Connect with us

Kitab

Jalan Hamba Menuju Pintu Takwa

Resensi: Idris Wasahua, Redaktur JATMAN Online

Published

on

Syekh Abdus Shamad al-Palimbani

Syekh Abdus Shamad al-Palimbani, penulis buku ini adalah seorang ulama Nusantara asal Palembang yang hidup pada masa 1704-1789 M. Buku ini merupakan gabungan dua kitab Karya Syekh Abdus Shamad al-Palimbani yang ditulis dalam Bahasa arab dengan judul “Hidayatus Salikin fi Suluk Maslaki Muttaqin” dan “Anisul Muttaqin”. Karena gabungan dua kitab, pembahasannya dibagai dalam dua bagian, dimulai dari kitab “Hidayatus Salikin fi Suluk Maslaki Muttaqin”, yang terdiri dari 7 bab dan bagian penutup.

Bab 1 tentang Aqidah, Bab 2 tentang Taat Zhahir, Bab 3 tentang Menjauhi Maksiat Zhahir, Bab 4 tentang Menjauhi Maksiat Bathin, Bab 5 tentang Taat Batin, Bab 6 tentang Fadhila Adab dan Tata Cara Dzkir, Bab 7 tentang Adab Hubungan Kepada Allah & Pergaulan Terhadap Manusia, dan bagian penutup tentang Adab Berkenalan.

Sedangkan pada kitab “Anisul Muttaqin’ terdiri dari 5 bab, yakni Bab 1 tentang Lalai dan Tafakur, Bab 2 tentang Penjelasan Ilmu dan Kebodohan, Bab 3 tentang Penjelasan Akal dan Kebodohan, bab 4 tentang Orang Fakir dan Dunia, dan Bab 5 tentang Penjelasan Tawakal dan Tamak. Untuk melengkapi buku ini, penerbit menambahkan pula biografi Syekh Abdus Shamad al-Palimbani, meliputi tempat kelahiran, pendidikan dan pemikiran, wafatnya, dan alasan kenapa makam Syekh Abdus Shamad al-Palimbani berada di Thailand. Kedua kitab tersebut membahas tentang tasawuf akhlaqi yang dipelopori oleh Imam al-Ghazali. Pada kitab Hidayatus Salikin, Syekh Abdus Shamad menerjemahkan dan mensyarah kitab Bidayatul Hidayah karya Imam al-Ghazali, yang memuat tema-tema pendidikan karakter yang kental. Sedangkan pada kitab Anisul Muttaqin, pembahasannya meliputi tiga persoalan pokok. Pertama, anjuran untuk selalu berkata benar. Kedua, mengikhlaskan seluruh perbuatan hanya kepada Allah SWT. Ketiga, menyucikan hati setiap saat. Semua tema pembahasan itu pada intinya memusatkan perhatian pada cara pencapaian makrifat kesufian melalui pembersihan batin dan penghayatan ibadah menurut syariat Islam.

Sebagai sebuah kitab Tasawuf, topik pembahasan dalam buku ini tidak terbatas pada amaliah-amaliah zahir, namun meliputi pula amaliah-amaliah bathin yang menjadi karakteristik dari ajaran tasawuf.

Pembahasan kitab “Hidayatus Salikin fi Suluk Maslaki Muttaqin” diawali dengan mukadimah yang menjelaskan tentang arti Ilmu yang bermanfaat, yakni sesuatu yang menambah rasa takut kepada Allah, bertambah dalam mengetahui kejelakan diri, bertambah ibadah kepada Allah, berkurang kecintaan pada dunia, bertambah kerinduan pada akhirat, terbuka mata hati akan sesuatu yang bisa menghapus amal, berusaha menjaga diri, dan bisa melihat bagaimana tipu daya setan. Ilmu yang bermanfaat ini sangat utama dalam Islam. Beberapa hadits Nabi terkait hal ini antara lain yang artinya: “Manusia yang paling utama adalah orang mukmin yang alim dan bermanfaat jika dibutuhkan, jika ia tidak dibutuhkan, maka ia mencukupi dirinya”. Sayyidina Abdullah Abbas RA berkata: Derajat para ulama itu lebih mulia 700 derajat di atas kaum muslimin, jarak antara satu derajat dengan derajat lainnya adalah sejauh 500 tahun. Dalam bab 1 tentang aqidah, dijelaskan bahwa Allah itu Esa, tidak ada sekutu baginya. Allah itu tunggal, tiada banding bagi-Nya. Allah itu ada sejak dahulu, tiada bagi-Nya permulaan. Allah itu kekal, tiada kesudahan bagi-Nya. Allah itu maha suci, tiada menyerupai segala ciptaan-Nya. Hal-hal tersebut harus diketahui dan diyakini oleh seorang yang telah baligh dan berakal.

Pada bab 2 tentang taat zahir, dijelaskan tentang ketaatan dalam ibadah-ibadah zahir, yang berisi petunjuk, amalan, yang bersumber dari al-Qur’an dan hadits berkaitan dengan adab buang air besar & kecil, adab berwudhu, adab mandi, adab tayamum, adab pergi ke Masjid, adab masuk Masjid sampai terbit matahari, adab ibadah sejak terbit hingga terbenamnya matahari, adab persiapan menjalankan shalat, keutamaan shalat tasbih, faedah shalat istikharah, faedah shalat hajat, adab shalat, adab imam dan makmum, adab pada hari Jumat, dan adab puasa. Menurut Imam al-Ghazali, ibadah-ibadah yang diperintahkan Allah adakalanya ada yang wajib adan yang sunnah. Ibadah wajib bagaikan ra’sul mal (modal perniagaan), sedangkan ibadah sunnah adalah laba (keuntungan) dari perniagaan.

Dalam bab 3 tentang menjauhi maksiat zahir, disebutkan bahwa seluruh anggota tubuh kita bagaikan rakyat yang kita pimpin. Sebagaimana halnya pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya, kita pun akan dimintakan pertanggungjawaban atas seluruh anggota tubuh kita. Karenanya, seluruh anggota tubuh kita dengan fungsinya masing-masing harus digunakan dalam tuntunan Agama.

Pada bab 4 tentang maksiat batin, maksiat batin merupakat maksiat yang ada dalam hati meliputi segala perangai jahat dan sifat-sifat tercela, antara lain seperti: Riya, takabur, cinta dunia, Ujub, dengki, dan kikir. Sifat-sifat ini wajib dijauhi, dan bagi yang telah terjangkit wajib mensucikan hatinya dari sifat-sifat tersebut. Dalam Q.S. As-Syams ayat 8 Allah berfirman: “Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu”. Menurut Imam al-Ghazali, Hadits Nabi SAW yang artinya: “Kebersihan itu Sebagian dari iman”, bermakna mensucikan hati dari sifat tercela dan memperbaikinya dengan sifat terpuji.

Dalam bab 5 tentang taat batin, lain halnya dengan taat zahir yang bersifat fisik, taat batin merupakan ibadah yang ada di dalam hati. Beberapa diantaranya yakni; zuhud, sabar, bersyukur, ikhlas, tawakkal, ridha atas takdir Allah, dan mahabbah (Cinta kepada Allah). Mahabbah ini merupakan salah satu martabat tertinggi yang akan menghantar seseorang kepada makrifat. Nabi SAW bersabda: “Setiap sesuatu punya sumber, dan sumber ketakwaan adalah hatinya orang-orang yang makrifat kepada Allah”. Cinta kepada Allah memiliki beberapa ciri yakni; mendahulukan apa yang diperintahkan Allah daripada yang disenanginya, selalu mengingat kematian, benci terhadap godaan maksiat dunia serta hatinya tidak condong pada harta dunia.

Dalam bab 6 tentang fadhilah, adab dan tata cara dzikir, disebutkan bahwa Syekh al-Murshafi dalam kitabnya Manhajus Salik ila Asyrafil Masalik mengemukakan 35 keutamaan bagi ahli zikir dibandingkan ibadah lainnya, antara lain; Allah akan selalu menyebut diri ahli zikir. Allah berfirman: “Ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat pula kepadamu”. Ahli zikir sangat dekat dengan Allah seakan tidak ada penghalang sebagaimana firman Allah dalam hadits qudsi: “Aku Bersama hambah-Ku Ketika ia mengingat-Ku”. Terdapat 2 jenis zikir, zikir jahr (Suara keras), dan zikir sir (Suara perlahan).

Bab 7 tentang adab hubungan kepada Allah dan pergaulan terhadap manusia, meliputi adab orang alim, adab pelajar, adab anak kepada orang tua, dan adab berteman. Beberapa adab dari 17 adab orang alim yang dikemukakan dalam buku ini adalah: menanggung dan menerima risiko apapun dari seorang murid, baik pertanyaan atau pekerjaan yang memberatkan. Orang alim hendak bersikap sabar dan tidak lekas emosi kepada muridnya, dan jangan malu berkata tidak tahu atau mengucapkan “wallahu a’lam” jika masih ragu atas jawaban suatu masalah yang belum jelas persoalannya. Adab pelajar antara lain: jangan banyak bicara di depan guru, jangan bertanya kepada guru sebelum meminta izin, jangan berbisik dengan orang lain di depan guru, dan jangan berburuk sangka kepada guru jika melihat perbuatannya berlainan dengan i’tikad kita atau berlainan dengan perbuatan kita, karena guru lebih mengetahui rahasia-rahasianya seperti kisah Nabi Khidir dan Nabi Musa. Adab anak kepada orang tua antara lain: jangan meninggikan suara melebihi suara Ibu dan Bapak, bersungguh-sunggu dalam nenuntut keridhaan orang tua dengan perkataan atau perbuatan serta merendahkan diri, dan jangan memandang kepada mereka dengan pandangan yang menyakitkan atau yang membuat mereka marah. Adab berteman antara lain: menutupi rahasia teman, menutup aibnya, turut bergimbira atas keberhasilannya dan sedih atas musibah yang menimpanya, dan memaafkan kesalahannya. Pada bagian penutup tentang adab berkenalan disebutkan bahwa manusia itu terdiri dari tiga perkara. Pertama, sahabat kita, yakni teman dan kekasih kita, kedua, orang yang kita kenal, dan ketiga, orang yang kita tidak kenal. Dalam memilih teman, hendaknya menghindari teman-teman yang dapat menjerumuskan kita ke jalan kesesatan, dan mencari teman yang menghantarkan kita kepada kebaikan. Qadi Ibnu Ma’ruf berkata: “Hati-hati terhadap musuhmu sekali dan berhati-hatilah terhadap temanmu seribu kali”.

Pada kitab Anisul Muttaqin bab 1 tentang Lalai dan Tafakur, dijelaskan bahwa kelalaian dapat mecegah berbagai kebaikan. Kelalaian merupakan kekufuran bagi seorang salik dan kesesatan bagi bagi orang bertaqwa, karena lalai dapat mendatangkan dosa, dan dosa dapat mengakibatkan kekufuran. Kelalaian juga merupakan sesuatu yang lebih memabukan yang lebih jelek dari minuman keras, karena minuman keras menutupi akal sedangkan kelalaian menutupi kebenaran. Dalam bab 2 tentang Ilmu dan Kebodohan, dijelaskan bahwa ilmu tidak akan bermanfaat tanpa amal, sedangkan amal tidak akan bermanfaat tanpa ikhlas. Alangkah mengherankan jika ada orang yang puas karena ilmunya meskipun tidak beramal. Pada bab 3 tentang Akal dan Kebodohan, dijelaskan bahwa orang berakal adalah orang yang meninggalkan dunia sebelum dunia meninggalkannya, beramal untuk bekal di alam kubur sebelum ia dimasukan ke dalam kubur, dan Allah ridho kepadanya sebelum ia bertemu dengan Allah. Dalam bab 4 tentang Orang Fakir dan Dunia, dijelaskan bahwa kefakiran lebih baik dari semua kebaikan karena kefakiran mengandung enam perkara, tiga di dunia, yakni selalu senang bertambhanya ibadah, dan berkurangnya musuh, dan tiga di akhirat, yakni sedikit hisab, tercegah dari siksa, dan perolehan pahala. Sedangkan dalam bab 5 tentang Tawakal dan Tamak, dijelaskan bahwa tidak ada pemimpin di dunia selain tawakal, karena tawakal membebaskan seseorang dari kecemasan dan kesedihan. Selain itu tawakal juga merupakan amal yang utama dan wajib bagi kaum muslimin sebagaimana firman Allah “Hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”. Tawakal juga lebih utama dari zuhud, karena zuhud tidak akan berhasil dengan baik kecuali disertai tawakal. Adapun tamak, adalah sama dengan syirik karena tamak menyebabkan syirik. Orang yang tamak tercegah dari semua kebaikan dan nikmat Allah.

Buku ini sangat bermanfaat dibaca terutama bagi kaum “Salik” (Penempuh jalan spiritual dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah), maupun para pemula pengenal dunia tasawuf/thoriqah. Dengan membaca buku ini, kita menjadi semakin sadar mengenai adanya perbuatan-perbuatan maksiat (dosa) batin yang selama ini tanpa sadar sering kita lakukan, karena menganggap perbuatan-perbuatan maksiat (dosa) hanya terbatas pada bentuk zahir.

Artikel

Ajaran Martabat Tujuh, Mutiara Hilang yang Ditemukan Kembali

Hamzah Alfarisi, Redaktur JATMAN Online

Published

on

By

JATMAN.OR.ID – Sabtu, 17 April 2021 pukul 20.30 WIB, PW MATAN DKI Jakarta menyelenggarakan pengajian ramadhan yang bertajuk “Kajian manuskrip kitab Al-Tuhfah Al-Mursalah” karya Syekh Fadhl Allah al-Burhanpuri via Zoom. Kajian ini merupakan bagian dari program Kajian Sufi Ramadhan yang diselenggarakan di bulan ramadhan kali ini. Sebagai anak kandung dari JATMAN, MATAN memiliki tanggung jawab untuk menyebarkan tarekat di kalangan anak muda dan kajian ini dalam rangka mewujudkan tanggung jawab tersebut. Selain kajian manuskrip ini, MATAN DKI Jakarta juga menyelenggarakan kajian kitab “Bidayatul Hidayah” karya sufi besar Imam Al-Ghazali setiap Kamis dan Jum’at pukul 20.20 WIB.

Kajian manuskrip ini diampu oleh Dr KH Ali M Abdillah, yang merupakan ketua PW MATAN DKI Jakarta sekaligus Sekretaris Komisi Pengakajian, dan Penelitian MUI Pusat. Dalam kajiannya, beliau memaparkan bahwa kitab Al-Tuhfah Al-Mursalah adalah penafsiran dari Tauhid Wujudiah Ibnu Arabi, yang bercorak tasawuf falsafi. Ajaran tasawuf falsafi yang berkembang di Nusantara bersumber dari ajaran Ibnu Arabi, yang diantaranya adalah ajaran Martabat Tujuh dalam kitab Al-Tuhfah Al-Mursalah karya Syekh Fadl Allah al-Burhanpuri (w 1630) dari Gujarat India.

Dalam perkembangannya, ajaran Martabat Tujuh ini mengalami pasang surut. Pada masa Syekh Syamsuddin al-Sumatrani, ajaran martabat tujuh mengalami puncak kejayaannya karena mendapat dukungan dari Kesultanan Aceh Iskandar Muda (1607-1636). Namun pada masa Syekh Nuruddin Al-Raniri yang saat itu menjadi Mufti Kesultanan Iskandar Tsani yang menggantikan Syekh Syamsuddin, beliau mengeluarkan fatwa sesat terhadap ajaran Martabat Tujuh yang dianggap menyimpang (ilhad).

Tuduhan sesat yang dialamatkan oleh Syekh Nuruddin Al-Raniri kepada ajaran Martabat Tujuh diselesaikan secara dialogis oleh ulama muda Sayfurrijal. Akhirnya, beliau mendapat simpati dari Sultanah Safiyyat al-Din (1641-1674), kemudian diangkat sebagai mufti menggantikan Syekh Nuruddin Al-Raniri. Sejak saat itulah, ajaran Martabat Tujuh berkembang kembali di tanah Aceh. Perkembangan ajaran Martabat Tujuh di Nusantara tidak dapat dipisahkan dari Syekh Abdul Rauf Al-Sinkili yang memiliki murid diantaranya Dawud Al-Jawi al-Rumi, Burhanudin Ulakan, Muhyi Pamijahan, dan Abdul Malik Trengganu.

Ajaran Martabat Tujuh pada zaman kolonial Belanda ditumpas habis berdasarkan fatwa sesat oleh Mufti Betawi. Ulama-ulama yang mengajarkan Martabat Tujuh dilarang mengajarkannya atau jika mengajarkannya akan ditangkap. Selain itu, manuskrip ulama-ulama yang mengembangkan ajaran Martabat Tujuh ini dibawa oleh Kolonial Belanda. Akhirnya, kini kita hanya dapat berziarah, namun tidak bisa mempelajari ilmu dari Syekh Muhyi Pamijahan, karena manuskrip-manuskrip beliau dibawa ke Belanda.

Di akhir sesi, Kyai Ali menuturkan: “Ini (ajaran Martabat Tujuh) adalah mutiara yang hilang, yang sekarang pada abad ke-21, kita temukan kembali. Mari kita pelajari kembali karena sekarang sudah tidak ada lagi hambatan untuk mempelajarinya”.

Sumber tambahan: Sufisme Jawa: Ajaran Martabat Tujuh Sufi Agung Mangkunegaran Kyai Muhammad Santri.

Baca juga: Launching Buku Sufisme Jawa: Kyai Muhammad Santri Mitos atau Fakta?

Continue Reading

DR. KH. M. Hamdan Rasyid, MA

Fase Kehidupan di Alam Dunia (2)

Kupas Tuntas Perjalanan Hidup Manusia dalam Lima Alam

Oleh: DR. KH. M. Hamdan Rasyid, MA

Published

on

Kehidupan di Alam Dunia

Tujuan dan Tugas Hidup Manusia di Alam Dunia

Untuk apa manusia diciptakan dan menjalani kehidupan di alam dunia? Sebagai orang yang beriman kita wajib yakin dan percaya, bahwa Allah SWT tidak mungkin menciptakan suatu makhluk sekecil apapun kecuali pasti didasarkan pada maksud dan tujuan yang sangat agung. Mustahil Dia menciptakan sesuatu sia-sia belaka tanpa ada maksud dan tujuan.10 Oleh karena itu, kita wajib meyakini dengan sepenuh hati bahwa penciptaan manusia sebagai makhluk yang paling mulia dan sempurna pasti didasarkan pada tujuan-tujuan dan tugas-tugas yang sangat mulia sebagai berikut:

1.   Mengabdi dan beribadah kepada Allah SWT.

Menurut ajaran Islam, tujuan utama penciptaan manusia sebagai makhluk yang hidup di alam dunia adalah agar mereka benar-benar menjadi hamba Allah (abdullah). Seseorang layak menyandang predikat sebagai hamba Allah (abdullah) yang hakiki, jika ia telah memiliki iman yang mantap serta bersedia mengabdi dan beribadah kepada-Nya. Karena predikat sebagai hamba Allah mengandung implikasi kepercayaan dan penyerahan diri secara total kepada-Nya. Penyerahan diri kepada Allah SWT secara total inilah yang disebut Islam. Dengan demikian, seseorang berhak menyandang predikat sebagai muslim atau muslimah (pria atau wanita yang beragama Islam), jika ia telah menyerahkan diri secara total kepada Allah SWT untuk melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Dzariyah (51) ayat 56:

“Dan Aku tidak menjadikan jin dan manusia, melainkan untuk mengabdi dan beribadah kepada-Ku”.

Demikian juga firman-Nya dalam surat al-Bayyinat (98) ayat 5:

“Dan mereka tidak disuruh melainkan agar menyembah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; Yang demikian itulah agama yang lurus”.

Firman Allah SWT di atas menunjukkan bahwa tujuan penciptakan manusia serta tugas yang harus dilaksanakan dalam kehidupan di alam dunia ini, tiada lain adalah; menyerahkan diri secara total kepada Allah SWTdengan melaksanakan ibadah dan pengabdian kepada-Nya.Hal inibukan berarti bahwa seluruh waktu manusia sepanjang hayatnya harus dipergunakan untuk salat, puasa, membaca al-Qur’an, wirid dan bentuk-bentuk ibadah formal yang lain saja. Karena yang dimaksud dengan penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah adalah: kesediaan manusia untuk mendasarkan semua amal perbuatannya dengan aturan-aturan yang telah digariskan oleh Allah SWT dalam kitab suci Al-Qur’an dan oleh Rasulullah SAW dalam haditnya. Aturan-aturan tersebutmeliputi seluruh aspek kehidupan manusia, baik sebagai makhluk individu maupun sebagai makhluk sosial, baik dalam memenuhi kebutuhan lahiriah maupun batiniah, serta baik dalam melaksanakan ibadah kepada Allah SWT (hablun minallah) maupun dalam melakukan interaksi dengan sesama manusia (hablun minannas).

2.   Sebagai Khalifah Allah di Muka Bumi

Sebagai makhluk Allah yang paling mulia dan sempurna—yang dilengkapi dengan ruh, akal, qalbu, dan nafsu di samping anggota badan—manusia diberi amanat untuk menjadi khalifah-Nya di muka bumi. Sebagai khallifah, tugas manusia adalah mengolah, memanfaatkan dan menjaga alam ini dengan sebaik-baiknya, sehingga manfaat dan maslahat, baik bagi manusia yang hidup pada masa kini, maupun bagi anak cucu yang hidup di kemudian hari. Agar manusia dapat melaksanakan tugas sebagai khalifatullah fi al-ardl, maka Allah SWT telah menganugerahkan fisik yang kuat dan sempurna, serta berbagai potensi rohaniah, bakat, minat dan talenta yang beragam sehingga mereka saling melengkapi dan bersinergi dalam membangun bumi. Dengan nafsu, manusia mempunyai kehendak dan keinginan untuk memanfaatkan serta mengolah alam. Dengan akal manusia mencari cara yang efektif dan efesien untuk mengolah dan memanfaatkan alam, serta dengan qalbu manusia diarahkan agar tidak serakah dan tidak mempergunakan cara-cara pengolahan dan pemanfaatan alam yang dapat menimbulkan kerusakan. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Baqarah (2) ayat 30:

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat; Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah. Padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Demikian juga firman-Nya dalam surat Hud (11) ayat 61:

“Dia telah menciptakan kamu dari bumi dan menjadikan kamu sebagai pemakmurnya (orang-orang yang membangun)”.

Sebagai khalifah Allah di muka bumi, manusia harus aktif dan kreatif, bekerja keras serta tidak bermalas-malasan untuk membangun dunia ini sebaik mungkin. Meskipun demikian, manusia harus memperhatikan keselarasan dan menjaga kelestarian alam. Oleh karena itu, menusia tidak boleh mengeksploitasi alam secara berlebihan sehingga menimbulkan berbagai dampak lingkungan yang sangat berbahaya bagi kehidupan umat manusia, baik pada masa kini maupun masa yang akan datang.

Di samping itu, dalam membangun dunia ini manusia harus memperhatikan kepentingan dan kemaslahatan orang lain, tidak boleh egois, hanya mementingkan diri sendiri. Pada masa kini dapat kita perhatikan, betapa banyak sekali orang yang tega mengorbankan orang lain demi kepentingan diri sendiri. Betapa banyak pabrik-pabrik yang dibangun di tengah-tengah pemukiman penduduk tanpa memperhatikan bahaya polusi bagi masyarakat sekitarnya. Betapa banyak pabrik yang membuang limbah di sungai sehingga menimbulkan polusi dan berbagai penyakit. Betapa banyak pembangunan yang justru merugikan masyarakat dan rakyat kecil karena menggusur rumah-rumah mereka dengan memberikan ganti rugi yang amat kecil dan jauh di bawah standar. Semua ini jelas dilarang oleh Allah SWT karena merusak lingkungan hidup serta dapat mengancam kelestarian peradaban dan kebudayaan umat manusia. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-A’raf (7) ayat 56:

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya. Dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik”.

Demikian juga firman-Nya dalam surat Rum (30) ayat 41:

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.

Demikian juga firman-Nya dalam surat al-Qashash (28) ayat 77:

“Dan carilah apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”.

Berdasarkan uraian di atas dapat diketahui bahwa tugas dan tujuan hidup manusia menurut ajaran Islam adalah untuk beribadah dan mengabdi kepada Allah SWT serta melaksanakan amanah  sebagai  khalifah-Nya  di  muka  bumi  yang  bertugas mengolah, memanfaatkan serta melestarikan alam. Hal ini perlu ditegaskan, karena dewasa ini masih banyak manusia yang tidak mengetahui tujuan hidupnya. Akibatnya, banyak  manusia yang beranggapan  bahwa  tujuan  hidup  adalah  untuk  menumpuk-numpuk  kekayaan,  meniti  karier  agar  meraih  kekuasaan  dan jabatan yang tinggi dsb.

Meskipun demikian, bukan berarti manusia tidak boleh mencari kekayaan atau meniti karier untuk mencapai kekuasaan dan jabatan yang tinggi. Agama Islam memperbolehkan dan bahkan memerintahkan umatnya untuk bekerja semaksimal mungkin untuk mendapatkan harta kekayaan atau kekuasaan dan jabatan yang tinggi. Akan tetapi hal itu bukan menjadi tujuan, melainkan semata-mata sebagai sarana untuk melaksanakan tugasnya dalam beribadah kepada Allah SWT serta sebagai khalifah-Nya di muka bumi. Oleh karena itu dalam mencari kekayaan atau meniti karier tersebut tidak boleh menyimpang dari peraturan-peraturan yang telah ditetapkan oleh al-Qur’an dan al-Hadits.

3.   Berdakwah dengan melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar.

Selain beriman, beribadah dan menjadi khalifah di muka bumi, manusia mempuyai tugas berdakwah dengan melaksanan amar ma’ruf dan nahi munkar. Dakwah adalah suatu ajakan atau seruan kepada orang lain untuk memahami, menghayati, dan melaksanakan nilai-nilai ajaran Islam dalam kehidupan nyata sehingga tercipta kebahagiaan hidup yang hakiki, baik di dunia maupun di akhirat. Dalam bukunya Tadzkirat al-Du’at, Bahi al-Huli mendefinisikan dakwah sebagai “upaya memindahkan manusia dari satu situasi kepada situasi yang lebih baik”.11 Pemindahan situasi ini mengandung makna yang sangat luas, mencakup seluruh aspek kehidupan manusia, seperti aspek ekonomi, sosial, budaya, hukum, politik, sains, teknologi, dsb. Berdasarkan definisi tersebut, maka dakwah merupakan proses pemberdayaan individu dan masyarakat untuk melakukan pemindahan atau perubahan situasi, dari kebodohan kepada pengetahuan, dari keterbelakangan kepada kemajuan, dari kemiskinan kepada kehidupan yang sejahtera, dari permusuhan dan perpecahan kepada kasih sayang dan persatuan, dari kekacauan kepada keteraturan, dari suasana mencekam kepada suasana sejuk, damai, dan tenteram.

Menurut Syekh Ali Mahfudz dalam bukunya Hidayatu al-Mursyidin ila Thuruq al-Wa’dli wa al-Khithabah, dakwahadalah; “mengajak manusia kepada kebaikan dan petunjuk serta menyeru untuk melakukan perbuatan baik dan mencegah dari perbuatan buruk (amar ma’ruf nahi munkar) agar mereka

mencapai kebahagian hidup di dunia dan di akhirat”.12 Berdasarkan definisi tersebut dapat dipahami bahwa pada hakikatnya dakwah adalah segala aktivitas yang bertujuan mengajak orang lain untuk melakukan perubahan dari situasi yang mengandung nilai tidak islami kepada kehidupan yang sesuai atau tidak bertentangan dengan nilai -nilai Islam, baik dalam bidang akidah, syariah, maupun akhlak. Kewajiban berdakwah ini langsung diperintahkan oleh Allah SWT. Sebagaimana difirmankan dalam surat Ali Imran ayat 104:

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung”.

Bersambung….


10 Perhatikan firman Allah SWT dalam surat Ali Imran ayat 190 – 191: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”.

11 Bahi al-Khuli, Tadzkirat al-Du’at, (Mesir: Dar al-Kitab al-‘Arabi, 1952), h. 27; Quraish Shihab; Membumikan al-Qur’an, (Bandung: Mizan, Cet. II, 1992), h. 194.

Continue Reading

Artikel

Keutamaan Bulan Syaban dalam Kitab Maadzi fi Syaban Karya Sayyid Muhammad Alwi Al-Maliki

KH Zainal Arifin

Published

on

By

Keutamaan Bulan Rajab dalam Kitab Maadzi fi Syaban Karya Sayyid Muhammad Alwi Al-Maliki

Hari ini (Rabu, 16/03/2021) memasuki tanggal 2 Syaban 1442 H, artinya sebentar lagi akan memasuki bulan Ramadhan. Pembahasan bulan Syaban merujuk pada Kitab Maadzi fi Syaban yang artinya “Ada apa di bulan Syaban?” Kitab ini disusun oleh putra seorang ulama di kawasan Rusaifah di sebelah utara pusat Kota Mekah, yaitu Sayyid Muhammad Alwi Al Maliki Al Hasaniy. Saat ini, beliau sudah berpulang ke Ramahatullah. Namun, majelis ilmu di Rusaifah masih terus hidup yang dihadiri oleh murid-murid dari segala penjuru dunia. Beliau adalah pakar hadis dan menjadi guru khususnya ulama Ahlul Sunnah wal Jamaah.

Kitab tersebut dimulai dengan membahas nama Syaban. Secara bahasa, syaban setidaknya mimiliki 3 (tiga) arti, yaitu:

  1. Bulan yang memiliki banyak cabang-cabang kebaikan
  2. Tersebar luas nampak dengan jelas/istimewa
  3. Jalan yang berada di pegunungan

Dari sisi nama, kemuliaan bulan Syaban sebagai gerbang masuknya orang beriman menuju bulan Ramadhan.

Ada beberapa peristiwa penting yang terjadi di bulan Syaban, yang sekaligus dijadikan sebagai penuntun bagi umat muslim:

  1. Taahwilul Qiblah, yaitu diubahnya kiblat dari Baitul Maqdis menjadi ke arah Kabah, yang sekaligus sebagai isyarat dari Allah agar umat muslim melakukan instropeksi diri dan memperbaharui orientasi hidup. Diantaranya  adalah untuk ibadah kepada Allah, sesuai dengan firman Allah:”Tidaklah aku ciptakan Jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku” (QS Adz-Dzaariyaat: 56). Ayat ini mengajarkan bahwa hidup dengan orientasi ibadah adalah kebahagiaan dan kenikmatan sejati di dunia dan di akhirat bersama orang-orang sholeh
  2. Rof’ul Amal, yaitu pada bulan Syaban, amal-amal dilaporkan kepada Allah sebagai pelaporan akbar dan pelaporan yang paling luas atau dapat dianalogikan dengan laporan tahunan. Rasulullah SAW selalu berpuasa di bulan Syaban, karena beliau ingin agar saat Malaikat melaporkan tahunan, Rasulullah dalam keadaan sedang berpuasa.
  3. Syahru sholawati ‘ala Nabiyi shalallahu alaihi wassalam, yaitu bulan Syaban adalah bulan shalawatnya kepada Rasulullah. Diantara keistimewaan bulan Syaban adalah Allah menurunkan ayat yang memerintahkan untuk bersholawat dan menyampaikan salam kepada Rasulullah, yaitu dalam QS Al Azhab 56:

Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”

Jika ayat tersebut diperhatikan, terlihat bahwa tidak ada perintah ibadah seperti perintah bersholawat kepada Nabi SAW, karena diawali dengan penegasan bahwa Allah dan Malaikat bersholawat kepada Rasulullah. Artinya, sholawat adalah ibadah yang istimewa. Sekaligus ayat itu menjelaskan bagaimana sholawat kepada Rasulullah dengan benar, yaitu sholawat yang lengkap adalah sholawat dan salam, Allahuma shollu ‘alaihi wa sallimuu tasliima.

Baca juga: Bulan Rajab, Ini Beberapa Amalannya

Selain laporan tahunan, adapula Ar-Rof’ul Shouri yaitu laporan harian. Dalam hadis disebutkan bahwa waktu untuk laporan harian adalah ba’da zawal saat dzuhur. Sabda Rasulullah SAW: “Barangsiapa yang menjaga 4 rakaat sebelum dzuhur dan 4 rakaat setelah dzuhur, maka Allah haram akan dirinya dari siksa Neraka” (Hadis at-Tirmidzi Nomor 428). Jumhur ulama termasuk Imam Nawawi berpendapat bahwa lebih utama melaksanakan shalat qabliyah dan ba’diyyah dzuhur masing-masing 2 rakaat atau 4 rakaat dengan 2 salam.

Dengan demikian, waktu dzuhur adalah waktu istimewa. Rasulullah SAW bersabda: “Waktu sebelum dzuhur adalah saat pintu-pintu langit dibuka oleh Allah, aku ingin ada amal sholeh yang diangkat ke langit“. Jika Rasulullah yang ma’sum (terjaga dari dosa) berdoa seperti itu, hal ini berarti menjadi motivasi umat muslim untuk melakukan banyak perbaikan dari begitu banyaknya dosa di masa lalu.

Dalam kitab tesebut juga disebutkan keutamaan, keistimewaan dan hakikat sholawat kepada Rasulullah: “Orang yang bersholawat pada Nabi, Allah akan bersholawat kepadanya 10 kali“. Dan ada riwayat lain yang menjadi penyelamat dan pembela kita yang kurang ibadahnya di dunia.

Ada sebuah riwayat, seorang pemabuk yang bertanya pada guru cara mengatasi mabuknya. Lalu, ia dibimbing oleh gurunya dengan memintanya agar pemabuk itu membaca sholawat untuk nabi berulang kali. Sampai lidahnya terasa manis, menggetarkan hati, dan muncul kerinduan kepada Rasulullah SAW.

Syaban adalah bulan bersholawat. Mari kita persiapkan sebaik-baiknya diri kita untuk ibadah di bulan Ramadhan. Para shalafush sholeh telah berdoa 3 bulan sebelum Ramadhan, yaitu doa tanpa putus agar dapat merasakan bulan Ramadhan sejak bulan Rajab, dan agar diberikan kesehatan dan kekuatan selama di bulan Ramadhan: “Ya Allah Berkahi di bulan Rajab dan Syaban, dan sampaikan serta pertemukan kami kembali dengan bulan Ramadhan”.

Semoga kita termotivasi untuk meningkatkan ibadah mempersiapkan diri kita sebaik-baiknya untuk memasuki bulan Ramadhan, dan berdoa semoga seluruh ibadah kita diterima Allah SWT. Aamiin

Kajian ini disampaikan oleh KH Zainal Arifin dalam Ta’lim Madinah Quran pada hari selasa, 16 Maret 2021 pukul 05.35-06.10.

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending