Ma'ruf al-Karkhi, Penyempurna Teori Mahabbah dalam Tasawuf

November 1, 2023
Ma'ruf al-Karkhi, Penyempurna Teori Mahabbah dalam Tasawuf

Ma’ruf al Karkhi adalah sufi yang tinggal di Baghdad. Tahun kelahirannya tidak diketahui dengan jelas dan hanya diketahui wafatnya saja yaitu pada tahun 200 H/815 M. Jika dilihat dari namanya, ia berasal dari Karkh yang menurut sebagian pakar sejarah merupakan bagian dari Kota Baghdad dan menurut sebagian lagi berada di sebelah timur dari Kota Baghdad.

Menurut pakar sejarah, kedua orangtuanya beragama Kristen dan menurut pendapat lain menganut agama Sabiah. Diriwayatkan ketika Mak’ruf menginjak usia remaja, ia sangat menentang ajaran gurunya dan mengatakan bahwa Allah merupakan salah satu oknum Tuhan. Karena pendapatnya berbeda dengan gurunya, ia dipukul oleh gurunya dan melarikan diri. 

Karena kedua orangtuanya telah kehilangan anak yang dicintainya dan amat mengharapkan kepulangan anaknya itu, mereka berjanji bahwa agama apapun yang dianut oleh anaknya nanti akan dianut pula oleh mereka, asalkan anaknya tersebut mau pulang. Setelah sekian lama Ma’ruf memeluk Islam di bawah bimbingan Ali Musa al Ridla, akhirnya ia pulang dengan mengatakan bahwa ia telah memeluk Islam. Kedua orangtuanya pun kemudian mengikuti pilihan anaknya itu.

Ma’ruf belajar ilmu agama Islam dari sejumlah ulama yang ada di Baghdad, di antaranya Daud al Thai, Bakar bin Humais dan Farqad as Sabukhi. Karena ketekunannya dan ketabahannya dalam menuntut ilmu pengetahuan, khususnya ilmu tasawuf, ia berhasil menjadi sufi terkemuka di Baghdad. Ia membuka halaqah pengajian. Di antara murid-muridnya, ada yang terkenal bernama Sari at Saqati.

Selain menjadi seorang sufi, ia juga dikenal di kalangan fuqaha sebagai seorang yang faqih. Diriwayatkan, bahwa Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam Ibnu Main berdiskusi tentang sujud sahwi dan keduanya belum sepakat. Agar lebih jelas, mereka berdua kemudian menanyakan perihal tersebut kepada Ma’ruf al Karkhi. Kemudian ia menjawab dari sudut pandang tasawuf. Katanya, sujud sahwi merupakan hukuman kepada hati karena lalai mengingat Allah.

Ma’ruf al Karkhi merupakan tokoh yang turut mengembangkan ilmu tasawuf. Ia menambahkan hasil perolehan jiwa dari mahabbah (cinta) yang dirasakan oleh Rabiah al Adawiyah. Menurutnya, cinta harus dilanjutkan sampai titik tuma’ninah (ketenangan jiwa). Karena cinta dan ketenangan itulah yang menjadi tujuan tasawuf. Kebahagiaan yang sebenarnya dan kekal bukanlah kekayaan harta benda, melainkan kekayaan hati. Kekayaan hati hanya dapat dicapai melalui makrifah (pengenalan) terhadap yang dicintai. Apabila yang dicintai telah dikenal, terwujudlah kebahagiaan dan ketentraman dalam hati dan menjadi kecil segara urusan kebendaan dalam penglihatan hati.

Ma’ruf al Karkhi dipandang oleh peneliti tasawuf sebagai tokoh yang penting dalam memunculkan teori baru dalam tasawuf yaitu makrifah sebagai inti ajaran tasawuf. Jika sebelumnya ajaran tasawuf baru berkisar antara zuhud dan tekun beribadah untuk memperoleh keridlaan Allah, maka tasawuf yang dibawa oleh Ma’ruf al Karkhi mengantarkan pada hakikat dan sama sekali tidak bergantung kepada makhluk.

Menurut para sufi, Ma’ruf al Karkhi dikuasai oleh perasaan cinta yang membara kepada Allah seperti halnya Rabiah al Adawiyah. Berkenaan dengan cinta kepada Allah, Ma’ruf mengatakan bahwa cinta kepada-Nya tidaklah diperoleh dari pengajaran. Itu merupakan pemberian atau karunia Tuhan. Menurutnya, Cinta kepada Allah bukanlah maqam (posisi yang didapat melalui usaha), tetapi masuk dalam hal (keadaan jiwa) yang dikaruniakan oleh Allah.