Connect with us

Artikel

Eksistensi Peran Dan Fungsi Majelis Pengkajian Tauhid Dan Tasawuf Aceh

Published

on

Majelis Pengkajian Tauhid Dan Tasawuf (MPTT) didirikan oleh Abuya Syekh H. Amran Waly Al-Khalidi resmi berdiri secara hukum pada tahun 2004 di depan notaris, namun ajarannya sendiri sudah mulai diajarkan sejak tahun 1998 di Dayah Darul Ihsan, Kecamatan Labuhan Haji Kabupaten Aceh Selatan.

Organisasi ini didirikannya setelah melihat realita pengamalan ajaran Islam yang ada dalam masyarakat sudah jauh menyimpang dari ajaran Islam.

Menurut Abuya Amran, kondisi ini bukan hanya dalam tataran praktik, namun juga pemikiran keislaman, keimanan, i’tiqad dan sisi makrifat dalam beragama. Masyarakat Islam pada saat itu sudah tidak paham lagi dengan apa yang dimaksudkan dalam ajaran agama. Yang terjadi justru, dalam beragama muncul sifat nifaq dan fasiq dalam dada orang yang menyatakan diri sebagai umat Islam.

Kondisi ini bukan bukan hanya dalam masyarakat awam yang memang sekali memiliki keterbatasan untuk mendapatkan pendidikan agama yang memadai, namun juga dalam tubuh pemerintahan, bahkan di kalangan umara dan ulama, serta di kalangan cendikiawan kampus sekaliapun. Praktik ini telah membuat umat Islam semakin mundur dan tidak beranjak dari berbagai perubahan yang mungkin dilakukan.

Tauhid dan tasawuf bertujuan mengembalikan kondisi tersebut kepada ajaran Islam yang sebenarnya, sesuai apa yang telah diperintahkan Allah Swt. dan Rasul-Nya mengenai larangan-Nya, baik dalam tataran zahir dan batin. Sebab dengan jalan inilah manusia kembali mendapatkan jati dirinya sehingga menjadi manusia sejati atau insan kamil.

Kondisi seperti ini pernah dicapai oleh para Rasul, nabi dan orang-orang shalih, seperti para wali Allah Swt. dan ulama terdahulu. Mereka merupakan orang-orang yang telah membersihkan hati dari berbagai nafsu dunia, menjaga hatinya dari berbagai keingian dan ketergantungan terhadap kepemilikan harta benda yang mengganggu hubungan antara manusia dengan Allah Swt.

Sejak berdiri, kegiatan MPTT telah diikuti oleh jama’ah dari berbagai unsur masyarakat yang bukan hanya masyarakat Labuhan Haji, melainkan juga di berbagai kecamatan di Aceh Selatan,  Aceh Barat Daya dan Aceh Barat.

Kegiatan utama MPTT adalah pengajian dan zikir tarekat Naqsabandiyah. Pengajian bukan hanya dilaksanakan di lingkungan Dayah, namun juga di masjid gampong-gampong dengan mengundang Abuya Amran sebagai mursyidnya. Lama-kelamaan jamaah MPTT mulai tumbuh besar dan organisasi MPTT bergerak lebih maju dan meluas.

Saat ini MPTT pimpinan Abuya Syekh H. Amran Waly Al-Khalidi telah berkembang di daerah. Di Aceh MPTT memiliki cabang di semua kabupaten /kota, dari Banda Aceh, sampai Aceh Tenggara, Singkil dan Kuala Simpang.

MPTT juga mulai berkembang di berbagai kota di Indonesia. Setidaknya ada lima kota Provinsi yang sudah memilik cabang MPTT antara lain: Jakarta (Kali Malang), Sulawesi Utara (Manado), Gorontalo, Padang (Batu Sangkar), Riau (Bangkinang Batu Bersurat).

MPTT juga terus berkembang ke berbagai daerah provinsi di Indonesia seperti Medan, Jambi, Batam, Makassar, Maluku Utara dan bahkan sekarang dakwah MPTT telah sampai ke Sorong. MPTT mulai berkembang di Malaysia khususnya di Kuala Lumpur, Selangor dan Johor.

Untuk cabang Aceh, Abuya mengunjungi hampir setiap bulan sekurang-kurangnya sekali. Sementara cabang-cabang lain, Abuya datang kesana setiap enam bulan secara bersafari didampingi oleh beberapa jamaah dari Aceh.

Dalam setiap kesempatan menyampaikan pengajian pada jamaah MPTT di berbagai daerah, Abuya Amran menekankan pentingnya berpegang pada tali Allah untuk memurnikan tauhid kepada-Nya. Menurut Abuya, tauhid terbagi dalam lima tingakatan:

1. Tauhid Ilmu atau kalam dalam pembahasan i’tiqad untuk mengesahkan iman dan ibadah seperti yang pernah diterangkan di dalam kitab-kitab tauhid berdasarkan Ahlussunnah waljamaah yang dirintis oleh Imam Abu Hasan Al-Asy’ari dan Imam Abu Manshur Al-Maturidi.

2. Tauhid Amali yaitu kita berqashad, berjalan hati untuk mendapatkan keridhaan-Nya, pengamalan tarekat antara lain tarekat Naqshabandi Khalidiyah.

3. Tauhid Ahwal untuk mencapai maqam tajalli, merasakan kehadiran-Nya atau “berjinak-jinak” dengan-Nya, untuk menghilangkan sangkutan hati dari selain Allah.

4. Tauhid Syuhud dan ‘ayan, yaitu telah dibukakan hijab karena sinaran cahaya kebagusan dzat yang membawa kepada fana telah hilang wujud selain Allah dalam pandangannya.

5. Tauhid Wujudi dan irfani telah hilang dengan tamkin/tetap wujud selain Allah Swt. atau dengan istilah lain fannaul fana untuk mendapatkan maqam baqa supaya zahir tauhid hakiki dan makrifat ketauhidan pada batinnya untuk menghilangkan syirik khafi dan kenifakan di dalam dirinya sebagai mukmin sejati.

Pada hakikatnya tauhid itu adalah wahdah (menunggalkan) artinya menunggalkan perbuatan, asma, sifat dan dzat Allah Swt. Segala sesuatu dari Allah, dengan Allah dan segala sesuatu karena Allah menuju kepada Allah dan kembali kepada Allah.

Abuya membagi tauhid menjadi lima berdasarkan level dan tingkatan pemahaman seseorang. Ada yang memahami tauhid secara akal melaui dalil-dalil dan ada yang memahani tauhid dengan Dzauq dan Syuhud.

Tauhid tingkat pertama merupakan tauhid sangat banyak dipahami semua orang, tauhid ini kebanyakan diajarkan di berbagai pesantren-pesantren dan  umum. Mulai matan Sanusi hingga kitab ad-Dusuqi.

Tauhid kedua, tauhid yang masih banyak dipahami namun sudah mulai jarang diajarkan kepada semua orang.

Tauhid ketiga ini telah jarang dipahami dan diajarkan dalam masyarakat.

Sedangkan tauhid tingkat keempat dan kelima ini tauhid yang telah langka dan dibilang sudah tidak ada  lagi orang yang memahami apalagi diajarkan.

Adapun tauhid keempat diatas disebut juga tauhid wahdatul syuhud sedangkan tauhid kelima adalah tauhid wahdatul wujud. Untuk sekedar lebih memahami kedua istilah tersebut, oleh Prof.  Dr. Mohammed Haj Yousef telah memberikan perbedaan dan definisi menyangkut persoalan wahdatul syuhud dan wahdatul wujud. ia menjelaskan ;

وحدة الشهود تحصل للشخص عندما يفنى عن العالم فلا يرى في الوجود غير الحق – مثل من ينظر إلى ضوء شديد فلا يرى أي شيء غيره

وحدة الوجود هي الحقيقة النهائية – ففي نهاية الأمر ليس هناك وجود حقيقي إلا لله سبحانه وتعالى — ووجود الخلق هو وجود بالله وليس معه. وجود العالم مؤقت ومحدود ووجود الله حقيقي مطلق ودائم.

Wahdat asy-Syuhud dicapai seseorang manakala ia fana dari alam. Karena itu, ia tidak menyaksikan di dalam wujud selain al-Haqq, seperti orang yang melihat cahaya sangat terang sehingga ia tidak bisa melihat apapun selain cahaya itu.

Sedangkan wahdat al-wujud adalah hakikat yang final. Sebab, pada akhirnya, di sana tidak wujud hakiki selain Allah yang Maha Suci dan Maha Tinggi. Wujud manusia adalah wujud sebab Allah, bukan bersama Allah. Wujud alam ini sementara dan terbatas, sedangkan wujud Allah itu hakiki absolut dan perennial.

Sementara hakikat tasawuf yang dimaksud pengajian MPTT dibagi kedalam empat hal utana;

1. Untuk membersihkan nafsu dari pada dosa dan penyakit-penyakit nafsu, seperti dengan taubat, dan zuhud.

2. Untuk mencapai akhlak yang mulia melalui bermuamalah hati dengan Allah untuk mencapai cahaya hadharat Ilahi di dalam batinnya, seperti tawakal dan istiqamah.

3. Untuk memperjuangkan hati agar dapat mencapai maqam yang tinggi di sisi Allah Swt. Berkumpul dengan Allah di mana dia berada di dalam kehidupannya.

4. Untuk membaguskan pergaulan bersama hamba Allah dengan memiliki akhlak mulia sesama hamba dan dengan khaliqnya.

Demikianlah sejarah perkembangan dan peran fungsi MPTT yang telah digagas oleh Abuya Syekh H. Amran Waly Al-Khalidi.

Alhamdulillah kehadiran MPTT telah membawa perubahan signifikan yang sangat positif di dalam lapisan masyarakat baik di Aceh dan diberbagai wilayah Provinsi Indonesia. Fakta dapat memperlihatkan, banyak orang-orang yang dahulunya maksiat kini telah bertobat dan kembali ke jalan yang benar.

Penulis: Budi Handoyo (Dosen Prodi Hukum Tata Negara Islam Jurusan Syariah dan Ekonomi Islam STAIN Teungku Diruendeng Meulaboh-Kabupaten Aceh Barat)
Editor: Khoirum Millatin

Artikel

Tokoh-Tokoh Tarekat Di Aceh Dan Biografinya

Published

on

Dari banyak ulama di Aceh, ternyata ada empat ulama besar yang sangat berpengaruh. Riwayat empat ulama ini bersumber dari Buku ‘Paham Wujudiah’ karya Abuya Syekh Prof. Dr. Tgk H. Muhibbuddin Muhammad Waly yang dirangkum dalam ‘Sejarah Aceh’. Berikut nama dan kisah singkat empat ulama masyhur tersebut:

1. Syekh Hamzah Fansuri

Syekh Hamzah Fansuri adalah tokoh sufi terkenal di Aceh. Ia lahir di Fansur Singkil, Aceh. Ia hidup pada zaman pemerintahan Sultan Alaiddin Riayatsyah IV (1589 -1604 atau 997-1011 Hijriyah) hingga awal pemerintahan Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam.

Ia merantau untuk menuntut ilmu hingga ke Jawa, Semenanjung Tanah Melayu, India, Parsi dan Semenanjung Arab. Ia ahli dalam ilmu fiqh, tasawuf, falsafah, sastra, mantiq, sejarah dan lain-lain, serta fasih berbahasa Arab, Urdu, Parsi di samping bahasa Melayu dan Jawa.

Syekh Hamzah Fansuri dan Syamsuddin Sumatrani merupakan dua tokoh sufi yang sepaham dan hidup lebih dahulu dari dua ulama terkemuka lainnya yang pernah hidup di Aceh, yakni Abdurrauf Singkil Fansuri dan Nuruddin Ar-Raniry.

Riwayat hidupnya tidak banyak diketahui. Ia diperkirakan telah menjadi penulis pada masa kesultanan Aceh Sultan Alaiddin Riayatsyah IV. Ia menyebutkan Sultan Alaiddin selaku sultan yang ke-4 dengan Sayyid Mukammil sebagai gelarnya. Syahr Nawi mengisyaratkan, bahwa ia lahir di tanah Aceh. Konon saudara Hamzah Fansuri bernama Ali Fansuri yakni ayah dari Abdurrauf Singkil Fansuri.

Ketika pengembaraannya selesai dari Kudus, Banten, Johor, Siam, India, Persia, Irak, Makkah dan Madinah, untuk mencari ilmu makrifat terhadap Allah Swt, Ia kembali ke Aceh dan mengajarkan ilmunya. Mula-mula ia berdiam di Barus, lalu di Banda Aceh yang kemudian ia mendirikan Dayah (pesantren) di Oboh Simpang Kanan Singkil. Di pesantren itulah (ada yang mengatakan antara Singkil dengan Rundeng) ia dimakamkan tepatnya di sebuah pekuburan di desa tersebut.

2. Syekh Syamsuddin As-Sumatrani

Ia adalah tokoh ulama besar dan pengarang kenamaan di Aceh. Nama lengkapnya ialah Syekh Syamsuddin bin Abdillah As-Sumatrani. Sering juga disebut Syamsuddin Pasee. Dia adalah ulama besar yang hidup di Aceh pada beberapa dasa warsa (sepuluh tahun) terakhir abad ke-16 dan tiga dasa warsa pertama abad ke-17.

Gurunya ialah Hamzah Fansuri dan pernah belajar dengan Pangeran Sunan Bonang di Jawa. Ia menguasai bahasa Melayu-Jawa, Parsi dan Arab. Antara cabang ilmu yang dikuasainya ialah ilmu tasawuf, fiqh, sejarah, mantiq, tauhid, dan lain-lain.

Pada masa pemerintahan Sultan Alaiddin Riayatsyah IV dan Sultan Iskandar Muda, Ia memegang jabatan yang tinggi dalam Kerajaan Kesultanan Aceh. Ia dilantik sebagai penasehat kepada kedua sultan tersebut.

Ia juga pernah diangkat menjadi Qadi Malikul Adil yaitu satu jabatan yang terdiri dalam Kerajaan Aceh (orang yang kedua penting dalam kerajaan). Ia mengetuai Balai Gading (balai khusus yang dianggotai oleh tujuh orang ulama dan delapan orang ulee balang), di samping menjadi Syekh pusat pengajaran Baiturrahman.

Sekalipun mengikut faham aliran tasawuf wahdatul wujud, namun ia berlaku adil dalam menjalankan hukum-hukum yang difatwakannya. Keahliannya diakui oleh semua pihak termasuk Syekh Nuruddin. Ia meninggal dunia pada tahun 1630 M di zaman Sultan Iskandar Muda. Banyak karangan-karangan dan fatwa-fatwa yang ia tinggalkan. Di antaranya Syarah Ruba’i Fansuri (uraian terhadap puisi Hamzah Fansuri), dan lain-lain.

Ia adalah seorang ulama besar fiqh dan tasawuf. Seorang pelaut Belanda bernama Frederick de Houtman (1599 M/1008 H) yang ditawan di Banda Aceh, menyebutkan dalam bukunya tentang Syamsuddin Sumatrani adalah seorang syekh dan juga penasehat agung raja.

3. Syekh Nuruddin Ar-Raniry

Nama lengkapnya ialah Nuruddin Muhammad bin Ali bin Hasani bin Muhammad Hamid ar-Raniry al-Quraisyi asy-Syafi’ie. Ia wafat pada 22 Zulhijjah 1069 H/21 September 1658 M di kota kelahirannya di Kota Pelabuhan Ranir (Rander) Gujarat India. Sayang, tahun kelahirannya tidak diketahui secara pasti.

Ia seorang ulama besar, penulis, ahli fikir di India yang merantau dan menetap di Aceh. Ia lahir sekitar pertengahan ke dua abad ke-16. Pendidikan awalnya dalam masalah keagamaan ia peroleh di tempat kelahirannya sendiri.

Kemudian ia melanjutkan pendidikan ke Tarim, Yaman. Tarim adalah pusat studi ilmu agama pada masa itu. Setelah menunaikan ibadah haji dan ziarah ke makam Nabi saw. pada 1621 M (1030 H), ia kembali ke India.

Setelah kembali ke India dan mengajar, di samping sebagai Syekh Thariqah Rifa’iyyah ia merantau ke Nusantara dan memilih Aceh sebagai tempat menetap. Ia datang ke Aceh karena mengetahui Aceh menjadi pusat perdagangan, kebudayaan dan politik serta pusat studi agama Islam di kawasan Asia Tenggara menggantikan Malaka yang jatuh ke tangan Portugis.

Berkat kesungguhannya ia berhasil menjadi ulama besar yang berpengatahuan luas dan tercatat sebagai Syekh Thariqat Rifa’iyyah dan bermazhab Syafi’i. Hubungan baik Syekh Nuruddin dengan Sultan Iskandar Tsani di Aceh memberi peluang kepadanya untuk mengembangkan ajaran yang dibawanya.

Ia pernah menentang Paham Wujudiyah yang berkembang di Aceh pada masa itu. Untuk menyanggah Paham Wujudiyah yang dinilainya sesat itu ia sengaja menulis beberapa kitab.

Al Quraisyi pada laqab namanya menunjukkan bahwa ia berasal dari kabilah terhormat yaitu Quraisy. Ia berthariqah Rifa’iyyah menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan antara dirinya dengan Hamzah Fansuri, Syamsuddin Sumatrani dan Abdurrauf Al-Fansuri. Sebab, semuanya sama-sama pengikut thariqah suffiyah dan bermazhab Imam Syafi’i.

4. Syekh Abdurrauf As-Singkili

Ia adalah salah satu dari empat ulama terkemuka yang pernah lahir di Aceh pada abad ke-17. Sedangkan tiga ulama lainnya adalah Syekh Hamzah Fansuri, Syekh Syamsuddin Sumatrani dan Syekh Nuruddin Ar-Raniry. Para ahli sejarah memperkirakan bahwa ia lahir sekitar 1615 M (1035 H) di Singkil yang terletak di ujung paling selatan pantai barat Aceh, sekampung dengan Syekh Hamzah Fansuri dan juga putera dari saudara Syekh Hamzah Fansuri sendiri.

Ia tumbuh dan berkembang sebagai calon ulama di Aceh pada masa negeri itu sedang berada dalam puncak kejayaan di bawah pimpinan sultannya yang terbesar, Sultan Iskandar Muda. Untuk memperdalam pengetahuan agamanya, ia berangkat ke Saudi Arabia sekitar tahun 1643 M (1064 H) pada saat negeri Aceh dipimpin oleh Sultanah Safiatuddin yang berada dalam kekacauan politik dan pertentangan paham keagamaan.

Syekh Abdurrauf tidak segera langsung menuju Mekkah, tapi terlebih dahulu bermukim pada banyak tempat yang menjadi pusat-pusat pendidikan agama di sepanjang jalur perjalanan haji. Setelah Ia sampai di Mekkah dan Madinah Ia melengkapi ilmu lahir (ilmu Al-Qur’an, tafsir, hadits, fiqh) yang telah dimilikinya dan dilengkapi pula dengan ilmu, yakni tasawuf dan thariqat.

Setelah belajar di Madinah pada Syekh Thariqah Syatthariyah Ahmad Al Qusyasyi (wafat 1661 M/ 1082 H) dan kemudian pada khalifah atau penggantinya Ibrahim al-Qur’ani, ia memperoleh ijazah dari pimpinan thariqah tersebut. Banyak guru-guru besar yang memberikan ijazah ilmu pengetahuan kepadanya selama 19 tahun menuntut ilmu. Ketika pulang ke Aceh, Syekh Abdurrauf menjadi ulama besar yang memiliki ilmu yang luas. Menurut perkiraan para ahli sekitar tahun 1662 M (1083 H), peranannya sebagai pengajar Thariqah Syatthariah telah dimulainya di Madinah, menjelang pulang ke Aceh.

Penulis: Budi Handoyo (Dosen STAIN Teungku Diruendeng Meulaboh)
Editor: Khoirum Millatin

Continue Reading

Artikel

Karomah Sampai Wafatnya Pendiri Tarekat Naqsyabandi (Part 3)

Published

on

Ilustrasi

Nasehat, Akhlak dan Karomah Syaikh an-Naqsyabandî

Di antara akhlak Syaikh an-Naqsyabandî adalah apabila menjenguk salah seorang temannya, pasti akan menanyakan kabar keluarga dan anak-anaknya serta menghiburnya dengan hiburan yang sepantasnya. Bukan hanya itu saja, Syaikh an-Naqsyabandî juga menanyakan apa yang berhubungan dengannya sampai bertanya tentang ayam-ayam peliharaannya. Ditampakkan rasa belas-kasihan kepada semuanya seraya berkata, “Abu Yazid al-Busthâmî sekembalinya dari laut berdzikir, melakukan hal seperti ini.”

Meski sangat sempurna dalam kezuhudannya, Syaikh an-Naqsyabandî senantiasa memberi dan mendahulukan orang lain. Bila ada orang memberinya, diterimanya. Lalu membalasnya dengan pemberian yang berlipat ganda. Demikian itu karena Syaikh an-Naqsyabandî mengikuti jejak Rasulullah Shalallu ‘Alaihi Wassalam yang sangat terkenal kedermawanannya. Keberkahan akhlaknya yang mulia ini menular kepada murid-muridnya.

Di antara karamahnya adalah sebagaimana yang telah disampaikan oleh Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar. Suatu ketika Syaikh ‘alâ`uddîn al-Aththar bersama dengan Syaikh an-Naqsyabandî. Ketika itu udara diliputi oleh mendung. Lalu Syaikh an-Naqsyabandî bertanya, “Apa waktu dzuhur sudah masuk?” Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar menjawab, “Belum” Lalu Syaikh an-Naqsyabandî berkata, “Keluarlah dan lihatlah langit.”

Lalu Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar keluar dan melihat ke atas langit. Tiba-tiba tersingkaplah hijab alam langit sehingga Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar dapat melihat seluruh malaikat di langit tengah melaksanakan shalat Dzuhur. Lalu Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar masuk dan langsung ditanya oleh Syaikh an-Naqsyabandî, “Bagaimana pendapatmu, bukankah waktu dzuhur tiba?”

Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar malu dibuatnya dan membaca istighfar dan sampai beberapa hari masih terbebani dengan kejadian tersebut.

Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar berkata, “Ketika Syaikh an-Naqsyabandî akan meninggal, aku dan yang hadir pada saat itu membaca surah Yasîn. Ketika bacaan surah Yasin sampai di tengah-tengah, tiba-tiba tampak seberkas cahaya menyinari seisi ruangan. Maka aku membaca kalimat laa ilaaha illa Allah, lalu Syaikh an-Naqsyabandî wafat.”

Wafatnya Syaikh an-Naqsyabandî

Syaikh an-Naqsyabandî wafat pada malam Senin tanggal 3 Rabi’ul awal tahun 791 Hijriyah. Kemudian dimakamkan di kebun miliknya yang memang sudah ditentukan oleh Syaikh an-Naqsyabandî sendiri. Para pengikutnya mem-bangun kubah di atas makamnya dan di kebunnya dibangun masjid yang luas.

Sumber: Buku Menyimak Biografi Pendiri Thoriqoh Al-Mu’tabaroh

Continue Reading

Artikel

Nasab Keilmuan dan Keturunan Pendiri Tarekat Naqsyabandi (Part 2)

Published

on

Ilustrasi

Syaikh an-Naqsyabandî berguru ilmu tarekat kepada Syaikh Muhammad Bâbâ as-Sammâsî kemudian kepada Sayyid ‘Amîr Kulâl. Sedangkan Sayyid ‘Amir Kulal berguru kepada Syaikh Muhammad Baba as-Sammâsî. Syaikh Muhammad Bâbâ as-Sammâsî berguru kepada ‘Ali ar-Râmîtanî yang lebih dikenal dengan nama Syaikh al-‘Azîzân. Syaikh al-Azîzân berguru kepada Syaikh Mahmud al-‘Anjîr Faghnawî.

Syaikh Mahmud al-‘Anjîr Faghnawi berguru kepada Syaikh ‘Ârif ar-Rîwakirî yang berguru kepada Syaikh ‘Abdul Khalîq al-Ghuzduwânî yang berguru kepada Syaikh Abi Ya’qûb Yûsuf al-Hamadânî yang berguru kepada Syaikh Abi ‘Ali al-Fadhal bin Muhammad ath-Thusi al-Fâramadî yang berguru kepada Syaikh Abil Hasan ‘Ali bin Abi Ja’far al-Kharqânî.

Syaikh Abil Hasan ‘Ali berguru Kepada Abi Yazid Thaifur bin ‘Îsa al-Busthâmî yang berguru kepada Syaikh Imam Ja’far ash-Shâdiq yang berguru kepada kakeknya Sayyid al-Qâsim bin Muhammad bin Abi Bakar ash-Shiddiq yang dari Salmân al-Farîsî yang memperoleh dari Abi Bakar ash-Shiddîq yang memperoleh dari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam.

Syaikh an-Naqsyabandî juga berkata, “Di antara pertolongan Allah yang diberikan kepadaku adalah kopiah kakek guruku (Syaikh al-‘Azîzân) telah sampai kepadaku sehingga keadaanku semakin baik dan harapanku semakin kuat. Yang demikian itu membuatku dapat mengabdi kepada Sayyid ‘Amîr Kulâl dan memberi tahuku bahwa Syaikh as-Sammâsî mewasiatkan diriku kepadanya.”

Semakin hari Sayyid ‘Amîr Kulâl semakin memperhatikan dan bersungguh-sungguh dalam membimbingnya. Setelah bekal bimbingan yang diberikan dirasa sudah cukup, Sayyid ‘Amîr Kulâl berkata, “Wahai anakku, aku telah melaksanakan wasiat Syaikh Muhammad Bâbâ as-Sammâsî untuk membimbingmu.”

Seraya menunjuk ke arah susunya, Sayyid ‘Amîr Kulâl berkata, “Engkau telah menyusu pendidikan kepadaku. Tingkat penyerapanmu terhadap apa yang aku ajarkan sangat tinggi dan keyakinanmu sangat kuat. Oleh karena itu, aku mengizinkan engkau mencari ilmu ke beberapa orang guru. Engkau dapat mengambil ilmu dari mereka sesuai dengan kemauanmu yang besar.”

“Sejak saat itu, aku terus menerus mendatangi ulama untuk memetik ilmu syariat dan mencari ilmu Hadis serta akhlak Rasulullah dan para sahabat sebagaimana telah diperintahkan kepadaku,” papar Syaikh an-Naqsyabandî.



Sumber: Buku Menyimak Biografi Pendiri Thoriqoh Al-Mu’tabaroh

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending