Connect with us

Artikel

Rasulullah SAW Suri Tauladan yang Sempurna

Oleh: Risky Aviv Nugroho, M.Pd.

Published

on

Tauladan
Illustrasi

Islam merupakan agama yang mengajarkan kasih sayang dan perdamaian. Makna Islam sendiri adalah damai. Ajaran Islam yang dibawa melalui perantara Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah SWT. seharusnya selalu membawa kesejukan bagi seluruh umat manusia di dunia. hal tersebut terbukti oleh sosok Nabi Muhammad SAW sendiri sebagai representasi dari ajaran agama Islam. sifat, sikap, dan perilaku Beliau yang paling sempurna mencerminkan nilai-nilai Islam.

Nabi Muhammad SAW diturunkan dan diutus oleh Allah SWT ke muka bumi ini sebagai pembawa rahmat atau kasih sayang bagi seluruh alam semesta ini.  Sebagaimana Firman Allah SWT dalam QS. Al-Anbiya’ ayat 107 sebagai berikut:

وَمَآ أَرْسَلْنَٰكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَٰلَمِينَ

Artinya: “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”

Sudah sepantasnya sebagai umat nabi Muhammad SAW kita jadikan Beliau sebagai sumber pedoman dan pegangan dalam menjalankan segala aktifitas kehidupan ini. Senada dengan ayat diatas, apabila kita ingin mendapatkan kebahagian dan keselamatan, maka kita harus menjadikan rosulullah saw. sebagai suri tauladan dan pedoman hidup kita. Sebagai muslim, beriman kepada Nabi Muhammad SAW adalah bagian dari rukun iman.

Dalam proses dakwah Islamnya, akhlak luhur dan mulia menjadi pondasi utama Nabi Muhammad SAW di hadapan manusia dan bangsa yang beragam, baik itu dari rakyat jelata, pejabat, hingga raja. Beliau juga memberi teladan yang baik kepada sahabat, suku, dan kelompok-kelompok dari berbagai agama. Adil dan bijaksana selalu dikedepankan oleh Nabi setiap melakukan suatu tindakan apapun. Tidak pernah menyakiti maupun membuat kecewa salah satu pihak di tengah beragamnya perbedaan pendapat, perbedaan suku maupun agama.

Nabi Muhammad SAW diutus ditengah kondisi arab pada waktu itu sangat memprihatinkan. Kejahilan kafir quraisy dan minimnya akhlak pada saat itu sudah menjadi hal wajar bagi kaum arab. Hadirnya Nabi Muhammad SAW menjadi angin segar bagi masyarakat yang mampu menerima hidayah dan petunjuk risalah yang dibawa oleh Nabi. Memang, sesungguhnya Nabi Muhammad SAW diutus  utamanya adalah untuk menyempurnakan akhlak umat manusia. Sebagaimana Nabi Muhammad SAW bersabda:

(انّما بعثت لاتمم مكارم  الاخلاق (رواه البخارى

Artinya: “Sesungguhnya aku diutus (di muka bumi ini) untuk menyempurnakan akhlak.” (HR. Bukhori)

Akhlak Rosulullah SAW merupakan paket lengkap yang dapat dijadikan sebagai rujukan utama bagi umat Islam dalam menjalankan segala aktifitas kehidupannya. Seluruh perilaku terpuji semua ada pada Nabi. Berikut akan dijelaskan beberapa sifat dan perilaku Nabi Muhammad yang mencerminkan sifat kasih sayang Beliau serta keteladanan yang dapat kita ambil.

Pertama, Nabi Muhammad SAW sampai mendapat gelar “Al-Amin” (orang yang dapat dipercaya) dikarenakan sifat jujur, adil, amanah, menyampaikan kebaikan, dan cerdas yang luar biasa. Sifat ini bisa kita teladani dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, apabila orangtua kita minta bantuan untuk belanja di warung, ada sisa kembalian, maka kita harus mengembalikan uang sisa tersebut kepada orangtua. Percayalah, apabila kita jujur, maka kita akan mendapat balasan baik dari Allah SWT serta mendapat kasih sayang dari orangtua, teman, guru bahkan kita akan mendapat kasih sayang dari Nabi Saw.

Kedua, Kasih sayang Rosulullah SAW terhadap anak-anak, keluarga, orangtua, dan masyarakat. Rosulullah SAW . sangat menyayangi keluarganya, anak-anaknya serta umatnya. Nabi Muhammad SAW sampai bersabda, “Barangsiapa tiddak mau berbelas kasih, maka ia tidak akan mendapatkan belas kasih.” (HR. Bukhori dan Muslim). Hadits tersebut menjelaskan kepada kita bahwa apabila kita ingin mendapat kasih sayang dari orang lain, maka kita harus mengawalinya dari diri kita sendiri untuk bisa bersikap belas kasih kepada orang lain.

Rosulullah SAW sebagai panutan memberi contoh, Beliau tidak pernah menyakiti hati orang lain. Sebagaimana hadisnya “Barangsiapa yang beriman kepada Allah SWT. dan Hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhori dan Muslim). Dalam hadis itu rosul menjelaskan bahwa kita harus senantiasa berkata yang baik atau jika tidak bisa maka diam lebih baik. Berkata baik memiliki arti perkataan tersebut baik diucapkan dan tidak menyinggung perasaan siapapun. Sehingga apabila kita berkata meskipun itu kita anggap baik tapi dapat menyinggung orang lain maka sebaiknya diam.

Ketiga, Rosulullah Saw. mengajarkan kita untuk peduli terhadap lingkungan. Beliau memberi contoh antara lain, selalu hemat dalam menggunakan air; itu dibuktikan pada anjuran beliau agar tidak berlebihan dalam pemakaian air dalam berwudlu’. Selain itu, Nabi Muhammad SAW juga mengajarkan untuk tidak melalukan kerusakan di muka bumi ini.

Keempat, Nabi Muhammad SAW merupakan pembawa rahmat bagi alam semesta. Sebagaimana dalam QS. Al-Anbiya:107 bahwa Nabi Muhammad SAW diutus oleh Allah sebagai pembawa rahmat/kasih sayang bagi alam semesta. Beliau Nabi Muhammad SAW dalam setiap dakwahnya selalu mengedankan akhlak. Karena akhlak merupakan pintu gerbang diterimanya ajaran Nabi Muhammad Saw dari zaman Nabi SAW sebagai model utama dan pertama hingga zaman sekarang dan sampai hari kiamat.

Sebagai umat Islam dan tentu sebagai umat dari Nabi Muhammad Saw, kita harus menjunjung tinggi ajaran beliau. Ajaran Nabi Muhammad SAW adalah ajaran yang penuh dengan tauladan yag sempurna. Adapun tauladan yang bisa kita ambil dari ajaran Nabi Muhammad SAW banyak sekali.

Diantara suri tauladan rosulullah saw, yang dapat kita praktekkan dalam kehidupan sehari-hari adalah: a) menghormati orang yang lebih tua, dan menyayangi yang lebih muda, b) berperilaku sopan dan santun baik terhadap orangtua, guru, maupun orang lain, siapapun itu, c) menjaga lingkungan sekitar agar selalu bersih karena kebersihan adalah bagian dari Iman, d) selalu mengedepankan akhlak dalam bertindak dan berperilaku, e) menebar cinta kasih kepada seluruh makhluk di dunia ini sehingga dapat tercipta suasana yang aman, damai, dan bahagia.[]

Artikel

Firasat Murid ke Gurunya

Published

on

Firasat Murid ke Gurunya

Mursyid Khalwatiyah Syekh Yusuf al-Makassariy, al-Habib Syekh Sayyid Abd Rahim Assegaf Puang Makka atau yang kerap disapa dengan Habib Puang Makka, memiliki sejumlah guru tarekat.

Ada tiga gurunya di Makassar yang sangat berjasa, abahnya sendiri yakni Habib Puang Ramma, Habib Thahir Assegaf dan Allamah Nashirus Sunnah AG. KH. Muhammad Nur.

Saat haul ke-10 AGH. Muhammad Nur (29/06/2021) puang Makka masih di Jakarta, Duren Sawit kediaman gurunya juga, maulana Habib Luthfi bin Yahya. Selama seminggu Puang Makka di Jakarta dan kemarin (kamis/01/07) Puang sudah tiba di Makassar, Alhamdulillah.

Puang Makka mengenang 10 tahun gurunya Allahuyarham AGH. M. Nur dengan doa khusus dan kembali mengingat momen-momen kebersamaanya antara lain saat bersama di Muktamar NU ke-27 tahun 1984 di Situbondo.

Saat puang makka hendak mengantar jamaah umrah tahun 2011, seminggu sebelumnya ada firasat dalam hati akan kepergian sang guru ahli hadis dengan gelar Nashirus Sunnah ini sehingga Puang Makka bergegas ke RS Faisal Makassar menjenguk gurunya, AGH. M. Nur

Tabe Puang Anre gurukku, “kidoakan nga”. Demikian kata puang Makka di hadapan AGH. M. Nur sambil digenggamnya tangannya tanpa bicara tapi ada isyarat khusus yang disampaikan.

Setelah didoakan dan izin pamit, Puang Makka berangkat umrah keesokan harinya dan saat tiba di Mekka, Puang Makka mendapat berita tentang wafatnya sang guru AGH. Muhammad Nur. [Dr. K. M. Mahmud Suyuti, MAg.]

Continue Reading

Artikel

Ngaji Ihya Ulumiddin Bersama KH. Ali M. Abdillah: Suluk untuk Membersihkan Kotoran Batiniah

Published

on

Ngaji Ihya Ulumiddin Bersama KH. Ali M. Abdillah: Suluk untuk Membersihkan Kotoran Batiniah

Manfaat Uzlah/Suluk adalah selamat dari segala bentuk kemaksiatan. Sebagaimana orang yang melakukan mukhalatah (hidup di tengah masyarakat namun tahan pada pengaruh buruk). Imam al-GHazali menerangkan ada empat penyakit kronis yang dapat dihindari saat seorang Uzlah yaitu: ghibah (bergosip), namimah (fitnah), riya (terpesona dengan kehendak diri sendiri) dan suqut anil amri wa nahi ala munka (diam dari perintah berbuat benar dan melarang kemungkaran).

Dalam bab riya, Imam al-Ghazali menjelaskan riya adalah melakukan sesuatu untuk mencari perhatian makhluk bukan karena Allah. Biasanya pelakunya jika melakukan sesuatu akan semangat apabila dilihat dan disanjung banyak orang. Riya ini termasuk penyakit kronis yang sulit dihilangkan. Bahkan wali abdal dan autad merasa kesulitan menghadapinya.

Riya termasuk syirik yang tersembunyi (syirik khafi). Rasulullah saw. telah mengingatkan bahwa yang paling beliau takutkan dari umatnya adalah bila seorang terjangkit syirik asghar yaitu riya. Riya bisa dihilangkan dengan mengamalkan ilmu tarekat yakni riyadhah mujahadah dan dzikir nafi isbat لا إلهَ إِلاَّ اللهُ

Jika sudah memahami makna substansi zikir nafi isbat, maka riya akan tergeser. Setelah istikamah dzikir nafi isbat kita juga akan memahami siapa diri kita dan mudah mengucapkan لاحول ولاقوة الا بآلله العلي العظيم

Selain itu, manfaat istikamah zikir nafi isbat, riyadhah dan mujahadah (suluk) adalah menguatkan ruhani sehingga memiliki filter bagi diri dari pengaruh lingkungan buruk. Karena karakter seseorang terbentuk dari keadaan lingkungannya. Maka ada ungkapan kalau kita berteman dengan tukang abu kita akan ketiban abunya dan bila kita berteman dengan tukang minyak wangi maka kita juga akan wangi.

Penyakit buruk akan menjadi penyakit yang terpendam. Maka sedikit sekali orang yang mengerti, apalagi dia orang yang ghofilin atau lalai. Jika orang yang istikamah zikir dan ia memiliki power saat berkumpul dengan orang yang karakter buruk, maka efek dari zikir ini akan bisa menjaga kita dari ketularan tabiat buruknya. Seolah-olah kita diberi penjagaan Allah untuk tidak mengikuti. Ini jika memiliki tameng ruhani. Jika kita tidak istikamah maka akan mudah mengikuti.

Selanjutnya Imam al-Ghazali mengutip sebuah hadis Rasulullah saw. bersabda bahwa kamu akan menemukan manusia yang paling buruk yaitu yang memiliki dua wajah, dia datang kepada satu kelompok dengan satu wajah dan pada yang lain dengan satu wajah. Inilah ciri oraang yang terjangkit riya, yaitu mudah menjadi orang munafik. Dia tidak memiliki prinsip.

Ada satu cara lain untuk merubah watak yang buruk yaitu dengan sering mendengarkan kebaikan maupun keburukan, terlebih menyaksikan perbuatan itu langsung. Kalau kita berkumpul dengan orang yang biasa bohong maka bisa dilihat kalau ia sehari tidak bohong rasanya kurang lengkap. Kalau berkumpul dengan orang baik, ia akan mengambil banyak hikmah darinya.

Inilah rahasia sabda Rasulullah saw. bawa ketika kita duduk bersama-sama mengingat orang salleh dan ilmunya maka akan turun rahmat pada kita. Yang bentuknya kita diberi pemahaman baik buruk sehingga tidak melakukannya. Dan masuk ke dalam surga dan berjumpa dengan Allah.

Dengan mengkaji ilmu orang saleh dan mengingatnya dalam diri kita akan muncul sifat rahmat dan tergerak memiliki kesungguhan untuk mengikuti langkah mereka dalam melakukan kebaikan.           Maka dari itu penting untuk istikamah mengkaji ilmu tasawuf dan praktek suluk tarekat (zikir, riyadhah mujahadah) agar kita dapat menaikkah vibrasi positif di dalam diri dan memulai untuk melakukan kebaikan. Tentu saja dengan proses yang tidak sebentar dan tahan dengan segala dinamika perjalanan pengamalannya. [Silvia Bidayah Nafsani]

Al-Rabbani Islamic College Cikeas, 10 Juni 2021

Continue Reading

Artikel

Fase Kehidupan di Alam Dunia (3)

Kupas Tuntas Perjalanan Hidup Manusia dalam Lima Alam

Oleh: DR. KH. M. Hamdan Rasyid, MA

Published

on

Fitrah dan Potensi Manusia

Fitrah dan Potensi Manusia

Agar manusia mampu melaksanakan berbagai tugas dan tanggungjawab yang telah diamanahkan kepada mereka sesudah aqil baligh (dewasa), maka sejak lahir di alam dunia, bahkan sejak hidup di alam ruh, setiap manusia telah diberikan fitrah (potensi) keyakinan terhadap adanya Allah SWT, Dzat Yang Maha Esa, Tuhan yang Maha Mencipta, Mengatur kehidupan dan Menganugerahkan seluruh kebutuhan manusia inilah yang disebut fitrah beragama.

Sebagaimana difirmankan dalam surat Ar-Rum ayat 30;

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.

Pengertian fitrah pada ayat di atas adalah naluri yang diciptakan oleh Allah SWT. Yakni manusia diciptakan oleh Allah SWT dengan memiliki naluri beragama, yaitu agama tauhid, agama yang mengakui keesaan Allah SWT. Oleh karena itu, kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka hal itu tidaklah wajar dan merupakan penyimpangan dari fitrahnya. Mereka tidak beragama tauhid tersebut hanyalah semata-mata karena pengaruh lingkungan hidup mereka, terutama pendidikan yang ditanamkan oleh kedua orang tua mereka. Sebagaimana telah disabdakan oleh Rasulullah SAW dalam hadits shahih:

“Setiap bayi yang dilahirkan pasti membawa fithrah (agama Islam). Kedua orang tuanya-lah yang menjadikan bayi tersebut memeluk agama Yahudi , Nasrani atau Majusi”.

Selain membawa potensi agama Islam, setiap bayi yang dilahirkan juga telah dilengkapi dengan berbagai potensi jasmani dan rohani yang dalam perkembangannya berbagai potensi tersebut teraktualisasi dalam bentuk pendengaran, penglihatan, daya berpikir dsb. Sebagaimana difirmankan dalam surat al-Nahl (16) ayat 78:

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberikamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur”.

Dalam mengarungi kehidupan di alam dunia ini, manusia tumbuh dan berkembang mulai dari bayi, masa kanak-kanak, masa remaja, masa dewasa, masa setengah baya, masa tua dan tua renta, akhirnya wafat. Sungguh pun demikian ada di antara manusia yang wafat dalam usia muda belia atau sangat tua renta. Sebagaimana difirmankan dalam surat al -Nahl (16) ayat 70:

“Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu. Dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada umur yang paling lemah (pikun), supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang pernah diketahuinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa”.

Jadi pada dasarnya, masa kehidupan manusia di alam dunia ini sangat relatif. Akan tetapi pada umumnya, kehidupan umat Nabi Muhammad SAW di alam dunia ini, rata-rata berkisar antara 60 (enam puluh) hingga 70 (tujuh puluh) tahun. Ada yang kurang ada pula yang lebih. Sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW:

“Umur umatku (rata-rata) adalah berkisar antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun.”[]

Bersambung….

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending