KH. Ali M. Abdillah Ungkap Ajaran Tasawuf Syekh Abdur Rauf as-Sinkili di Aceh Mengandung Nilai Moderasi Beragama

Desember 2, 2023 - 22:54
Desember 2, 2023 - 23:09
 0
KH. Ali M. Abdillah Ungkap Ajaran Tasawuf Syekh Abdur Rauf as-Sinkili di Aceh Mengandung Nilai Moderasi Beragama

Bekasi, JATMAN Online – Sekretaris Awwal Idaroh Aliyah Jam’iyyah Ahlith Thariqah al Mu’tabarah an Nahdliyyah (JATMAN) KH. Ali M. Abdillah menjelaskan Aceh pada masa lalu memiliki peranan penting sebagai pusat perdagangan internasional dan pusat penyebaran ajaran tasawuf di Nusantara.

"Menurut sejarah, agama Islam masuk ke nusantara pada abad ke-14 M dibawa oleh para sufi dengan menggunakan pendekatan budaya, mengedepankan nilai lokal dan humanis sehingga Islam dapat diterima dengan baik oleh Masyarakat," kata Kiai Ali.

Hal tersebut disampaikan KH. Ali M. Abdillah dalam kegiatan Penyusunan Hasil Evaluasi dan Pelaporan Kegiatan “Moderasi Beragama dalam Manuskrip Karya Syekh Abdur Rauf As-Sinkili Aceh” oleh Balai Litbang Agama Jakarta (BLAJ) di Hotel Aston Imperial Bekasi, pada tanggal 1-2 Desember 2023.

Menurutnya, hal ini tidak terlepas dari peran para sufi zaman dahulu yang menyebarkan ajaran Islam dengan damai. Pada zamannya ulama-ulama menorehkan karyanya dalam bentuk manuskrip yang mana isinya sarat dengan ilmu pengetahuan pada zaman dahulu salah satunya yaitu Abdur Rauf al-Singkili.

"Abdur Rauf al-Singkili berhasil mengharmoniskan aspek syariat dan hakikat sehingga terjadi harmoni dan keselarasan dalam praktek yang sejalan dengan ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah. Ajaran tasawuf Shyekh Abdur Rauf al-Singkili memiliki pengaruh besar di Nusantara dalam menyebarkan ajaran tasawuf Martabat Tujuh melalui jaringan murid-muridnya," jelasnya.

Pengasuh Ponpes Al-Rabbani Islamic College ini menyampaikan untuk mengetahui kontekstualisasi ajaran tasawuf Abdur Rauf al-Sinkili di Aceh dapat dilihat dari empat aspek indikator moderasi beragama.

"Aspek kebangsaan. Sulthanah Syafiyatuddin mengangkat Syekh Abdur Rauf al-Sinkili sebagai Syekh Islam berkedudukan sebagai Qadhi Malik al-Adil menggantikan Syekh Saifur Rijal. Syekh Abdur Rauf al-Sinkili sebagai ulama yang memiliki kedalaman ilmu dapat memberikan solusi atas persoalan yang dihadapi oleh umat dan kesultanaan saat itu. Syekh Abdur Rauf menjadi mufti kesultanan Aceh selama empat Sultanah," paparnya.

Sekretaris Komisi Penelitian, Pengkajian dan Pengembangan MUI Pusat ini menceritakan Sultanah Syafiatuddin meminta Syekh Abdur Rauf membuat kitab yang dijadikan undangan-undang di Kesultanan Aceh.

"Syekh Abdur Rauf dengan menulis kitab Mir’at Thullab yang berisi hukum-hukum Islam baik terkait muamalah maupun Jinayah dengan bahasa Melayu. Kitab ini merujuk pada kitab Fath al-Wahhab karya Shaykh Zakariya al-Anshari dengan penambahan-penambahan sebagai hasil ijtihad Shaykh Abdur Rauf al-Sinkili untuk menjawab persoalan umat saat itu," terangnya.

Aspek Toleransi, menurutnya, Syekh Abdur Rauf al-Sinkili sebagai ulama Ahlussunnah Wal Jamaah dalam fikih mengikuti mazhab Syafii dari empat mazhab fikih, dalam tasawuf mengikuti penafsiran ortodoksi yang berpegang pada al-Qur’an dan Hadits serta berpegang pada prinsip akidah Asy’ariyah.

"Dalam bertarekat mengikuti tarekat yang memiliki sanad muttasil dari guru ke guru sampai Rasulullah SAW. Berpegang pada prinsip keagamaan Ahlussunah wal-Jamaah akan melahirkan sikap moderat dan toleran dalam kehidupan sehari-hari," jelasnya.

Terkait aspek Anti Kekerasan, kata Ketua MATAN DKI Jakarta ini, dalam kitab Tanbih al-Masy terdapat ajaran tasawuf Syekh Abdur Rauf al-Sinkili yang melarang keras melakukan kekerasan verbal seperti melakukan ghibah dan menuduh takfiri kepada orang lain.

"Sebab kekerasan verbal yang didasari doktrin takfiri dapat menjadi pemicu kekerasan fisik karena orang yang dianggap kafir dihukumkan halal darahnya untuk dibunuh. Selain itu, ada pemicu kekerasaan lain yaitu faktor politik," ujarnya.

Aspek Lokalitas, lanjutnya, Syekh Abdur Rauf al-Sinkili memiliki banyak karya lintas disipin keilmuan, ada kitab fikih, kitab tasawuf, kitab tasfir, bidang hadits. karya-karya tersebut ada yang ditulis dengan Bahasa arab tapi ada juga yang ditulis dengan bahasa melayu.

"Kitab tafsir Tarjuman al-Mustafid sebagai kitab tafsir pertama yang ditulis menggunakan bahasa Jawa (Arab Melayu). Selain itu, masih banyak lagi kitab-kitab lain yang ditulis dengan bahasa Jawa Melayu," imbuhnya.

Ketua Program Studi Sejarah Peradaban Islam S2 Unusia Jakarta ini menyimpulkan bahwa ajaran tasawuf Syekh Abdur Rauf as-Sinkili mengandung nilai-nilai Moderasi Agama yang telah terbukti memiliki pengaruh besar di Nusantara pada Abad ke-17 hingga 19 M mulai dari Aceh, Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, NTB, Buton, Pattani Thailand, Mindanao Philipina dan Trengganu Malaysia.

Dari hasil kajian tersebut, kata Kiai Ali, perlunya Pemerintah Aceh memiliki perhatian serius dalam pelestarian manuskrip para ulama Aceh dengan melakukan restorasi, digitalisasi dan kajian-kajian akademik melihat begitu banyak manuskrip dan peran yang begitu penting ulama Aceh dalam membangun peradaban nusantara.

"Selanjutnya prinsip-prinsip tasawuf dan tarekat yang dikembangkan oleh Syekh Abdur Rauf as-Sinkili bisa menjadi inti praktek Moderasi Beragama di Aceh dan yang terakhir perlunya dayah-dayah Aceh untuk menghidupkan kembali apa yang sudah diajarkan oleh Syekh Abdur Rauf as-Sinkili dan ulama lainnya sehingga asupan ruhani masyarakat terpenuhi," ungkapnya.