Connect with us

Hikmah

Terkena Paku Akibat Su’udzan

Published

on

Su’udzan dalam Islam merupakan perbuatan tercela, apalagi ditujukan kepada seorang ulama’ atau wali. Inilah yang juga dilakukan oleh Syekh al-Bazzar. Suatu hari kata Syekh al Bazzar, Syekh Abdul Qadir memakai jubah dan pakaian ulama’ yang terbuat dari kain yang bagus dan mewah.

Lalu pada tahun berikutnya, seorang pelayan Syekh Abdul Qadir mendatangi Syekh al Bazzar dengan membawa sebuah selendang. Kepada Syekh al Bazzar pelayan tersebut berkata, “Syekh, saya ingin selendang ini ditukar dengan uang satu dinar, tidak boleh kurang dan tidak boleh lebih.“.

Syekh al-Bazzar menjawab,  “Memang milik siapa selendang ini?” Kemudian pelayan tersebut menjawab, “Milik Syekh Abdul Qadir.“

Mendengar jawaban si pelayan, Syekh al-Bazzar nampak tidak percaya. Sehingga di dalam hatinya pun berkata, “Masak milik Syekh Abdul Qadir, bukankah selendang milik Syekh Abdul Qadir sudah diberikan kepada Khalifah?”

Belum selesai hatinya bicara, tiba-tiba kedua telapak kaki Syekh al-Bazzar terkena paku. Ia pun merasakan sakit yang luar biasa. Ia berteriak-teriak meminta tolong, orang pun banyak yang berdatangan untuk memberikan pertolongan.

Namun usaha mereka tetap sia-sia, karena tidak ada yang mampu mencabut paku-paku tersebut di telapak kakinya. maka Syekh al-Bazzar langsung mengatakan kepada orang-orang agar ia dibawa kepada Syekh Abdul Qadir.

Orang-orang pun ramai-ramai mengangkat Syekh al-Bazzar menuju ke rumah Syekh Abdul Qadir.

Setelah dihadapan Syekh Abdul Qadir, ia pun berkata, “Hai Abu Fadl, demi Dzat  Yang Maha Mulia dan disembah, aku sama sekali tidak memakai selendang itu sehingga ada yang mengatakan, “Demi Allah, pakailah selendang seharga satu dinar ini.“

Lalu Syekh Abdul Qadir memberikan sebuah kain kafan kepada Syekh al-Bazzar. Kemudian ia mengusap kaki Syekh al-Bazzar yang terkena paku tersebut. Seketika itu juga paku-paku yang menancap di kaki Syekh al-Bazzar langsung hilang semua dan rasa sakit yang menderanya pun juga lenyap.

Setelah itu Syekh al-Bazzar mengatakan kepada Syekh Abdul Qadir bahwa dirinya tidak tahu dari mana paku-paku itu. Tiba-tiba saja paku-paku itu menancap di kedua telapak kakinya.

“Paku-paku itu berasal dari su’udzan yang ada di dalam hatimu.“ Jawab Syekh Abdul Qadir, kemudian Syekh al-Bazzar dan orang-orang disekitarnya langsung tercengang.

Hikmah

Kisah Perpisahan Dua Mistikus Islam Yang Menyedihkan (2)

Published

on

Kisah penangkapan dan eksekusi atas Abu Mansur al-Hallaj sangat menyentuh. Suatu hari, ia berkata kepada sahabatnya, Asy-Syibli, bahwa ia sibuk dengan tugas amat penting yang bakal mengantarkan dirinya pada kematiannya.

Pada akhir tahun 902 Masehi, Al-Hallaj ditangkap ketika sedang mengadakan perjalanan di Thus. Tiga hari lamanya ia dipamerkan kepada khalayak ramai kemudian dipenjarakan.

Pada tahun 909 Masehi, Menteri Hamid berusaha sekuat tenaga untuk menyeretnya ke hukuman mati. Sehingga mereka harus menemukan bukti-bukti yang dapat membuat Al-Hallaj dijatuhi hukuman mati.

Dalam penggeledahan di rumah-rumah pengikutnya, polisi menemukan bagian-bagian surat yang ditulis dengan huruf-huruf yang tidak jelas yang mungkin merupakan kaligrafi nama Ali dan beberapa nama Allah. Namun beberapa tahun kemudian sang menteri berhasil memaksa hakim tertinggi Irak untuk menandatangani hukuman mati. Dan pada tanggal 26 Maret 922 ia pun dihukum mati.

Sebelum kematiannya, ia selalu menari-nari meski terbelenggu dalam perjalanan menuju tempat pelaksanaan eksekusi sambil membaca syair tentang kemabukan mistik.

Pada saat itu sahabatnya Asy-Syibli selalu menyertainya.  Kemudian Al-Hallaj meminta kepada sahabatnya itu untuk meminjaminya sajadah dan berdoalah ia. Kemudian Asy-Syibli bertanya, “Apa itu tasawuf?”

Al-Hallaj menjawab bahwa apa yang disaksikan Asy-Syibli saat itu adalah tingkatan tasawuf paling rendah. “Adakah yang lebih tinggi dari ini?” tanya Asy-Syibli.

“Kurasa, engkau tidak akan mengetahuinya!” jawab Al-Hallaj.

Lalu ketika Al-Hallaj diikat di tiang gantungan dan orang-orang mulai melemparinya dengan batu, Asy-Syibli justru melemparinya dengan sekuntum mawar dan karena mawar itulah Al-Hallaj mengeluh kesakitan.

Ketika ditanya mengapa seperti itu, dia menjawab bahwa mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan, tetapi ia tentunya tahu dengan ungkapan mawar yang dilemparkan oleh sahabat terasa lebih menyakitkan daripada batu manapun.

Menjelang napas terakhirnya, kata-kata terakhir yang diucapkan Al-Hallaj adalah “Hasbul Wajid Ifradul Wahid Lahu”, Cukuplah bagi si pecinta untuk menjadikan Yang Esa Tunggal, yakni bahwa keberadaannya harus disingkirkan dari jalan cinta. Itulah tauhid sejati sepenuhnya batiniah dan dibayar dengan darah si pecinta. Anggota badan Al-Hallaj dipotong-potong dan ia diikat di tiang salib atau mungkin tiang gantungan kemudian dipenggal lehernya, tubuhnya dibakar dan abunya disebar di sungai Tigris.

Continue Reading

Hikmah

Kisah Perpisahan Dua Mistikus Islam Yang Menyedihkan (1)

Published

on

Meskipun sumber mengenai pertemuan pertama Jalaluddin Rumi dan Syams at-Tabriz di Syiria tidak banyak ditemukan, namun banyak sumber-sumber lain yang bercerita mengenai mereka, termasuk perpisahan keduanya.

Syams at-Tabriz oleh masyarakat Konya pada waktu itu dikenal sebagai pribadi yang kuat dengan perilaku aneh. Lelaki ini kerap membuat orang-orang terkejut dengan teguran-teguran dan kata-katanya yang kasar. Ia juga mengatakan bahwa ia telah mencapai tahap keberadaan ‘yang terkasih’ bukan lagi tahap sang kekasih.

Namun siapa sangka, sosok ini mampu memengaruhi mistiskus besar Islam, Jalaluddin Rumi yang kemudian sangat menentukan kehidupannya kelak.

Mereka bertemu sekitar akhir bulan Oktober tahun 1244 di Konya. Namun rupanya pertemuan mereka tidak disukai oleh pengikut-pengikut Jalaluddin Rumi karena menyebabkan ia menelantarkan keluarga dan muridnya selama berbulan-bulan.

Karena tidak menyukai pertemuan tersebut, masyarakat sekitar menuntut Syams at-Tabriz untuk meninggalkan kota. Ia akhirnya pergi dan meninggalkan luka dalam yang dirasakan oleh Jalaluddin Rumi.

Karena melihat kesedihan yang mendalam di wajah Jalaluddin Rumi, Putra pertamanya, Sultan Walad kemudian membawanya kembali dari Syiria.

Setelah lama berpisah, akhirnya mereka berjumpa kembali. Keduanya saling berpelukan dan berlutut di hadapan masing-masing temannya itu. Keakraban hubungan mereka tumbuh sekali lagi dan menjadi begitu meluap-luap sehingga menimbulkan kecemburuan bagi beberapa murid Rumi.

Selanjutnya para murid, yang dibantu oleh putranya itu memutuskan untuk mengirimkan Syams at-Tabriz ke tempat yang tidak ada jalan kembali.

Suatu malam mereka memanggilnya keluar dari rumah Jalaludin Rumi yang terletak berhadapan dengan rumah putranya. Setelah Syams at-Tabriz keluar, mereka menusuknya dan membuangnya ke sumur dekat tempat itu.

Melihat sahabatnya menghilang, Sultan Walad mencoba menenangkan kecemasan ayahnya dengan mengatakan kepadanya bahwa setiap orang mencari Syams at-Tabriz. Sementara ayahnya tidur, ia cepat-cepat menguburkan badan Syams at-Tabriz yang diambilnya dari dalam sumur. Kemudian ia menutupi kuburan itu dengan semen yang dipersiapkan dengan tergesa-gesa.

Dalam pengalaman kasih yang membakar habis jiwanya ini membentuk Jalaluddin Rumi menjadi penyair. Ia yang mencari Syams at-Tabriz dengan sia-sia di segala penjuru negeri akhirnya menemukan bahwa ternyata ia dipersatukan dengan sahabatnya itu dan menemukan dalam dirinya sendiri bercahaya laksana rembulan.

Sejak lirik yang dilahirkan dari pengalamannya ini ditulis, Jalaluddin Rumi lebih memilih nama sahabatnya dari pada namanya sendiri pada akhir sebagian besar sajak-sajaknya. Di mana ia menyanyikan kasihnya, kerinduannya, kebahagiaannya dan keputusasaannya dalam baris-baris sajak yang tidak pernah tertandingi kesungguhannya. Pengalaman inilah yang ia berikan dalam bait-bait terkenal dalam karyanya Al-Masnawi.

Continue Reading

Hikmah

Cerita Habib Muhdhor Assegaf, Menikmati Nasi Barakah Manaqib bersama Habib Luthfi

Published

on

Rangkaian Acara Maulid Nabi saw di Kanzuz Sholawat, sejak hari Jum’at 28 Oktober hingga puncaknya hari Minggu siang, 30 Oktober 2022 memberikan kenangan yang indah bagi kami yang terlibat sebagai pengurus acara. Namun, Di antara kenangan-kenangan tersebut, kisah inilah yang paling berkesan bagi kami.

Dimulai dengan acara pertemuan para mursyid, badal, muqadam se-Indonesia di Wonopringgo pada malam Sabtu, lalu silaturahim Ulama Thariqah Se-Indonesia bersama umara, TNI dan POLRI di gedung A.H. Duned yang dilaksanakan pada hari Sabtu pagi hingga siang hari, dan disusul sore harinya jelang maghrib dengan acara pembacaan Dalailul khairat, pembukaan khatmil Qur’an dan kitab Bukhari di Makam Habib Hasyim bin Yahya Sapuro bersama para huffadz dan santri dekat Maulana Habib Luthfi bin Yahya, lalu malam harinya membaca manaqib para auliya, seperti Syekh Abdul Qadir al-Jilani, Syekh Abul Hasan Ali as-Syadzili,  Syekh Ahmad al-Badawi, Syekh Ahmad ar-Rifai, Sayyidah Nafisah dan lainnya radhiyallahu ‘anhun ajma’in di Kanzuz Sholawat bersama para habaib, ulama dan kiai. Dan alhamdulillah seluruhnya berjalan dengan lancar penuh khidmah.

Semoga kita mendapatkan asrar, barakah, madad dan nafhah dari para shalihin khususnya nadhroh dari guru kita Maulana Habib Luthfi bin Yahya.

Satu hal yang sangat menarik dan paling berkesan bagi kami, saat kami singgah di rumah Habib Husein putra Maulana Habib Luthfi bin Yahya, usai mengikuti acara pembacaan manakib di Kanzuz Sholawat, kami diberi kenikmatan dapat makan malam Nasi Barakah Manaqib bersama beliau guru besar kami Maulana Habib Luthfi bin Yahya  dalam satu nampan, seperti yang terlihat dalam foto yang kami lampirkan.

Kami terkejut saat beliau minta hidangan makan malam kepada santri abdi dalemnya yang mengurus bagian tersebut, lalu mereka segera membawakannya dengan hidangan yang khusus dengan tempat yang khusus pula. Namun ternyata beliau tidak mau makan, lalu menyuruh para habaib dan orang yang berada di depannya untuk meikmatinya, maka mereka menikmatinya bersama-sama.

Tak lama kemudian beliau minta kembali kepada mereka nasi nampan manaqib, yang disuguhkan untuk umum, yang tentunya dengan menu yang sangat sederhana, berisikan lauk khas Kota Pekalongan yaitu megono, tempe dan daging, tapi tentunya penuh barakah dan khasiat.

Setelah agak lama didapatkan, karena tempatnya agak jauh, lalu tak lama kemudian datang dengan satu nampan berisikan nasi manaqib dan segera disuguhkan kepada beliau.

Kemudian beliau segera menyantapnya dengan penuh gembira dan kami yang kebetulan saat itu berada disampingnya mendapatkan anugerah untuk menemani beliau menikmati nasi barakah manaqib tersebut.

Penulis: Habib Muhdhor Assegaf (Pengurus Idarah Aliyah JATMAN)
Editor: Khoirum Millatin

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending