidak faham, janganlah dengan gampamg memberikan vonis atau fatwa menyesatkan dari apa yang dilampaikan ulama-ulama Sufi. Seseornag tidak akan dapat memahamai manisnya madu kalau belum merasai madu tersebut. Dan bagi orang yg belum pernah merasai madu, maka sungguh aneh mengatakan madu itu pahit. Maka rasa lah dulu sebelum menjelaskan makna rasa itu.

[ Budi Handoyo SH MH, Dosen STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh ]