Connect with us

Artikel

Menjadi Santri Penjaga NKRI

“Sejak zaman penjajahan hingga keterbukaan, seperti era media sosial saat ini, para santri telah menunjukkan dedikasinya kepada negeri.”

Published

on

Menjadi santri adalah salah satu syarat mutlak untuk menjadi cikal bakal penerus pembawa ajaran Nabi Muhammad SAW. Sebab tanpa melalui proses pembelajaran sebagai santri, maka yang muncul adalah semangat beragama tanpa ilmu yang berujung pada kesesatan ajaran dakwah.

Santri ditempa 24 jam dalam bilik-bilik pesantren dan surau secara ketat dengan bimbingan para alim ulama atau mursyid. Sehingga apa yang dipelajarinya adalah keilmuan dari gurunya, kemudian gurunya belajar dari gurunya lagi, sampai bersambung kepada Rasulullah SAW.

Inilah yang dalam tradisi pesantren dikenal dengan istilah sanad. Selain belajar kepustakaan, santri juga diajarkan soft skill, di antaranya akhlak, adab, kepemimpinan,  kedisiplinan,  kerja sama tim hingga saling menghormati perbedaan.

Dalam sejarah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), sejak zaman penjajahan hingga keterbukaan, seperti era media sosial saat ini, para santri telah menunjukkan dedikasinya kepada negeri, baik berperan sebagai pemimpin agama maupun pemimpin negara di tengah masyarakat yang majemuk.

Perjuangan santri membela Tanah Air, bahkan terlihat sejak datangnya penjajah Portugis ke Malaka pada 1511. Para santri di bawah komando kesultanan Demak melakukan perlawanan terhadap Portugis.

Kemudian di era penjajahan Belanda, kaum santri di bawah kepemimpinan Pangeran Diponegoro (Perang Jawa tahun 1825-1830), Sultan Hasanuddin, Sultan Agung sampai KH Hasyim Asyari melalui Resolusi Jihad melakukan perlawanan keras terhadap penjajah. Sebab bagi para santri mencintai dan mempertahankan Tanah Air hukumnya wajib.

Sebagaimana dawuh Maulana Habib Luthfi : “Jika Anda kehilangan emas, bisa beli di toko emas. Jika Anda kehilangan kekasih, tahun depan Anda bisa mendapatkannya kembali. Tapi jika Anda kehilangan Tanah Air, ke mana hendak akan mencari?”

Peran Santri dari Masa ke Masa

Tanpa mengecilkan peran pahlawan lain, peran santri sangat menonjol pada masa pergerakan di Indonesia. Tak terhitung jumlah korban jiwa dari kalangan santri yang bergabung dalam pasukan Kesultanan Demak gugur melawan Portugis di Malaka pada 1513. Kemudian, di Surabaya, ribuan nyawa santri menjadi syuhada pada pertempuran 10 november 1945.

Selain jadi motor pengerak melawan penjajah, kaum santri juga menjadi benteng ideologi Pancasila di Indonesia. Pada awal zaman kemerdekaan, kaum santri menjadi korban keganasan pemberontakan PKI di Madiun dengan ideologi komunisnya. Pada 1998 santri di Banyuwangi kembali jadi korban isu dukun santet.

Meski roda zaman terus berputar, perubahan dari zaman kolonial menuju era digital, namun para santri di negeri ini tetap berperan penting. Di era reformasi, peran menonjol itu diawali munculnya presiden dari kalangan santri, yakni KH Abdurrahman Wahid. Kemudian disusul dengan para santri yang menjabat menteri dan kepala daerah.

Kemudian, di era kepemimpinan Presiden Joko Widodo periode kedua ini juga menggandeng santri sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia, yakni KH Ma’ruf Amin.

Meski bentuknya berbeda, namun peran santri dalam menjaga dan mencintai negaranya masih sama. Zaman dulu, para santri mengangkat senjata berjuang melawan penjajah atau pemberontak, sembari berdakwah. Namun pada saat ini santri berkiprah dengan cara mengkritisi dan mengawal kebijakan pemerintah yang tidak berpihak kepada rakyat, serta menjadi benteng NKRI dari pengaruh masuknya ideologi takfiri dan intoleran.

Tahun 2019 lahir Undang-undang Pesantren yang isinya memberi ruang bagi para santri untuk semakin berdaya saing di semua lini. Santri dan pesantren memiliki ruang yang sama untuk berkembang seperti civitas akademika non pesantren. Hari ini para santri di pesantren tidak hanya mempelajari kitab kuning, namun juga belajar teknologi informasi, penyiaran, hingga kewirausahaan dan lainnya.

Ragam keilmuan tersebut dimaksudkan sebagai pembelajaran bagi para santri agar bisa mewujudkan cita-cita luhur untuk mengabdi kepada masyarakat dan negaranya. Mereka tidak hanya dituntut melestarikan warisan ilmu agama yang luhur, namun juga harus bisa menjawab tantangan kemajuan zaman.

Tatanan dunia sekarang ini memasuki era keterbukaan, di mana segala informasi tentang apapun mudah diperoleh hanya melalui telepon genggam. Konsekuensinya, era media sosial mempermudah berbagai ideologi masuk dan mempengaruhi pemikiran masyarakat awam yang belum kuat ilmu agamanya. Di antaranya bermunculan pendakwah yang tidak jelas sanad keilmuannya, namun memiliki ribuan pengikut. Apalagi jika pendakwah tersebut ternyata menyebarkan ajaran-ajaran intoleran. 

Karena itu, para santri juga memiliki tugas berat untuk jadi duta dakwah Islam ramah rahmatan lil alamin yang melek teknologi. Mereka dituntut trampil memasuki ruang global yang serba digital, yang tetap mengedepankan keilmuan dan adab, namun harus tegas untuk menjadi benteng keutuhan NKRI.

Selamat Hari Santri, santri sehat Indonesia kuat![Mustafid]

Artikel

Firasat Murid ke Gurunya

Published

on

Firasat Murid ke Gurunya

Mursyid Khalwatiyah Syekh Yusuf al-Makassariy, al-Habib Syekh Sayyid Abd Rahim Assegaf Puang Makka atau yang kerap disapa dengan Habib Puang Makka, memiliki sejumlah guru tarekat.

Ada tiga gurunya di Makassar yang sangat berjasa, abahnya sendiri yakni Habib Puang Ramma, Habib Thahir Assegaf dan Allamah Nashirus Sunnah AG. KH. Muhammad Nur.

Saat haul ke-10 AGH. Muhammad Nur (29/06/2021) puang Makka masih di Jakarta, Duren Sawit kediaman gurunya juga, maulana Habib Luthfi bin Yahya. Selama seminggu Puang Makka di Jakarta dan kemarin (kamis/01/07) Puang sudah tiba di Makassar, Alhamdulillah.

Puang Makka mengenang 10 tahun gurunya Allahuyarham AGH. M. Nur dengan doa khusus dan kembali mengingat momen-momen kebersamaanya antara lain saat bersama di Muktamar NU ke-27 tahun 1984 di Situbondo.

Saat puang makka hendak mengantar jamaah umrah tahun 2011, seminggu sebelumnya ada firasat dalam hati akan kepergian sang guru ahli hadis dengan gelar Nashirus Sunnah ini sehingga Puang Makka bergegas ke RS Faisal Makassar menjenguk gurunya, AGH. M. Nur

Tabe Puang Anre gurukku, “kidoakan nga”. Demikian kata puang Makka di hadapan AGH. M. Nur sambil digenggamnya tangannya tanpa bicara tapi ada isyarat khusus yang disampaikan.

Setelah didoakan dan izin pamit, Puang Makka berangkat umrah keesokan harinya dan saat tiba di Mekka, Puang Makka mendapat berita tentang wafatnya sang guru AGH. Muhammad Nur. [Dr. K. M. Mahmud Suyuti, MAg.]

Continue Reading

Artikel

Ngaji Ihya Ulumiddin Bersama KH. Ali M. Abdillah: Suluk untuk Membersihkan Kotoran Batiniah

Published

on

Ngaji Ihya Ulumiddin Bersama KH. Ali M. Abdillah: Suluk untuk Membersihkan Kotoran Batiniah

Manfaat Uzlah/Suluk adalah selamat dari segala bentuk kemaksiatan. Sebagaimana orang yang melakukan mukhalatah (hidup di tengah masyarakat namun tahan pada pengaruh buruk). Imam al-GHazali menerangkan ada empat penyakit kronis yang dapat dihindari saat seorang Uzlah yaitu: ghibah (bergosip), namimah (fitnah), riya (terpesona dengan kehendak diri sendiri) dan suqut anil amri wa nahi ala munka (diam dari perintah berbuat benar dan melarang kemungkaran).

Dalam bab riya, Imam al-Ghazali menjelaskan riya adalah melakukan sesuatu untuk mencari perhatian makhluk bukan karena Allah. Biasanya pelakunya jika melakukan sesuatu akan semangat apabila dilihat dan disanjung banyak orang. Riya ini termasuk penyakit kronis yang sulit dihilangkan. Bahkan wali abdal dan autad merasa kesulitan menghadapinya.

Riya termasuk syirik yang tersembunyi (syirik khafi). Rasulullah saw. telah mengingatkan bahwa yang paling beliau takutkan dari umatnya adalah bila seorang terjangkit syirik asghar yaitu riya. Riya bisa dihilangkan dengan mengamalkan ilmu tarekat yakni riyadhah mujahadah dan dzikir nafi isbat لا إلهَ إِلاَّ اللهُ

Jika sudah memahami makna substansi zikir nafi isbat, maka riya akan tergeser. Setelah istikamah dzikir nafi isbat kita juga akan memahami siapa diri kita dan mudah mengucapkan لاحول ولاقوة الا بآلله العلي العظيم

Selain itu, manfaat istikamah zikir nafi isbat, riyadhah dan mujahadah (suluk) adalah menguatkan ruhani sehingga memiliki filter bagi diri dari pengaruh lingkungan buruk. Karena karakter seseorang terbentuk dari keadaan lingkungannya. Maka ada ungkapan kalau kita berteman dengan tukang abu kita akan ketiban abunya dan bila kita berteman dengan tukang minyak wangi maka kita juga akan wangi.

Penyakit buruk akan menjadi penyakit yang terpendam. Maka sedikit sekali orang yang mengerti, apalagi dia orang yang ghofilin atau lalai. Jika orang yang istikamah zikir dan ia memiliki power saat berkumpul dengan orang yang karakter buruk, maka efek dari zikir ini akan bisa menjaga kita dari ketularan tabiat buruknya. Seolah-olah kita diberi penjagaan Allah untuk tidak mengikuti. Ini jika memiliki tameng ruhani. Jika kita tidak istikamah maka akan mudah mengikuti.

Selanjutnya Imam al-Ghazali mengutip sebuah hadis Rasulullah saw. bersabda bahwa kamu akan menemukan manusia yang paling buruk yaitu yang memiliki dua wajah, dia datang kepada satu kelompok dengan satu wajah dan pada yang lain dengan satu wajah. Inilah ciri oraang yang terjangkit riya, yaitu mudah menjadi orang munafik. Dia tidak memiliki prinsip.

Ada satu cara lain untuk merubah watak yang buruk yaitu dengan sering mendengarkan kebaikan maupun keburukan, terlebih menyaksikan perbuatan itu langsung. Kalau kita berkumpul dengan orang yang biasa bohong maka bisa dilihat kalau ia sehari tidak bohong rasanya kurang lengkap. Kalau berkumpul dengan orang baik, ia akan mengambil banyak hikmah darinya.

Inilah rahasia sabda Rasulullah saw. bawa ketika kita duduk bersama-sama mengingat orang salleh dan ilmunya maka akan turun rahmat pada kita. Yang bentuknya kita diberi pemahaman baik buruk sehingga tidak melakukannya. Dan masuk ke dalam surga dan berjumpa dengan Allah.

Dengan mengkaji ilmu orang saleh dan mengingatnya dalam diri kita akan muncul sifat rahmat dan tergerak memiliki kesungguhan untuk mengikuti langkah mereka dalam melakukan kebaikan.           Maka dari itu penting untuk istikamah mengkaji ilmu tasawuf dan praktek suluk tarekat (zikir, riyadhah mujahadah) agar kita dapat menaikkah vibrasi positif di dalam diri dan memulai untuk melakukan kebaikan. Tentu saja dengan proses yang tidak sebentar dan tahan dengan segala dinamika perjalanan pengamalannya. [Silvia Bidayah Nafsani]

Al-Rabbani Islamic College Cikeas, 10 Juni 2021

Continue Reading

Artikel

Fase Kehidupan di Alam Dunia (3)

Kupas Tuntas Perjalanan Hidup Manusia dalam Lima Alam

Oleh: DR. KH. M. Hamdan Rasyid, MA

Published

on

Fitrah dan Potensi Manusia

Fitrah dan Potensi Manusia

Agar manusia mampu melaksanakan berbagai tugas dan tanggungjawab yang telah diamanahkan kepada mereka sesudah aqil baligh (dewasa), maka sejak lahir di alam dunia, bahkan sejak hidup di alam ruh, setiap manusia telah diberikan fitrah (potensi) keyakinan terhadap adanya Allah SWT, Dzat Yang Maha Esa, Tuhan yang Maha Mencipta, Mengatur kehidupan dan Menganugerahkan seluruh kebutuhan manusia inilah yang disebut fitrah beragama.

Sebagaimana difirmankan dalam surat Ar-Rum ayat 30;

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.

Pengertian fitrah pada ayat di atas adalah naluri yang diciptakan oleh Allah SWT. Yakni manusia diciptakan oleh Allah SWT dengan memiliki naluri beragama, yaitu agama tauhid, agama yang mengakui keesaan Allah SWT. Oleh karena itu, kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka hal itu tidaklah wajar dan merupakan penyimpangan dari fitrahnya. Mereka tidak beragama tauhid tersebut hanyalah semata-mata karena pengaruh lingkungan hidup mereka, terutama pendidikan yang ditanamkan oleh kedua orang tua mereka. Sebagaimana telah disabdakan oleh Rasulullah SAW dalam hadits shahih:

“Setiap bayi yang dilahirkan pasti membawa fithrah (agama Islam). Kedua orang tuanya-lah yang menjadikan bayi tersebut memeluk agama Yahudi , Nasrani atau Majusi”.

Selain membawa potensi agama Islam, setiap bayi yang dilahirkan juga telah dilengkapi dengan berbagai potensi jasmani dan rohani yang dalam perkembangannya berbagai potensi tersebut teraktualisasi dalam bentuk pendengaran, penglihatan, daya berpikir dsb. Sebagaimana difirmankan dalam surat al-Nahl (16) ayat 78:

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberikamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur”.

Dalam mengarungi kehidupan di alam dunia ini, manusia tumbuh dan berkembang mulai dari bayi, masa kanak-kanak, masa remaja, masa dewasa, masa setengah baya, masa tua dan tua renta, akhirnya wafat. Sungguh pun demikian ada di antara manusia yang wafat dalam usia muda belia atau sangat tua renta. Sebagaimana difirmankan dalam surat al -Nahl (16) ayat 70:

“Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu. Dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada umur yang paling lemah (pikun), supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang pernah diketahuinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa”.

Jadi pada dasarnya, masa kehidupan manusia di alam dunia ini sangat relatif. Akan tetapi pada umumnya, kehidupan umat Nabi Muhammad SAW di alam dunia ini, rata-rata berkisar antara 60 (enam puluh) hingga 70 (tujuh puluh) tahun. Ada yang kurang ada pula yang lebih. Sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW:

“Umur umatku (rata-rata) adalah berkisar antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun.”[]

Bersambung….

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending