Connect with us

Artikel

Asbabun Nuzul dan Tafsir Surat Al-Qadr

Published

on

Imam Abil Hasan Ali bin Ahmad al-Wahidi dalam Asbûb al-Nuzül Surat Al-Qadr meriwayatkan dari Mujahid.

Suatu ketika Nabi Muhammad saw. bercerita seorang pemuda dari Bani Israil. Nabi Muhammad saw. menarasikan bahwa pemuda tersebut selalu berperang setiap hari. Pedang di tangannya tidak pernah lepas. Baginya, medan perang seolah rumahnya. Ia melakukan itu tanpa henti selama seribu bulan.

Mendengar hal tersebut para sahabat pun merasa takjub. Mereka sangat heran bagaimana bisa seseorang menghabiskan begitu banyak umurnya hanya untuk berperang. Tak lama kemudian turunlah Surat Al-Qadr. Di mana Allah Swt. memberi kabar gembira kepada para sahabat dengan menurunkan satu malam yang begitu mulia. Ibadah yang dilakukan dalam malam tersebut bernilai sebagaimana ibadah seribu bulan.

Dalam cerita lain, diriwayatkan oleh Sahabat Malik bin Anas ra. bahwa Rasulullah saw. suatu ketika diperlihatkan oleh Allah rata-rata umur umatnya. Setelah mengetahuinya, Rasulullah saw.vmenganggap umur umatnya terlalu pendek. Kekhawatiran pun muncul dalam benaknya. Rasulullah saw. takut amal mereka tidak bisa mengimbangi umat-umat terdahulu yang notabene berumur panjang. Maka Allah memberinya Lailatul Qadar yang lebih baik dari seribu bulannya umat terlebih dahulu.

Tafsir Ayat

Istilah malam Lailatul Qadar pada ayat pertama surat Al-Qadr yang berbunyi,
“إنا أنزلناه في ليلة القدر” adalah nama dari satu malam di Bulan Ramadan, di mana pada malam tersebut diturunkanlah Al-Qur’an.

Malam ini merupakan salah satu malam yang sangat istimewa. Karena Allah Swt. secara khusus memberikan malam ini kepada umat Nabi Muhammad saw. sebagai salah satu keistimewaan yang tidak dimiliki oleh umat-umat sebelumnya.

Buktinya, sebelum ayat ini turun istilah Lailatul Qadar belumlah dikenal oleh kalangan orang Islam sendiri. Apalagi oleh umat terdahulu. Dalam susunan ayat setelahnya pun Allah menggunakan redaksi, “وما أدراك ما ليلة القدر“ sebagai pertanyaan yang menegaskan bahwa malam Lailatul Qadar baru dikenal setelah turunnya ayat ini.

Mengenai asal penamaan Lailatul Qadar ini para ulama berbeda pendapat. Ada yang mengatakan dinamakan Lailatul Qadar adalah karena pada malam tersebut ditakdirkannya semua urusan dan hukum. Pendapat ini diinisiasi oleh Imam Atho’ berdasarkan riwayat dari Ibnu Abbas.

Pendapat lain mengatakan dinamakan Lailatul Qadar adalah dikarenakan agungnya malam tersebut.

Sedangkan menurut Abu Bakar al-Warraq (w. 240 H) salah seorang pembesar sufi Abad ke-3 adalah karena malam ini terdapat tiga unsur kemulian. Ia mengatakan,

“Disebut Lailatul Qadar karena pada malam itu diturunkan kitab yang memiliki derajat mulia kepada malaikat yang mulia kemudian diturunkan kepada umat yang berpangkat mulia, dan barangkali Allah hanya menyebut lafadz “al-qadr” dalam surat ini tiga kali karena sebab di atas.”

Kemudian pada ayat ketiga, “ليلة القدر خير من ألف شهر” Allah menyebutkan kelebihan, keagungan serta keutamaan yang terkandung dalam malam Lailatul Qadar. Allah Swt. mensifati malam ini dengan redaksi “lebih baik daripada seribu bulan”.

Tentu hal ini tidaklah berlebihan, karena memang pada malam ini turun banyak sekali keutamaan dan kebaikan yang tidak ditemui dalam 1000 bulan. Mayoritas ahl tafsir bersepakat bahwa beramal pada malam Lailatul Qodar nilainya jauh lebih baik daripada beramal pada 1000 bulan yang di dalamnya tidak terdapat malam Lailatul Qadar.

Imam Al-Qurtubi dalam Jami al-Ahkam li al-Qur’an menyebutkan pendapat lain yang sedikit berbeda. Yang dikehendaki Allah Swt. dengan redaksi tersebut adalah waktu yang tidak ada bandinganya. Sedangkan kata ‘seribu’ di atas adalah kiasan atau metafora semata. Ia bertendensi pada kebiasaan bangsa Arab ketika hendak menyebut sesuatu yang tanpa batas maka mengungkapkannya dengan lafaz seribu (ألف). Seperti yang tertera dalam Qs. Al-Baqarah ayat 96,

 يود أحدهم لو يعمر ألف سنة

“Masing-masing dari mereka, ingin diberi umur seribu tahun.”

Yang dikehendaki dalam ayat tersebut adalah ingin hidup selamanya.

Namun dari kedua pendapat di atas, Intinya pada malam itu Allah Swt. hendak memuliakan umat Nabi Muhammad saw. dengan satu keistimewaan yang tidak dimiliki oleh umat lain.

Perlu diketahu pada syariat umat terdahulu, seseorang bisa dikatakan sebagai seorang abid atau ahli ibadah jika ia sudah melakukan ibadah selama 1000 bulan yakni delapan puluh tiga tahun lebih empat bulan.

Akan tetapi, Allah menjadikan kemudahan bagi umat Muhammad saw. yakni dengan ibadah dalam semalam saja sudah lebih baik dari seribu bulan mereka beribadah.

Pada ayat ke tiga, ”تنزل الملائكة والروح فيها بإذن ربهم من كل أمر” Allah mensifati malam Lailatul Qadar yang mulia dengan mendeskripsikan kondisinya. Di mana pada saat itu malaikat-malaikat yang berada di langit semuanya ikut turun ke bumi. Mereka semua serentak ikut mendoakan dan mengamini segala sesuatu yang diminta oleh manusia.

Adapun kata ‘الروح’ di sini menurut pendapat yang paling kuat adalah malaikat Jibril. Ada juga yang mengatakan ruh yang dimaksud adalah rahmat yang dibawa oleh malaikat Jibril. Ada juga yang mengatakan seorang malaikat yang memiliki tugas yang lebih spesifik, yakni menjaga malaikat-malaikat yang lain.

Sedangkan pada ayat terakhir, ”سلم هي حتى مطلع الفجر” Allah menghendaki bahwa keberkahan pada malam ini dapat dirasakan oleh alam semesta beserta isinya hingga menjelang fajar, yaitu kepada mereka yang senantiasa tetap terjaga di malam Bulan Ramadan dan mengisi malam tersebut dengan beribadah kepada Allah Swt.
(Referensi: At-Tahrir wa Tanwir li lbn Asyur [30]: 457; Tafsir al-Razi Mafatihul Ghaib [32]: 30).

Hikmah Disembunyikannya Lailatul Qadar

Kendati Allah Swt. secara jelas menunjukkan kemulian malam Lailatul Qadar ini, Namun Allah sengaja tidak memberi rambu-rambu pasti akan jatuhnya malam ini setiap tahunnya. Tentunya hal tersebut menyimpan banyak sekali alasan dan hikmah saat Allah menyembunyikan Lailatul Qadar, antara lain yaitu:

1. Allah menyamarkan mala mini sebagaimana Dia menyamarkan beberapa perkara agar manusia mengagungkan seluruh malam Ramadan.

2. Seakan Allah menghendaki keistiqamahan dalam beribadah dan juga istiqamah dalam meninggalkan maksiat

3. Allah menyembunyikan Lailatul Qadar umat Islam berusaha supaya mencarinya. Sehingga mereka mendapat pahala ijtihad (usaha).

5. Ketika seorang hamba tidak yakin tentang Lailatul Qadar maka mereka berusaha melakukan ibadah pada semua malam Ramadan dengan harapan malam tersebut adalah Lailatul Qadar. Dengan begitu Allah bisa berbangga terhadap malaikat karena kesungguhan manusia atas usaha yang dilakukan untuk mendapatkan Lailatul Qadar meskipun tidak ditampakkan
(Referensi: Tafsir al-Baghawi [8]: 482; Jami’ al-Rasail [1]: 199; Tafsir al-Razi [1]:124; Tafsir al-Alusi [23]: 62)

Sumber: Majalah Langitan, Pondok Pesantren Langitan, Edisi 93, 1442 H.
Editor: Khoirum Millatin

Continue Reading

Artikel

Tokoh-Tokoh Tarekat Di Aceh Dan Biografinya

Published

on

Dari banyak ulama di Aceh, ternyata ada empat ulama besar yang sangat berpengaruh. Riwayat empat ulama ini bersumber dari Buku ‘Paham Wujudiah’ karya Abuya Syekh Prof. Dr. Tgk H. Muhibbuddin Muhammad Waly yang dirangkum dalam ‘Sejarah Aceh’. Berikut nama dan kisah singkat empat ulama masyhur tersebut:

1. Syekh Hamzah Fansuri

Syekh Hamzah Fansuri adalah tokoh sufi terkenal di Aceh. Ia lahir di Fansur Singkil, Aceh. Ia hidup pada zaman pemerintahan Sultan Alaiddin Riayatsyah IV (1589 -1604 atau 997-1011 Hijriyah) hingga awal pemerintahan Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam.

Ia merantau untuk menuntut ilmu hingga ke Jawa, Semenanjung Tanah Melayu, India, Parsi dan Semenanjung Arab. Ia ahli dalam ilmu fiqh, tasawuf, falsafah, sastra, mantiq, sejarah dan lain-lain, serta fasih berbahasa Arab, Urdu, Parsi di samping bahasa Melayu dan Jawa.

Syekh Hamzah Fansuri dan Syamsuddin Sumatrani merupakan dua tokoh sufi yang sepaham dan hidup lebih dahulu dari dua ulama terkemuka lainnya yang pernah hidup di Aceh, yakni Abdurrauf Singkil Fansuri dan Nuruddin Ar-Raniry.

Riwayat hidupnya tidak banyak diketahui. Ia diperkirakan telah menjadi penulis pada masa kesultanan Aceh Sultan Alaiddin Riayatsyah IV. Ia menyebutkan Sultan Alaiddin selaku sultan yang ke-4 dengan Sayyid Mukammil sebagai gelarnya. Syahr Nawi mengisyaratkan, bahwa ia lahir di tanah Aceh. Konon saudara Hamzah Fansuri bernama Ali Fansuri yakni ayah dari Abdurrauf Singkil Fansuri.

Ketika pengembaraannya selesai dari Kudus, Banten, Johor, Siam, India, Persia, Irak, Makkah dan Madinah, untuk mencari ilmu makrifat terhadap Allah Swt, Ia kembali ke Aceh dan mengajarkan ilmunya. Mula-mula ia berdiam di Barus, lalu di Banda Aceh yang kemudian ia mendirikan Dayah (pesantren) di Oboh Simpang Kanan Singkil. Di pesantren itulah (ada yang mengatakan antara Singkil dengan Rundeng) ia dimakamkan tepatnya di sebuah pekuburan di desa tersebut.

2. Syekh Syamsuddin As-Sumatrani

Ia adalah tokoh ulama besar dan pengarang kenamaan di Aceh. Nama lengkapnya ialah Syekh Syamsuddin bin Abdillah As-Sumatrani. Sering juga disebut Syamsuddin Pasee. Dia adalah ulama besar yang hidup di Aceh pada beberapa dasa warsa (sepuluh tahun) terakhir abad ke-16 dan tiga dasa warsa pertama abad ke-17.

Gurunya ialah Hamzah Fansuri dan pernah belajar dengan Pangeran Sunan Bonang di Jawa. Ia menguasai bahasa Melayu-Jawa, Parsi dan Arab. Antara cabang ilmu yang dikuasainya ialah ilmu tasawuf, fiqh, sejarah, mantiq, tauhid, dan lain-lain.

Pada masa pemerintahan Sultan Alaiddin Riayatsyah IV dan Sultan Iskandar Muda, Ia memegang jabatan yang tinggi dalam Kerajaan Kesultanan Aceh. Ia dilantik sebagai penasehat kepada kedua sultan tersebut.

Ia juga pernah diangkat menjadi Qadi Malikul Adil yaitu satu jabatan yang terdiri dalam Kerajaan Aceh (orang yang kedua penting dalam kerajaan). Ia mengetuai Balai Gading (balai khusus yang dianggotai oleh tujuh orang ulama dan delapan orang ulee balang), di samping menjadi Syekh pusat pengajaran Baiturrahman.

Sekalipun mengikut faham aliran tasawuf wahdatul wujud, namun ia berlaku adil dalam menjalankan hukum-hukum yang difatwakannya. Keahliannya diakui oleh semua pihak termasuk Syekh Nuruddin. Ia meninggal dunia pada tahun 1630 M di zaman Sultan Iskandar Muda. Banyak karangan-karangan dan fatwa-fatwa yang ia tinggalkan. Di antaranya Syarah Ruba’i Fansuri (uraian terhadap puisi Hamzah Fansuri), dan lain-lain.

Ia adalah seorang ulama besar fiqh dan tasawuf. Seorang pelaut Belanda bernama Frederick de Houtman (1599 M/1008 H) yang ditawan di Banda Aceh, menyebutkan dalam bukunya tentang Syamsuddin Sumatrani adalah seorang syekh dan juga penasehat agung raja.

3. Syekh Nuruddin Ar-Raniry

Nama lengkapnya ialah Nuruddin Muhammad bin Ali bin Hasani bin Muhammad Hamid ar-Raniry al-Quraisyi asy-Syafi’ie. Ia wafat pada 22 Zulhijjah 1069 H/21 September 1658 M di kota kelahirannya di Kota Pelabuhan Ranir (Rander) Gujarat India. Sayang, tahun kelahirannya tidak diketahui secara pasti.

Ia seorang ulama besar, penulis, ahli fikir di India yang merantau dan menetap di Aceh. Ia lahir sekitar pertengahan ke dua abad ke-16. Pendidikan awalnya dalam masalah keagamaan ia peroleh di tempat kelahirannya sendiri.

Kemudian ia melanjutkan pendidikan ke Tarim, Yaman. Tarim adalah pusat studi ilmu agama pada masa itu. Setelah menunaikan ibadah haji dan ziarah ke makam Nabi saw. pada 1621 M (1030 H), ia kembali ke India.

Setelah kembali ke India dan mengajar, di samping sebagai Syekh Thariqah Rifa’iyyah ia merantau ke Nusantara dan memilih Aceh sebagai tempat menetap. Ia datang ke Aceh karena mengetahui Aceh menjadi pusat perdagangan, kebudayaan dan politik serta pusat studi agama Islam di kawasan Asia Tenggara menggantikan Malaka yang jatuh ke tangan Portugis.

Berkat kesungguhannya ia berhasil menjadi ulama besar yang berpengatahuan luas dan tercatat sebagai Syekh Thariqat Rifa’iyyah dan bermazhab Syafi’i. Hubungan baik Syekh Nuruddin dengan Sultan Iskandar Tsani di Aceh memberi peluang kepadanya untuk mengembangkan ajaran yang dibawanya.

Ia pernah menentang Paham Wujudiyah yang berkembang di Aceh pada masa itu. Untuk menyanggah Paham Wujudiyah yang dinilainya sesat itu ia sengaja menulis beberapa kitab.

Al Quraisyi pada laqab namanya menunjukkan bahwa ia berasal dari kabilah terhormat yaitu Quraisy. Ia berthariqah Rifa’iyyah menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan antara dirinya dengan Hamzah Fansuri, Syamsuddin Sumatrani dan Abdurrauf Al-Fansuri. Sebab, semuanya sama-sama pengikut thariqah suffiyah dan bermazhab Imam Syafi’i.

4. Syekh Abdurrauf As-Singkili

Ia adalah salah satu dari empat ulama terkemuka yang pernah lahir di Aceh pada abad ke-17. Sedangkan tiga ulama lainnya adalah Syekh Hamzah Fansuri, Syekh Syamsuddin Sumatrani dan Syekh Nuruddin Ar-Raniry. Para ahli sejarah memperkirakan bahwa ia lahir sekitar 1615 M (1035 H) di Singkil yang terletak di ujung paling selatan pantai barat Aceh, sekampung dengan Syekh Hamzah Fansuri dan juga putera dari saudara Syekh Hamzah Fansuri sendiri.

Ia tumbuh dan berkembang sebagai calon ulama di Aceh pada masa negeri itu sedang berada dalam puncak kejayaan di bawah pimpinan sultannya yang terbesar, Sultan Iskandar Muda. Untuk memperdalam pengetahuan agamanya, ia berangkat ke Saudi Arabia sekitar tahun 1643 M (1064 H) pada saat negeri Aceh dipimpin oleh Sultanah Safiatuddin yang berada dalam kekacauan politik dan pertentangan paham keagamaan.

Syekh Abdurrauf tidak segera langsung menuju Mekkah, tapi terlebih dahulu bermukim pada banyak tempat yang menjadi pusat-pusat pendidikan agama di sepanjang jalur perjalanan haji. Setelah Ia sampai di Mekkah dan Madinah Ia melengkapi ilmu lahir (ilmu Al-Qur’an, tafsir, hadits, fiqh) yang telah dimilikinya dan dilengkapi pula dengan ilmu, yakni tasawuf dan thariqat.

Setelah belajar di Madinah pada Syekh Thariqah Syatthariyah Ahmad Al Qusyasyi (wafat 1661 M/ 1082 H) dan kemudian pada khalifah atau penggantinya Ibrahim al-Qur’ani, ia memperoleh ijazah dari pimpinan thariqah tersebut. Banyak guru-guru besar yang memberikan ijazah ilmu pengetahuan kepadanya selama 19 tahun menuntut ilmu. Ketika pulang ke Aceh, Syekh Abdurrauf menjadi ulama besar yang memiliki ilmu yang luas. Menurut perkiraan para ahli sekitar tahun 1662 M (1083 H), peranannya sebagai pengajar Thariqah Syatthariah telah dimulainya di Madinah, menjelang pulang ke Aceh.

Penulis: Budi Handoyo (Dosen STAIN Teungku Diruendeng Meulaboh)
Editor: Khoirum Millatin

Continue Reading

Artikel

Karomah Sampai Wafatnya Pendiri Tarekat Naqsyabandi (Part 3)

Published

on

Ilustrasi

Nasehat, Akhlak dan Karomah Syaikh an-Naqsyabandî

Di antara akhlak Syaikh an-Naqsyabandî adalah apabila menjenguk salah seorang temannya, pasti akan menanyakan kabar keluarga dan anak-anaknya serta menghiburnya dengan hiburan yang sepantasnya. Bukan hanya itu saja, Syaikh an-Naqsyabandî juga menanyakan apa yang berhubungan dengannya sampai bertanya tentang ayam-ayam peliharaannya. Ditampakkan rasa belas-kasihan kepada semuanya seraya berkata, “Abu Yazid al-Busthâmî sekembalinya dari laut berdzikir, melakukan hal seperti ini.”

Meski sangat sempurna dalam kezuhudannya, Syaikh an-Naqsyabandî senantiasa memberi dan mendahulukan orang lain. Bila ada orang memberinya, diterimanya. Lalu membalasnya dengan pemberian yang berlipat ganda. Demikian itu karena Syaikh an-Naqsyabandî mengikuti jejak Rasulullah Shalallu ‘Alaihi Wassalam yang sangat terkenal kedermawanannya. Keberkahan akhlaknya yang mulia ini menular kepada murid-muridnya.

Di antara karamahnya adalah sebagaimana yang telah disampaikan oleh Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar. Suatu ketika Syaikh ‘alâ`uddîn al-Aththar bersama dengan Syaikh an-Naqsyabandî. Ketika itu udara diliputi oleh mendung. Lalu Syaikh an-Naqsyabandî bertanya, “Apa waktu dzuhur sudah masuk?” Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar menjawab, “Belum” Lalu Syaikh an-Naqsyabandî berkata, “Keluarlah dan lihatlah langit.”

Lalu Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar keluar dan melihat ke atas langit. Tiba-tiba tersingkaplah hijab alam langit sehingga Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar dapat melihat seluruh malaikat di langit tengah melaksanakan shalat Dzuhur. Lalu Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar masuk dan langsung ditanya oleh Syaikh an-Naqsyabandî, “Bagaimana pendapatmu, bukankah waktu dzuhur tiba?”

Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar malu dibuatnya dan membaca istighfar dan sampai beberapa hari masih terbebani dengan kejadian tersebut.

Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar berkata, “Ketika Syaikh an-Naqsyabandî akan meninggal, aku dan yang hadir pada saat itu membaca surah Yasîn. Ketika bacaan surah Yasin sampai di tengah-tengah, tiba-tiba tampak seberkas cahaya menyinari seisi ruangan. Maka aku membaca kalimat laa ilaaha illa Allah, lalu Syaikh an-Naqsyabandî wafat.”

Wafatnya Syaikh an-Naqsyabandî

Syaikh an-Naqsyabandî wafat pada malam Senin tanggal 3 Rabi’ul awal tahun 791 Hijriyah. Kemudian dimakamkan di kebun miliknya yang memang sudah ditentukan oleh Syaikh an-Naqsyabandî sendiri. Para pengikutnya mem-bangun kubah di atas makamnya dan di kebunnya dibangun masjid yang luas.

Sumber: Buku Menyimak Biografi Pendiri Thoriqoh Al-Mu’tabaroh

Continue Reading

Artikel

Nasab Keilmuan dan Keturunan Pendiri Tarekat Naqsyabandi (Part 2)

Published

on

Ilustrasi

Syaikh an-Naqsyabandî berguru ilmu tarekat kepada Syaikh Muhammad Bâbâ as-Sammâsî kemudian kepada Sayyid ‘Amîr Kulâl. Sedangkan Sayyid ‘Amir Kulal berguru kepada Syaikh Muhammad Baba as-Sammâsî. Syaikh Muhammad Bâbâ as-Sammâsî berguru kepada ‘Ali ar-Râmîtanî yang lebih dikenal dengan nama Syaikh al-‘Azîzân. Syaikh al-Azîzân berguru kepada Syaikh Mahmud al-‘Anjîr Faghnawî.

Syaikh Mahmud al-‘Anjîr Faghnawi berguru kepada Syaikh ‘Ârif ar-Rîwakirî yang berguru kepada Syaikh ‘Abdul Khalîq al-Ghuzduwânî yang berguru kepada Syaikh Abi Ya’qûb Yûsuf al-Hamadânî yang berguru kepada Syaikh Abi ‘Ali al-Fadhal bin Muhammad ath-Thusi al-Fâramadî yang berguru kepada Syaikh Abil Hasan ‘Ali bin Abi Ja’far al-Kharqânî.

Syaikh Abil Hasan ‘Ali berguru Kepada Abi Yazid Thaifur bin ‘Îsa al-Busthâmî yang berguru kepada Syaikh Imam Ja’far ash-Shâdiq yang berguru kepada kakeknya Sayyid al-Qâsim bin Muhammad bin Abi Bakar ash-Shiddiq yang dari Salmân al-Farîsî yang memperoleh dari Abi Bakar ash-Shiddîq yang memperoleh dari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam.

Syaikh an-Naqsyabandî juga berkata, “Di antara pertolongan Allah yang diberikan kepadaku adalah kopiah kakek guruku (Syaikh al-‘Azîzân) telah sampai kepadaku sehingga keadaanku semakin baik dan harapanku semakin kuat. Yang demikian itu membuatku dapat mengabdi kepada Sayyid ‘Amîr Kulâl dan memberi tahuku bahwa Syaikh as-Sammâsî mewasiatkan diriku kepadanya.”

Semakin hari Sayyid ‘Amîr Kulâl semakin memperhatikan dan bersungguh-sungguh dalam membimbingnya. Setelah bekal bimbingan yang diberikan dirasa sudah cukup, Sayyid ‘Amîr Kulâl berkata, “Wahai anakku, aku telah melaksanakan wasiat Syaikh Muhammad Bâbâ as-Sammâsî untuk membimbingmu.”

Seraya menunjuk ke arah susunya, Sayyid ‘Amîr Kulâl berkata, “Engkau telah menyusu pendidikan kepadaku. Tingkat penyerapanmu terhadap apa yang aku ajarkan sangat tinggi dan keyakinanmu sangat kuat. Oleh karena itu, aku mengizinkan engkau mencari ilmu ke beberapa orang guru. Engkau dapat mengambil ilmu dari mereka sesuai dengan kemauanmu yang besar.”

“Sejak saat itu, aku terus menerus mendatangi ulama untuk memetik ilmu syariat dan mencari ilmu Hadis serta akhlak Rasulullah dan para sahabat sebagaimana telah diperintahkan kepadaku,” papar Syaikh an-Naqsyabandî.



Sumber: Buku Menyimak Biografi Pendiri Thoriqoh Al-Mu’tabaroh

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending