Connect with us

KH. Ali M. Adbdillah

Ngaji Kitab Bidayah al-Hidayah (1)

Bersama KH. Ali M. Abdillah

Published

on

Bidayah al-Hidayah

Kitab Bidayahal-Hidayah. Kitab ini adalah risalah mendapatkan petunjuk. Ditulis oleh Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazali at-Thusi, lahir di kota Thus didekat kota Masyhad Iran, lahir pada tahun 1058 M dan wafat pada tahun 1111 M. Imam al-Ghazali mendapatkan gelar Hujjjatul Islam yakni sang pembela Islam karena ketinggian akhlaknya dan kedalaman ilmunya. Kitab Bidayah al-Hidayahh ini sebagai modul perkenalan untuk mendalami kitab Ihya Ulumidddin.

Kajian kitab Bidayah al-Hidayah di Pondok Pesantren al-Rabbani Islamic College asuhan Dr. KH. Ali M. Abdillah ini diijazahi langsung oleh ulama Sufi asal Damaskus yakni Syeikh Yasir al-Qadhmani. Syeikh Yasir menyarankan untuk mengkaji kitab Bidayah al-Hidayah dan Ihya Ulumiddin. Karena tujuan dari Imam al-Ghazali saat menulis kitab ini jelas. Yakni sebagai panduan menuju Allah Taala. Maka bagi para Salik pemula dianjurkaan untuk mempelajari kitab ini agar mendapatkan pemahaman yang utuh dan dasar pengetahuan yang kokoh. Sebab bila Salik yang dasar pemahamannya belum kokoh akan mudah tergelincir oleh godaan hawa nafsu sehingga sulit mencapai tujuan utama.

Setelah mempelajari kitab Bidayah al-Hidayah ini insyaallah Salik dapat mengamalkan ilmu Tasawuf dengan tertib. Sebagaimaana dawuh Ulama Muhaqqiqin bahwa pratik syaruat, hakikat dan makrifat dapat diamalkan sekaligus tanpa dipilah-pilah. Sering kali terjadi, seorang yang mengaku mempelajari ilmu Hakikat hanya mempraktikkan hakikatnya saja dan meninggalkan syariat, tentu ini keliru. Dan orang yang hanya mengamalkan syariat tanpa hakikat tidak dapat merasakan nikmat dalam beribadah.

Di Mukamddimah, Imam al-Ghazali menuliskan kalimat  بسم الله الرحمن الرحيم . Dalam tradisi ulama salaf saat menulis kitab pasti diawali dengan menulis kalimat بسم الله. Penulisan ini bukan tanpa alasan. Sebab bila diurai, kalimat  بسم الله  memiliki makna yang dalam.

بسم الله terdiri dari huruf ب kata اسم dan الله. Jika dijumlah seluruh kalimat بسم الله الرحمن الرحيم terdapat 20 huruf. Dari 20 huruf ini ada satu huruf yang nyata namjn tersembunyi. Yaitu huruf ا (alif). اسم kemasukan huruf ب yang menjadi mudhof dan mudhof ilaih الله jadilah بسم الله yang huruf alifnya hilang.

Sedang dalam kalimat lain اقرأ باسم, hurut alifnya nampak. Ini maksudnya ialah bahwa dibalik tidak adanya huruf alif dalam بسم الله sebagai simbol tentang wujud Allah Taala nyata dan madhar-Nya di alam semesta yang kita saksikan. Jadi ketika seseorang membaca بسم الله artinya ia mengembalikan semuanya hanya kepada Allah Taala.

Lalu الرحمن bermakna Allah Taala memiliki kasih sayang tiada batas. Wujud alam semeta ini sebagai wujud rahman-Nya. Sekalipun bentuknya beragam. Maka jika seorang dapat memahaami ini, ia akan mudah ingat dan mengembalikan semua terjadi atas kehendak Allah sebagai tajalli sifat rahman-Nya Allah. Allah tidak memilih-milih dalam berkehendak. Orang yang ahli dzikir tidak dikehendaki kaya raya oleh Allah dan orang yang tidak ahli dzikir dikehendaki kaya raya oleh Allah, misal.

Kemudian الرحيم bermakna sifat Allah ini diperuntukkan pada orang yang dipilih oleh Allah. Allah menurunkan hidayah hanya pada yang dipilih. Maka hamba ini dapat mengimani rukun iman dan menjalankan rukun Islam. Dan di akhirat kelak Allah akan menampakkan sifat rahim-Nya. Seorang yang di dunia taat pada Allah akan diberi fasilitas dan kenikmataan surga. Sedabg ahli maksiat akan diberi balasan yang setimpal.

Jika seorang dapat membaca بسم الله dengan keyakinan yang kokoh maka apabila sedang makan nasi, misalnya. Orang ini akan merasakan betapa nikmatnya dapat makan nasi. Sebab ia ber-tafakkur tentang Allah Taala. Bahwa proses nasi yang ada dihadapannya melibatkan banyak jiwa dan kini dengan mudah ia dapatkan. Dan hasil dari tafakkur ini ia tak pernah menyia-nyiakan apapun yang ada dihadspannya dan mudah bersyukur.

Kemudian Imam al-Ghazali menulis puji syukur kepada Allah Taala. Imam al-Ghazali menerangkan seorang hamba harus memuji Allah dengan kesadaran dan kesungguhan. Karena semua yang terjadi dalam kehidupan digerakkan oleh Allah Taala dan hamba tidak memiliki daya upaya. Juga sebagai mencari perlindungan Allah agar dijauhkan dari sum’ah dan ujub perangkap halus dari Iblis.

Selanjutnya Imam al-Ghazali menuliskan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.  Imam al-Ghazali menerangkan bahwa Nabi Muhammad adalah sosok manusia biasa yang butuh makan dan minum. Namun Nabi Muhammad adalah seorang Rasul yang memiliki daya ruhani yang tinggi. Jadi umat Nabi Muhammad SAW harus memiliki adab yang tinggi terhadap beliau.[SBN]

Bersambung…

Continue Reading

Artikel

Ajaran Martabat Tujuh, Mutiara Hilang yang Ditemukan Kembali

Hamzah Alfarisi, Redaktur JATMAN Online

Published

on

By

JATMAN.OR.ID – Sabtu, 17 April 2021 pukul 20.30 WIB, PW MATAN DKI Jakarta menyelenggarakan pengajian ramadhan yang bertajuk “Kajian manuskrip kitab Al-Tuhfah Al-Mursalah” karya Syekh Fadhl Allah al-Burhanpuri via Zoom. Kajian ini merupakan bagian dari program Kajian Sufi Ramadhan yang diselenggarakan di bulan ramadhan kali ini. Sebagai anak kandung dari JATMAN, MATAN memiliki tanggung jawab untuk menyebarkan tarekat di kalangan anak muda dan kajian ini dalam rangka mewujudkan tanggung jawab tersebut. Selain kajian manuskrip ini, MATAN DKI Jakarta juga menyelenggarakan kajian kitab “Bidayatul Hidayah” karya sufi besar Imam Al-Ghazali setiap Kamis dan Jum’at pukul 20.20 WIB.

Kajian manuskrip ini diampu oleh Dr KH Ali M Abdillah, yang merupakan ketua PW MATAN DKI Jakarta sekaligus Sekretaris Komisi Pengakajian, dan Penelitian MUI Pusat. Dalam kajiannya, beliau memaparkan bahwa kitab Al-Tuhfah Al-Mursalah adalah penafsiran dari Tauhid Wujudiah Ibnu Arabi, yang bercorak tasawuf falsafi. Ajaran tasawuf falsafi yang berkembang di Nusantara bersumber dari ajaran Ibnu Arabi, yang diantaranya adalah ajaran Martabat Tujuh dalam kitab Al-Tuhfah Al-Mursalah karya Syekh Fadl Allah al-Burhanpuri (w 1630) dari Gujarat India.

Dalam perkembangannya, ajaran Martabat Tujuh ini mengalami pasang surut. Pada masa Syekh Syamsuddin al-Sumatrani, ajaran martabat tujuh mengalami puncak kejayaannya karena mendapat dukungan dari Kesultanan Aceh Iskandar Muda (1607-1636). Namun pada masa Syekh Nuruddin Al-Raniri yang saat itu menjadi Mufti Kesultanan Iskandar Tsani yang menggantikan Syekh Syamsuddin, beliau mengeluarkan fatwa sesat terhadap ajaran Martabat Tujuh yang dianggap menyimpang (ilhad).

Tuduhan sesat yang dialamatkan oleh Syekh Nuruddin Al-Raniri kepada ajaran Martabat Tujuh diselesaikan secara dialogis oleh ulama muda Sayfurrijal. Akhirnya, beliau mendapat simpati dari Sultanah Safiyyat al-Din (1641-1674), kemudian diangkat sebagai mufti menggantikan Syekh Nuruddin Al-Raniri. Sejak saat itulah, ajaran Martabat Tujuh berkembang kembali di tanah Aceh. Perkembangan ajaran Martabat Tujuh di Nusantara tidak dapat dipisahkan dari Syekh Abdul Rauf Al-Sinkili yang memiliki murid diantaranya Dawud Al-Jawi al-Rumi, Burhanudin Ulakan, Muhyi Pamijahan, dan Abdul Malik Trengganu.

Ajaran Martabat Tujuh pada zaman kolonial Belanda ditumpas habis berdasarkan fatwa sesat oleh Mufti Betawi. Ulama-ulama yang mengajarkan Martabat Tujuh dilarang mengajarkannya atau jika mengajarkannya akan ditangkap. Selain itu, manuskrip ulama-ulama yang mengembangkan ajaran Martabat Tujuh ini dibawa oleh Kolonial Belanda. Akhirnya, kini kita hanya dapat berziarah, namun tidak bisa mempelajari ilmu dari Syekh Muhyi Pamijahan, karena manuskrip-manuskrip beliau dibawa ke Belanda.

Di akhir sesi, Kyai Ali menuturkan: “Ini (ajaran Martabat Tujuh) adalah mutiara yang hilang, yang sekarang pada abad ke-21, kita temukan kembali. Mari kita pelajari kembali karena sekarang sudah tidak ada lagi hambatan untuk mempelajarinya”.

Sumber tambahan: Sufisme Jawa: Ajaran Martabat Tujuh Sufi Agung Mangkunegaran Kyai Muhammad Santri.

Baca juga: Launching Buku Sufisme Jawa: Kyai Muhammad Santri Mitos atau Fakta?

Continue Reading

KH. Ali M. Adbdillah

Berhala di Dunia Modern

Published

on

Pengajian Tafsir Al Jailani karya Shaykh Abdul Qadir al Jailani
Surah al-‘Araf ayat 191 – 195
Oleh KH. Ali M. Abdillah

أَيُشْرِكُونَ مَا لَا يَخْلُقُ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ (191) وَلا يَسْتَطِيعُونَ لَهُمْ نَصْرًا وَلا أَنْفُسَهُمْ يَنْصُرُونَ (192) وَإِنْ تَدْعُوهُمْ إِلَى الْهُدَى لَا يَتَّبِعُوكُمْ سَوَاءٌ عَلَيْكُمْ أَدَعَوْتُمُوهُمْ أَمْ أَنْتُمْ صَامِتُونَ (193) إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ عِبَادٌ أَمْثَالُكُمْ فَادْعُوهُمْ فَلْيَسْتَجِيبُوا لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (194) أَلَهُمْ أَرْجُلٌ يَمْشُونَ بِهَا أَمْ لَهُمْ أَيْدٍ يَبْطِشُونَ بِهَا أَمْ لَهُمْ أَعْيُنٌ يُبْصِرُونَ بِهَا أَمْ لَهُمْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا قُلِ ادْعُوا شُرَكَاءَكُمْ ثُمَّ كِيدُونِ فَلا تُنْظِرُونِ (195

Ayat diatas menjelaskan tentang berhala yang menjadikan hijab antara hamba dengan Allah taala.
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani menjelaskan :

Bahwa pada setiap zaman pasti terdapat berhala yang menghalangi pandangan seorang hamba dengan Tuhannya. Pada zaman Nabi Muhammad SAW dahulu, berhala yang disembah oleh masyarakat semasa Nabi Muhammad SAW nampak. Namun seiring berkembangnya Islam di dunia, berhala yang menjadi hijab seorang hamba berubah bentuknya.

Syekh Abdul Qadir Al Jailani mengartikan berhala adalah sesuatu yang menghalangi pandangan seorang hamba dengan Tuhannya yakni berupa kecintaan berlebih terhadap sesuatu selain Allah Swt.

Dikatakan, siapa yang mencintai sesuatu dengan berlebihan maka ia menjadi hambanya. Mungkin saat zaman Nabi Muhammad Saw. mudah mendeteksi orang-orang yang menyebah berhala, sebab berhalanya nampak secara fisik. Berbeda dengan zaman sekarang dimana orang-orang telah banyak memeluk agama Islam dan menjalankan syariat agama yang menjadikan berhala itu tidak nampak secara kasat mata.

Syekh Abdul Qadir Al Jailani membagi berhala menjadi dua bagian. Pertama, berhala yang nampak (hissi) seperti patung atau benda-benda yang diyakini memiliki kekuatan tertentu. Kedua, rasa cinta yang berlebihan terhadap sesuatu selain Allah Swt. atau berhala maknawi yaitu mereka yang mencintai harta benda, anak, istri, pekerjaan, jabatan, yang melekat pada dirinya melebihi kecintaannya terhadap Allah Swt.

Anak, istri, harta benda dan jabatan dapat menjadikan berhala bagi umat Nabi Muhammad Saw. yang hidup di zaman modern, ketika ia mencintainya secara berlebihan.

Contohnya, ketika kita memiliki seorang anak kita selalu memberikan apa yang ia inginkan tanpa memperhitungkan bagaimana kelak dampak baik dan buruknya pada anak. Rasa cinta yang berlebih kepada anak itu bisa menipu kita akan kesadaran bahwa anak adalah amanah dari Allah Swt. yang mana Allah Swt. memerintahkan hambanya yang dikaruniai anak untuk dididik ajaran agama dengan baik agar menjadi anak yang sholeh dan mengenal Allah Swt. bukan memenuhi semua keinginannya sehingga anak itu menjadi manja.

Kemudian cinta yang berlebih terhadap sesuatu dapat menyebabkan seorang hamba menjadi jauh terperosok ke dalam jurang kesyirikan. Ketika ia dihadapkan dengan suatu persoalan maka ia akan mudah terpelanting dan mencari bantuan selain kepada Allah Swt., pergi ke dukun dan memenuhi apa yang dukun sarankan, misalnya. Pun saat seorang hamba itu mencintai pangkat, pengakuan orang lain, kemasyhuran dan harta bendanya. Padahal kecintaan terhadap sesuatu selain Allah Swt. itu sama sekali tidak memberi efek yang baik pada dirinya. Bahkan, kecintaan berlebihan itu dapat menjadikan hati seorang hamba sempit dan gelap.

Oleh karena itu, agar seorang hamba tidak jatuh pada kubangan hijab-hijab terhadap Allah taala itu. Syekh Abdul Qadir Al Jailani menyarankan agar menjauhi orang-orang yang orientasi hidupnya hanya mencintai perkara dunia saja. Sebab ketika kita bergumul dengan lingkungan yang tidak mencintai Allah Swt. maka kita juga akan tertular virusnya dan semakin jauh pandangan kita terhadap Allah Swt.

Selain itu, seorang hamba juga harus istiqomah berdzikir menyebut nama Allah Swt., dzikir yang paling ampuh ialah berdzikir kalimat thayibah: لا اله الا الله. Saat الا الله ditarik kemudian kata “Allah” dihempaskan ke jantung dan beri’tikad bahwa tiada yang dicintainya kecuali Allah taala maka otomatis dan berkesinambungan hatinya akan bersih dari selain Allah dan selalu ingat kepada Allah Swt.

Semoga Allah Swt. senantiasa memberikan bimbingan kepada kita sampai sirathal mustaqim dan memberikan kekuatan kita secara lahir dan batin. Maka kita akan selalu menyadari bahwa semua yang ada dalam diri kita adalah amanah Allah Swt. (Silvia Bidayah Nafsani)

Al Rabbani Islamic College, 12 Oktober 2020.

Continue Reading

KH. Ali M. Adbdillah

Cinta Hakiki Hanya kepada Allah

Published

on

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ ۗ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَاب

Dan diantara manusia ada orang orang yang menyembah tandingan tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal) (Q.S al-Baaqarah ayat 165).

Ayat diatas menjelaskan tentang orang-orang yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan-Nya yaitu orang-orang yang menjadikan selain Allah sebagai tuhan, sebagaimana orang-orang yang mengikuti paham materialisme, hedonisme dan konsumerisme.

Syeckh Abdul Qadir Al jailani menafsirkan:

Bahwa pada dasarnya tiap manusia memiliki fitrah tauhid, hanya saja fitrah tauhid itu ada yang ‘ternoda atau tidak’. Bagi yang tidak ternoda fitrah tauhid ini akan terus memancar, begitupun sebaliknya jika fitrah tauhidnya ternoda maka akan semakin gelap sehingga menyebabkan menjadi orang-orang yang ingkar dan kufur kepada Allah.

Dalil bahwa manusia itu mempunyai fitrah tauhid telah dijelaskan dalam ayat al-Qur’an yaitu pada saat ruh manusia masih berada di alam arwah terjadi dialog dengan Allah.

Seluruh ruh ditanya: “Wahai… ruh, Bukankah Aku (Allah) ini Tuhanmu”?
Dan merekapun menjawab: “Ya… Kami telah menyaksikan”.

Artinya pada saat itu semua ruh telah menyaksikan Allah, inilah yang dimaksud fitrah tauhid. Karenw itu pada hakikatnya setiap manusia itu mempunyai potensi ma’arifah karena pada saat di alam arwah sudah dikhitab oleh Allah. Maka inilah yang menjadi dasar bahwa semua manusia mempunyai fitrah Tauhid dan memiliki potensi marifah.

Kemudian didukung oleh hadits yang berbunyi: “Bahwa setiap anak yang lahir, dilahirkan dalam kesucian”.

Jadi fitrah tauhid yg suci seringkali ternoda oleh faktor lingkungan. Jika seseorang lahir dan hidup di tengah kalangan keluarga dan lingkungan Islam maka ia akan menjadi muslim yang baik. Sebaliknya jika seseorang lahir di tengah keluarga dan lingkungan nasrani, yahudi maka iapun akan menjadi nasrani dan yahudi. Namun terkadang cahaya tauhid yang sudah padam bisa hidup kembali karena ada faktor hidayah yang menerangi kegelapan hatinya.

Syeckh Abdul Qadir Al-jailani mengingatkan kembali bahwa sebagian manusia yang mempunyai fitrah tauhid ada orang-orang yang mengambil jalan kebodohan dan jalan ingkar, Padahal mereka mengetahui yang hak(benar). Mereka menjadikan selain Allah sebagai saingan, mereka mencintai selain Allah seperti mencintai Allah. Mereka meninggalkan Allah demi mencari selain Allah. Artinya mereka mencintai harta dan jabatan secara berlebih-lebihan sehingga cintanya melebihi kecintaan kepada Allah. Itulah yang dimaksud menjadikan selain Allah sebagai tandingan.

Berbeda bagi orang-orang yang beriman maka cintanya kepada Allah itu lebih tinggi dibandingkan mencintai sesuatu selainNya.

Mereka adalah orang-orang yang berbuat dzalim karena telah menodai kesucian fitrah tauhidnya. Maka sebagai konsekwensinya mereka akan merasakan siksa yang pedih saat sesuatu yang dicintainya seperti harta, benda, jabatan diambil paksa oleh Allah. Mereka akan merasakan penderitaan dan siksa di dunia secara nyata akibat hatinya dipenuhi cinta kepada selain Allah. Berbeda dengan orang-orang yang cintanya kepada Allah melebihi dari kecintaan kepada selain-Nya maka akan menemukan kebahagian secara hakiki baik di dunia maupun di akherat.


Semoga kita termaksud golongan orang-orang yang beriman dan diberikan kekuatan lahir dan batin. Maka sikap kita seandainya diberikan amanah rizki oleh Allah jadikanlah rizki sebagai sarana untuk menuju kepada-Nya.

Oleh: Ali M. Abdillah,
Al-Rabbani Islamic College (1 Oktober, 2016).

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending