Connect with us

Thariqah

Mengenal Tarekat Syadziliyah dan Ajarannya (1)

Published

on

Jakarta, JATMAN.OR.ID – Pendiri tarekat Syadziliyah yakni Quthb Jami ’Maqom wa Ghouts‘ Adhom Sulthonul Aulia Arifin Sayyidi Syeikh Abu al-Hasan Ali as-Syadzili memiliki nama lengkap ‘Ali bin Abdullah bin Abdul Jabbar bin Tamim bin Hurmuz bin Qushay bin Yusuf bin Yusya’ bin Ward bin Baththal bin Ahmad bin Muhammad bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib (suami dari Fathimah bin Rasulullah) seperti yang dikutip dari kitab Abu Hafsh, siraj al-Din, Thobaqat al-aulia.

Beliau dilahirkan di Ghumara, sebuah desa dekat Ceuta saat ini, yaitu di utara Maroko pada tahun 573 H, pada saat Dinasti Muwahhidun mencapai titik nadirnya seperti yang dikutip dalam buku Aboebakar, Atjeh, Pengantar Sejarah Sufi dan Tasawuf.

Maulana Syekh Yusri Rusydi menceritakan tentang asal mula mengapa Syekh Abu Hasan dinamakan al-Syadzili padahal ia bukan lahir di Syadzili.

Dikisahkan bahwa dalam fananya, Tuhan berbicara kepadanya dan mengilhamkan sesuatu, “Wahai Ali! Aku menamakan engkau al-Syadz, yang artinya seseorang yang jarang keistimewaannya dalam berkhidmat kepada-Ku.”

Ketika masih berusia muda, Imam Syadzili meninggalkan kota kelahirannya menuju Tunisia. Beberapa waktu kemudian, dia menjadi seorang teolog beraliran Sunni yang sangat menentang Mu’tazilah. Sedangkan dalam fiqih, Imam Syadzili mengikuti Madzhab Maliki, karena madzhab ini sangat dominan di daerah Maghrib (Spanyol, Maroko dan Tunisia).

Di antara guru-guru Imam Syadzili yaitu Ibn Masyisy yang sangat mempengaruhi perjalanan spiritual dan kehidupannya. Atas nasihatnya pula Imam Syadzili meninggalkan Fez menuju Tunisia dan tinggal di sebuah daerah bernama Syadzili.

Di daerah yang baru ini, ia banyak bertemu dan bertukar pikiran dengan para ulama dan para sufi. Dan tanpa diduga, masyarakat menyambutnya dengan sambutan yang luar biasa. Namun kemudian Imam Syadzili pergi ke pegunungan Zaghwan dengan ditemani oleh ‘Abdullah ibn Salamah al-Habibi dan berkhalwat di sana.

Setelah melakukan khalwat di Jabal Zaghwan itu, ia mendapat perintah dalam sebuah penglihatan spiritual untuk mengajarkan tasawuf. Ia kemudian kembali lagi ke masyarakat dan menyampaikan dakwahnya.

Ia membangun sebuah Zawiyah di Tunisia pada 625 H, bersamaan dengan tibanya Abu Zakaria di tempat itu sebagai gubernur baru dan kelak sebagai pendiri Dinasti Hafsiyyah. Secara periodik dia memberikan ceramah ke desa-desa di daerah Tunisia. Di sini ia mendapat sambutan yang cukup hangat sampai menimbulkan kebencian seorang hakim Tunisia; Abu al-Barra.

Akibat konflik yang berkepanjangan dengannya, Imam syadzili memutuskan untuk meninggalkan Tunisia menuju Mesir. Di Mesir inilah Tarekat syadziliyah mulai berkembang pesat hingga ke berbagai penjuru bumi. Dan di Mesir pulalah Imam syadzili dimakamkan, yaitu di daerah Humaitsara dekat pantai Laut Merah dalam perjalanannya untuk ibadah haji yang terakhir kalinya. Bersambung…

Oleh: Mabda Dzikara (Aktual.com)

MATAN

Pesan Penting Habib Luthfi ketika MATAN di Deklarasikan

Published

on

By

Gus Hasan Chabibie dan Habib Luthfi

Habib Luthfi merupakan Deklarator MATAN (Mahasiswa Ahlith Thariqah al Mu’tabarah an Nahdliyyah). Dikisahkan pada tanggal 2 Agustus 2009 ada beberapa mahasiswa yang menemui dan berdiskusi dengan beliau. Gagasan dan visi pergerakan mahasiswa tersebut disambut beliau dengan penuh apresiatif.

Bahkan setelah mendengarkan deskripsi tentang fenomena pergerakan mahasiswa yang cenderung radikal dan pragmatis, dengan spontan, Habib Luthfi mengatakan: “Kita dirikan MATAN”. Ditanya oleh Kang Hamdani “Apa MATAN itu Mbah?”, beliau menjawab “MATAN itu singkatan Mahasiswa Ahlit Thoriqoh Al-Mu’tabaroh An-Nahdliyyah”.

Habib Luthfi pun berharap besar dengan MATAN, hingga beliau mengucapkan “Saya ingin lahir mursyid-mursyid dari MATAN!”.

Akhirnya berselang beberapa tahun, atas arahan dan masukan dari Habib Luthfi bin Yahya, deklarasi MATAN dapat dilakukan bersamaan dengan Muktamar XI JATMAN di Pondok Pesantren Al-Munawariyyah Bululawang Malang Jawa Timur pada tanggal 10 – 14 Januari 2012 M / 16 – 20 Shafar 1433 H.

Berikut ini merupakan pesan penting dan amanat yang disampaikan oleh Habib Luthfi kepada seluruh kader MATAN di Indonesia.

Adik-adik mahasiswa yang saya hormati, saya selaku orang yang mempunyai inisatif berdirinya MATAN sekaligus mempunyai tujuan MATAN. Agar membuat suatu haibah atas nama MATAN, saya berani membai‟at saudara-saudara hanya bersifat tabarukan saja, setelah saya mengambil bai‟at saudara agar terhindar dari dosa-dosa besar,hal tersebut kami menyadari bahwa saudara adalah kaula muda yang emosinya kadang belum terkontrol, adakalanya satu bulan diamalkan setelah itu seterusnya malah ditinggalkan, oleh karena itu saya selaku orang tua tidak membait saudara dengan bai‟at mutlak tetapi niat kita berthoriqoh dengan tabarukan, sewaktu-waktu kita tidak mengamalkannya niatnya saja tabarukan tidak berdosa.

Mahasiswa ada dua kalimat, pertama “maha” dan kedua “siswa”, dengan satu kalimat “maha” sudah menunjukan karakter intelektualitas, keilmuan, individu, kepribadian dan disilpin keilmuan, maka dalam kalimat “maha” menunjukan prilaku yang diberi ilmu sejauh mana membawa visi dan misi tersebut kedalam kesiswaan, kalimat “maha” bukan suatu yang wah sebab kalimat maha sudah diatas segalanya dan banyak digunakan untuk menjunjung sifat-sifat Allah SWT,Maha Mengetahui, Maha Adil, Maha Bijaksana, Maha dari berbagai sifat kalimat“maha” peganti dari pada kalimat keagungan, kalimat “maha” itu tidak ada duanya.

Ke-maha-an yang ada dalam kesiswan ini adakah predikat simbolis? ataukah dengan dasar mengangkat nilai kemahanan tersebut kita mampu merealisasikanya dalam kehidupan sehari- hari, yang pertama hubungan dengan Allah SWT,rasul, para sahabat dan para ulama, yang menjadi penyambung dari ulama- ulama yang terdahulu, apa yang dibawa oleh para ulama terdahulu? dengan modal kemahaan yang istimewa sekali untuk menjabarkan ayat perayat dalam al-Quran, karena kalau kita tidak memiliki dengan istilah “maha”, sulit untuk bisa menafsirkan ayat ayat yang telah diturunkan oleh baginda Nabi SAW.

Thoriqoh ini bukan mengandalkan lafadz laaillaha illallah saja, kalau ideologi kita kuat adalah pembentukan SDM , sejauh mana kita bisa mengelola wafima rozaqnaakum, mestinya kalian harus berperan aktif untuk negara kita Indonesia, semua ini dipundak kalian, tolong jaga ke-maha-an ini karena apa adanya MATAN mau tidak mau walau pun kita pandai didunia kita pasti mengalami kekurangan, kelemahaan dan kemunduran. Maka dari itu dipundak kalian MATAN yang disiplin ilmu intelektual bisa menunjukan inilah ahli ushuluddin, orang-orang yang laaillaha illallah. Ahli thoriqoh itu ada di pundak kalian. Apakah kita menantikan belas kasihan orang lain? itulah harapan saya sebagai Rois Aam thoriqoh, tolong satu pesan saya cuma tiga kalimat “jangan kecewakan saya!!!”.

Malang, 19 Shafar 1433 H / 13 Januari 2012 M.

Sumber: SOP dan JUKNIS MATAN

Continue Reading

Thariqah

Sholawat Thoriqiyah Beserta Artinya

Published

on

By

Allahumma shalli wasallim ‘ala ۞ Muhammadin wa alin washahbin ajma’in.

Allahummahdina ath-thariqal mustaqim ۞ Thariqan minallahi Rabbil ‘alamin.

(Ya Allah tunjukkan kami jalan yang lurus, jalan dari Allah Tuhan semesta alam)

Allahummahdina ath-thariqal mustaqim ۞ Thariqan min ruhi Jibrilal matin.

(Ya Allah tunjukkan kami jalan yang lurus, jalan dari Malaikat Jibril al-Matin)

Allahummahdina ath-thariqal mustaqim ۞ Thariqal anbiya-i wal mursalin.

(Ya Allah tunjukkan kami jalan yang lurus, jalan para nabi dan rasul)

Allahummahdina ath-thariqal mustaqim ۞ Thariqassyuhada-i wal mujahidin.

(Ya Allah tunjukkan kami jalan yang lurus, jalan para pahlawan dan pejuang)

Allahummahdina ath-thariqal mustaqim ۞ Thariqal khulafa-i warrasyidin.

(Ya Allah tunjukkan kami jalan yang lurus, jalan para Khulafaur Rasyidin)

Allahummahdina ath-thariqal mustaqim ۞ Thariqal ‘ulama-i wal ‘amilin.

(Ya Allah tunjukkan kami jalan yang lurus, jalan para ulama dan pengamal)

Allahummahdina ath-thariqal mustaqim ۞ Thariqal auliya-i wal mukhlishin.

(Ya Allah tunjukkan kami jalan yang lurus, jalan para wali dan orang-orang yang ikhlas)

Allahummahdina ath-thariqal mustaqim ۞ Thariqassu’ada-i wal fa-izin.

(Ya Allah tunjukkan kami jalan yang lurus, jalan orang-orang yang menang dan bahagia)

Allahummahdina ath-thariqal mustaqim ۞ Thariqal atqiya-i wasshalihin.

(Ya Allah tunjukkan kami jalan yang lurus, jalan orang-orang yang bertaqwa dan shaleh)

Allahummahdina ath-thariqal mustaqim ۞ Thariqal budala-i wal qanithin.

(Ya Allah tunjukkan kami jalan yang lurus, jalan para wali abdal dan ahli ibadah)

Allahummahdina ath-thariqal mustaqim ۞ Thariqal ashfiya-i wadzdzakirin.

(Ya Allah tunjukkan kami jalan yang lurus, jalan para sufi dan  ahli dzikir)

Continue Reading

Thariqah

Zawiyah Arraudhah dan Jatman DKI Jakarta akan Berikan Ijazah Sanad Kitab Syeikh Yasin Al-Fadani Besok

Published

on

By

Jakarta, Jatman.or.id – Zawiyah Arraudhah Ihsan Fondation berkolaborasi dengan Idaroh Wustho Jamiyyah Ahlith Thoriqoh Al-Mu’tabaroh An-Nahdliyyah (Jatman) DKI Jakarta akan mengadakan Maulid Nabi Muhammad Saw 1442 H, besok Sabtu (14/11). Maulid Nabi seperti biasa diadakan setiap tahunnya dengan istilah ‘Maulid Anwar’.

Menurut pantauan Jatman Online, acara Maulid Anwar 1442 H akan diadakan di Zawiyah Arraudhah Jl. Tebet Barat VIII No. 50, Kec. Tebet, Jakarta Selatan.

Acara ini akan dihadiri oleh Maulana Syeikh Dr. Abdul Mun’iem bin Abdul Aziz bin Al Shiddiq Al Ghumary Al Hasani (Muryid Thoriqoh Syadziliyah Darqowiyah) melalui Video Conference dari Maroko. Kemudian Syeikh Muhammad Yasin Al-Qadiri Al-Pakistani dari Pakistan, KH. Ahmad Marwazie Al-Batawi Al-Makki, KH. Dr Syamsul Maarif Ketua PWNU DKI Jakarta.

Dalam acara tersebut terdapat rangkaian Khataman dan Ijazah Sanad Kitab a-l-Arbaun al-Buldaniyah karya Syaikh Muhammad Yasin Al-Fadani ra. yang akan dibacakan langsung oleh muridnya yaitu KH. Ahmad Marwazie Al Batawi.

Bagi para peserta atau jamaah yang ingin menghadiri acara tersebut, bisa menghubungi langsung nomor admin Zawiyah Arraudhah 0877-8805-8845 atau daftar di link bit.ly/40Buldaniyah dan para jamaah agar mempersiapkan infaq terbaiknya minimal Rp.50.000 (Infaq Kitab).

Semoga acara tersebut para peserta dan jamaah mendapatkan ilmu dan pancaran dari para masyayikh, wali Quthb dan kanjeng Rasulullah Saw.

Continue Reading

Facebook

Trending