Ali Zainal Abidin, Cicit Rasulullah yang Bergelar "As-Sajjad"

November 14, 2023
Ali Zainal Abidin, Cicit Rasulullah yang Bergelar "As-Sajjad"

Imam Ali Zainal Abidin adalah putra Sayyidina Husain bin Sayyidina Ali dan Sayyidah Fatimah binti Rasulullah saw. yang dijuluki As-Sajjad (orang yang ahli sujud). Beliau adalah orang yang ahli ibadag dan menjadi panutan dalam menghambakan diri  kepada Allah Swt. dan meninggalkan apapun selain-Nya. Hati dan anggota tubuhnya diliputi ketenangan karena ketinggian makrifatnya kepada Allah Swt., rasa hormat dan takut kepada-Nya.

Ali Zainal Abidin lahir di Madinah pada tahun 33 H, atau dalam riwayat lain dikatakan 38 H. Ia termasuk generasi tabi’in yang banyak meriwayatkan hadis terutama dari ayahnya (Sayyidina Husain), pamannya (Sayyidina Hasan), Jabir, Ibnu Abbas, Al-Musawwir bin Makhramah, Abu Hurairah, Shafiyah, Aisyah, Ummu Kultsum serta para ummahatul mukminin yang lain. Ia juga mewarisi sifat-sifat ayahnya di dalam ilmu, zuhud dan ibadah.

Yahya al-Anshari berkata, “Dia (Ali Zainal Abidin) adalah yang paling mulia dari Bani Hasyim yang pernah saya lihat.”

Az-Zuhri berkata, “Saya tidak pernah menjumpai di Kota Madinah orang yang lebih mulia dari beliau.”

Abu Bakar bin Abi Syaibah berkata, “Sanad yang paling dapat dipercaya adalah yang berasal dari Az-Zuhri dari Ali dari al-Husain dari ayahnya Ali bin Abi Thalib.

Suatu ketika saat Ali baru saja keluar dari masjid, seorang laki-laki menemuinya dan mencacinya dengan sedemikian kerasnya. Spontan orang-orang yang ada di sekitarnya bersegera ingin menghakimi laki-laki tersebut. Namun Ali mencegahnya dan berkata kepada si laki-laki, “Apa yang engkau tidak ketahui dari dirlku lebih banyak lagi. Apakah engkau butuh sesuatu sehingga aku dapat membantumu?”

Kemudian laki-laki itu merasa malu. Ali kemudian memberinya seribu dirham. Lalu laki-laki itu berkata, “Aku bersaksi bahwa engkau benar-benar cucu Rasulullah saw.”

Ali Zainal Abidin berkata, “Kami ini ahlul bait. Jika sudah memberi, pantang untuk menginginkan balasannya.” Ia pernah hidup bersama kakeknya, Ali bin Abi Thalib selama dua tahun, bersama pamannya sepuluh tahun dan bersama ayahnya sebelas tahun.

Setiap malam, ia selalu memanggul sendiri sekarung makanan di atas punggungnya dan menyedekahkan kepada fakir miskin di Kota Madinah. Ia berkata, “Sesungguhnya sedekah sembunyi-sembunyi itu dapat memadamkan murka Allah.”

Muhammad bin Ishaq berkata, “Sebagian orang-orang Madinah hidup tanpa mengetahui dari mana asalnya penghidupan mereka. Pada saat Ali bin Husain wafat, mereka tak lagi mendapat penghidupan itu.”

Jika meminjamkan uang, Ali Zainal Abidin tak pernah meminta kembali uangnya. Jika meminjamkan pakaian, ia tak pernah meminta kembali pakaiannya. Jika sudah berjanji, ia tidak akan makan dan minum sampai dapat menepati janjinya. Ketika berhaji dan berperang, ia tak pernah memukul tunggangannya itu.

Ali Zainal Abidin wafat di Madinah, pada 18 Muharram 94 H dan disemayamkan di kuburan Baqi’ dekat makam pamannya, Sayyidina Hasan yang disemayamkan di Qubbah al-Abbas. Ia meninggalkan 11 orang putra dan 4 orang putri dengan tidak mewarisi apapun kecuali ilmu, kezuhudan dan ibadah.