Sufisme sebagai Jangkar Perdamaian Internasional

September 18, 2023 - 09:24
November 2, 2023 - 16:43
 0
Sufisme sebagai Jangkar Perdamaian Internasional

Agenda Muktamar Sufi Internasional yang digelar di Pekalongan, pada akhir Agustus 2023 lalu menjadi penanda penting untuk membangun peradaban dan perdamaian dunia, dari jantung spiritualitas Islam. Para ulama sufi berkumpul dari berbagai belahan dunia, untuk bersama-sama membangun konsensus, menguatkan jejaring, saling bersilaturahmi dan memikirkan masalah-masalah mendasar peradaban dunia. Dari diskusi intensif dan halaqah-halaqah yang digelar, menunjukkan betapa kegelisahan para ulama sufi dari berbagai belahan dunia, untuk ikut mencari solusi dari masalah yang terjadi di level internasional.

Agenda ini dibuka oleh Presiden Joko Widodo bersama beberapa menteri dan tokoh publik. Juga, dihadiri ratusan tokoh sufi dari berbagai negara yang hadir pada forum ini. Di antaranya: Syeikh Dr. Muhammad Al-Syuhumi Al-Idrisy (Libya), Syeikh Muhammad Riyadh Bazo (Lebanon), Syeikh Dr. Yusri Jabr, Syeikh Dr. Usama Sayyid Al-Azhari (Mesir), Syeikh Dr. Ibrahim Niyas (Senegal), Syeikh Christoper Sulaiman (Prancis), Syeikh Ahmad Al-Tijani (Ghana) dan beberapa tokoh lain.

Dari forum Muktamar Sufi Internasional tersebut, kita bisa menyimak betapa perhatian besar para ulama waskita dari berbagai negara, untuk terjun langsung membedah masalah-masalah fundamental yang terjadi. Dari perbincangan antar ulama itu, tergambar betapa ulama sufi itu tidak berada di menara gading, tidak menyendiri terpencil berada di majelis dzikirnya. Namun, lebih dari itu, bergerak bersama untuk bersama-sama dengan pemerintah maupun organisasi kemasyarakatan, mencari solusi strategis atas masalah sosial lintas kawasan.

Kita bisa melihat visi besar Maulana Habib Luthfi bin Yahya, yang sangat menaruh konsern untuk menjadikan sufisme sebagai jangkar perdamaian dan peradaban internasional. Habib Luthfi mengerti betul bagaimana masalah-masalah mendasar yang terjadi di bangsa ini, juga masalah-masalah kronis yang mengakar di berbagai negara. Justru dengan pengetahuan dan pemahaman atas masalah sosial-politik dan kemasyarakatan ini, Maulana Habib Luthfi justru bergerak untuk mengajak para ulama sufi untuk bersama-sama mencari solusi. Ini merupakan gerakan yang panjang, yang membutuhkan energi, fokus dan perhatian besar. Dengan kecintaan terhadap umat, rasa perhatian besar terhadap manusia, Maulana Habib Luthfi mempertemukan banyak sekali pihak dari ulama sufi lintas negara, untuk memberi dampak bagi perubahan sosial masyarakat menuju ke arah yang lebih baik.

Muktamar sufi internasional dipungkasi dengan kesepakatan sembilan rekomendasi. Di antaranya terkait pentingnya pengembangan investasi di bidang pertanian, energi terbarukan, pembangunan berkelanjutan, hingga penyadaran untuk pengurangan polusi. Selain itu, pembentukan pasar ekonomi juga menjadi pembahasan mendasar, terutama koordinasi strategis dengan kamar dagang, sektor industri dan pertanian. Muktamar juga menyepakati agar para ulama sufi berkontribusi pada sektor Pendidikan, dengan memberikan sentuhan keimanan bernafas sufisme. Forum juga mendorong pendirian Universitas al-Ihsan, dengan membentuk tim khusus yang bekerja untuk perwujudan ide besar ini. Selanjutnya, Muktamar juga menyerukan proses perdamaian dengan strategi dialog, untuk mempercepat stabilitas politik di Sudan, Nigeria, Yaman, Libya, Suriah dan beberapa negara lain.

Rekomendasi-rekomendasi yang terpublikasi dari forum Muktamar Sufi Internasional menjadi bukti penting bahwa para ulama punya konsentrasi tinggi untuk menyelesaikan masalah-masalah fundamental di level antar negara. Dengan berjejaring dan terkonsolidasi, kekuatan antar para ulama sufi bersama jutaan pengikut yang tersebar di seluruh dunia, menjadi jangkar kekuatan penting untuk merancang peradaban baru di masa depan yang lebih cerah.

Habib Luthfi menyampaikan bahwa sudah saatnya membincang perbedaan pendapat (khilafiyyah) dalam komunikasi yang lebih tepat. “Sekarang ini untuk membangun ukhuwah islamiyyah (persaudaraan Islam) dan ukhuwwah wathaniyyah (persaudaraan sebangsa dan setanah air) dalam ekonomi dan pendidikan, yang mampu menjawab tantangan umat dan bangsa,” jelas Habib Luthfi di hadapan peserta muktamar.

Maulana Habib Luthfi juga menegaskan keprihatinan beliau atas kondisi ekonomi dan pertanian saat sekarang ini. Sektor ketahanan pangan di kawasan Indonesia maupun di seluruh dunia, menjadi perhatian sangat penting serta memerlukan solusi nyata. Maka dari itu, penting membangun persaudaraan antar sesama, yang bisa menjadi fondasi perdamaian.

Sufisme dan Transformasi Sosial

Saya selalu mengingat dawuh Maulana Habib Luthfi bin Yahya, tentang bagaimana menyelaraskan tugas sebagai manusia, keseimbangan spiritualitas dan tanggungjawab sosial. Murabbi ruhina Maulana Habib Luthfi, selalu berpesan untuk terus menjaga dzikir dan wirid rutin sebagai tugas spiritual, tapi tetap mengupayakan yang terbaik di bidang sosial sebagai tugas kita sebagai manusia. Khairun naas anfa’uhum linnas, sebaik-baik manusia itu yang bermanfaat untuk manusia lain. Dengan pedoman ini, maka sufisme tidak berjarak dengan tugas manusia sebagai khalifah fil-adh, tugas mengelola bumi seisinya dengan pengetahuan dan kebijaksanaan menjadi sangat penting.

Saya ingin merefleksikan bahwa hal-hal fundamental yang sudah dibangun oleh Maulana Habib Luthfi bin Yahya, menjadi pondasi penting bagi kita untuk melangkah. Keseimbangan spiritual dan tanggungjawab sosial ini menjadi penting, yang memacu kita untuk terus belajar, berkarya dan memberikan yang terbaik untuk kemanusiaan. Kita juga bekerja di tempat masing-masing dengan niat ibadah, karena semua pekerjaan juga bagian untuk mengabdi, untuk meneruskan khidmah.

Persentuhan saya bersama teman-teman dengan Maulana Habib Luthfi dan para ulama dunia di forum Muktamar Sufi Internasional, seolah menyegarkan jiwa dan membangkitkan semangat untuk berjuang, bekerja dan memberikan khidmah terbaik untuk masyarakat. Peran sosial ini tidak untuk dihindari, tapi diperjuangkan dengan terus belajar, berjejaring dan memberikan yang terbaik, sebagai tanggungjawab untuk menjadi jangkar peradadan (*).

Penulis: Dr. H. M. Hasan Chabibie, Pengasuh pesantren Baitul Hikmah, Depok, Jawa Barat; Ketua Umum Mahasiswa Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah (MATAN).

Sumber: https://timesindonesia.co.id/kopi-times/467301/sufisme-sebagai-jangkar-perdamaian-internasional

Jatman Online Jam'iyyah Ahlith Thoriqoh al-Mu'tabaroh an-Nahdliyyah (JATMAN) merupakan organisasi keagamaan sebagai wadah pengamal ajaran at-thoriqoh al-mu'tabaroh.