Menata Manajemen Qalbu melalui metode Zikir Tasawuf

Juli 8, 2024 - 18:21
Juli 8, 2024 - 18:21
 0
Menata Manajemen Qalbu melalui metode Zikir Tasawuf

Manajemen Qalbu secara etimologi berasa dari kata manajemen dan qalbu. Kata “manajemen” secara sederhana berarti pengelolaan. Artinya, sekecil apapun potensi yang ada apabila dikelola dengan tepat, akan dapat terbaca, tergali, tertata, dan berkembang secara optimal.

Adapun “qalbu” adalah hati nurani atau lubuk hati yang paling dalam, merupakan sarana terpenting yang telah dikaruniakan oleh Allah kepada manusia. Qalbu adalah tempat bersemayamnya niat, yakni yang menentukan nilai perbuatan seseorang; Berharga atau sia-sia, mulia atau nista. Niat selanjutnya diproses oleh pikiran agar bisa direalisasikan dengan efektif dan efisien oleh anggota tubuh dalam bentuk perbuatan.

Di dalam qalbu ini ada yang disebut potensi, sebagaimana yang diterangkan oleh Allah dalam surat Asy Syams [91] ayat 8,

فَاَلْهَمَهَا فُجُوْرَهَا وَتَقْوٰىهَا

“Lalu Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya”

Dalam ayat di atas diterangkan qalbu ini punya potensi negatif dan potensi positif. Allah telah menyiapkan keduanya dengan adil. Di sinilah pentingnya fungsi manajemen. Manajemen secara sederhana berarti pengelolaan atau pengaturan. Sebuah sistem dengan manajemen atau pengelolaan yang baik, walau mempunyai potensi sekecil apapun, Insya Allah akan membuahkan hasil yang optimal. Manusia bisa mengolah pikirannya menjadi sangat cemerlang dan bisa juga mengolah tubuhnya sehingga menjadi atletis dan kuat, tapi kedua hal ini tidak cukup kalau qalbunya tidak dikelola dengan baik. Otak yang cemerlang bisa digunakan untuk korupsi dan tubuh yang atletis bisa digunakan untuk memeras orang karena tidak mempunyai pengelolaan qalbu yang baik. Maka, tidak aneh jika terjadi orang pintar tapi tidak membuatnya mulia, baik dalam pandangan manusia apalagi dalam pandangan Allah. oleh karena itu, dapat dipahami pula bahwa manusia tidak berakhlak mulia bukan karena tidak punya potensi positif, tapi karena manajemen qalbunya yang masih buruk.

Qalbu yang mati adalah qalbu yang sepenuhnya dikuasai hawa nafsu, sehingga ia terhalangi dari mengenal Tuhannya. Hari-hari penuh dengan kesombongan terhadap Allah, tidak pernah terdetik di hati untuk beribadah kepada Allah. Semua perintah dan yang diridhai Allah diabaikannya. Hati semacam ini telah berhamba kepada selain Allah. Bila mencintai sesuatu, ia mencintainya karena hawa nafsu. Begitu pula apabila menolak, mencegah, dan membenci sesuatu juga karena hawa nafsu. Hawa nafsu telah menguasai dan bahkan menjadi pemimpin dan pengendali bagi dirinya. Kebodohan dan kelalaian adalah sopirnya. Kemana saja ia bergerak, maka gerakannya benar-benar telah diselubungi oleh pola pikir meraih kesenangan duniawi semata. Maka hati akan menjadi berkarat yang menjadi tabir (hijab) antara dirinya dengan Allah. Asy-Syekhul Al-Akbar ibn Arabi menjelaskakan dalam Futuhat Al-Makkiyah

“Ketahuilah bahwa qalbu (hati) adalah sebuah cermin yg terpoles dan mengkilap. Semua bagian dari cermin itu adalah adalah wajh (permukaan) dan ia selamanya tidak pernah bisa berkarat. Jika suatu saat hati dianggap bisa berkarat seperti Sabda Rasulullah saw., ‘Sesungguhnya qalbu itu bisa berkarat layaknya besi yg bisa berkarat.’ Dan didalam hadits itu disebutkan, ‘Yang bisa membuatnya mengkilap adalah zikir kepada Allah dan membaca tilawah Al-Qur'an.’  Tetapi dari segi keberadaan Al-Qur'an sebagai zikir yg mengandung hikmah. Maka yang dimaksud hati berkarat disini bukanlah kabut berupa kebodohan, kesedihan dan kegelisahan yang muncul dan menutupi permukaan qalbu. Tetapi ketika qalbu melekat dan tersibukkan oleh ilmu tentang asbab (sebab-sebab) yaitu ilmu duniawi sebagai ganti ilmu Allah. Maka keterkaitan dan kecintaannya (tahalluq) kepada selain Allah tersebut menjadi karat yang menutupi wajah atau permukaan qalbu. Karena ia menjadi penghalang untuk tajalli Al-Haqq kepada hati.”

Oleh karena itu, bagaimana cara menata manajemen qalbu agar menjadi baik, yaitu melalui zikir tasawuf sebagai sarana utama untuk dapat qalbu menjadi hidup dan bersih dari kotoran tabiat. Orang yang memiliki qalbu yang selamat, hidupnya penuh dengan zikir, mujahadah dan rabithah kepada Arif billah  Semua ini karena hatinya diselimuti mahabbah dan tawakal kepada Allah.

Oleh sebab itu, keikhlasan menjadi hiasan hidupnya. Ia selalu ridla dengan apa yang telah Allah berikan kepadanya. Keadaan qalbu orang ini bersih, putih, dan tidak ada noktah di dalamnya. Dengan begitu, cahaya Allah tidak akan terhalang masuk ke dalam qalbunya. Semakin bersih qalbu, hidupnya akan selalu diselimuti rasa syukur. Mendapat karunia apa saja kendati sedikit, dia tidak akan habis-habisnya meyakini bahwa semua ini adalah titipan Allah semata, sehingga amat jauh dari ujub dan takabur.

Metode zikir dalam tarekat tasawuf sebagai proses manajemen mengelola qalbu supaya potensi positifnya bisa berkembang maksimal mengiringi kemampuan berpikir dan bertindak sehingga sekujur sikapnya menjadi positif dan potensi negatifnya segera terdeteksi serta dikendalikan sehingga tidak berbuah menjadi tindakan yang negatif. 

zikir adalah rukun (tiang penopang) yang sangat kuat atas thariqah (jalan) menuju Allah Swt. sungguh ia adalah landasan thariqah itu sendiri. Tidak seorangpun dapat mencapai Ahadit-Dzat, Allah Ta’ala, kecuali terus menerus zikir kepada-Nya. Zikir ibarat sabun yang dapat membersih hati dari kotoran nafsu dan dapat memutuskan sangkutan hati seseorang dari selain Allah. Sayyidi Abdul Qadir Isa Al-Hallabi Asy Syadzili menjelaskan,

"Sesungguhnya Allah berfirman, ‘Aku bersama hamba-Ku selama dia berzikir kepada-Ku dan kedua bibirnya bergerak menyebut-Ku" (HR. Ahmad, Ibnu Hibban). Al-Manawi mengatakan, ‘Allah akan bersama orang berzikir dengan hati dan lisannya. Akan tetapi, kebersamaan-Nya dengan orang yang Berzikir dengan hatinya lebih sempurna. Dikhususkan lisan dalam hadis ini adalah untuk menunjukkan bahwa sesuatu yang lebih tinggi (zikir dengan hati) masuk ke dalamnya dari sisi yang lebih utama.  Ketika cinta dan zikir seseorang menguasai hati dan ruhnya, maka Allah akan bersama-Nya dan menjadi teman duduknya.

Menurut ahli tarekat, orang berzikir terbagi ke dalam tiga kategori: Pertama, zikir orang awwam dengan lisan. Kedua, zikir orang khawas dengan hati. Dan ketiga, zikir orang khawwasulkhawas dengan fana mereka ketika musyahadah (menyaksikan) objek zikir (Allah), sehingga Al-Haq tampak bagi mereka di setiap saat.

Para Sufi mengatakan bahwa tidak ada yang lebih bermanfaat bagi para musafir yang sedang menuju Allah daripada zikir dengan nama yang memutuskan segala penghalang dari hatinya, yaitu lafal Allah. Hakikat zikir dan tajalli tidaklah dapat dipahami kecuali oleh orang yang memiliki Dzuq Ilahi.

Imam Al-Junaid al-Baghdadi mengatakan,

“Orang yang berzikir dengan Allah akan fana dari dirinya sendiri, terhubung dengan Tuhannya, mengerjakan semua hak-hak-Nya dan menyaksikan-Nya dengan mata hatinya. Dan cahaya-cahaya musyahadah itu akan membakar sifat-sifat basyariah (kemanusiaannya). [Kitab Haqa'id at-Tashawwuf, Dar At-Taqwa, Damaskus, hal 152-153]

Selanjutnya Sayyidi Abdul Qadir Isa menjelaskan,

“Imam Al-Ghazali ditanya tentang Ilham. Katanya, ‘Ilham merupakan sinar dari cahaya ghaib yang jatuh pada hati yang bersih dan peka.’ Hal ini menunjukkan kemungkinan terjadinya Kasyf dan Ilham, jika hati bersih dan kosong dari semua urusan dunia dan nafsu, dan dari dosa-dosa yang berkarat dan kegelapannya. Setan yang kelam tidak akan masuk kecuali ke dalam hati yang busuk, sebagai mana hinggapnya lalat pada tempat yang kotor. Jika hati dimasuki setan, maka dia akan terhijab untuk melihat apa-apa yang ghaib tersembunyi. Rasulullah saw., ‘Kalau bukan karena setan yang menghalangi hati anak Adam, maka mereka akan dapat melihat kerajaan lain.’ (HR. Imam Ahmad dari Abu Hurairah).

Gangguan setan itu dapat dihilangkan dengan zikir dan muraqabah kepada Allah Ta'ala. Rasullullah bersabda, ‘Sesungguhnya setan itu meletakkan paruhnya pada hati anak Adam. Jika dia berzikir kepada Allah, maka setan akan bersembunyi. Dan jika lupa berzikir, maka syetan akan menyantap hatinya.’ (HR. Abu Donya, Abu Ya'ala dan Baihaqi).

Sebab apabila hati terbiasa dengan gangguan dan lalai dari  berzikir kepada Allah, maka dia akan sakit. Sedangkan jika dia terbiasa berzikir selalu disirami dengan cahaya-cahayanya, dan terpancar kepadanya tajalli matahari Keagungan Allah, maka dia akan hidup (hayyun). Rasulullah saw. bersabda, ‘Perumpamaan orang yang berzikir kepada Allah dan orang yang tidak berzikir kepada-Nya adalah seperti orang hidup dan orang yang mati.’ (HR. Bukhari)

[Kitab Haqa'id at-Tashawwuf, Dar At-Taqwa, Damaskus hal 359].

Demikinlah, zikir sebagai sarana yang dapat membuat manajemen qalbu menjadi baik, jika manajemen hati baik, maka akan baik pula manajemen pekerjaan profesi seseorang dalam menjalankan aktivitas kerjanya baik sebagai pemeritah [eksekutor] penegak hukum (law enforcement) maupun pembuat undang-undang (legislator) dan  direktur perusahaan.

Penulis: Budi Handoyo, SH.,MH Dosen dan Pengurus Rumah Moderasi Beragama STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh