Jelaskan Perspektif Tasawuf, Kiai Wazir Ali Minta Jamaah Jangan Memaksa Masuk Raudhah

September 28, 2023
Jelaskan Perspektif Tasawuf, Kiai Wazir Ali Minta Jamaah Jangan Memaksa Masuk Raudhah

Madinah, JATMAN Online – Jamaah Haji Indonesia diminta tak memaksakan diri sehingga berperilaku tak pantas karena belum berkesempatan mengunjungi raudhah akibat kendala tasrih (izin). Konsultan Ibadah KH. Wazir Ali mengungkap dari perspektif tasawuf, tasrih itu adalah implementasi dari izin Rasulullah shallahu ‘alaihi wassalam.

“Hakikatnya Rasulullah masih hidup dan setiap orang yang memasuki rumah Rasulullah, dalam hal ini Raudhah tadi, maka menurut perspektif Alquran harus minta izin,” kata kiai Wazir saat berbincang dengan awak Media Center Haji, Jumat (2/6/2023).

Kiai Wazir mengatakan, dalam perspektif Alquran disebutkan lā tadkhulụ buyụtan-nabiyyi illā ay yu`żana lakum (Wahai orang-orang yang beriman jangalah memasuki rumah Nabi hingga kamu mendapatkan izin) -Surat Al Ahzab Ayat 53-. “Izinnya inilah Tasreh,” katanya.

Menurut sebagian mufassir, lanjut kiai Wazir, makna ayat surat Al Ahzab ayat 53 tersebut, janganlah kamu memasuki rumah Nabi kecuali dua syarat, yakni  mendapatkan izin masuk dalam hal ini adalah tasrih dan masukmu atau dudukmu sesuai dengan kebutuhan.

Kadang, diakuinya, ada jamaah yang ngotot dengan cara apapun berupaya memasuki Raudhah. Kadang melakukan hal yang tidak pantas untuk bertamu ke rumah Rasulullah.

“Padahal untuk bertamu ke rumah Rasulullah harus dengan etika yang baik,” ucapnya.

Menurut Kiai Wazir, andai kemungkinan terburuk jamaah tidak mendapatkan izin untuk mengunjungi Rasulullah maka Allah yang tidak menghendaki.

“Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili, pemimpin tarekat Syadziliyah, dalam kondisi normal dan sepipun sampai berdiri lama di depan Masjid Nabawi hingga kepanasan, menunggu izin dari Rasulullah melalui dialog imajiner. Akhirnya syekh didatangi Rasulullah setelah seharian menunggu seharian untuk diizinkan masuk. Ini sesuai dengan ayat tersebut,” jelasnya.

Kiai Wazir menyimpulkan, tasrih yang dikeluarkan pemerintah Arab Saudi merupakan implementasi dari izin Rasulullah. Petugas-petugas haji yang mengusahakan izin tasrih ini hakikatnya merupakan pembantu-pembantu Rasulullah.

“Kalau yang terburuk kita tidak mendapatkan tasrih harusnya kita rela karena belum ditakdirkan oleh Allah. Bukan mencari alasan, tapi kita sudah berusaha semaksimal mungkin, namanya manusia kadang ada mblesetnya. Saran saya ya sudah terimalah dan introspeksilah ke dalam hati kita masing-masing,” paparnya.

“Itulah yang disarankan para ulama sebelum berangkat haji bertobatlah, upgrade tobatnya selama perjalanan haji, sholat tobat dan istigfar, menjaga dari masalah seperti ini agar diberikan kemudahan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala,” imbuhnya.

Menurut Kiai Wazir, menyapa Rasulullah tak terbatas waktu dan tempat. Menurutnya, tanpa berdoa di Raudhah, doa dari jamaah haji akan makbul. “Kalau sudah opini ya seperti Arbain seolah-olah wajib,” ungkapnya.