Connect with us

Artikel

Sejarah Maulid Nabi Kanzus Sholawat

Published

on

Kanzus Sholawat

Berbicara mengenai sejarah maulid Nabi SAW di Kanzus sholawat ini sulit juga, karena sejarahnya yang panjang, dan saya (Maulana al-Habib Luthfi) meneruskan yang sudah dimulai oleh Sayyid Toha yang bergelar Sayyid Thohir (al-Habib Toha bin Muhammad al-Qadli bin Yahya).

Sayyid Toha pertama kali masuk Indonesia berda’wah dengan gerakan maulid Nabi SAW. Ada yang pakai terbang, ada juga yang pakai gendang jawan. Pada waktu itu belum ada Simthud durar . Yang populer masuk Indonesia Barzanji, ad-Diba’ . maulid Ahzab belum masuk, karena Sayyid Muhammad Ahzab hidup di abad 18, sedangkan Habib Toha hidup di abad 17. Kalau dijumlah, total kitab maulid itu sekitar 360 kitab.

Habib Toha wafat tahun 1202 H. Pertama kali Beliau tinggal di Penang Malaysia. Di zamannya, beliau terkenal sebagai ulama yang sangat ‘alim ‘allamah ahli hadits dan ahli fiqih. Dari Penang kemudian da’wah di Banten, Cirebon, Surabaya, dan terakhir di Semarang. Beliau wafat dan dimakamkan di Depok Semarang, wa qiila di Penang. Beliau punya anak 14 yang terdiri atas 11 laki-laki, dan 3 perempuan. Semuanya itu menjadi awliyaa dan ulama besar.

Lalu maulid diteruskan oleh putra-putra beliau, terutama oleh Habib Hasan Kramat Jati Semarang. Habib Hasan pernah tinggal di Pekalongan. Beliau dimakamkan di Semarang. Semasa hidupnya Beliau berjuang melawan penjajah Belanda dan disegani. Perjuangan beliau di kawasan pantura, dan beliau dijuluki Singa Barong.

Setelah Habib Hasan wafat, maulid diteruskan oleh Habib Toha Ciledug dan adik-adik Habib Toha (Habib Toha bin Hasan adalah putra pertama). Dan kemudian diteruskan oleh putra-putra Habib Toha, diantaranya yaitu Habib Hasyim yang ‘alim ‘allamah, yang wafat dan dimakamkan di Madinah. Lalu Habib Muhsin bin Toha yang berda’wah di Kutai Kalimantan yang wafat dan dimakamkan di Pulau Sinumpak Kalimantan.

Kemudian di teruskan juga oleh Habib Umar bin Toha. Dulu Habib Umar tinggal di Sindanglaut Cirebon. Beliau yang pertama kali membuka pesantren dan melahirkan ulama-ulama besar, khususnya ulama di kawasan Cirebon dan Jawa Barat.

Setelah Habib Umar wafat diteruskan oleh putra dan putri beliau. Diantaranya Habib Hasyim di Pekalongan. Habib Hasyim itu kalangan Habaib yang mendirikan pesantren dan madrasah di wilayah Pekalongan. Sebelum Habib Hasyim banyak pula Pesantren yang melahirkan ulama, seperti Kiai Khomsah Landungsari, Kiai Aghuts Kenayagan, Kiai Murtadlo Sampangan, Kiai Abdul Aziz Banyurip, dan para Kiai tersebut termasuk mensyiarkan maulid Nabi SAW.

Dari Habib Hasyim, para kiai merintis da’wah, diantaranya melalui maulid Nabi SAW, sehingga masyarakat mengenal lebih jauh apa itu Islam, mengerti al-Quran, dan sebagainya dalam Syariat Allah Ta’ala, serta mengenal pembawa al-Quran ialah Baginda Nabi SAW, yang sehingga melahirkan muhibbiin, artinya cinta pada Rasul, pasti cinta pada Allah. Bila tumbuh cinta pada Allah dan Rasul, akan cinta pada al-Quran dan akan lebih berpegang teguh kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul SAW.

Di zaman itu, maulid terbesar di Jawa adalah di Habib Abdullah bin Muhsin Bogor, dan Habib Hasyim bin Umar Pekalongan. Sehingga di Zaman tersebut khusus di Habib Hasyim (masjid An-Nur Pekalongan) dari mulai simpang empat sampai simpang empat terhampar permadani dan tikar di sepanjang jalan. Tidak cukup itu saja, hiasan-hiasan mewarnai tempat dan menjadi keindahan tempat maulid.

Dalam maulid, Habib Hasyim tidak memungut bantuan. Kekayaan Habib Hasyim dicurahkan atau dititikberatkan untuk dunia pendidikan dan da’wah. Penghasilan Habib Hasyim adalah dari Indramayu, tenpat kelahiran beliau, dari pertanian yang cukup luas, dan juga bisnis yang lainnya.

Pada saat wafatnya Habib Hasyim, yang ditinggalkan oleh Habib Hasyim hanyalah masjid, pesantren, madrasah, dan kitab-kitab beberapa lemari, serta dua jubah, satu jubah untuk shalat, satu yang lainnya dipakai saat beliau wafat. Pakaian Habib Hasyim yang baru-baru banyak diberikan pada yang tidak mampu. Habib Hasyim dalam mendidik putra-putra dan santri-santri, beliau tidak memberikan ikan, tapi memberi kail. Maka putra-putra dan murid-murid Habib Hasyim militan dalam da’wah.

Sebelum mendirikan pesantren, da’wah Habib Hasyim dengan masuk ke desa-desa, mengajar di desa-desa, membangun mushala di desa-desa di wilayah Pekalongan. Baru pada tahun 1301 H membuat pesantren. Dari sejak muda, hidup dan dunia Habib Hasyim untuk kepentingan agama. Dari tahun didirikannya pesantren, perkembangan maulid mulai pesat dan ramai di Pekalongan, sehingga menimbulkan kecurigaan di pihak penjajah, namun sulit untuk dihentikan, karena dari pandangan penjajah, maulid yang diadakan Habib Hasyim tidak memiliki tendensi politik.

Pada waktu itu, Habib Hasyim mempunyai pengaruh yang sangat besar, diantaranya Mbah Kyai Hasyim Asy’ari dan Mbah Kyai Amir yang terkenal sebagai orang yang ‘allamah, dan tokoh-tokoh besar lainnya yang menjadikan Habib Hasyim sebagai rujukan. Sehingga pihak penjajah pun berhati-hati dalam menghadapi Habib Hasyim.

Setelah Habib Hasyim wafat, maulid ini diteruskan oleh putra-putri dan menantu, walaupun tidak sebesar zamannya Habib Hasyim. Sehingga maulid itu terus berjalan sampai sekarang yang diteruskan oleh cucu Habib Hasyim, walaupun di tempat lain dengan melalui rintisan yang cukup berat.

Pertama kali saya (Maulana al-Habib Luthfi) mengajar itu lima anak kecil-kecil di Keputran, dan kemudian menjadi banyak dengan da’wah di Pekalongan sampai Jawa Barat. Maulid dirintis dari berapa puluh orang dulu sampai menjadi besar, apalagi setelah terbangunnya gedung sholawat. Dari situ mulai berkembang rangkaian maulid Nabi SAW Kanzus Sholawat.

Tujuan maulid untuk melestarikan bangunan muhibbiin (pecinta Nabi SAW). Karena dengan membangun cinta tersebut, paling tidak akan membuahkan menjauhkan dari perbuatan-perbuatan yang tidak disukai Allah dan Rasul SAW.

Buah dari maulid akan lebih banyak menguak sejarah mutiara-mutiara dari sahabat sampai ulama pewaris Nabi SAW dan pejuang bangsa. Apalagi di zaman seperti sekarang ini, hampir banyak yang melupakan sejarah. Hal yang demikian sangat mengkhawatirkan. Bila umat atau bangsa ini sudah kepaten obor.

Apakah ada dalilnya maulid dan sejarah? Jawabnya ringkas saja, memperingati riwayat hidup orang baik itu baik atau tidak? Apalagi di dalam al-Quran itu sendiri menceritakan kelahiran Nabi Isa as., Nabi Yahya as., Nabi Musa as., Nabi Yusuf as., dan ada beberapa surat namanya nama ulama dan seorang waliyyah diantaranya surat al-kahfi, luqman, dan maryam. Ash-habul kahfi itu ulama, juga sayyidah Maryam bukan Nabi perempuan. Begitu pula al-Quran menceritakan Sayyidah Asiyah yang muminah dan waliyyah yang merawat Nabi Musa as. Andai riwayat kelahiran Nabi Muhammad SAW tidak tercantum di Al-Quran, apakah beliau-beliau itu lebih mulya dari Baginda Nabi Muhammad SAW?

Mari kita belajar mengajak menambah rasa memiliki bersama apa yang di bawa oleh Baginda Nabi SAW dan Nabi SAW sendiri, dengan mengundang tokoh-tokoh dan masyarakat. Menambah wibawa umat Islam karena mau berpegang pada akhlaqul karimah, menjadi kepanjangan tangan Nabi SAW dalam rahmatan lil ‘alamin.

Dengan maulid melahirkan semangat dalam menambah bangunan-bangunan dalam Islam, artinya dalam berda’wah dan menambah sarana pendidikan dan memperkokoh umat dan bangsa, sehingga siap untuk menjawab tantangan umat dan bangsa.

maulid itu sudah menjadi kebanggaan umat dari pribadi sampai melahirkan upacara dalam peringatan maulid tersebut, khususnya dalam ahlussunnah wal jama’ah, bukan berarti yang lain tidak. Yang kebetulan ahlussunnah wal jama’ah di Indonesia ini Mbah Kyai Hasyim Asy’ari membuat wadah yang diberi nama Nahdlatul ‘Ulama yang berasas Islam aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah, tapi ini tidak menafikan Ahlussunnah wal Jama’ah yang lain yang tidak di dalam Nahdlatul ‘Ulama. Di luar negeri Ahlussunnah wal Jama’ah, tapi nama organisasinya berbeda.

Pesan kita dengan maulid Nabi SAW, Baginda Nabi SAW adalah milik kami umat Islam seluruh dunia. Dari itu kita akan lebih memperkokoh ukhuwwah islamiyyah dan ukhuwwah wathaniyyah , sehingga Baginda Nabi SAW menjadi cermin bagi kita semua. Wallahu a’lam

Sumber: https://www.facebook.com/muhammadthoriq.husen

Artikel

Ngopi Online: Tasawuf dan Psikologi dalam Pengembangan Diri

Published

on

By

Jakarta, JATMAN.OR.ID: Kajian psikologi dan tasawuf beberapa tahun belakangan semakin banter dibicarakan kalangan akademis. Tentu banyak faktor yang melatarbelakanginya. Dua ilmu ini ibarat kopi dan gula, sama-sama nikmat diarungi terutama jika dileburkan menjadi satu maka muncul sebuah perkataan; nikmat mana yang bisa didustakan?

Berpijak dari sini, pada Rabu (24/2) Pengurus Wilayah Mahasiswa Ahlith Thoriqoh Al-Mu’tabaroh An-Nahdliyyah (MATAN) DKI Jakarta bekerjasama dengan Lembaga Training Gets Indonesia mengadakan webinar bertajuk “Ngopi Online” (Ngilen).

Webinar ini dikemas dengan konsep santai, namun tidak kehilangan substansi materi yang didiskusikan. Mengangkat tema “Similaritas Psikologi dan Tasawuf dalam Pengembangan Diri”.

Coach Indra Hanjaya sebagai pemateri yang merupakan founder Gets Indonesia dan M. Aqil Syahrian selaku perwakilan dari PW MATAN DKI Jakarta sebagai moderator.

Diskusi ini diawali dengan sambutan yang disampaikan Wakil Ketua PW MATAN DKI Jakarta Idris Wasahua, M.H. dan dari perwakilan Gets Indonesia Sri Herlina, S.Psi.

Ngilen perdana ini, begitu menarik perhatian para peserta karena Keluasan wawasan dan pengalaman Coach Jaya sebagai Spiritual Life.

“Similaritas psikologi dan tasawuf bisa ditemukan dalam psikologi transpersonal,” kata Coach Jaya.

Psikologi transpersonal sendiri merupakan salah satu aliran dalam dunia psikologi yang mengintegrasikan aspek spiritual ke dalam disiplin keilmuannya.

“Psikologi tidak hanya menyentuh aspek pikiran dan perilaku saja, tetapi juga bergerak lebih jauh hingga aspek spiritual yang menyentuh jiwa, hati, dan rasa” ujarnya.

Psikologi semacam ini, telah tumbuh dan berkembang di daerah Timur (termasuk Indonesia) sejak dua ribu tahun yang lalu. Hanya saja, hal itu memang tidak banyak diperhatikan dan disorot sebagaimana psikologi transpersonal beberapa dekade terakhir.

Sementara itu, tasawuf yang berkutat pada tazkiyah al-nufus dan tashfiyah al-qulub merupakan proses pembentukan karakter yang melalui tahapan-tahapan dalam jangka waktu tertentu. Misalnya terdapat trilogi Takhalli, Tahalli, dan Tajalli yang menjadi doktrin umum dalam dunia tasawuf.

Ketiga fase tersebut tidak lain bertujuan untuk menuju insan paripurna, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw. Tak hanya itu, tasawuf di era modern juga bisa diaplikasikan dalam penanggulangan terorisme dan radikalisme; pencegahan korupsi; hingga rehabilitasi pengguna narkoba.

“Gets Indonesia sendiri dalam hal pemberdayaan diri mengembangkan sebuah metode bernama Panca Olah, yakni sinergi antara Olah Pikir, Olah Hati, Olah Rasa, Olah Raga, dan Olah Karsa. Dengan kelima aspek tersebut, seseorang akan mampu mengetahui potensi dirinya, lalu kemudian mengaktualisasikannya dalam kehidupan nyata”, pungkasnya

Lebih lanjut, Coach Jaya menjelaskan, tujuan utama dari penerapan Panca Olah ialah terciptanya revolusi spiritual dalam diri manusia. Revolusi spiritual merupakan sebuah peningkatan dan perluasan kesadaran yang berdampak pada perubahan pemikiran dan tindakan dalam kehidupan sehari-hari.

“Adanya rasa kasih sayang terhadap sesama makhluk hidup di muka bumi, baik itu sesama manusia, tetumbuhan, hewan, dan lain sebagainya itulah hasil dari aktulisasi Panca Olah”, Jelas Coch Jaya.

Dengan hal itu, maka terciptalah harmoni dalam struktur alam semesta secara keseluruhan.

Continue Reading

Artikel

Maqom Kasyaf Imam Ahmad Ibnu Athoillah Assakandari RA.

Oleh: Habib Muhdhor as-Segaf

Published

on

Ibnu Athoillah

Kasyaf adalah merupakan karomah dan karunia Allah yang diberikan kepada seorang hamba yang dikasihiNya. Kasyaf dapat diartikan terbukanya tembok pemisah antara seorang hamba dengan Allah SWT untuk dapat melihat, merasakan dan mengetahui hal-hal ghaib yang sangat sulit diterima oleh akal sehat.

Kasyaf dapat digapai oleh siapa saja yang memiliki kedekatan khusus dengan Allah SWT. Hal itu sebagaimana spa yang telah dijelaskan oleh Syaikh Imam Yusuf ibn Ismail An-Nabhani RA dalam salah satu karyanya yang berjudul Jami’ Karamat Al-Auliya.

Dalam kitab yang memuat biografi 695 wali (di luar wali-wali yang muncul di Asia Tenggara) itu, terlihat jelas betapa para wali rata-rata memiliki kemampuan untuk menggapai mukasyafah. Termasuk di dalamnya Imam Ghazali RA, Ibnu Arabi RA, dan Imam Syafi’i RA. Bentuk kasyafnya bermacam-macam. Sesuai kondisi kehidupan para wali tersebut.

Kaitannya dengan hal itu, Rasulullah SAW pernah mengatakan bahwa, “Seandainya hati kalian tidak dilanda keraguan dan tidak mengajak kalian untuk banyak bicara, niscaya kalian akan mendengar apa yang sedang aku dengar.”

Dalam hadis lain, sebagaimana dinukilkan dari kitab Ihya Úlum Al-Din, Rasulullah SAW berkata, ”Seandainya bukan karena setan yang menyelimuti qalbu anak cucu Adam maka niscaya mereka akan dengan mudah menyaksikan para malaikat gentayangan di jagad raya kita.”

Di dalam al-Quran juga ada isyarat yang memungkinkan seseorang memperoleh kasyaf. Ada beberapa ayat yang mengisyarakatkan demikian. Di antaranya, ayat 37 Surah Qaaf. “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedangkan dia menyaksikannya.”

Salah satu contoh maqom kekasyafan adalah cerita yang dialami oleh Abul Fadhal Yusuf bin Muhammad RA atau yang disebut Ibnun Nahwi dengan gurunya Imam Ahmad Ibnu Athoillah Assakandari RA. Semoga kita memperoleh barokahnya. amin.

Adapun cerita tersebut adalah sebagai berikut.

يقول الامام ابن النحوى ابو فضل يوسف بن محمد رحمه الله حضرت مجلس سيدى ابن عطاءالله السكندرى ذات يوم وهو يومئذ من كبار أهل التصوف فى عصره.

Abul Fadhal Yusuf bin Muhammad RA yang terkenal dengan sebutan nama Ibnun Nahwi, pengubah qashidah al-munfarijah, pernah menceritakan bahwa suatu hari saya menghadiri majlis ilmu guruku Imam Ahmad Ibnu Athoillah Assakandari RA, dan pada saat itu beliau tergolong salah seorang pembesar ahli tasawuf di zamannya.

فنظرت إليه متعجبا من علومه ، فقلت فى نفسى, ياترى الشيخ فى أى مقام من المقامات هو؟

Maka kedua mataku menatap kepadanya dengan penuh kekaguman akan keluasan ilmunya, sembari berkata pada diriku, “Betapa tinggi derajat dan maqommu wahai guruku, namun, ia berada di tingkatan dan maqom yang mana??” dengan penuh penasaran, hatiku bertanya.    

فنظر لى الشيخ و قطع حديثه وقال فى مقام المذنبين العاصين يا بن النحوى.

Eh, ternyata dia tahu bisikan hatiku, dia langsung melihatku, lalu menghentikan perkataanya, seraya mengatakan, “Wahai Ibnu Nahwi, kedudukan dan maqomku adalah kedudukan dan maqom orang-orang yang berdosa dan ahli maksiat,” dengan dengan penuh kerendahan beliau menjawab.

فعجبت من ذلك و لزمت الصمت من هيبته ثم سلمت عليه و انصرفت.

Akupun terkejut mendengar ucapanya itu, aku langsung diam, melihat begitu besarnya haibah beliau, lalu aku mendekat kepadanya dan berjabatan tangan, kemudian pulang.

فرأيت فى تلك الليلة سيدنا رسول الله ﷺ

على مرتبة عالية و الصحابة الكرام حوله و الناس مجتمعون.

Malamnya aku mimpi Baginda Nabi SAW, beliau berada di tingkat yang sangat tinggi dan para sahabat berada di dekatnya, sementara para sholihin berkumpul di sekitarnya.

فقال رسول الله ﷺ: أين تاج الدين بن عطاء الله ؟

Lalu Baginda Nabi SAW bertanya kepada mereka, “Dimana Tajuddin Ahmad Ibnu Athoillah Assakandari?”

فقال : نعم يارسول الله.

Maka dia mendekat kepadanya, dan berkata,”Iya, ini saya ya Rasulullah.”

فقال رسول الله ﷺ تكلم فإن الله يحب كلامك. فتكلم.

Lalu Nabi saw berkata kepadanya, “Berbicaralah, karena Allah SWT senang dengan ucapamu, silahkan berbicara.”

واستيقظت, فجئت لسيدى ابن عطاءالله رضى الله عنه.

Akupun terbangun, lalu esok harinya aku segera menemui guruku Imam Ahmad Ibnu Athoillah Assakandari RA.

فسمعته يتكلم بما سمعته فى الرؤيا أمام سيدنا رسول الله ﷺ.

Begitu sampai dan mendengar apa yang dituturkannya itu, ternyata sama seperti apa yang disampaikan di hadapan Baginda Nabi SAW, yang didengar dalam mimpinya semalam.

فقلت فى نفسى هذا والله هو المقام.

Maka aku langsung berkata pada diriku, “Ohh, ternyata itu maqomnya, sungguh sangat tinggi.”

فنظر لى سيدى ابن عطاء الله السكندرى

وقـــــــــــــــال “وما خفى عنك كان أعظم يا بن النحوى.” رضى الله عن الشيخ ابن عطاءالله السكندرى.

Begitu bisikan hatiku itu berhenti, ternyata dia tahu, maka guruku Imam Ahmad Ibnu Athoillah Assakandari RA langsung menoleh kepadaku dan berkata kepadaku, “Wahai Ibnu Nahwi, apa yang belum kamu ketahui tentang diriku ini masih banyak.”

Wallahu a’lam.

Continue Reading

Artikel

Fase Kehidupan di Alam Dunia (1)

Kupas Tuntas Perjalanan Hidup Manusia dalam Lima Alam

Oleh: DR. KH. M. Hamdan Rasyid, MA

Published

on

Fase kehidupan di alam dunia, dimulai sejak manusia dilahirkan oleh Allah SWT dari perut ibunya dan berakhir ketika diwafatkan oleh Allah SWT. Sesudah mengalami kehidupan di alam rahim selama kurang lebih sembilan bulan, janin tumbuh dan membentuk diri sehingga menjadi bentuk yang sempurna, maka dengan izin Allah SWT manusia terlahir dari perut seorang ibu ke alam dunia ini dengan perjuangan yang sangat melelahkan antara hidup dan mati.

Sesudah lahir di alam dunia, manusia akan mengalami berbagai perkembangan menuju kematangan dan kedewasaan, kemudian kemunduran menuju masa tua dan kematian. Perkembangan adalah serangkaian perubahan progesif yang terjadi sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman. Menurut Van den Daele “Perkembangan berarti perubahan secara kualitatif”. Ini berarti bahwa perkembangan bukan sekedar bertambahnya berat atau tinggi badan serta kemampuan seseorang. Perkembangan adalah suatu proses integrasi dari banyak struktur dan fungsi yang kompleks. Di dalam perkembangan ini ada dua proses yang saling bertentangan yaitu pertumbuhan atau evolusi dan kemunduran atau involusi. Kedua proses ini terjadi mulai dari pembuahan dan berakhir dengan kematian. Manusia tidak pernah statis, semenjak pembuahan hingga kematian manusia selalu mengalami perubahan, baik kemampuan fisik maupun psikologis.

Plaget menuturkan bahwa dua struktur itu “tidak pernah statis dan sudah ada semenjak awal”. Dengan kata lain bahwa organisme yang matang selalu mengalami pembuahan yang progesif sebagai tanggapan terhadap kondisi yang bersifat pengalaman dan mengakibatkan jaringan interaksi yang majemuk. Fakta yang penting dari perkembangan adalah bahwa dasar-dasar permulaan adalah sikap kritis, kebiasaan, dan pola perilaku yang dibentuk selama bertahun tahun. Tahun pertama sangat menentukan seberapa jauh individu-individu berhasil menyesuaikan diri, baik dalam penyesuaian diri pribadi maupun penyesuaian sosial. Keberhasilan

dalam menyesuaikan diri pada masa ini sangat mempengaruhi perkembangan dalam kehidupan pada masa-masa berikutnya hingga ketika manusia bertambah tua. Beberapa proses yang kompleks dari perkembangan manusia adalah sbb:

  1. Proses Fisik (physical process) yaitu perubahan yang bersifat biologis. Dari gen yang diwariskan orang tua, perubahan hormon selama hidup, bertambahnya tinggi badan, berat badan dan kemampuan motorik seseorang telah mencerminkan perkembangan biologis menuju kepada kematangan (maturation).
  2. Proses Kognitif (cognitive process) yaitu perubahan yang terjadi dalam diri seseorang yang meliputi daya pikir, kecerdasan dan bahasa individu. Seperti bagaimana mengingat alamat rumah, pelajaran, menyusun kalimat, mengetahui warna-warna benda. Semua itu menunjukan peranan proses kognitif dalam perkembangan.
  3. Proses Sosial Emosional (socio-emotional process) yaitu proses perubahan yang terjadi pada emosi seseorang serta dalam berhubungan (berinteraksi) dengan orang lain. Emosi dapat mempengaruhi perubahan jasmaniah seseorang yang tampak dalam memberikan respon atau tanggapan terhadap suatu peristiwa.

Ketiga macam proses di atas, baik proses fisik, kognitif maupun sosial emosional saling berkaitan satu sama lain. Sebagai contoh, proses emososial membentuk proses kognitif. Proses kognitif mendukung atau membatasi proses sosial-emosional. Sementara proses fisik mempengaruhi proses kognitif. Semua ini akan selalu bergantung satu sama lain. Jadi manusia tidak akan bisa terlepas dari ketiga proses ini karena pada dasarnya manusia akan selalu mengalami perubahan dari pembuahan sampai kematian, baik dari segi fisik maupun psikologis.

(Bersambung…)

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending