Connect with us

Artikel

7 Tanda Kesombongan yang Harus Anda Hindari

Published

on

Sifat sombong sering hinggap pada diri manusia. Sifat tercela ini sungguh berbahaya, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Maukah kalian aku beri tahu tentang penduduk neraka? Mereka semua adalah orang-orang kasar, rakus, dan sombong.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini menjelaskan tentang bahayanya sifat sombong. Kesombongan merugikan pelakunya tidak hanya di dunia, juga di akhirat kelak. Tiga perilaku buruk tersebut akan membawa manusia menjadi penghuni neraka.

Secara bahasa kesombongan, berasal dari kata sombong (bahasa Inggris: pride; bahasa Latin: superbia; bahasa Arab: فخر‎, fakhar), juga angkuh, takabur, arogan, atau congkak merupakan suatu perasaan atau emosi dalam hati yang dapat mengacu pada dua makna umum (Wikipedia).

Secara terminologi, yang dimaksud sombong adalah tingkah laku dan sifat yang cenderung memuji, mengagungkan, membesarkan, dan memandang diri sendiri sebagai makhluk yang paling di atas segala-galanya dari makhluk lain.

Dalam hadits Nabi, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Sombong itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia” (HR Muslim).

Syekh Muhammad Nawawi al-bantani di dalam kitabnya Maraqil Ubudiyah menjelaskan seseorang tidak akan menganggap dirinya besar, kecuali karena ia telah menganggap dirinya memiliki salah satu sifat kesempurnaan dalam urusan agama maupun dunia. Dalam hal ini, setidak nya ada 7 hal yang menyebabkan kesombongan:

Pertama, ilmu. Ilmu hakiki adalah yang dengannya manusia bisa mengenali diri dan Tuhannya, mengetahui bahaya su’ul khotimah, hujja Allah atas para ulama, dan besarnya bahaya ilmu (yang tidak diamalkan dan disalahgunakan). Sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah bahwa perusak ilmu adalah kesombongan.

Kedua, amal dan ibadah. Para ulama dan ahli ibadah menyikapi kesombongan dalam konteks ini ada tiga macam kesombongan: pertama, kesombongan yang bersemayam di dalam hati seseorang. Ia rajin beribadah namun ia menganggap dirinya lebih baik dari orang lain, sikap ini memperkokoh kesombongan yang ada pada dirinya.  Kedua, menampakkan kesombongan itu pada perbuatan-perbuatannya, misalnya dengan membanggakan derajatnya di majelis yang ia hadiri. Ketiga, menampakkan kesombongan pada lisannya dengan membanggakan dan memuji diri sendiri. Seperti ucapan ahli ibadah kepada orang lain, “Siapa dia? Apa amalnya? Bagaimana Zuhudnya?” atau seperti ucapan, “Aku tidak makan pada hari ini dan hari ini karena berpuasa, atau aku tidak tidur pada mala mini karena sibuk beribadah”.

Ketiga, nasab atau keturunan. Seseorang yang bernasab mulia akan meremehkan mereka yang bernasab biasa, meskipun mereka memiliki ilmu dan amal yang lebih tinggi.

Keempat, kecantikan. Hal ini biasanya terjadi pada wanita mereka menggunjing dan menjelek-jelekkan orang lain.

Kelima, kekayaan. Ini terjadi pada para penguasa yang membanggakan kekayaan mereka, pedagang dengan barang dagangan mereka, para tuan tanah dengan tanah mereka, dan orang-orang kaya dengan pakaian, kuda, kendaraan mereka.

Keenam, kekuasaan. Dengan menyombongkan kekuasaannya terhadap orang-orang yang lemah. Biasanya ketika mendapatkan suatu jabatan ia menunaikan tanggung jawabnya. Menganggap apa yang telah ia lakukan atas kerja kerasnya.

Ketujuh, pengikut dan kerabat. Biasanya terjadi di antara para penguasa yang membanggakan jumlah tentara mereka, dan diantara para ulama yang membanggakan jumlah murid mereka.

Setiap kenikmatan bisa dianggap sempurna meskipun sebenarnya tidak sempurna, dan itu pun bisa dibanggakan. Bahkan, orang fasik pun terkadang membanggakan banyaknya kemaksiatan yang pernah ia lakukan, serta banyaknya wanita yang pernah ia gauli. Karena ia menganggap hal itu adalah kesempurnaan, meskipun sebenarnya itu semua perbuatan dosa.

Maka jauhilah 7 penyebab yang akan menjerumuskanmu ke dalam neraka, karena sejatinya siapapun akan terkena dampak dari kesombongan ini. Agar terhindari dari kesombongan maka memperbanyak berdzikir dan memohon kepada sang pencipta untuk dijahui dari sifat sombong ini.

Continue Reading

Artikel

Model-model Pembersihan jiwa (Tazkiyatun Nafs)

Published

on

Pembersihan jiwa atau Tazkiyatun Nafs adalah upaya menghilangkan keburukan-keburukan yang sudah lama terbenam dalam hati hamba. Proses ini berfungsi untuk menyiapkan diri menerima cahaya dari Allah Swt. Karena tidak mungkin cahaya bisa masuk dalam ruang yang gelap tanpa adanya setitik kebaikan di dalamnya. Gelapnya hati inilah hijab yang menghalangi makrifat terhadap Allah.

Oleh sebab itu, untuk membersihkan hati dari kotoran-kotoran tersebut perlu dilakukan beberapa cara, di antaranya:

1. Lapar (Al-Ju’)

Sesungguhnya lapar merupakan keadaan ahli hakikat. Menurut al-Ghazali, lapar dapat mengurangi dan memutihan darah dalam hati (al-qalb). Putihnya darah adalah cahayanya. Dengan cahaya dapat menghancurkan lemak hati. Hancurnya lemak dapat melembutkan hati dan hati yang lembut bisa menjadi kunci mukasyafah, sedangkan kerasnya hati adalah hijabnya.

2. Melanggengkan Wudlu (Dawam al-Wudlu’)

Wudlu adalah cahaya dan dosa akan berguguran ketika seorang hamba berwudlu. Para ulama menyatakan bahwa melanggengkan wudlu akan meluaskan rizki. Perbuatan itu juga merupakan amaliyah waliyullah sebagaimana yang dilakukan oleh Syekh Abdul Qadir al-Jilani

3. Khalwat

Khalwat menurut Kiai Muhammad Shiddiq Piji adalah menyendirinya hati dari manusia. Menurut sebagian ulama, tarekat khalwah adalah pembicaraan rahasia (muhadatsat al-Sirri) bersama al-Haqq. Khalwah merupakan salah satu kebiasaan Nabi Muhammad saw. saat memulai perjalanan ruhaninya hingga mendapat wahyu untuk berdakwah

4. Zikir

Zikir dalam keterangan Kiai Muhammad Shiddiq Piji merupakan rukun terpenting dalam tarekat. Tidak mungkin seseorang bisa wushul kepada Allah kecuali dengan membiasakan zikir itu. Zikir adalah ibadah yang bisa dilakukan dalam kondisi apapun dan kapanpun. Oleh sebab itu para ulama’ tarekat mengatakan barang siapa diberikan istiqamah dalam zikir, maka ia telah mendapat hamparan dunia kewalian (wilayah). Dalam al-Qur’an, Allah memberi perintah zzikir lebih banyak dari perintah ibadah yang lainnya.

Di antara ke empat proses Tazkiyatun Nafs, zikir menjadi nyawa yang mengisi setiap proses ibadah. Ibn Athaillah menjelaskan bahwa macam macam zikir dalam tarekat dapat berupa zikir lisan lafaz, zikir qalbi, dan zikir sirril khafiy. Sedangkan manfaat zikir menurutnya dapat menghilangkan duka, kesusahan dan gundah gulana; mensucikan bagian tubuh yang terbangun dari makanan haram; menghilangkan gelap dan noda hati; menghilangkan kerak atau karat hati; melembutkan hati; membakar nafsu (syahwat dan ghadab); mencegah ketaatan tubuh pada prilaku yang menyimpang dari agama; mematahkan bisikan syetan; mencegah keburukan, menjaga dari segala sesuatu; membuka pintu ghaib/mengangkat hijab; menjadikan ruh mencintai Allah, dan menjadikan sufi selalu bersama Allah.

Continue Reading

Artikel

Sufi adalah Golongan Ahlus Sunnah wal Jamaah

Published

on

Permasalahan apakah orang-orang sufi termasuk bagian dari Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah sebuah polemik yang dipertanyakan oleh sebagian orang yang belum mengenal tasawuf secara utuh. Bahkan banyak anggapan bahwa ajaran ini berasal dari Hindu dan Budha dan para Filsuf Yunani.

Menurut Syekh Abul Fadhol dalam Syarh Kawakib al-Lama’ah, ini terjadi karena kebanyakan orang muslim melihat adanya kemiripan antara tokoh-tokoh sufi dan kebiasaan orang-orang Budha, termasuk dalam akhlak mereka, perilaku zuhud serta menahan hawa nafsu. Atas dasar inilah mereka menduga ada korelasi antara ajaran tasawuf dan Budha.

Lebih ekstrem dari itu, ada ungkapan bahwa tokoh-tokoh sufi seperti Abu Yazid al-Busthami, Ma’ruf al-Karkhi dan Abu al Qasim al-Junaidi adalah orang-orang bodoh yang tidak tahu syariat Islam. Mereka menciptakan amalan fisik maupun hati bersumber dari Agama Budha dan mencampurkannya dengan Syariat Islam.

Yang dimaksud oleh anggapan-anggapan tersebut adalah bagian dari Sinkretisme. Tentu saja ini merupakan kesalahan besar. Bahkan seorang tokoh yang bernama Abu Abdillah al-Marizi, hanya menilai al-Ghazali dari murid-muridnya saja, tidak dengan membaca karyanya. Tentu ini tidak komprehensif untuk mengetahui penilaiannya terhadap ajaran tasawuf al-Ghazali. Padahal, ajaran-ajaran yang disampaikan oleh para sufi memiliki dasar yang kuat.

Seperti definisi tasawuf menurut al-Ghazali, yaitu mengosongkan hati dari hal selain Allah dan menganggap rendah selain-Nya. Kemudian dijelaskan oleh Syekh Jalaludin al-Mahalli dalam Kitab Syarh Jam’ul Jawami’ bahwa jalan yang ditempuh oleh al-Junaid itu terbebas dari bid’ah-bid’ah yang berputar atas kepasrahan kepada Allah serta terbebas dari hawa nafsu.

Hal ini sesuai dengan apa yang diungkapkan sendiri oleh al-Junaid,

“Jalan menuju Allah Swt. itu tertutup atas makhluknya, kecuali atas orang-orang yang mengikuti jejak Rasulullah saw.“

Dan ungkapannya yang lain,

“Mazhab kita, wahai golongan sufi, ini diikat (berdasarkan) dasar-dasar al-Quran dan Sunnah.”

Juga dipertegas lagi oleh Ibnu Athaillah,

“Allah telah mengumpulkan seluruh kebaikan dalam suatu gedung, dan Dia menjadikan sebagai kuncinya adalah dengan mengikuti Nabi Muhammad saw.”

Dari pendapat tersebut, mana bisa ahli tasawuf disebut sebagai orang-orang yang bodoh dan mencampuradukan syariat serta bukan bagian dari Ahlus Sunnah wal Jamaah. Padahal penjelasan di atas menunjukkan bahwa mereka memiliki dasar tasawuf yang kuat, yaitu dengan mengikuti jejak Nabi Muhammad saw. dan menaatinya.

Sehingga, ini selaras dengan yang disampaikan oleh Syekh Abul Fadhol,

“Barangsiapa yang menjadikan ilmu tasawuf sebagai bagian dari hukum-hukum syariat, ia benar. Namun, ia tidak akan merasakan bahwa tasawuf itu bagian dari syariat kecuali orang yang luas wawasannya di bidang syariat hingga puncak sesuai kemampuan manusia.”

Adapun orang-orang yang mengaku menempuh jalur sufi namun tidak memenuhi syariat adalah kesalahan yang besar. Dan orang-orang yang mengingkari tasawuf secara kesuluruhan hanyalah menilai sesuatu yang umum terhadap sesuatu yang khusus.

Continue Reading

Artikel

Tasawuf dalam Menjawab Problematika Sosial Di Era Milineal

Published

on

Umat Islam dalam skala global maupun lokal menghadapi berbagai problem yang kompleks dan mendasar. Dikatakatan kompleks karena mencakup berbagai unsur kehidupan, baik sosial, politik maupun budaya. Dan mendasar karena mencakup akar identitas dari umat yaitu keislaman itu sendiri.

Kejayaan dan kemunduran umat, bisa dilihat dari tiga variable yang menentukan, yaitu: hubungan dengan Allah, hubungan dengan sesama, dan hubungan dengan agama serta Negara. Adapun kejayaan umat Islam ditandai dengan:

1. Adanya kedekatakan individu hubungan tiap-tiap individu warga umat dengan Allah yaitu berupa ketaqwaan
2. Adanya semangat persaudaraan/ukhuwah islamiyah
3. Adanya tanggung jawab dakwah dan amar ma’ruf nahi mungkar

Pada kenyataannya kondisi umat Islam tidak mencerminkan tiga indikator di atas, bahkan sebaliknya dilanda tiga kelemahan dan kehancuran dalam tiga bidang tersebut yakni:

1. Lemahnya ketaqwaan (moral force), yang ditunjukkan dengan merajalelanya kemaksiatan
2. Lemahnya ukhuwah islamiyah (brotherhood), yang ditunjukkan banyaknya pertikaian, permusuhan, disintegrasi umat baik secara vertikal maupun horizontal
3. Lemahnya tanggung jawab dakwah amar ma’ruf nahi mungkar, sehingga umat Islam kehilangan self control maupun social control yang menyebabkan Islam menjadi tersisih dan tertindas oleh peradaban sekuler

Kenapa bisa demikian? hal ini disebabkan ada dua faktor, internal dan eksternal:

1. Internal; kedangkalan terhadap agama, kecenderungan cinta dunia dan tiada kepeminpinan umat yang efektif
2. Eksternal; yaitu adanya konspirasi musuh-musuh umat melalui rekayasa sosial dan politik (social and political engineering)

Dua faktor itulah yang menyebabkan umat Islam mengalami kemunduran dan kejatuhan sehingga tersisihkan peranannya sebagai mercusuar dan pimpinan dunia. Lalu apa yang harus dilakukan?

Setidaknya ada beberapa point sebagai solusi mengatasi problematika di atas:

1. Memacu semangat generasi muda untuk mengkaji agama secara intesif dengan dibangunnya lembaga-lembaga pendidikan yang qualified baik sistem sekolah, unversitas maupun pesantren-pesantren. Membangkitkan kembali semangat spiritual agama yaitu kehidupan bertasawuf melalui tarekat-tarekat yang shahih dan mu’tabarah
2. Menghidupkan kembali lembaga kesultanan dan ruhnya yaitu tauhid tasawuf sebagai pusaka keramat kerajaan

Syekh Abul Abbas Ahmad Zarruqimengartikan tasawuf adalah ilmu yang bertujuan untuk memperbaiki hati dan memfokuskan hati hanya untuk Allah semata. Kedudukan tasawuf seperti kedudukan ruh dan jasad, karena untuk mencapai Ihsan yang dijelaskan Rasullullah dalam sebuah hadis dikatakan:

مَا الإِحْسَانُ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاك

“Ihsan ialah bahwa engkau menyembah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, kalau engkau tidak mampu melihat-Nya, ketahuilah bahwa Allah melihatmu. (HR.Muslim).”

(Al-Futuhat al-Rahmaniah fi Hall Alfaz al-Hikam al-Ataiyah, Dar Nashirun, Beirut, Hal 43-44).

Selama ini umat islam telah kehilangan ruhnya yaitu tasawuf sehingga Islam di era milineal sekarang ibarat jasad yang mudah menjadi rekayasa sosial dan potitik melaui konspirasi dari musuh-musuh Islam untuk merusak tatanan diniyah. Kehadiran tasawuf di era milienal  sangat dibutuhkan untuk memperbaiki moralitas bangsa. Sayyidi Abu Hasan Asy-Syadzili berkata,

التصوف تدريب النفس على العبودية، وردها لأحكام الربوبية

“Tasawuf itu tadrib al-nafs (melatih nafsu) untuk tekun beribadah dan mengembalikannya kepada hukum-hukum Rububiyah (ketuhanan).”

(Kitab Haqa’id at-Tasawuf, Dar al-Taqwa Damaskus hal 18).

Syekh Ahmad bin Muhammad Ajibah al-Hasani, menjelaskan terdapat lima pokok dan dasar tasawuf yang dapat membaguskan amal yang benar, yaitu,

1. Takwa kepada Allah di kala sepi dan keramaian
2. Mengikuti sunnah Nabi Muhammad saw. baik dalam perkataan dan perbuatan
3. Tidak bergantung kepada makhluk baik di hadapan maupun di belakangnya
4. Ridla dengan pemberian Allah baik banyak maupun sedikit
5. Segala permasalahan diserahkan kepada Allah baik waktu gembira maupun susah.

(Al-Futuhat al-Ilahiyyah fi Syarhi al-Mahabits al-Ashaliyyah, Dar-Al-Kotob al-Ilmiyah, Beirut, hal 354).

Tujuan tasawuf  adalah  untuk memperbaiki tiga varibel yaitu memperbaiki variabel vertikal yaitu  memperkokoh iman melalui peningkatan tauhid makrifat dan membersihkan kotoran-kotoran nafsu yang ada dalam hati dan membersihkan sangkutan hati dari selain Allah Swt. sehingga hubungan antara hamba dan Allah menjadi baik. Kemudian perbaikan dua variabel horizontal dengan  memperbagus akhlak sehingga hubungan sesama, masyarakat dan agama serta negara menjadi baik. 

Penulis: Budi Handoyo (Dosen Prodi Hukum Tata Negara Islam Jurusan Syariah dan Ekonomi Islam STAIN Teungku Diruendeng Meulaboh-Kabupaten Aceh Barat)
Editor: Khoirum Millatin

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending