Connect with us

Artikel

Sikap Proporsional terhadap Khilafiyah Ucapan Natal

Oleh: Idris Wasahua, SH., MH. (Wakil Ketua MATAN DKI Jakarta)

Published

on

Ucapan Natal

Ada yang terasa kurang nyaman terdengar ketika mendengarkan khutbah jumat siang tadi di Masjid tempat saya tinggal, yang bertemakan hukum mengucapkan Hari Raya Natal bagi seorang muslim.

Tema ini selalu ramai diperbincangkan tiap tahun pada waktu-waktu seperti saat ini yang tinggal menghitung hari datangnya perayaan Hari Natal. Sebetulnya, sah-sah saja menyampaikan materi seperti itu dalam khutbah Jumat, asalkan Sang Khatib bersikap proporsional, berimbang, dan bijak. Karena, jamaah yang hadir pasti juga menganut pandangan yang beragam, termasuk berbeda pandangan dengan Sang Khatib.

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa hukum mengucapkan selamat Hari Raya Natal bagi seorang muslim itu masih diperdebatkan hukumnya dikalangan para ulama (khilafiyah). Ada yang membolehkan sehingga tidak haram hukumnya mengucapkannya, dan ada pula yang tidak membolehkan sehingga hukumnya haram mengucapkannya. Sang Khatib tadi begitu semangat memaparkan berbagai dalil baik dari al-Quran, pendapat ulama, termasuk merujuk pula Fatwa MUI tahun 1981, yang pada intinya mengatakan haram hukukmnya mengucapkan Hari Raya Natal bagi seorang muslim. Bukan saja hukumnya yang haram, orang yang mengucapkannya pun menjadi kafir/musyrik, kata Sang Khatib dengan cara penafsiran yang menurut hemat saya terlalu jauh keluar dari metode dan logika penalaran keilmuan. Tapi tidak masalah, toh saya tetap menghargai pendirian/pendapat Sang Khatib itu karena saya tau memang ada sebagian ulama juga yang berpendapat demikian, sehingga jika Sang Khatib mengikuti kelompok ulama yang demikian sah-sah saja. Hanya saja yang kurang tepat/kurang bijak menurut saya, Sang Khatib dalam menjelaskan tema itu terlihat memberikan justifikasi (penghukuman) seakan-akan tidak ada ulama lain lagi yang membolehkan dan tidak menghukumi haram mengucapkan selamat Hari Raya Natal itu, atau seolah hal itu bukanlah suatu masalah yang tidak diperdebatkan di kalangan para ulama.

Kenapa demikian, karena Sang Khatib sama sekali tidak memberikan penjelasan secara komprehensif/utuh kepada jamaah mengenai adanya pendapat ulama lain yang juga tidak melarang atau memghukumi boleh mengucapakannya. Saya cukup mencermati secara kritis isi materi khutbah Sang Khatib selama khutbahnya berlangsung. Sempat terlintas pula fikiran penyesalan akan cara khutbah Sang Khatib itu, bahkan dalam hati berkata, “Kok, Khatib ini aga takabur seperti merasa mengerti sendiri dan kita sebagai jamaah ini tidak tau apa-apa.” Tanpa sadar terlihat pula beberapa jamaah sekitar yang saya duga mungkin mereka juga sedang mengalami suasana seperti yang saya alami, bahkan boleh jadi ditambah dengan sedikit kebingungan, karena mungkin saja mereka termasuk orang yang sering mengucapkan selamat natal ke temannya, saudaranya, atau tetangganya. Dengan kata lain, mereka merasa terhakimi telah menjadi orang kafir/musyrik karena pernah mengucapkan selamat Natal. Cuma ya… namanya khutbah kan beda dengan seminar, diskusi. Jamaah hanya bisa menjadi pendengar yang baik dan tidak bisa berkomentar apa-apa (sami’na, meskipun belum tentu wa’athona, jika isi khutbahnya keliru atau mungkin mengenai masalah yang masih diperdebatkan). Bahkan, hukumnya haram dan sholat bisa menjadi batal gara-gara berbicara. Karena tidak bisa berdebat/mengajukan tanggapan, saya hanya berfikir dan timbul ide sekaligus harapan kiranya masalah-masalah khilafiyah semacam ini tidak perlu menjadi tema-tema khutbah Jumat, jika mau dibuatkan forum diskusi tersendiri yang bersifat dua arah. Kalaupun tetap menjadi tema khutbah Jumat juga, lebih bijak jika khatib dapat menjelaskan secara objektif/utuh mengenai permasalahannya termasuk penjelasan mengenai perbedaan sikap/pendapat para ulama terhadap masalah itu.

Meskipun nantinya Sang khatib menyampaikan pendiriannya terhadap pendapat para ulama tertentu, tapi Sang khatib jangan sampai terkesan menggurui/mendoktrin jamaah untuk mengikuti pendapatnya saja, apalagi yang lebih keliru menutupi atau tidak mengungkap pandangan ulama lainnya yang berbeda itu, hanya demi menonjolkan pendapat pihak yang diikuti sehingga terkesan hanya ada satu pendapat dan itulah yang mutlak. Jika terjadi demikian, maka mimbar Jumat hanya akan menjadi instrumen/alat monopoli faham-faham kelompok tertentu yang memiliki faham keagamaan yang berbeda dengan jamaah lainnya, yang tentu saja tidak mesti terjadi dan sangat disayangkan. Yang dikhawatrikan lagi, jamaah yang tidak sependapat dengan Sang Khatib bisa jadi sholatnya kurang khusyu karena sibuk memikirkan ceramah Sang Khatib. Saya jadi penasaran dengan Sang Khotib yang merujuk Fatwa MUI tahun 1981 tadi, sampai terlintas pertanyaan dalam hati apa Sang Khotib tadi pernah membaca secara cermat Fatwa MUI itu? Kebetulan saya mengkoleksi himpunan Fatwa MUI yang berisi fatwa-fatwa MUI termasuk di dalamnya fatwa tentang masalah natal yang dirujuk Sang Khatib tadi, yang telah saya baca beberapa tahun lalu. Karena, seingat saya memang fatwa itu tidak menyebutkan soal haram hukumnya mengucapkan selamat Hari Raya Natal, namun mengenai haram hukumnya merayakan Hari Raya Natal. Namun, karena saya tidak ingin takabur dengan apa yang saya ingat, serta menghindari prasangka macam-macam kepada Sang Khatib yang merujuk Fatwa MUI itu, saya fikir nanti sajalah saya memastikannya lagi ketika sudah kembali ke rumah. Bukan apa-apa, etika keilmuan Islam mengajarkan perlunya kehati-hatian, kecermatan, akurasi dalam pengutipan suatu sumber, tidak bisa asal kutip sana sini tanpa akurasi data yang tepat/benar, apalagi memanipulasi sumber, bisa dicap sebagai ketidakjujuran/ketidakadilan intelektual.

Karena rasa penasaran, sesampainya di rumah, saya langsung mengambil Himpunan Fatwa MUI itu yang karena cukup tebal tidak sulit untuk menemukannya. Setelah dilihat ternyata betul memang Fatwa MUI itu tidak membicarakan masalah hukum mengucapkan selamat hari natal, apalagi mengharamkannya sebagaimana yang dikatakan Sang Khatib tadi. Artinya Sang Khatib tadi sudah jelas keliru dalam mengutip referensi sebagai dasar/argumen materi khutbahnya. Bunyi fatwa itu demikian: “Mengikuti upacara Natal Bersama bagi umat Islam hukumnya haram”. Tentu saja, mengikuti upacara Natal bersama dengan mengucapkan selamat Hari Raya Natal merupakan dua hal yang berbeda jauh. Tidak sampai disitu, saya juga ingat beberapa tahun lalu keluarga Buya Hamka pernah mengklarifikasi mengenai hal ini karena merasa ada kesalahfahaman ditengah masyarakat, seolah Buya Hamka pernah memfatwakan haram hukumnya mengucapkan selamat Hari Raya Natal oleh seorang muslim. Maklum, Fatwa MUI itu memang diterbitkan Ketika Buya Hamka Menjabat sebagai Ketua MUI. Dari hasil penelusuran saya di internet, ternyata benar, salah satu cucu Buya Hamka mengatakan Buya Hamka bukan melarang umat Islam mengucapkan selamat Hari Raya Natal. Akan tetapi, lebih kepada ikut perayaan Natal bersama orang-orang Kristiani. Cucu Buya Hamka itu bahkan menceritakan bagaimana hubungan keluarga Buya Hamka dengan tetangganya umat kristiani saat merayakan natal. Keluarga Buya Hamka bahkan terbiasa membuat kue dan mengantarkannya kepada para tetangga yang merayakan Natal sekaligus untuk memberikan ucapan selamat merayakan Natal.

Saya pun membuka referensi lain yang sudah lama saya baca, antara lain terjemahan buku Fiqh Minoritas yang berisi kumpulan fatwa kontemporer karya Yusuf al-Qardhawi, Penerbit Zikrul Hakim, tahun 2004, pada halaman 206 dan 207, disebutkan:

“Akan tetapi, menurut saya tidak masalah seandainya kaum muslimin ingin memberikan ucapan terhadap hari raya mereka, apalagi di antara keduanya (muslim dan non muslim) terdapat hubungan kerabat, tetangga, teman dan hubungan-hubungan sosial lainnya yang membutuhkan rasa cinta, kasih sayang dan hubungan yang baik, yang biasa berlaku dalam tradisi masyarakat yang sehat”

Syekh Yusuf Al-Qardhawi juga memberikan komentar atas pendapat Ibnu Taimiyah yang pernah mengharamkan ucapan natal ini dengan mengatakan:

“Seandainya Ibnu Taimiyah hidup sampai pada zaman di masa kita hidup sekarang dan melihat semua kenyataan ini, niscaya ia akan mengubah pendapatnya. Atau setidaknya memperingan isi fatwanya, karena sebagai seorang mujtahid ia sangat memperhatikan tempat, waktu dan kondisi di mana fatwa tersebut dikeluarkan”. Hal ini sejalan dengan Qaidah Fiqih yang artinya: “Hukum itu berubah dan berbeda sesuai dengan perubahan zaman, tempat keadaan, niat, dan adat kebisaaan”

Jadi tambah heran saya dengan Sang Khatib tadi, kok, berani sekali bisa menghukumi kafir/musyrik bagi orang yang mengucapkan selamat Hari Raya Natal. Artinya, Syekh Yusuf al-Qardhawi, Sang Ulama yang diakui kelimuannya secara internasional itu ikut pula dihukumi kafir/musyrik terkait pendapatnya di atas.

Akhirnya, saya hanya dapat berharap untuk tema-tema yang bersifat khilafiyah, sebaiknya tidak disampaikan dalam mimbar khutbah (kalau mau, dibuat forum diskusi sendiri yang bersifat dua arah). Kalaupun disampaikan juga, Sang Khatib harus bersikap bijak, proporsional, berimbang informasinya, dan menghindari kesan monopoli, doktrinasi pendapat keagamaan tertentu kepada jamaah, yang justru tidak sehat, tidak kondusif bagi persatuan antar jamaah masjid yang beragam faham keagamaannya. Ini bukan saja dalam mimbar khutbah tapi termasuk ceramah-ceramah lainnya. Karena jika tidak, dikhawatirkan masjid yang tadinya harus menjadi sarana penguatan persatuan, soliditas ummat (selain ibadah ritual), justru sebaliknya bisa menjadi sumber konflik pemecah belah ummat akibat kekeliruan menyikapi perbedaan pendapat. Kata seorang Ahli tafsir, “Yang menjadi masalah itu bukan perbedaan, tapi cara menyikapi perbedaan itu”. Firman Allah: Aliimun Hakiim (Maha Mengetahui dan Bijaksana). Ilmu saja tidak cukup, tapi perlu juga kebijaksanaan. Wallahu Alam Bishawab. []

Baca juga: Habib Luthfi diangkat oleh Kemenag menjadi Penasihat

Artikel

Ngopi Online: Tasawuf dan Psikologi dalam Pengembangan Diri

Published

on

By

Jakarta, JATMAN.OR.ID: Kajian psikologi dan tasawuf beberapa tahun belakangan semakin banter dibicarakan kalangan akademis. Tentu banyak faktor yang melatarbelakanginya. Dua ilmu ini ibarat kopi dan gula, sama-sama nikmat diarungi terutama jika dileburkan menjadi satu maka muncul sebuah perkataan; nikmat mana yang bisa didustakan?

Berpijak dari sini, pada Rabu (24/2) Pengurus Wilayah Mahasiswa Ahlith Thoriqoh Al-Mu’tabaroh An-Nahdliyyah (MATAN) DKI Jakarta bekerjasama dengan Lembaga Training Gets Indonesia mengadakan webinar bertajuk “Ngopi Online” (Ngilen).

Webinar ini dikemas dengan konsep santai, namun tidak kehilangan substansi materi yang didiskusikan. Mengangkat tema “Similaritas Psikologi dan Tasawuf dalam Pengembangan Diri”.

Coach Indra Hanjaya sebagai pemateri yang merupakan founder Gets Indonesia dan M. Aqil Syahrian selaku perwakilan dari PW MATAN DKI Jakarta sebagai moderator.

Diskusi ini diawali dengan sambutan yang disampaikan Wakil Ketua PW MATAN DKI Jakarta Idris Wasahua, M.H. dan dari perwakilan Gets Indonesia Sri Herlina, S.Psi.

Ngilen perdana ini, begitu menarik perhatian para peserta karena Keluasan wawasan dan pengalaman Coach Jaya sebagai Spiritual Life.

“Similaritas psikologi dan tasawuf bisa ditemukan dalam psikologi transpersonal,” kata Coach Jaya.

Psikologi transpersonal sendiri merupakan salah satu aliran dalam dunia psikologi yang mengintegrasikan aspek spiritual ke dalam disiplin keilmuannya.

“Psikologi tidak hanya menyentuh aspek pikiran dan perilaku saja, tetapi juga bergerak lebih jauh hingga aspek spiritual yang menyentuh jiwa, hati, dan rasa” ujarnya.

Psikologi semacam ini, telah tumbuh dan berkembang di daerah Timur (termasuk Indonesia) sejak dua ribu tahun yang lalu. Hanya saja, hal itu memang tidak banyak diperhatikan dan disorot sebagaimana psikologi transpersonal beberapa dekade terakhir.

Sementara itu, tasawuf yang berkutat pada tazkiyah al-nufus dan tashfiyah al-qulub merupakan proses pembentukan karakter yang melalui tahapan-tahapan dalam jangka waktu tertentu. Misalnya terdapat trilogi Takhalli, Tahalli, dan Tajalli yang menjadi doktrin umum dalam dunia tasawuf.

Ketiga fase tersebut tidak lain bertujuan untuk menuju insan paripurna, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw. Tak hanya itu, tasawuf di era modern juga bisa diaplikasikan dalam penanggulangan terorisme dan radikalisme; pencegahan korupsi; hingga rehabilitasi pengguna narkoba.

“Gets Indonesia sendiri dalam hal pemberdayaan diri mengembangkan sebuah metode bernama Panca Olah, yakni sinergi antara Olah Pikir, Olah Hati, Olah Rasa, Olah Raga, dan Olah Karsa. Dengan kelima aspek tersebut, seseorang akan mampu mengetahui potensi dirinya, lalu kemudian mengaktualisasikannya dalam kehidupan nyata”, pungkasnya

Lebih lanjut, Coach Jaya menjelaskan, tujuan utama dari penerapan Panca Olah ialah terciptanya revolusi spiritual dalam diri manusia. Revolusi spiritual merupakan sebuah peningkatan dan perluasan kesadaran yang berdampak pada perubahan pemikiran dan tindakan dalam kehidupan sehari-hari.

“Adanya rasa kasih sayang terhadap sesama makhluk hidup di muka bumi, baik itu sesama manusia, tetumbuhan, hewan, dan lain sebagainya itulah hasil dari aktulisasi Panca Olah”, Jelas Coch Jaya.

Dengan hal itu, maka terciptalah harmoni dalam struktur alam semesta secara keseluruhan.

Continue Reading

Artikel

Maqom Kasyaf Imam Ahmad Ibnu Athoillah Assakandari RA.

Oleh: Habib Muhdhor as-Segaf

Published

on

Ibnu Athoillah

Kasyaf adalah merupakan karomah dan karunia Allah yang diberikan kepada seorang hamba yang dikasihiNya. Kasyaf dapat diartikan terbukanya tembok pemisah antara seorang hamba dengan Allah SWT untuk dapat melihat, merasakan dan mengetahui hal-hal ghaib yang sangat sulit diterima oleh akal sehat.

Kasyaf dapat digapai oleh siapa saja yang memiliki kedekatan khusus dengan Allah SWT. Hal itu sebagaimana spa yang telah dijelaskan oleh Syaikh Imam Yusuf ibn Ismail An-Nabhani RA dalam salah satu karyanya yang berjudul Jami’ Karamat Al-Auliya.

Dalam kitab yang memuat biografi 695 wali (di luar wali-wali yang muncul di Asia Tenggara) itu, terlihat jelas betapa para wali rata-rata memiliki kemampuan untuk menggapai mukasyafah. Termasuk di dalamnya Imam Ghazali RA, Ibnu Arabi RA, dan Imam Syafi’i RA. Bentuk kasyafnya bermacam-macam. Sesuai kondisi kehidupan para wali tersebut.

Kaitannya dengan hal itu, Rasulullah SAW pernah mengatakan bahwa, “Seandainya hati kalian tidak dilanda keraguan dan tidak mengajak kalian untuk banyak bicara, niscaya kalian akan mendengar apa yang sedang aku dengar.”

Dalam hadis lain, sebagaimana dinukilkan dari kitab Ihya Úlum Al-Din, Rasulullah SAW berkata, ”Seandainya bukan karena setan yang menyelimuti qalbu anak cucu Adam maka niscaya mereka akan dengan mudah menyaksikan para malaikat gentayangan di jagad raya kita.”

Di dalam al-Quran juga ada isyarat yang memungkinkan seseorang memperoleh kasyaf. Ada beberapa ayat yang mengisyarakatkan demikian. Di antaranya, ayat 37 Surah Qaaf. “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedangkan dia menyaksikannya.”

Salah satu contoh maqom kekasyafan adalah cerita yang dialami oleh Abul Fadhal Yusuf bin Muhammad RA atau yang disebut Ibnun Nahwi dengan gurunya Imam Ahmad Ibnu Athoillah Assakandari RA. Semoga kita memperoleh barokahnya. amin.

Adapun cerita tersebut adalah sebagai berikut.

يقول الامام ابن النحوى ابو فضل يوسف بن محمد رحمه الله حضرت مجلس سيدى ابن عطاءالله السكندرى ذات يوم وهو يومئذ من كبار أهل التصوف فى عصره.

Abul Fadhal Yusuf bin Muhammad RA yang terkenal dengan sebutan nama Ibnun Nahwi, pengubah qashidah al-munfarijah, pernah menceritakan bahwa suatu hari saya menghadiri majlis ilmu guruku Imam Ahmad Ibnu Athoillah Assakandari RA, dan pada saat itu beliau tergolong salah seorang pembesar ahli tasawuf di zamannya.

فنظرت إليه متعجبا من علومه ، فقلت فى نفسى, ياترى الشيخ فى أى مقام من المقامات هو؟

Maka kedua mataku menatap kepadanya dengan penuh kekaguman akan keluasan ilmunya, sembari berkata pada diriku, “Betapa tinggi derajat dan maqommu wahai guruku, namun, ia berada di tingkatan dan maqom yang mana??” dengan penuh penasaran, hatiku bertanya.    

فنظر لى الشيخ و قطع حديثه وقال فى مقام المذنبين العاصين يا بن النحوى.

Eh, ternyata dia tahu bisikan hatiku, dia langsung melihatku, lalu menghentikan perkataanya, seraya mengatakan, “Wahai Ibnu Nahwi, kedudukan dan maqomku adalah kedudukan dan maqom orang-orang yang berdosa dan ahli maksiat,” dengan dengan penuh kerendahan beliau menjawab.

فعجبت من ذلك و لزمت الصمت من هيبته ثم سلمت عليه و انصرفت.

Akupun terkejut mendengar ucapanya itu, aku langsung diam, melihat begitu besarnya haibah beliau, lalu aku mendekat kepadanya dan berjabatan tangan, kemudian pulang.

فرأيت فى تلك الليلة سيدنا رسول الله ﷺ

على مرتبة عالية و الصحابة الكرام حوله و الناس مجتمعون.

Malamnya aku mimpi Baginda Nabi SAW, beliau berada di tingkat yang sangat tinggi dan para sahabat berada di dekatnya, sementara para sholihin berkumpul di sekitarnya.

فقال رسول الله ﷺ: أين تاج الدين بن عطاء الله ؟

Lalu Baginda Nabi SAW bertanya kepada mereka, “Dimana Tajuddin Ahmad Ibnu Athoillah Assakandari?”

فقال : نعم يارسول الله.

Maka dia mendekat kepadanya, dan berkata,”Iya, ini saya ya Rasulullah.”

فقال رسول الله ﷺ تكلم فإن الله يحب كلامك. فتكلم.

Lalu Nabi saw berkata kepadanya, “Berbicaralah, karena Allah SWT senang dengan ucapamu, silahkan berbicara.”

واستيقظت, فجئت لسيدى ابن عطاءالله رضى الله عنه.

Akupun terbangun, lalu esok harinya aku segera menemui guruku Imam Ahmad Ibnu Athoillah Assakandari RA.

فسمعته يتكلم بما سمعته فى الرؤيا أمام سيدنا رسول الله ﷺ.

Begitu sampai dan mendengar apa yang dituturkannya itu, ternyata sama seperti apa yang disampaikan di hadapan Baginda Nabi SAW, yang didengar dalam mimpinya semalam.

فقلت فى نفسى هذا والله هو المقام.

Maka aku langsung berkata pada diriku, “Ohh, ternyata itu maqomnya, sungguh sangat tinggi.”

فنظر لى سيدى ابن عطاء الله السكندرى

وقـــــــــــــــال “وما خفى عنك كان أعظم يا بن النحوى.” رضى الله عن الشيخ ابن عطاءالله السكندرى.

Begitu bisikan hatiku itu berhenti, ternyata dia tahu, maka guruku Imam Ahmad Ibnu Athoillah Assakandari RA langsung menoleh kepadaku dan berkata kepadaku, “Wahai Ibnu Nahwi, apa yang belum kamu ketahui tentang diriku ini masih banyak.”

Wallahu a’lam.

Continue Reading

Artikel

Fase Kehidupan di Alam Dunia (1)

Kupas Tuntas Perjalanan Hidup Manusia dalam Lima Alam

Oleh: DR. KH. M. Hamdan Rasyid, MA

Published

on

Fase kehidupan di alam dunia, dimulai sejak manusia dilahirkan oleh Allah SWT dari perut ibunya dan berakhir ketika diwafatkan oleh Allah SWT. Sesudah mengalami kehidupan di alam rahim selama kurang lebih sembilan bulan, janin tumbuh dan membentuk diri sehingga menjadi bentuk yang sempurna, maka dengan izin Allah SWT manusia terlahir dari perut seorang ibu ke alam dunia ini dengan perjuangan yang sangat melelahkan antara hidup dan mati.

Sesudah lahir di alam dunia, manusia akan mengalami berbagai perkembangan menuju kematangan dan kedewasaan, kemudian kemunduran menuju masa tua dan kematian. Perkembangan adalah serangkaian perubahan progesif yang terjadi sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman. Menurut Van den Daele “Perkembangan berarti perubahan secara kualitatif”. Ini berarti bahwa perkembangan bukan sekedar bertambahnya berat atau tinggi badan serta kemampuan seseorang. Perkembangan adalah suatu proses integrasi dari banyak struktur dan fungsi yang kompleks. Di dalam perkembangan ini ada dua proses yang saling bertentangan yaitu pertumbuhan atau evolusi dan kemunduran atau involusi. Kedua proses ini terjadi mulai dari pembuahan dan berakhir dengan kematian. Manusia tidak pernah statis, semenjak pembuahan hingga kematian manusia selalu mengalami perubahan, baik kemampuan fisik maupun psikologis.

Plaget menuturkan bahwa dua struktur itu “tidak pernah statis dan sudah ada semenjak awal”. Dengan kata lain bahwa organisme yang matang selalu mengalami pembuahan yang progesif sebagai tanggapan terhadap kondisi yang bersifat pengalaman dan mengakibatkan jaringan interaksi yang majemuk. Fakta yang penting dari perkembangan adalah bahwa dasar-dasar permulaan adalah sikap kritis, kebiasaan, dan pola perilaku yang dibentuk selama bertahun tahun. Tahun pertama sangat menentukan seberapa jauh individu-individu berhasil menyesuaikan diri, baik dalam penyesuaian diri pribadi maupun penyesuaian sosial. Keberhasilan

dalam menyesuaikan diri pada masa ini sangat mempengaruhi perkembangan dalam kehidupan pada masa-masa berikutnya hingga ketika manusia bertambah tua. Beberapa proses yang kompleks dari perkembangan manusia adalah sbb:

  1. Proses Fisik (physical process) yaitu perubahan yang bersifat biologis. Dari gen yang diwariskan orang tua, perubahan hormon selama hidup, bertambahnya tinggi badan, berat badan dan kemampuan motorik seseorang telah mencerminkan perkembangan biologis menuju kepada kematangan (maturation).
  2. Proses Kognitif (cognitive process) yaitu perubahan yang terjadi dalam diri seseorang yang meliputi daya pikir, kecerdasan dan bahasa individu. Seperti bagaimana mengingat alamat rumah, pelajaran, menyusun kalimat, mengetahui warna-warna benda. Semua itu menunjukan peranan proses kognitif dalam perkembangan.
  3. Proses Sosial Emosional (socio-emotional process) yaitu proses perubahan yang terjadi pada emosi seseorang serta dalam berhubungan (berinteraksi) dengan orang lain. Emosi dapat mempengaruhi perubahan jasmaniah seseorang yang tampak dalam memberikan respon atau tanggapan terhadap suatu peristiwa.

Ketiga macam proses di atas, baik proses fisik, kognitif maupun sosial emosional saling berkaitan satu sama lain. Sebagai contoh, proses emososial membentuk proses kognitif. Proses kognitif mendukung atau membatasi proses sosial-emosional. Sementara proses fisik mempengaruhi proses kognitif. Semua ini akan selalu bergantung satu sama lain. Jadi manusia tidak akan bisa terlepas dari ketiga proses ini karena pada dasarnya manusia akan selalu mengalami perubahan dari pembuahan sampai kematian, baik dari segi fisik maupun psikologis.

(Bersambung…)

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending