Connect with us

Tokoh

Mengenal KH. Muhammad Amnan, Mursyid Thariqah Naqsabandiyah Khalidiyah Talok Ngawi

Published

on

Sanad Keilmuan KH. Muhammad Amnan

KH. Muhammad Amnan lahir di Trenggalek dan dibesarkan dari kalangan keluarga yang agamis. Sejak kecil ia diasuh dan dididik agama langsung oleh kakeknya yang merupakan seorang ulama. Di usianya yang baru tujuh tahun, Kiai Amnan diajak ibunya pindah ke Pacitan dan di sana ia belajar di Pondok Pesantren Termas asuhan KH. Dinyati.

Sekitar usia empat belas tahun, Kiai Amnan kembali ke Trenggalek bersama ibunya dan melanjutkan belajar di sana dan di beberapa kiai. Pada usia tujuh belas tahun Kiai Amnan mulai menimba ilmu di Pondok Pesantren KH. Khasan Minhaj Kebonsari Trenggalek. Dari KH. Khasan Minhaj inilah ia belajar beberapa ilmu pengetahuan seperti ilmu kanuragan, ilmu syariat dan thariqah, termasuk Thariqah Naqsabandiyah Khalidiyah yang kemudian ia ajarkan di Ngawi dan sekitarnya.

Selain memperdalam ilmu agama, di pondok tersebut Kiai Amnan juga diberi pemahanan terkait jalur nasab keluarga ayahnya yang masih terlahir dari keturanan seorang kiai masyhur sehingga banyak keturunanya yang menjadi kiai besar di Indonesia. Kiai Amnan menjadi santri KH. Khasan Minhaj selama kurang lebih tujuh tahun hingga usia beliau sekitar dua puluh empat tahun. Selama itu ia terus menimba ilmu dan ngasor kepada KH. Khasan Minhaj hingga ia dibaiat menjadi seorang mursyid.

Tidak hanya di dua pesantren tersebut, Kiai Amnan juga belajar dibeberapa guru yang membekalinya berbagai ilmu pengetahuan seperti kepada Kiai Imam Mustofa Kertosono Nganjuk (w. 1938 M) di Pondok Pesantren Tegal Arum, juga menjadi santri khilatan atau nyantri secara tabarukan kepada banyak ulama seperti Syeikh Kholil di Bangkalan Madura, Syekh Mudowali Labuan Haji Aceh, KH. Imam Mustofa Kertosono Nganjuk, KH. Muhammad Amman dan lain-lain. Selain itu Kiai Amnan tidak hanya belajar kepada kiai-kiai lokal atau nusantara, tetapi juga pernah nyantri di Arab Saudi tepatnya di Jabal Qubais, Mekkah. Di sana ia belajar thariqah kepada para ulama Thariqah Naqsyabandiyah Khalidiyah di antaranya Syekh Muhammad Asrif Bin Abdurahman al khalidy, Syekh Abdullah Syatari al khalidy, dan Syekh Muhammad Ali Ridha al khalidy.

Dari para gurunya ini, Kiai Amnan memiliki dua jalur sanad keilmuan dalam ilmu thariqah, yaitu secara jalur Jawa atau Nusantara dan Jalur Arab. Dari jalur Jawa, Kiai Amnan dibaiat oleh guru mursyidnya yaitu KH. Khasan Minhaj Trenggalek pada tahun 1908 M. Kemudian atas perintah mursyidnya itu, Kiai Amnan pergi ke Jabal Qubais Mekah berguru pada Syekh Ali Ridho dan diangkat sebagai mursyid pada tahun 1345H/1923 M.

Perkembangan Thariqah Naqsabandiyah Khalidiyah di Ngawi

Kedatangan Kiai Amnan ke Talok bukan tanpa sebab yang jelas atau hanya sekedar perintah dari gurunya untuk melakukan perjalanan atau rihlah thariqah. Tetapi kedatangan Kiai Aman ke Talok atas dasar ajakan ibunya yang bercerita bahwa ayahnya memiliki sedikit tanah di ngawi. Tanah tersebut ialah tanah hibah dari seorang pemuka desa yang diberikan sebagai hadiah kepada ayahnya yang bernama Kiai Ibrahim. Pada tahun 1898 M, Kiai Amnan bersama ibunya Nyai Masinah pergi ke Ngawi untuk mencari keberadaan tanah warisan ayahnya tersebut.

Sesampainya di Ngawi, tanah peninggalan ayahnya ini hanya berupa tanah sepetak dengan bangunan mushala atau langgar kecil yang tidak terawat. Nyai Masinah menjelaskan asal muasal tanah tersebut kepada Kiai Amnan karena dirasa sudah waktunya untuk Kiai Amnan mengetahui warisan ayahnya ini. Setelah menemukan tanah itu, Kiai Amnan bersama ibunya kembali ke Trenggalek. Sesampainya di Trenggalek, Kiai Amnan berpikir dan berencana untuk menempati tanah warisan orang tuanya tersebut. Bersamaan dengan itu ia juga mendapat perintah gurunya KH. Khasan Minhaj untuk melakukan rihlah atau perjalanan sufi untuk menyempurnakan kemursyidannya.

Sebelum melakukan perjalanan tersebut, Kiai Amnan menikah dengan Ning Siti Muti’ah putri dari KH. Imam Mustofa Kertosono, Nganjuk pada tahun 1908 M. Pada tahun 1911 M, ia memboyong Nyai Muti’ah bersama ibunya Nyai Masinah untuk tinggal dan menetap di Ngawi di tanah peninggalan ayahnya.

Sebelum memulai kehidupan barunya di Ngawi, hal pertama kali yang dilakukan oleh Kiai Amnan ketika sampai di Ngawi adalah melantukan doa untuk mendapat keberkahan di wilayah ini. Doa yang dilantukan oleh Kiai Amnan kurang lebih berbunyi seperti ini,

“Bumiku Talok Arum adheg-adheg langit pitu dadi oncatku, sewu sumur dadi wudhuku, wit-witan dadi pengayomku, Laillahaillallah Muhammada Rasulullah, dan seterusnya.”

Menjalani awal hidup rumah tangga yang baru dan di daerah baru, Kiai Amnan dan istri tidak serta merta mendapat penerimaan oleh masyarakat sekitar. Terlebih lagi masyarakat sekitar yang memiliki kepercayaan kejawen yang sangat kental, sangat sulit memberikan pemahaman baru bagi mereka. Akan tetapi berkat kesabaran dan ketabahan Kiai Amnan beserta keluarganya, akhirnya mereka dapat diterima di sana.

Meski secara personal masyarakat sekitar mau menerimanya, tetapi masyarakat masih menolak ajaran Islam yang dibawa Kiai Amnan. Namun ia tidak kehabisan cara untuk memasukan pemahaman dan ajaran islam kepada masyarakat. Mulai dari melakukan pendekatan secara personal, pendekatan secara kultural, melalui tradisi-tradisi yang telah ada di masyarakat seperti tradisi penyambutan musim panen dan lain-lain.

Untuk menyebarkan Islam, Kiai Amnan berpenampilan tidak seperti seorang kiai pada umumnya. Kiai Amnan terkadang berpenampilan seperti warga biasa yang berkumpul di warung-warung kopi. Demikianlah, usaha Kiai Amnan menyelami kehidupan masyarakat demi tujuan mengubah kebiasaan buruk masyarakat meskipun sulit mengubah cara berpikir masyarakat yang jauh dari kata baik.

Lambat laun, Kiai Amnan tetap mampu mengedukasi masyarakat dengan mengajari mereka doa-doa keseharian yang bisa membuat mereka sedikit berubah. Meskipun tidak mampu mengubah pola hidup masyarakat tetapi mampu mengubah pola pikir masyarakat dengan terlihatnya toleransi antar masyarakat yang sangat tinggi. Meskipun tidak mau menerima ajaran Islam dengan baik, masyarakat tetap mau menerima dan menghormati Kiai Amnan sebagai seorang kiai dan memiliki kedudukan yang perlu di hormati keberadaanya.

KH. Muhammad Amnan wafat pada tahun 1948 M di Pesulukan Talok. Sebelum wafat, ia mengangkat putranya, KH Askirom Amnan untuk menjadi penerusnya, kemudian dilanjutkan oleh Agus Mustajib Ahmad hingga saat ini.

Tokoh

Sekilas Tentang Kiai Sulaiman, Pendiri PP Thariqah Sulaiman Madiun

Published

on

Kiai Muhammad Sulaiman lahir dan besar di Jogomerto Nganjuk. Setelah selesai tarbiyah suluk dan mendapatkan ijazah kemursyidan dari Syekh Umar Klaling Kudus, pada tahun 1902 ia diambil mantu oleh Kiai Hasanawi bin Kiai Hanifa bin Kiai Ilyas cucu Panembahan Batoro Katong Ponorogo yang kemudian menetap di Desa Lebak Ayu, Kec. Sawahan, Kabupaten Madiun.

Kiai Muhammad Sulaiman selanjutnya membuka dan mengasuh Pondok Pesulukan Thariqah Naqsabandiyah Khalidiyah di Lebak Ayu sampai wafat pada tanggal 18 Ramadhan 1934 dan dimakamkan di Sitihinggil kompleks pemakaman umum Desa Lebak Ayu.

Selama mengasuh pondok pesulukannya, Kiai Sulaiman membimbingg ratusan santri thariqah dari berbagai daerah utamanya Jawa Timur dan Jawa Tengah. Selama masa itu, Kiai telah mengangkat mursyid dan khalifah sejumlah 33 orang kiai. Melalui kiai-kiai tersebut kemudian ajaran Thariqah Naqsabandiyah Khalidiyah Lebak Ayu menyebar dan meluas ke berbagai daerah melintasi Pulau Jawa.

Verifikasi data dan informasi yang masih digali sampai saat ini menyebutkan jumlah murid thariqah punjer Lebak Ayu mencapai puluhan ribu orang, dan Zawiyah Khususiyah atau tempat kegiatan kethariqahannya banyak tersebar di berbagai daerah mulai Aceh, Sulawesi, Bali hingga Papua.

Adapun nama daftar mursyid yang menjaga pondok pesulukan setelah Kiai Sulaiman mangkat antara lain:

  1. Kiai Muhammad Sulaiman 1902 – 1934
  2. Kiai Muhammad Adnan 1934 – 1940
  3. Kiai Imam Muhyiddin 1940 – 1983
  4. Kiai Ngadiyin Anwar 1983 – sekarang

Continue Reading

Artikel

Mengenal Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya, Mursyid Tarekat Naqsyabandiyah

Published

on

Kelahiran dan Masa Kecil

Pangkalan Brandan adalah sebuah kota kecil di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Di kota yang berada di pesisir pantai timur pulau Sumatera inilah letak ladang minyak tertua kedua di Indonesia yang dibangun oleh Belanda pada tahun 1891, di mana minyak pertama yang diekspor oleh Indonesia berasal dari kilang minyak tersebut.

Pada tanggal 20 Juni 1917, bertepatan dengan tanggal 30 Sya’ban 1335 H, di kota yang menjadi jalur penghubung antara provinsi Sumatera Utara dan Aceh inilah, lahir seorang anak yang kelak menjadi seorang tokoh ulama besar di bidang tasawuf, guru besar metafisika, Mursyid (guru spiritual) dalam ajaran Tarekat Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah, sekaligus sebagai seorang cendikiawan muslim, dan tokoh di dunia pendidikan. Beliau adalah Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya, sang founder, pendiri Yayasan Prof. Dr. H. Kadirun Yahya, yang dilahirkan dengan nama kecil Muhammad Amin.

Beliau adalah anak ke empat dari lima bersaudara. Ibunya bernama Siti Dour Aminah Siregar, sedangkan ayah Beliau bernama Sutan Sori Alam Harahap yang berasal dari kampung Sikarang-karang, Padang Sidempuan, seorang pegawai perminyakan di Bataafse Petroleum Maatschappij (BPM), sebuah perusahaan minyak Belanda, anak perusahaan Royal Dutch Shell yang melakukan eksplorasi minyak di Pangkalan Brandan.

Prof. Dr. H. Kadirun Yahya bukan hanya besar dalam lingkungan yang kental akan nuansa Islami, Beliau juga turunan dari tokoh-tokoh spiritual tarekat, di mana kakek-kakek Beliau adalah dua orang Syaikh Tarekat, baik dari pihak ayah maupun ibu Beliau, yaitu Syaikh Yahya dari pihak ayah dan Syaikh Abdul Manan dari pihak ibu. Sehingga tak jarang keluarga ini mendapat kunjungan dari para Syaikh pada zaman itu, di mana pada kesempatan-kesempatan inilah sedikit banyak Beliau mendengar tentang ajaran Tarekat Naqsyabandiyah.

Kedua kakek Beliau, Syaikh Yahya dan Syaikh Abdul Manan inilah yang memberi nama kecil Muhammad Amin kepada Beliau. Kemudian setelah besar Beliau diberi nama Kadirun Yahya, oleh Syaikh Abdul Wahab Rokan, seorang tokoh besar tarekat dari Babussalam (Basilam), Tanjungpura, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara.

Pada masa itu Pangkalan Brandan adalah kota yang memiliki nuansa Islami sangat kental, dan banyak para ulama Tarekat mengembangkan ajarannya di kota ini dan sekitarnya. Demikian pula keluarga Sutan Sori Alam Harahap. Keluarga ini juga sangat menjunjung tinggi nilai-nilai Islami religius di dalam kesehariannya. Pada masa kecilnya, Prof. Dr. H. Kadirun Yahya muda sering menghabiskan waktu dengan bermain-main dan mengaji di Masjid Azizi, sebuah masjid megah di kota Tanjung Pura, Kabupaten Langkat, yang saat itu merupakan ibu kota kesultanan Langkat.

Dikarenakan pembawaan Beliau yang sopan dan penuh santun, selalu ringan tangan untuk membantu orang lain, karena terbawa dari pendidikan dan contoh dari lingkungan rumah Beliau, sehingga tak jarang pengurus masjid meminta Beliau untuk mengumandangkan Adzan di masjid tersebut, bila masuk waktu Sholat. Kesempatan menjadi muadzin di Masjid Azizi yang sangat indah ini merupakan sebuah kehormatan yang langka didapat, apa lagi di umur Beliau yang saat itu masih muda belia.

Inilah masjid yang dibangun oleh Sultan Langkat Haji Musa al-Muazzam Syah sejak tahun 1899, dan selesai dibangun serta diresmikan oleh putranya, Sultan Abdul Aziz Djalil Rachmat Syah pada tahun 1902. Rancangannya ditangani oleh GD Langereis, seorang arsitek berkebangsaan Jerman, dengan para pekerja dari etnis Tionghoa dan masyarakat Langkat sendiri, sedangkan bahan bangunannya banyak didatangkan dari Penang Malaysia dan Singapura. Sehingga masjid yang dibangun atas anjuran Syaikh Abdul Wahab Rokan Babussalam ini, bisa dikatakan sebagai salah satu simbol kebesaran agama Islam di Langkat.

Pendidikan

Prof. Dr. H. Kadirun Yahya tumbuh besar di dalam keluarga yang menjunjung tinggi nilai-nilai Islami, di mana di dalamnya jelas mengajarkan kepada kita untuk menimba ilmu pendidikan. Termotivasi dari situlah, maka Prof. Dr. H. Kadirun Yahya demikian haus untuk menimba ilmu di lautan dunia pendidikan, dan Beliau senantiasa berupaya keras mengejar impian tersebut. Adapun pendidikan yang dienyam oleh Beliau adalah sebagai berikut:

  1. HIS Negeri 1924 – 1931 (tamat) di Tanjung Pura;
  2. MULO-B Negeri 1931 – 1935 (tamat dengan voorklasse) di Medan;
  3. AMS-B Negeri 1935 – 1938 (tamat dengan beasiswa) di Yogyakarta;
  4. Kuliah Ilmu Ketabiban 1938 – 1940;
  5. Kuliah Ilmu Jiwa Amsterdam 1940 – 1942 (tamat) Masa perang Dai Toa, pendidikan berhenti;
  6. Kuliah Agama Islam (bagian tasawuf/Sufi) selama 7 tahun : 1947 – 1954, mendapat tiga buah ijazah;
  7. Kuliah Indologie dan Bahasa Inggris 2 tahun, 1951 – 1953;
  8. M.O Bahasa Inggris Ie Gedeelte tahun 1953, Bandung;
  9. Lulus Ujian Sarjana Lengkap (Drs) dalam Ilmu Filsafat Kerohanian dan Metafisika, tahun 1962;
  10. Doktor dalam Ilmu Filsafat (Kerohanian dan Metafisika Tahun 1968);
  11. Lulus ujian sarjana lengkap (Drs) dalam Ilmu Fisika – Kimia tahun 1973;
  12. Lulus ujian sarjana lengkap (Drs) dalam Bahasa Inggris tahun 1975 (Sebagai Magister Nomor g dan h).

Dapat dilihat di sini, bahwa Prof. Dr. H. Kadirun Yahya demikian serius menimba ilmu, sebagai bekal untuk memantaskan diri dalam mengarungi kehidupan ini. Dan dengan berbekal jenjang pendidikan tersebut, sehingga Beliau dikaruniai Allah SWT dengan tiga macam bidang keilmuan dan keahlian:

  1. Ilmu Fisika – Kimia (mengajar selama kurang lebih 20 tahun);
  2. Bahasa Inggris, Bahasa Jerman dan Bahasa Belanda (mengajar selama kurang lebih 15 tahun);
  3. Ilmu Filsafat Kerohanian dan Metafisika/Agama Islam bagian Tasawuf dan Tarekat (mengajar dan mempraktekkannya sejak 1950 hingga tahun 2001).

Secara garis besar ketiga tema besar keilmuan dan keahlian Beliau tersebut, diaplikasikannya dalam empat aktivitas utama, yaitu:

  1. Mengajarkan Agama Islam bagian tasawuf dan Tarekat serta memimpin iktikaf/suluk berdasarkan metode Tarekat Naqsyabandiyah;
  2. Membantu ilmu ketabiban/kedokteran antara lain terhadap penyakit “lever abscess”, “lung abscess”, narkotika, kanker kulit, kanker payudara, hemarrhoide (wasir), jantung, tumor, batu empedu, pankreas dan lever, prostad, AIDS, menstruasi bulanan yang tidak pernah berhenti selama 8 (delapan) tahun dan berbagai penyakit aneh serta ganjil yang tidak dapat disembuhkan secara medis sebab mengandung unsur ghaib;
  3. Pembinaan kerohanian bagi masyarakat dan generasi muda yang “sesat jalan”, putus sekolah, kecanduan narkotika dan minuman keras, kenakalan remaja (memberikan kepada mereka pendidikan formal/informal);
  4. Bidang-bidang lainnya meliputi ketatanegaraan, menumpas Atheisme/komunisme, kemasyarakatan dan lain-lain.

Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya senantiasa mendapat kunjungan yang tidak putus-putusnya dari insan-insan yang berdatangan dari segenap pelosok tanah air bahkan dari luar negeri, antara lain dari Malaysia, Thailand, Amerika, Belanda, sampai Saudi Arabia, yang berkunjung ke kediaman Beliau demi hanya sekedar untuk dapat bertatap muka dengan Beliau.

Pertemuan-pertemuan tersebut tak jarang memberikan kesan yang sangat mendalam, menyentuh hati, mampu menyelesaikan berbagai masalah kehidupan sehari-hari tamu-tamu Beliau, bahkan sampai permasalahan-permasalahan besar dari berbagai lembaga atau negara. Karena itu, tak heran jika sebagian besar dari tamu-tamu yang datang berkunjung tersebut kemudian memutuskan untuk berguru kepada Beliau.

Pekerjaan

Berbekal kepada ilmu pendidikan yang cukup, disertai dengan akhlaq yang baik dan pergaulan yang luas, maka tak heran banyak pengalaman Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya dalam dunia pekerjaan, di mana hampir keseluruhan pekerjaan yang Beliau geluti mengantarkan kepada kesuksesan.

Namun Beliau sangat sadar, kesuksesan yang sejati bagi Beliau adalah bagaimana menjadi manusia yang Rahmatan lil alamin, manusia yang berguna untuk manusia lainnya, yang berguna untuk negaranya, dan berguna untuk dunia beserta isinya.

Adapun pekerjaan yang pernah diemban Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya selama hidupnya adalah:

  1. Guru Sekolah Muhammadiyah di Tapanuli Selatan 1942 – 1945;
  2. Kepala industri perang sekaligus merangkap guru bahasa Panglima Sumatera (Mayjend. Suharjo Hardjowardoyo) dengan pangkat Kolonel Inf. di Komandemen Sumatera Bukit Tinggi 1946 – 1950);
  3. Staf Pengajar SPMA Negeri Padang Tahun 1950 – 1955;
  4. Staf Pengajar SPMA Negeri Medan Tahun 1955 – 1961;
  5. Staf Departemen Pertanian (DEPTAN) Jakarta Tahun 1961 – 1968;
  6. Ketua Umum Yayasan Prof. Dr. H. Kadirun Yahya tahun 1956 – 2001;
  7. Guru Besar USU, UNPAD, UNU, UNPAB, Universitas Prof. Dr. Mustopo, SESKOAD, UMSU/AFHIM, tahun 1960 – 1978;
  8. Rektor UNPAB dan Koordinator Perguruan Panca Budi, tahun 1961 – 1998;
  9. Aspri Panglima Mandala I Sumatera, sebagai Kolonel akif pada masa Dwikora di bawah pimpinan Letjend A. Yunus Mokoginta, tahun 1964 – 1965;
  10. Aspri Panglima Mandala I, Sumatera, sebagai Kolonel aktif pada penumpasan G.30S/PKI, di bawah pimpinan Letjend A. Yunus Mokoginta, tahun 1965 – 1967;
  11. Anggota Dewan Curator Seksi Ilmiah USU, tahun 1965 – 1970;
  12. Pembantu Khusus/Kolonel aktif Dirbinum Hankam, dibawah pimpinan Letjend R. Sugandhy, tahun 1967 – 1968;
  13. Rektor Post Graduate Studies Jakarta (yang pertama di RI), tahun 1968 – 1971;
  14. Diperbantukan dari Deptan ke Penasehat Ahli Menko Kesra, tahun 1968 – 1974;
  15. Penasehat pribadi Freelance Menteri Pertahanan Malaysia, tahun 1974 – 1975;
  16. Penasehat ahli Menko Kesra, tahun 1986 – 1998;
  17. Penasehat ahli/Konsultan Direktorat Litbang Mabes Polri Jakarta tahun 1990 – 2001;
  18. Anggota MPR RI, Tahun 1993 – 1998.

Organisasi

Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya merupakan sosok yang memiliki jiwa sosial tinggi, membaur dalam banyak aspek kehidupan. Beliau aktif dalam berbagai organisasi, ikut berperan serta dalam beraneka kegiatan, yang semata-mata dengan niatan untuk mengembangkan ajaran Tarekat yang Beliau bawa dalam diri dan kehidupan Beliau, untuk diimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat.

Adapun berbagai organisasi yang diikuti oleh Prof. Dr. H. Kadirun Yahya, adalah sebagai berikut:

  1. Anggota Sarjana Veteran;
  2. Ketua Umum Yayasan Prof. Dr. H. Kadirun Yahya, Tahun 1956 – 1998;
  3. Ketua Umum Islamic Phylosophical Institute (non politik) dalam dan luar negeri, Tahun 1960 – 1972;
  4. Anggota Presidum Seksi Ilmiah merangkap Ketua Cabang Sumatera Utara Tim Konsultasi Penganut Agama seluruh Indonesia, Tahun 1962 – 1972;
  5. Penasehat umum Yayasan Baitul Amin, Jakarta, Tahun 1963 – 2001;
  6. Anggota K.I.A.A. Jakarta, Tahun 1964;
  7. Penasehat Yayasan Hutapungkut (Ketua : H. Adam Malik), Tahun 1965 – 1978;
  8. Anggota World Organization Religion and Science, Tahun 1969 – 1970;
  9. Sponsor/Anggota Golongan Karya, Tahun 1970 – 1998;
  10. Anggota Asean Law & Association, Tahun 1984 – 2001;
  11. Ketua Majelis Pertimbangan Daerah Persatuan Tarbiyah Islamiyah Sumatera Utara, Tahun 1987 – 2001;
  12. Anggota Dewan Pembina/kehormatan Badan Musyawarah Masyarakat Minang Sumatera Utara, Tahun 1987 – 1990;
  13. Anggota Dewan Pembina Pusat Persatuan Tarbiyah Islamiyah/Golkar, Tahun 1989 – 2001;
  14. Penasehat Gerakan Seribu Minang (Gebu Minang), Tahun 1989 – 2001;
  15. Anggota Dewan Penasehat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), Tahun 1991 – 2001.

Sejarah Berguru

Sekembalinya dari menempuh pendidikan kuliah Ilmu Jiwa di Amsterdam, Belanda, Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya muda mulai belajar mengenal tarekat melalui salah seorang khalifah dari Syaikh Syihabuddin Aek Libung (1892-1967) yang berasal dari Sayur Matinggi, Tapanuli Selatan, pada era tahun tahun 1943-1946. Pada waktu itu masa pergolakan (penjajahan Jepang) hingga masa perjuangan melawan agresi militer Belanda pasca kemerdekaan. Walaupun kondisi sedang sulit, hal itu tidak memudarkan semangatnya untuk mempelajari tarekat lebih dalam, sebagai jalan menuju Tuhan.

Pernikahan Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya muda dengan putri Syaikh Haji Jalaluddin yang bermukim di Bukit Tinggi, Sumatera Barat, memberinya peluang untuk memperdalam tarekat. Kala itu rumah Syaikh Haji Jalaluddin menjadi posko tempat perkumpulan pasukan yang akan berangkat perang di zaman penjajahan, dan merupakan tempat pertemuan para Syaikh tarekat.

Di rumah mertuanya inilah pada tahun 1947 Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya muda berkenalan dengan Syaikh yang kelak menjadi guru utamanya, yaitu Sayyidi Syaikh Muhammad Hasyim Buayan, seorang Syaikh tarekat Naqsyabandiyah yang tinggal di nagari Buayan Lubuk Aluang, Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, yang mendapatkan ijazah tarekat Naqsyabandiyah dari Syaikh ‘Ali al-Rida di Jabal Abu Qubays, Mekkah, yang dibantu oleh Syaikh Husain. Keduanya adalah khalifah dari Syaikh Sulaiman al-Zuhdi.

Kemudian, Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya diundang oleh Sayyidi Syaikh Muhammad Hasyim Buayan untuk datang ke rumah salah seorang murid Beliau yang bernama Syiaudin Syahib di daerah Pasar Atas Bukit Tinggi. Saat itulah pertama kalinya Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya mengikuti kegiatan tawajuh atau zikir berjamaah yang dipimpin oleh Sayyidi Syaikh Muhammad Hasyim.

Sayyidi Syaikh Muhammad Hasyim Buayan adalah orang yang sangat disiplin dalam melaksanakan ketentuan tawajuh, dan biasanya siapa saja yang belum ikut tarekat belum diperbolehkan ikut dalam kegiatan ini dan harus menunggu di luar. Tetapi pada waktu kegiatan tawajuh hendak dilaksanakan, saat itu Sayyidi Syaikh M. Hasyim Buayan melihat Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya muda, dan membolehkannya ikut tawajuh dengan diajarkan kaifiat (tata cara) singkat oleh khalifahnya pada saat itu juga.
Ini merupakan peristiwa yang langka terjadi pada murid Tarekat Naqsyabandiyah seperti yang terjadi atas diri Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya, yaitu belum memasuki tarekat tetapi sudah mengikuti kegiatan tawajuh. Hal ini menunjukkan tanda-tanda bahwa Beliau sudah mendapat hidayah dari Allah SWT.

Peristiwa langka berikutnya yang dialami Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya adalah dalam situasi Agresi Militer Belanda II, pada tahun 1949, di mana saat itu Beliau mengungsi ke pedalaman Tanjung Alam, Batu Sangkar, Sumatera Barat. Di sinilah Beliau berkenalan dengan Syaikh yang termasyhur yaitu Syaikh Abdul Majid Tanjung Alam (1873-1958), seorang Syaikh dari Guguk Salo (Tanjung Alam, Batusangkar) yang juga dikenal dengan sebutan Syaikh Abdul Majid Guguk Salo.

Pada saat itu Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya bermohon kepada Syaikh Abdul Majid Tanjung Alam untuk dapat mengikuti suluk yang dipimpin oleh Syaikh Abdul Majid Tanjung Alam. Namun pada awalnya Syaikh Abdul Majid Tanjung Alam menolak karena Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya mempunyai guru, yaitu Sayyidi Syaikh Muhammad Hasyim Buayan. dan harus mendapatkan izin dari gurunya tersebut.

Kemudian Syaikh Abdul Majid Tanjung Alam secara batin memohon izin pada Sayyidi Syaikh Muhammad Hasyim Buayan, dengan izin yang didapat secara batin itulah maka Prof. Dr. H. Kadirun Yahya dapat mengikuti suluk tersebut.
Pada hari kelima suluk, Syaikh Abdul Majid Tanjung Alam mengatakan kepada Prof. Dr. H. Kadirun Yahya, untuk meneruskan memimpin suluk sampai selesai penutupan suluk. Dengan kepatuhan yang tinggi Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya pun memimpin suluk hingga selesai. Satu lagi bukti kelebihan yang diperolah Beliau dari Allah SWT, yaitu sebelum menjadi Syaikh, tapi telah diberi kepercayaan dan amanah memimpin suluk (mensulukkan orang).

Setelah suluk berakhir, maka Prof. Dr. H. Kadirun Yahya, diangkat menjadi Syaikh oleh Syaikh Abdul Majid Tanjung Alam dan dianugrahi satu ijazah yang isinya sangat memberikan kemuliaan kepada Beliau.

Pada saat itu Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya sebagai seorang yang masih muda dan tidak memiliki apa-apa merasa tidak berhak menerima kemuliaan itu, dia merasa sebuah tanggung jawab yang maha besar disandarkan dipundaknya, tetapi Syaikh Abdul Majid Tanjung Alam mengatakan bahwa hal itu telah digariskan untuk Beliau dari Allah SWT, karena guru Beliau pernah berkata bahwa suatu saat Syaikh Abdul Majid Tanjung Alam akan memberikan ijazah kepada seorang yang dicerdikkan Allah SWT. Dan Beliau mengatakan kepada Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya bahwa Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya kelak akan menjadi guru dari orang–orang cerdik pandai dan ahli mengobat.

Menurut menantu/wakil/penjaga suluk yaitu khalifah H. Imam Ramali, Syaikh Abdul Majid Guguk Salo pernah berkata bahwa Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya, adalah orang yang benar-benar mampu melaksanakan suluk dan kelak akan dikenal di seluruh dunia sebagai pembawa tarekat Naqsyabandiyah.

Selanjutnya Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya, kembali menjumpai Sayyidi Syaikh M. Hasyim Buayan untuk mempertanggung jawabkan kegiatan Beliau yang “di luar prosedur lazim” tersebut, yaitu ikut bersuluk di tempat Syaikh Abdul Majid Tanjung Alam, dan ada perasaan bersalah di dalam dirinya. Dengan rendah hati dan takut akan gurunya, Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya memohon izin untuk bersuluk kepada Sayyidi Syaikh M. Hasyim Buayan pada saat bila sang guru Sayyidi Syaikh Muhammad Hasyim Buayan akan membuka suluk. Ternyata hal ini diperkenankan oleh sang guru dengan langsung membuka suluk khusus pada saat itu juga, terkhusus untuk Prof. Dr. H. Kadirun Yahya, murid utama terkasih sang guru.

Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya sangat erat hatinya dengan gurunya, Sayyidi Syaikh Muhammad Hasyim Buayan. Selama guru Beliau hidup setiap minggu Beliau ziarah kepadanya pada kisaran tahun 1950-1954. Dan hal ini tidak berhenti setelah guru Beliau wafat, ziarah tetap dilanjutkan dilanjutkan antara satu sampai tiga kali dalam setahun.

Pada tahun 1950, Sayyidi Syaikh M. Hasyim Buayan mengangkat Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya menjadi Syaikh. Pemberian ijazah kepada Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya sekaligus menempatkannya dalam daftar silsilah ke-35 dalam urutan silsilah Tarekat Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah. Dua tahun kemudian Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya mendapatkan predikat Syaikh penuh dengan gelar Sayyidi Syaikh.

Karena besarnya rasa sayang dan cinta Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya kepada gurunya, maka pantaslah penilaian yang diberikan Sayyidi Syaikh M. Hasyim Buayan tentang Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya, adalah:

  1. Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya, mendapatkan pujian tinggi antara lain dari segi ketakwaan, kualitas pribadi dan kemampuan melaksanakan suluk sesuai dengan ketentuan akidah dan syariat Islam;
  2. Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya adalah satu-satunya murid yang diangkat menjadi Sayyidi Syaikh oleh gurunya di makam moyang guru, yaitu Sayyidi Syaikh Sulaiman al-Khalidi Hutapungkut (1841-1917) di Hutapungkut, Kota Nopan, Mandailing Natal, Sumatera Utara, dan diumumkan ke seluruh Negeri pada saat itu.
  3. Dalam Ijazah Beliau dicantumkan kalimat “Guru dari orang-orang cerdik pandai dan ahli mengobat”. Beberapa puluh tahun kemudian kalimat dalam ijazah ini terbukti kebenarannya
  4. Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya, diberikan izin untuk melaksanakan dan menyesuaikan segala ketentuan Tarekat Naqsyabandiyah dengan kondisi zaman, sebab semua hakikat ilmu telah dilimpahkan gurunya pada Beliau.
  5. Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya, adalah orang yang benar-benar mampu melaksanakan suluk sesuai dengan pesan guru Beliau yang disampaikan kepada menantu/penjaga suluk/khalifah Anwar Rangkayo Sati.

Sebagaimana pada awalnya begitu pulalah pada akhirnya. Pada suatu saat yang lain, Syaikh Syihabuddin Aek Libung Sayur Matinggi juga memberikan ijazah dan pengakuan sebagai Syaikh Tarekat kepada Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya. Pada awalnya, melalui salah seorang khalifah dari Syaikh Syihabuddin Aek Libung Sayur Matinggi inilah mula-mula Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya mengenal tarekat pada tahun 1943-1946. Syaikh Syihabuddinn Aek Libung Sayur Matinggi pernah berkata kepada cucunya yang menjaga suluk, yaitu Syaikh Husein, bahwa kelak muridnya yang benar-benar dapat menegakkan suluk adalah Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya.

Pada tahun 1971, Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya berziarah dan bertemu dengan Syaikh Muhammad Said Bonjol (1881-1979), seorang Syaikh besar yang berasal dari daerah Bonjol, Sumatera Barat. Setelah tawajjuh, Syaikh Muhammad Said Bonjol memutuskan untuk memberikan kepada Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya sebuah benda berwujud semacam mahkota yang konon telah berusia lebih dari 300 tahun, yang dititipkan oleh guru Syaikh Muhammad Said Bonjol, yaitu Syaikh Ibrahim Kumpulan (1764-1914), di mana Syaikh Ibrahim Kumpulan juga mendapatkannya dari gurunya, yaitu Sayyidi Syaikh Sulaiman Al-Qarimi (Jabal Abu Qubaisy, Mekkah), dengan pesan agar kelak diberikan kepada “seseorang yang pantas, yang memiliki tanda-tanda tertentu”.

Puluhan tahun berlalu, barulah “orang yang pantas” tersebut ditemukan oleh Syaikh Muhammad Said Bonjol, yaitu Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya. Bersamaan dengan penyerahan mahkota itu terjadi hujan rintik-rintik yang disertai petir tunggal menggelegar dan gempa bumi. Peristiwa ini lazim terjadi setiap kali ada timbang terima amanah besar.

Silsilah

Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya adalah Mursyid Tarekat Naqsyabandiyah dengan silsilah keguruan (atau disebut juga dengan Genealogi Kemuttashilan Sanad/ Silsilah Tarekat Naqsyabandiyah Al-Khalidiah) sebagai berikut:

  1. Sayyidina Abu Bakar Ash Siddiq R.A.;
  2. Sayyidina Salman Al Farisi R.A.;
  3. Sayyidina Qasim Bin Muhammad Bin Abu Bakar Ash Siddiq R.A.;
  4. Sayyidina Imam Ja’far Ash Shadiq R.A.;
  5. Al ‘Arif Billah Sultanul Arifin Asy Syaikh Abu Yazid Thaifur Bin Isa Bin Sarusyan al Bisthami, yang dimasyhurkan namanya Syaikh Abu Yazid Al Bustami Quddusu Sirruhu Q.S;
  6. Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Abul Hasan Ali Bin Abu Ja’far Al Kharqani Q.S;
  7. Al’Arif Billah Asy Syaikh Abu Ali Al Fadhal Bin Muhammad Aththusi Al Farimadzi Q.S;
  8. Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Abu Yaqub Yusuf Al Hamadani Bin Yusuf Bin Al Husin Q.S dengan nama lain Abu Ali Assamadani;
  9. Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Abdul Khaliq Al Fajduwani Ibnu Al Imam Abdul Jamil Q.S; yang nasbnya sampai kepada al Imam Malik Bin Anas R.A.;
  10. Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Ar Riwikari Q.S;
  11. Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Mahmud Al-Anjir Faghnawi Q.S;
  12. Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Ali Ar Ramitani yang dimasyhurkan namanya dengan Asy Syaikh Azizan Q.S;
  13. Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Muhammad Baba Assamasi Q.S;
  14. Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Amir Sayyid Kulal al Bukhari Bin Sayyid Hamzah Q.S;
  15. Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Muhammad Baha’al Din Naqsabandi Asy Syariful Al Husaini Al Hasani Al Uwaisy Al Bukhari Q.S, yang dimasyhurkan namanya As Syaikh Bahauddin Naqsyahbandi;
  16. Al ‘Arif Billah Maulana Syaikh Muhammad ‘Ala’uddin Al Athar Al Bukhari Al Khawarizumi QS, yang dimasyhurkan namanya dengan Asy Syaikh Alauddin Al Ththar Q.S;
  17. Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Abu Ya’qub Al Jarkhi Al Hasyary Q.S;
  18. Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Nashiruddin Ubaidullah Al Ahrar Assamarqandi bin Mahmud Bin Shihabuddin Q.S;
  19. Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Muhammad Azzahid As Samarqandi Q.S;
  20. Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Darwisy Muhammad Samarqandi Q.S;
  21. Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Muhammad Al Khawajaki Al Amkany Assamarqandi Q.S;
  22. Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Muayyiduddin Muhammad Al Baqi Billah Q.S;
  23. Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Ahmad Al Faruqi As Sirhindi Q.S;
  24. Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Muhammad Ma’shum As Sirhindi Q.S;
  25. Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Muhammad Saifuddin Al Ma’sum Q.S;
  26. Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Asy Syarif Nur Muhammad Al Badwani Al Ma’sum Q.S;
  27. Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Syamsuddin Habibullah Jani Janani Muzhir Al ‘Alawi Q.S;
  28. Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Abdullah Addahlawi Q.S;
  29. Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Maulana Asy Syaikh Dhiyauddin Khalid Al Utsmani Al Kurdi Al Baghdadi Q.S;
  30. Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Abdullah Al Affandi Q.S;
  31. Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Sulaiman Al Qarimi Q.S;
  32. Al ‘Arif Billah Sayyidi Syaikh Sulaiman Az Zuhdi Q.S;
  33. Al ‘Arif Billah Sayyidi Syaikh Ali Ridha Q.S;
  34. Al ‘Arif Billah Sayyidi Syaikh Muhammad Hasyim Al Khalidi Q.S;
  35. Al ‘Arif Billah Sayyidi Syaikh Prof. Dr. H. Kadirun Yahya Muhammad Amin Al Khalidi Q.S.

Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya berpulang ke rahmatullah pada tanggal 9 Mei 2001, atau 15 Safar 1422 H, dalam usia 84 tahun, dan dimakamkan di Surau Qutubul Amin Arco, Depok, Jawa Barat.

Sepeninggal Beliau, mursyid Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah Yayasan Prof. Dr. H. Kadirun Yahya dilanjutkan oleh anak kandungnya, yaitu Syaikh Iskandar Zulkarnain Q.S. Kemudian setelah Syaikh Iskandar Zulkarnain Q.S dipanggil kehadirat Allah SWT pada tanggal 24 April 2005 atau 15 Rabiul Awwal 1426 H, Syaikh Abdul Khaliq Fadjuani Q.S, adik kandung Syaikh Iskandar Zulkarnain, menjadi mursyid penerus tarekat ini. Pada tanggal 15 November 2018 atau 7 Rabiul Awwal 1440 H, Syaikh Abdul Khaliq Fadjuani berpulang ke rahmatullah, kemudian mursyid Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah Yayasan Prof. Dr. H. Kadirun Yahya dilanjutkan oleh anak kandung ketujuh Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya, yaitu Syaikh Ahmad Farki Q.S.

Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya adalah seorang tokoh sufi kenamaan di era modern. Sebagai seorang profesor yang menekuni ilmu-ilmu fisika, kimia dan matematika, serta menulis risalah-risalah tentang metafisika, Beliau dinilai telah berhasil merekonsiliasi pengalaman mistis dalam tarekat dengan ilmu sains. Kombinasi antara pengetahuan ilmiah dengan reputasi pencapaian spiritual yang tinggi ini, menjadi daya tarik khusus bagi kalangan kaum intelektual untuk mempelajari tarekat yang dibawanya.

Bagi pengikutnya, zikir dengan metode tarekat dianggap sebagai solusi penting untuk menjawab bebagai permasalahan dalam kehidupan, termasuk politik, ekonomi, sosial, bahkan berbagai permasalahan yang lain. Apalagi kemudian Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya juga mendirikan sebuah perguruan tinggi, Universitas Pembangunan Panca Budi di Medan, untuk mendorong program pendidikan metafisika yang ia kembangkan. Dari situlah pemikiran sufistik ditafsirkan kembali sebagai sumber inspirasi untuk praktek keagamaan yang sesuai dengan perkembangan jaman.

Karena itulah Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya dikenal sebagai seorang tokoh sufi teknokrat, sekaligus sebagai seorang pakar dalam ilmu an-nazhari (ilmu al-kasbi) dan banyak sekali menerima limpahan rahmat karunia Allah yang berbentuk Ilmu Al-Kasyfi dan ilmu laduni. Di samping itu Beliau juga dikenal sebagai sosok seorang sufi yang kaya, memiliki berbagai bidang unit usaha, seperti agrobisnis, pabrik air minum, pertukangan/perbengkelan, keterampilan, jasa (biro travel) dan yayasan yang bergerak di bidang pendidikan dan sosial.

Karya-karya ilmiah pemikiran Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya telah banyak menginspirasi para penulis, akademisi, dan peneliti di Indonesia, Malaysia, maupun beberapa negara lainnya. Tercatat lebih dari 30 tulisan ilmiah dalam bahasa Indonesia, bahasa Melayu, maupun bahasa Inggris, berupa skripsi, thesis, disertasi, makalah forum ilmiah, jurnal, sampai buku, yang telah mengulas pemikiran Beliau, sosok pribadi dan perjalanan spiritualnya, maupun pergerakannya dalam dakwah tarekat.

Hal ini menunjukkan bahwa Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya telah dianggap banyak memberi pengaruh dalam berkembangnya Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah. Pemikiran dan pergerakannya telah membuat banyak orang mengikuti ajaran tarekat tersebut, atau sekedar menjadikannya sebagai ilmu pengetahuan secara ilmiah saja. Kini Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah yang dibawa Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya telah berkembang luas menjadi salah satu tarekat terbesar di Indonesia maupun di Malaysia, dan telah tersebar sampai ke Amerika Serikat. [MUA]

Sumber: Biografi Prof. Dr. H. Kadirun Yahya

Continue Reading

Tokoh

Mengenal Syekh Abul Fadhol al-Senory, Ulama Kampung yang Go International

Published

on

Syekh Abu al Fadhol al Senori atau Kiai Fadhol adalah putra dari pasangan ulama KH. Abdus Syakur bersama istrinya Nyai Sumiah yang lahir pada tahun 1917 M. Dilihat dari nasab ayahnya, Kiai Fadhol bukanlah keturunan orang sembarangan. Kakeknya dari jalur ayah, yang bernama Kiai Muhsin adalah ulama dari Karangmangu, Sarang yang merupakan putra dari Mbah Saman bin Yaman, yaitu seorang pejuang dari pasukan Pangeran Diponegoro yang gigih membela negara. Adapun neneknya dari jalur ayah yang bernama Mbah Denok berasal dari keturunan pengusaha Kesultanan Surakarta, yaitu Raden Diloyo.

Mbah Denok merupakan ulama perempuan yang alim dan zuhud. Ia adalah perempuan yang sangat setia dan berbakti kepada suaminya. Berdasarkan cerita dari beberapa sumber, Mbah Denok sangat menginginkan putra yang shalih.  Ketika ia sedang hamil, ia tidak sengaja menumpahkan sebagian beras yang sedang ia cuci. Seketika itu, beras yang tumpah berubah menjadi emas. Kemudian Mbah Denok berkata,

“Ya Allah, saya tidak meminta harta benda, saya minta putra yang alim.”

Dan benar saja. Allah mengabulkan doanya dan menganugerahinya putra putri yang shalih dan shalihah, yaitu Kiai Abdus Syakur, Kiai Chair dan Nyai Sarah yang diperistri oleh Raden Yusuf Mangkudirjo, Putra Bupati Jepara kala itu.

Pada usia yang masih belia, Kiai Abdus Syakur mengikuti pamannya untuk menuntut ilmu ke Haramain selama dua belas tahun lamanya. Di sana, ia berguru kepada berbagai macam ulama terkemuka, di antaranya kepada Syekh Nawawi al-Bantani, Syekh Zaini Dahlan, Syekh Mukri dan juga pengarang kitab I’anah ath-Thalibin, Sayyid Bakri Syatha’. Ia juga bersahabat baik dengan cucu muallif tersebut yang bernama Sayyid Hamzah Syatha’. Selain di Mekkah, Kiai Abdus Syakur juga pernah mengenyam pendidikan agama kepada KH. Ahmad Sholeh Langitan, Kiai Sholeh Darat Semarang dan Syekh Kafrawi Tuban.

Sekembalinya ke tanah air, ia dinikahkan oleh Nyai Sumiah di Sedan Rembang dan menetap di sana. Keduanya dikaruniai dua orang anak laki-laki yang diberi nama Abul Khair dan Abul Fadhol. Selanjutnya, ia mendirikan lembaga pendidikan pesantren dan mengajar santri-santrinya di sana. Di antara santrinya itu, ada yang bernama Kiai Djuned yang akan menjadi besannya kelak.

Kiai Abdus Syakur adalah ulama yang disiplin dan telaten. Dengan kedalaman pengetahuannya, ia sendiri yang mengajarkan ilmu agama  terhadap anak-anaknya terutama Kiai Fadhol. Karena memiiki tingkat kecerdasan di atas rata-rata, Kiai Fadhol dengan mudah menyerap semua ilmu dari ayahnya. Dalam mengajar, Kiai Abdus Syakur menggunakan metode menghafal dan memaknai kitab, sehingga tidak heran ketika nantinya Kiai Fadhol menjadi salah satu ulama yang produktif dalam mengarang kitab. Maka tidak heran ketika kakaknya sendiri, Kiai Abdul Khair lantas memuji kecerdasan adiknya itu.

“Saya (Kiai Abul Khair) dan Abul Fadhol hanya belajar kepada ayah kami. Akan tetapi, dalam masalah ini, Abul Fadhol kecerdasannya mengungguli saya. Sebab cepatnya menghafal dan menguasai berbagai disiplin keilmuan seperti sharaf, nahwu, balaghah, manthiq, muqawwalat, ilmu tafsir, ilmu hadis nabawi, arudh dan khafiyah.”

Kecerdasan Kiai Fadhol memang sudah nampak sejak masih kecil. Daya hafalannya sangat kuat. Dengan hanya mendengar penjelasan ayahnya, ia dapat mencerna dan memahami dengan cepat. Maka tidaklah heran, ketika berusia Sembilan tahun, ia sudah sanggup menghafalkan al-Quran 30 juz hanya dalam waktu dua bulan. Kemudian, pada usianya yang kesebelas tahun, ia sudah hafal Alfiyah ibn Malik. Selain itu, ia juga sudah mampu mengarang kitab, khatam kitab Kafrawi dan membaca Fathul Wahab ketika masih muda. Bahkan, saat ia mengkhatamkan kitab Uqudul Juman, tata bahasa Arabnya sudah sangat sempurna. Oleh karena itu, meskipun tidak pernah menuntut ilmu ke Mekkah seperti ayahnya, keunggulan gramatikal bahasa Arab Kiai Fadhol tidak perlu diragukan lagi kefushah-annya. Terbukti ketika banyaknya tamu Kiai Abdus Syakur yang dari negara Arab datang ke rumah, Kiai Fadhol lah yang menjumpai mereka dan berdiskusi dengan mereka.

Selain mahir dalam bahasa Arab, Kiai Fadhol rupanya juga mahir dalam bahasa Belanda. Sejak kecil, ia tak segang untuk bersenda gurau dengan serdadu-serdadu atau siapapun yang berada di markas Belanda tanpa ada rasa khawatir sedikitpun. Tapi dari situlah kemampuan berbahasanya bertambah. Kebiasaan tersebut membuatnya menjadi mahir dalam berbahasa Belanda.

Setelah Kiai Fadhol mendapatkan pemahaman agama yang cukup dari ayahnya, barulah ia diizinkan mengambil sanad keilmuan dari ulama lain seperti kepada Pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng, KH. Hasyim Asyari yang merupakan sahabat ayahnya ketika di Haramain, itupun tidak sampai satu tahun. Melalui sanad keilmuannya dari KH. Hasyim Asyari, Kiai Fadhol mengembangkan Islam yang toleran, bahwa perbedaan hanya terletak dalam soal furu, sedangkan dalam hal pokok, ushul, antar golongan umat Islam memiliki satu pemahaman. Sehingga, banyak santri KH. Hasyim Asyari yang kemudian melakukan propaganda bersama untuk kepentingan Islam dan sebagai cermin dari pendekatan bersatu yang dilakukan dengan mengemukakan perlunya toleransi. Inilah yang sepertinya menjadi buah pikir penulisan kitab Kawakib al Lama’ah, salah satu karyanya yang membahas eksistensi Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Selepas dari menyelesaikan pendidikannya di Tebu Ireng, Kiai Fadhol dinikahkan dengan perempuan asal Senori bernama Nyai Syari’ati binti Kiai Djuned dan tinggal di sana dengan mendirikan sebuah pondok pesantren yang diberi nama Darul Ulum pada sekitar tahun 1960-an. Senori dulunya adalah daerah abangan. Kemudian datanglah Kiai Khusno dari Kendal bersama putranya Kiai Djuned yang melakukan babat alas di daerah tersebut dan kemudian diteruskan oleh menantunya, Kiai Fadhol. Bersama Nyai Syari’ati, Kiai Fadhol dianugerahi tujuh orang putra dan putri, antara lain:

  • Abdul Jalil
  • Muayyad
  • Shofiyuddin
  • Nashirul Mahasin
  • Khoridatul Anisah
  • Abdul Mafakhir
  • Lum’atud Duror

Kiai Fadhol wafat pada Hari Sabtu, 11 November 1989 yang bertepatan dengan tanggal 12 Robiul Awal 1410 H dan dimakamkan di pemakaman umum di Senori Tuban. Ia wafat karena sakit yang dideritanya. Meskipun sosoknya sudah tidak ada, namun namanya masih tetap harum hingga kini.

Karakteristik dan  Keilmuan

Sebagaimana yang telah dijelaskan di awal, bahwa Kiai Fadhol bukanlah sosok yang banyak mendapatkan pendidikan dari ulama lain. Meskipun demikian, banyak sekali ulama-ulama besar di bawahnya yang mengambil sanad keilmuan darinya. Kiai Fadhol adalah ulama yang sangat tegas dalam memberikan pendidikan kepada santri-santrinya. Ia tak segan menegur ketika ada yang terlambat dalam memulai majelis ilmu meskipun hanya beberapa menit saja.

Selain itu, ulama kharismatik tersebut memiliki gaya hidup yang sangat sederhana namun nyentrik. Menurut KH. Abdullah Faqih Langitan, yang merupakan salah satu santrinya mengatakan bahwa gurunya itu tak pernah memungut bayaran sedikitpun selama proses belajar-mengajar. Bahkan ia menghidupi dirinya sendiri dengan sambil berjualan, sehingga ketika ada yang membeli, proses pembelajaran tersebut dijeda sebentar.

Selain KH. Abdullah Faqih Langitan, masih ada banyak lagi ulama besar yang pernah menimba ilmu darinya, seperti KH. Maimoen Zubair Sarang, KH. Hasyim Muzadi, KH. Kafabihi Mahrus Lirboyo, KH.  Muhammad Zayadi Zain Pendiri Ponpes Zainul Islah Probolinggo, KH. A Mujib Imron, SH. dari Pondok Pesantren Al Yasini, Pasuruan dan banyak lagi. Kebanyakan para santri-santrinya tersebar di wilayah Jawa Barat seperti Cirebon dan Kuningan.

Kiai Fadhol adalah ulama yang zuhud. Hal ini tampak dalam penampilannya sehari-hari. Bahkan, pernah suatu ketika Kiai Fadhol bertakziyah ke Ayahanda KH. Maimoen Zubair yaitu KH. Zubair Dahlan. Pada saat itu, tak ada seorangpun yang mengenalnya, karena pakaian yang dikenakan tidak seperti ulama kebanyakan. Kopiahnya sudah berwarna merah dan bajunya lusuh. Namun ketika KH. Maimoen Zubair menyambut dan mencium tangannya, barulah orang-orang sadar bahwa yang datang itu bukanlah orang sembarangan. Selain itu, menurut Nyai Lum’atud Duror, Kiai Fadhol kerap tirakat dan hanya makan sehari sekali. Ia juga jarang tidur dan lebih sering melakukan wirid.

Sebagaimana manusia pada umumnya, Kiai Fadhol juga perlu mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Ia pernah menjalani profesi seperti menjadi penjahit, penjual benang dan kain serta membuka bengkel. Bahkan, pada tahun 70-an, Kiai Fadhol sudah sudah mampu membuat bronfit, memodifikasi motor dan sepeda. Padahal, ia sebelumnya sama sekali tidak pernah belajar otomotif. Apalagi ia hidup di daerah pedesaan yang jauh dari arus teknologi. Selain itu, ia juga pandai mereparasi barang-barang elektronik seperti radio, televisi, kipas angin dan lain-lain. Padahal, ia juga tidak pernah belajar elektronik. Namun yang unik dari ulama tersebut adalah setiap kali pekerjaan yang ditekuni itu mulai maju, ia segera beralih ke profesi lain. Hal ini menunjukkan bahwa Kiai Fadhol bekerja bukan karena tujuan harta, melainkan sebagai bentuk ikhhtiar kepada Allah. Karena itu, bekerja adalah ibadah lain di samping rutinitasnya mengajar santri-santrinya di Pondok Pesantren Darul Ulum.

Selain menjadi pengasuh pondok pesantren, Kiai Fadhol juga merupakan pengurus Nahdlatul Ulama Provinsi Jawa Timur yang sangat aktif dan bahkan merupakan sebagai seorang pendiri Nahdlatul Ulama di Senori Tuban. Pada tahun 1960-an, KH. Abul Fadhol pernah menjabat sebagai Rais Syuriah NU cabang Tuban Selatan (Kecamatan Senori-Bangilan) yang pada saat itu menggantikan KH. Masyhuri. Meskipun pada saat itu usianya sudah tak lagi muda, tetapi KH. Abul Fadhol tetap aktif di NU dan menjabat sebagai Dewan Mustasyar Jawa Timur hingga akhir hayatnya.

Karya-karya

Kiai Fadhol adalah ulama yang sangat produktif hingga akhir hayatnya. Karya-karyanya bahkan tidak hanya dikaji di Pesantren-pesantren di Nusantara, namun juga di luar negeri seperti Malaysia, Mesir dan Turki. Berdasarkan keterangan Kiai Juwaini, karya Kiai Fadhol terbagi menjadi dua katagori: Pertama, kitab-kitab yang ia terjemahkan ke dalam Bahasa Jawa pegon yaitu kitab-kitab yang bukan tulisannya sendiri melainkan karya ulama-ulama terdahulu seperti ilmu nahwu, sharaf dan lain-lain. Kedua, kitab-kitab yang merupakan karyanya sendiri dan ditulis dengan menggunakan Bahasa Arab. Pada katagori kedua ini, Kiai Fadhol menolak untuk menterjemahkan karyanya ke dalam Bahasa Jawa atau Bahasa Indonesia, karena khawatir menghilangkan I’jaz. Menurutnya, jika kitabnya diterjemahkan, maka keistimewaannya akan hilang. Kitab-kitab tersebut banyak dikaji di pesantren-pesantren milik santrinya terdahulu sebagai ngaji pasaran selama Bulan Ramadhan.

Adapun karya-karya Kiai Fadhol meliputi ilmu tafsir, ilmu tauhid, ilmu fikih, ilmu bahasa dan ilmu sejarah. Adapun beberapa karyanya yang masih dikaji di antaranya adalah sebagai berikut:

  • Kitab Tafsir Al-Ayat al-Ahkam

Kitab ini merupakan karya Kiai Fadhol dalam bidang tafsir dengan menggunakan metode tematik yang menyangkut hukum-hukum syariat, ubudiyah dan muamalah. Hal ini dibuktikan dengan adanya klasifikasi ayat-ayat yang memiliki kesamaan tema, kemudian ditafsirkan dengan pendekatan fikih serta analisis bahasa. Kitab ini tidak diketahui secara pasti kapan pertama kali dibuat, namun pengajaran kitab tersebut pertama kali dilakukan pada tahun 1971. Namun dalam pembuatan kitab tersebut, ada indikasi belum selesai ditulis sebab tidak adanya bagian akhir bab yang biasanya berisi penutup. Padahal, kitab tersebut memiliki muqaddimah (pendahuluan).

  • Kitab Kawakibu al-Lama’ah

Kitab ini merupakan karya Kiai Fadhol dalam bidang tauhid. Kitab ini selesai pada tahun 1381 H dan didedikasikan kepada NU sebagai argumen-argumen Ahlus Sunnah wal Jamaah. Kitab ini juga pernah dikaji dalam muktamar NU di Solo, kemudian isinya disepakati di Jombang pada tahun 1383 H atau 1964 M. Namun karena ada sebagian masyarakat yang tidak memahami kandungan kitab tersebut, maka Kiai Fadhol membuat syarh nya yang berjudul Syarah Kawakibu al-Lama’ah. Kitab tersebut bukan hanya diajarkan kepada santri, tapi juga masyarakat secara umum. Bahkan Syarah Kawakibu al-Lama’ah disimpan dengan baik di salah satu perpustakaan di Istanbul, Turki.

  • Kitab Kasyf Tabarihfi Bayan Salat al-Tarawih

Salah satu karya Kiai Fadhol yang menerangkan tentang fiqih adalah kitab Kasyf Tabarihfi Bayan Salat Al-Tarawih. Kitab tersebut ditulis karena problematika umat yang mempermasalahkan pelaksanaan shalat tarawih apakah 20 rakaat atau 8 rakaat. Oleh sebab itu, kitab ini ditulis sebagai jawaban atas keresahan masyarakat.

  • Kitab Tashil al-Masalik

Dalam bidang bahasa, Kiai Fadhol banyak sekali mensyarahkan kitab-kitab ulama terdahulu seperti kitab Tashil Al-Masalik sebagai syarh Alfiyah Ibnu Malik. Kitab ini terdiri dari tiga jilid yang ditulis oleh Kiai Fadhol untuk mempermudah santri-santrinya dalam memahami gramatikal bahasa Arab, khususnya di bidang Nahwu. Sebab, tidak semua orang dapat memahami intisari dari Alfiyah Ibnu Malik yang terdiri dari 1002 bait-bait nadzom. Sehingga perlu penjelasan dari guru, salah satunya melalui hadirnya kitab ini.

  • Kitab Ahla al-Musamarah fi Hikayat al-Auliya’ al-Asyrah

Kitab Ahla al-Musamarah fi Hikayat al-Auliya’ al-Asyrah adalah satu-satunya karya Kiai Fadhol di bidang sejarah. Kitab ini selesai ditulis pada tahun 1381 H dalam Bahasa Arab yang menjelaskan tentang perjalanan wali sepuluh. Bahkan, menurut Kiai Juwaini, karya Kiai Fadhol yang satu ini merupakan satu-satunya kitab sejarah yang ditulis menggunakan bahasa Arab.

Penulis: Khoirum Millatin

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending