Connect with us

Artikel

Sikap Proporsional terhadap Khilafiyah Ucapan Natal

Oleh: Idris Wasahua, SH., MH. (Wakil Ketua MATAN DKI Jakarta)

Published

on

Ucapan Natal

Ada yang terasa kurang nyaman terdengar ketika mendengarkan khutbah jumat siang tadi di Masjid tempat saya tinggal, yang bertemakan hukum mengucapkan Hari Raya Natal bagi seorang muslim.

Tema ini selalu ramai diperbincangkan tiap tahun pada waktu-waktu seperti saat ini yang tinggal menghitung hari datangnya perayaan Hari Natal. Sebetulnya, sah-sah saja menyampaikan materi seperti itu dalam khutbah Jumat, asalkan Sang Khatib bersikap proporsional, berimbang, dan bijak. Karena, jamaah yang hadir pasti juga menganut pandangan yang beragam, termasuk berbeda pandangan dengan Sang Khatib.

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa hukum mengucapkan selamat Hari Raya Natal bagi seorang muslim itu masih diperdebatkan hukumnya dikalangan para ulama (khilafiyah). Ada yang membolehkan sehingga tidak haram hukumnya mengucapkannya, dan ada pula yang tidak membolehkan sehingga hukumnya haram mengucapkannya. Sang Khatib tadi begitu semangat memaparkan berbagai dalil baik dari al-Quran, pendapat ulama, termasuk merujuk pula Fatwa MUI tahun 1981, yang pada intinya mengatakan haram hukukmnya mengucapkan Hari Raya Natal bagi seorang muslim. Bukan saja hukumnya yang haram, orang yang mengucapkannya pun menjadi kafir/musyrik, kata Sang Khatib dengan cara penafsiran yang menurut hemat saya terlalu jauh keluar dari metode dan logika penalaran keilmuan. Tapi tidak masalah, toh saya tetap menghargai pendirian/pendapat Sang Khatib itu karena saya tau memang ada sebagian ulama juga yang berpendapat demikian, sehingga jika Sang Khatib mengikuti kelompok ulama yang demikian sah-sah saja. Hanya saja yang kurang tepat/kurang bijak menurut saya, Sang Khatib dalam menjelaskan tema itu terlihat memberikan justifikasi (penghukuman) seakan-akan tidak ada ulama lain lagi yang membolehkan dan tidak menghukumi haram mengucapkan selamat Hari Raya Natal itu, atau seolah hal itu bukanlah suatu masalah yang tidak diperdebatkan di kalangan para ulama.

Kenapa demikian, karena Sang Khatib sama sekali tidak memberikan penjelasan secara komprehensif/utuh kepada jamaah mengenai adanya pendapat ulama lain yang juga tidak melarang atau memghukumi boleh mengucapakannya. Saya cukup mencermati secara kritis isi materi khutbah Sang Khatib selama khutbahnya berlangsung. Sempat terlintas pula fikiran penyesalan akan cara khutbah Sang Khatib itu, bahkan dalam hati berkata, “Kok, Khatib ini aga takabur seperti merasa mengerti sendiri dan kita sebagai jamaah ini tidak tau apa-apa.” Tanpa sadar terlihat pula beberapa jamaah sekitar yang saya duga mungkin mereka juga sedang mengalami suasana seperti yang saya alami, bahkan boleh jadi ditambah dengan sedikit kebingungan, karena mungkin saja mereka termasuk orang yang sering mengucapkan selamat natal ke temannya, saudaranya, atau tetangganya. Dengan kata lain, mereka merasa terhakimi telah menjadi orang kafir/musyrik karena pernah mengucapkan selamat Natal. Cuma ya… namanya khutbah kan beda dengan seminar, diskusi. Jamaah hanya bisa menjadi pendengar yang baik dan tidak bisa berkomentar apa-apa (sami’na, meskipun belum tentu wa’athona, jika isi khutbahnya keliru atau mungkin mengenai masalah yang masih diperdebatkan). Bahkan, hukumnya haram dan sholat bisa menjadi batal gara-gara berbicara. Karena tidak bisa berdebat/mengajukan tanggapan, saya hanya berfikir dan timbul ide sekaligus harapan kiranya masalah-masalah khilafiyah semacam ini tidak perlu menjadi tema-tema khutbah Jumat, jika mau dibuatkan forum diskusi tersendiri yang bersifat dua arah. Kalaupun tetap menjadi tema khutbah Jumat juga, lebih bijak jika khatib dapat menjelaskan secara objektif/utuh mengenai permasalahannya termasuk penjelasan mengenai perbedaan sikap/pendapat para ulama terhadap masalah itu.

Meskipun nantinya Sang khatib menyampaikan pendiriannya terhadap pendapat para ulama tertentu, tapi Sang khatib jangan sampai terkesan menggurui/mendoktrin jamaah untuk mengikuti pendapatnya saja, apalagi yang lebih keliru menutupi atau tidak mengungkap pandangan ulama lainnya yang berbeda itu, hanya demi menonjolkan pendapat pihak yang diikuti sehingga terkesan hanya ada satu pendapat dan itulah yang mutlak. Jika terjadi demikian, maka mimbar Jumat hanya akan menjadi instrumen/alat monopoli faham-faham kelompok tertentu yang memiliki faham keagamaan yang berbeda dengan jamaah lainnya, yang tentu saja tidak mesti terjadi dan sangat disayangkan. Yang dikhawatrikan lagi, jamaah yang tidak sependapat dengan Sang Khatib bisa jadi sholatnya kurang khusyu karena sibuk memikirkan ceramah Sang Khatib. Saya jadi penasaran dengan Sang Khotib yang merujuk Fatwa MUI tahun 1981 tadi, sampai terlintas pertanyaan dalam hati apa Sang Khotib tadi pernah membaca secara cermat Fatwa MUI itu? Kebetulan saya mengkoleksi himpunan Fatwa MUI yang berisi fatwa-fatwa MUI termasuk di dalamnya fatwa tentang masalah natal yang dirujuk Sang Khatib tadi, yang telah saya baca beberapa tahun lalu. Karena, seingat saya memang fatwa itu tidak menyebutkan soal haram hukumnya mengucapkan selamat Hari Raya Natal, namun mengenai haram hukumnya merayakan Hari Raya Natal. Namun, karena saya tidak ingin takabur dengan apa yang saya ingat, serta menghindari prasangka macam-macam kepada Sang Khatib yang merujuk Fatwa MUI itu, saya fikir nanti sajalah saya memastikannya lagi ketika sudah kembali ke rumah. Bukan apa-apa, etika keilmuan Islam mengajarkan perlunya kehati-hatian, kecermatan, akurasi dalam pengutipan suatu sumber, tidak bisa asal kutip sana sini tanpa akurasi data yang tepat/benar, apalagi memanipulasi sumber, bisa dicap sebagai ketidakjujuran/ketidakadilan intelektual.

Karena rasa penasaran, sesampainya di rumah, saya langsung mengambil Himpunan Fatwa MUI itu yang karena cukup tebal tidak sulit untuk menemukannya. Setelah dilihat ternyata betul memang Fatwa MUI itu tidak membicarakan masalah hukum mengucapkan selamat hari natal, apalagi mengharamkannya sebagaimana yang dikatakan Sang Khatib tadi. Artinya Sang Khatib tadi sudah jelas keliru dalam mengutip referensi sebagai dasar/argumen materi khutbahnya. Bunyi fatwa itu demikian: “Mengikuti upacara Natal Bersama bagi umat Islam hukumnya haram”. Tentu saja, mengikuti upacara Natal bersama dengan mengucapkan selamat Hari Raya Natal merupakan dua hal yang berbeda jauh. Tidak sampai disitu, saya juga ingat beberapa tahun lalu keluarga Buya Hamka pernah mengklarifikasi mengenai hal ini karena merasa ada kesalahfahaman ditengah masyarakat, seolah Buya Hamka pernah memfatwakan haram hukumnya mengucapkan selamat Hari Raya Natal oleh seorang muslim. Maklum, Fatwa MUI itu memang diterbitkan Ketika Buya Hamka Menjabat sebagai Ketua MUI. Dari hasil penelusuran saya di internet, ternyata benar, salah satu cucu Buya Hamka mengatakan Buya Hamka bukan melarang umat Islam mengucapkan selamat Hari Raya Natal. Akan tetapi, lebih kepada ikut perayaan Natal bersama orang-orang Kristiani. Cucu Buya Hamka itu bahkan menceritakan bagaimana hubungan keluarga Buya Hamka dengan tetangganya umat kristiani saat merayakan natal. Keluarga Buya Hamka bahkan terbiasa membuat kue dan mengantarkannya kepada para tetangga yang merayakan Natal sekaligus untuk memberikan ucapan selamat merayakan Natal.

Saya pun membuka referensi lain yang sudah lama saya baca, antara lain terjemahan buku Fiqh Minoritas yang berisi kumpulan fatwa kontemporer karya Yusuf al-Qardhawi, Penerbit Zikrul Hakim, tahun 2004, pada halaman 206 dan 207, disebutkan:

“Akan tetapi, menurut saya tidak masalah seandainya kaum muslimin ingin memberikan ucapan terhadap hari raya mereka, apalagi di antara keduanya (muslim dan non muslim) terdapat hubungan kerabat, tetangga, teman dan hubungan-hubungan sosial lainnya yang membutuhkan rasa cinta, kasih sayang dan hubungan yang baik, yang biasa berlaku dalam tradisi masyarakat yang sehat”

Syekh Yusuf Al-Qardhawi juga memberikan komentar atas pendapat Ibnu Taimiyah yang pernah mengharamkan ucapan natal ini dengan mengatakan:

“Seandainya Ibnu Taimiyah hidup sampai pada zaman di masa kita hidup sekarang dan melihat semua kenyataan ini, niscaya ia akan mengubah pendapatnya. Atau setidaknya memperingan isi fatwanya, karena sebagai seorang mujtahid ia sangat memperhatikan tempat, waktu dan kondisi di mana fatwa tersebut dikeluarkan”. Hal ini sejalan dengan Qaidah Fiqih yang artinya: “Hukum itu berubah dan berbeda sesuai dengan perubahan zaman, tempat keadaan, niat, dan adat kebisaaan”

Jadi tambah heran saya dengan Sang Khatib tadi, kok, berani sekali bisa menghukumi kafir/musyrik bagi orang yang mengucapkan selamat Hari Raya Natal. Artinya, Syekh Yusuf al-Qardhawi, Sang Ulama yang diakui kelimuannya secara internasional itu ikut pula dihukumi kafir/musyrik terkait pendapatnya di atas.

Akhirnya, saya hanya dapat berharap untuk tema-tema yang bersifat khilafiyah, sebaiknya tidak disampaikan dalam mimbar khutbah (kalau mau, dibuat forum diskusi sendiri yang bersifat dua arah). Kalaupun disampaikan juga, Sang Khatib harus bersikap bijak, proporsional, berimbang informasinya, dan menghindari kesan monopoli, doktrinasi pendapat keagamaan tertentu kepada jamaah, yang justru tidak sehat, tidak kondusif bagi persatuan antar jamaah masjid yang beragam faham keagamaannya. Ini bukan saja dalam mimbar khutbah tapi termasuk ceramah-ceramah lainnya. Karena jika tidak, dikhawatirkan masjid yang tadinya harus menjadi sarana penguatan persatuan, soliditas ummat (selain ibadah ritual), justru sebaliknya bisa menjadi sumber konflik pemecah belah ummat akibat kekeliruan menyikapi perbedaan pendapat. Kata seorang Ahli tafsir, “Yang menjadi masalah itu bukan perbedaan, tapi cara menyikapi perbedaan itu”. Firman Allah: Aliimun Hakiim (Maha Mengetahui dan Bijaksana). Ilmu saja tidak cukup, tapi perlu juga kebijaksanaan. Wallahu Alam Bishawab. []

Baca juga: Habib Luthfi diangkat oleh Kemenag menjadi Penasihat

Artikel

Macam-macam Shalawat dan Keutamaannya

Published

on

Shalawat dan Keutamaannya

Bershalawat kepada Nabi Muhammad adalah salah satu bukti cinta kepadanya dan bernilai ibadah, Bahkan dalam Surat Al Ahzab ayat 56 Allah berfirman:

إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk nabi. Wahai orang-orang yang beriman, Bershalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya”

Sementara itu, shalawat yang kita kenal sampai hari ini banyak sekali jumlahnya dan sangat beragam faedahnya. Beberapa shalawat yang sering kita baca berikut faedahnya:

Shalawat Munjiyat

Keagungan shalawat munjiyat sama seperti setengah dari besarnya arasy. KH. Musta’in Ramli, Khadim Thariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah dalam kitabnya, Al Risalah al Khawashiyyah menjelaskan keutamaan shalawat munjiyat yaitu:

“Barangsiapa yang membaca shalawat munjiyat pada tengah malam sebanyak 1000 kali, kemudian memohon kepada Allah Swt. apapun yang yang menjadi kebutuhannya baik dalam urusan dunia maupun akhirat, maka insyaa Allah keinginannya akan segera terkabulkan”

Berikut adalah lafaz shalawat Munjiyat:

اللهم صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً تُنْجِيْنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ الْأَهْوَالِ وَالْآفَاتِ، وَتَقْضِيْ لَنَا بِهَا جَمِيْعَ الْحَاجَاتِ، وَتُطَهِّرُنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ السَّيِّئَاتِ، وَتَرْفَعُنَا بِهَا عِنْدَكَ أَعْلَى الدَّرَجَاتِ، وَتُبَلِّغُنَا بِهَا أَقْصَى الْغَايَاتِ مِنْ جَمِيْعِ الْخَيْرَاتِ فِيْ الْحَيَاةِ وَبَعْدَ الْمَمَاتِ

Allāhumma shalli ‘alā Sayyidinā Muhammadin wa ‘alā āli Sayyidinā Muhammadin shalātan tunjīnā bihā min jamī’il ahwāli wal āfāt wa taqdhī lanā bihā jamī’al hājāt wa tuthahhirunā bihā min jamī’is sayyiāt wa tarfa’unā bihā ‘indaka a’lad darajāt wa tuballighunā bihā aqshal ghāyāt min jamī’il khairāti fil hayāti wa ba’dal mamāt

Artinya: “Ya Allah limpahkanlah rahmat kepada junjungan kami Nabi Muhammad, yang dengan shalawat itu, Engkau akan menyelamatkan kami dari semua keadaan yang menakutkan dan dari semua cobaan; dengan shalawat itu, Engkau akan mengabulkan hajat kami; dengan shalawat itu, Engkau akan menyucikan kami dari segala keburukan; dengan shalawat itu, Engkau akan mengangkat kami ke derajat paling tinggi; dengan shalawat itu pula, Engkau akan menyampaikan kami kepada tujuan yang paling sempurna dalam semua kebaikan, ketika hidup dan setelah mati.”

Shalawat al-Fatih

Shalawat al fatih bisa menjadi wasilah bagi siapapun yang membacanya, baik untuk memperbaiki kehidupannya ataupun sebagai doa agar hajatnya terkabul. KH. Muhammad Ma’ruf Zuhdi, Pengasuh Pondok Pesantren Khadijatul Kubra, Tuban mengatakan salah satu keutamaan shalawat al fatih yaitu bisa segera dipertemukan oleh jodohnya sebagaimana dawuhnya:

“Apabila ada seseorang yang ingin segera dipertemukan jodohnya, maka bacalah shalawat al fatih sebanyak 100 kali setiap pukul 12 malam sampai pukul 3 pagi selama 41 hari berturut-turut, maka Insya Allah jodohnya akan segera dipertemukan.

Berikut adalah lafaz shalawat al-Fatih:

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ وَالخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ وَالنَّاصِرِ الحَقَّ بِالحَقِّ وَالهَادِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ. صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ العَظِيْمِ

Allāhumma shalli wa sallim wa bārik ‘alā sayyidinā Muhammadinil Fātihi limā ughliqa, wal khātimi limā sabaqa, wan nāshiril haqqā bil haqqi, wal hādī ilā shirātin mustaqīm (ada yang baca ‘shirātikal mustaqīm’). Shallallāhu ‘alayhi, wa ‘alā ālihī, wa ashhābihī haqqa qadrihī wa miqdārihil ‘azhīm.  

Artinya :“Ya Allah, limpahkanlah shalawat, salam, dan keberkahan kepada junjungan kami, Nabi Muhammad SAW, pembuka apa yang terkunci, penutup apa yang telah lalu, pembela yang hak dengan yang hak, dan petunjuk kepada jalan yang lurus. Semoga Allah melimpahkan shalawat kepadanya, keluarga dan para sahabatnya dengan hak derajat dan kedudukannya yang agung.”

Shalawat Nariyah

Shalawat ini mungkin tidak asing lagi dikalangan pecinta shalawat karena sering sekali dibaca baik dikalangan orang dewasa sampai anak kecil.

KH. Musta’in Ramli menjelaskan, “Barangsiapa membaca shalawat nariyah sebanyak 10 kali setelah shalat fardhu dan tidak pernah terputus, maka akan diberikan derajat yang tinggi oleh Allah Swt dan dimudahkan dalam mencari rizki. Jika dibaca sebanyak 40 kali setelah shalat subuh tanpa putus, maka apa yang diharapkannya akan segera terwujud. Jika dibaca sebanyak 100 kali setiap hari tanpa putus, maka apa yang diharapkannya akan segera terwujud lebih cepat. Jika dibaca sebanyak 313 kali setiap hari tanpa putus, maka dapat mempertajam mata hati. Jika dibaca 1000 kali setiap hari tanpa putus, maka akan mendapatkan karamah dari Allah Swt.

Berikut adalah lafaz shalawat nariyah:

أللّهُمَّ صَلِّ صَلَاةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلَامًا تَامًّا عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ الّذِي تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وَحُسْنُ الْخَوَاتِمِ وَيُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ فِيْ كُلِّ لَمْحَةٍ وَنَفَسٍ بِعَدَدِ كُلِّ مَعْلُوْمٍ لَكَ

“Allāhumma shalli shalātan kāmilatan wasallim salāman. Tāman ‘alā sayyidinā Muhammadi llādzi tanhallu bihil ‘uqadu wa tanfariju bihil kurabu. Wa tuqdhā bihil hawāiju wa tunna lu bihirragha ibu wa husnul khawātimi wa yustasqal ghamāmu biwajhihil karīm wa ‘alā ālihī wa shahbihī fī kulli lamhatin wa nafasim bi’adadi kulli ma’lu min laka.

Artinya: “Ya Allah, limpahkanlah shalawat yang sempurna dan curahkanlah salam kesejahteraan yang penuh kepada junjungan kami Nabi Muhammad, yang dengan sebab beliau semua kesulitan dapat terpecahkan, semua kesusahan dapat dilenyapkan, semua keperluan dapat terpenuhi, dan semua yang didambakan serta husnul khatimah dapat diraih, dan berkat dirinya yang mulia hujanpun turun, dan semoga terlimpahkan kepada keluarganya serta para sahabatnya, di setiap detik dan hembusan nafas sebanyak bilangan semua yang diketahui oleh Engkau”

Shalawat Tibb Qulub

Shalawat tibb qulub secara bahasa adalah obat hati. Shalawat ini bisa menjadi bentuk ikhtiar untuk menyembuhkan segala macam penyakit, baik penyakit jasmani maupun rohani karena sejatinya yang mampu menyembuhkan hanyalah Allah Swt.  

Habib Sagaf Baharun mengisahkan keutamaan shalawat tibb qulub melalui walitullah dari Mesir yaitu Imam Dardiri, ia berkata: Imam Dardiri adalah seorang wali di Mesir yang membaca shawalat tibb qulub 4000 kali, dalam riwayat lain sebanyak 400 kali. Atas wasilah tersebut, penyakit apa aja selain kematian akan sembuh.

Habib Abdurrahman Bilfaqih juga menceritakan, “Dari Habib Anis Lawang yang ketika itu hadir di 7 hari wafatnya ayah saya, ia mengatakan bahwa dulunya ia adalah seorang pedagang. Ketika ia berusia 9-10 tahun, ia dibawa oleh ayahnya kepada Imam Al Habr Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih. Ayahnya meminta ijazah shalawat dan diberikan shalawat tibb qulub untuk dibaca sebanyak 313 kali. Peristiwa ini membekas di hati Habib Anis dan diamalkan. Ketika rambutnya mulai memutih, pada suatu hari ia diundang untuk berceramah. Meskipun tidak memiliki kemampuan berceramah, karena berniat membahagiakan orang lain, ia menyanggupi. Sewaktu berceramah, hadirin yang datang menangis mendengar ceramah beliau karena merasuk ke hati mereka. Kejadian itu berulang setiap kali ia berceramah. Menurutnya, Ini adalah barakah ijazah Imam Al Habr Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih yang dilakukan dengan istiqamah.

 Berikut adalah lafaz shalawat tibb qulub:

أَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ طِبِّ الْقُلُوْبِ وَدَوَائِهَا وَعَافِيَةِ الأَبْدَانِ وَشِفَائِهَا وَنُوْرِ الأَبْصَارِ وَضِيَائِهَا وَعَلَى آَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

Allāhuma shalli ‘alā sayyidinā Muhammadin thibbil quluubi wadawā-iha wa‘āfiyatil abdāni wasyifā-ihā wanuuril ab-shāri wadhiyā-ihā wa’alā ālihī washahbihī wasallim.

Artinya: “Ya Allah, berilah rahmat ke atas penghulu kami, nabi Muhammad saw, yang dengan berkat baginda, Engkau menyembuhkan hati, menjadi penawar dan menyehatkan tubuh juga memberi kesembuhan penyakit, serta mengurniakan cahaya penglihatan. Dan karuniakanlah rahmat keberkatan dan kesejahteraan keatas keluarga dan sahabat baginda Nabi saw.”[Khoirum Millatin]

Continue Reading

Artikel

Juru Kunci Makam, Gus Dur: “Makam Sunan Kalijaga yang Asli Ada di Tuban”.

Oleh: Khoirum Millatin, S.Hum

Published

on

Sunan Kalijaga

Sunan Kalijaga adalah satu dari sembilan wali penyebar Agama Islam di tanah Jawa. Sebagaimana diketahui oleh kebanyakan orang di Indonesia, bahwa ia dikebumikan di Kadilangu, Demak. Namun berdasarkan bukti sejarah lain, terdapat makam serupa atas nama Sunan Kalijaga yang terletak di Desa Medalem, Kecamatan Senori, Kabupaten Tuban. Makam ini berada di tengah sawah dan agak jauh dari pemukiman penduduk.

Menurut Abdul Ghani, juru kunci setempat, keberadaan Makam Sunan Kalijaga atau dengan nama asli Raden Syahid sebelumnya tidak diketahui sama sekali oleh warga. Makam tersebut pertama kali ditemukan oleh Mulyadi yang membangun sebuah gubuk di tengah sawah untuk ditinggali. Suatu malam ia didatangi seorang lelaki berbaju serba hitam dengan mengatakan, “jika anda ingin kembali hidup enak, maka peliharalah Makam Sunan Kalijaga.” Lelaki tersebut kemudian mengajaknya ke komplek Makam Ploso 9 dan menunjukkan letak Makam Sunan Kalijaga. Sejak hari itu, Mulyadi rutin berziarah setiap setelah Salat Isya kurang lebih selama satu tahun.

Karena penasaran dengan apa yang dialaminya, Mulyadi lantas menceritakan hal tersebut kepada gurunya, Kiai Jubaidi Tuban. Kiai Jubaidi yang tidak mengetahui apapun perihal makam itu kemudian mengajaknya sowan kepada Kiai Hamid Pasuruan. Kiai Hamid membenarkan adanya Makam Sunan Kalijaga di Desa Medalem. Bahkan, sebelumnya Kiai Hamid pernah menyepi di tempat itu selama satu minggu.

Selanjutnya, pada tahun 1979, Kiai Hamid memberikan nama tempat tersebut dengan “Makam Sunan Kalijaga Raden Syahid Moroteko” yang kemudian diresmikan oleh Kiai Jubaidi. Nama Moroteko diambil karena makam yang sebelumnya tidak ada, kini menjadi ada. Awalnya, makam tersebut ingin dipopulerkan oleh pihak juru kunci tetapi tidak diizinkan oleh Pemerintah Orde Baru karena khawatir menimbulkan konflik dan kebingungan disebabkan sudah lebih dulu ada nama Makam Sunan Kalijaga di Kadilangu, Demak.

Sebelum diberi nama Makam Sunan Kalijaga Raden Syahid Moroteko, komplek makam ini bernama Makam Ploso 9. Nama ini berasal dari adanya sembilan pohon ploso yang terletak di area pemakaman. Adapun sembilan pohon ploso dimaknai sebagai sembilan wali yang juga tumbuh di komplek pelataran makam lainnya yakni di Sebelah Barat Makam Sunan Kalijaga yaitu Syeikh Badawi, Kyai Abdurrahman, Dewi Amirah (Istri Sunan Kalijaga), Abdul Aziz Abdul Basith (Saudara Syeikh Abdul Jabbar Nglirip), Mpu Supo (Adik Ipar Sunan Kalijaga yang juga pembuat keris), Patih Wonosalam dan Abdul Qadir (Putera Raden Patah). Adapun 1 Km dari lokasi tersebut ada Makam Dewi Rosowulan atau Nyai Tembogo yaitu adik Sunan Kalijaga.

Pada tahun 1999, ketika Gus Dur hendak mencalonkan diri sebagai Presiden RI, Ia beserta rombongan dari Surabaya hendak menuju ke Demak. Di Tengah perjalanan ia mampir ke Tuban untuk mengunjungi Gus Riyad putra KH. Moertadji yang kemudian mengantarkan Gus Dur berziarah ke Kadilangu, Demak. Ketika di sana, Gus Dur mendapat petunjuk bahwa jika ia ingin negaranya tentram dan aman, maka ia harus berziarah ke Makam Sunan Kalijaga yang ada di Tuban. Dengan diantar Gus Riyad, untuk pertama kalinya, Gus Dur menziarahi makam tersebut pada 17 ramadhan 1999 dan mengatakan bahwa Makam Sunan Kalijaga yang asli berada di Tuban. Adapun yang di Demak adalah petilasannya.

Setelah terpilihnya Gus Dur menjadi Presiden RI pada tahun 1999, makam ini mulai dibuka secara terang-terangan dan sedikit demi sedikit mengalami perbaikan. Dan pada awal tahun 2021, pengusaha asal Banten yang berkoordinasi dengan pemerintah desa setempat merombak seluruh bangunan makam dan merenovasinya menjadi seperti sekarang ini. Setiap harinya, selalu ada saja pengunjung yang berziarah ke makam. Rata-rata berasal dari Jawa Barat dan Yogyakarta yang biasanya datang pada malam Jumat Legi. Sedangkan dari Jawa Timur kebanyakan peziarah berasal dari Sidoarjo, Pasuruan, Ponorogo dan Madiun.

Sebelum mengakhiri pembicaraan, juru kunci memberikan ijazah yang ia dapatkan langsung dari Sunan Kalijaga melalui mimpi, “Apabila ingin terkabul segala hajatnya, maka bacalah Ya Qahhar dan Ya Jabbar, masing-masing sebanyak sebelas kali sehabis Salat Magrib atau Salat Isya’”.

Wallahu a’alam.

Continue Reading

Artikel

Syeikh Marwani Angin; Ulama Kharismatik Asal Rancailat, Tangerang

Oleh: Khoirum Millatin, S.Hum

Published

on

Syeikh Marwani

Rancailat adalah nama desa yang terletak di perbatasan Kecamatan Kresek dan Kronjo. Nama tersebut berasal dari kata “Ranca” yang berarti Rawa dan “Ilat” yang berarti lidah. Pemberian diksi “Rawa” ditafsirkan sebagai kobangan air yang disekitarnya dipenuhi flora dan fauna.

Desa Rancailat terbagi menjadi beberapa kampung seperti Kampung Kandang, Pecung, Tonjong, Bojong, Cayur dan Rancailat Utara. Cikal bakal Desa Rancailat ada di kampung Rancailat Utara yang tepat berada di ujung utara Desa Rancailat. Pemberian nama desa tersebut juga berkaitan dengan letak wilayahnya yang dikelilingi oleh sawah. Sehingga, desa ini diumpamakan seperti lidah dan giginya sebagai sawah. Jadi, Desa Rancailat adalah gambaran lidah yang dikelilingi oleh gigi.

Legenda Musafir Sakti yang Dikecewakan

Ada semacam legenda di desa ini yang menyebabkan rasa air di Desa Rancailat menjadi asin dan hambar. Zaman dahulu ada seorang musafir beristirahat di Desa Rancailat. Ia merasa sangat lapar dan haus. Ia meminta makanan warga setempat tetapi warga disana tidak ada yang memberinya makan dan minum sedikitpun. Akhirnya dengan rasa kesal dan amarah musafir itu mengutuk seluruh penduduk Desa Rancailat agar terjadi kemarau sehingga menyebabkan kekeringan yang berkepanjangan. Kemudian lambat laun, sedikit demi sedikit mata air di Desa Rancailat mulai mengucur. Sayangnya, rasa air tersebut telah berubah menjadi asin dan hambar. Di sisi lain, secara geografis, rasa air yang asin itu sangat wajar karena jarak antara Desa Rancailat menuju laut lumayan dekat sebagaimana tempat wisata dan ziarah Pulo Cangkir dan Tanjung Kait.

Syeikh Marwani; Ulama Besar Setempat yang dilupakan Generasi Milenial

Wilayah Desa Rancailat menurut penduduk setempat adalah wilayah agamis. Banyak sekali hal-hal menakjubkan yang terdapat di sini diantaranya adalah cerita tentang Syeikh Marwani Angin. Menurut cerita, Syeikh Marwani tidak memiliki garis keturunan yang istimewa. Namun berkat ketaatannya yang dalam serta tirakatnya yang kuat, Syeikh Marwani menjadi salah satu ulama hebat di wilayahnya pada masa itu.

Syeikh Marwani hanyalah rakyat biasa yang seumur hidupnya tidak pernah makan nasi. Ia hanya memakan oncom tanpa garam yang dibungkus dengan aci sebagai pengganti makanan pokoknya. Perjalanan rohaninya bermula ketika ia frustasi disebabkan kematian anaknya yang tercebur sumur. Setelah itu, ia memutuskan untuk melalang buana hingga wilayah Jakarta Barat dan Jakarta Selatan. Ia sempat dianggap gila oleh sebagaian penduduk setempat. Namun kenyataannya yang mengatakannya gila justru kehidupannya tidak berkah. Menurut informasi, apa yang pernah ia ucapkan dulu, kini menjadi kenyataan. Konon, ketika ia dan rombongannya kehujanan dalam suatu perjalanan, baju orang-orang yang ikut serta basah karena kehujanan, sedangkan ia tidak.

Dalam mengemban misi dakwah, ia mendirikan Masjid Al-Aqsha dengan usahanya sendiri tanpa meminta sepeserpun dari warga. Demikian juga warga setempat, tidak ikut menyumbangkan hartanya untuk membangun masjid ini. Padahal selama hidupnya, ia hanya tinggal di sebuah gubuk. Masjid Al-Aqsha mulai dibangun pada tahun 1990 dan selesai dibangun pada tahun 2002. Masjid ini berasitektur Arab-Jawa.

Syeikh Marwani wafat pada tahun 2007 dan dimakamkan di bangunan yang berseberangan dengan Masjid Al-Aqsha yang berdekatan dengan kediaman keluarga. Sampai saat ini, setiap malam jumat banyak sekali jamaah yang menziarahi pesareannya. Menurut cerita, siapa saja yang memiliki masalah kehidupan kemudian dan datang bertaqarrub serta melaksanakan shalat di lima masjid di Rancailat yang salah satunya adalah Masjid Al-Aqsha ini, maka Insyaa Allah permasalahannya akan segera terselesaikan.

Berdasarkan cerita lain, ada tamu dari Arab yang mengaku bertemu dengan Syeikh Marwani dan diminta untuk datang ke Desa Rancailat. Padahal pada waktu itu sang ulama sudah meninggal. Wallaahu a’lam.[]

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending