Connect with us

Artikel

Ma’rifat dan Cinta kepada Syaikh

KH Budi Rahman Hakim, MSW., PhD. [Kandidat Guru Besar bidang Tashowuf & Thoriqoh UIN Syarif Hidayatulloh Jakarta & Ketua Penasehat Roudhoh TQN Suryalaya Sirnarasa Pusat]

Published

on

Ma'rifat Cinta

1

PUNCAK perjalanan seorang murid dalam suluk thoriqoh ialah ma’rifat & cinta pada Guru Mursyidnya [معرفة ومحبة الشيخ]. Keadaan ruhani demikian merupakan tajalli: manifestasi sekaligus ekspresi dari pencapaian maqom ma’rifat & cinta seorang salik kepada ALLOH ‘azza wajalla [معرفة و محبة الله].

Tingkat dan kadar ma’rifat serta cinta murid kepada Syeikh Mursyidnya berbeda-beda, bertingkat-tingkat. Semua tergantung pada, pertama, rezeki batin masing-masing murid yang telah ditentukan-NYA memang berbeda-beda, kedua, ikhtiar ruhaniyah –amaliyah, riyadhoh, mujahadah– yang dilakukan murid yang beragam: ada sekedarnya, sungguh-sungguh dan ada yang totalitas.

Tingkat dan kadar ma’rifat serta cinta murid menentukan cara ia bersikap, memperlakukan, dan meletakkan kedudukan Syeikh Mursyid dalam kehidupannya.

Semakin tinggi tingkat dan kadar ma’rifat serta cintanya, maka semakin tinggi ia memandang kedudukan Syeikhnya, semakin cinta ia kepada Syeikhnya serta semakin penting peran Syeikh dalam kehidupannya. Sebaliknya, semakin rendah tingkat dan kadarnya, maka semakin biasa-biasa ia memandang kedudukan Syeikhnya, tak ada cinta di hatinya, dan tiada penting Syeikh dalam kehidupannya.

Secara ruhani, Kanjeng Nabi Muhammad Shollallohu ‘alaihi wasallam telah memberi ilustrasi bagaimanan sejatinya posisi Syeikh dalam tatanan kehidupan seorang Muslim. Di bawah ini beberapa di antara sabda-sabda suci beliau:

الشيخ فى قومه كا النبي فى امته

Al-Shaykh fi qawmihi ka al-nabiy fi ummatihi (Seorang Syeikh di tengah kaumnya seperti seorang Nabi di tengah umatnya).

الشيخ فى اهله كا النبي فى امته

Al-Shaykh fi ahlihi ka al-nabiy fi ummatihi (seorang Syeikh di tengah keluarganya seperti seorang Nabi di tengah umatnya)

الشيخ فى بيته كاالنبي فى امته

Al-Shaykh fi baitihi ka al-nabiy fi ummatihi (Seorang Syeikh di rumahnya seperti seorang Nabi di tengah umatnya) [Lihat al-Sakhawi, n.d.: 187].

Terakhir, ada hadits Nabi Shollallohu ‘alaihi wasallam yang menggambarkan kedudukan Syeikh yang Alim ‘Ulama:

علماء امتي كالانبياء بني اسرائل

Ulama’ ummati ka al-anbiya’ bani isra’il (para ulama pada umatku seperti para Nabi kaum Bani Isra’il) [Lihat al-Halli, 1988: 38; al-Ihsa’i, 1403 H.: 77; al-Manawi, 1972: 504].

Ma'rifat Cinta

2

Ada banyak jalan untuk meraih kedudukan ma’rifat & cinta Syeikh Mursyid. Setelah mengambil haq Talqin Dzikir atau berba’iat kepada Mursyidnya, seorang murid mesti menempuh perjalanan mem-fana-kan segala perbuatan ibadah kepada Syeikh [فناء فى افعال الشيخ]. Yaitu, kesanggupan ruhani untuk mengamalkan hanya Amaliyah Syeikh Mursyid dan membuang secara berkala amaliyah lain yang bukan dan yang tidak ada dari Guru Mursyid.

Paling minimal dalam tahap ini, murid memprioritaskan untuk hanya menyantap seluruh Amaliyah Gurunya dulu saja. Jika ada waktu tersisa, disilakan mengamalkan yang sudah jadi kebiasaannya. Namun bila ada ‘tabrakan’ waktu pelaksanaan, murid yang telah menjalani laku فناء فى افعال mesti mendahulukan Amaliyah Gurunya. Amaliyah lain derajatnya hanya tabarukan saja.

Laku kesufian tahap ini sekaligus merupakan manifestasi sikap ruhani yang wajib dijalani seorang murid kepada Syeikh Mursyidnya, yaitu Robithoh [رابطة]. Yaitu, ketika hati murid slalu mengikatkan hatinya kepada Mursyidnya. Secara sederhana, robithoh dimengerti ‘ingat Guru Mursyid’. Ingat Guru bukan hanya mengingat wajahnya tapi mengingat seluruh ajaran yang jadi amalannya.

Ciri seorang murid mengingat ajaran amalan Guru Mursyidnya ia mengamalkan amalannya, melakukan perintahnya, mengerjakan apa yang biasa dikerjakannya. Sebaliknya tidak mengamalkan apa yang tidak diamalkannya, tidak melakukan yang tidak diperintahkannya, dan tidak mengerjakan yang tidak dikerjakannya.

Nah, setelah cukup sempurna menjalani tahap ini maka ia akan lebih mudah atau akan mendapatkan buah dari Amaliyahnya ke dalam perangai keseharian. Atau, boleh dikatakan, kualitas murid dalam tahap ini akan amat menentukan kualitas murdi dalam menjalani laku tahap selanjutnya yakni, ….

3

Tahap فناء في افعال الشيخ dalam perjalanan meraih keadaan ruhani Ma’rifat dan Cinta kepada Syeikh juga merupakan bagian dari manifestasi laku Shohbah [صخبة]. Di dalam Shohbah ada tiga laku kesufian yang mesti dijalani, yakni, berkumpul, bermujalasah bersama Syeikh [اجتماع], mendengar petuah, nasihat, irsyadat dari Syeikh [ استماع] dan puncaknya yakni ikut ucapan dan perbuatan Syeikhnya [اتباع].

Penting bagi seorang murid dalam fase فناء في افعال untuk mengetahui detail apa saja dan bagaimana Syeikhnya menunaikan Amaliyah Shufiyyah dalam kesehariannya –sebagai bagian ikhtiar Makrifat. Tidak cukup hanya membaca panduan buku Amaliyah tapi juga penting mengetahui bagaimana mempraktekannya melalui penjelasan maupun pelaksanaan saat-saat bersama Syeikhnya secara fisik –dari mulai cara thoharohnya, sholatnya, dzikirnya, khotamannya, pelaksanaan Manaqib dan sholat-sholat sunnahnya. Inilah fase صخبة الصغرى, belajar langsung dari the living book, kitab yang hidup.

Dengan sering bersama Syeikh, selain akan mendapat limpahan berkah dan karomah [فيضة], maka murid akan banyak pengetahuan tentang bagaimana detail Amaliyah Syeikhnya, demikian, ia bisa mengikuti Sunnah-sunnah Mardhiyah [سنن المرضية] Syeikhnya saat ia secara dhahir tak lagi bersama Syeikhnya. Jika murid slalu menyamakan frekuensi Amaliyahnya di mana pun dan kapan pun dengan Syeikhnya maka ia memasuki fase tertinggi cinta, yakni: ikut [اتباع]. Dengan ikut maka ia akan slalu ‘terbawa’. Fase ini sekaligus ia telah dan slalu dalam keadaan صخبة الكبرى kepada Syeikhnya.

Setiap apa yang dilakukan Syeikh itu dalil shohih bagi bagi murid dalam tata laksana peribadahan [الشيخ هو الدليل]. Mengapa? Karena apa yang dilakukan seorang Syeikh pasti segalanya semuanya dari gurunya dari gurunya dari gurunya dari gurunya hingga tersambung sanadnya kepada hadrot Nabi Shollallohu ‘alaihi wasallam. Seluruh perbuatannya adalah perbuatan seluruh اهل السلسلة yang puncaknya adalah Rosululloh Shollalohu ‘alihi wasallam.

Jadi ketaatan, ikutnya murid kepada Syeikhnya, merupakan perwujudan اتباع النبي صل الله عليه و سلم dan ini merupkaan sebentuk cinta kepada ALLOH [محبة الله] –sekaligus jalan meraih kasih sayang dan ampunan-NYA, berdasarkan firman ALLOH ‘azza wajalla.

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ ٱللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌۭ رَّحِيمٌۭ

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS Ali Imran : ayat 31)

قُلْ أَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ ۖ فَإِن تَوَلَّوْا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْكَٰفِرِينَ

Katakanlah: “Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”.(QS Ali Imran : ayat 32)

4

SHOHBAH merupakan elemen laku kesufian terpenting penting dalam suluk thoriqoh. Shohbah itu bukan sekedar frekuensi kebersamaan fisik murid dengan Syeikh Mursyid tapi terjalinnya relasi persahabatan seperti Kanjeng Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam dengan para Sahabatnya [الشيخ فى قومه كا النبي فى امته].

Demikian harus terpenuhi syarat sebuah persahabatan. Hadrotus Syeikh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul Qs menegaskan, Syarat persahabatan itu tidak ada perdebatan di sepanjang kebersamaan. Ikut, sabar, dan tidak bertanya apalagi mempertanyakan : شرط الصخبة ترك المخالفة.
Untuk mendapat ilustrasi Shohbah, beliau sering merujuk kepada kisah Nabi Musa AS yang diperintahkan Alloh untuk mencari dan berguru kepada Nabi Khidir AS yang tertuang di dalam al-Qur’an Surat al-Kahfi ayat 60 – 82.

Ketika akhirnya dipertemukan, Nabiyulloh Khidir diawal sudah menyampaikan syarat, tidak boleh bertanya –apalagi mempertanyakan. Sejak awal bahkan Nabi Khidir AS sudah membaca bahwa Nabi Musa tidak akan kuat, tidak akan bersabar menjalani kebersamaan dan ternyata benar.

Peristiwa yang slalu menjadi rujukan kaum Sufi-thoriqoh sekaligus ilustrasi tentang apa makna, peran, dan model pendidikan yang dilakukan Mursyid kepada murid-muridnya serta bagaimana sikap jiwa murid saat berguru kepada Guru Mursyid.

Dari kisahkan yang tertuang dalam Surat dan ayat-ayat tersebut, dapat diperoleh gambaran –sebagai ikhtiar kontekstualisasi al-Qur’an, bahwa:

  1. ALLOH di setiap masa slalu menunjuk hamba yang dikehendaki-NYA –sebagai sosok transformasi Nabi Khidir AS– untuk memiliki dan mengajarkan pengetahuan/informasi tentang rencana serta iradah-NYA terhadap suatu peristiwa –Ilmu Laduni– sebagai materi pendidikan untuk perbaikan kualitas hidup manusia di setiap masa. Tampil menjadi Guru yang mengurus dan membimbing ruh manusia-manusia.
  2. Alloh memberikan perintah kepada Musa-musa zaman now –konteks masa itu diwakili oleh Nabi Musa AS– untuk mencari, menemukan, dan meluangkan waktu untuk belajar ilmu-ilmu ALLOH kepada hamba-hampa pilihan-NYA yang ada di setiap masa. Yaitu, ilmu-ilmu yang tidak dianugerahkan kepada orang sekelas Nabi Musa AS sekalipun.
  3. Ketika bertemu dengan sosok tajalli Nabi Khidir AS maka siapapun mesti mengikuti prosedur peraturan dalam proses pembelajaran ilmu-ilmu ALLOH darinya. Yaitu, ikut, sabar dan tidak bertanya. Mumpung tidak mengerti, ikut saja! Karena segala ucapan dan perbuatan Guru Ma’rifat ini pasti mengandung hikmah dan pelajaran, sekaligus, merupakan petunjuk serta telah mendapat guidance dari ALLOH ‘azza wajalla. Itulah sikap jiwa yang mesti dimiliki seseorang ketika ketemu dan berguru kepada Guru Mursyidnya.

5

Kesediaan jiwa seorang murid untuk ikut Amaliyah [ فناء فى الافعال الشيخ] dan bershohbah bersama Mursyidnya maka keadaan demikian akan menariknya ke atas, naik ke jenjang fana dalam sifat-sifat Syeikhnya [ فناء فى الصفات او فى الاحوال الشيخ]. Yaitu, ketika amaliyah yang diamalkannya secara istiqomah berbuah muamalah yang berkualitas.

Amaliyah adalah ikhtiar ruhani membangun relasi vertikal dengan Khooliq [حبل من الله]. Sementara muamalah adalah ikhtiar membangun relasi horizontal dengan sesama makhluq-nya [حبل من الناس]. Rumus ilahiyah-nya ialah siapa yang relasi vertikalnya baik maka akan baik dan memperbaiki relasi horizontalnya.

Dengan ungkapan lain, barangsiapa berkualitas dalam amal ritual kesufiannya maka akan berkualitas amal aktual kehidupan sosialnya. Berkualitas amaliyahnya maka berkualitas akhlaq kesehariannya. Bahkan puncak yang dituju dari amal kesufian itu adalah akhlaqul karimah [اخلاق الكريمة]. Dalam bahasa TANBIH Syeikh Abdulloh Muabarok bin Nur Muhammad, tujuan tertinggi ajaran yang jadi amalan kesucian jiwa ialah BUDI UTAMA JASMANI SEMPURNA (Cageur Bageur) –dalam bahasa Jawa: waras-bergas.

Akhlaqul karimah pada saat yang sama menjadi prasyarat sekaligus penanda seseorang telah sampai dan bersama ALLOH [الواصل الى الله]. Hadrotus Syeikh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul Ra Qs menyampaikan,

لا يصل المخلوق الى الخالق الا بالاخلاق

Tidak akan sampai makhluq kepada khooliq kecuali dengan akhlaqnya. Dalam kalamnya yang lain, Pangersa Abah Aos menegaskan, sosok الواصل الى الله itu tandanya ialah ia yang akhlaq ucap dan perbuatannya telah, sedang dan slalu mencerminkan akhlak TANBIH sebagai 9 Pilar Peradaban Dunia.
Ini bersambung dengan perintah dari Nabi Muhammad ص م kepada umatnya agar berakhlak dengan akhlak dan sifat-sifat ALLOH.

…اتّصفوا بصفاة الله
…تخلّقوا باخلاق الله

Dan untuk mengetahui perwujudan akhlak paling sempurna ALLOH (tajalli) pada diri manusia ialah akhlaknya Nabi Muhammad ص م sendiri, seperti dilukiskan isteri tercinta Sayyidah Aisyah Ra, وكان خلقه القرئن. Dan keadaan akhlaq Nabi adalah semuanya segalanya selamanya al-Qur’an.

Statemen ini bukan hanya berlaku kepada Nabi Agung akhir zaman Ahli Silsilah ke-3 tapi juga berlaku pada para Aulia ALLOH yang ditunjuknya sebagai penerus sekaligus pewaris ajaran di setiap masa, termasuk masa sekarang ini.

MEREKA adalah sekaligus penjelmaan insan kamil yang hadir dan “diutus” di setiap masa. Merujuk kepada tafsir Syeikh Abdul Karim al Jilli dalam karyanya الانسان الكامل bahwa sosok insan kamil ini adalah the living Qur’an atau الكتاب. Kitab al Qur’an hidup, berjalan, sosok yang harus diikuti. Sosok bacaan dan tulisan –yang tiada keraguan di dalamnya [ذالك الكتاب لا ريب فيه]– untuk memandu perjalanan kehidupan manusia.

Ikutilah sang Insan Kamil, karena ikut adalah bukti nyata nan sempurna dari cinta. Cinta kepada-NYA, cinta pada Nabi-NYA, dan cinta pada seluruh kekasih-NYA dalam rantai spiritual خلفاء الراشدين. Berdasarkan,

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang. (QS. 3:31). Sekian.

[]

Continue Reading

Artikel

Firasat Murid ke Gurunya

Published

on

Firasat Murid ke Gurunya

Mursyid Khalwatiyah Syekh Yusuf al-Makassariy, al-Habib Syekh Sayyid Abd Rahim Assegaf Puang Makka atau yang kerap disapa dengan Habib Puang Makka, memiliki sejumlah guru tarekat.

Ada tiga gurunya di Makassar yang sangat berjasa, abahnya sendiri yakni Habib Puang Ramma, Habib Thahir Assegaf dan Allamah Nashirus Sunnah AG. KH. Muhammad Nur.

Saat haul ke-10 AGH. Muhammad Nur (29/06/2021) puang Makka masih di Jakarta, Duren Sawit kediaman gurunya juga, maulana Habib Luthfi bin Yahya. Selama seminggu Puang Makka di Jakarta dan kemarin (kamis/01/07) Puang sudah tiba di Makassar, Alhamdulillah.

Puang Makka mengenang 10 tahun gurunya Allahuyarham AGH. M. Nur dengan doa khusus dan kembali mengingat momen-momen kebersamaanya antara lain saat bersama di Muktamar NU ke-27 tahun 1984 di Situbondo.

Saat puang makka hendak mengantar jamaah umrah tahun 2011, seminggu sebelumnya ada firasat dalam hati akan kepergian sang guru ahli hadis dengan gelar Nashirus Sunnah ini sehingga Puang Makka bergegas ke RS Faisal Makassar menjenguk gurunya, AGH. M. Nur

Tabe Puang Anre gurukku, “kidoakan nga”. Demikian kata puang Makka di hadapan AGH. M. Nur sambil digenggamnya tangannya tanpa bicara tapi ada isyarat khusus yang disampaikan.

Setelah didoakan dan izin pamit, Puang Makka berangkat umrah keesokan harinya dan saat tiba di Mekka, Puang Makka mendapat berita tentang wafatnya sang guru AGH. Muhammad Nur. [Dr. K. M. Mahmud Suyuti, MAg.]

Continue Reading

Artikel

Ngaji Ihya Ulumiddin Bersama KH. Ali M. Abdillah: Suluk untuk Membersihkan Kotoran Batiniah

Published

on

Ngaji Ihya Ulumiddin Bersama KH. Ali M. Abdillah: Suluk untuk Membersihkan Kotoran Batiniah

Manfaat Uzlah/Suluk adalah selamat dari segala bentuk kemaksiatan. Sebagaimana orang yang melakukan mukhalatah (hidup di tengah masyarakat namun tahan pada pengaruh buruk). Imam al-GHazali menerangkan ada empat penyakit kronis yang dapat dihindari saat seorang Uzlah yaitu: ghibah (bergosip), namimah (fitnah), riya (terpesona dengan kehendak diri sendiri) dan suqut anil amri wa nahi ala munka (diam dari perintah berbuat benar dan melarang kemungkaran).

Dalam bab riya, Imam al-Ghazali menjelaskan riya adalah melakukan sesuatu untuk mencari perhatian makhluk bukan karena Allah. Biasanya pelakunya jika melakukan sesuatu akan semangat apabila dilihat dan disanjung banyak orang. Riya ini termasuk penyakit kronis yang sulit dihilangkan. Bahkan wali abdal dan autad merasa kesulitan menghadapinya.

Riya termasuk syirik yang tersembunyi (syirik khafi). Rasulullah saw. telah mengingatkan bahwa yang paling beliau takutkan dari umatnya adalah bila seorang terjangkit syirik asghar yaitu riya. Riya bisa dihilangkan dengan mengamalkan ilmu tarekat yakni riyadhah mujahadah dan dzikir nafi isbat لا إلهَ إِلاَّ اللهُ

Jika sudah memahami makna substansi zikir nafi isbat, maka riya akan tergeser. Setelah istikamah dzikir nafi isbat kita juga akan memahami siapa diri kita dan mudah mengucapkan لاحول ولاقوة الا بآلله العلي العظيم

Selain itu, manfaat istikamah zikir nafi isbat, riyadhah dan mujahadah (suluk) adalah menguatkan ruhani sehingga memiliki filter bagi diri dari pengaruh lingkungan buruk. Karena karakter seseorang terbentuk dari keadaan lingkungannya. Maka ada ungkapan kalau kita berteman dengan tukang abu kita akan ketiban abunya dan bila kita berteman dengan tukang minyak wangi maka kita juga akan wangi.

Penyakit buruk akan menjadi penyakit yang terpendam. Maka sedikit sekali orang yang mengerti, apalagi dia orang yang ghofilin atau lalai. Jika orang yang istikamah zikir dan ia memiliki power saat berkumpul dengan orang yang karakter buruk, maka efek dari zikir ini akan bisa menjaga kita dari ketularan tabiat buruknya. Seolah-olah kita diberi penjagaan Allah untuk tidak mengikuti. Ini jika memiliki tameng ruhani. Jika kita tidak istikamah maka akan mudah mengikuti.

Selanjutnya Imam al-Ghazali mengutip sebuah hadis Rasulullah saw. bersabda bahwa kamu akan menemukan manusia yang paling buruk yaitu yang memiliki dua wajah, dia datang kepada satu kelompok dengan satu wajah dan pada yang lain dengan satu wajah. Inilah ciri oraang yang terjangkit riya, yaitu mudah menjadi orang munafik. Dia tidak memiliki prinsip.

Ada satu cara lain untuk merubah watak yang buruk yaitu dengan sering mendengarkan kebaikan maupun keburukan, terlebih menyaksikan perbuatan itu langsung. Kalau kita berkumpul dengan orang yang biasa bohong maka bisa dilihat kalau ia sehari tidak bohong rasanya kurang lengkap. Kalau berkumpul dengan orang baik, ia akan mengambil banyak hikmah darinya.

Inilah rahasia sabda Rasulullah saw. bawa ketika kita duduk bersama-sama mengingat orang salleh dan ilmunya maka akan turun rahmat pada kita. Yang bentuknya kita diberi pemahaman baik buruk sehingga tidak melakukannya. Dan masuk ke dalam surga dan berjumpa dengan Allah.

Dengan mengkaji ilmu orang saleh dan mengingatnya dalam diri kita akan muncul sifat rahmat dan tergerak memiliki kesungguhan untuk mengikuti langkah mereka dalam melakukan kebaikan.           Maka dari itu penting untuk istikamah mengkaji ilmu tasawuf dan praktek suluk tarekat (zikir, riyadhah mujahadah) agar kita dapat menaikkah vibrasi positif di dalam diri dan memulai untuk melakukan kebaikan. Tentu saja dengan proses yang tidak sebentar dan tahan dengan segala dinamika perjalanan pengamalannya. [Silvia Bidayah Nafsani]

Al-Rabbani Islamic College Cikeas, 10 Juni 2021

Continue Reading

Artikel

Fase Kehidupan di Alam Dunia (3)

Kupas Tuntas Perjalanan Hidup Manusia dalam Lima Alam

Oleh: DR. KH. M. Hamdan Rasyid, MA

Published

on

Fitrah dan Potensi Manusia

Fitrah dan Potensi Manusia

Agar manusia mampu melaksanakan berbagai tugas dan tanggungjawab yang telah diamanahkan kepada mereka sesudah aqil baligh (dewasa), maka sejak lahir di alam dunia, bahkan sejak hidup di alam ruh, setiap manusia telah diberikan fitrah (potensi) keyakinan terhadap adanya Allah SWT, Dzat Yang Maha Esa, Tuhan yang Maha Mencipta, Mengatur kehidupan dan Menganugerahkan seluruh kebutuhan manusia inilah yang disebut fitrah beragama.

Sebagaimana difirmankan dalam surat Ar-Rum ayat 30;

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.

Pengertian fitrah pada ayat di atas adalah naluri yang diciptakan oleh Allah SWT. Yakni manusia diciptakan oleh Allah SWT dengan memiliki naluri beragama, yaitu agama tauhid, agama yang mengakui keesaan Allah SWT. Oleh karena itu, kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka hal itu tidaklah wajar dan merupakan penyimpangan dari fitrahnya. Mereka tidak beragama tauhid tersebut hanyalah semata-mata karena pengaruh lingkungan hidup mereka, terutama pendidikan yang ditanamkan oleh kedua orang tua mereka. Sebagaimana telah disabdakan oleh Rasulullah SAW dalam hadits shahih:

“Setiap bayi yang dilahirkan pasti membawa fithrah (agama Islam). Kedua orang tuanya-lah yang menjadikan bayi tersebut memeluk agama Yahudi , Nasrani atau Majusi”.

Selain membawa potensi agama Islam, setiap bayi yang dilahirkan juga telah dilengkapi dengan berbagai potensi jasmani dan rohani yang dalam perkembangannya berbagai potensi tersebut teraktualisasi dalam bentuk pendengaran, penglihatan, daya berpikir dsb. Sebagaimana difirmankan dalam surat al-Nahl (16) ayat 78:

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberikamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur”.

Dalam mengarungi kehidupan di alam dunia ini, manusia tumbuh dan berkembang mulai dari bayi, masa kanak-kanak, masa remaja, masa dewasa, masa setengah baya, masa tua dan tua renta, akhirnya wafat. Sungguh pun demikian ada di antara manusia yang wafat dalam usia muda belia atau sangat tua renta. Sebagaimana difirmankan dalam surat al -Nahl (16) ayat 70:

“Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu. Dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada umur yang paling lemah (pikun), supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang pernah diketahuinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa”.

Jadi pada dasarnya, masa kehidupan manusia di alam dunia ini sangat relatif. Akan tetapi pada umumnya, kehidupan umat Nabi Muhammad SAW di alam dunia ini, rata-rata berkisar antara 60 (enam puluh) hingga 70 (tujuh puluh) tahun. Ada yang kurang ada pula yang lebih. Sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW:

“Umur umatku (rata-rata) adalah berkisar antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun.”[]

Bersambung….

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending