Connect with us

Syair Salik

Bila Masamu Sampai

Oleh: Ami Tata

Published

on

Tiba tiba langit murka
Ia cekik awan hingga lebam,
Lemparkan petir meninju gunung
angin kesurupan menantang gelombang

Derap duka berteriak lantang
Mengabarkan lonceng kematian
manusia dan kemanusiaan
kefanaan mengirimnya pulang

Kalau sudah begitu bagaimana merayunya
Mengembalikan awan duduk manis di atas Bromo
memayungi Puntadewa, Sembadra dan Srikandi, setia
menghangatkan ruang tapa Arjuna

Tanda tanda duka terasa biasa
Semua sudah legowo
Negeri ini penuh cadangan bencana
Untuk didownload kapan saja

Etalase duka terpajang
berderet menunggu giliran
Gagak bertengger di puncak pohon
mengintip ia yang telah habis masa

Bila masamu sampai
pulangmu kepada siapa ?
Lisan belum kau semaikan
Kalimat esa, Nafi dan Itsbat

Bila masamu sampai
ruhmu kembali kepada siapa?
Detak belum juga kau tanam
dengan denyut asma yang kekal

Tangsel, satu dua, satu, ‘ dua satu

Ami Tata menapakkan jejak pemadat kata di Sanggar Altar Ciputat dan kini ia adalah murid yang sedang menempuh jalan pecinta kesucian jiwa di Tangerang Selatan. Kesehariannya sebagai khadim Pesantren Peradaban Dunia Jagat ‘Arsy, dan terus belajar mengamalkan, mengamankan, melestarikan jejak Mursyid TQN Suryalaya.

Continue Reading

Syair Salik

Hujan Sore Bulan Desember

Oleh: Ami Tata

Published

on

Syai Salik

Tak seperti biasa hujan
Sore bulan Desember
mempertemukan wajah langit
menempel di senja yang syahdu

Sebaris kenangan berenang
Hanyut dalam deras sore yang kaku
Mereka berlari menyusuri lorong senja
Sedari dulu dahaga dan merindu

Bersama petir ia melukai
Gendang telinga yang pilu
Mendengar kabar kau berlalu
Meninggalkan jejak pada rintik waktu

Sore itu selepas hujan
reda tawa renyah sepasang kekasih
berbagi kisah di persinggahan ruang
bulan dan matahari bersekongkol

Siang dan malam bersembunyi
dalam gelap dan terang mengelabui
Pelangi yang selalu bingung
Melepas selendangnya yang ranum

Lengkung pelangi menepi
di sudut langit yang sepi
Ia buka selendang nya luka
tertusuk dendam waktu

Pada siang dan malam angin
berbisik memberi warta melapis
hati dengan asa sebab lusa
akan terperangkap malam

Ambilkan suluh dari basah
biarkan kering dan terbakar
Ia menuntunmu dalam terang
Agar gelap tunduk pada jejak

Cahaya itu takkan redup
Dalam sebut lidah katup
Denyut nya terus berucap nama
yang mustahil lenyap

[]

Ami Tata menapakkan jejak pemadat kata di Sanggar Altar Ciputat dan kini ia adalah murid yang sedang menempuh jalan pecinta kesucian jiwa di Tangerang Selatan. Kesehariannya sebagai khadim Pesantren Peradaban Dunia Jagat ‘Arsy, dan terus belajar mengamalkan, mengamankan, melestarikan jejak Mursyid TQN Suryalaya.

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending