Connect with us

Opini

Tasawuf dan Nilai Keadaban

Published

on

Manusia Sang Pencari Tuhan

Manusia terus mencari kebenaran dan segala kesejatian dalam hidupnya. Bahwa pencarian kebenaran mengarahkannnya pada nilai dan gagasan spiritual yang mampu membuka ruang kebenaran baru ketika akal terasa terhenti menguak tabir. Hati (dan tentunya akal) menjadi pintu-pintu untuk membuka rahasia ketuhanan yang terus dicari dalam peradaban manusia. Akal mencari dalam lapisan raga dan rasional, hati mencari kebenaran-Nya pada tingkat kedalaman spiritualisme jiwa manusia. Dalam lapisan metode hati inilah tasawuf hadir untuk membuka rahasia yang hendak dibuka oleh manusia.

Tasawuf merupakan bentuk dari ajaran yang bersumber pada Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw. Jika Syariah bekerja pada tingkatan gerak fisik manusia, maka tasawuf bergerak pada lingkaran dalam struktur manusia, yaitu hati dan jiwa. Tasawuf merupakan bentuk upaya manusia untuk memperbaiki kondisi internal jiwanya, bahwa manusia selain memperbaiki sisi raga, ia juga perlu memperbaiki sisi jiwanya. Bahwa manusia membutuhkan sisi kedalaman nilai spiritualisme sebagai bukti yang menunjukkan bahwa ia bukanlah hewan ataupun juga malaikat. Tasawuf membentuk kembali manusia yang telah jauh dari Tuhannya.

Tasawuf dalam bahasa lainnya juga disebut dengan kata tazkiyatun nafs atau pembersihan dan penyucian hati. Ajakan Qur’an untuk membersihkan noda yang tampak melekat menjadikannya menjadi sebuah kewajiban. Manusia yang selalu diminta oleh Allah Swt untuk selalu membersihkan hati, dan mereka itulah yang beruntung (Qs.[91]:9–10). Pembersihan jiwa yang terkotori oleh kecintaan yang mendalam kepada dunia terus dilakukan melalui ragam metode baik membaca dan mentadaburi Qur’an (Qs.[3]:164), dzikrullah (Qs.[33]:41–42), serta Zakat (Qs.[9]:103). Maka perlu difahami bahwa tasawuf juga bagian dari perintah Allah yang tertera dalam Qur’an. 

Allah dicari dalam ruang jiwa manusia, ketika ia tak lagi mendapatkan kepuasan batiniah manusia. Dia Sang Maha Mengetahui, ketika manusia berusaha memenuhi ruang batinnya yang kosong, ia menyadari bahwa ruang ini hanya dapat diisi olehNya. Segala apa yang ada dihadapannya menjadi objek pencarian jiwanya, tetapi segala yang ia telah dapatkan tidak mampu memenuhi ruang batin terdalam. Dunia bukan materi yang mampu memenuhi ruang, melainkan jiwa yang tenang terpenuhi oleh cahaya ketuhanan (Qs.[89]: 27–30).

Bahwa Allah hadir dalam jiwa dan hati setiap hamba dan memenuhi ruang sadarnya. Manusia adalah ketiadaan dihadapanNya, ia tak berarti dihadapanNya. Manusia bagai setetes air di ujung jari di tengah samudera tak bertepi. Hendak kemana ia melangkah, ia selalu berada dalam jangkauanNya. Bahwa hanya ada Dia, yang lain tak lebih dan tak berarti. Ia yang melimpahkan cahaya Rahman dan RahimNya.

Pembentukan Keadaban Manusia

Tasawuf membentuk perilaku manusia yang selalu berupaya mendekat kepada Tuhan. Bahwa perilaku manusia dibentuk kembali menjadi manusia-manusia yang membuang jauh semangat duniawi yang telah membelenggunya selama ini. Pendekatan tasawuf dilakukan untuk membersihkan , menjernihkan, dan membeningkan hati yang telah ternoda oleh debu dan karat dunia. Rumi melalui bait-bait berujar:

“Sesungguhnya Aku lah akhirmu. Jika Aku katakan jangan Engkau pergi ke sana, sungguh aku adalah kekasih-Mu. Aku adalah sumber kehidupan di titik ketiadaan”

Manusia yang selalu menjadikan Dia sebagai ujung dari segenap curahan hidupnya, Allah menjadi sumber dari segenap kehidupan manusia ujar sang Syaikh Jallaludin Rumi. Rasa Ketuhanan membentuk akhlaq setiap manusia, bahwa bukan nilai kebendaan yang dicari dan menjadikannya menjadi manusia, melainkan kedekatan kepada Allah semata yang menjadikannya ia manusia sesungguhnya.

Manusia yang menyadari hatinya telah begitu penuh dan padat oleh nafsu yang membius, bagaimana hendak meletakkan Tuhan dalam hatinya? Lalu hendak kemana ia melangkah ketika hatinya telah penuh sesak oleh nafsu menguasai dunia dengan segenap kemewahannya? Dimana ia letakkan cintaNya di dalam hati? Masih adakah ruang di dalam kalbu untukNya? Inilah hakikat arti penting tasawuf bekerja membersihkan hati yang telah penuh sesak oleh sampah dunia yang mengarat.

Manusia yang sejatinya melangkah dengan getaran kalbu ketuhanan, berdetak seiring dengan cahaya Rahman dan RahimNya di dalam kalbu. Ia yang terus menerus perlu memperbaiki ruang hatinya yang begitu cepat penuh oleh debu-debu yang mengotori bening hati. Allah melalui tasawuf berupaya memperbaiki jiwa manusia terdalam, bahwa bukan hanya badan yang perlu dibersihkan dari noda, melainkan hati yang ini begitu tersamar: iri, dengki, hasut, dendam, sombong, riya’, dan kotoran hati lainnya.

Tasawuf membentuk ulang akhlaq manusia, membentuk kembali manusia sebagai makhluk yang beradab dan selalu menjunjung tinggi nilai keadaban. Ia menjadi manusia bukan karena mampu merengkuh kekuasaan dan harta, melainkan sejauhmana ia mampu meletakkan Allah di dalam hatinya yang terdalam, dan tidak tergoda oleh dunianya (Qs.[63]:9). 

Ia bagai terompah atau sandal, dimana ia dapat dipijak oleh siapapun tanpa dirinya mengeluh. Terompah telah menyelamatkan manusia dari jalan yang berbatu, serta panas yang menyengat. Inilah makna terdalam bagi manusia yang telah mendekat kepada Allah, bahwa dirinya menjadi penolong, penyelamat bagi manusia lainnya. Ia selalu dibutuhkan oleh banyak orang tanpa harus merasa dirinya paling unggul layaknya peci yang terletak di atas kepala. Sebagai terompah ia selalu dipijak oleh siapapun, dan ia akan selalu dibutuhkan oleh siapapun. Inilah akhlaq yang meneladani perilaku manusia, ia menjadi alas dari segala permasalahan dunia, sekaligus mampu menyelesaikan segala masalah dunia kepada siapapun yang membutuhkannya.

Sekumpulan manusia yang memiliki akhlaq akan menentukan bagaimana kelanjutan perjalanan peradaban manusia itu. Akhlaq, adab menjauhkan manusia dari perilaku tercela, karena ia akan mampu mengekang kehendak hewani manusia yang selalu ingin menguasai dan menundukkan. Hukum dan seperangkat norma yang dihadirkan tidak akan mampu berjalan jika tak ada akhlaq untuk menggerakkannya. Hukum yang berada dalam lapisan luar, ia tak mampu bergerak ketika dijalankan oleh orang tak berakhlaq. Beragam norma hukum yang menghukum perilaku korup telah dihadirkan, tetapi ketika akhlaq tak berjalan maka perilaku koruptif menjadi semakin subur.

Tasawuf membentuk akhlaq manusia, ia mengikat jiwa batiniyah manusia selalu melekat pada Allah. Bahwa bukan dirinya yang menjadikan segalanya, bahwa bukan manusia yang menentukan, melainkan Dia Sang Maha Agung. Bahwa manusia yang selalu mengikat dengan kehendakNya, akan selalu membentuk perilaku sesuai dengan nilai-nilai kebajikan. Maka dunia baginya tidak melenakannya, ia menggerakkan dunia sesuai dengan kehendakNya. Bahwa hanya Allah yang ada, dan manusia menjadikanNya sebagai titik tolak dari segala perbuatannya. 

Tasawuf dibutuhkan oleh sebuah bangsa untuk membangun kembali sebuah bangunan masyarakat yang beradab. Tasawuf bukan sekedar bermakna hubungan eksklusif nan transenden semata antara dirinya dan Tuhannya, melainkan tasawuf juga diharap mampu membentuk perilaku kesalehan sosial tiap individu dalam masyarakat. Pembentukan sekumpulan manusia yang selalu melekatkan dirinya dengan Allah akan memberi dampak pada perilaku etik sosialnya. 

Tasawuf juga mengajarkan sebuah pendalaman nilai agung tauhid. Hanya Allah diletakkan di dalam hati, dan bukan dunia serta selain-Nya. La illaha illallah, bahwa hanya Allah tidak ada selainNya. Dalam masyarakat yang semakin moderen, bahkan cerdas teknologi, segala apapun selain Allah dapat dipertuhankan secara halus dan tak disadari: harta, kekuasaan, kedudukan, kepandaian, dan apapun itu yang akan mampu menjadikan manusia menjadi tamak dan angkuh bahkan memunculkan sifat sombong dan rakus. Tasawuf mengembalikan kesadaran manusia, bahwa ia bukanlah siapapun. Manusia hanya tetes air dalam luas samudera, maka ia bukanlah siapapun dan apapun. 

Penulis merupakan Dosen Program Magister Hukum Universitas Al Azhar Indonesia

Opini

Kalau Bukan Karena Cinta, Lalu Apa Lagi?

Published

on

Sekembalinya saya dari rangkaian Maulid Akbar di Pekalongan beberapa hari lalu, saya masih tidak habis pikir dengan berjubelnya ribuan orang yang memadati Kanzus Sholawat dan sekitarnya.

Jika jamaah sudah mempersiapkan diri ingin mengambil posisi di depan Kanzus Sholawat pas, tentu mereka sudah prepare sejak Subuh, bahkan sejak malam harinya. Itulah senyaman-nyamannya lokasi Maulid di Kanzus Sholawat dan mereka tidak akan menyadari fenomena apa yang terjadi di belakang tempat duduk mereka sampai mereka mengetahuinya dari media sosial.

Sangat apes bagi saya yang karena padatnya kegiatan di malam hari mengakibatkan saya bangun agak telat untuk menuju lokasi Maulid Akbar. Betapa kagetnya, setiap melewati jalan, banyak jamaah yang menggelar alas-alas duduk di pinggiran untuk mengikuti kegiatan Maulid. Berbagai jenis kendaraan terparkir di sisi-sisi jalan dengan beragam plat daerah. Begitu pula dengan setiap warung yang buka tak pernah kosong dari pengunjung.

Untungnya saya berangkat menggunakan taksi online sehingga saya tak perlu bingung mencari tempat perkir. Akhirnya saya berjalan cukup jauh dan melewati gang-gang kecil seraya berharap jika gang tersebut terhubung tepat ke dekat Kanzus Sholawat. Namun kepicikan saya itu kalah jauh dengan realita. Setiap gang yang saya lewati, di situ pula ribuan orang memaksa lewat sehingga beberapa kali saya harus berusaha keras memutar balik untuk menemukan jalan yang agak nyaman untuk dilewati.

Jujur saja, saya sendiri tak pernah tahu situasi lokasi tersebut. Saya hanya mengikuti ke mana kaki berjalan dan akhirnya menemui sebuah ‘pintu doraemon’ yang menghubungkan ke area jalur kereta api.

Betapa kagetnya saya setelah melewati pintu itu. Jumlah jamaah yang maha dahsyat hampir menutupi sepanjang jalur kereta api yang masih aktif ini. Tentu saja ini sangat membahayakan. Terlebih jumlah massa yang berkerumunan dengan jarak sisi rel yang kosong sangat tidak sebanding untuk menepi jika sewaktu-waktu kereta lewat. Untuk saya pribadi ini sangat tak masuk akal.  

Dan benar saja, baru saja saya melintasi sisi-sisi sepanjang rel kereta api, terdapat banyak petugas yang meniupkan pluitnya berulang kali untuk memberi peringatan kepada jamaah yang duduk-duduk di tengah rel agar menjauh dari sana. Saya berpikir, seandainya jalur kereta api bisa dialihkan, niscaya rel ini pasti akan ditutup karena saking membludaknya jamaah. Tak lama setelah itu kereta api barang melintasi rel dengan kecepatan sebagaimana standar umumnya. Sedangkan jamaah yang berada di sisi-sisi rel menutup wajah dan kepala mereka dengan payung atau tikar untuk menghindari debu-debu yang berterbangan ke arah mereka. Sungguh fenomena yang unik.

Sebetulnya, jika dilihat dari kapasitas lokasi dengan jumlah jamaah yang ada, Kanzus Sholawat sepertinya sudah tidak mampu lagi menampung antusiasme masyarakat yang ingin ikut merayakan Maulid. Bagaimana tidak, pada hari itu Pekalongan bukan hanya dipadati oleh masyarakat lokal, tetapi juga jamaah dan muhibbin dari seluruh penjuru Nusantara.

Di antara sebab meledaknya animo jamaah itu adalah karena ungkapan Maulana Habib Luthfi yang menjadi motivasi kehadiran mereka di Kanzus Sholawat,

Nek pengen anak putumu dipandang Rasulullah Saw. secara langsung, gowonen neng nggonku pas Maulid Akbar (Jika ingin anak-cucumu dipandang Rasulullah Saw. secara langsung, bawalah ke tempat saya ketika acara Maulid Akbar).”

Rasa cinta yang mendalam terhadap Rasulullah Saw. serta ingin dipandang olehnya inilah yang menjadi salah satu motivasi mengapa banyak sekali masyarakat yang antusias hadir dalam perayaan Maulid Akbar di Pekalongan. Padahal tentu mereka sudah paham bagaimana kondisi lokasi yang sangat terbatas. Bukan hanya itu, banyak dari mereka juga luntang-lantung karena tidak mendapatkan penginapan dan hotel di sana disebabkan sudah full booked, sehingga masjid-masjid dan teras-teras rumah warga menjadi pilihan alternatif untuk sekedar melepas penat.

Namun meskipun lelah, saya yakin para jamaah tetap berbahagia menghadiri acara ini sebagaimana kebahagiaan yang juga saya rasakan. Kebahagiaan ini pun sejatinya tidak hanya dirasakan oleh jamaah, tetapi juga shahibul hajat, Maulana Habib Luthfi bin Yahya. Sebagai penghormatan terhadap tamu-tamunya, beliau sudah menyiapkan lebih dari 900 ekor kambing untuk disembelih yang akan menjadi hidangan nasi kebuli bagi para jamaah seusai acara Maulid Akbar yang seluruhnya berasal dari kantung pribadinya sendiri.

Jika dipikir-pikir, berapa rupiah yang harus dikeluarkan oleh Maulana Habib Luthfi untuk menjamu para jamaah itu. Jika satu ekor kambing dihargai dua juta rupiah, maka beliau mengeluarkan biaya lebih dari satu miliar rupiah. Belum lagi beras, bumbu dan logistik yang lain. Alhasil, sekitar 9000 talam nasi kebuli siap disantap oleh jamaah sebagai Nasi Barakah Maulid Akbar. Maa Syaa Allah.

Demikianlah, saya menyaksikan, baik jamaah maupun Maulana Habib Luthfi sendiri tampak sumringah pada hari itu. Padahal para jamaah yang hadir tentu tidak akan memperoleh benefit berupa materiil. Banyak di antara mereka yang mengorbankan uang dan waktu, bahkan tak sedikit pula dari mereka yang datang dengan tidak membawa bekal apapun. Mereka datang dengan hanya bermodalkan cinta. Sedangkan mencintai itu tidak akan bisa dirasionalisasi. Semakin besar cinta seseorang maka logikanya pun semakin hilang, begitupula semakin sedikit cinta seseorang, maka kekhawatirannyalah yang semakin besar. Cinta menumbuhkan keberanian di hati para penakut dan menjadi obat bagi mereka yang sekarat.

Begitu pula dengan Maulana Habib Luthfi, kecintaannya pada umat justru dapat membangkitkan perekonomian rakyat. Acara semacam Maulid Akbar yang setidaknya mampu mendatangkan hingga sepuluh ribuan jamaah berdampak pada meningkatnya penghasilan masyarakat Pekalongan secara umum. Bagaimana tidak, warung-warung kecil mendadak ramai, pedagang-pedagang berkeliaran menawarkan produknya kepada jamaah, pengguna taksi dan ojek online meningkat tajam, hotel-hotel dan homestay seluruhnya penuh, padahal Pekalongan tidak memiliki destinasi wisata yang cukup menarik untuk dikunjungi. Sehingga tumbuh pesatnya hotel di Pekalongan sudah pasti dilatarbelakangi oleh kegiatan-kegiatan baik nasional maupun internasional yang kerap diadakan oleh Maulana Habib Lutfhi.

Dan Inilah yang sebetulnya diharapkan guru kita semua, Maulana Habib Lutfhi bin Yahya, beliau yang sangat visioner itu tahu bagaimana membangkitkan ekonomi umat sebagaimana yang sering didawuhkan. Sehingga keberkahan bukan hanya milik shahibul hajat, tetapi juga merata pada setiap elemen masyarakat.

Penulis: Khoirum Millatin

Continue Reading

Opini

Ornamen-ornamen Tarekat dalam Praktik Kebudayaan di Maluku

Published

on

Dalam satu kesempatan yang lalu saya sempat bertemu Tuan Guru Chairudin Talaohu, Lc (Ketua JATMAN Maluku) dan menanyakan beberapa hal terkait perkembangan tarekat di Maluku. Saya bertanya, “Mengapa tarekat bisa berkembang di Maluku? Apa faktor utama hingga tarekat bisa berkembang di Maluku? Sejak kapan tarekat mulai masuk ke Maluku? Bagaimana ajaran tarekat melihat tradisi-tradisi bernuansa Islam yang sekarang ini dipraktikkan masyarakat muslim Maluku?” dan sederet pertanyaan lainnya. Bagi saya, jawaban Tuan Guru Chairudin atas sejumlah pertanyaan tersebut sangat mengesankan.

Akhir-akhir ini terdapat dua tarekat yang cukup kuat berkembang di Maluku terutama di Kota Ambon yakni Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN) yang dibawa Tuan Guru Erwin Notanubun dan Thariqah Dusuqiyah Muhammadiyah yang di dawuh langsung oleh Tuan Guru Chairudin Talaohu. Dua tarekat ini banyak diminati berbagai kalangan terutama anak-anak muda yang sedang mengenyam pendidikan di bangku kuliah di Kota Ambon.  Kebanyakan anak muda ini berasal dari Leihitu, Pulau Seram, Buru, dan Tual. Antusias anak muda memasuki dunia tarekat menunjukkan kesan bahwa tarekat tidak hanya diminati kalangan orang tua-tua saja melainkan anak muda pun memiliki minat yang sama.

Minat terhadap tarekat dan ingin mendalaminya itu merupakan ekspresi keterpanggilan karena di dalam diri setiap manusia memiliki rasa rindu untuk kembali ke asalnya. Hal ini sebagaimana janji primordial manusia dengan Allah Swt. yang tertuang dalam Qs. al-A’rāf ayat 172,

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”.

Berangkat dari rasa keterpanggilan tersebut maka banyak anak-anak muda mulai menaruh minat terhadap tarekat dan ingin mendalaminya. Meskipun belakangan ini berkembang stigma di tengah-tengah masyarakat muslim bahwa kita harus mendalami dulu syariat baru tarekat, stigma ini ditepis Tuan Guru Talaohu. Ia menjelaskan bahwa,

“Tarekat itu ya syariat itu sendiri, kedua-duanya tidak bisa kita pisahkan, karena ketika anda mendalami tarekat ya sekaligus anda mendalami juga syariat”. Dengan kata lain, minat anak muda terhadap tarekat tersebut sudah berada di jalan yang tepat.

Sebelum dua tarekat yang sudah saya sebutkan di atas itu berkembang di Maluku akhir-akhir ini, pada masa-masa awal (mungkin sekitar abad 11 atau 12 masehi) sudah berkembang beberapa ajaran tarekat di Maluku seperti Naqsyanbandiyah, Qodariyah, Rifaiyah, tapi penamaan di masyarakat belum ada masa itu. Tuan Guru Chairudin Talaohu menjelaskan,

“Konsep tarekat yang dibawa ialah mursyid dan suluk sehingga nama tidak dibutuhkan saat itu, hal ini terlihat dari lembar-lembar ijazah baiat yang ditemukan pada beberapa daerah di Maluku menunjukkan sebagian masyarakat muslim berbaiat pada mursyid namun penamaan tarekatnya tidak nampak ada pada lembaran tertulis tersebut.”

Setelah para mursyid meninggal dunia maka ajaran tarekat tersebut berubah menjadi kebudayaan yang dipraktikkan masyarakat muslim Maluku. Dengan kata lain, praktik kebudayaan yang berkembang di Maluku terdapat ornamen-ornamen tarekat di dalamnya. Meskipun demikian, kita tidak bisa mengklaim praktik kebudayaan tersebut sebagai ajaran tarekat.

Tuan Guru Chairudin Talaohu menjelaskan, “Jika kita telusuri dari praktik-praktik budaya tentunya klaim tarekat tidak ada, kecuali setelah ada pembuktian tertulis pada ijazah sanad baiat yang diberikan mursyid pada si murid”. Lanjutnya, “Olehnya itu budaya yang berkembang di tengah-tengah masyarakat muslim tidak bisa diklaim sebagai ajaran tarekat tapi budaya sebagai ornamen peninggalan yang membuktikan bahwa ajaran tarekat itu sudah ada sejak dahulu kala di Maluku.”

Ulasan tersebut menunjukkan bahwa ornamen-ornamen tarekat yang ada dalam praktik setiap kebudayaan di Maluku adalah tarekat itu sendiri seperti Tarekat Rifa’iyah, Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah, dan sejumlah tarekat lainnya yang belum diberi nama masa itu. Setelah para mursyid yang membawa tarekat ini meninggal dunia, para mursyid itu kemudian mewarisi praktik tarekat ini kepada masyarakat sehingga lambat-laun berubah menjadi kebudayaan yang belakangan ini tidak bisa diklaim sebagai ajaran tarekat lagi.

Tuan Guru Chairudin Talaohu menegaskan bahwa, “Kebudayaan yang berkembang di tengah-tengah masyarakat muslim itu tidak bisa kita klaim sebagai ajaran tarekat karena mursyidnya sudah tidak ada. Meskipun demikian kita harus melindungi kebudayaan tersebut karena di dalamnya terdapat ornamen-ornamen tarekat yang dibawa para murysid masa lampau.”

Singkatnya, ornamen-ornamen tarekat yang ada di dalam kebudayaan di Maluku sekarang ini harus dilindungi, karena hadirnya kebudayaan tersebut tidak langsung jadi (taken for granted), melainkan melalui pergumulan sejarah yang lumayan panjang. Upaya melindungi kebudayaan yang dipraktikkan masyarakat muslim Maluku sekarang ini berarti sama halnya menghargai para mursyid yang waktu itu membawa ajaran tarekat ke Maluku.

Sikap saling melindungi inilah yang menurut Tuan Guru Chairudin Talaohu adalah ekspresi dari Ahlussunnah wal Jamaah. Hal ini sebagaimana visi Jam’iyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah (JATMAN) sebagai Badan Otonom (banom) Nahdlatul Ulama terkhusus di Maluku memiliki tujuan ialah melindungi dan melestarikan kebudayaan, bukan sekedar saling mengklaim yang berujung pada pertikaian dan kesalahpahaman.

Penulis: Muhammad Kashai Ramdhani Pelupessy (Ketua Pengurus Wilayah MATAN Maluku)
Editor: Khoirum Millatin

Continue Reading

Opini

Hari Santri dan Resolusi Jihad

Published

on

Hari Santri Nasional berdasarkan Kepres Nomor 22 Tahun 2015 diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Ribuan pesantren dan jutaan santri sibuk mengadakan berbagai kegiatan keagamaan dan ritual khusus mengisi hari santri tersebut.

Santri adalah pelajar yang konsen mendalami kitab suci dan ilmu agama di pesantren. Istilah pesantren di sini berasal dari kata santri, diawali pe dan akhiran an, tertulis pesantrian kemudian dibaca pesantren untuk memudahkan penyebutannya.

Setiap pesantren mutlak memiliki pondokan atau asrama sehingga disebut pondok pesantren. Selain pondokan, di pesantren juga mutlak ada mesjid dan kiai (ulama) sebagai guru spiritual yang ikhlas fulltime 24 jam dalam mengawal kegiatan kepesantrenan.

Karena itulah lazimnya di area pondok pesantren, ada rumah kiai dan sederetan rumah-rumah guru yang di antarai mesjid serta bangunan lain seperti pendopo dan ruang belajar.

Para santri harus tinggal di pondok, mereka makan bersama, mengaji, berzikir, berdoa dan salat berjamaah, mengikuti pengajian secara rutin setelah salat magrib, isya, subuh, di tengah malam mereka tahajjud.

Rutinitas lain bagi santri di pesantren yang tidak kalah pentingnya sekaligus membedakannya dengan lembaga pendidikan Islam lainnya adalah transmisi ilmu pengetahuan melalui pengajian kitab sistem halaqah, yakni para santri duduk bersilah melingkar, massulekka di depan kiai.

Saat pengajian kitab para santri duduk dengan cara merapatkan lutut mereka dengan santri sebelahnya, duduk mepet membentuk bundaran yang kemudian disebut mangngaji tudang (Bugis) angngaji mempo (Makassar) atau lazaimnya disebut bandongan dan sorogan atau wetonan mengkaji kitab kuning, kutub alshafra’-yellow book atas bimbingan kiai.

Kehidupan santri mengutamakan kesederhanaan, keikhlasan, tolong menolong, bahkan pengorbanan demi agama bangsa dan negera yang karena itu diakui bahwa kiai-kiai pesantren dan para santri memiliki peran penting dalam perjuangan merebut kemerdekaan.

Resolusi Jihad

Sejarah mencatat bahwa dalam merebut kemerdekaan merenggut banyak nyawa para pejuang dan penjihad dari kalangan santri yang karena itulah bertepatan 22 Oktober 1945 di Surabaya untuk mencegah kembalinya kolonial Belanda yang mengatasnamakan NICA, oleh K.H. Hasyim Asy’ari yang juga sebagai ulama pendiri NU, menyerukan jihad, membela tanah air dari penjajah adalah fardhu ’ain, wajib bagi setiap individu.

Resolusi Jihad sebagai seruan untuk berjihad yang dikobarkan K.H. Hasyim membakar semangat para santri untuk menyerang markas Brigade ke-49 Mahratta dan saat itu, mulai dari 22 Oktober 1945 batas gerak penjajah yang ingin menguasai kembali NKRI terbatas, terkepung selanjutnya tiga hari berturut-turut setelahnya, pimpinan Brigade Mahratta, Jenderal Aulbertin Walter Sotheren tewas bersama kurang lebih 2000-an pasukan Inggris.

Perjuangan pra dan pasca kemerdekaan Indonesia memang tidak terlepas dari peran santri, dan sejak NU didirikan para santri sangat menyadari betapa pentingnya negara ini merdeka dan berdaulat guna memberi ruang bagi agama untuk hidup damai, aman dan sejahtera.    

Pentingnya Hari Santri

Memperingati hari santri ini, sekaligus menjadi animo, harapan dan ekspektasi bagi seluruh komponen bangsa untuk menjadikannya sebagai hari bersejarah sekaligus dijadikan momen penting untuk mengawal NKRI dan mempertebal kecintaan terhadap bangsa, negara, mencintai tanah air sebagai tempat kelahiran kita.

NKRI sebagai tempat kita hidup dan dibesarkan, tempat kita beribadah dan menuntut ilmu, tempat kita mencari rezeki, menyebabkan bukan secara kebetulan jika ikon santri adalah hubbul wathan minal iman, membela dan mencintai tanah air adalah bagian dari iman.

Semangat Hari Santri harus digelorakan, momen Hari Santri ini harus diisi dengan berbagai amaliah dan syiar keagamaan apalagi saat ini hari santri tahun 2022 bersamaan dengan momen Rabiul Awal sebagai bulan maulid Nabi saw. 

Memperingati hari santri juga menjadi spirit pentingnya untuk mengutamakan akhlak dan budaya santri dalam kehidupan. Akhlak santri identik dengan kesabaran, ketabahan, kejujuran, dan keikhlasan.

Sedangkan budaya santri identik dengan sarung dan kopyah atau songkok. Sarung dalam bahasa Bugis disebut lipa adalah simbol ketawaduan yang jika digunakan kerap menjadi perhatian adalah gulungan sarungnya (bida’) turun ke bawah, sehingga sewaktu-waktu harus digulung kembali.

Apabila kita sedang berdiri dan memakai sarung kemudian didatangi oleh kiai, atau orang terhormat gulungan sarung itu (bida’) dinaikkan sedikit sebagai tanda penghormatan walaupun tidak diucapkan dengan perkataan.

Selain sarung, songkok bagi santri menunjukkan keluhuran budi pekerti yang harus dijunjung tinggi karena songkok tersebut letaknya di kepala. Juga secara filosofis songkok bentuknya bundar seperti mangkok kosong yang harus diisi dengan ilmu dan berkah kiai.

Itu juga sebabnya jika kiai akan lewat depan santri dengan refleks biasanya santri menyentuh bagian atas songkoknya dan mengusapnya sekaligus menguatkan posisi songkok di kepala sebab semakin kiai mendekat lewat, santri segera merundukkan kepalanya.

Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamit Thariq.

Oleh: Mahmud Suyuti (Ketua PW MATAN SULSEL)

Pernah Nyantri Tujuh Tahun dan saat ini sebagai Guru Pengajian Kitab di Pondok Pesantren al-Fakhriyah Makassar

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending