Connect with us

Kitab

Jalan Hamba Menuju Pintu Takwa

Resensi: Idris Wasahua, Redaktur JATMAN Online

Published

on

Syekh Abdus Shamad al-Palimbani

Syekh Abdus Shamad al-Palimbani, penulis buku ini adalah seorang ulama Nusantara asal Palembang yang hidup pada masa 1704-1789 M. Buku ini merupakan gabungan dua kitab Karya Syekh Abdus Shamad al-Palimbani yang ditulis dalam Bahasa arab dengan judul “Hidayatus Salikin fi Suluk Maslaki Muttaqin” dan “Anisul Muttaqin”. Karena gabungan dua kitab, pembahasannya dibagai dalam dua bagian, dimulai dari kitab “Hidayatus Salikin fi Suluk Maslaki Muttaqin”, yang terdiri dari 7 bab dan bagian penutup.

Bab 1 tentang Aqidah, Bab 2 tentang Taat Zhahir, Bab 3 tentang Menjauhi Maksiat Zhahir, Bab 4 tentang Menjauhi Maksiat Bathin, Bab 5 tentang Taat Batin, Bab 6 tentang Fadhila Adab dan Tata Cara Dzkir, Bab 7 tentang Adab Hubungan Kepada Allah & Pergaulan Terhadap Manusia, dan bagian penutup tentang Adab Berkenalan.

Sedangkan pada kitab “Anisul Muttaqin’ terdiri dari 5 bab, yakni Bab 1 tentang Lalai dan Tafakur, Bab 2 tentang Penjelasan Ilmu dan Kebodohan, Bab 3 tentang Penjelasan Akal dan Kebodohan, bab 4 tentang Orang Fakir dan Dunia, dan Bab 5 tentang Penjelasan Tawakal dan Tamak. Untuk melengkapi buku ini, penerbit menambahkan pula biografi Syekh Abdus Shamad al-Palimbani, meliputi tempat kelahiran, pendidikan dan pemikiran, wafatnya, dan alasan kenapa makam Syekh Abdus Shamad al-Palimbani berada di Thailand. Kedua kitab tersebut membahas tentang tasawuf akhlaqi yang dipelopori oleh Imam al-Ghazali. Pada kitab Hidayatus Salikin, Syekh Abdus Shamad menerjemahkan dan mensyarah kitab Bidayatul Hidayah karya Imam al-Ghazali, yang memuat tema-tema pendidikan karakter yang kental. Sedangkan pada kitab Anisul Muttaqin, pembahasannya meliputi tiga persoalan pokok. Pertama, anjuran untuk selalu berkata benar. Kedua, mengikhlaskan seluruh perbuatan hanya kepada Allah SWT. Ketiga, menyucikan hati setiap saat. Semua tema pembahasan itu pada intinya memusatkan perhatian pada cara pencapaian makrifat kesufian melalui pembersihan batin dan penghayatan ibadah menurut syariat Islam.

Sebagai sebuah kitab Tasawuf, topik pembahasan dalam buku ini tidak terbatas pada amaliah-amaliah zahir, namun meliputi pula amaliah-amaliah bathin yang menjadi karakteristik dari ajaran tasawuf.

Pembahasan kitab “Hidayatus Salikin fi Suluk Maslaki Muttaqin” diawali dengan mukadimah yang menjelaskan tentang arti Ilmu yang bermanfaat, yakni sesuatu yang menambah rasa takut kepada Allah, bertambah dalam mengetahui kejelakan diri, bertambah ibadah kepada Allah, berkurang kecintaan pada dunia, bertambah kerinduan pada akhirat, terbuka mata hati akan sesuatu yang bisa menghapus amal, berusaha menjaga diri, dan bisa melihat bagaimana tipu daya setan. Ilmu yang bermanfaat ini sangat utama dalam Islam. Beberapa hadits Nabi terkait hal ini antara lain yang artinya: “Manusia yang paling utama adalah orang mukmin yang alim dan bermanfaat jika dibutuhkan, jika ia tidak dibutuhkan, maka ia mencukupi dirinya”. Sayyidina Abdullah Abbas RA berkata: Derajat para ulama itu lebih mulia 700 derajat di atas kaum muslimin, jarak antara satu derajat dengan derajat lainnya adalah sejauh 500 tahun. Dalam bab 1 tentang aqidah, dijelaskan bahwa Allah itu Esa, tidak ada sekutu baginya. Allah itu tunggal, tiada banding bagi-Nya. Allah itu ada sejak dahulu, tiada bagi-Nya permulaan. Allah itu kekal, tiada kesudahan bagi-Nya. Allah itu maha suci, tiada menyerupai segala ciptaan-Nya. Hal-hal tersebut harus diketahui dan diyakini oleh seorang yang telah baligh dan berakal.

Pada bab 2 tentang taat zahir, dijelaskan tentang ketaatan dalam ibadah-ibadah zahir, yang berisi petunjuk, amalan, yang bersumber dari al-Qur’an dan hadits berkaitan dengan adab buang air besar & kecil, adab berwudhu, adab mandi, adab tayamum, adab pergi ke Masjid, adab masuk Masjid sampai terbit matahari, adab ibadah sejak terbit hingga terbenamnya matahari, adab persiapan menjalankan shalat, keutamaan shalat tasbih, faedah shalat istikharah, faedah shalat hajat, adab shalat, adab imam dan makmum, adab pada hari Jumat, dan adab puasa. Menurut Imam al-Ghazali, ibadah-ibadah yang diperintahkan Allah adakalanya ada yang wajib adan yang sunnah. Ibadah wajib bagaikan ra’sul mal (modal perniagaan), sedangkan ibadah sunnah adalah laba (keuntungan) dari perniagaan.

Dalam bab 3 tentang menjauhi maksiat zahir, disebutkan bahwa seluruh anggota tubuh kita bagaikan rakyat yang kita pimpin. Sebagaimana halnya pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya, kita pun akan dimintakan pertanggungjawaban atas seluruh anggota tubuh kita. Karenanya, seluruh anggota tubuh kita dengan fungsinya masing-masing harus digunakan dalam tuntunan Agama.

Pada bab 4 tentang maksiat batin, maksiat batin merupakat maksiat yang ada dalam hati meliputi segala perangai jahat dan sifat-sifat tercela, antara lain seperti: Riya, takabur, cinta dunia, Ujub, dengki, dan kikir. Sifat-sifat ini wajib dijauhi, dan bagi yang telah terjangkit wajib mensucikan hatinya dari sifat-sifat tersebut. Dalam Q.S. As-Syams ayat 8 Allah berfirman: “Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu”. Menurut Imam al-Ghazali, Hadits Nabi SAW yang artinya: “Kebersihan itu Sebagian dari iman”, bermakna mensucikan hati dari sifat tercela dan memperbaikinya dengan sifat terpuji.

Dalam bab 5 tentang taat batin, lain halnya dengan taat zahir yang bersifat fisik, taat batin merupakan ibadah yang ada di dalam hati. Beberapa diantaranya yakni; zuhud, sabar, bersyukur, ikhlas, tawakkal, ridha atas takdir Allah, dan mahabbah (Cinta kepada Allah). Mahabbah ini merupakan salah satu martabat tertinggi yang akan menghantar seseorang kepada makrifat. Nabi SAW bersabda: “Setiap sesuatu punya sumber, dan sumber ketakwaan adalah hatinya orang-orang yang makrifat kepada Allah”. Cinta kepada Allah memiliki beberapa ciri yakni; mendahulukan apa yang diperintahkan Allah daripada yang disenanginya, selalu mengingat kematian, benci terhadap godaan maksiat dunia serta hatinya tidak condong pada harta dunia.

Dalam bab 6 tentang fadhilah, adab dan tata cara dzikir, disebutkan bahwa Syekh al-Murshafi dalam kitabnya Manhajus Salik ila Asyrafil Masalik mengemukakan 35 keutamaan bagi ahli zikir dibandingkan ibadah lainnya, antara lain; Allah akan selalu menyebut diri ahli zikir. Allah berfirman: “Ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat pula kepadamu”. Ahli zikir sangat dekat dengan Allah seakan tidak ada penghalang sebagaimana firman Allah dalam hadits qudsi: “Aku Bersama hambah-Ku Ketika ia mengingat-Ku”. Terdapat 2 jenis zikir, zikir jahr (Suara keras), dan zikir sir (Suara perlahan).

Bab 7 tentang adab hubungan kepada Allah dan pergaulan terhadap manusia, meliputi adab orang alim, adab pelajar, adab anak kepada orang tua, dan adab berteman. Beberapa adab dari 17 adab orang alim yang dikemukakan dalam buku ini adalah: menanggung dan menerima risiko apapun dari seorang murid, baik pertanyaan atau pekerjaan yang memberatkan. Orang alim hendak bersikap sabar dan tidak lekas emosi kepada muridnya, dan jangan malu berkata tidak tahu atau mengucapkan “wallahu a’lam” jika masih ragu atas jawaban suatu masalah yang belum jelas persoalannya. Adab pelajar antara lain: jangan banyak bicara di depan guru, jangan bertanya kepada guru sebelum meminta izin, jangan berbisik dengan orang lain di depan guru, dan jangan berburuk sangka kepada guru jika melihat perbuatannya berlainan dengan i’tikad kita atau berlainan dengan perbuatan kita, karena guru lebih mengetahui rahasia-rahasianya seperti kisah Nabi Khidir dan Nabi Musa. Adab anak kepada orang tua antara lain: jangan meninggikan suara melebihi suara Ibu dan Bapak, bersungguh-sunggu dalam nenuntut keridhaan orang tua dengan perkataan atau perbuatan serta merendahkan diri, dan jangan memandang kepada mereka dengan pandangan yang menyakitkan atau yang membuat mereka marah. Adab berteman antara lain: menutupi rahasia teman, menutup aibnya, turut bergimbira atas keberhasilannya dan sedih atas musibah yang menimpanya, dan memaafkan kesalahannya. Pada bagian penutup tentang adab berkenalan disebutkan bahwa manusia itu terdiri dari tiga perkara. Pertama, sahabat kita, yakni teman dan kekasih kita, kedua, orang yang kita kenal, dan ketiga, orang yang kita tidak kenal. Dalam memilih teman, hendaknya menghindari teman-teman yang dapat menjerumuskan kita ke jalan kesesatan, dan mencari teman yang menghantarkan kita kepada kebaikan. Qadi Ibnu Ma’ruf berkata: “Hati-hati terhadap musuhmu sekali dan berhati-hatilah terhadap temanmu seribu kali”.

Pada kitab Anisul Muttaqin bab 1 tentang Lalai dan Tafakur, dijelaskan bahwa kelalaian dapat mecegah berbagai kebaikan. Kelalaian merupakan kekufuran bagi seorang salik dan kesesatan bagi bagi orang bertaqwa, karena lalai dapat mendatangkan dosa, dan dosa dapat mengakibatkan kekufuran. Kelalaian juga merupakan sesuatu yang lebih memabukan yang lebih jelek dari minuman keras, karena minuman keras menutupi akal sedangkan kelalaian menutupi kebenaran. Dalam bab 2 tentang Ilmu dan Kebodohan, dijelaskan bahwa ilmu tidak akan bermanfaat tanpa amal, sedangkan amal tidak akan bermanfaat tanpa ikhlas. Alangkah mengherankan jika ada orang yang puas karena ilmunya meskipun tidak beramal. Pada bab 3 tentang Akal dan Kebodohan, dijelaskan bahwa orang berakal adalah orang yang meninggalkan dunia sebelum dunia meninggalkannya, beramal untuk bekal di alam kubur sebelum ia dimasukan ke dalam kubur, dan Allah ridho kepadanya sebelum ia bertemu dengan Allah. Dalam bab 4 tentang Orang Fakir dan Dunia, dijelaskan bahwa kefakiran lebih baik dari semua kebaikan karena kefakiran mengandung enam perkara, tiga di dunia, yakni selalu senang bertambhanya ibadah, dan berkurangnya musuh, dan tiga di akhirat, yakni sedikit hisab, tercegah dari siksa, dan perolehan pahala. Sedangkan dalam bab 5 tentang Tawakal dan Tamak, dijelaskan bahwa tidak ada pemimpin di dunia selain tawakal, karena tawakal membebaskan seseorang dari kecemasan dan kesedihan. Selain itu tawakal juga merupakan amal yang utama dan wajib bagi kaum muslimin sebagaimana firman Allah “Hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”. Tawakal juga lebih utama dari zuhud, karena zuhud tidak akan berhasil dengan baik kecuali disertai tawakal. Adapun tamak, adalah sama dengan syirik karena tamak menyebabkan syirik. Orang yang tamak tercegah dari semua kebaikan dan nikmat Allah.

Buku ini sangat bermanfaat dibaca terutama bagi kaum “Salik” (Penempuh jalan spiritual dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah), maupun para pemula pengenal dunia tasawuf/thoriqah. Dengan membaca buku ini, kita menjadi semakin sadar mengenai adanya perbuatan-perbuatan maksiat (dosa) batin yang selama ini tanpa sadar sering kita lakukan, karena menganggap perbuatan-perbuatan maksiat (dosa) hanya terbatas pada bentuk zahir.

Glossary Tasawuf

جامع الأصول في الأولياء – معجم الكلمات الصوفية

السيد أحمد النقشبندي الخالدي

Published

on

Glossary Tasawuf

Mukadimah

Tidak diragukan, penggunaan orientasi sufisme dan budaya sufisme untuk memahami ungkapan dan istilah khusus mereka, menjadi tugas yang sangat sulit bagi pembaca. Terutama, jika ungkapan dan istilah tersebut sengaja menggunakan bahasa yang pemahamannya berkaitan dengan indikasi keimanan dan dimensi intuisi.

Ternyata, penulis telah menyadari tugas itu dan berdedikasi membuat pengantar yang sempurna. Di akhir bukunya, dia menulis kamus kosa kata sufi untuk menjelaskan konsep-konsep, yang dinamai “definisi-definisi”. Meskipun dia secara total menggunakan bahasa elite, tetapi dia menghendaki bukunya untuk umum. Di dalam bukunya, dia melakukan klasifikasi konsep-konsep dan indikasi-indikasi ke dalam tiga kategori yang penjelasannya ditujukan kepada umum, elite, dan super elite. Oleh karena itu, penulis menerbitkan sebuah buku yang komprehensif tentang tema tarekat sufisme, macam-macamnya, penjelasan substansinya, dan syarat-syarat murid, untuk pembaca di setiap ruang dan waktu.

Gaya langka yang digunakan penulis di awal bukunya, yang menulis “Ini tiada tandingan dan tiada lagi”, menunjuk dengan jelas kepada standar buku Arab terdahulu pada abad-abad yang lalu dan penghormatan penulis kepada pembaca mengenai isi sistematika kepenulisan, jika boleh dikatakan, di berbagai standar. Maka, buku ini tidak dilahirkan kecuali setelah menjadi pekerjaan sempurna dan komplementer yang menyentuh tema, penjelasan, perincian, dan menyampaikan berbagai titik perspektif secara menyeluruh. Untuk mencapai level ini, disyaratkan telah mendapatkan perhatian para ilmuwan dan para tokoh pemikiran lain yang mendukung dan memberi “kesaksian” penghargaan tentang pekerjaan yang telah diselesaikan sebagai proposal yang memiliki unsur kebaruan (novelty).

Oleh karena itu, buku yang ada di hadapan kita ini telah mendapatkan ucapan selamat dari empat ilmuwan kontemporer pada waktu itu. Mereka memujinya. Salah satu dari mereka berpendapat, “(Penulis) telah menyelami, melakukannya dengan baik, dan mendisiplinkan”. Yang lain berpendapat, “(Buku ini adalah) risalah yang komplit tentang dasar-dasar tarekat dan koleksi komprehensif tentang adab-adab sufisme”.

Terakhir, semoga kita diberi taufik untuk menjaga amanah adab dan menyajikan buku yang ada di hadapan kita sebagaimana seharusnya.[Jamal]

Continue Reading

Pustaka

Kitapun Bisa Jadi Sufi

Published

on

Kitapun Bisa Jadi Sufi

Banyaknya problematika hidup yang semakin kompleks di zaman modern ini sering kali menjadikan manusia terkungkung dengan berbagai kebingungan dan tekanan-tekanan batin yang semakin tak menentu. Banyak manusia yang disibukkan dengan berbagai aktivitas duniawi yang setelah dirasa-rasakan ternyata tidak memberikan apa-apa selain kelelahan. Banyak manusia pun yang menjadi pemburu harta, sebab dikiranya dengan itu semua mereka akan menjadi mulia dan bahagia. Tetapi setelah di rasa-rasakan pemburuan terhadap harta tak lebih dari dari sekedar kelelahan, kebingungan bahkan penderitaan batin yang yang tiada ujungnya. Banyak orang yang tak merasa bahwa harta sesungguhnya telah memperbudak dirinya dan telah meracuni pikirannya. Hingga sampai pada ujungnya mereka tidak sadar bahwa harta tak sanggup memberikan kebahagiaan bagi hidupnya dan berburu harta tak semakin menjadikan manusia puas, malah menjadi makhluk yang ambisius yang tak pernah merasakan cukup.

Dalam sadar, bagi mereka yang secara materi berkecukupan dan bergelimangan harta, mereka mulai sadar bahwa ada kebahagiaan lain yang itu tidak akan diberikan oleh harta. Tetapi bagi mereka yang gagal, hidup melarat secara materi, mereka merasakan bahwa pencarian dunia malah menjadikan mereka jauh dari kebahagiaan. Pada saat seperti itulah, secara kodrati manusia lari kepada agama. Mereka mulai sadar bahwa hanya pada agama kebahagiaan hakiki akan diketemukan.

Dalam berbagai kasus, banyaknya masalah-masalah hidup yang tak kunjung habis membuat manusia mencari jalan alternatif untuk mengatasi masalah-masalahnya. Dan salah satu alternatif tersebut adalah dalam tasawuf. Fakta membuktikan bahwa kian banyak orang memasuki dunia mistik dalam islam ini. Hal ini juga terbukti dengan banyaknya orang-orang yang masuk dalam suatu tarikat maupun mengikuti jamaah dzikir yang diadakan oleh para pecinta Tuhan itu. Juga bisa dilihat dalam penerbitan sekaligus penjualan buku-buku tentang tasawuf yang semakin marak. Gejala ini menunjukkan bahwa tasawuf ternyata banyak diminati oleh banyak orang sebagai cara alternatif untuk mencapai ketenangan batin. Sayangnya masih saja banyak orang yang memasuki dunia ini dengan tanpa bekal yang memadai. Hingga secara mendasar mereka banyak salah dalam meresepsikan arti tasawuf itu sendiri sekaligus salah, bahkan cenderung menyimpang dalam mengamalkan latihan-latihan atau olah batin (riyadhah) yang merupakan ajarannya.

Berangkat dari kenyataan seperti itu kajian dalam buku ini disusun. Walaupun di sana-sini masih banyak kekurangan yang tentu selalu membutuhkan benahan, masukan atau bahkan kritikan dari pihat manapun, setidak-tidaknya buku ini mempunyai daya guna dan manfaat terutama bagi para pembaca yang ingin mengarungi dunia tasawuf.

Akhirnya, semoga Allah menilai karya yang masih jauh dari sempurna ini sebagai bentuk ibadah. Juga saya ucapkan terimakasih kepada siapa saja yang telah memberi kontribusi dalam bentuk apapun, terutama kepada keluarga, istri dan anak sehingga karya ini dapat terselesaikan. Terakhir, kepada pihak penerbit saya haturkan rasa terima kasih yang tak terhingga atas penerimaan naskah ini. Semoga Allah senantiasa membalas semua amal baik kita semua. Aamiin.[Asrifin An-Nakhrowi]

Continue Reading

Pustaka

Tasawuf Aceh; Mengungkap Kembali Khasanah Klasik Keislaman Tanah Rencong

Penulis: Sehat Insan Shadhiqin

Published

on

Tasawuf Aceh

Sejarah seakan berulang. Apa yang terjadi hari ini seolah terjadi lagi di masa depan. Mungkin saja dengan tempat dan objek yang berbeda. Namun, nilai dan hakikatnya selalu sama. Ini yang dikatakan Allah dalam al-Quran bahwa manusia mesti belajar dari apa yang dialami oleh nenek moyangnya. Apa yang baik dari mereka mesti menjadi pelajaran dan apa yang keliru yang telah mereka lakukan, maka hendaknya kita menghindarinya. Tujuannya, manusia dapat memperoleh kebahagiaan hidup di didunia dan tempat kembali yang baik di akhirat kelak.

Buku yang ada di tangan pembaca ini adalah salah satu usaha untuk menulis sebagai khasanah klasik Aceh, agar kekayaan dan kebanggaan Aceh masa lalu dapat memerikan manfaat untuk kahidupan masyarakat saat ini, bukan hanya untuk masyarakat Aceh sendiri, namun untuk umat Islam Melayu seluruhnya. Khusus bagi Aceh, khasanah pemikiran klasik ini semakin penting untuk melacak jejak Syariat Islam dalam sejarah Aceh masa lalu. Selama ini Syariat Islam selalu dikaitkan dengan kemajuan Aceh tempoe doloe.  Bagaimana mungkin ia bisa menjadi rujukan jika rujukan itu sendiri tidak jelas bentuknya? Hanya dengan studi khusus mengenai faham beragama masyarakat Aceh masa lalu sajalah kita bisa mendapatkan sebuah konstruk pemahaman dan pelaksanaan Syariat Islam masa lalu di Aceh untuk bisa menjadi pedoman dalam kehidupan masyarakat kita saat ini.

Dorongan yang paling besar dari penulisan ini adalah tumbuhnya semangat menulis dan diskusi tentang berbagai masalah di Aceh, baik yang menyangkut sejarah ataupun masalah Aceh, baik yang menyangkut sejarah ataupun masalah kontemporer di kalangan anak muda Aceh saat ini. Wacana penulisan dan pengkajian berbagai khasanah klasik Aceh mendapat porsi besar dalam pembicaraan di warung kopi dan  milis. Beberapa “anak muda gila” menginginkan diskusi tersebut menjadi sebuah relita yang tertulis. Apalag ada di antara mereka yang memiliki bukti historis mengenai sejarah Aceh masa lalu berupa benda budaya dan catatan lama (manuskrip). Sangat disayangkan jika saja potensi tersebut  tidak direalisasikan dalam wujud studi yang hasilnya dapat dimanfaatkan oleh banyak orang.

Studi ini merupakan langkah awal untuk “memotret” pemikiran dan perkembangan tasawuf di Aceh masa lalu, sekaligus realisasi  semangat yang tercecer  di warung kopi. Bagi saya tasawuf Aceh masa lalu bukanlah sekadar tasawuf sebagaimana dipahami saat ini, namun ia adalah Islam itu sendiri. Dari penelitian yang telah dilakukan mengenai Islam di Aceh pada masa lalu dan dokumen-dokumen tertulis yang diperoleh saat ini diberbagai tempat, menunjukkan kalau Islam yang berkembang di Aceh masa lalu adalah Islam dalam dimensi tasawuf. Meskipun dalam sejarah  tercatat Ar-Raniry pernah melakukan mihnah untuk faham wujudiyah Hamzah Fansuri  dan Syamsuddin as-sumatrani, namun ia juga mengembangkan tasawuf Rifa’iyah dalam masyarakat Aceh. Berbagai buku yang dikarangnya juga tidak terlepas dari dimensi tasawuf. Hanya saja, arraniry akhirnya mempengaruhi sultan untuk memberikan tindakan politik bagai ajaran Hamzah Fansuri dan pengikutnya.

Namun demikian, saya mengakui kajian ini tidak akan sampai ke tangan pembaca tanpa bantuan beberapa antuan teman. Terutama sekali, saya ingin mengucapkan terima kasih untuk BANDAR PUBLISHING yang dimotori oleh Mukhlisuddin Ilyas , Lukman Emha, Husaini Nurdin,Tgk. Jabbar dan Khairul Umami. Atas dorongan dan motivasi, serta beberapa koreksi yang mereka berikan menjadikan buku ini menurut saya menjadi sempurna. Tanpa Mukhlis dkk, mungkin buku ini masih “bersemayam” dalam hard disk laptop, berupa out line dan draf kasar, ataupun sebuah cerita yang selalu saya lantunkan di warung kopi.

Saya juga mengucapkan terima kasih untuk  teman-teman di warkop Philo-Sophia, atas internet gratis dan tentu saja yang paling penting  adalah diskusi-diskusi “langit”. Terima ksih untuk bapak Zulkarnaini di Pustaka Paskasarjana IAIN ar-Raniry Banda Aceh, Bapak Sayed di Pustaka Ali Hasimy, dan Prof. Yusny Saby yang telah memberikan komentar untuk buku ini. Pengantar ini bukan hanya mengantarkan pembaca pada pemahaman yang benar mengenai tasawuf, namun juga mengantarkan saya memahami dengan tepat apa yang telah saya tulis.

Terima kasih ta’zim saya sampaikan kepada Nur Ibrahim NK, orang tua dan guru saya sepanjang masa. Dari beliaulah Allah curahkan saya kecintaan pada pengetahuan, dan keterbukaan hati untuk menghormati perbedaan dalam hidup. Terima kasih juga untuk iu dan adik-adik saya semuanya. Mereka semua adalah para “profesor” yang di hadapan mereka saya menjadi bodoh, bahkan untuk menyelesaikan masalah-masalah sepele sekalipun. Terima kasih juga untuk keluarga Yahbit dan Pakloet di Banda Aceh yang menjadi rumah kedua dalam kehidupan saya saat ini. Saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada saudari Cut Aina Shaharina Putri yang menjadi teman diskusi dalam masalah non teknis, apapun dalam kehidupan saya. Salam untuk bapak dan keluarga semuanya.

Saya menyadari karya ini tidaklah sempurna dan masih jauh dari sebuah studi ilmiah sebagaimana layaknya. Saya masih bahkan terlalu banyak menggunakan referensi sekunder dan bahkan beberapa di antara sebenarnya  tidak layak dijadikan rujukan. Namun saya tetap berharap, sumbangan pemikiran dan kajian ini sedikit banyak dapat bermanfaat bagi perkembangan pengetahuan dan kajian sejarah di Aceh. Dan yang paling penting, ini dapat menjadi semangat awal bagi teman-teman kelompok diskusi yang selama ini hanya membuang ide di bawah kolong meja kedai kopi. Mari kita mulai menulis! Saya tidak mau mendengar apa yang ada katakan, tapi saya mau membaca apa yang anda pikirkan.[]

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending