Connect with us

Artikel

Sikap Proporsional terhadap Khilafiyah Ucapan Natal

Oleh: Idris Wasahua, SH., MH. (Wakil Ketua MATAN DKI Jakarta)

Published

on

Ucapan Natal

Ada yang terasa kurang nyaman terdengar ketika mendengarkan khutbah jumat siang tadi di Masjid tempat saya tinggal, yang bertemakan hukum mengucapkan Hari Raya Natal bagi seorang muslim.

Tema ini selalu ramai diperbincangkan tiap tahun pada waktu-waktu seperti saat ini yang tinggal menghitung hari datangnya perayaan Hari Natal. Sebetulnya, sah-sah saja menyampaikan materi seperti itu dalam khutbah Jumat, asalkan Sang Khatib bersikap proporsional, berimbang, dan bijak. Karena, jamaah yang hadir pasti juga menganut pandangan yang beragam, termasuk berbeda pandangan dengan Sang Khatib.

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa hukum mengucapkan selamat Hari Raya Natal bagi seorang muslim itu masih diperdebatkan hukumnya dikalangan para ulama (khilafiyah). Ada yang membolehkan sehingga tidak haram hukumnya mengucapkannya, dan ada pula yang tidak membolehkan sehingga hukumnya haram mengucapkannya. Sang Khatib tadi begitu semangat memaparkan berbagai dalil baik dari al-Quran, pendapat ulama, termasuk merujuk pula Fatwa MUI tahun 1981, yang pada intinya mengatakan haram hukukmnya mengucapkan Hari Raya Natal bagi seorang muslim. Bukan saja hukumnya yang haram, orang yang mengucapkannya pun menjadi kafir/musyrik, kata Sang Khatib dengan cara penafsiran yang menurut hemat saya terlalu jauh keluar dari metode dan logika penalaran keilmuan. Tapi tidak masalah, toh saya tetap menghargai pendirian/pendapat Sang Khatib itu karena saya tau memang ada sebagian ulama juga yang berpendapat demikian, sehingga jika Sang Khatib mengikuti kelompok ulama yang demikian sah-sah saja. Hanya saja yang kurang tepat/kurang bijak menurut saya, Sang Khatib dalam menjelaskan tema itu terlihat memberikan justifikasi (penghukuman) seakan-akan tidak ada ulama lain lagi yang membolehkan dan tidak menghukumi haram mengucapkan selamat Hari Raya Natal itu, atau seolah hal itu bukanlah suatu masalah yang tidak diperdebatkan di kalangan para ulama.

Kenapa demikian, karena Sang Khatib sama sekali tidak memberikan penjelasan secara komprehensif/utuh kepada jamaah mengenai adanya pendapat ulama lain yang juga tidak melarang atau memghukumi boleh mengucapakannya. Saya cukup mencermati secara kritis isi materi khutbah Sang Khatib selama khutbahnya berlangsung. Sempat terlintas pula fikiran penyesalan akan cara khutbah Sang Khatib itu, bahkan dalam hati berkata, “Kok, Khatib ini aga takabur seperti merasa mengerti sendiri dan kita sebagai jamaah ini tidak tau apa-apa.” Tanpa sadar terlihat pula beberapa jamaah sekitar yang saya duga mungkin mereka juga sedang mengalami suasana seperti yang saya alami, bahkan boleh jadi ditambah dengan sedikit kebingungan, karena mungkin saja mereka termasuk orang yang sering mengucapkan selamat natal ke temannya, saudaranya, atau tetangganya. Dengan kata lain, mereka merasa terhakimi telah menjadi orang kafir/musyrik karena pernah mengucapkan selamat Natal. Cuma ya… namanya khutbah kan beda dengan seminar, diskusi. Jamaah hanya bisa menjadi pendengar yang baik dan tidak bisa berkomentar apa-apa (sami’na, meskipun belum tentu wa’athona, jika isi khutbahnya keliru atau mungkin mengenai masalah yang masih diperdebatkan). Bahkan, hukumnya haram dan sholat bisa menjadi batal gara-gara berbicara. Karena tidak bisa berdebat/mengajukan tanggapan, saya hanya berfikir dan timbul ide sekaligus harapan kiranya masalah-masalah khilafiyah semacam ini tidak perlu menjadi tema-tema khutbah Jumat, jika mau dibuatkan forum diskusi tersendiri yang bersifat dua arah. Kalaupun tetap menjadi tema khutbah Jumat juga, lebih bijak jika khatib dapat menjelaskan secara objektif/utuh mengenai permasalahannya termasuk penjelasan mengenai perbedaan sikap/pendapat para ulama terhadap masalah itu.

Meskipun nantinya Sang khatib menyampaikan pendiriannya terhadap pendapat para ulama tertentu, tapi Sang khatib jangan sampai terkesan menggurui/mendoktrin jamaah untuk mengikuti pendapatnya saja, apalagi yang lebih keliru menutupi atau tidak mengungkap pandangan ulama lainnya yang berbeda itu, hanya demi menonjolkan pendapat pihak yang diikuti sehingga terkesan hanya ada satu pendapat dan itulah yang mutlak. Jika terjadi demikian, maka mimbar Jumat hanya akan menjadi instrumen/alat monopoli faham-faham kelompok tertentu yang memiliki faham keagamaan yang berbeda dengan jamaah lainnya, yang tentu saja tidak mesti terjadi dan sangat disayangkan. Yang dikhawatrikan lagi, jamaah yang tidak sependapat dengan Sang Khatib bisa jadi sholatnya kurang khusyu karena sibuk memikirkan ceramah Sang Khatib. Saya jadi penasaran dengan Sang Khotib yang merujuk Fatwa MUI tahun 1981 tadi, sampai terlintas pertanyaan dalam hati apa Sang Khotib tadi pernah membaca secara cermat Fatwa MUI itu? Kebetulan saya mengkoleksi himpunan Fatwa MUI yang berisi fatwa-fatwa MUI termasuk di dalamnya fatwa tentang masalah natal yang dirujuk Sang Khatib tadi, yang telah saya baca beberapa tahun lalu. Karena, seingat saya memang fatwa itu tidak menyebutkan soal haram hukumnya mengucapkan selamat Hari Raya Natal, namun mengenai haram hukumnya merayakan Hari Raya Natal. Namun, karena saya tidak ingin takabur dengan apa yang saya ingat, serta menghindari prasangka macam-macam kepada Sang Khatib yang merujuk Fatwa MUI itu, saya fikir nanti sajalah saya memastikannya lagi ketika sudah kembali ke rumah. Bukan apa-apa, etika keilmuan Islam mengajarkan perlunya kehati-hatian, kecermatan, akurasi dalam pengutipan suatu sumber, tidak bisa asal kutip sana sini tanpa akurasi data yang tepat/benar, apalagi memanipulasi sumber, bisa dicap sebagai ketidakjujuran/ketidakadilan intelektual.

Karena rasa penasaran, sesampainya di rumah, saya langsung mengambil Himpunan Fatwa MUI itu yang karena cukup tebal tidak sulit untuk menemukannya. Setelah dilihat ternyata betul memang Fatwa MUI itu tidak membicarakan masalah hukum mengucapkan selamat hari natal, apalagi mengharamkannya sebagaimana yang dikatakan Sang Khatib tadi. Artinya Sang Khatib tadi sudah jelas keliru dalam mengutip referensi sebagai dasar/argumen materi khutbahnya. Bunyi fatwa itu demikian: “Mengikuti upacara Natal Bersama bagi umat Islam hukumnya haram”. Tentu saja, mengikuti upacara Natal bersama dengan mengucapkan selamat Hari Raya Natal merupakan dua hal yang berbeda jauh. Tidak sampai disitu, saya juga ingat beberapa tahun lalu keluarga Buya Hamka pernah mengklarifikasi mengenai hal ini karena merasa ada kesalahfahaman ditengah masyarakat, seolah Buya Hamka pernah memfatwakan haram hukumnya mengucapkan selamat Hari Raya Natal oleh seorang muslim. Maklum, Fatwa MUI itu memang diterbitkan Ketika Buya Hamka Menjabat sebagai Ketua MUI. Dari hasil penelusuran saya di internet, ternyata benar, salah satu cucu Buya Hamka mengatakan Buya Hamka bukan melarang umat Islam mengucapkan selamat Hari Raya Natal. Akan tetapi, lebih kepada ikut perayaan Natal bersama orang-orang Kristiani. Cucu Buya Hamka itu bahkan menceritakan bagaimana hubungan keluarga Buya Hamka dengan tetangganya umat kristiani saat merayakan natal. Keluarga Buya Hamka bahkan terbiasa membuat kue dan mengantarkannya kepada para tetangga yang merayakan Natal sekaligus untuk memberikan ucapan selamat merayakan Natal.

Saya pun membuka referensi lain yang sudah lama saya baca, antara lain terjemahan buku Fiqh Minoritas yang berisi kumpulan fatwa kontemporer karya Yusuf al-Qardhawi, Penerbit Zikrul Hakim, tahun 2004, pada halaman 206 dan 207, disebutkan:

“Akan tetapi, menurut saya tidak masalah seandainya kaum muslimin ingin memberikan ucapan terhadap hari raya mereka, apalagi di antara keduanya (muslim dan non muslim) terdapat hubungan kerabat, tetangga, teman dan hubungan-hubungan sosial lainnya yang membutuhkan rasa cinta, kasih sayang dan hubungan yang baik, yang biasa berlaku dalam tradisi masyarakat yang sehat”

Syekh Yusuf Al-Qardhawi juga memberikan komentar atas pendapat Ibnu Taimiyah yang pernah mengharamkan ucapan natal ini dengan mengatakan:

“Seandainya Ibnu Taimiyah hidup sampai pada zaman di masa kita hidup sekarang dan melihat semua kenyataan ini, niscaya ia akan mengubah pendapatnya. Atau setidaknya memperingan isi fatwanya, karena sebagai seorang mujtahid ia sangat memperhatikan tempat, waktu dan kondisi di mana fatwa tersebut dikeluarkan”. Hal ini sejalan dengan Qaidah Fiqih yang artinya: “Hukum itu berubah dan berbeda sesuai dengan perubahan zaman, tempat keadaan, niat, dan adat kebisaaan”

Jadi tambah heran saya dengan Sang Khatib tadi, kok, berani sekali bisa menghukumi kafir/musyrik bagi orang yang mengucapkan selamat Hari Raya Natal. Artinya, Syekh Yusuf al-Qardhawi, Sang Ulama yang diakui kelimuannya secara internasional itu ikut pula dihukumi kafir/musyrik terkait pendapatnya di atas.

Akhirnya, saya hanya dapat berharap untuk tema-tema yang bersifat khilafiyah, sebaiknya tidak disampaikan dalam mimbar khutbah (kalau mau, dibuat forum diskusi sendiri yang bersifat dua arah). Kalaupun disampaikan juga, Sang Khatib harus bersikap bijak, proporsional, berimbang informasinya, dan menghindari kesan monopoli, doktrinasi pendapat keagamaan tertentu kepada jamaah, yang justru tidak sehat, tidak kondusif bagi persatuan antar jamaah masjid yang beragam faham keagamaannya. Ini bukan saja dalam mimbar khutbah tapi termasuk ceramah-ceramah lainnya. Karena jika tidak, dikhawatirkan masjid yang tadinya harus menjadi sarana penguatan persatuan, soliditas ummat (selain ibadah ritual), justru sebaliknya bisa menjadi sumber konflik pemecah belah ummat akibat kekeliruan menyikapi perbedaan pendapat. Kata seorang Ahli tafsir, “Yang menjadi masalah itu bukan perbedaan, tapi cara menyikapi perbedaan itu”. Firman Allah: Aliimun Hakiim (Maha Mengetahui dan Bijaksana). Ilmu saja tidak cukup, tapi perlu juga kebijaksanaan. Wallahu Alam Bishawab. []

Baca juga: Habib Luthfi diangkat oleh Kemenag menjadi Penasihat

Artikel

Kurikulum Ecopesantren: Model Pendidikan Penanggulangan Kerusakan Lingkungan di Indonesia

Published

on

By

Jakarta, JATMAN Online – Pondok Pesantren (Ponpes) memiliki peran penting dan strategis dalam upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, hal ini dapat dilihat dari beberapa hal yang melatar belakanginya. Ponpes merupakan lembaga pendidikan tertua di Indonesia, sehingga keberadaanya sangat mengakar dan berpengaruh ditengah masyarakat.

EcoPesantren adalah program dari Kementerian Lingkungan Hidup yang dicanangkan sejak tahun 2008. Program ini bertujuan untuk mendorong peningkatan pengetahuan, kepedulian, kesadaran dan peran serta aktif warga pondok pesantren terhadap upaya-upaya pelestarian lingkungan hidup berdasarkan ajaran agama Islam.

Program Eco Pesantren adalah memberdayakan komunitas pesantren dalam meningkatkan kualitas lingkungan sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. 

Rihlah Nur Aulia, MA, selaku dosen dan peneliti Ecopesantren bersama dengan Tim melakukan pengabdian Kepada Masyarakat (P2M) tentang Kurikulum Ecopesantren di era daring bagi guru-guru di Pondok pesantren SPMAA Lamongan. Kegiatan ini diikuti oleh guru-guru pondok pesantren SPMAA Lamongan Jawa Timur.

Dalam paparannya peneliti menyebutkan tujuan dari kegiatan ini untuk melakukan pengarusutamaan ecopesantren melalui penguatan kurikulum dalam pendidikan di Pondok Pesantren.

Peneliti pernah menulis karya ilmiah yang berjudul Management of Ecopesantren Curriculum Development in Forming The Ecopreneurship of Santri kesimpulan dari hasil penelitiannya tersebut pertama, Pesantren SPMAA menerapkan kurikulum manajemen yang berbeda dengan pesantren lain di Indonesia. Kedua, dalam pengelolaan atau pengelolaan kurikulum SPMAA Pesantren mengacu pada kurikulum Nasional, dan ketiga, kurikulum ekopesantren, manajemen kurikulum meliputi; Perencanaan kurikulum: pemetaan kurikulum, silabus, program inkuiri, unit inkuiri, unit perencanaan pembelajaran.

Secara simultan, penataan kurikulum terdiri dari struktur kurikulum, pembagian tugas guru, pengembangan program transdisipliner, pengembangan program transdisipliner, penetapan unit inkuiri untuk setiap jenjang kelas. Selain itu, implementasi kurikulum terdiri dari pengalaman belajar, penilaian, dan laporan hasil belajar. Sedangkan evaluasi kurikulum terdiri dari review unit dan dua review mata pelajaran yaitu review unit dan review mata pelajaran.

Pemateri pada acara ini disampaikan oleh Faisal M. Jasin, ST, M.Si, dari kementerian KLHK,  Ibu Dr. Amaliyah, M.Pd, sebagai  salah satu dosen Kurikulum FIS UNJ, dan Ibu Rihlah Nur Aulia, MA sebagai dosen UNJ, karena di era corona dalam suasana pembelajaran daring, maka kegiatan ini juga diperkuat oleh dr. Santi Anugrahsari, SpM, MSc, FISQua dari  kepala SMF Mata RSUD Koja.

Continue Reading

Artikel

Selayang Pandang tentang Thariqah ‘Alawiyah

(Jalan Lurus menuju Allah)

Published

on

Thariqah 'Alawiyah

Jadilah seorang Asy’ari dalam aqidahmu
karena ia Sumber yang bersih dari penyimpangan dan kekufuran
Imam sandaran kita telah menyusun aqidahmu
Dan itulah penyembuh dari bahaya
Yang kumaksud dengannya adalah, yang selainnya tak digelari dengan Hujjatul Islam, betapa bangganya engkau

Itulah penggalan qasidah raiyah, al-Imam al-Hadad yang dengannya Sang Imam seolah mengirimkan pesan bahwa madzhab Fiqih yang dianut oleh para Saadah Ba ‘Alawiyah adalah madzhab Imam Syafi’i yang sejak awal ditakdirkan berkembang di Yaman. Sedangkan dalam hal aqidah mereka bermazhab Sunni asy-Asy’ariyah sebagaimana yang dianut sandaran mereka al-Imam Hunjatul-Islam Abu Hamid al-Ghazali.

Thariqah Alawiyyah diajarkan oleh leluhur (salaf) mereka secara turun temurun. Dari kakek mengajarkan kepada ayah, kemudian kepada anak-anak lalu cucu-cucu mereka dan seterusnya. Demikian sampai sekarang sehingga thariqah ini di kenal sebagai thariqah yang langgeng sebab penyebaran di lakukan dengan ikhlas dari hati ke hati.

Nasab para Saadah Ba ‘Alawiyah kembali ke datuk mereka, Alwi bin ‘Ubaidillah, cucu al-Imam Al-Muhajir, Ahmad bin Isa an-Naqib, yakni Naqib (pemimpin) para Syarif di Irak, bin Muhammad an-Naqib bin Ali al-‘Uraidhi bin Ja’far Ash-Shiddiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal ‘Abidin bin al-Imam al-Husain bin Ali bin Abu Thalib.

Peletak pondasi bangunan thariqah’Alawiyah adalah al-Imam Muhammad bin Ali Ba ‘Alawiyah yang bergelar al-Faqih al-Muqaddam lahir di Tarim pada tahun 574 H. al-Muqaddam menerima thariqah ini seorang ‘Arif Billah, Syaikh Abu Madyan al-Maghribi. al-Muqaddam lah yang menyempurnakan thariqah ini sebagaimana dikatakan Imam Abdurrahman bin Abdullah Bilfaqih yang dikenal sebagai ‘Allamah ad-dunnya (wafat tahun 1162 H), “Asal thariqah’Alawiyah adalah thariqah Madyaniyyah,yaitu thariqah Syaikh Abu Madyan Syu’aib al-Maghribi, sedangkan quthub dan inti hakikatnya adalah asy-Syaikh al-Faqih al-Imam Muhammad bin Ali Ba ‘Alawiyah al-Husaini al-Hadrami”.

Setelah al-Muqaddam wafat di kota kelahirannya pada tahun 653 H, di tangan keturunannya thariqah ini tetap mengikuti sistim dan caranya. Thariqah ‘Alawiyah adalah jalan yang menomorsatukan tahqiq (pendalaman), rasa dan rahasia sehingga cenderung bersikap khumul (menutup diri) dan merahasiakan. Periode ini pertama ini berlangsung demikian hingga zaman al-‘Aydarus (wafat 864) dan saudaranya, as-Syikh Ali (wafat pada tahun 892 H). Namun seiring dengan semakin meluasnya wilayah penyebaran thariqah ini maka dipandang perlu untuk segera melakukan kodifikasi ajaran thariqah ‘Alawiyah. Maka mulailah ditulis kitab-kitab yang berisi adab thariqah ini dan petunjuk-petunjuk untuk menjalaninya seperti al-Kibrit al-Ahmar, al-Juz al-lathif, al-Ma’arij, al-Barqah dan lainnya.

Lalu bermunculanlah di antara para pemuka thariqah ini mereka yang memiliki keunggulan dalam kecerdasan, ilmu dan amal di angkatannya. Yang masing-masing memiliki prasasti sejarah berupa karya ilmiah dan sastra yang tak cukup ruang untuk menyebutnya di sini. Masing-masing juga memiliki biografi sendiri-sendiri. Setiap kali kita tenggelam dalam lautan salah satu dari mereka, maka itu akan membuat kita lupa dengan yang lain.

Akhirnya sampailah thariqah ini sampai kepada Pembaru menaranya dan penyebar cahayanya, al-Imam Syaikh Abdul Quthb ad-Da’wah wa al-Irsyad Abdullah bin Alwi Al Haddad (1132 H).

Di tangan al-Imam al-Hadad, thariqah ini mengembangkan metode baru yang dinamainya Thariqah Ahl al-Yamin. Dalam pandangannya yang paling sesuai dengan kondisi orang-orang di masa itu, yang paling dekat dengan keadaan mereka, yang paling mudah untuk menarik mereka menuju ketaatan adalah dengan menghidupkan keimanan mereka, yang dengan perannya dapat menyiapkan mereka meningkat ke tangga Ihsan. Sehingga Thariqah ini mengajarkan untuk bermujahadah (bersungguh-sungguh) dalam menuntut ilmu guna menegakkan agama Allah.[Syuaib]

Continue Reading

Artikel

Adab-adab Berzikir

Published

on

Adab-Adab Berzikir

Berdzikir adalah salah satu upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Bahkan melalui zikir, Allah sudah menjamin ketenangan hati hambanya dari hiruk-pikuk dunia sebagaimana yang telah difirmankan dalam surat Ar Ra’du ayat 28 yang artinya:

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”

Tapi, untuk mengawali berzikir, kita harus punya menjalani beberapa etika agar dampak positif zikir tersebut bisa merasuk ke dalam hati dan bermanfaat bagi kebersihan jiwa. Adapun langkah-langkah yang harus dipahami sebelum dan ketika berzikir adalah sebagai berikut:

  • Konsentrasi penuh

Konsentrasi  adalah bagian dari merendahkan diri di hadapan Allah. Ketika berzikir, hamba diminta untuk melupakan segala pekerjaan duniawi serta meminimalisir gerakan-gerakan yang tidak penting agar fokus pada tujuan awal tetap terjaga

  • Memperkecil Suara

Yang dimaksud pada poin kedua adalah volume suara berada diantara diami dan keras yaitu sedang-sedang saja. Kecuali memang sedang berada dalam majelis zikir khusus yang menggunakan zikir jahri

  • Kesadaran Penuh

Alangkah baiknya jika orang yang berzikir, memusatkan pikirannya pada apa yang diharapkan. Jika sudah mulai mengantuk atau merasa bosan, maka dianjurkan untuk memperbaharui wudhu dan berpindah posisi duduk agar hamba tetap berada dalam keadaan sadar dan tidak tidur

  • Memilih Waktu yang Pas

Pemilihan waktu dalam berzikir bisa memengaruhi tingkat konsentrasi serta kekhusyukan. Waktu terbaik untuk berzikir adalah ketika waktu sahur, yaitu setelah bangun tidur. Kemudian di pagi hari dan di sore hari pada hari Jumat

  • Memilih Tempat yang Pas

Selain memilih waktu, tempat juga menjadi salah satu penunjang kekhusukan berzikir. Utamanya adalah di masjid. Namun jika tidak, yang penting tempat tersebut suci dari najis dan jauh dari keramaian

  • Menghadirkan Hati ketika Berzikir

Orang yang melakukan zikir, tentu memiliki ambisi untuk mencapai apa yang diharapkan. Agar hati dan bacaan zikir menyatu, maka bukan hanya lisan yang digunakan untuk membaca lafaznya, melainkan hati juga harus digunakan untuk memahami makna dari apa yang dibaca. Supaya keduanya terhubung dan saling memengaruhi di dalam otak

Adab-Adab Berzikir
  • Bersuci dan Menghadap Kiblat

Poin ini adalah yang paling utama sebelum dilakukannya zikir. Meskipun seluruh ulama bersepakat bahwa boleh melafalkan zikir dari dalam hati bagi orang yang memiliki hadas, tetapi ada sebagian ulama yang melarang melafalkan zikir yang menggunakan ayat-ayat Al-Quran  bagi orang yang sedang berhadas.

  • Adanya Kesesuaian Bacaan ketika Zikir Berjamaah

Zikir yang dilakukan bersama-sama harus berdasarkan bacaan yang sama. Tidak ada yang boleh mendahului ataupun mengakhiri, apalagi menambah dan mengurangi bacaan. Maka ketika salah satu jamaah ada yang tertinggal bacaanya, maka hendaklah ia tetap mengikuti bacaan jamaah-jamaah yang lain

  • Zikir Dapat Berpengaruh pada Perilaku

Ketika zikir menjadi kegiatan yang terus-menerus dilakukan, maka dampaknya akan terlihat pada kebiasaan pelaku zikir. Hal yang paling signifikan adalah bagaimana ketika bersosialisasi dengan sesama manusia. Pelaku zikir akan memiliki akhlak yang baik serta bersungguh-sungguh dalam menghambakan diri kepada Allah Swt.

Diterjemahkan dari Kitab Radd al Bala’ Bi adz Dzikri karya Mushthafa Syaikh Ibrahim Haqqi.[Khoirum Millatin]

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending