Kisah Abi Dzar al-Ghifari, yang Kematiannya Sudah Diramalkan oleh Rasulullah

September 20, 2023
Kisah Abi Dzar al-Ghifari, yang Kematiannya Sudah Diramalkan oleh Rasulullah

Dikisahkan dalam kitab Tanbihul Ghafilin, pada suatu hari Rasulullah saw. menuju perang Tabuk bersama para sahabatnya mengendarai unta. Jauh di belakang Rasulullah ada Abu Dzar yang tertinggal karena untanya sangat lambat. Merasa waktunya terbengkalai, Abu Dzar berinisiatif untuk memindahkan semua barang-barang yang ada di unta tersebut dan ia gotong sendiri di punggungnya.

Sambil menggendong barang-barangnya di tengah terik matahari, Abu Dzar hanya bisa mengikuti jejak-jejak kendaraan Rasulullah karena sudah jauh dari rombongan.

Ketika Abu Dzar hampir mendekati rombongan Rasulullah, salah seorang sahabat berkata, “Ada lelaki yang datang sendiri.”

Kemudian Rasulullah menjawab bahwa itu adalah Abu Dzar. Setelah mengucapkan kalimat itu, tiba-tiba Rasulullah menangis dan bersabda, “Semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepada Abu Dzar karena ia berjalan seorang diri, ia akan mati seorang sendiri dan Allah akan membangkitkannya seorang diri pula.”

Setelah Rasulullah saw. wafat dan estafet kekhalifahan berpindah ke tangan Abu Bakar dan Umar bin Khattab, Abu Dzar kerap mewanti-wanti agar tidak terjadi perpecahan di antara mereka. Namun ketika kekhalifahan sampai pada Utsman bin Affan, kekhawatiran Abu Dzar pun terjadi. Kekuasaan yang mayoritas berada di bawah kendali Bani Umayyah, banyak menyulut konflik di antara para sahabat termasuk Abu Dzar sendiri.

Abu Dzar adalah orang yang paling lantang menyampaikan hadis Rasulullah saw. yang berbunyi,

“Setiap unta ada zakat, setiap tanaman ada zakat, setiap harta ada zakat dan setiap kambing ada zakat. Barang siapa yang bermalam di rumah yang terdapat harta di dalamnya, namun tidak menginfakkan di jalan Allah, maka ia harus bertanggung jawab di hari kiamat.”

Hadis tersebut ia sampaikan sebagai bentuk protes pada khalifah dan pejabat-pejabatnya yang suka hidup bermewah-mewahan.

Muawiyah yang merasa bahwa gerakan Abu Dzar cukup membahayakan kekhalifahan, kemudian menyarankan Utsman bin Affan untuk memerintahkan Abu Dzar bersama istri dan anaknya pergi ke wilayah yang bernama Al-Rabdzah, yaitu sebuah desa di Arab yang sangat tertinggal dan dihuni oleh kaum kulit hitam.

Jauh sebelum hal itu terjadi, ketika peristiwa Tabuk dan Rasulullah saw. masih hidup, beliau pernah menyampaikan sebuah pesan kepada Abu Dzar,

“Dengarkanlah, dan taatlah, meskipun engkau shalat di belakang orang kulit hitam.”

Apa yang disampaikan Rasulullah itu kemudian menjadi nyata setelah Abu Dzar menemui penduduk Al-Rabdzah dan diimami oleh orang kulit hitam.

Setelah tinggal di sana selama beberapa waktu, Abu Dzar merasa ajalnya akan segera tiba. Padahal pada saat itu, ia, istri dan anaknya sedang berada di sebuah hamparan tanah kosong, di mana tidak ada satu pun orang yang akan melewati tempat itu.

Ketika hampir datang ajalnya, istrinya menangis. Melihatnya bersedih hati, Abu Dzar berkata,

“Mengapa engkau menangis?”

Istrinya berkata, “Engkau akan wafat di hamparan tanah kosong ini, sedangkan aku tidak memiliki kain untuk mengafanimu.”

Kemudian Abu Dzar berkata, “Jangan menangis, berbahagialah, karena aku mendengar Rasulullah bersabda kepada salah satu kelompok, di mana aku termasuk di dalamnya, ‘salah satu dari kalian pasti akan menemui kematian di tengah hamparan tanah kosong, kemudian ia akan didatangi oleh sekelompok orang mukmin.’ Tidak ada seorangpun dari kelompok tersebut yang mati seperti itu kecuali aku. Demi Allah, aku tidak berdusta dan tidak pula didustai, bahwa akulah yang dimaksud Nabi.”

Selanjutnya Abu Dzar memerintahkan istrinya untuk mencari sebuah jalan dan menunggu pertolongan. Kemudian istrinya itu berdiri di tumpukan pasir sambil mengibarkan kain yang ia miliki untuk memberikan tanda kepada siapapun yang akan melewati jalan tersebut. Karena pada saat itu adalah musim haji, maka jalanan tampak sangat sepi. Sesekali istrinya melihat Abu Dzar dan kembali lagi ke posisinya semula.

Tiba-tiba, datanglah satu rombongan yang menaiki kendaraan. Karena melihat ada yang mengibarkan kain, rombongan tersebut bersegera menuju ke arah itu. Salah seorang dari mereka bertanya, “Apa yang terjadi padamu?”

Kemudian istri Abu Dzar berkata, “Ada seorang muslim yang hampir mati di sini, bantulah mengkafaninya dan mengurus jenazahnya.”

“Siapa lelaki itu?” Tanya mereka.

“Abu Dzar.” Kata istrinya.

Kemudian mereka menimpali, “Apakah Abu Dzar sahabatnya Rasulullah?”

Setelah sang istri membenarkan, salah seorang dari rombongan tersebut memanggil rombongan yang lain dan menyegerakan untuk menemui Abu Dzar.

Abu Dzar yang mengetahui hal itu sangat senang dengan kedatangan mereka, “Berbahagialah kalian, karena aku mendengar Rasulullah bersabda kepada satu kelompok sedangkan aku berada di dalamnya bahwa akan ada yang mati di antara kalian di tengah padang pasir yang akan disaksikan oleh segerombolan orang mukmin. Sedangkan tidak ada seorangpun dalam kelompok itu yang mengalami peristiwa tersebut kecuali aku. Dan akulah lelaki itu, dan kalianlah segerombolan orang mukmin yang dimaksud oleh Nabi.”

Setelah Abi Dzar wafat, merekalah yang mengkafani hingga mengurus jenazahnya sebagaimana yang diramalkan oleh Rasulullah saw.