Connect with us

Artikel

Guru Sejati, Siapakah?

Published

on

Entah sejak kapan negeri ini tiba-tiba banyak guru agama atau sering disebut ustad/ustazah yang berusia muda. Mereka hadir di banyak tempat dan ruang sosial. Mereka tampil dengan aksesoris dan performa bak seorang alim sejati dan berpidato bak orator ulung. Sebagian bergamis bersorban. Retorikanya amat menarik publik awam. Mereka juga menyajikan lelucon bagai pelawak yang membuat penontonnya/pendengarnya tertawa tergelak-gelak, terhibur. Tetapi tidak jarang pula di antara mereka mencaci maki sekelompok sebuah komunitas yang dianggapnya sesat atau kafir.

Publik tak peduli dari siapa dan dari mana para pendakwah itu belajar agama. Publik juga tak paham sudah berapa lama mereka belajar agama. Buku atau kitab apa saja yang mereka baca. Semua latar belakang pendidikan mereka tersebut tak dianggap penting. Ustad betulan atau gadungan juga tak penting. Yang penting adalah dengan menghadiri ceramah para ustad itu keruwetan hidup atau stress hilang dan bisa tertawa-tawa.

Publik juga tak jadi soal bila ayat Al-Qur’an yang ditulisnya atau dibacanya salah dan kacau balau. Banyak orang yang terpikat lalu memuji mereka seraya menganggap mereka guru paling hebat, pintar, alim dan tak tertandingi.

Fenomena model pendakwah seperti itu sesungguhnya selalu ada di segala zaman dan tempat di dunia. Syams Tabrizi, sang Darwish pengelana, guru spiritual Maulana Rumi, menemukan para guru dan ustaz semacam itu pada masanya. Ia lalu memberikan komentar atas fenomena itu sekaligus mengingatkan :

يوجد معلمون وأساتذة مزيفون في هذا العالم أكثر عددا من النجوم في الكون المرئي. فلا تخلط بين الأشخاص الأنانيين الذين يعملون بدافع السلطة وبين المعلمين الحقيقيين. فالمعلم الروحي الصادق لا يوجه انتباهك إليه ولا يتوقع طاعة مطلقة أو إعجابا تاما منك، بل يساعدك على أن تقدر نفسك الداخلية وتحترمها. إن المعلمين الحقيقيين شفافون كالبلور، يعبر نور الله من خلالهم.

“Para guru dan ustaz gadungan/palsu yang ada di dunia ini jauh lebih banyak daripada bintang yang tampak di alam semesta. Tapi anda Jangan keliru untuk tahu siapa saja para ustaz yang haus kekuasaan dan egois, dan siapa saja para guru sejati.”

Seorang guru spiritual sejati tak akan memintamu untuk patuh total kepada dirinya dan memujanya. Tetapi, ia akan membantumu untuk menemukan dan memuliakan dirimu sendiri. Para guru sejati bagai cermin bening yang menangkap cahaya Tuhan lalu memancarkannya.

Para guru sejati dalam pandangan para guru sejati dan bijakbestari hadir untuk membagi cahaya pengetahuan kemanusiaan, bukan menghancurkannya dan membodohi orang lain. Mereka hadir untuk kebahagiaan orang lain, bukan untuk kesenangan diri sendiri.Mereka bagai lilin yang menyala yang cahayanya menyebar sementara dirinya rela jika terbakar (berkorban). Mereka rela menanggung luka demi cinta. Atau bagai pohon rindang dengan buah yang lebat. Mereka menaungi sekaligus memberi.

Sayyid Abdullah al Haddad menulis tentang siapakah ulama, antara lain :

فمن علامات العالم : ان يكون خاشعا متواضعا خاءفا مشفقا من خشية الله زاهدا فى الدنيا قانعا باليسير منها ناصحاً لعباد الله. رحيما بهم أمرا بالمعروف ناهيا عن المنكر.. ووقار واسع الصدر لا متكبرا ولا طامعا فى الناس ولا حريصا على الدنيا

Tanda/ciri orang Alim (ulama) antara lain : pembawaannya khusyu (tenang), rendah hati, selalu merasa takut kepada Allah, bersahaja, “nrimo“, selalu mengajak kepada kebaikan, menyayangi mereka dan menghindari keburukan/maksiat, hatinya lembut, lapang dada, tidak sombong, tidak berharap pada pemberian orang, tidak ambisi hal-hal duniawi dan lain-lain.

Penulis: KH. Husein Muhammad

Artikel

Habib Luthfi Ingatkan Ketum KNPI, Inilah Pesannya

Published

on

Pekalongan, JATMAN Online – Ketua Umum DPP Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Haris Pertama sowan ke kediaman Rais ‘Aam Jam’iyyah Ahlith Thariqah al Mu’tabarah an Nahdliyyah (JATMAN) Maulana Habib Luthfi bin Ali bin Yahya di Jalan Dr. Wahidin, Noyonyaan Gg.7 Pekalongan Timur, Jawa Tengah, Senin (27/6).

Di depan Habib Luthfi, Haris bercerita soal dinamika kepemudaan dan rencana pelantikan pengurus DPP KNPI yang akan dilaksanakan pada Juli 2022 di Kota Yogyakarta.

“Abah Luthfi sangat ramah dan banyak wejangan yang diberikan kepada saya agar bisa memimpin KNPI lebih baik lagi,” ujarnya.

Haris mejelaskan pertemuan tersebut merupakan silaturahmi kebangsaan dan permohonan doa restu dalam masa kepemimpinan periode kedua dirinya menahkodai KNPI.

“Alhamdulillah pertemuan ini jadi momen berharga, selain dapat bersilaturahmi dengan Habib Luthfi sebagai salah satu ulama mahsyur pemersatu umat, saya dapat sowan secara empat mata dan menyampaikan mohon doa restu dalam kepemimpinan periode kedua ini,” kata Haris dalam keterangannya, Selasa (28/6).

Sementara itu, Habib Luthfi berpesan agar pemuda dapat terus menjaga persatuan dan kesatuan serta berkontribusi pada pembangunan nasional.

“Generasi muda harus terus memompa semangat persatuan dan kesatuan di tengah arus globalisasi dan penuh keprihatinan. Buktikan KNPI dapat jadi motor penggerak untuk berbakti kepada negeri,” tutur Habib Luthfi.

Habib Luthfi pun mengingatkan kepada Haris agar KNPI tidak terjebak pada politik praktis hanya pada kepentingan partai politik tertentu saja.

“KNPI jangan sampai terjebak pada kepentingan politik praktis kekuasaan dan partai politik tertentu saja, arah politik KNPI harus untuk kepentingan rakyat Indonesia,” ungkapnya.

Continue Reading

Artikel

Konsistensi JATMAN Jawa Timur dalam Menjaga Eksistensi Gerakan Ketarekatan (2)

Published

on

Kegiatan JATMAN di Jawa Timur terbagi menjadi dua katagori, pertama yang berkaitan dengan ritual dan yang kedua berkaitan dengan organisatoris yang mengacu pada NU yang orientasinya bisa bermanfaat bagi JATMAN, NU dan negara bahkan bagi pengamal thariqah.

Kegiatan yang berkaitan dengan ritual, telah dibentuk sebuah forum untuk pertemuan para mursyid,  yang mana selama dua tahun ke belakang telah berjalan dengan nama Forum Halaqah JATMAN, yang membahas permasalahan thariqah dan kewargaan serta keorganisasiannya.

Sedangkan yang berkaitan dengan organisatoris, ada sekitar 18-23 program prioritas yang dilakukan sebagai upaya konsolidasi organisasi. Ada sekitar 40 Idaroh Syu’biyyah di Jawa Timur yang diprioritaskan untuk diremajakan, dengan terlebih dahulu melakukan musyawarah pergantian pengurus dan pengusulan program.

Di JATMAN Jawa Timur, untuk menentukan rois dan jajaran pengurus baru yang mendapat amanah untuk menjalankan roda organisasi dan mengusung program kegiatan, dilakukan di dalam Musyawarah Daerah (Musda). Pada Tahun 2018, Musda dilaksanakan mulai Bulan April-Juli. Bahkan, sebelum Idaroh Wustho dibentuk pada tanggal 22 April, Idaroh Syu’biyyah Kabupaten Magetan sudah terlebih dahulu melakukan Musda pada tanggal 5 Juli.

Selama satu periode kepengurusan, hampir seluruh Idaroh Syu’biyah sudah melaksanakan Musda termasuk lepas pantai, Bawean. Kemudian Syu’biyyah juga sudah membentuk Ghusniyah di tiga kecamatan, bahkan beberapa sampai di tingkat desa.

Rois JATMAN Jawa Timur, Kiai Ngadiyin Anwar mengungkapkan jika tanpa ada kendaraan lain, dan dalam kondisi sehat dan normal, JATMAN tidak akan bisa jalan dengan baik. Kendaraan ini adalah kesiapan pengurus dalam menejemen organisasi di berbagai tingkatan. Di samping itu, aturan main  dan mekanisme kerjanya juga harus diperbaiki. Sebagaimana menurutnya, Haq bilaa nidzam, yaghlibul bathin bin nidzam, tanpa ada sistematika yang baik dalam mengelola organisasi, nanti yang tidak sah, bisa mengalahkan yang sah. Itulah peran Syu’biyyah dan ghusniyyah.

Pada tahun ini, Kegiatan besar JATMAN Jawa Timur akan digelar, yakni Multaqa Mursyid yang akan dilaksanakan sekitar Bulan Agustus mendatang. Pada forum ini, dilakukan bahsul matsail yang membahas permasalahan ketarekatan. Namun yang sering menjadi kendala adalah Multaqa ini mauquf karena ada masalah internal thariqah tertentu yang dibawa ke antar thariqah yang lain. Di samping tidak menguasai thariqah tersebut juga ada perasaan tidak enak jika membahas lebih detail, sedang itu menjadi faktor internal yang mengandung berbagai hal yang tidak perlu diketahui oleh yang lain. Maka permasalahan itu akhirnya dikembalikan. Tapi sayangnya, ketika dikembalikan, belum ada yang bisa mengkoordinir potensi ulama thariqah dari thariqah tertentu.

Maka dua tahun yang lalu, di Jawa timur, atas inisiasi sendiri yang bukan bagian dari program JATMAN Aliyyah, JATMAN Jawa timur membentuk Forum Multaqa untuk masing-masing thariqah yang bukan bagian dari Forum Multaqa Mursyid, Khalifah, Badal JATMAN Jatim. Seperti Thariqah Naqsabandiyah yang sudah tidga kali megadakan multaqa dan terakhir di trenggalek, Thariqah Qadiriyah juga sudah tiga kali dan terakhir di Magetan, Thariqah Sadziliyiah satu kali di Mojokerto, Thariqah Syathariyah sudah dua kali, dan hanya Thariqah Tijaniyah yang belum melaksanakan multaqa.

Selama kepengurusan JATMAN Jawa Timur pada periodesasi ini, Kiai Ngadiyin Anwar menyadari jika mungkin program pembaharuan ini belum sepenuhnya tuntas dan masih harus diteruskan pada periode yang akan datang. Rencananya, kepengurusannya ini akan diakhiri pada Februari 2023.

Continue Reading

Artikel

Konsistensi JATMAN Jawa Timur dalam Menjaga Eksistensi Gerakan Ketarekatan (1)

Published

on

Jawa Timur adalah salah satu provinsi di Pulau Jawa yang menjadi basis gerakan tarekat. Dalam tulisan Syekh Abul Fadhol, Ahla al Musamarah fi Hikayat al Auliya’ al ‘Asyrah, Sayyid Rahmat atau Sunan Ampel selama mengajar di Pesantren Ngampel Denta Surabaya, membekali para muridnya Tarekat Naqsabandiyah yang kemudian diteruskan oleh Raden Paku atau Sunan Giri.

Mengingat basis Islam di Jawa pada waktu itu ada di Surabaya, maka tidak heran jika perkumpulan tarekat ini sudah mendarah daging bersamaan dengan berkembangnya Islam di Jawa Timur.

Dengan berjalannya waktu, Tarekat Naqsabandiyah ini kemudian menyebar di berbagai wilayah dan terintegrasi dengan berbagai tarekat besar seperti Khalidiyah, menjadi Tarekat Naqsabandiyah Khalidiyah yang mana di Jawa Timur ada beberapa wilayah yang dianggap sentral seperti Malang, Kediri, Nganjuk, Ngawi dan Madiun

Di Malang, mursyid sepuhnya adalah Kiai Abdul Hayyi yang sudah mengalami tiga kali regenarasi. Saat ini, ijazah kemursyidan dipegang oleh Kiai Yahya Mu’idi yang zawiyahnya berada di Pondok pesantren Baitul Mukhlasin, Dusun Cokro, Desa Sukoanyar, Kec. Pakis, Kab. Malang.

Adapun di Kediri, Tarekat Naqsabandiyah berkembang di Kecamatan Baran yang saat ini dipimpin oleh Syekh Muhammad Miftahur Riza al-Barrani. Selanjutnya di Kecamatan Kertosono, Nganjuk dipimpin oleh Kiai Munawwir kemudian berlanjut kepada Kiai Hambali dan kepada Kiai Muslih, pengasuh Ponpes al-Musthofa.

Selain itu, ijazah mursyid Tarekat Naqsabandiyah Khalidiyah di Jawa Timur juga dipegang oleh Kiai Adnan Ngawi, Kiai Abdul Rouf di Madiun Selatan serta Kiai Ngadiyin Anwar, pengasuh Ponpes Thariqah Sulaimaniyah Madiun melalui jalur Kiai Sulaiman pada tahun 1904-1936, dilanjutkan oleh Kiai Muhammad Adnan sampai tahun 1940, oleh Kiai Imam Muhyidin sampai tahun 1983, dan saat ini oleh Kiai Ngadiyin Anwar.

Di samping terintergrasi dengan Tarekat Khalidiyah, Tarekat Naqsabandiyah juga terintegrasi dengan Tarekat Qadiriyah yang dikenal dengan Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah (TQN).

Di Jawa Timur, perkembangan tarekat ini rata-rata melalui sanad dari jalur Jawa Tengah seperti Mranggen-Demak oleh Kiai Abdurrahman, Kiai Muslih dan Kiai Muthohar, kemudian Kiai Sholeh Sukoharjo dan Kiai Nawawi Purworejo. Namun ada pula yang langsung dari jalur Banten oleh Syekh  Abdul Karim melalui Kiai Kholil Bangkalan di Madura, Kiai Romli Tamim Jombang dan lain-lain.

Perkembangan tarekat di Jawa Timur, mengalami pertumbuhan yang pesat. Setidaknya ada sekitar 13-16 tarekat yang ada di provinsi ini, dengan populasi tarekat yang terbesar ada sebanyak lima tarekat, termasuk dua di antaranya sudah lebih dulu dijelaskan di atas, sedangkan tiga lainnya adalah Tarekat Sadziliyah, Tarekat Syattariyah dan Tarekat Tijaniyah.

Adapun Tarekat Sadziliyah, pusatnya ada di Tulungagung yaitu di Pondok PETA, di mana mursyid sepuhnya adalah Kiai Mustaqim, kemudian dilanjutkan oleh puteranya Kiai Abdul Djalil Mustaqim dan saat ini dipegang oleh Syekh Charir M Sholahuddin al Ayyubi melalui dua jalur, yaitu Kiai Makruf Mekkah dan Syekh Yasin al-Fadani Madinah. Selanjutnya ada Tarekat Tijaniyah dari Maroko dan Tarekat Syattariyah yang berkembang di Surabaya dan Madura.

Tarekat-tarekat di atas juga tersebar di beberapa wilayah di Jawa Timur seperti Jember, Pasuruan, Mojokerto, Blitar dan banyak lagi yang selanjutnya terhimpun dan terverifikasi sanadnya dalam Organisasi JATMAN, khususnya Idaroh Wustho Provinsi Jawa Timur.

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending