Connect with us

Artikel

Ma’rifat dan Cinta kepada Syaikh

KH Budi Rahman Hakim, MSW., PhD. [Kandidat Guru Besar bidang Tashowuf & Thoriqoh UIN Syarif Hidayatulloh Jakarta & Ketua Penasehat Roudhoh TQN Suryalaya Sirnarasa Pusat]

Published

on

Ma'rifat Cinta

1

PUNCAK perjalanan seorang murid dalam suluk thoriqoh ialah ma’rifat & cinta pada Guru Mursyidnya [معرفة ومحبة الشيخ]. Keadaan ruhani demikian merupakan tajalli: manifestasi sekaligus ekspresi dari pencapaian maqom ma’rifat & cinta seorang salik kepada ALLOH ‘azza wajalla [معرفة و محبة الله].

Tingkat dan kadar ma’rifat serta cinta murid kepada Syeikh Mursyidnya berbeda-beda, bertingkat-tingkat. Semua tergantung pada, pertama, rezeki batin masing-masing murid yang telah ditentukan-NYA memang berbeda-beda, kedua, ikhtiar ruhaniyah –amaliyah, riyadhoh, mujahadah– yang dilakukan murid yang beragam: ada sekedarnya, sungguh-sungguh dan ada yang totalitas.

Tingkat dan kadar ma’rifat serta cinta murid menentukan cara ia bersikap, memperlakukan, dan meletakkan kedudukan Syeikh Mursyid dalam kehidupannya.

Semakin tinggi tingkat dan kadar ma’rifat serta cintanya, maka semakin tinggi ia memandang kedudukan Syeikhnya, semakin cinta ia kepada Syeikhnya serta semakin penting peran Syeikh dalam kehidupannya. Sebaliknya, semakin rendah tingkat dan kadarnya, maka semakin biasa-biasa ia memandang kedudukan Syeikhnya, tak ada cinta di hatinya, dan tiada penting Syeikh dalam kehidupannya.

Secara ruhani, Kanjeng Nabi Muhammad Shollallohu ‘alaihi wasallam telah memberi ilustrasi bagaimanan sejatinya posisi Syeikh dalam tatanan kehidupan seorang Muslim. Di bawah ini beberapa di antara sabda-sabda suci beliau:

الشيخ فى قومه كا النبي فى امته

Al-Shaykh fi qawmihi ka al-nabiy fi ummatihi (Seorang Syeikh di tengah kaumnya seperti seorang Nabi di tengah umatnya).

الشيخ فى اهله كا النبي فى امته

Al-Shaykh fi ahlihi ka al-nabiy fi ummatihi (seorang Syeikh di tengah keluarganya seperti seorang Nabi di tengah umatnya)

الشيخ فى بيته كاالنبي فى امته

Al-Shaykh fi baitihi ka al-nabiy fi ummatihi (Seorang Syeikh di rumahnya seperti seorang Nabi di tengah umatnya) [Lihat al-Sakhawi, n.d.: 187].

Terakhir, ada hadits Nabi Shollallohu ‘alaihi wasallam yang menggambarkan kedudukan Syeikh yang Alim ‘Ulama:

علماء امتي كالانبياء بني اسرائل

Ulama’ ummati ka al-anbiya’ bani isra’il (para ulama pada umatku seperti para Nabi kaum Bani Isra’il) [Lihat al-Halli, 1988: 38; al-Ihsa’i, 1403 H.: 77; al-Manawi, 1972: 504].

Ma'rifat Cinta

2

Ada banyak jalan untuk meraih kedudukan ma’rifat & cinta Syeikh Mursyid. Setelah mengambil haq Talqin Dzikir atau berba’iat kepada Mursyidnya, seorang murid mesti menempuh perjalanan mem-fana-kan segala perbuatan ibadah kepada Syeikh [فناء فى افعال الشيخ]. Yaitu, kesanggupan ruhani untuk mengamalkan hanya Amaliyah Syeikh Mursyid dan membuang secara berkala amaliyah lain yang bukan dan yang tidak ada dari Guru Mursyid.

Paling minimal dalam tahap ini, murid memprioritaskan untuk hanya menyantap seluruh Amaliyah Gurunya dulu saja. Jika ada waktu tersisa, disilakan mengamalkan yang sudah jadi kebiasaannya. Namun bila ada ‘tabrakan’ waktu pelaksanaan, murid yang telah menjalani laku فناء فى افعال mesti mendahulukan Amaliyah Gurunya. Amaliyah lain derajatnya hanya tabarukan saja.

Laku kesufian tahap ini sekaligus merupakan manifestasi sikap ruhani yang wajib dijalani seorang murid kepada Syeikh Mursyidnya, yaitu Robithoh [رابطة]. Yaitu, ketika hati murid slalu mengikatkan hatinya kepada Mursyidnya. Secara sederhana, robithoh dimengerti ‘ingat Guru Mursyid’. Ingat Guru bukan hanya mengingat wajahnya tapi mengingat seluruh ajaran yang jadi amalannya.

Ciri seorang murid mengingat ajaran amalan Guru Mursyidnya ia mengamalkan amalannya, melakukan perintahnya, mengerjakan apa yang biasa dikerjakannya. Sebaliknya tidak mengamalkan apa yang tidak diamalkannya, tidak melakukan yang tidak diperintahkannya, dan tidak mengerjakan yang tidak dikerjakannya.

Nah, setelah cukup sempurna menjalani tahap ini maka ia akan lebih mudah atau akan mendapatkan buah dari Amaliyahnya ke dalam perangai keseharian. Atau, boleh dikatakan, kualitas murid dalam tahap ini akan amat menentukan kualitas murdi dalam menjalani laku tahap selanjutnya yakni, ….

3

Tahap فناء في افعال الشيخ dalam perjalanan meraih keadaan ruhani Ma’rifat dan Cinta kepada Syeikh juga merupakan bagian dari manifestasi laku Shohbah [صخبة]. Di dalam Shohbah ada tiga laku kesufian yang mesti dijalani, yakni, berkumpul, bermujalasah bersama Syeikh [اجتماع], mendengar petuah, nasihat, irsyadat dari Syeikh [ استماع] dan puncaknya yakni ikut ucapan dan perbuatan Syeikhnya [اتباع].

Penting bagi seorang murid dalam fase فناء في افعال untuk mengetahui detail apa saja dan bagaimana Syeikhnya menunaikan Amaliyah Shufiyyah dalam kesehariannya –sebagai bagian ikhtiar Makrifat. Tidak cukup hanya membaca panduan buku Amaliyah tapi juga penting mengetahui bagaimana mempraktekannya melalui penjelasan maupun pelaksanaan saat-saat bersama Syeikhnya secara fisik –dari mulai cara thoharohnya, sholatnya, dzikirnya, khotamannya, pelaksanaan Manaqib dan sholat-sholat sunnahnya. Inilah fase صخبة الصغرى, belajar langsung dari the living book, kitab yang hidup.

Dengan sering bersama Syeikh, selain akan mendapat limpahan berkah dan karomah [فيضة], maka murid akan banyak pengetahuan tentang bagaimana detail Amaliyah Syeikhnya, demikian, ia bisa mengikuti Sunnah-sunnah Mardhiyah [سنن المرضية] Syeikhnya saat ia secara dhahir tak lagi bersama Syeikhnya. Jika murid slalu menyamakan frekuensi Amaliyahnya di mana pun dan kapan pun dengan Syeikhnya maka ia memasuki fase tertinggi cinta, yakni: ikut [اتباع]. Dengan ikut maka ia akan slalu ‘terbawa’. Fase ini sekaligus ia telah dan slalu dalam keadaan صخبة الكبرى kepada Syeikhnya.

Setiap apa yang dilakukan Syeikh itu dalil shohih bagi bagi murid dalam tata laksana peribadahan [الشيخ هو الدليل]. Mengapa? Karena apa yang dilakukan seorang Syeikh pasti segalanya semuanya dari gurunya dari gurunya dari gurunya dari gurunya hingga tersambung sanadnya kepada hadrot Nabi Shollallohu ‘alaihi wasallam. Seluruh perbuatannya adalah perbuatan seluruh اهل السلسلة yang puncaknya adalah Rosululloh Shollalohu ‘alihi wasallam.

Jadi ketaatan, ikutnya murid kepada Syeikhnya, merupakan perwujudan اتباع النبي صل الله عليه و سلم dan ini merupkaan sebentuk cinta kepada ALLOH [محبة الله] –sekaligus jalan meraih kasih sayang dan ampunan-NYA, berdasarkan firman ALLOH ‘azza wajalla.

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ ٱللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌۭ رَّحِيمٌۭ

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS Ali Imran : ayat 31)

قُلْ أَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ ۖ فَإِن تَوَلَّوْا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْكَٰفِرِينَ

Katakanlah: “Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”.(QS Ali Imran : ayat 32)

4

SHOHBAH merupakan elemen laku kesufian terpenting penting dalam suluk thoriqoh. Shohbah itu bukan sekedar frekuensi kebersamaan fisik murid dengan Syeikh Mursyid tapi terjalinnya relasi persahabatan seperti Kanjeng Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam dengan para Sahabatnya [الشيخ فى قومه كا النبي فى امته].

Demikian harus terpenuhi syarat sebuah persahabatan. Hadrotus Syeikh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul Qs menegaskan, Syarat persahabatan itu tidak ada perdebatan di sepanjang kebersamaan. Ikut, sabar, dan tidak bertanya apalagi mempertanyakan : شرط الصخبة ترك المخالفة.
Untuk mendapat ilustrasi Shohbah, beliau sering merujuk kepada kisah Nabi Musa AS yang diperintahkan Alloh untuk mencari dan berguru kepada Nabi Khidir AS yang tertuang di dalam al-Qur’an Surat al-Kahfi ayat 60 – 82.

Ketika akhirnya dipertemukan, Nabiyulloh Khidir diawal sudah menyampaikan syarat, tidak boleh bertanya –apalagi mempertanyakan. Sejak awal bahkan Nabi Khidir AS sudah membaca bahwa Nabi Musa tidak akan kuat, tidak akan bersabar menjalani kebersamaan dan ternyata benar.

Peristiwa yang slalu menjadi rujukan kaum Sufi-thoriqoh sekaligus ilustrasi tentang apa makna, peran, dan model pendidikan yang dilakukan Mursyid kepada murid-muridnya serta bagaimana sikap jiwa murid saat berguru kepada Guru Mursyid.

Dari kisahkan yang tertuang dalam Surat dan ayat-ayat tersebut, dapat diperoleh gambaran –sebagai ikhtiar kontekstualisasi al-Qur’an, bahwa:

  1. ALLOH di setiap masa slalu menunjuk hamba yang dikehendaki-NYA –sebagai sosok transformasi Nabi Khidir AS– untuk memiliki dan mengajarkan pengetahuan/informasi tentang rencana serta iradah-NYA terhadap suatu peristiwa –Ilmu Laduni– sebagai materi pendidikan untuk perbaikan kualitas hidup manusia di setiap masa. Tampil menjadi Guru yang mengurus dan membimbing ruh manusia-manusia.
  2. Alloh memberikan perintah kepada Musa-musa zaman now –konteks masa itu diwakili oleh Nabi Musa AS– untuk mencari, menemukan, dan meluangkan waktu untuk belajar ilmu-ilmu ALLOH kepada hamba-hampa pilihan-NYA yang ada di setiap masa. Yaitu, ilmu-ilmu yang tidak dianugerahkan kepada orang sekelas Nabi Musa AS sekalipun.
  3. Ketika bertemu dengan sosok tajalli Nabi Khidir AS maka siapapun mesti mengikuti prosedur peraturan dalam proses pembelajaran ilmu-ilmu ALLOH darinya. Yaitu, ikut, sabar dan tidak bertanya. Mumpung tidak mengerti, ikut saja! Karena segala ucapan dan perbuatan Guru Ma’rifat ini pasti mengandung hikmah dan pelajaran, sekaligus, merupakan petunjuk serta telah mendapat guidance dari ALLOH ‘azza wajalla. Itulah sikap jiwa yang mesti dimiliki seseorang ketika ketemu dan berguru kepada Guru Mursyidnya.

5

Kesediaan jiwa seorang murid untuk ikut Amaliyah [ فناء فى الافعال الشيخ] dan bershohbah bersama Mursyidnya maka keadaan demikian akan menariknya ke atas, naik ke jenjang fana dalam sifat-sifat Syeikhnya [ فناء فى الصفات او فى الاحوال الشيخ]. Yaitu, ketika amaliyah yang diamalkannya secara istiqomah berbuah muamalah yang berkualitas.

Amaliyah adalah ikhtiar ruhani membangun relasi vertikal dengan Khooliq [حبل من الله]. Sementara muamalah adalah ikhtiar membangun relasi horizontal dengan sesama makhluq-nya [حبل من الناس]. Rumus ilahiyah-nya ialah siapa yang relasi vertikalnya baik maka akan baik dan memperbaiki relasi horizontalnya.

Dengan ungkapan lain, barangsiapa berkualitas dalam amal ritual kesufiannya maka akan berkualitas amal aktual kehidupan sosialnya. Berkualitas amaliyahnya maka berkualitas akhlaq kesehariannya. Bahkan puncak yang dituju dari amal kesufian itu adalah akhlaqul karimah [اخلاق الكريمة]. Dalam bahasa TANBIH Syeikh Abdulloh Muabarok bin Nur Muhammad, tujuan tertinggi ajaran yang jadi amalan kesucian jiwa ialah BUDI UTAMA JASMANI SEMPURNA (Cageur Bageur) –dalam bahasa Jawa: waras-bergas.

Akhlaqul karimah pada saat yang sama menjadi prasyarat sekaligus penanda seseorang telah sampai dan bersama ALLOH [الواصل الى الله]. Hadrotus Syeikh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul Ra Qs menyampaikan,

لا يصل المخلوق الى الخالق الا بالاخلاق

Tidak akan sampai makhluq kepada khooliq kecuali dengan akhlaqnya. Dalam kalamnya yang lain, Pangersa Abah Aos menegaskan, sosok الواصل الى الله itu tandanya ialah ia yang akhlaq ucap dan perbuatannya telah, sedang dan slalu mencerminkan akhlak TANBIH sebagai 9 Pilar Peradaban Dunia.
Ini bersambung dengan perintah dari Nabi Muhammad ص م kepada umatnya agar berakhlak dengan akhlak dan sifat-sifat ALLOH.

…اتّصفوا بصفاة الله
…تخلّقوا باخلاق الله

Dan untuk mengetahui perwujudan akhlak paling sempurna ALLOH (tajalli) pada diri manusia ialah akhlaknya Nabi Muhammad ص م sendiri, seperti dilukiskan isteri tercinta Sayyidah Aisyah Ra, وكان خلقه القرئن. Dan keadaan akhlaq Nabi adalah semuanya segalanya selamanya al-Qur’an.

Statemen ini bukan hanya berlaku kepada Nabi Agung akhir zaman Ahli Silsilah ke-3 tapi juga berlaku pada para Aulia ALLOH yang ditunjuknya sebagai penerus sekaligus pewaris ajaran di setiap masa, termasuk masa sekarang ini.

MEREKA adalah sekaligus penjelmaan insan kamil yang hadir dan “diutus” di setiap masa. Merujuk kepada tafsir Syeikh Abdul Karim al Jilli dalam karyanya الانسان الكامل bahwa sosok insan kamil ini adalah the living Qur’an atau الكتاب. Kitab al Qur’an hidup, berjalan, sosok yang harus diikuti. Sosok bacaan dan tulisan –yang tiada keraguan di dalamnya [ذالك الكتاب لا ريب فيه]– untuk memandu perjalanan kehidupan manusia.

Ikutilah sang Insan Kamil, karena ikut adalah bukti nyata nan sempurna dari cinta. Cinta kepada-NYA, cinta pada Nabi-NYA, dan cinta pada seluruh kekasih-NYA dalam rantai spiritual خلفاء الراشدين. Berdasarkan,

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang. (QS. 3:31). Sekian.

[]

Continue Reading

Artikel

Ajaran Martabat Tujuh, Mutiara Hilang yang Ditemukan Kembali

Hamzah Alfarisi, Redaktur JATMAN Online

Published

on

By

JATMAN.OR.ID – Sabtu, 17 April 2021 pukul 20.30 WIB, PW MATAN DKI Jakarta menyelenggarakan pengajian ramadhan yang bertajuk “Kajian manuskrip kitab Al-Tuhfah Al-Mursalah” karya Syekh Fadhl Allah al-Burhanpuri via Zoom. Kajian ini merupakan bagian dari program Kajian Sufi Ramadhan yang diselenggarakan di bulan ramadhan kali ini. Sebagai anak kandung dari JATMAN, MATAN memiliki tanggung jawab untuk menyebarkan tarekat di kalangan anak muda dan kajian ini dalam rangka mewujudkan tanggung jawab tersebut. Selain kajian manuskrip ini, MATAN DKI Jakarta juga menyelenggarakan kajian kitab “Bidayatul Hidayah” karya sufi besar Imam Al-Ghazali setiap Kamis dan Jum’at pukul 20.20 WIB.

Kajian manuskrip ini diampu oleh Dr KH Ali M Abdillah, yang merupakan ketua PW MATAN DKI Jakarta sekaligus Sekretaris Komisi Pengakajian, dan Penelitian MUI Pusat. Dalam kajiannya, beliau memaparkan bahwa kitab Al-Tuhfah Al-Mursalah adalah penafsiran dari Tauhid Wujudiah Ibnu Arabi, yang bercorak tasawuf falsafi. Ajaran tasawuf falsafi yang berkembang di Nusantara bersumber dari ajaran Ibnu Arabi, yang diantaranya adalah ajaran Martabat Tujuh dalam kitab Al-Tuhfah Al-Mursalah karya Syekh Fadl Allah al-Burhanpuri (w 1630) dari Gujarat India.

Dalam perkembangannya, ajaran Martabat Tujuh ini mengalami pasang surut. Pada masa Syekh Syamsuddin al-Sumatrani, ajaran martabat tujuh mengalami puncak kejayaannya karena mendapat dukungan dari Kesultanan Aceh Iskandar Muda (1607-1636). Namun pada masa Syekh Nuruddin Al-Raniri yang saat itu menjadi Mufti Kesultanan Iskandar Tsani yang menggantikan Syekh Syamsuddin, beliau mengeluarkan fatwa sesat terhadap ajaran Martabat Tujuh yang dianggap menyimpang (ilhad).

Tuduhan sesat yang dialamatkan oleh Syekh Nuruddin Al-Raniri kepada ajaran Martabat Tujuh diselesaikan secara dialogis oleh ulama muda Sayfurrijal. Akhirnya, beliau mendapat simpati dari Sultanah Safiyyat al-Din (1641-1674), kemudian diangkat sebagai mufti menggantikan Syekh Nuruddin Al-Raniri. Sejak saat itulah, ajaran Martabat Tujuh berkembang kembali di tanah Aceh. Perkembangan ajaran Martabat Tujuh di Nusantara tidak dapat dipisahkan dari Syekh Abdul Rauf Al-Sinkili yang memiliki murid diantaranya Dawud Al-Jawi al-Rumi, Burhanudin Ulakan, Muhyi Pamijahan, dan Abdul Malik Trengganu.

Ajaran Martabat Tujuh pada zaman kolonial Belanda ditumpas habis berdasarkan fatwa sesat oleh Mufti Betawi. Ulama-ulama yang mengajarkan Martabat Tujuh dilarang mengajarkannya atau jika mengajarkannya akan ditangkap. Selain itu, manuskrip ulama-ulama yang mengembangkan ajaran Martabat Tujuh ini dibawa oleh Kolonial Belanda. Akhirnya, kini kita hanya dapat berziarah, namun tidak bisa mempelajari ilmu dari Syekh Muhyi Pamijahan, karena manuskrip-manuskrip beliau dibawa ke Belanda.

Di akhir sesi, Kyai Ali menuturkan: “Ini (ajaran Martabat Tujuh) adalah mutiara yang hilang, yang sekarang pada abad ke-21, kita temukan kembali. Mari kita pelajari kembali karena sekarang sudah tidak ada lagi hambatan untuk mempelajarinya”.

Sumber tambahan: Sufisme Jawa: Ajaran Martabat Tujuh Sufi Agung Mangkunegaran Kyai Muhammad Santri.

Baca juga: Launching Buku Sufisme Jawa: Kyai Muhammad Santri Mitos atau Fakta?

Continue Reading

Artikel

Renungan Menyambut Ramadhan 2021 M

Idris Wasahua, Wakil Ketua MATAN DKI JAKARTA

Published

on

By

 JATMAN.OR.ID – Manusia merupakan makhluk yang hidup di dua alam sekaligus, yakni alam fisik (alam nasut) dan alam metafisik (alam malakut). Tubuh kita hidup di alam fisik, alam yang bisa kita lihat dan kita raba yang terikat ruang dan waktu. Sedangkan, ruh kita hidup di alam metafisik yang tidak terikat ruang dan waktu. Karena berada di alam malakut, ruh kita tidak dapat dilihat oleh mata lahir karena ruh merupakan bagian batiniah dari diri kita. Ruh hanya dapat dilihat dengan mata batin.

Ada sebagian hambah yang terpilih (Karena selalu melatih mata batinnya dengan riyadha keruhanian atau kerana anugerah Allah SWT) yang dapat menengok ke alam malakut sehingga dapat melihat ruh dirinya atau ruh orang lain. Seperti halnya tubuh fisik yang memerlukan makanan/gizi agar bisa tetap sehat dan kuat, ruh juga memerlukan makanan/ gizi. Untuk meningkatkan kualitas ruh agar ia sehat dan kuat, kita perlu memberinya cahaya-cahaya Ilahiah dalam bentuk zikir, doa, dan ibadah-ibadah lainnya seperti shalat, haji, dan puasa terutama di bulan Ramadhan.

Di bulan Ramadhan ini, kita berusaha menerangi ruh kita dengan berbagai makanan ruhani. Kita memandikan ruh kita dengan proses pensucian batin seperti istighfar, mengendalikan hawa nafsu, dan menjauhkan diri dari kemaksiatan. Sebagaimana halnya tubuh fisik, ruh yang tidak diperhatikan dan dipelihara, ruh yang kekurangan makanan, akan menjadi ruh yang lemah, sakit-sakitan, dan dikuasai setan. Ciri-ciri ruh yang sakit seperti kegelisahan, keresahan, kebingungan, hidup yang tidak bermakna, hidup tanpa tujuan, kekosongan eksistensial. Singkatnya, ruh yang sakit tampak dalam hidup yang tidak tenteram.

Seperti tubuh, ruh mempunyai rupa yang bermacam-macam, baik buruk, indahnya, bau busuk, harumnya. Rupa ruh jauh lebih beragam dari rupa tubuh. Berkenaan dengan wajah lahiriah, kita dapat saja menyebut seseorang “wajahnya mirip binatang”, tetapi pasti ia bukan binatang. Namun, ruh dapat betul-betul berupa binatang. Ruh kita menjadi indah dan baik dengan akhlak yang baik, dan menjadi buruk dengan akhlak yang buruh. Menurut teori akhlak Imam Al-Ghazali, orang yang selalu mengikuti hawa nafsunya akan memiliki ruh yang berbentuk babi, orang yang selalu dengki dan dendam akan memiliki ruh yang berbentuk binatang buas, orang yang selalu mencari dalih buat membenarkan kemaksiatan akan mempunyai ruh yang berbentuk setan (monster), demikian seterusnya.

Ketika ruh turun ke bumi, karena berasal dari Yang Maha Suci, ia datang dalam keadaan suci. Namun, ketika kita kembali kepad-NYA, ruh kita datang dalam bermacam bentuk, tergantung bagaimana kita memberikan makanan kepadanya selama di duni. (Disarikan dari buku “Meraih Cinta Ilahi, Belajar Menjadi Kekasih Allah”, karya Jalaluddin Rakhmat). Bulan Puasa merupakan salah satu bulan yang penuh dengan aktivitas ibadah ritual yang lebih berorientasi pada peningkatan kualitas ruhaniah. Semoga bulan Puasa kali ini dapat kita dayagunakan untuk meningkatkan kualitas, kesehatan dan kecantikan ruh kita agar kelak kembali menghadap Sang Pemilik ruh dalam rupa yang baik. Aamiin

Selamat menjalani Ibadah Puasa. Mohon Maaf Lahir & Batin. Depok, 13 April 2021.

Baca juga: Gus Hamid: Hidupkan Malam Nisfu Sya’ban

Continue Reading

Artikel

Implementasi Pancasila Melalui Pendekatan Tasawuf Agama

Oleh: Brigjen Pol. R. Ahmad Nurwakhid, SE., M.M (Kajian Intelijen Spiritual (KIS) DP-BNPT RI)

Published

on

By

Photo: damailahindonesiaku.com/

JATMAN.OR.ID  – Tujuh puluh lima (75) tahun pasca dideklarasikan dalam Pidato 1 Juni 1945 oleh Soekarno, Pancasila masih menghadapi sejumlah tantangan di antaranya adalah dikotomi dan pembenturan Pancasila dengan Islam. Pola doktrinasi Pancasila ala Orde Baru juga telah melahirkan trauma kolektif masyarakat terhadap Pancasila. Pada titik ini lah, implementasi Pancasila menggunakan pendekatan tasawuf agama menemukan signifikansinya.

Dari segi historis, Pancasila sejatinya digali dari nilai-nilai tasawuf dan budaya luhur Bangsa Indonesia. Di samping itu pendekatan tasawuf lebih relevan dan kontekstual dalam kehidupan masyarakat yang dinamis dan plural, sehingga semangat berbangsa dan bernegara yang berlandaskan pada nilai-nilai luhur Pancasila akan mudah diimplementasikan. Nilai-nilai tasawuf agama dapat ditanamkan ke dalam hati dan jiwa masyarakat bangsa Indonesia untuk membentuk dan mengembangkan karakter Pancasilais.

Nilai-nilai Pancasila dan Tasawuf mempunyai keselarasan, dimana keduanya merupakan sumber moral atau akhlak. Tasawuf sebagai sebuah konsep keagamaan dapat memperkuat posisi Pancasila sebagai dasar negara. Pengamalan tasawuf sebagai sebuah ibadah dalam Islam adalah inheren dengan pengamalan Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Nilai-nilai Pancasila dilihat dari perspektif tasawuf akan semakin memperkuat posisi Pancasila sebagai ideologi negara dan falsafah Bangsa Indonesia. Penghayatan dan pelaksanaan nilai-nilai Pancasila dalam perspektif tasawuf diharapkan dapat membentuk karakter Pancasilais, yakni karakter yang mulia dan terpuji dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara Indonesia. Dalam artian, tujuan dari tasawuf yang menitikberatkan tidak hanya keshalehan secara personal (individual), namun juga keshalehan sosial, sejalan dengan apa yang digadang-gadangkan oleh prinsip Pancasila.

Sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa, mengandung arti bahwa manusia Indonesia dalam seluruh kehidupannya harus meyakini adanya Tuhan Yang Maha Esa, yang merupakan fondasi agama (akidah-tauhid), sehingga dalam pemahaman, penghayatan, dan pengamalan Pancasila haruslah menginduk kepada agama. Dalam sudut pandang tasawuf akhlaki berarti menghendaki adanya sikap murāqabah (merasa selalu dalam pengawasan Allah), guna mengontrol setiap aktifitas agar manusia senantiasa menghindarkan diri dari perbuatan tercela, berusaha membersihkan diri dari sifat-sifat tercela, yang hal tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan takhalli, yaitu pensucian diri, baik hati maupun jiwanya.

Sila kedua Kemanusiaan yang adil dan beradab merupakan perwujudan dari tahalli, yaitu memperindah diri dengan membangun rasa cinta kasih dalam hati maupun jiwanya, melalui maḥabbah yang menghasilkan kelembutan hati, berupa perasaan cinta, mengasihi, dan menyayangi terhadap sesama yang diwujudkan melalui perlakuan yang adil dan beradab terhadap seluruh makhluk-Nya.

Sila ketiga Persatuan Indonesia mengandung nilai-nilai di antaranya ialah menumbuh kembangkan rasa cinta tanah air. Cinta tanah air sebagai perwujudan maḥabbah yakni bentuk syukur dengan mengelola dan memanfaatkan karunia Tuhan berupa tanah air dengan sebaik-baiknya sebagai wujud pengabdian diri kepada Tuhan. Di dalam sila ketiga juga menghendaki adanya sikap itsar dan futuwwah yaitu lebih mementingkan orang lain dari pada diri sendiri dan selalu berusaha meringankan kesulitan orang lain, rela berkorban. Serta pentingnya persatuan sebagaimana disampaikan dalam ayat wa’tasimu bi hablillah.

Sila keempat kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan mengandung adanya sikap itsar dalam bermusyawarah yaitu lebih mementingkan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi dan golongan, serta sikap zuhud yang mampu mengekang hawa nafsu keduniawian yang menghasilkan sikap qana’ah dan tawakal dalam menerima keputusan yang telah disepakati bersama dalam musyawarah.

Selanjutnya sila kelima, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, merupakan tujuan yang ingin dicapai bangsa Indonesia. Hal ini berkaitan dengan tasawuf yang dapat diartikan sebagai tajalli (menyambungkan diri dengan dimensi Tuhan), dimana meyakini bahwa cita-cita dan tujuan nasional Bangsa Indonesia hanya bisa dicapai dengan melibatkan “campur tangan” Tuhan Yang Maha Esa (metafisika ketuhanan). Dalam hal ini diperolehnya cahaya (nur) Ketuhanan berupa muncul dan meresapnya sifat keadilan Tuhan dalam diri tiap-tiap manusia Indonesia, yang kemudian diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari dengan mengembangkan sikap adil terhadap sesama dalam menjalankan kehidupan sosial, sehingga terwujud keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Implementasi nilai-nilai Pancasila melalui pendekatan dan pengamalan tasawuf agama akan menghilangkan celah atau peluang bagi kelompok paham radikalisme untuk membenturkan, men-dikotomi, serta upaya mengganti ideologi Pancasila dengan ideologi Khilafah maupun lainnya. Hal ini merupakan “imunitas” bagi ketahanan nasional terutama aspek ideologi Pancasila, sekaligus sebagai optimalisasi dalam mewujudkan cita-cita maupun tujuan nasional Bangsa Indonesia.

Pemerintah perlu membumikan Pancasila secara holistik, di seluruh level masyarakat, terutama generasi muda, dilakukan dengan metode “kekinian” (milenial), dengan pendekatan tasawuf agama.

Baca juga: Bahaya Syirik dalam Batin Menurut Pandangan Tasawuf

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending