Connect with us

Artikel

Keterkaitan Sanad, Mursyid, Wushul dan Makrifat

Published

on

Makrifat adalah nampaknya batin kita pada rahasia ketuhanan serta ditampakkannya oleh Allah Swt. mengenai ilmu tentang keteraturan persoalan wujud yang meliputi segala wujud. Adapun makrifat itu terjadi di Hati. Sayyidina Ali bin Abi Thalib Ra, berkata:

عرفت ربي بعين قلبي لا شك انت انت

Dalam keterangan ini, Sayyidina Ali Ra. menyaksikan Allah Swt. dengan mata batin dan tidak ada keraguan di dalamnya.  Sayyidina Ali Ra. juga memberitahu bahwa yang bisa mencapai makrifat hanyalah hati, maka mata hati disebut juga dengan Sirr, atau ‘ainul bashirah.

Sirr (سر) dalam bahasa Al Quran disebut juga lub (لب)  sehingga orang yang mata hatinya sudah terbuka dan kasyaf disebut juga “اولو الألباب”. Orang yang demikian itu memiliki dua kemampuan, yaitu:

– Ia yang dalam posisi apapun, baik berdiri, duduk bahkan berbaring, hanya Allah Swt. yang ia ingat di hatinya

– Ia yang ahli dalam berargumen, sehingga tidak mungkin Allah Swt. mengutus seorang wali yang memiliki keterbatasan berfikir di antara manusia-manusia lain

Untuk melatih diri menuju maqam makrifat, murid harus memiliki mursyid yang sudah wushul dan sanadnya sudah tersambung pada Rasulullah Saw. Syeikh Abdul Qadir al Jilani dalam kitab Sirrul Asrar mengatakan bahwa manusia itu terhijab dan untuk membuka hijab itu membaca laa ilaaha illallah yang ditalqinkan orang yang sambung sanadnya ke Rasulullah Saw.

Pada suatu ketika, Imam Hanafi mengajak muridnya pergi ke suatu tempat. Namun keduanya dihadapkan oleh sungai besar. Karena tidak ada alat untuk menyebrang, Imam Hanafi mengajak muridnya untuk berjalan di atas air. Ia berkata, “Nanti jika engkau menyebrangi sungai ini, maka ucapkanlah, “يا شيخي حنفي”. Sedangkan pada saat itu, Imam Hanafi hanya berucap, Bismillahirrahmanirrahim. Lalu keduanya berjalan di atas air selayaknya berjalan di atas kaca. Sesampainya di tengah penyebrangan sang murid berfikir, “Mengapa aku membaca kalimat tersebut? Bukankah dalam hadis disebutkan setiap perkara itu harus dimulai dengan bismillah?” Kemudian ia mengubah bacaannya dengan bismillah. Seketika ia tercebur ke dalam air dan ditolong oleh Imam Hanafi. Kemudian sang wali bertanya, “Bacaan apa yang engkau ubah? Kembalilah pada bacaan sebelumnya.” Dan keduanya kembali berjalan sebagaimana perjalanan semula.

Setelah mereka berdua sampai di tepi sungai, sang murid bertanya, “Mengapa ketika aku membaca bismillah, justru aku tenggelam? Tetapi mengapa ketika menyebut namamu justru aku tidak tenggelam? Dan mengapa engkau menyebut bismillah tetapi tidak tenggelam?” Imam Hanafi menjawab, “Sesungguhnya aku sudah mengenal Allah. Sehingga ketika aku menyebut nama-Nya, maka semua ditundukkan kepadaku. Sedangkan engkau tidak mengenal Allah dan hanya mengenalku.”

Dalam kisah di atas jelas diterangkan bahwa seorang murid tidak akan bisa wushul tanpa mursyid yang sudah wushul. Maka ketika seseorang ingin membaiat dirinya kepada suatu thariqah, sesunggunya ia telah menyambungkan sanad sampai pada Rasulullah Saw. Karena ia yang telah diangkat sebagai mursyid sejatinya karena telah mendapat restu dari Rasulullah Saw.

Selain pentingnya keberadaan mursyid, untuk mencapai wushul ila ma’rifatillah diperlukan juga adab yang baik. Puncaknya adalah ketika syariat sudah baik, untuk masuk ke dalam hakikat, syaratnya adalah syariat dan adab. Tanpa keduanya, wushul tidak akan pernah terjadi. Sehingga setelah murid sampai pada makrifatillah, ia akan ditampakkan diantara dua hal sebagaimana yang dijelaskan oleh Syeikh Abdul Qadir al Jilani:

– Ditampakkannya Jalalullah. Jika yang dibuka adalah Jalalullah (Keperkasaan Allah) maka efek batinnya orang itu akan merasa kecil, merasa hina, seolah-olah dalam perasaan batinnya, ia digenggam dan dicengkeram oleh kekuasaan Allah Swt. (Qabdh). Akibatnya, ia akan menangis terus-menerus. Karena itu Sayyid Abdullah al Haddad mengatakan bahwa jangan mengambil guru orang yang tidak pernah menangis.

– Ditampakkannya Jamalullah. Jika yang dibuka adalah jamalullah (Keindahan Allah), maka efek batinnya orang itu akan selalu bahagia. Ia akan ditunjukkan dengan maqamnya, dipertemukan dengan rasulullah, batinnya seperti lapangan yang begitu luas (basth). Akibatnya, ia akan banyak tersenyum dan tertawa. Karena itu Imam Quthb Abu Hasan al Sadzili mengatakan bahwa jangan mengambil guru yang tidak pernah tersenyum.

Sehingga, murid yang diangkat menjadi waliyullah itu terbagi menjadi dua, yaitu yang senang menangis dan yang senang tertawa. Tergantung bagaimana hijab yang dibuka oleh Allah Swt. Dan yang paling penting sebelum mencapai maqam tersebut adalah bagaimana kesiapan batin kita sebagaimana yang telah dijelaskan Imam Ghazali bahwa syaratnya makrifat itu tiga, yaitu suci, batin yang kuat dan serius menghadap Allah Swt.  

Wallahu a’lam bis shawwab

Artikel

Habib Luthfi Ingatkan Ketum KNPI, Inilah Pesannya

Published

on

Pekalongan, JATMAN Online – Ketua Umum DPP Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Haris Pertama sowan ke kediaman Rais ‘Aam Jam’iyyah Ahlith Thariqah al Mu’tabarah an Nahdliyyah (JATMAN) Maulana Habib Luthfi bin Ali bin Yahya di Jalan Dr. Wahidin, Noyonyaan Gg.7 Pekalongan Timur, Jawa Tengah, Senin (27/6).

Di depan Habib Luthfi, Haris bercerita soal dinamika kepemudaan dan rencana pelantikan pengurus DPP KNPI yang akan dilaksanakan pada Juli 2022 di Kota Yogyakarta.

“Abah Luthfi sangat ramah dan banyak wejangan yang diberikan kepada saya agar bisa memimpin KNPI lebih baik lagi,” ujarnya.

Haris mejelaskan pertemuan tersebut merupakan silaturahmi kebangsaan dan permohonan doa restu dalam masa kepemimpinan periode kedua dirinya menahkodai KNPI.

“Alhamdulillah pertemuan ini jadi momen berharga, selain dapat bersilaturahmi dengan Habib Luthfi sebagai salah satu ulama mahsyur pemersatu umat, saya dapat sowan secara empat mata dan menyampaikan mohon doa restu dalam kepemimpinan periode kedua ini,” kata Haris dalam keterangannya, Selasa (28/6).

Sementara itu, Habib Luthfi berpesan agar pemuda dapat terus menjaga persatuan dan kesatuan serta berkontribusi pada pembangunan nasional.

“Generasi muda harus terus memompa semangat persatuan dan kesatuan di tengah arus globalisasi dan penuh keprihatinan. Buktikan KNPI dapat jadi motor penggerak untuk berbakti kepada negeri,” tutur Habib Luthfi.

Habib Luthfi pun mengingatkan kepada Haris agar KNPI tidak terjebak pada politik praktis hanya pada kepentingan partai politik tertentu saja.

“KNPI jangan sampai terjebak pada kepentingan politik praktis kekuasaan dan partai politik tertentu saja, arah politik KNPI harus untuk kepentingan rakyat Indonesia,” ungkapnya.

Continue Reading

Artikel

Konsistensi JATMAN Jawa Timur dalam Menjaga Eksistensi Gerakan Ketarekatan (2)

Published

on

Kegiatan JATMAN di Jawa Timur terbagi menjadi dua katagori, pertama yang berkaitan dengan ritual dan yang kedua berkaitan dengan organisatoris yang mengacu pada NU yang orientasinya bisa bermanfaat bagi JATMAN, NU dan negara bahkan bagi pengamal thariqah.

Kegiatan yang berkaitan dengan ritual, telah dibentuk sebuah forum untuk pertemuan para mursyid,  yang mana selama dua tahun ke belakang telah berjalan dengan nama Forum Halaqah JATMAN, yang membahas permasalahan thariqah dan kewargaan serta keorganisasiannya.

Sedangkan yang berkaitan dengan organisatoris, ada sekitar 18-23 program prioritas yang dilakukan sebagai upaya konsolidasi organisasi. Ada sekitar 40 Idaroh Syu’biyyah di Jawa Timur yang diprioritaskan untuk diremajakan, dengan terlebih dahulu melakukan musyawarah pergantian pengurus dan pengusulan program.

Di JATMAN Jawa Timur, untuk menentukan rois dan jajaran pengurus baru yang mendapat amanah untuk menjalankan roda organisasi dan mengusung program kegiatan, dilakukan di dalam Musyawarah Daerah (Musda). Pada Tahun 2018, Musda dilaksanakan mulai Bulan April-Juli. Bahkan, sebelum Idaroh Wustho dibentuk pada tanggal 22 April, Idaroh Syu’biyyah Kabupaten Magetan sudah terlebih dahulu melakukan Musda pada tanggal 5 Juli.

Selama satu periode kepengurusan, hampir seluruh Idaroh Syu’biyah sudah melaksanakan Musda termasuk lepas pantai, Bawean. Kemudian Syu’biyyah juga sudah membentuk Ghusniyah di tiga kecamatan, bahkan beberapa sampai di tingkat desa.

Rois JATMAN Jawa Timur, Kiai Ngadiyin Anwar mengungkapkan jika tanpa ada kendaraan lain, dan dalam kondisi sehat dan normal, JATMAN tidak akan bisa jalan dengan baik. Kendaraan ini adalah kesiapan pengurus dalam menejemen organisasi di berbagai tingkatan. Di samping itu, aturan main  dan mekanisme kerjanya juga harus diperbaiki. Sebagaimana menurutnya, Haq bilaa nidzam, yaghlibul bathin bin nidzam, tanpa ada sistematika yang baik dalam mengelola organisasi, nanti yang tidak sah, bisa mengalahkan yang sah. Itulah peran Syu’biyyah dan ghusniyyah.

Pada tahun ini, Kegiatan besar JATMAN Jawa Timur akan digelar, yakni Multaqa Mursyid yang akan dilaksanakan sekitar Bulan Agustus mendatang. Pada forum ini, dilakukan bahsul matsail yang membahas permasalahan ketarekatan. Namun yang sering menjadi kendala adalah Multaqa ini mauquf karena ada masalah internal thariqah tertentu yang dibawa ke antar thariqah yang lain. Di samping tidak menguasai thariqah tersebut juga ada perasaan tidak enak jika membahas lebih detail, sedang itu menjadi faktor internal yang mengandung berbagai hal yang tidak perlu diketahui oleh yang lain. Maka permasalahan itu akhirnya dikembalikan. Tapi sayangnya, ketika dikembalikan, belum ada yang bisa mengkoordinir potensi ulama thariqah dari thariqah tertentu.

Maka dua tahun yang lalu, di Jawa timur, atas inisiasi sendiri yang bukan bagian dari program JATMAN Aliyyah, JATMAN Jawa timur membentuk Forum Multaqa untuk masing-masing thariqah yang bukan bagian dari Forum Multaqa Mursyid, Khalifah, Badal JATMAN Jatim. Seperti Thariqah Naqsabandiyah yang sudah tidga kali megadakan multaqa dan terakhir di trenggalek, Thariqah Qadiriyah juga sudah tiga kali dan terakhir di Magetan, Thariqah Sadziliyiah satu kali di Mojokerto, Thariqah Syathariyah sudah dua kali, dan hanya Thariqah Tijaniyah yang belum melaksanakan multaqa.

Selama kepengurusan JATMAN Jawa Timur pada periodesasi ini, Kiai Ngadiyin Anwar menyadari jika mungkin program pembaharuan ini belum sepenuhnya tuntas dan masih harus diteruskan pada periode yang akan datang. Rencananya, kepengurusannya ini akan diakhiri pada Februari 2023.

Continue Reading

Artikel

Konsistensi JATMAN Jawa Timur dalam Menjaga Eksistensi Gerakan Ketarekatan (1)

Published

on

Jawa Timur adalah salah satu provinsi di Pulau Jawa yang menjadi basis gerakan tarekat. Dalam tulisan Syekh Abul Fadhol, Ahla al Musamarah fi Hikayat al Auliya’ al ‘Asyrah, Sayyid Rahmat atau Sunan Ampel selama mengajar di Pesantren Ngampel Denta Surabaya, membekali para muridnya Tarekat Naqsabandiyah yang kemudian diteruskan oleh Raden Paku atau Sunan Giri.

Mengingat basis Islam di Jawa pada waktu itu ada di Surabaya, maka tidak heran jika perkumpulan tarekat ini sudah mendarah daging bersamaan dengan berkembangnya Islam di Jawa Timur.

Dengan berjalannya waktu, Tarekat Naqsabandiyah ini kemudian menyebar di berbagai wilayah dan terintegrasi dengan berbagai tarekat besar seperti Khalidiyah, menjadi Tarekat Naqsabandiyah Khalidiyah yang mana di Jawa Timur ada beberapa wilayah yang dianggap sentral seperti Malang, Kediri, Nganjuk, Ngawi dan Madiun

Di Malang, mursyid sepuhnya adalah Kiai Abdul Hayyi yang sudah mengalami tiga kali regenarasi. Saat ini, ijazah kemursyidan dipegang oleh Kiai Yahya Mu’idi yang zawiyahnya berada di Pondok pesantren Baitul Mukhlasin, Dusun Cokro, Desa Sukoanyar, Kec. Pakis, Kab. Malang.

Adapun di Kediri, Tarekat Naqsabandiyah berkembang di Kecamatan Baran yang saat ini dipimpin oleh Syekh Muhammad Miftahur Riza al-Barrani. Selanjutnya di Kecamatan Kertosono, Nganjuk dipimpin oleh Kiai Munawwir kemudian berlanjut kepada Kiai Hambali dan kepada Kiai Muslih, pengasuh Ponpes al-Musthofa.

Selain itu, ijazah mursyid Tarekat Naqsabandiyah Khalidiyah di Jawa Timur juga dipegang oleh Kiai Adnan Ngawi, Kiai Abdul Rouf di Madiun Selatan serta Kiai Ngadiyin Anwar, pengasuh Ponpes Thariqah Sulaimaniyah Madiun melalui jalur Kiai Sulaiman pada tahun 1904-1936, dilanjutkan oleh Kiai Muhammad Adnan sampai tahun 1940, oleh Kiai Imam Muhyidin sampai tahun 1983, dan saat ini oleh Kiai Ngadiyin Anwar.

Di samping terintergrasi dengan Tarekat Khalidiyah, Tarekat Naqsabandiyah juga terintegrasi dengan Tarekat Qadiriyah yang dikenal dengan Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah (TQN).

Di Jawa Timur, perkembangan tarekat ini rata-rata melalui sanad dari jalur Jawa Tengah seperti Mranggen-Demak oleh Kiai Abdurrahman, Kiai Muslih dan Kiai Muthohar, kemudian Kiai Sholeh Sukoharjo dan Kiai Nawawi Purworejo. Namun ada pula yang langsung dari jalur Banten oleh Syekh  Abdul Karim melalui Kiai Kholil Bangkalan di Madura, Kiai Romli Tamim Jombang dan lain-lain.

Perkembangan tarekat di Jawa Timur, mengalami pertumbuhan yang pesat. Setidaknya ada sekitar 13-16 tarekat yang ada di provinsi ini, dengan populasi tarekat yang terbesar ada sebanyak lima tarekat, termasuk dua di antaranya sudah lebih dulu dijelaskan di atas, sedangkan tiga lainnya adalah Tarekat Sadziliyah, Tarekat Syattariyah dan Tarekat Tijaniyah.

Adapun Tarekat Sadziliyah, pusatnya ada di Tulungagung yaitu di Pondok PETA, di mana mursyid sepuhnya adalah Kiai Mustaqim, kemudian dilanjutkan oleh puteranya Kiai Abdul Djalil Mustaqim dan saat ini dipegang oleh Syekh Charir M Sholahuddin al Ayyubi melalui dua jalur, yaitu Kiai Makruf Mekkah dan Syekh Yasin al-Fadani Madinah. Selanjutnya ada Tarekat Tijaniyah dari Maroko dan Tarekat Syattariyah yang berkembang di Surabaya dan Madura.

Tarekat-tarekat di atas juga tersebar di beberapa wilayah di Jawa Timur seperti Jember, Pasuruan, Mojokerto, Blitar dan banyak lagi yang selanjutnya terhimpun dan terverifikasi sanadnya dalam Organisasi JATMAN, khususnya Idaroh Wustho Provinsi Jawa Timur.

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending