Connect with us

Akhlak Santri

Karakteristik Akhlak dalam Islam

DR. H. M. Hamdan Rasyid, MA (Khadim al-Ma’had BAITUL HIKMAH Depok)

Published

on

Akhlak
santrinow.com

Pada dasarnya, konsep akhlak dalam Islam –yang menjadi rujukan akhlak santri, kyai (guru) dan wali santri– memiliki cakupan yang sangat luas, karena akhlak berarti agama itu sendiri. Di antara ciri-ciri khas atau karakteristik akhlak Islam  yang membedakan dengan moral dan etika adalah sbb.:

  1. Bersumber dari wahyu al-Qur’an dan al-Sunnah. Akhlak Islam bersumber dari wahyu al-Qur’an dan al-Sunnah yang memiliki kebenaran mutlak dan berlaku sepanjang masa, dimana saja dan kapan saja. Hal ini berbeda dengan moral dan etika yang bersumber dari adat istiadat suatu masyarakat yang bersifat relatif dan boleh jadi berbeda standartnya antara satu masyarakat dengan masyarakat lainnya.
  2. Berhubungan erat dengan aspek Aqidah dan Syari’ah. Akhlak dalam Islam tidak berdiri berdiri, tetapi berhubungan erat dengan aspek aqidah (keimanan) dan syari’ah (hukum-hukum Islam yang bersifat praktis, baik dalam bidang ibadah, mu’amalah, jinayah maupun lainnya).  
  3. Bersifat Universal. Akhlak dalam Islam, bersih dan bebas dari tendensi (kecenderungan) rasialisme. Apa yang berlaku bagi umat Islam berlaku pula bagi non muslim.Mencuri hukumnya haram, baik terhadap harta orang muslim maupun harta non muslim. Zina hukumnya haram, baik terhadap orang Islam maupun non muslim. Seorang muslim dan non muslim sama-sama berhak mendapatkan keadilan di depan pengadilan.
  4. Bersifat Komprehensif (menyeluruh). Akhlak dalam Islam mencakup akhlak terhadap diri sendiri; hubungan dengan Allah SWT; dengan sesama manusia dan alam lingkungan. Hal ini berbeda dengan moral dan etika yang hanya menekankan hubungan baik dengan sesama manusia dan lingkungannya. Dalam pandangan masyarakat Barat, mengkonsumsi minuman keras, berjudi dan berzina tidaklah melanggar moral dan etika, sepanjang hal itu dilakukan atas dasar suka sama suka, bukan paksaan (perkosaan). Sebaliknya, dalam pandangan Islam, perbuatan tersebut selain melanggar hukum (syari’ah), juga tidak sesuai bahkan bertentangan dengan  al-akhlak al-karimah.  
  5. Bersifat Tawazun (keseimbangan). Islam menghendaki agar umatnya tidak melampaui batas dalam segala hal. Keseimbangan merupakan sifat dasar ajaran Islam, baik keseimbangan antara jasmani dan rohani; keseimbangan antara hubungan dengan Allah (hablun min Allah) dan hubungan sesama manusia (hablun min al-nas); maupun keseimbangan antara urusan dunia dengan akherat. Keseimbangan mencakup hak dan kewajiban, tidak boleh memberikan kepada individu hak–hak yang berlebihan yang mengakibatkan kebebasan tanpa batas, juga tidak boleh memberikan kewajiban kepada individu yang berlebihan sehingga sangat memberatkan. Keseimbangan dan keserasian, merupakan sifat dasar akhlak dalam Islam.
  6. Sesuai dengan Fitrah. Islam datang dengan membawa ajaran yang sesuai dengan fitrah manusia, karena agama Islam datang dari Allah, sedangkan manusia dengan segala macam fitrahnya juga diciptakan oleh Allah SWT. Oleh karena itu, sangat mustahil jika ajaran-ajaran agama Islam bertentangan dengan fitrah manusia. Islam mengakui eksistensi manusia apa adanya dengan segala dorongan kejiwaannya, kecenderungan fitrahnya; Islam menghaluskan fitrah dan memelihara kemuliaan manusia dengan hukum–hukum dan ketentuan-ketentuannya. Jika manusia melampui hukum–hukum dan ketentuan-ketentuan Allah SWT, maka dapat dipastikan mereka akan terjerumus ke dalam lembah yang hina. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat Attin (QS. 95 : 45) : 

    “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk sebaik – baiknya kemudian Kami kembalikan dia ke tempat serendah – rendahnya”.

    Pada dasarnya, semua manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah, yaitu bersih dan cenderung kepada hal-hal yang baik, sebagaimana diungkapkan oleh hadits Nabi SAW:

    “Tiap-tiap anak dilahirkan dalam keadaan suci (Islam). Maka ibu-bapaknya lah yang menjadikannya beragama Yahudi, Nasrani atau Majusi”.

    Dalam konteks inilah, ketika Rasulullah SAW ditanya mengenai apakah kebaikan itu ? Beliau menjawab sbb. :

    “Tanyakanlah kepada hatimu! Kebaikan adalah sesuatu yang menentramkan jiwa dan menenangkan hati, sedang dosa (keburukan) ialah sesuatu yang mengacaukan jiwa dan menimbulkan kebimbangan di dalam hati”.

    Kecenderungan manusia kepada kebaikan ini terbukti dengan adanya persamaan konsep-konsep pokok moral pada setiap peradaban. Misalnya, semua peradaban manusia sejak zaman dahulu menganggap hubungan seks dengan sesama anggota keluarga (incest) adalah sesuatu yang buruk. Demikian pula mengenai kebohongan, kesombongan, sikap pengecut, iri hati, dan lain-lain. Sebaliknya, semua peradaban dunia memandang kejujuran,  sikap tawadlu’ (low profile), dan ksatria sebagai suatu sikap yang baik. Akan tetapi, ketika berhubungan dengan lingkungan, norma-norma moral kemudian berinteraksi dengan ruang dan waktunya masing-masing. Masyarakat di Eropa dewasa ini mungkin memandang bahwa hubungan seks di luar nikah adalah sesuatu yang lumrah adanya. Demikian pula hubungan antara orang tua dengan anak. Oleh sebab itu, moral atau akhlak harus memiliki suatu rujukan yang bersifat universal dan abadi. Rujukan yang universal dan abadi tersebut adalah agama Islam yang sesuai dengan fitrah manusia. Sebagaimana difirmankan dalam surat ar-Rum ayat 30 :

    “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.

     Yang dimaksud Fitrah Allah adalah ciptaan Allah. Manusia diciptakan oleh Allah SWT memiliki naluri beragama, yaitu agama tauhid. Oleh karena itu, kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka hal itu tidaklah wajar. Mereka yang tidak beragama tauhid itu hanyalah lantaran pengaruh lingkungan.

    Dengan demikian, fungsi agama (Islam) dalam konteks ini adalah untuk memelihara fitrah yang telah digariskan oleh Allah SWT di dalam diri manusia supaya tidak menyimpang karena adanya interaksi dengan ruang dan waktu.
  7. Bersifat positif dan optimis. Islam mengajarkan, bahwa kehidupan adalah sebuah anugerah Allah yang harus diisi dengan amal shaleh. Oleh karena itu, manusia harus mengaktualisasikan dan memanfaatkan segala macam potensi yang dianugerahkan oleh Allah SWT untuk melakukan amal kebaikan yang bermanfaat bagi dirinya, keluarganya dan masyarakat luas, dengan penuh keyakinan dan optimisme, serta melawan pesimisme (keputusasaan), kemalasan dan segala bentuk penyebab kelemahan.Rasulullah SAW berpesan kepada umatnya agar bekerja keras untuk memakmurkan kehidupan sampai detik terakhir usia dunia. Beliau bersabda :  “Jika kiamat telah (hampir) terjadi sedangkan di tangan salah seorang di antara kamu sekalian ada anak pohon yang ingin ditanamnya, maka hendaklah dia menanamnya hingga  kiamat benar-benar terjadi”.

    Islam mencela sikap frustasi, pasif dan apatis. Oleh karena itu, kita harus tetap tegar dalam berjuang menghadapi kerusakan sosial, dekadansi moral dan segala bentuk ketidak adilan. Rasulullah SAW telah memberikan petunjuk kepada kita, bila kita melihat kemungkaran kita wajib memberantasnya dengan tangan (kekuasaan). Bila tidak mampu dengan tangan maka dengan lisan, jika tidak mampu dengan lisan maka dengan hati, dan ini adalah selemah–lemahnya iman. Umat Islam pantang putus asa. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat Yusuf QS. 12 : 87 :

    ”Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah kecuali umat kafir”.

Kedudukan Akhlak dalam Islam

Akhlak mempunyai kedudukan yang sangat tinggi dalam Islam. Bahkan tujuan utama terutusnya Rasulullah SAW kepada seluruh manusia dan jin adalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia (al-akhlak al-karimah). Sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih :

“Sesunguhnya aku diutus (oleh Allah SWT) untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”

Bahkan, akhlak merupakan pondasi sekaligus puncak dari keimanan dan keislaman seseorang. Hadratus Syeh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari dalam kitabnya Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim menyatakan, bahwa pada hakikatnya, orang yang tidak beradab (berakhlak) adalah orang yang tidak beriman dan tidak bertegang teguh pada syari’at agama Islam. Beliau mengutip ucapan sebagian ulama sbb. :

“Sebagian ulama berkata; ‘Tauhid (mengesakan Allah SWT) mengharuskan adanya iman. Barangsiapa tidak beriman, maka tidak ada tauhid baginya. Iman mengharuskan adanya syari’at. Barangsiapa tidak memiliki (mengamalkan) syari’at, maka tidak ada iman dan tauhid baginya. Syari’at mengharuskan adanya adab (akhlak). Oleh karena itu, barangsiapa tidak berhias diri dengan adab (akhlak), maka pada hakikatnya ia tidak mengamalkan syari’at, juga tidak memiliki iman dan tauhid”.[1]

Tujuan Mempelajari & Mengamalkan Ilmu Akhlak

Di antara tujuan mempelajari dan mengamalkan Ilmu Akhlak bagi para santri, kyai (guru) dan wali santri adalah sbb. :

  1. Agar para santri, kyai (guru) dan wali santri menjadi orang-orang yang bertaqwa kepada Allah SWT (al-muttaqin). Berbeda dengan moral dan etika yang hanya mengatur hubungan sosial antar sesama manusia, akhlak dalam Islam, selain mengatur hubungan sosial (hablun min al-nas); juga mengatur hubungan manusia dengan Allah SWT (hablun min Allah), bahkan terhadap diri sendiri dan makhluk lain di sekelilingnya, termasuk flora dan fauna. Dengan mempelajari dan mengamalkan ilmu akhlak Islam secara utuh dan sempurna, maka diharapkan para santri, kyai (guru) dan wali santri menjadi orang-orang yang bertaqwa kepada Allah SWT (al-muttaqin) yang selalu berusaha melaksanakan seluruh perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-larangan-Nya, karena mereka yaqin dengan sepenuh hati bahwa Allah SWT melihat dan memperhatikan hati, ucapan dan amal perbuatan setiap manusia. Dengan menjadi orang-orang yang bertaqwa kepada Allah SWT (al-muttaqin), maka dapat dipastikan para santri, kyai (guru) dan wali santri akan meraih berbagai kemudahan hidup, termasuk dalam mendapatkan ilmu pengetahuan dan meraih rizki dari jalan yang tidak diperhitungkan sebelumnya. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Thalaq ayat 2- 3:

    ”Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya”.

    Demikian juga difirmankan dalam surat al-Thalaq ayat 4 :

    ”Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya”.
  2. Agar para santri, kyai (guru) dan wali santri dapat menjalani hidup dengan damai, tenang dan harmonis. Dengan mempelajari dan mengamalkan ilmu akhlak dalam Islam secara utuh dan sempurna, maka diharapkan para santri, kyai (guru) dan wali santri berhias diri dengan al-akhlak al-karimah sehingga memiliki hati yang suci dan jiwa yang bersih yang tercermin dalam bentuk ucapan dan perbuatan yang terpuji. Kata-kata yang meluncur dari lidahnya selalu jujur dan benar serta memberikan kesejukan dan kedamaian bagi orang-orang yang ada di sekelilingnya. Mereka selalu berusaha menghindari kata-kata bohong, tidak benar dan kasar atau kata-kata yang menimbulkan ketersinggungan atau sakit hati orang lain. Mereka selalu berusaha untuk bersikap dan berprilaku yang baik dan terpuji. Mereka selalu berusaha mendamaikan orang-orang yang sedang bermusuhan, bukan sebaliknya mengompori orang-orang yang damai agar bermusuhan dengan menyebarkan fitnah dan berita hoax. Mereka saling menyayangi dan menghormati; saling tolong menolong dan bantu membantu sesuai dengan perintah Allah SWT dan Rasulullah SAW. Dengan cara demikan, dapat dipastikan para santri, kyai (guru) dan wali santri dapat menjalani hidup di dalam pondok pesantren dengan damai, tenang dan harmonis, penuh dengan kasih sayang. Mereka saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran, menahan emosi serta saling memaafkan jika terjadi kesalahan.
  3. Agar para santri meraih ilmu yang bermanfaat, para kyai (guru) meraih pahala yang mengalir dari ilmu yang ditransformasikan kepada para santrinya; dan para wali santri memiliki anak sholeh yang sealalu mendokan kepada kedua orang tuanya.  Dengan mempelajari dan mengamalkan ilmu akhlak dalam Islam secara utuh dan sempurna, maka diharapkan para santri, kyai (guru) dan wali santri meneladani akhlak Rasulullah SAW, para sahabat, tabi’in dan para al-salaf al-shalih sehingga para santri akan meraih ilmu yang bermanfaat serta meraih sukses dalam melaksanakan dakwah di tengah-tengah masyarakat. Jika para santri berhias diri dengan al-akhlak al-karimah maka kehadlirannya dapat diterima oleh masyarakat sekelilingnya. Jika masyarakat merasa senang dengan kehadliran santri, maka mereka bersedia mendengarkan dan mengamalkan ilmu yang diajarkan atau materi yang didakwahkan oleh santri tersebut, sehingga ilmunya bemanfaat bagi masyarakat sekitarnya. Sebaliknya jika santri berakhlak tercela, maka masyarakat akan bersikap anti pati sehingga tidak akan mau mendengarkan apalagi mengamalkan materi dakawah yang disampaikan oleh santri tersebut. Sebagaimana dikatakan oleh Syeh Muhammad Syakir :

    ”Wahai anakku. Jika engkau tidak menghiasi ilmumu dengan akhlak yang mulia, maka ilmumu lebih berbahaya bagimu dibanding dengan kebodohanmu. Karena orang yang bodoh (jika berbuat salah) masih bisa dimaklumi karena kebodohannya. Akan tetapi orang yang pandai jika tidak berhias diri dengan akhlak yang terpuji, tidak akan dimaafkan”.      

[1] KH. Mohammad Hasyim Asy’ari, Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim, Maktab al-Turats al-Islami, Pondok Pesantren Tebuirenng Jombang, tt. h. 11.

Baca artikel sebelumnya: Urgensi Akhlak dalam Islam

Akhlak Santri

Akhlak kepada Allah SWT (2)

DR. H. M. Hamdan Rasyid, MA

(Khadim al-Ma’had BAITUL HIKMAH Depok)

Published

on

Akhlak kepada Allah SWT
  1. Ikhlas, baik dalam melaksanakan ibadah mahdlah kepada Allah SWT maupun dalam membantu sesama umat manusia (kerja sosial). Karena ikhlas merupakan syarat mutlak diterimanya suatu ibadah atau amal perbuatan seseorang. Sebagaimana telah dijelaskan oleh hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari sahabat Umar Ibn Khatab :

    “Sesungguhnya setiap amal perbuatan itu (akan dibalas oleh Allah SWT) sesuai dengan niat, dan setiap manusia akan memperoleh balasan amal perbuatan sesuai dengan niatnya masing-masing. Barangsiapa berhijrah (dari Makkah ke Madinah) semata-mata bertujuan untuk mencari ridha Allah dan Rasul-Nya, maka akan diterima (sebagai amal ibadah kepada Allah dan Rasul). Tetapi barangsiapa berhijrah semata-mata untuk memperoleh harta atau menikahi wanita, maka ia tidak memperoleh pahala apa-apa (karena hijrahnya tidak bernilai ibadah)”.
  2. Syukur dalam memperoleh anugerah nikmat dari Allah SWT. Umat Islam, khususnya para santri wajib bersyukur atas nikmat yang dianugerahkan oleh Allah SWT.           Seorang hamba  yang  tidak  pandai  bersyukur, alias mengkufuri nikmat, sejatinya adalah orang-orang sombong yang pantas dimasukkan ke dalam api neraka, karena Allah SWT telah memerintahkan para hambaNya  untuk  mengingat-Nya  dan  bersyukur  atas  nikmat-nikmatNya. Sebagaimana difirmankan dalam surat al-Baqarah ayat 152 :

    “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.

    Prof. Dr. Syaih Mohammad Ali Ash-Shabuni dalam menafsirkan ayat di atas menyatakan; “Ingatlah kalian kepada-Ku dengan ibadah dan taat, niscaya Aku akan mengingat kalian dengan cara memberi pahala dan ampunan. Sedangkan maksud firman Allah SWT,” bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah  kamu mengingkari nikmat-Ku”, bermakna: “Bersyukurlah kalian atas nikmat-nikmat yang telah Aku berikan kepadamu dan jangan mengingkarinya dengan melakukan dosa dan maksiyat.

    Berdasarkan ayat di atas,  mak bersyukur  atas  nikmat  Allah  merupakan  kewajiban setiap muslim. Namun, seorang muslim harus memahami bagaimana cara merefleksikan rasa syukur secara benar. Betapa banyak orang merefleksikan rasa syukurnya dengan cara-cara yang bertentangan dengan prinsip-prinsip syukur itu sendiri. Misalnya, ada orang yang mewujudkan rasa syukurnya dengan cara mabuk-mabukkan, pesta pora, pergi ke tempat-tempat maksiyat, bernyanyi-nyanyi hingga melupakan kewajibannya, dan seterusnya. Adapula yang merefleksikan rasa syukurnya dengan cara menyediakan sesaji dan persembahan kepada pohon dan tempat-tempat keramat. Refleksi syukur seperti ini jelas-jelas bertentangan dengan prinsip Islam.

    Imam Ibnu Katsir menyatakan bahwa syukur harus direfleksikan dengan cara beribadah dan memupuk ketaatan kepada Allah SWT serta meninggalkan perbuatan maksiyat.         Pendapat senada juga dikemukakan oleh Imam ‘Ali Al-Shabuni. Ibadah dan taat kepada Allah SWT serta meninggalkan larangan-larangan-Nya adalah perwujudan rasa syukur yang sebenarnya. Seseorang yang selalu taat kepada Allah SWT dengan menjalankan seluruh aturan-aturanNya dan sunnah Nabinya pada hakekatnya adalah orang-orang yang senantiasa bersyukur kepada-Ny. Sebaliknya, orang yang menolak melaksanakan syari’at Islam, adalah termasuk orang-orang yang ingkar terhadap nikmat yang dianugerahkan Allah kepadanya.
  3. Sabar ketika tertimpa musibah (cobaan/ujian). Secara literal, sabar adalah habsu al-nafs ‘an al-jaza’ (menahan diri dari keluh kesah (ketidak sabaran).[1] Setiap orang pasti akan diuji oleh Allah SWT dengan berbagai macam ujian. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Baqarah ayat 155 – 156 :

    “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”

    Apabila seseorang mampu menahan diri dari keluh kesah, kegelisahan, dan kegundahan akibat berbagai macam ujian dan cobaan, maka ia tergolong orang-orang yang sabar. Sebaliknya, tatkala seseorang suka mengeluh, mengaduh, dan selalu merasa jengah serta khawatir atas berbagai macam musibah, maka ia bukanlah termasuk bagian orang-orang yang sabar. Jamaluddin al-Qasimi menyatakan, “Barangsiapa yang tetap tegak bertahan sehingga dapat menundukkan hawa nafsunya secara terus-menerus, orang tersebut termasuk golongan orang yang sabar.”[Al-Qasimi, Mau’idlaat al- Mukminiiin].

    Kesabaran merupakan perhiasan hati yang sangat agung dan mulia. Kesabaran akan menjadikan seseorang bersifat qana’ah, mulia dan dihormati oleh siapapun.  Selain itu, kesabaran juga merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi oleh seseorang agar mendapatkan keberhasilan dan kemenangan. Sebaliknya, sifat tergesa-gesa, gelisah dan berlebihan akan menjatuhkan seseorang ke dalam kegagalan dan kemurkaan Allah SWT. Sebagaimana difirmankan dalam surat Hud ayat 115 :

    “Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik”.

    Demikian juga firman-Nya dalam surat Ali Imran ayat 200 :

     “Hai orang-orang yang beriman, berlakulah sabar dan perkuat kesabaran diantara  sesama  kalian,  dan  bersiagalah  kalian  serta  bertaqwalah  kepada Allah, supaya kalian memperoleh kemenangan.”[Ali Imran:200]

    Kesabaran yang dimaksud pada ayat di atas adalah kesabaran dalam menghadapi segala bentuk kesulitan dan penderitaan tatkala menjalankan perintah Allah SWT. Kesabaran dalam menunut ilmu harus diwujudkan dengan cara menjalankan seluruh proses, dimulai dengan niat yang ikhlas, semangat yang kuat, kemudian mempersiapkan strategi belajar yang tepat, melengkapi diri dengan berbagai sarana dan prasarana yang memadai, serta mentaati instruksi-instruksi para pendidik. Selanjutnya, ia menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT.

    Kesabaran dalam  bekerja harus   direfleksikan   dengan cara mengorganisasikan segala sesuatu yang bisa menunjang keberhasilan pekerjaannya. Ia mempersiapkan seluruh potensi dirinya untuk meraih rizki yang halal, dan berserah diri kepada Allah atas semua hasil yang diterimanya. Kesabaran  dalam  berdakwah  harus  diwujudkan  dengan  cara berjalan  sesuai  dengan  manhaj  dakwah  Rasulullah SAW  walaupun  jalan  itu terasa  sulit,  panjang,  berliku  dan  penuh  dengan  cobaan  dan  musibah. Selanjutnya, ia membuat rencana-rencana program yang terarah, realistis, dan jelas. Seorang da’i juga harus kreatif dalam menciptakan uslub-uslub yang sesuai dengan kondisi dan fakta yang ada, yang secara logis akan mengantarkan kepada keberhasilan. Ia juga selalu mencari dan menciptakan cara-cara baru yang bisa mempermudah akses dakwahnya di tengah-tengah masyarakat. Atas dasar itu, kesabaran harus diwujudkan dengan cara mempersiapkan diri menghadapi segala macam kesulitan dan derita dalam menjalankan seluruh perintah Allah swt.

    Secara umum, kesabaran dibagi  menjadi  2 (dua) macam. Pertama,  kesabaran dalam menghadapi cobaan yang bersifat  fisik. Kedua, kesabaran  dalam menghadapi cobaan yang bersifat non fisik. Kesabaran dalam menghadapi cobaan yang bersifat fisik adalah tabah dalam memikul tugas-tugas yang berat, tabah dalam menghadapi kemiskinan, cacat, atau menderita rasa sakit (akibat penyakit maupun siksaan).

    Kesabaran dalam menghadapi cobaan yang bersifat non fisik terbagi menjadi beberapa hal. Di antaranya adalah sbb. :
  • Sabar dalam menahan hawa nafsu dan kecenderungan seksual. Kesabaran semacam ini disebut dengan ‘iffah.’
  • Sabar dalam menghadapi musibah, kesulitan, dan bencana tanpa ada keluh kesah, mengumpat, rasa kesal dan sebagainya. Kesabaran semacam ini sering dianggap sebagai bentuk kesabaran secara umum.
  • Sabar dalam bentuk menahan diri dari kehidupan mewah pada waktu sedang kaya.
  • Sabar dalam bentuk menahan diri dari sifat pengecut di medan peperangan yang dalam akhlak Islam disebut syaja’ah (keberanian),.     Lawan kata dari sifat syaja’ah adalah al-jubun (pengecut).
  • Sabar dalam bentuk menahan diri dari marah dalam menghadapi musuh atau orang yang berbeda pendapat, yang disebut tasamuh (toleran).
  • Sabar dalam bentuk menahan diri untuk tidak menyampaikan suatu ‘aib atau rahasia –baik rahasia diri sendiri, orang lain dan negara– kepada pihak lain, yang disebut kitman al-sirr.
  • Sabar dalam bentuk menahan diri dari kenikmatan dan kesenangan dunia untuk memperoleh kesenangan akherat, yang disebut zuhud.
  • Sabar dalam bentuk menahan diri dari pola hidup yang berlebih-lebihan (berfoya-foya), dan merasa puas dengan kehidupan yang sederhana sesuai dengan kemampuan, yang disebut qana’ah.
  1. Tawakkal. Ditinjau dari segi bahasa, kata tawakkal berasal dari kata wakkala – yawakkilu – taukiilan – wa tawakkalan (وكل – يوكل – توكيلا – وتوكلا) yang berarti mewakilkan. Sedangkan pengertian tawakkal dalam ajaran agama Islam adalah; “Menyerahkan semua kejadian yang telah, sedang dan akan terjadi pada diri kita kepada Allah SWT, karena yakin dan percaya bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Mencipta dan Mengatur hidup dan mati manusia dengan penuh hikmah, kebijaksanaan dan kasih saying. Sikap tawakkal ini dilakukan sesudah melakukan usaha secara maksimal”.

    Definisi di atas menunjukkan, bahwa bertawakkal kepada Allah SWT  bukan berarti bersikap pasif dan apatis tanpa melakukan sesuatu usaha dan aktivitas apapun, melainkan tetap berusaha secara maksimal dan bekerja dengan baik, tetapi menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT. Dengan demikian tidak benar asumsi sementara orang yang menyatakan, bahwa sikap tawakkal telah menjadikan umat Islam malas belajar, bekerja dan berusaha, sehingga mereka mengalami kebodohan kemiskinan dan keterbelakangan.

    Jika ada sebagian masyarakat yang memahami sikap tawakkal adalah menyerahkan semua persoalan kepada Allah SWT. tanpa melakukan usaha sama sekali, maka perlu diluruskan, karena pemahaman  tersebut sama sekali tidak benar dan bertentangan dengan ajaran agama Islam yang memerintahkan pemeluknya bersungguh-sunggguh memperjuangkan tegaknya ajaran agama Islam yang dikenal dengan istilah jihad (الجهاد); bersungguh-bersungguh dalam menggali dan mengembangkan ilmu pengetahun dengan rajin belajar, melakukan penelitian dan analisa yang dikenal dengan istilah ijtihad (الاجتهاد); serta berusaha dan bekerja keras untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT yang dikenal dengan istilah mujahadah (المجاهدة); Ketiga istilah tersebut berasal dari akar kata yang sama yakni al-juhdu (الجهد); yang berarti usaha dengan sungguh-sungguh. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Ankabut ayat 69  :

    “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh (mencari keridhaan) Kami, pasti (benar- benar) akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik”.

    Jangankan mencari ilmu yang sulit, hal-hal yang mudah saja tidak akan berhasil jika tidak diusahakan dan dikerjakan. Sebagai contoh, nasi dan lauk pauk yang sudah dihidangkan di meja makan, tidak akan menghilangkan rasa lapar jika tidak dimakannya. Air mineral yang sudah dihidangkan di atas meja, tidak akan menghilangkan rasa haus dan dahaga jika tidak diminumnya. Oleh karena itu Allah SWT memerintahkan semua manusia untuk mencari rizki di muka bumi ini, tidak boleh berpangku tangan. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Jum’ah ayat 10  :

    “Apabila telah selesai menunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia (rizki) Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya, supaya kamu beruntung”.

    Demikian juga Rasulullah memerintahkan umatnya yang sakit untuk berobat agar sembuh dari sakitnya. Jika sudah berobat ternyata tidak tertolong dan akhinya meninggal dunia, maka harus menerima kenyataan dengan penuh keimanan bahwa Allah SWT. telah mentakdirkan kematiannya pada saat itu. Akan tetapi tidak boleh membiarkannya tanpa berobat dengan alasan tawakkal kepada Allah. Sebagaimana telah disabdakan oleh Rasulullah dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh imam Ahmad bin Hambal, al-Hakim dkk dari sahabat Usamah sebagai berikut:

    “Berobatlah kamu sekalian wahai para hamba Allah, karena sesungguhnya Allah tidak menurunkan penyakit, melainkan pasti menyediakan obatnya, kecuali satu penyakit yakni penyakit pikun”.

    Demikian juga Rasulullah saw memerintahkan umatnya untuk menyimpan harta benda di tempat yang aman serta menjaganya dari kerusakan dan pencurian. Oleh karena itu beliau memarahi seorang sahabat yang meninggalkan ontanya di tengah jalan tanpa diikat, dengan alasan bertawakkal kepada Allah. Kemudian beliau memerintahkan sahabat tersebut untuk mengikat ontanya, sesudah itu baru bertawakkal kepada Allah swt.

    Seluruh ajaran agama Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan al-Hadits, baik yang berupa perintah dan anjuran maupun yang berupa larangan untuk mengerjakan sesuatu, pasti mengandung dampak positif serta menghindarkan dampak negatif bagi pelakunya serta bagi orang lain, baik di dunia maupun di akherat. Tawakkal sebagai salah satu ajaran Islam yang diperintahkan oleh Allah SWT. kepada para hamba-Nya yang beriman pasti mengandung dampak positif serta menghindarkan dampak negatif.

Di antara dampak positif tawakkal adalah sbb. :

  • Meningkatkan keimanan kepada Allah SWT. Dengan bertawakkal kepada Allah serta menyerahkan persoalan dan permasalahan yang kita hadapi kepada-Nya, maka berarti kita yakin dan percaya bahwa Allah SWT adalah Dzat yang berkuasa untuk memberikan keputusan yang terbaik kepada kita dalam menyelesaikan permasalahan tersebut. Allah SWT adalah Dzat yang mencipta dan mengatur hidup serta mati manusia dengan penuh hikmah, kebijaksanaan dan kasih sayang. Sebaliknya, jika kita tadak bertawakkal, maka berarti kita tidak atau kurang beriman kepada-Nya. Karena salah satu ciri orang yang benar-benar beiman adalah orang yang bertawakkal kepada Allah SWT. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Anfal ayat 2 :

    “Sesungguhnya orang-orang yang benar-benar beriman ialah; mereka yang apabila disebutkan sifat-sifat Allah, maka gemetarlah hati mereka, apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, maka bertambahlah iman mereka, dan kepada Allah-lah mereka bertawakkal”.

    Bahkan Allah SWT. telah menjadikan tawakkal sebagai salah satu syarat beriman kepada-Nya. Dengan demikian seseorang yang mengaku beriman tetapi tidak bertawakkal, maka pada hakekatnya ia belum beriman, karena tawakkal merupakan salah satu konsekuensi logis dari keimanan kita kepada AllahSWT. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Maidah ayat 23 :

    “Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”.
  • Menumbuh-kembangkan jiwa pemberani dan optimism. Seseorang yang bertawakkal kepada Allah SWT, maka dapat dipastikan bahwa ia adalah seorang pemberani. Ia berani memperjuangkan kebenaran, karena tidak merasa takut terancam kedudukannya atau menghadapi kesulitan hidup. Ia juga tidak takut mati, jika harus berperang melawan musuh-musuh Islam, karena yakin bahwa kematiannya tidak ditentukan oleh peperangan dan perjuangan, tetapi semata-mata ditetapkan oleh Allah SWT. Sekalipun berada dalam benteng yang dikelillingi pagar besi baja, kalau sudah tiba masa kematiannya, maka seseorang tidak akan mampu menghindarinya. Sebaliknya, walaupun seseorang ikut berperang atau naik pesawat terbang yang mengalami kecelakaan, kalau belum tiba masa kematiannya, maka ia tidak akan mati. Oleh karena itu sebagai orang yang beriman kita harus bertawakkal kepada Allah sehingga kita mempunyai keberanian untuk memperjuangkan kebenaran, tanpa dibayang-bayangi rasa takut mati, terancam kedudukan serta kesulitan hidup. Karena kita yakin bahwa nasib kita tidak berada di tangan atasan kita dan musuh-musuh kebenaran, tatapi semata-mata berada dalam kekuasaan Allah SWT. Sepanjang kita beriman dan bertawakkal kepada-Nya, maka tidak perlu ada yang ditakutkan. Karena Allah telah berjanji akan memberikan kecukupan dalam segala hal kepada orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Thalak ayat 3 :

    “Barang siapa yang bertawakkal kepada Allah, maka Allah akan mencukupi semua kebutuhannya”.
  • Memberikan ketenaangan batin. Jika seseorang sudah berusaha semaksimal mungkin, bekerja secara profesional, kemudian bertawakkal dan menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT., maka batinnya akan selalu tenang dan tenteram. Demikian juga jika seseorang telah menyimpan hartanya di tempat yang aman serta menjaganya dari kerusakan dan pencurian, kemudian ia bertawakkal kepada Allah, maka batinnya akan selalu tenang dan tenteram. Karena ia yakin dan percaya bahwa Allah akan menjaganya dan memberikan sesuatu yang terbaik, bermanfaat dan penuh hikmah kepadanya. Sebagaimana janji Allah dalam surat al-Ahdzab ayat 3 :

    “Bertawakkal-lah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai wakil”.
  • Menghilangkan stress dan frustasi. Dengan selalu bertawakkal kepada Allah, maka seseorang yang gagal dalam mencapai cita-cita dan keinginannya, seperti gagal dalam bercinta, gagal dalam memperoleh kejujuran, gagal dalam menduduki suatu jabatan, gagal dalam berbisnis dan sebagainya, atau kehilangan sesuatu yang disenanginya, atau ditinggal mati oleh seseorang yang sangat dicintai, atau tertimpa musibah yang lain, maka ia tidak akan stress dan frustasi. Karena ia yakin bahwa semua yang terjadi adalah atas kehendak Allah SWT yang pasti banyak hikmah dan manfaatnya. Sebaliknya jika ia sukses dalam mencapai sesuatu, ia tidak akan sombong dan lupa diri, karena menyadari bahwa walaupun memiliki kecerdasan yang tinggi, menguasai sains dan teknologi, mampu memprediksi segala sesuatu yang akan terjadi, tapi tanpa pertolongan Allah SWT. semuanya itu tidak akan mempunyai arti apa-apa. Oleh karena itu semua orang mukmin harus bertawakkal kepada Allah SWT. dengan menghayati dan mengamalkan makna Kalimat Hauqalah (LA HAULA WALA KUWWATA ILLA BILLAH AL-‘ALIYYI AL-ADZIM) yang berarti tiada daya untuk melakukan sesuatu kebaikan, dan tiada kekuatan untuk menghindari kejahatan, kecuali dengan pertolongan Allah Dzat Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Dengan tawakkal tersebut maka seseorang tidak akan frustasi karena gagal dalam mencapai sesuatu, serta tidak akan sombong jika sukses dalam meraih prestasi. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Hadid ayat 23 :

    “(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan frustasi (berduka cita) dalam menghadapi kegagalan, serta jangan lupa diri (terlalu gembira) dalam menghadapi kesuksesan yang diberikan oleh Allah kepadamu. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri”.
  • Menumbuh-kembangkan sifat dermawan. Seseorang yang benar-benar bertawakkal kepada Allah SWT pasti bersifat dermawan. Karena ia tidak akan takut kekurangan rizki. Ia yakin dengan sepenuh hati, bahwa Allah tidak akan menelantarkannya. Allah akan selalu memberikan rizki yang cukup untuk diri dan keluarganya. Allah akan mengganti setiap harta yang disedekahkan kepada para fakir miskin dan atau untuk kepentingan perjuangan agama Islam, dengan balasan yang berlipat ganda, baik di dunia maupun di akherat. Oleh karena itu jika seorang mukmin bersifat pelit hingga tidak mau bersedekah dan bahkan tidak mau membayar zakat karena takut jatuh miskin, maka pada hakekatnya ia tidak (belum) bertawakkal kepada Allah SWT. Jika ia bertawakkal pasti tidak akan pelit karena yakin bahwa Allah akan menjamin hidupnya dan mengganti sedekahnya dengan balasan yang berlipat ganda. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Baqarah ayat 261 :

    “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, adalah serupa dengan sebutir benih yang meumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui”.

    Sebaliknya, seseorang yang tidak atau kurang bertawakkal kepada Allah SWT pasti akan merasakan dampak negatif. Antara lain adalah sbb. :
  1. Berjiwa kerdil dan penakut. Seorang yang tidak bertawakkal kepada Allah SWT akan berjiwa kerdil dan penakut. Oleh karena itu, ia tidak berani memperjuangkan kebenaran karena takut menghadapi kesulitan hidup. Tidak berani berkompetinsi secara sportif karena takut kalah. Tidak berani berdagang karena takut rugi dan sebagainya.
  2. Suka meminta bantuan kepada dukun. Sebagai akibat dari jiwa kerdil dan penakut, maka seseorang tidak memiliki rasa percaya diri. Akibatnya bisa terjemurus pada praktek perdukunan atau mendatangi dukun serta meminta bantuan kepada jin dan setan utnuk menghadapi berbagai problem kehidupan. Padahal mendatangi dukun yang meminta bantuan kepada jin dan setan adalah haram karena dapat menjerumuskan kepada kemusyrikan.
  3. Bersifat hasad (iri hati/dengki). Jika seseorang tidak bertawakkal dan menyerahkan semua kejadian kepada Allah SWT, maka ia akan mudah terserang penyakit hasad ketika melihat orang lain yang dianggap rivalnya memperoleh kesuksesan. Sehingga ia melakukan sesuatu yang dapat merugikan rival tersebut.
  4. Bersikap takabbur dan mudah frustasi. Jika seseorang yang tidak bertawakkal kepada Allah SWT. meraih sukses, maka akan bersikap sombong (takabbur) dan lupa diri, karena merasa bahwa kesuksesan tersebut semata-mata karena kehebatan dirinya. Sebaliknya jika gagal, ia akan mudah frustasi. Sebagai pelariannya ia akan terjerumus mengkonsumsi alkohol dan obat-obatan terlarang, bahkan terkadang sampai melakukan bunuh diri. Di samping itu, orang yang tidak bertawakkal kepada Allah akan bersifat pelit, karena takut jatuh miskin.

[1] Abu Bakar Al-Raziy, Mukhtaar al-Shihaah, hal.354.

Continue Reading

Akhlak Santri

Akhlak kepada Diri Sendiri (3)

DR. H. M. Hamdan Rasyid, MA

(Khadim al-Ma’had BAITUL HIKMAH Depok)

Published

on

Akhlak kepada Diri Sendiri

Imam al-Syafi’i membagi waktu malam hari menjadi tiga bagian. Sepertiga malam untuk tidur (istirahat); sepertiga malam untuk mengkaji ilmu atau mengajar; sepertiga malam untuk ibadah (tahajjud). Agar mudah bangun malam, maka hendaklah para santri mengurangi konsumsi makanan.

Selain itu, para santri juga harus menghindari akhlak tercela (al-akhlak al-madzmumah) yang bersemayam di dalam dirinya. Di antaranya adalah sbb. :

  1. Pembohong. Bohong adalah menyampaikan informasi yang tidak sesuai atau tidak cocok dengan kejadian yang sebenarnya. Apabila kita ingin menjadi manusia yang sukses, maka pertama-tama yang harus kita lakukan adalah menjauhi kebohongan serta berpegang teguh pada kejujuran. Jika seseorang suka berdusta maka ia akan terjerumus pada kemunafikan sehingga layak disebut sebagai orang munafik.
  2. Munafik. Yaitu orang yang lahiriahnya berbeda batiniahnya. Performen lahiriahnya tampak bagus tetapi hatinya busuk, sehingga banyak orang yang tertipu.  Sifat munafik sangat tercela, sehingga  Al-Qur’an menyebutkan, bahwa orang-orang munafik itu kelak berada di neraka paling bawah. Pada masa Rasulullah SAW, orang-orang munafik sangat merepotkan karena mengganggu perjuangan beliau. Secara lahiriah mereka menampakkan seperti seorang muslim yang taat kepada Nabi, tetapi pada kenyataannya mereka berusaha merusak dan menghancurkan perjuangan beliau dari dalam. Rasulullah dalam hadistnya menyebutkan bahwa di antara ciri-ciri orang munafik adalah apabila  berbicara, suka berbohong; apabila berjanji, suka menginkari, dan apabila diberi amanah (dipercaya), suka berkhianat.

    “Ciri-ciri orang munafiq itu ada tiga; jika berbicara bohong, jika berjanji mengingkari, dan jika diberi amanat berkhianat”.
  3. Bermuka dua. Di antara bentuk lain dari sifat munafiq adalah bermuka dua, yaitu ketika bertemu seseorang dia memujinya, tetapi di belakangnya ia menjelek-jelekkan bahkan mencaci makinya. Sebagaiman disabdakan oleh Rasulullah SAW dalam hadits yang diriwayatkan Imam al-Bukahri dan Imam Muslim dari sahabat Abu Hurairah RA.

    “Dan engkau akan menjumpai sejahat-jahat manusia adalah orang yang bermuka dua. Dia menghadapi suatu kelompok dengan satu muka dan menghadapi kelompok yang lain dengan muka yang lain pula”.

    Demikian juga ucapan sahabat Abdullah ibnu Umar yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari:

    “Dari Muhammad ibn Zaid bahwa ada sekelompok orang yang bertanya kepada kakeknya, yakni sahabat Abdullah ibn Umar RA.: Sesungguhnya kami, jika  menghadap para pejabat kami akan mengatakan sesuatu yang berbeda dengan apa yang kami bicarakan ketika kami telah keluar dari ruangan mereka. Sahabat Ibnu Umar berkata; Menurut hemat kami, perbuatan tersebut pada masa Rasulullah SAW dinilai sebagai perbuatan munafiq.”
  4. Egois, yaitu sifat yang hanya mementingkan diri sendiri dan sama sekali tidak memperdulikan penderitaan orang lain, terutama penderitaan yang dialami oleh umat Islam. Orang seperti ini pada hakikatnya tidak layak dikelompokkan sebagai bagian dari umat Islam. Sebagaimana telah disabdakan oleh Rasulullah SAW :

    “Barangsiapa tidak memperdulikan nasib ummat Islam, maka ia tidak  termasuk golongan mereka”.
  5. Konsumtif dan berlebih-lebihan  dalam mengkonsumsi makanan dan minuman, karena hal itu sangat berpotensi menambah berat badan dan kegemukan (obesitas) sehingga mudah mengantuk dan malas beribadah serta belajar, bahkan berpotensi menimbulkan berbagai macam penyakit.

    Demikian juga berfoya-foya dalam membelanjakan dan mempergunakan harta sehingga mubaddzir. Bentuk lain dari sifat tabdzir adalah membuang sisa-sisa makanan yang tidak habis karena terlalu banyak dalam memasak atau mengambil makanan melebihi kebutuhan. Sifat tabdzir dinilai oleh Allah SWT sebagai sifat dan prilaku syaitan. Mereka dengan gampang membuang-membuang makanan, padahal di tempat lain banyak orang yang kelaparan karena tidak memiliki bahan makanan. Sebagaimana telah difirmankan Allah dalam surat al-Isra’ ayat 26 – 27:

    “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya para pemboros adalah teman syetan dan syetan sangat ingkar kepada Allah”.
  6. Pelit (bakhil) dalam membayar zakat, infak dan sedekah serta dalam membantu kaum yang lemah. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat Ali Imran ayat 180:

    “Janganlah sekali-kali orang-orang yang pelit (bakhil) dengan harta yang Allah telah anugerahkan kepada mereka menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya pada hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) dilangit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”.
  7. Takabbur (sombong), yaitu suatu sifat buruk yang bersemayam dalam diri seseorang karena merasa bahwa dirinya adalah orang hebat atau merasa memiliki keunggulan-keunggulan di atas orang lain. Sifat ini bisa muncul karena berbagai faktor. Bisa jadi karena merasa berasal dari keturunan orang-orang yang terhormat, bisa jadi karena merasa kaya, pandai, mempunyai pangkat dan kedudukan yang tinggi dsb. Takabbur atau sombong merupakan sifat buruk yang dibenci oleh Allah SWT. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat Al-Isra’ ayat 37:

    Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu tidak akan mampu menembus bumi dan tidak akan mampu mencapai puncak gunung”.

    Takabbur  terbagi menjadi  3 (tiga) macam; yaitu (1). Takabbur kepada Allah SWT, yang tercermin dalam sikap menolak untuk beribadah serta tidak mau memperdulikan ajaran-ajaran-Nya. (2). Takabbur kepada Rasulullah SAW yang tercermin dalam sikap menolak untuk mematuhi ajaran-ajarannya serta mengikuti sunnah-sunnahnya. (3). Takabbur kepada sesama manusia yang tercermin dalam sikap dan prilaku yang menganggap dirinya lebih hebat dari orang lain.

    Untuk menghilangkan atau mengurangi sifat takabbur (sombong) yang bersemayam di dalam hati serta menumbuh kembangkan sifat tawadlu’, dapat dilakukan dengan beberapa cara sbb.:

    – Menanamkan kesadaran dalam dirinya bahwa manusia pada mulanya tercipta dari sperma (air mani) yang menjijikkan dan sama sekali tidak berharga, kemudian pada akhir kehidupannya, sesudah wafat akan menjadi bangkai yang lama kelamaan membusuk dan baunya sangat menyengat sehingga tidak ada seorang pun yang mau mendekati apalagi menemaninya, meskipun istri atau suami dan anak-anaknya. (الانسان اوله نطفة واخره جيفة). 

    – Menanamkan kesadaran dalam dirinya, bahwa semua kelebihan yang dimilikinya, baik berupa wajah yang tampak atau cantik, harta benda yang melimpah ruah, ilmu pengetahuan dan gelar atau prestasi akademiki, pangkat, jabatan dsb. adalah karunia atau anugerah dari Allah SWT  yang wajib disyukuri, bukan untuk disombongkan; sekaligus juga  amanah yang kelak akan dimintakan pertanggung-jawaban.

    – Memandang orang lain dengan kelebihannya serta memandang diri sendiri dengan kekurangannya. Di antara nasehat Sulthan al-Auliya’ al-Syeh Abdul Qadir al-Jilani kepada para muridnya adalah sbb. ”Jika engkau bertemu orang yang berilmu (ulama), maka engkau harus merasa bahwa orang tersebut lebih baik dari pada dirimu. Karena beliau beribadah didasarkan pada ilmu, sedangkan engkau beribadah hanya ikut-ikutan tanpa ilmu. Jika engkau bertemu orang yang bodoh, engkau harus merasa bahwa orang tersebut lebih baik dari pada dirimu. Dia berbuat maksiat dan dosa karena kebodohannya. Sedangkan engkau sudah berilmu, tapi masih berbuat maksiat dan dosa. Jika engkau bertemu orang yang lebih tua, maka engkau harus merasa bahwa orang tersebut lebih baik dari pada dirimu. Karena beliau sudah banyak amal ibadahnya, sedangkan engkau masih muda sehingga belum banyak beribadah. Jika engkau bertemu orang yang lebih muda, maka engkau harus merasa bahwa orang tersebut lebih baik dari pada dirimu. Karena dia masih muda sehingga belum banyak dosanya, sedangkan engkau sudah tua sehingga sudah banyak berbuat dosa dan maksiat.

    – Menanamkan kesadaran dalam dirinya, bahwa sifat takabbur (sombong) dapat menyebabkan penolakan terhadap kebenaran, bahkan penolakan terhadap perintah Allah SWT. Iblis menolak perintah Allah untuk bersujud (menghormat) kepada Adam, karena sifat sombong. Iblis yang diciptakan dari api merasa lebih baik dari pada Adam yang diciptakan dari tanah. Akibatnya Allah SWT membencinya dan mengusirnya dari surga. Sebagaimana difirmankan dalam surat al-A’raf 12 – 13 :

    Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu aku menyuruhmu?” Iblis menjawab “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. Allah berfirman: “Turunlah kamu dari surge, karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya. Maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina”.
  8. Hasad (Iri Hati atau Dengki) adalah sifat atau rasa tidak senang atas kenikmatan yang diperoleh orang lain, baik berupa harta, jabatan, pangkat, kesehatan maupun yang lain, kemudian dia ingin atau berusaha menghilangkan kenikmatan tersebut dari orang lain tersebut, baik dengan maksud supaya kenikmatan itu berpindah kepadanya atau tidak. Hasad adalah termasuk akhlak yang tercela (al-akhlaq al-madzmumah), bahkan sangat berbahaya karena dapat mencelakakan orang lain. Seseorang yang hasad kepada orang lain akan berusaha menghilangkan kenikmatan yang diperoleh orang tersebut dengan berbagai cara, termasuk mencelakakan bahkan membunuhnya.

    Pada hakikatnya, seseorang yang bersifat hasad  adalah orang yang kurang beriman karena dia tidak rela terhadap kehendak dan ketentuan Allah SWT yang menganugerahkan kenikmatan kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya. Oleh karena itu, untuk meredam sifat hasad yang bersemayam dalam diri manusia, diperlukan peningkatan dan penguatan iman sehingga dia menyadari bahwa kenikmatan adalah anugerah dari Allah SWT yang diberikan kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya. Perlu ditanamkan juga bahwa sifat hasad itu akan menggerogoti pahala amal kebaikan, bagaikan api yang melahap kayu bakar.[]

Continue Reading

Akhlak Santri

Akhlak kepada Diri Sendiri (2)

DR. H. M. Hamdan Rasyid, MA (Khadim al-Ma’had BAITUL HIKMAH Depok)

Published

on

Akhlak kepada Diri Sendiri
Foto @alasantri

Akhlak kepada Diri Sendiri; berbeda dengan etika atau moral di luar Islam yang hanya mengatur atau menekankan etika social (hubungan seseorang dengan orang lain dalam kehidupan bermasyarakat), akhlak dalam Islam memiliki spektrum )ruang lingkup pembahasan) yang sangat luas. Selain mengatur hubungan antar sesama manusia dalam kehidupan masyarakat (علاقة الانسان للغير في الحياة الاجتماعية ), akhlak dalam Islam juga mengatur hubungan manusia kepada Allah SWT, Dzat Yang Maha Pencipta dan Pengatur kehidupan manusia dan alam semesta(علاقة الانسان لله)  serta hubungan manusia dengan dirinya sendiri  (علاقة الانسان لنفسه).

Baca juga: Akhlak kepada Diri Sendiri (1)

Keempat, Menjaga kehormatan diri (al-‘iffah). Para santri harus menjaga kehormatan diri (al-‘iffah) dengan tidak bersikap thama’ terhadap harta atau kedudukan orang lain.

“Barangsiapa merasakan kelezatan ilmu dan mengamalkannya, dapat dipastikan bahwa dia tidak akan silau atau memiliki keinginan(thama’)  terhadap harta atau jabatan orang lain”

Oleh karena itu para santri harus memiliki sikap mandiri dan menerima serta menikmati anugerah Allah SWT apa adanya (bersikap qonaah). Jangan membiasakan diri meminta-minta atau mengemis, karena agama Islam sangat mencela orang yang berprofesi sebagai pengemis, serta menghargai orang yang bekerja untuk mencari nafkah secara halal, baik dengan bertani, berdagang, menjadi karyawan, buruh dsb. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat Al-Baqarah ayat 273 :

“(Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di muka bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya. Mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui”.

Firman Allah SWT  di atas, memuji para sahabat Rasul yang tidak mau “menjadi pengemis”, meskipun mereka miskin karena tidak bisa berdagang lantaran sedang berperang membela agama Allah SWT melawan orang-orang kafir. Berhubung mereka tidak mau “menjadi pengemis”, maka masyarakat menyangka mereka adalah orang-orang kaya yang berkecukupan, padahal sebenarnya mereka adalah orang-orang miskin. 

Demikian juga sabda Rasulullah SAW dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dari sahabat Hakim ibn Hizam RA.:

“Tangan di atas adalah lebih baik dari pada tangan di bawah. Tangan di atas ialah tangan yang memberi dan tangan di bawah ialah tangan yang meminta”

Demikian juga sabda Rasulullah SAW dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah RA.

“Sungguh jika salah seorang di antara kamu pada waktu pagi-pagi buta mengambil tali kemudian mencari kayu bakar dan menjualnya sehingga ia memperoleh makanan secukupnya dan bersedekah, maka hal itu lebih baik baginya dari pada meminta-minta kepada manusia”.

Demikian juga sabda Rasulullah SAW dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Ibnu Umar RA.

“Mengemis (meminta-minta) itu senantiasa merupakan cacat bagi seseorang di antara kamu sehingga dia menemui Allah di hari kiamat tanpa sepotong daging yang melekat di mukanya”.

Demikian juga sabda Rasulullah SAW dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Dawud dari sahabat Abdullah ibn Adi :

“Ada dua orang sahabat yang datang kepada Rasulullah SAW untuk  meminta sedekah. Setelah Rasulullah SAW memperhatikan keadaan mereka, ternyata keduanya bertubuh kekar (kuat). Maka beliau  bersabda: Kalau kamu berdua meminta, saya akan memberi, tetapi ketahuliah bahwa orang-orang kaya dan mampu berusaha (kuat) tidaklah berhak menerimanya”.

Pernah salah seorang penduduk Madinah (kaum Anshor) datang meminta sedekah kepada Nabi. Beliau bertanya: Apakah anda mempunyai sesuatu benda di rumah? Orang Anshor itu menjawab: Saya hanya mempunyai sehelai tikar yang sebagian saya jadikan alas dan sebagian lainnya saya jadikan selimut, serta sebuah mangkok tempat air minum. Bawalah padaku, perintah Nabi. Setelah orang Anshor itu kembali kepada Rasulullah SAW dengan membawa barang-barang yang dimiliki, beliau melelang barang-barang tersebut kepada para sahabat, dan laku dua dirham. Kemudian beliau menyerahkan uang dua dirham tersebut kepada pemiliknya sambil berkata: Pergunakanlah satu dirham untuk membeli makananmu dan satu dirham lagi belikan sebuah kampak, dan bawalah padaku!. Setelah pemuda itu menyerahkan kampaknya kepada Rasulullah, maka beliau memasang tangkainya kemudian menyerahkannya kepada pemuda itu sambil bersabda; Pergilah mencari kayu bakar, dan juallah! Dua minggu kemudian kembalilah melapor padaku!. Dengan patuh pemuda itu keluar dan demikianlah, dua minggu kemudian dia kembali menghadap Nabi melaporkan bahwa dia telah berhasil menerima keuntungan 10 dirham. Lima dirham di antaranya telah dibelikan pakaian, sedang sisanya dipergunakan untuk persediaan membeli makanan mereka sekeluarga. Mendengar laporan itu Nabi bersabda: Bukankah itu lebih baik bagimu dari pada meminta-minta yang menjadikan cacat hitam di mukamu ketika menghadap Allah di hari kiamat nanti?”. Hadits Riwayat Abu Daud.

Kelima, Bersifat Wara’. Para santri harus bersifat wara’, yaitu bersikap hati-hati agar tidak mengkonsumsi makanan dan minuman yang haram atau diperoleh dengan cara yang tidak halal seperti mencuri, menipu, korupsi dsb. Demikian juga pakaian, kendaraan, tempat tinggal dsb. Seseorang yang bersifat wara’ insya Allah hatinya akan bersinar sehingga mudah menangkap ilmu dari Allah SWT serta doa yang dipanjatkan akan mudah diijabah oleh Allah SWT. Sebaiknya seseorang yang suka mengkomsi makanan atau minuman yang haram, atau memakai pakaian dan menggunakan barang-barang yang haram atau diperoleh secara tidak halal, maka hatinya akan gelap gulita sehingga sulit menangkap ilmu Allah SWT, bahkan doa-doanya pun tidak akan dijabah. Sebagai telah difirmankan dalam surat al-Baqarah ayat 188:

“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui”.

Demikian juga dijelaskan oleh hadits shahih yang diriwayatkan Imam Muslim dari sahabat Abu Hurairah :

“Sesungguhnya Allah adalah Dzat Yang Maha Suci, yang tidak akan menerima, kecuali sesuatu yang suci. Dan sesungguhnya Allah memerintahkan orang-orang yang beriman dengan apa yang diperintahkan kepada para rasul-Nya. Maka Allah SWT berfirman; ‘Wahai para rasul, makanlah kamu dari sesuatu yang baik dan beramallah yang baik’. Dan Allah pun berfirman; ‘Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari rizki yang baik yang telah Kami anugerahkan kepada kalian’. Kemudian Rasul mengkisahkan seorang laki-laki yang sudah lama sekali berdo’a memohon sesuatu kepada Allah. Begitu lamanya berdo’a sampai rambunya acak-acakan (tidak rapi), pakaiannya kotor terkena debu. Akan tetapi, bagaimana mungkin doanya dikabulkan kalau makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan sejak kecil diberi makanan yang haram”.[1]

Makanan dan minuman yang dikonsumsi manusia juga akan mempengaruhi kehidupannya di alam akhirat. Jika halal dan thayyib, maka akan mengantarkan manusia ke surga. Sebaliknya, jika bersumber dari atau diperoleh dengan cara yang haram, maka akan mengantarkannya ke dalam neraka. Sebagimana disabdakan Rasulullah dalam hadits hasan:

“Setiap daging (manusia) yang tumbuh dari (makanan dan minuman) yang haram, maka lebih berhak untuk masuk neraka” (HR. Imam Tirmidzi dari Ka’ab ibn ‘Ajazah). [2]

Para santri juga harus menghindari makanan dan minuman yang syubhat (belum jelas halal atau haram),  karena seseorang yang terjerumus dalam hal-hal yang syubhat pasti akan terjerumus dalam hal-hal yang haram. Sebagaimana telah disabdakan Rasulullah SAW dalam hadits shahih yang diriwayatkan Imam al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Abdillah Nu’man Ibnu Basyir RA.

“Dari sahabat Abu Abdillah Nu’man ibn al-Basyir RA. beliau berkata, bahwa beliau mendengar Rasulullah SAW bersabda; ‘Sesungguhnya sesuatu yang halal itu sudah jelas. Demikian pula, sesuatu yang haram juga sudah jelas. Akan tetapi, di antara yang halal dan yang haram itu terdapat sesuatu yang samar (syubhat) yang tidak banyak diketahui oleh umat manusia. Barangsiapa menjaga diri dari hal-hal yang syubhat, maka berarti ia telah membersihkan agama dan kehormatannya. Sebaliknya barangsiapa terjatuh dalam sesuatu yang syubhat, maka ia pasti akan terjatuh pada sesuatu yang haram. Seperti pengembala yang mengembalakan hewan ternak di sekitar tanah larangan, maka dapat dipastikan hewan ternak tersebut memasuki tanah larangan. Ingat, bahwa sesungguhnya setiap raja mempunyai larangan. Ingat, bahwa sesungguhnya larangan Allah adalah hal-hal yang telah diharamkan. Ingat, sesungguhnya di dalam jasad manusia terdapat segumpal daging, yang jika baik maka seluruh anggota badannya menjadi baik. Sebaliknya, jika segumpal daging tersebut buruk, maka seluruh anggota badan menjadi buruk. Ingat, segumpal daging tersebut adalah hati. (H.R. Imam Bukhari dan Imam Muslim).[3]

Keenam, Rajin dan Bersungguh-sungguh dalam Belajar

Para santri harus bersungguh-sungguh dalam belajar secara istiqomah (kontinu/ terus-menerus). Hal ini antara lain dilakukan dengan mengulang-ulang pelajaran (tikrar) agar memiliki pemahaman yang lebih mantap sehingga tidak mudah melupakan ilmu pengetahuan yang telah dipelajari.  Sebagaimanadifirmankandalam surat al-Ankabut ayat 69 :

“Dan Orang-orang yang mencari keridhaan Kami, niscaya Kami tunjukkan mereka kepada jalan-jalan Kami” (Surat 29, Al-Ankabut 69).

Pepatah Arab mengatakan :

“Barangsiapa sungguh-sungguh dalam mencari sesuatu pastilah ketemu dan barangsiapa mengetuk pintu bertubi-tubi, pasti dapat memasuki”.

Pepatah lain mengatakan :

“Sesuai dengan kadar usahamu, engkau akan meraih cita-citamu”

Imam al-Syafi’i telah menggubah syi’ir sbb. :

Engkau mengidam-idamkan dirimu menjadi seorang ahli fiqh yang pandai berargumentasi, tetapi engkau tidak mau berpayah-payah belajar.Maka (hal itu adalah suatu kegilaan, karena) gila itu sangat banyak bentuknya.

Kalau untuk mencari harta benda saja harus berpayah-payah dan penuh derita, apalagi untuk meraih ilmu pengetahuan”

Ketujuh, Bersikap Sabar dan Istiqomah

Para santri hendaknya bersikap sabar dan istiqomah untuk belajar di sebuah lembaga pendidikan (pondok pesantren) hingga menamatkan pendidikannya. Juga istiqomah dalam mengkaji satu disiplin ilmu, sehingga tidak berpindah ke disiplin ilmu lainnya sebelum menguasai disiplin ilmu yang pertama. Dengan berpindah-pindah tempat belajar, maka akan mengganggu konsentrasi belajar, membuang-buang waktu, biaya, tenaga dan pikiran, bahkan menyakiti para guru yang ditinggalkannya.

Para santri juga harus bersikap sabar dalam menghadapi berbagai macam ujian hidup.Kesuksesan sebuah cita-cita sangat bergantung pada kesabaran dalam menghadapi ujian.

Kedelapan, Rajin Bangun Malam

Para santri hendaknya rajin bangun malam untuk melaksanakan shalat tahajjud, berdizkir dan berdo’a. Karena pada sepertiga malam terakhir Allah SWT menurunkan rahmat-Nya dan merupakan waktu yang paling mustajab untuk berdoa. Jika para santri rajin melaksanakan tahajjud, maka Allah SWT akan mengangkat derajatnya hingga meraih derajat yang terpuji. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Isra’ ayat 79:

“Dan pada sebahagian malam hari bershalat tahajjudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji”.

Imam al-Syafi’i membagi waktu malam hari menjadi tiga bagian. Sepertiga malam untuk tidur (istirahat); sepertiga malam untuk mengkaji ilmu atau mengajar; sepertiga malam untuk ibadah (tahajjud). Agar mudah bangun malam, maka hendaklah para santri mengurangi konsumsi makanan.


[1] Imam Yahya ibn Syarafuddin al-Nawai, Matan al-Arba’in al-Nawawiyah Fi al-Ahadits al-Shahihah al-Nabawiyah,  (Riyadl: Daar al-Ilmiyah Li al-Kitab al-Islami, 1413 H./1992 M.)  h. 18 – 19

[2] Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad Al-Ghozali, Ihya’ Ulum al-Din,  (Beirut: Daar al-Fikr, 1995 M./1405 H.),  juz 2, h. 80

[3] Imam Yahya ibn Syarafuddin al-Nawawi, Matan al-Arba’in al-Nawawiyah Fi al-Ahadits al-Shahihah al-Nabawiyah, (Riyadl: Daar al-Ilmiyah Li al-Kitab al-Islami, 1413 H./1992 M.), h. 13-15; Dr. Mustafa al-Bugha dan Muhyiddin Mastu, Al-Wafi Fi Syarah al-Arba’in al-Nawawiyah, (Damaskus: Daar Ibnu Katsir, 1998 M./1418 H.) Cetakan ke-10, h. 35

Bersambung….

Baca juga: Akhlak kepada Diri Sendiri (1)

Kunjungi koleksi pustaka digital JATMAN

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending