Connect with us

Artikel

Sekilas Pandang Kurikulum Tasawuf

Published

on

google

Maroko, Fes, JATMAN.OR.ID: Tulisan ini saya buat sebagai jawaban atas berbagai pertanyaan beberapa kawan yang mengambil spesialisasi bidang tasawuf, baik di Maroko maupun negara Timur Tengah lainnya. Sebagian mengeluhkan kebingungan dalam menggambarkan dan menjelaskan tasawuf yang hakiki serta ketertinggalan mereka (atau lebih tepatnya kita) dari banyak lulusan Amerika dan Eropa dalam menjelaskan bidang ini. Miris memang jika lulusan Amerika dan Eropa lebih lihai menjelaskan tasawuf dibandingkan lulusan Timur Tengah, tapi apa boleh buat.

To the point. Saya mula tulisan ini dengan asumsi dasar, yaitu tasawuf adalah sebuah mazhab. Ya, seperti mazhab fikih lainnya. Pegang ini baik-baik dan jangan protes dulu.

* * * *

Selayaknya mempelajari sebuah mazhab, langkah yang paling pertama adalah mengenali musthalahat (kosakata) yang digunakan ahli mazhab. Sebagai contoh, dalam Mazhab Syafi’i ada kitab Sullam Muta’allimul Muhtaj karya Al-Ahdal. Nah, dalam mazhab tasawuf juga ada, judulnya Isthilah Ash-Shufiyah karya Ibnu Arabi, Mi’rajut Tasyawwuf karya Ibnu Ajibah, serta sebagian tempat dalam Risalah Qusyairiyah, Al-Luma’ karya Sirajuddin Ath-Thusi, dan At-Ta’arruf karya Al-Kalabazi. Dua kitab pertama –sependek pengetahuan saya- sangat membantu dan bermanfaat sekali, hanya saja bedanya yang pertama lebih ringkas dari pada yang kedua.

Oh iya, salah satu keunikan tasawuf ada pada musthalahatnya. Hampir –kalau tidak mau dibilang- semua kesalahpahaman yang terjadi terhadap tasawuf berpangkal dari kejahilan terhadap musthalahat. Ditambah lagi kita sebagai mahasiswa yang harus banyak melakukan penelitian, pengetahuan terhadap musthalahat adalah hal yang wajib.

Beberapa mahasiswa di Universitas Muhammad V Rabat saya lihat pakai buku Musthalahat Yusufiyah. Terus terang saya belum pernah baca. Pernah sih, dulu saya sempat pinjam buku Gus Hanif Zamzami tapi itu hanya baca sekilas. Secara umum bagus.

Sebenarnya tidak wajib kita membaca buku musthalahat dari awal sampai akhir, hanya saja buku tersebut harus standby saat kita membaca buku tasawuf khususnya yang irfani. Kalau ada apa-apa, kita tinggal rujuk buku tersebut.

* * * *

Oke, selanjutnya buku inti. Setiap mazhab pasti punya buku inti. Tapi sebelum itu biasanya ada buku pengantar untuk pelajar tingkat dasar dan buku pengantar untuk pelajar tingkat lanjut. Sebab biasanya buku inti itu untuk pelajar tingkat mahir. Sebagai contoh dalam Mazhab Syafi’i ada Matan Abi Syuja’ untuk pengantar bagi pelajar tingkat dasar, Matan Qurratul ‘Ain karya Al-Malibari untuk pengantar bagi pelajar tingkat lanjut, kemudian baru kitab inti yaitu Al-Minhaj karya An-Nawawi.

Nah, mazhab tasawuf mirip seperti itu juga. Untuk tingkat pemula ada kitab Hidayatu Rabbi ‘Inda Faqdil Murabbi karya Al-Muttaqi Al-Hindi. Saya masih ingat betul saat Kiai Muhammad Danial Nafis meminjamkan kitab ini untuk saya telaah sebelum berangkat ke Maroko. Rasa terima kasih saya yang setinggi-tingginya kepada beliau yang tahu betul apa yang pas untuk saya pelajari di tingkat pemula.

Untuk tingkat lanjut ada kitab Mawaqi’un Nujum Wa Mathali’u Ahillatil Asrar wal ‘Ulum karya Ibnu Arabi, Risalah Qusyairiyah, Al-Luma’, dan ‘Awariful Ma’arif karya As- Suhrawardi. Kitab yang pertama adalah yang terbaik dikelasnya. Ringkas dan cukup untuk dijadikan pedoman bagi para guru suluk jika memang terlalu sibuk hingga tak sempat mutalaah kitab inti. Sebagaimana yang dituturkan sendiri oleh Ibnu Arabi.

Untuk tingkat mahir ada kitab inti, apalagi kalau bukan Futuhat Al-Makkiyah kaya Ibnu Arabi. Para sufi bangga sekali dengan Ibnu Arabi karena telah berhasil mengkodifikasi dan menertibkan pendapat dalam Mazhab Tasawuf dalam satu kitab inti. Persis seperti kebanggaan pengikut Mazhab Syafi’i terhadap An-Nawawi atas kitabnya Al-Minhaj.

* * * *

Selanjutnya bagian yang paling penting bagi mahasiswa dan peneliti, yaitu buku kompilasi dalil mazhab. Hampir setiap mazhab punya kitab khusus untuk mengumpulkan berbagai dalil yang digunakan oleh ahli mazhab. Sebagai contoh dalam Mazhab Syafi’i ada Sunan Al- Baihaqi atau dalam Mazhab Maliki ada Al-Kafi karya Ibnu Abdil Barr. Dalam Mazhab Tasawuf juga ada, sebut saja Shafwah At-Tasawwuf karya Ibnu Thahir Al-Maqdisi, Sunan Ash-Shufiyah karya Abu Abdirrahman As-Sulami, dan beberapa bagian dalam Risalah Qusyairiyah.

* * * *

Untuk memudahkan ingatan terhadap berbagai masalah yang dibahas oleh sebuah mazhab, maka para ahli mazhab melakukan dua hal.

Pertama, mengkodifikasi semua masalah dalam bentuk nadzam (syair). Tujuannya agar mudah dihafal dan diingat. Sebagai contoh dalam Mazhab Syafi’i ada Nadzmuz Zubad karya Ibnu Ruslan, nah Mazhab Tasawuf juga ada. Sebut saja yang paling keren dalam bab ini Nadzmus Suluk karya Ibnul Farid Sang Ustazul ‘Asyiqin. Nadzam ini fenomenal sekali, sampai ada yang bilang kalau Futuhat-nya Ibnu Arabi itu adalah syarah untuk nadzam ini.

Kedua, mengkodifikasi dalam bentuk kaidah. Tujuannya agar mudah dianalogikan jikalau sewaktu-waktu lupa. Sebagai contoh dalam Mazhab Maliki ada Qawaidhul Madzhab karya Al-Maqarri (dengan syarahnya yang monumental membuat mahasiswa Taklim Atiq di Maroko kelipungan: Al-Manhajul Muntakhab karya Al-Manjur). Mazhab Tasawuf juga punya, contohnya Qawaidhul Haqaiq Wa Dhawabithud Daqaiq karya Syaikhul Islam Bahram bin Ya’qub atau kalau di Fes yang masyhur Qawaidhuth Thariqah Fil Jam’i Bainasy Syari’ati Wal Haqiqah alias Qawaidhut Tasawwuf karya Ahmad Zarruq. Ibnu Arabi sebenarnya juga punya, judulnya Ma La Yu’awwilu ‘Alaih hanya saja jarang dibahas.

Perselisihan pendapat dalam satu mazhab adalah hal yang biasa terjadi, bahkan menjadi salah satu acuan kedinamisan mazhab tersebut. Oleh karena itu, biasanya dalam sebuah mazhab ada kitab khusus yang menuliskan hal-hal yang disepakati ahli mazhab, hal-hal yang tidak disepakati, dan pendapat yang rajih atas hal-hal yang tidak disepakati. Contohnya dalam Mazhab Syafi’i ada kitab Al-Muhadzdzab karya Asy-Syairazi. Di dalam Mazhab Tasawuf juga ada, contohnya At-Ta’arruf Li Madzhabi Ahli At-Tasawwuf karya Al-Kalabazi.

* * * *

Hal yang juga penting dalam sebuah mazhab adalah kodifikasi biografi para ahli mazhab. Sebagai contoh, dalam Mazhab Syafi’i ada Thabaqatusy Syafi’iyah karya Tajuddin As-Subki (kalau tidak salah sebab saya kadang terbolak-balik dengan ayahnya Taqiyuddin As-Subki) atau dalam Mazhab Maliki ada Syajaratun Nuruz Zakiyah (saya lupa penulisnya). Di dalam Mazhab Tasawuf juga ada, contohnya Thabaqatush Shufiyah karya As-Sulami, Hilyatul Awliya’ karya Abu Nu’aim, Lawaqihul Anwar karya Asy-Sya’rani, Al-Kawakibud Durriyah karya Al-Munawi. Dua kitab pertama agak spesial, sebab disertai sanad. Mirip kayak Tadzkiratul Huffadz karya Al-Hafidz Adz-Dzahabi atau Adz-Dzail karya Al-Hafidz As- Suyuthi.

* * * *

Ada juga bidang yang tak kalah pentingnya untuk diperhatikan oleh para ahli mazhab, yaitu bidang adab. Saya rasa yang paling fenomenal dalam Mazhab Hanafi adalah Ta’limul Muta’allim karya Az-Zarnuji dan dalam Mazhab Syafi’i adalah Adabul Mufti Wal Mustafti karya An-Nawawi. Wallahu a’lam. Untuk Mazhab Tasawuf, ada Adabush Shuhbah karya As- Sulami, Al-Inalatul ‘Ilmiyah karya Asy-Syusyturi, Adabul Murid karya Al-Buzaidi (gurunya Ibn Ajibah), Adabul Murid karya Ahmad bin Abdil Mumin (kakek dari kakek Maulana Asy- Syarif Sidi Dr. Abdul Mun’im bin Ash-Shiddiq Al-Hasani), dan masih banyak lagi.

Ada juga dalam bentuk syair seperti Nadzam Ibn Al-Banna As-Saraqasthi yang berjudul Al- Mabahitsul Ashliyah (yang disyarah oleh Ibn Ajibah dengan judul Al-Futuhatul Ilahiyah).

Al-Qusyairi dalam Risalah Qusyairiyah, Al-Ghazali dalam Al-Ihya, dan As-Sahrawardi dalam

‘Awariful Ma’arif juga mengkhususkan bagian untuk hal ini.

* * * *

Sebagaimana mazhab lain yang punya perhatian dalam banyak bidang, Mazhab Tasawuf juga begitu. Mazhab Maliki misalnya punya tafsir fenomenal mengikut metode mazhab mereka, judulnya Tafsirul Ahkam karya Ibnul Arabi Al-Maliki, Mazhab Tasawuf juga punya, judulnya Bahrul Madid karya Ibnu Ajibah. Jika Mazhab Hanafi punya Fiqhul Akbar dan Mazhab Syafi’i punya Al-Iqtishad Fil I’tiqad dalam ilmu akidah, Mazhab Tasawuf juga punya Al- Hikam karya Ibnu Athaillah As-Sakandari dalam ilmu akidah dengan syarah terbaiknya Iqadzul Himam karya Ibnu Ajibah dan nadzam terbaiknya Latsmun Ni’am karya Al-Hafidz Sidi Ahmad bin Ash-Shiddiq.

Sampai di sini semoga tampak pemetaan tasawuf beserta berbagai khidmat karya tulis para ahli mazhabnya (yang lebih dikenal dengan sebutan sufi). Memang kalau tidak tahu pemetaan karya tulis para sufi, maka kita yang ingin memasuki bidang tasawuf bak masuk dalam hutan belantara. Tidak tahu jalan, posisi, dan tujuan.

Sebagai contoh jika seseorang bingung dengan salah satu istilah yang digunakan oleh seorang sufi dalam syatahat-nya, jangan cari di Al-Hikam Ibnu Athaillah atau Qawaidhut Tasawwuf Ahmad Zarruq, sebab akan kebingungan sendiri. Kitab tersebut memang tidak ditulis untuk hal itu. Cari di Mi’rajut Tasyawwuq Ibnu Ajibah misalnya atau Isthilahush Shufiyah Ibnu Arabi. Saya harap para pembaca paham maksud saya.

Terakhir sebagai penutup, semua yang saya sampaikan ini berdasarkan apa yang saya pahami dibawah bimbingan Maulana Asy-Syarif. Khalifah Madrasah Shiddiqiyah Ghumariyah dan Mursyid ‘Am Thariqah Shiddiqiyah Darqawiyah Syadziliyah. Kalau ada yang tepat dan bermanfaat, maka itu berasal dari Maulana Asy-Syarif. Kalau ada yang kurang tepat dan menyesatkan, maka itu berasal dari kurangnya pemahaman saya.

Wallahu Ta’ala A’lam.

Fes, Syakban 1441

Adhli Al-Qarni

Artikel

Urgensi Mengenal Nafsu dan Cara Menundukkannya

Published

on

Nasfu dalam Diri Manusia
Tujuan orang yang bertarekat (thoriqah) adalah untuk ‘sampai’ (wusul) kepada Allah. Namun, sebelum ‘sampai’ kepada Allah, maka manusia harus mengenali nafsu-nafsu yang ada di dalam dirinya. Sebab, nafsu tersebut lah yang menjadi penghalang untuk ‘sampai’ kepada Allah.

Imam Ghazali sudah menjelaskan secara detil bahwa di dalam diri manusia ada empat nafsu: (1) nafsu ammarah, (2) nafsu lawwamah, (3) nafsu sawiyah, dan (4) nafsu muth’mainnah.

Nafsu ammarah dan lawwamah merupakan jenis nafsu yang tercela. Sementara nafsu sawiyah dan muth’mainnah adalah nafsu yang terpuji. Oleh karenanya, dua nafsu yang tercela tersebut harus ‘diperangi’ dengan olah batin (riyadlah).

Cara Menundukkan Nafsu Amarah dan Lawaamah
Dengan praktik tasawuf untuk menundukkan hawa nafsu (baik ammarah dan lawwamah), setiap tarekat memiliki cara yang berbeda-beda. Diantaranya, ada yang menganjurkan puasa hari senin, kamis, bahkan puasa dawud.

Sumber dari nafsu ammarah adalah makanan, atau perut yang kenyang, sehingga untuk mengurangi potensi nafsu itu, maka harus dengan berpuasa. Berpuasa juga bisa memutus suplai darah dimana darah merupakan tempat lalu-lalangnya setan.

Selain berpuasa, para pelaku tarekat juga dianjurkan untuk mempraktikkan dzikir. Diantara dzikir yang paling masyhur di dunia tarekat adalah kalimat tahlil ‘La Ilaha Illa Allah’. Dzikir ini juga bisa digunakan sebagai upaya untuk menundukkan nafsu ammarah.

Dalam praktik tarekat, pelafalan kalimat tahlil, ada tata caranya. Seperti saat melafalkan kata ‘La’ ditarik dari perut ke atas, ‘Ila’ ditarik ke kanan, ‘Illa Allah’ dihantamkan ke hati. Dengan hentakan ‘Illah Allah’ ini diharapkan hati ini selalu ingat kepada Allah.

Para sufi berpuasa dan berdzikir secara istiqomah, baik harian, bulanan, maupun tahunan. Tidak lain, itu adalah upaya untuk menundukkan hawa nafsu. Dalam Tarekat Naqsabandiyah ada amaliyah rutin khalwat (menyepi) 10 hari (pemula), 20 hari (mutawassith), dan ada yang 40 hari (muntahi).

Menyendiri (khalwat) merupakan latihan untuk mengosongkan hati dan pikiran. Tujuannya adalah untuk mengikis hubungan dengan hal-hal yang bersifat duniawi, sehingga hubungan yang ada hanya berfokus kepada Allah. Para ulama sufi terdahulu melakukan khalwat selama berpuluh-puluh tahun.

Jika hawa nafsu sudah bisa ditundukkan, maka bisa merasakan surga sebagai tempatnya. Surga bisa bermakna hissi ataupun maknawi.

Bertasawuf tapi tidak bertarekat
Ada orang yang belajar tasawuf namun dia tidak bertarekat dan ada juga orang yang bertasawuf juga bertarekat. Keduanya memiliki pencapaian spiritualitas yang berbeda. Orang yang belajar ilmu tasawuf namun tidak dipraktikkan dengan bertarekat maka itu akan menjadi sekedar pengetahuan teoritis dan tidak mengalami pengalaman spiritual. Sementara mereka yang bertasawuf dan juga bertarekat maka akan merasakan apa yang dikatakan.

Sebab orang bertarekat itu memiliki guru, yang bersambung kepada Rasulullah. Guru yang muttasil (bersambung) itu penting, karena setiap amaliah yang kita laksanakan haru amalkan tetap dalam koridor keteladanan yang sudah dicontohkan Rasulullah.

Continue Reading

Artikel

Imam Birgivi, Sang Sufi Asal Turki dan Warisannya

Published

on

By

Dalam mempelajari Bahasa arab seorang penuntut ilmu tidak akan terlepas, mau tidak mau harus melewati ilmu nahwu dan sorof. Dalam sejarah, para ulama ilmu nahwu dan sorof memiliki dua sudut pandang yang berbeda yaitu antara ulama Basrah dan ulama Kuffah.

Di Indonesia, dalam hal ilmu nahwu dan sorof mayoritas ulama mengikuti ulama Kuffah sedangkan di Turki mengikuti ulama Basrah. Di Turki, salah satu ulama yang menekuni satu dari kedua ilmu tersebut (yakni ilmu nahwu) adalah Imam Birgivi.

Mengenal Imam Birgivi

Imam Birgivi memiliki nama asli Taqiyuddin Mehmed bin Pir Ali. Dia lahir pada tahun 1523 M di desa kepsud, Balıkesir, Turki dan wafat pada tahun 1573 M di desa Ödemiş, İzmir. Ayahnya adalah seorang sarjana terkenal pada pada zamannya. Imam Birgivi pergi ke Istanbul untuk melanjutkan pendidikannya dan Ia menjadi Guru di daerah Edirne. Selama di Istanbul Imam Birgivi melihat para ulama sufi yang menurutnya tidak sesuai dengan ajaran syariat islam. Imam birgivi meninggalkan banyak karya tulis yang sampai saat ini masih dilestarikan atau digunakan oleh para umat muslim maupun non-muslim, seperti para orientalis dan oksidentalis yang sedang mengkaji baik sejarah maupun ajarannya.  

Warisan Sang Imam

Imam Birgivi—menurut penulis—merupakan ulama religius komprehensif, karena beliau mengabdikan hidupnya untuk agama Islam, juga tidak kurang dari 53 buku telah ditulis olehnya dan buku-buku tidak jauh dari permasalahan keislaman. Salah satu karya masterpiece-nya adalah al-Tariqah al-Muhammadiya yang ditulis dalam Bahasa arab dan diterjemahkan dalam Bahasa turki oleh Dr. Nedim YIlmaz berjudul Tarikat-I Muhammediyye, berisi tentang nasihat-nasihat ajaran-ajaran syariat Islam. Oleh karena itu, para sarjana tidak sedikit yang mengkaji ajaran etika sang Imam.

Imam Birgivi juga, dikenal sebagai ulama Sufi, salah satunya karena karya masterpiece-nya al-Tariqah al-Muhammadiya tersebut. Di dalam buku tersebut juga berisi tentang ajaran-ajaran untuk mengerjakan perintah Al-Quran dan Sunnah dan meninggalkan sesuatu yang bid’ah dan sesuatu yang meragukan (subhat). Meskipun dalam pengkajian buku tersebut oleh para sarjana menghasilkan perbedaan pandangan. Naoki Yamamoto (sarjana dari Jepang) melaporkan, bahwa imam birgivi dalam bukunya al-Tariqah al-Muhammadiya mengkritik para sufi lain yang tidak sesuai dengan argumen beliau. Seperti para sufi yang melakukan tarian dan nyayian. Bagi Imam Birgivi, orang yang melakukan tarian dan nyanyian ialah tidak mengikuti perintah al-Quran dan hadis. Tetapi itu adalah sebuah perbedaan argument keduanya sama-sama memiliki dalil masing-masing.

Ilmu Nahwu

Kata Imam Birgivi syariat adalah maqam yang paling utama, oleh karenanya sudah barang tentu Imam Birgivi menguasai bahasa Arab sebagai pintu menuju pemahaman ilmu-ilmu syariat seperti ilmu al-Quran, ilmu Fikih, Ilmu Kalam, ilmu Mantiq dll.

Selain buku al-Tariqah al-Muhammadiya, buku Nahwu (grammar) merupakan karya masterpiece Imam Birgivi. Buku tersebut masih digunakan sampai saat ini oleh para santri yang sedang belajar Bahasa Arab khususnya di Turki. Buku Nahwu tersebut ada dua buku yaitu Awamil dan Izhar. Awamil dan Izhar merupakan buku nahwu yang mengikuti ulama Basrah. Seperti yang telah diketahui bahwa Turki menganut ulama Basrah dalam konteks ilmu Nahwu dan Sorof sedangkan di Indonesia menganut ulama Kuffah. Buku-buku yang termasyhur di pesantren salaf di Indonesia seperti al-Jurumiyyah, Imrity, dan Alfiyah.

Inilah beberapa warisan dari Imam Birgivi yang sangat berharga, karena warisan yang paling berharga adalah ilmu yang diamalkan dan ditulis. Karena kata Sayyidina Ali R.A; “Tulisan itu abadi. Tulislah sesuatu yang akan menyenangkanmu di akhirat nanti”. Semoga warisan-warisan Imam Birgivi bisa menyenangkan beliau dan pembaca di akhirat nanti. Wallahua’lam…

Salam,

Warto’i

Continue Reading

Artikel

Refleksi Tasawuf di Zaman Modern

Published

on

By

Para sahabat dan saudaraku sekalian, tulisan saya ini akan menjelaskan sekelumit bagaimana peran dan kehadiran tasawud di era modern sekarang ini. Semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat dan problem solving bagi menyelesiakan problematika masyarakat di era modern ini,

Zaman modern dalam istilah gaul disebut zaman now. Zaman modern ditandai dengan kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, yang dapat membawa kesejahteraan bagi umat mansia. Akan tetapi di balik kemajuan modern terdapat sisi buruk yang sangat mempengaruhi sisi batin umat islam, yaitu nilai-nilai intelektual di utamakan sebagai satu keabsahan yang mutlak sedangan nilai-nilai spiritual di marginalkan. Dampak negatif modern dapat dirasakan sikap cinta dunia (hubb al-dunya) yang melahirkan faham materialistik dan hedonism yang terjadi diberbagai lapisan masyarakat. Hal ini mengakibatkan hati menjadi gelap kemudan menjadikan hati kotor dan nafsu menjadi jelek sehingga lahirlah berbagai sifat-sifat tercela seperti ujub, hasad, dengki, sombong, hedonisme [cinta dunia], keegoan diri terhadap kekayaan, ke intelektual dirinya dan kehebatan teknologi yang dimilikinya yang mengakibatkan terjadinya berbagai kecemburuan sosial  persaingan tidak sehat baik di bidang industry, perdagangan, pendidikan, politik, budaya bahkan keagamaan sekalipun.

Untuk menyembuhkan penyakit-penyakit bathin di atas, maka perlu kehadiran dokter-dokter spesialis bidang ruhani untuk menangani problematika diatas. Dokter tersebut tak lain adalah para ulama-ulama sufi yang memberikan obat atau vaksinasi batin bagi masyarakat modern ini. Kehadiran tasawuf dalam kehidupan sosial ibarat sebagai vaksin batin yang mempunyai pengaruh yang signifikan dalam menuntaskan permasalahan dan penyakit sosial yang ada, amalan yang terdapat dalam ajaran tasawuf akan membimbing seseorang dalam mengarungi kehidupan dunia menjadi manusia yang arif, bijaksana dan profesional dalam kehidupan bermasyarakat.

 Al-Imam Abu Hamid Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan, tujuan tasawuf adalah

”Melenyapkan wujud nafsu dalam ibadah dan menggantungkan hati dengan ahwal Rububiyah. Menyembunyikan kemiskinan dan melawan berbagai penyakit bathin. Berkaitan dengan hukum seorang Sufi, mereka menjadikan kefakiran menjadi hiasannya, sabar menjadi minumannya, ridha adalah kendaraannya, dan tawakal menjadi perilakunya. Hanya Allah Ta’ala yang memberi kecukupan. Ia gunakan anggota tubuhnya untuk ketaatan. Ia potong seruan hawa dan bersikap zuhud kepada dunia, wara’ pada segala kehendak nafsu, dan sama sekali tidak memiliki keinginan dunia.”

Syeikh Muhammad Amin Al-Kurdi dalam Tanwirul Qulub menjelaskan tasawuf adalah “Ilmu untuk mengetahui berbagai kondisi jiwa (ahwal an-nafs) yang terpuji dan tercela, cara penyucian jiwa dari sifat-sifat tercela, cara menghiasanya dengan siifat-sifat terpuji, cara menempuh suluk menuju Allah Ta’ala dan berlari kepada-Nya.”

Menurut padangan kaum sufi bahwa rehabilitasi kondisi mental yang tidak baik adalah jika terapinya hanya didasarkan pada aspek lahiriyah saja, untuk itu pada tahap awal dalam tasawuf diharuskan melakukan amalan-amalan atau latihan-latihan rohani dengan tujuan untuk membersihkan jiwa dari nafsu yang tidak baik. Terapi rehabilitasi kondisi mental aspek bathin dilakukan dalam bentuk Tarbiyah Ruhiyah [pendidikan ruhani] yang dalam istilah sufi disebut dengan tarekat. Pada proses ini peran  para mursyid atau ulama-ulama sufi berperan dalam memberikan penyampaian dakwah tasawuf dan bimbingan praktek amalan-amalan ruhani kepada masyrakatUntuk itu bentuk usaha yang dilakukan, melalui;

Pertama, takhalli, merupakan upaya membersihkan diri dari sifat-sifat tercela, dari maksiat lahir dan maksiat batin.’Maksiat-maksiat ini harus dibersihkan, karena menurut para sufi semua itu adalah najis maknawi (najasah ma’nawiyah) yang menghalangi seseorang untuk dapat dekat dengan Tuhannya, sebagaimana najis zati (najasah siriyah) yang menghaIangi seseorang dari melakukan ibadah yang diperintahkan Tuhan kepadanya,

Kedua, tahalli, yaitu sesudah tahap pembersihan diri dari segala sifat dan sikap mental tidak baik dapat dilakukan, maka usaha itu harus berlanjut terus ke tahap kedua yang disebut tahalli. Tahapan ini merupakan tahapan pengisian jiwa setelah dikosongkan dari akhlak-akhlak yang tercela. Tahalli berarti berhias yakni berhias dengan sifat-sifat Tuhan Yang Maha Sempurna. Namun perhiasan paling sempurna dan paling murni bagi hamba adalah berhias dengan sifat-sifat peng hambaan.Tahalli juga berarti suatu upaya untuk mengisi atau menghiasi jiwa dengan jalan membiasakan diri dengan sifat, sikap, prilaku, dan akhlak yang baik.

Ketiga, tajalli, yakni apabila jiwa telah bersih, terhindar dari berbagai penyakit dan dipenuhi dengan kebaikan-kebaikan, maka Allah akan memasukkan Nur (cahaya)-Nya kedalam jiwa tersebut. Pada saat ini, seorang sufi akan merasa dekat dengan Tuhannya, sehingga berbagai kegaiban dan pengetahuanpun tersingkap baginya. Inilah yang kemudian disebut dengan tajalli.

Al-Imam Muhyiddin Ibnu Arabi dalam Kitab Rasa’il Ibnu Arabi mendefensikan tajalli

التجل ما ينكشف القلوب من أنوار الغيوب

“Tajalli adalah tersingkapnya didalam hati segala cahaya keghaiban Ilahiyyah”

Tajalli adalah lenyapnya hijab dari sifat-sifat kemanusiaan (basyariah) pada diri seseorang dan lenyapnya (fana) segala yang lain ketika nampaknya wajah Allah”, Tajalli berarti penyingkapan diri yakni Allah menyingkapkan diri-Nya sendiri kepada makhluknya. Tajalli juga berarti terungkapnya nur ghaib bagi hati karena Allah telah menyingkapkan diri-Nya.

Apabila jiwa telah bersih, terhindar dari berbagai penyakit dan dipenuhi dengan kebaikan-kebaikan, maka Allah akan memasukkan cahaya-Nya kedalam jiwa tersebut sehingga seseorang dalam mengarungi kehidupan dunia zaman modern ini akan manusia yang arif, bijaksana, berakhlak mulia dan profesional dalam kehidupan bermasyarakat. Maka tasawuf dapat membawa zaman modern ini menjadi era yang berspiritual dan madani.

Wallahu a’lam bi shawwab
Ilahi anta maqshudi waridhaka mathlubi

Penulis: Budi Handoyo

(Dosen Prodi Hukum Tata Negara Islam Jurusan Syariah dan Ekonomi Islam STAIN Teungku Diruendeng Meulaboh-Kabupaten Aceh Barat)

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending