Connect with us

Artikel

Habib Luthfi Bin Yahya Sang Mursyid Bela Negara

Published

on

Photo: H. Yaqut Cholil Qoumas

Rais ‘Aam Jam’iyyah Ahlith Thariqah al Mu’tabarah an Nahdliyyah (JATMAN) Habib Luthfi bin Yahya resmi mendapatkan gelar Doktor Kehormatan (Doktor Hanoris Causa) dari Universitas Negeri Semarang (UNNES) pada Senin, 9 November 2020 di Gedung Prof. Wuryanto (Auditorium) UNNES kampus Sekarang, Gunungpati, Kota Semarang.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor memberikan testimoni kepada Habib Luthfi bin Yahya. Beliau menyebutkan bahwa Habib Luthfi merupakan Sang Mursyid Bela Negara. Berikut ini hal-hal yang disampaikan oleh Gus Yaqut.

Seruan “Hubbul Wathon Minal Iman” (mencintai tanah air bagian dari iman) sudah dikumandangkan sejak lama oleh para kiai dan ulama Nahdlatul Ulama. Namun baru Habib Luthfi bin Yahya, salah satu Mustasyar PBNU, yang menerjemahkan seruan tersebut dalam bentuk penyelenggaraan Konferensi Internasional Bela Negara pada 27-29 Juli 2016. Konferensi ini sekaligus menjadi forum mengonsolidasikan sejumlah ulama sufi dan mursyid tarekat dari berbagai negara di Timur Tengah dan belahan dunia lainnya.

Para mursyid tarekat tersebut mengungkapkan betapa pentingnya persatuan dan kesatuan umat Islam di tengah ancaman konflik tiada henti yang menerpa dunia Islam, seperti ancaman ISIS maupun perang saudara di sejumlah negara Afrika dan Timur Tengah.

Habib Luthfi bin Yahya dalam beberapa kesempatan menegaskan betapa cinta tanah air menjadi sangat penting dan menjadi pilar utama dalam konsepsi bela negara. Kecintaan pada tanah air tidak bisa dipertentangkan dengan akidah, syariah, dan nilai-nilai keislaman. Sebaliknya, perpaduan antara kesungguhan mempraktikkan nilai dan ajaran Islam yang berpijak pada teladan Nabi Muhammad SAW dengan semangat cinta tanah air dan bela negara akan bermuara pada terciptanya perdamaian di muka bumi.

Pada Konferensi Internasional Bela Negara tahun 2016, Habib Luthfi menyampaikan pesan agar umat Islam mencintai tanah air dan membela negaranya dalam keseimbangan antara kewajiban dan hak warga negara, pemimpin dan umatnya, kecintaan pada agama dan bangsanya.

Bagi Habib Luthfi, kecintaan pada tanah air dan loyalitas pada bangsa, tidak serta merta boleh dijadikan alat legitimasi untuk mencederai nilai-nilai kemanusiaan. Konferensi Internasional Bela Negara juga menegaskan bahwa bela negara merupakan kewajiban seluruh warga negara tanpa ada pengecualian. Bela negara memiliki dimensi beragam, tidak hanya mempertahankan negara dalam pertempuran sebagaimana sering dipersepsikan secara sempit oleh sebagian masyarakat. Implementasi bela negara yang konkret dan relevan dengan konteks kekinian adalah melaksanakan segala upaya memperjuangkan kesejahteraan ekonomi, akses terhadap pendidikan dan kesehatan, mewujudkan kemaslahatan bersama dan seterusnya.

Dalam konteks relasi agama dan negara, Habib Luthfi sering menegaskan bahwa antara mencintai Indonesia dan menjalankan ajaran Islam bisa dilakukan dalam satu tarikan nafas, tidak dapat dipisahkan apalagi dipertentangkan. Integrasi antara ajaran Islam dan negara sudah diimplementasikan dengan terbentuknya Kementerian Agama yang mengatur dan menjamin berlakunya syariat Islam dalam urusan muamalah umat Islam dalam kehidupan bermasyarakat. Sehingga tepatlah bila dikatakan bahwa Republik Indonesia bukanlah negara agama, bukan pula negara sekuler, melainkan “Negara Pancasila” yang mengakomodasi nilai dan ajaran Islam dalam bingkai Pancasila dan NKRI.

Bagi Gerakan Pemuda Ansor, Habib Luthfi bin Yahya adalah ulama, habib dan guru-mursyid. Beliau juga adalah pembela Banser (Barisan Ansor Serbaguna) yang kerap kali pasang badan saat Banser dicaci-maki, difitnah dan disudutkan oleh kelompok radikal dan intoleran karena komitmennya membela hak-hak warga negara dan memperjuangkan keutuhan bangsa.

Habib Luthfi adalah pengayom dan orangtua bagi jutaan kader GP Ansor dan Banser di seluruh dunia. Oleh karenanya, segenap keluarga besar GP Ansor dan Banser merasa bangga, bersyukur dan berterima kasih kepada Universitas Negeri Semarang (UNNES) atas penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa kepada Habib Luthfi bin Yahya.

Semoga penganugerahan Doktor Honoris Causa ini menjadi momentum yang menginspirasi kesadaran bela negara dalam semangat “Hubbul Wathon Minal Iman”.

H. Yaqut Cholil Qoumas
Ketua Umum Pimpinan Pusat GP Ansor/Panglima Tertinggi Banser

Artikel

Model Manajemen Kepemimpinan Transformasional di Bidang Pendidikan

Published

on

By

Jakarta, JATMAN Online – Mutu proses pendidikan dianggap baik apabila sumber daya sekolah mampu mentransformasikan multi jenis masukan dan situasi untuk mencapai derajat nilai tambah tertentu bagi peserta didik. Hal-hal yang termasuk kerangka mutu proses pendidikan ini adalah kesehatan, keakraban, saling menghormati, kepuasan, dan lain- lain.

Hasil pendidikan dikatakan bermutu jika mampu melahirkan keunggulan akademik dan ekstrakurkuler pada peserta didik yang dinyatakan lulus untuk satu jenjang pendidikan atau menyelesaikan program pembelajran tertentu. Selain itu, mutu pendidikan dapat dilihat dari tertib administrasi.

Salah satu model kepemimpinan pendidikan yang diprediksi mampu mendorong terciptanya efektifitas institusi pendidikan adalah kepemimpinan transformasional. Jenis kepemimpinan ini menggambarkan adanya tingkat kemampuan pemimpin untuk mengubah mentalitas dan perilaku pengikut menjadi lebih baik dengan cara menunjukkan dan mendorong mereka untuk  melakukan  sesuatu yang kelihatan mustahil.

Konsep kepemimpinan ini menawarkan perspektif perubahan pada keseluruhan institusi pendidikan, sehingga pengikut menyadari eksistensinya untuk membangun institusi yang siap menyongsong perubahan bahkan menciptakan perubahan. Sejalan dengan yang diungkapkan O’ Leary (2021) menyatakan bahwa Kepemimpinan transformasional adalah gaya kepemimpinan yang digunakan oleh seorang manager bila ia ingin suatu kelompok melebarkan batas dan memiliki kinerja melampaui status quo atau mencapai serangkaian sasaran organisasi yang sepenuhnya baru.

Seiring dengan perubahan kepemimpinan kepala sekolah atau madrasah dalam hal ini pondok pesantren, karena aturan regulasi dari pemerintah melalui peraturan kementrian agama yang ada, maka manajemen kepemimpin juga akan mengalami perubahan. Pondok pesantren adalah salah satu model pendidikan Islam Khas Nusantara.

Secara garis besar metode pendidikan di Pesantren adalah penggabungan antara metode pendidikan modern dan tradisional. Penggabungan dua metode ini didasarkan pada tuntutan zaman, bahwa, kita tidak dapat mengelak dari tantangan, perkembangan, dan kemajuan zaman dengan segala perniknya, tetapi juga kita sepatutnya tidak melepaskan nilai-nilai tradisional yang biasanya mengajarkan tentang nilai-nilai luhur budaya dan agama.

Dr. Suryadi selaku Koordinator Program studi S3 Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Jakarta, mengadakan Pengabdian Kepada Masyarakat di Pondok Pesantren Al-Ashiriyyah Nurul Iman Parung Bogor, memberikan pelatihan terhadap kepala sekolah, guru, santri dan mahasiswa/I dari pondok pesantren tersebut, yang berjumlah 400 peserta via zoom (22/09).

“Ekspektasi pelatihan ini adalah Menjadikan pondok pesantren Sebagai role model dalam menerapkan model kepemimpinan transformasional bidang Pendidikan,” ungkap Suryadi.

Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini diawali dengan Paparan secara Umum oleh Dr. Suryadi, dilanjutkan oleh dr. Santi Anugerahsari, SpM, M.Sc, FISQua (Kepala SMF Mata RSUD Koja)  menyampaikan materi tentang manajemen kepemimpinan di era covid: cara hidup sehat di era pandemic, dilanjutkan oleh  Nining Parlina, S.Pd. Gr., M.Si (Han) menyampaikan materi tentang Manajemen Kepemimpinan : praktik Mindfullness sebagai strategi Manajemen Stress dikalangan pendidik di era disrupsi.

Materi dilanjutkan oleh Rihlah Nur Aulia,MA (Dosen dan peneliti Fakultas Ilmu Sosial UNJ) memperkuat materi  dengan tema Karakteristik Kepemimpinan Transformasional di Lembaga Pendidikan Islam.  Sesi selanjutnya dilanjutkan oleh pemateri dari kepala sekolah SMAN 36 Jakarta bapak Drs. Moch Endang Supardi, M.Si., M.Pd menyampaikan Materi tentang Kepemimpinan Transformasional kepala sekolah dalam peningkatan mutu pendidikan di persekolahan. Selanjutnya pemateri pamungkas dari kepala Sekolah SMAN 109 Jakarta menyampaikan materi tentang Kepemimpinan Transformasional dalam manajemen kesiswaan.

Pelatihan ini mendapatkan apresiasi dan antusiasme yang tinggi dari semua peserta, dibuktikan adanya pertanyaan mendalam dari tiap materi yang disampaikan oleh pemateri.

Continue Reading

Artikel

Kurikulum Ecopesantren: Model Pendidikan Penanggulangan Kerusakan Lingkungan di Indonesia

Published

on

By

Jakarta, JATMAN Online – Pondok Pesantren (Ponpes) memiliki peran penting dan strategis dalam upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, hal ini dapat dilihat dari beberapa hal yang melatar belakanginya. Ponpes merupakan lembaga pendidikan tertua di Indonesia, sehingga keberadaanya sangat mengakar dan berpengaruh ditengah masyarakat.

EcoPesantren adalah program dari Kementerian Lingkungan Hidup yang dicanangkan sejak tahun 2008. Program ini bertujuan untuk mendorong peningkatan pengetahuan, kepedulian, kesadaran dan peran serta aktif warga pondok pesantren terhadap upaya-upaya pelestarian lingkungan hidup berdasarkan ajaran agama Islam.

Program Eco Pesantren adalah memberdayakan komunitas pesantren dalam meningkatkan kualitas lingkungan sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. 

Rihlah Nur Aulia, MA, selaku dosen dan peneliti Ecopesantren bersama dengan Tim melakukan pengabdian Kepada Masyarakat (P2M) tentang Kurikulum Ecopesantren di era daring bagi guru-guru di Pondok pesantren SPMAA Lamongan. Kegiatan ini diikuti oleh guru-guru pondok pesantren SPMAA Lamongan Jawa Timur.

Dalam paparannya peneliti menyebutkan tujuan dari kegiatan ini untuk melakukan pengarusutamaan ecopesantren melalui penguatan kurikulum dalam pendidikan di Pondok Pesantren.

Peneliti pernah menulis karya ilmiah yang berjudul Management of Ecopesantren Curriculum Development in Forming The Ecopreneurship of Santri kesimpulan dari hasil penelitiannya tersebut pertama, Pesantren SPMAA menerapkan kurikulum manajemen yang berbeda dengan pesantren lain di Indonesia. Kedua, dalam pengelolaan atau pengelolaan kurikulum SPMAA Pesantren mengacu pada kurikulum Nasional, dan ketiga, kurikulum ekopesantren, manajemen kurikulum meliputi; Perencanaan kurikulum: pemetaan kurikulum, silabus, program inkuiri, unit inkuiri, unit perencanaan pembelajaran.

Secara simultan, penataan kurikulum terdiri dari struktur kurikulum, pembagian tugas guru, pengembangan program transdisipliner, pengembangan program transdisipliner, penetapan unit inkuiri untuk setiap jenjang kelas. Selain itu, implementasi kurikulum terdiri dari pengalaman belajar, penilaian, dan laporan hasil belajar. Sedangkan evaluasi kurikulum terdiri dari review unit dan dua review mata pelajaran yaitu review unit dan review mata pelajaran.

Pemateri pada acara ini disampaikan oleh Faisal M. Jasin, ST, M.Si, dari kementerian KLHK,  Ibu Dr. Amaliyah, M.Pd, sebagai  salah satu dosen Kurikulum FIS UNJ, dan Ibu Rihlah Nur Aulia, MA sebagai dosen UNJ, karena di era corona dalam suasana pembelajaran daring, maka kegiatan ini juga diperkuat oleh dr. Santi Anugrahsari, SpM, MSc, FISQua dari  kepala SMF Mata RSUD Koja.

Continue Reading

Artikel

Selayang Pandang tentang Thariqah ‘Alawiyah

(Jalan Lurus menuju Allah)

Published

on

Thariqah 'Alawiyah

Jadilah seorang Asy’ari dalam aqidahmu
karena ia Sumber yang bersih dari penyimpangan dan kekufuran
Imam sandaran kita telah menyusun aqidahmu
Dan itulah penyembuh dari bahaya
Yang kumaksud dengannya adalah, yang selainnya tak digelari dengan Hujjatul Islam, betapa bangganya engkau

Itulah penggalan qasidah raiyah, al-Imam al-Hadad yang dengannya Sang Imam seolah mengirimkan pesan bahwa madzhab Fiqih yang dianut oleh para Saadah Ba ‘Alawiyah adalah madzhab Imam Syafi’i yang sejak awal ditakdirkan berkembang di Yaman. Sedangkan dalam hal aqidah mereka bermazhab Sunni asy-Asy’ariyah sebagaimana yang dianut sandaran mereka al-Imam Hunjatul-Islam Abu Hamid al-Ghazali.

Thariqah Alawiyyah diajarkan oleh leluhur (salaf) mereka secara turun temurun. Dari kakek mengajarkan kepada ayah, kemudian kepada anak-anak lalu cucu-cucu mereka dan seterusnya. Demikian sampai sekarang sehingga thariqah ini di kenal sebagai thariqah yang langgeng sebab penyebaran di lakukan dengan ikhlas dari hati ke hati.

Nasab para Saadah Ba ‘Alawiyah kembali ke datuk mereka, Alwi bin ‘Ubaidillah, cucu al-Imam Al-Muhajir, Ahmad bin Isa an-Naqib, yakni Naqib (pemimpin) para Syarif di Irak, bin Muhammad an-Naqib bin Ali al-‘Uraidhi bin Ja’far Ash-Shiddiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal ‘Abidin bin al-Imam al-Husain bin Ali bin Abu Thalib.

Peletak pondasi bangunan thariqah’Alawiyah adalah al-Imam Muhammad bin Ali Ba ‘Alawiyah yang bergelar al-Faqih al-Muqaddam lahir di Tarim pada tahun 574 H. al-Muqaddam menerima thariqah ini seorang ‘Arif Billah, Syaikh Abu Madyan al-Maghribi. al-Muqaddam lah yang menyempurnakan thariqah ini sebagaimana dikatakan Imam Abdurrahman bin Abdullah Bilfaqih yang dikenal sebagai ‘Allamah ad-dunnya (wafat tahun 1162 H), “Asal thariqah’Alawiyah adalah thariqah Madyaniyyah,yaitu thariqah Syaikh Abu Madyan Syu’aib al-Maghribi, sedangkan quthub dan inti hakikatnya adalah asy-Syaikh al-Faqih al-Imam Muhammad bin Ali Ba ‘Alawiyah al-Husaini al-Hadrami”.

Setelah al-Muqaddam wafat di kota kelahirannya pada tahun 653 H, di tangan keturunannya thariqah ini tetap mengikuti sistim dan caranya. Thariqah ‘Alawiyah adalah jalan yang menomorsatukan tahqiq (pendalaman), rasa dan rahasia sehingga cenderung bersikap khumul (menutup diri) dan merahasiakan. Periode ini pertama ini berlangsung demikian hingga zaman al-‘Aydarus (wafat 864) dan saudaranya, as-Syikh Ali (wafat pada tahun 892 H). Namun seiring dengan semakin meluasnya wilayah penyebaran thariqah ini maka dipandang perlu untuk segera melakukan kodifikasi ajaran thariqah ‘Alawiyah. Maka mulailah ditulis kitab-kitab yang berisi adab thariqah ini dan petunjuk-petunjuk untuk menjalaninya seperti al-Kibrit al-Ahmar, al-Juz al-lathif, al-Ma’arij, al-Barqah dan lainnya.

Lalu bermunculanlah di antara para pemuka thariqah ini mereka yang memiliki keunggulan dalam kecerdasan, ilmu dan amal di angkatannya. Yang masing-masing memiliki prasasti sejarah berupa karya ilmiah dan sastra yang tak cukup ruang untuk menyebutnya di sini. Masing-masing juga memiliki biografi sendiri-sendiri. Setiap kali kita tenggelam dalam lautan salah satu dari mereka, maka itu akan membuat kita lupa dengan yang lain.

Akhirnya sampailah thariqah ini sampai kepada Pembaru menaranya dan penyebar cahayanya, al-Imam Syaikh Abdul Quthb ad-Da’wah wa al-Irsyad Abdullah bin Alwi Al Haddad (1132 H).

Di tangan al-Imam al-Hadad, thariqah ini mengembangkan metode baru yang dinamainya Thariqah Ahl al-Yamin. Dalam pandangannya yang paling sesuai dengan kondisi orang-orang di masa itu, yang paling dekat dengan keadaan mereka, yang paling mudah untuk menarik mereka menuju ketaatan adalah dengan menghidupkan keimanan mereka, yang dengan perannya dapat menyiapkan mereka meningkat ke tangga Ihsan. Sehingga Thariqah ini mengajarkan untuk bermujahadah (bersungguh-sungguh) dalam menuntut ilmu guna menegakkan agama Allah.[Syuaib]

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending