Kliwonan, Bagaimana Menemukan Mutiara Hakikat Di dalam Lautan Tarekat

September 20, 2023 - 05:24
 0
Kliwonan, Bagaimana Menemukan Mutiara Hakikat Di dalam Lautan Tarekat

Habibana Luthfi bin Yahya berpesan, bahwa di dalam Kitab Jami’ Al Ushul Auliya’ syariat diumpamakan seperti perahu dan tarekat diumpamakan seperti lautan.  

Jika demikian, ketika ada orang yang menaiki perahu, siapakah yang menjadi nahkoda? Apakah perahu akan berjalan sendiri? Tentu tidak mungkin. Bisa jadi mesinnya memang menyala, tapi tanpa nahkoda kita tidak tahu jika hal-hal buruk akan terjadi seperti tersesat, perahu yang menghantam karang, bahkan kita tidak akan tahu jika terjadi situasi mencekam seperti gelombang yang besar serta memastikan bagaimana keadaan penumpang yang ada di dalam perahu, apakah mereka mampu atau tidak jika ada dalam situasi tersebut.

Lalu, siapakah nahkodanya? Di dalam syariat, nahkoda perahu adalah ulama-ulama yang senantiasa berada dalam kapal. Ia akan tahu berapa tekanan angin dan arahnya dari mana, kemudian gelombang yang terjadi seperti apa. Sebagai penumpang kita akan selalu merasa aman selama perahu tidak bocor, dan berharap tiba dengan selamat.

Setelah berada di perahu, kita akan diarahkan bagaimana untuk tetap aman selama dalam perjalanan. Seperti itu pula syariat, kita akan aman jika kita memahami arti shalat yang diajarkan oleh ulama-ulama terdahulu. Bagaimana menata niat sebelum shalat, agar hati kita sudah hudhur kepada Allah Swt. dengan tidak mengerjakan shalat sebagai beban. Karena dalam shalat mencangkup beberapa hal, yaitu untuk pribadi dan untuk hubungan sesama umat muslim, semuanya ada dalam khamsah auqat yaitu lima waktu dalam shalat.

Maka ketika Nabi Bersabda,

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ

…Sesungguhnya amalan pertama yang akan dihitung dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya…

Itu benar sekali, karena dalam shalat ada segalanya yang berhubungan untuk pribadi dan umat.

Sebagaimana ketika membaca Surat Al-Fatihah dan memahami kandungannya, sesungguhnya maknanya adalah pengenalan diri dengan iqrar.

Di dalam kitab Khazinatul Asrar disebutkan ketika orang membaca ayat per ayat surat al-Fatihah,

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ

Maka jawab Allah dari keempat ayat di atas adalah Haqqi (itu milikku).

Pada ayat keempat, sejauh mana kita mengetahui dalam tafsir Surat al-Fatihah ketika mengucap

مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ = Yang Menguasai Hari Akhir

Kalau kita mengingat itu, seharusnya kita memiliki sifat takut. Sebab untuk menunjukkan makna kalimat مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ, berarti meniadakan semua hal selain-Nya. Bumi dan langit akan hancur semua, begitu pula malaikat akan mati.

Maka, ketika hal itu terjadi, Allah mempertanyakan keberadaan tuhan-tuhan yang disembah selain-Nya. Pada saat itulah, kita melihat makna dari,

وهو الواحد الأحد الصمد الذي لم يلد ولم يولد ولم يكن له كفوا احد. الأول بلا ابتداء والآخر بلا إنتهاء

Dialah yang pertama dan tunggal, Dzat bergantung, yang tidak beranak dan tidak diperanakan, dan tidak ada satu pun yang bisa menyamainya. Dzat yang paling pertama tanpa adanya permulaan dan Dzat yang paling akhir tanpa adanya pengakhiran.

Selain Allah, semua akan binasa. Dari hal itulah tauhid kita dibangun.

Untuk itu, alangkah baiknya jika kita mempersiapkan diri ketika akan menemui Allah Swt. dengan membawa tiga hal yaitu meninggal dalam keadaan husnul khatimah, yakin memperoleh ampunan-Nya dan tidak terlepas dari tawasul kita mengharapkan syafaat Nabi Muhammad saw.

Selanjutnya, pada ayat اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (Hanya kepada-Mu lah kami menyembah dan hanya kepada-Mu lah kami mohon pertolongan), ayat tersebut menggunakan isim jamak bukan isim mufrad, yaitu mengunakan dhamir muttashil jamak atau mutakallim ma’al ghair (kata ganti untuk orang banyak) “نا” yang artinya kami.

Disitulah Allah membimbing kita untuk senantiasa menanamkan dalam lubuk mukmin untuk memiliki itikad, Kepada-Mu lah kami – yaitu siapapun kami, bukan pribadi saya saja.

Dari kata yang mengandung arti jamak tersebut, kita dibimbing Allah untuk mengajarkan pula kepada generasi kita selanjutnya agar bertauhid kepada Allah swt., sejauh mana kita mengajarkan tauhid yang jauh dari dunia kesyirikan-kesyirikan.

Dan ketika kita menyebut وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ, apakah kita merasa jika kita adalah golongan yang lemah? Jika dengan mengucapakan kalimat tersebut, kita masih menyombongkan diri dengan mengatakan, “Saya mampu, saya kuat,” seharusnya malu. Ayat tersebut menunjukkan bahwa kita lemah, dan yang bisa menolong hanya Allah, juga yang bisa menyembuhkan hanya Allah. Demikianlah, bimbingan tarbiyah dalam Surat al-Fatihah untuk kita semua.

Kepedulian kita juga terlihat sejauh mana mengucapkan اِھْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَـقِيْمَ (Tunjukkanlah kami jalan yang lurus) yang lafaznya juga menggunakan isim jamak, apakah itu untuk pribadi? Tentu saja tidak. Itu bentuk kepedulian antar sesama mukmin dan muslim. Jika kita tahu benar maknanya dan meresapinya, maka tidak akan ada keributan hanya karena perbedaan kecil. Sebaliknya, kita akan lebih akrab dan saling menghargai satu sama lain, karena kita sadar bahwa dalam shalat kita saling mendoakan.

Arti, “Tunjukkanlah kami jalan yang lurus” bukan hanya untuk permasalahan akhirat saja, tetapi juga kehidupan dan kemaslahatan di dunia. Sehingga dengan kehidupan yang baik, kita akan menjadi bangsa yang berdikari, bukan sekedar untuk mengembangkan ketahanan pangan saja, tapi kita dilandasi oleh pondasi tauhid kepada Allah melalui Al-Fatihah untuk menjadi negara yang luar biasa.

Pada lafaz اِھْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَـقِيْمَ, jika ada yang sakit atau yang sedang sakaratul maut di rumah sakit, sebab wasilah Surat al-Fatihah, kita akan mencapai derajat husnul khatimah, Jadi makna ini bukan hanya untuk mendoakan umat islam dan bangsa Indonesia saja, tetapi seluruh negeri di dunia mencakup dalam kalimat itu.

صِرَاطَ الَّذِيۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ  من النبيين والصديقين والشهداء والصالحين

Inilah hikmah jika kita sudah mengetahui yang demikian luar biasa dalam Surat Al-Fatihah. Namun, kita tidak bisa menafsirkan dengan otak kepala sendiri, harus punya guru hingga tahu bagaimana maksudnya.

Apalagi dalam shalat, kita berhubungan dengan Nabi Muhammad saw. melalui bacaan tahiyat yang berbunyi,

السَّلَامُ عَلَيْك أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bacaan tersebut harus diucapkan dengan hati yang cukup kuat. Dalam kitab Sa’adatud Dara’in, ada satu malaikat yang selalu menerima shalawatnya umat Nabi Muhammad saw. dan selalu menyampaikan kepada Nabi saw. nama orang yang membaca shalawat beserta nama orangtuanya. Maka semakin kita kenal dengan Nabi Muhammad saw. yang mengenalkan kita kepada Allah, semakin kita kenal kepada Allah, maka dunia ini akan aman meskipun banyak sekali problematika. Sehingga kita tidak mudah dipecah belah oleh apapun.

Bahwa syariat itu seperti perahu, jadi ilmu naik perahu perlu kita ketahui, karena itu yang mengantar kita mengenal kepada Allah melalui jalur tarekat yang diibaratkan dengan lautan. Setelah kita mengenal seberapa luasnya kekuasaan Allah, kita akan menemukan sesuatu yang lebih indah di dasarnya, berupa mutiara-mutiara yang luar biasa yaitu hakikat. Apa maksudnya? Al-Akhlak wal Adab kepada Allah.

Wallahu a’lam bisshawwab