Riwayat Syekh Nasidan bin Aidan, Sang Waliyullah dari Panongan Tangerang

Mengenali Jejak Sang Wali
Bermula dari peristiwa yang dialami oleh KH. Hafis Gunawan, pengasuh Pesantren Miftahul Khaer Curug Tangerang. Suatu malam ulama yang akrab disapa Abi Hafis bermimpi dituntun untuk mengenali leluhurnya yang ternyata dimakamkan tidak jauh dari tempat tinggalnya di Kampung Kebon Pasiripis Desa Ranca Iyuh, Kecamatan Panongan, Kabupaten Tangerang atau sekitar 150 meter dari Pesantren Miftahul Khaer II yang ia bina.
Situasi kebatinan yang dirasakan Abi Hafis terkait petunjuk untuk membabat lahan yang masih alas dan penuh semak belukar, ular-ular tanah yang puluhan jumlahnya itu rupanya menumbuhkan kesadaran untuk kemudian menggali lebih detail lahan yang diduga adalah kuburan Uyut Icang, nama panggilan dari Syekh Nasidan bin Aidan.
Area tanah yang rapat oleh pepohonan dan semak belukar, menjadi terbuka ketika telah diketahui betul makam yang dicari tersebut. Adapun proses penggalian jejak makam memakan waktu berbulan-bulan. Proses itu kemudian diteruskan dengan membangun suatu bangunan berbentuk pasarean (tempat penziarahan).
Jejak yang paling utama dalam penemuan makam ini adalah batu nisan. Karena pada batu nisan yang ditemukan terdapat relief (semacam goresan muka kepala) yang sekilas relief itu mirip dengan nisan-nisan dari raja-raja Majapahit. Anehnya batu nisan tersebut mengeluarkan aroma wangi yang tidak hilang-hilang. Wanginya yang khas, seperti misik.
Setelah usainya pembukaan lahan makam keramat Uyut Icang oleh Abi Hafis, batu nisan dan beberapa buah batu yang ada di sekitaran makam tersebut kemudian difoto dan dikirimkan kepada Habib Maulana Lutfi di Pekalongan melalui Habib Muhdor Assegaf Pemalang. Atas ‘penalaran langit’, Habib Lutfi telah menduga dan memastikan bahwa nisan itu menunjukan jasad yang terpendam ratusan tahun silam yang tidak lain adalah Uyut Icang dan merupakan salah seorang waliyullah. Habib Luthfi juga menyebutkan bahwa Uyut wafat pada 13 Jumadil Akhir 1305 Hijriah bertepatan dengan Hari Jumat, 25 Februari 1888. Selain informasi tersebut, Habib Luthfi juga memberi pesan untuk mendirikan fasilitas yang memadai bagi para peziarah nantinya.
Riwayat Hidup
Menurut penelitian dan informasi dari Habib Umar bin Salim Al Haddad Pasuruan, bahwa Syekh Nasidan bin Aidan atau masyhur dipanggil Ki Buyut Icang atau Uyut Icang hidup di abad 19 M dan wafat pada usia 75 tahun.
Uyut Icang adalah seorang ulama sufi yang wara’i, zuhud, sekaligus sebagai guru (mursyid) tarekat. Masih menurut pitutur bahwa Uyut Icang menganut Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Jika benar demikian, berarti ada hubungannya dengan Syekh Abdul Karim Tanara, seorang Mursyid Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Sebab era itu posisi sentral dari jaringan tarekat di tanah air selalu dihubungkan dengan beliau.
Pada masanya, Uyut Icang telah menyaksikan sekaligus ikut terlibat aktif dalam berbagai peristiwa yang dilatari prinsip nasionalisme dan hubbul wathan. Pemberontakan petani Banten terhadap pemerintah kolonial Belanda terjadi dalam beberapa tahap, yaitu pada 1850, 1888 dan 1926.
Bagi pandangan Kolonial Belanda, ulama yang berpengaruh atau kaum intelektual lainnya dianggap musuh, meski tidak melakukan kekerasan. Akibatnya muncul kebencian rakyat terhadap pemerintah Belanda yang dianggap telah melakukan kekejian dan kesewenang-wenangan terhadap para ulama selaku panutan mereka.
Sementara bagi pandangan beberapa sejarawan bahwa perlawanan yang paling besar adalah pemberontakan petani Banten pada 9 Juli 1888, atau disebut dengan Geger Cilegon 1888 yang diinisiasi dari Mekkah dan diperjuangkan oleh kiai-kiai alumni Mekkah yang sudah menetap di Banten. Geger Cilegon adalah anti klimaks dari perlawanan kaum ulama dari perjalanan panjangnya melawan hegemoni kolonialisme Belanda di tanah air.
Jelang Geger Cilegon 1888, Dimulai pada bulan Februari hingga April 1888, para ulama dari Serang, Banten dan Tangerang telah mengadakan pertemuan. Mereka adalah Kiai Marjuki, Kiai Asnawi, Kiai Iskak, Kiai Wasid, dan Kiai Ismail.
Kuat dugaan, Uyut Icang ikut juga dalam andilnya peperangan Geger Cilegon yang pecah di pertengahan tahun 1888, meski secara geografis terlalu jauh untuk dikaitkan karena kehidupannya di Panongan Tangerang. Tetapi jejaring tarekat itulah indikasi ada peran Uyut Icang dalam perjuangan para ulama dalam melawan penjajah Belanda di seluruh wilayah karesidenan Banten.
Karamah dan Keistimewaan
Sebelum lokasi makam Uyut Icang ditemukan secara spesifik, pernah ada seseorang yang berniat membakar sampah tepat di atas makam tersebut. Anehnya, setiap kali orang tersebut menyalakan api, seketika api itu padam. Berita tersebut kemudian sampai kepada ayah dari Abi Hafis dan langsung menduga bahwa lokasi itu adalah makam Uyut Icang. Setelah digali cukup dalam, benar saja, ditemukan sebuah batu nisan di dalamnya sebagai penanda makam, yang sangat berbeda dengan makam-makam lain di sekitarnya.
Berdasarkan keterangan Abi Hafis yang mendapatkan cerita turun-temurun dari keluarganya dan masyarakat sekitar, Uyut Icang pernah berjalan di atas air serta mampu mempersingkat jarak tempuh dengan cukup berjalan kaki atau masyhur disebut ilmu lipat bumi.
Kelebihan-kelebihan yang tampak di pribadi Uyut Icang adalah buah dari lelaku spiritualitasnya sebagai seorang sufi dan wali. Karamahnya pun semakin dirasakan belakangan ini meski sudah terkubur ratusan tahun silam.
Makamnya kini ramai diziarahi banyak orang dari berbagai daerah bukan hanya daerah Tangerang tetapi juga daerah lain di provinsi Banten, bahkan ulama dan Habaib dari Lebanon, Palestina pernah menziarahi makam tersebut.
Beberapa kejadian mistis di seputar makam Uyut Icang juga yang dialami oleh para peziarah juga selalu berbeda-beda, dan itu artinya ada hubungannya dengan persoalan dan niatan masing-masing para peziarah. Wallahu a’lam.
Penulis: Hamdan Suhaemi
Editor: Khoirum Millatin