Connect with us

Artikel

Dzikir dan Produksi ‘Hormon Bahagia’

Oleh: KH. Budi Rahman Hakim, MSW., PhD.

[Doktor bidang tashawuf dan thariqah dari Tilburg University School of Humanities and Digital Sciences, Tilburg, Belanda/Ketua Penasehat Roudhoh TQN Suryalaya Sirnarasa Pusat]

Published

on

Hormon Kebahagiaan
1

Manusia sebagai makhluq Allah paling sempurna penciptaannya [احسن التقويم] terus menemukan konfirmasi empiris-scientifik-nya. Ini sekaligus membantah adagium: tidak ada manusia super, yang ada hanya jadi manusia itu super. Apa di antara ke-super-an makhluq Allah bernama manusia?

Para pakar dan praktisi di dunia medis antara lain menemukan bahwa sedikitnya ada 4 jenis hormon (happiness chemicals) yang jika ini berproduksi dengan baik dalam diri seorang manusia akan memberi efek rasa bahagia dalam kehidupannya. Semakin melimpah produksi hormon-hormon ini di dalam dirinya semakin bahagia dan bahkan selalu bahagia bahagia selalu hidupnya.

Hebatnya lagi, untuk memproduksi happiness chemicals dalam diri manusia ini sesungguhnya tidak perlu bantuan dari apapun dan dari siapapun di luar dirinya –asalkan tahu tata caranya seperti diajarkan oleh para ahli tentang manusia, baik struktur jasmaninya maupun anatomi ruhaninya.

Fakta mirisnya ialah: karena kurangnya pengetahuan tentang kecanggihan teknologi mesin tubuh-ruh manusia, di antara manusia banyak yang memilih untuk  menciptakan dan memerlukan –bahkan dibuat ketergantungan terhadap –rangsangan eksternal untuk memproduksi kimia alami kebahagiaan yang sejatinya telah tersedia sendiri di tubuhnya.

Karena merasakan sensasi kebahagiaan akibat rangsangan di atas terjadi terus menerus terjadilah proses pencanduan yang sempurna. Zat adiktifnya inilah yang menyulap pemakai/pengguna perangsang ini jadi pecandu (addict). Persoalan muncul ketika tiba keinginan untuk mendapatkan sensasi bahagia –ketagihan– lalu rangsangan-rangsangan dari luar dirinya tadi tidak tersedia mereka merasakan kesakitan yang menyiksa (sakau). Mereka bisa menderita sampai akhirnya mendapat rangsangan dimaksud.

Apa saja happiness chemicals yang ada dalam diri kita?

Pertama, hormon DOPAMIN. Ini adalah jenis hormon yang jika berreproduksi akan melahirkan sensasi perasaan semangat dan optimisme menjalani hidup. Seorang yang hormon Dopaminya melimpah akan termotivasi untuk maju, untuk meraih apa yang diinginkannya dalam hidup. Ia juga meraskan sensasi apresiasi positif dalam hidupnya.

Sebaliknya, kalau hormon Dopamin dalam diri seseorang kurang maka ia akan didominasi rasa malas, tidak punya semangat hidup dan selalu pesimis dalam ikhtiar mencapai atau mewujudkan apa yang ia citakan dalam hidup. Seorang yang hormon Dopaminnya rendah maka ia selalu negatif merespon sesuatu, dalam berinteraksi dengan sesama.

Untuk memantik produksi hormon Dopamin dalam diri seseorang, para ahli dan praktisi medis menyarankan agar ia sering-sering mengucap kalimat syukur (gratitude), kapanpun dimanapun dalam situasi apapun. Latih terus menerus diri untuk selalu berterimakasih kepada kehidupan atas segala anugerah yang telah diterima. Latih untuk terus mengucap terimakasih terhadap apa yang ada yang telah dipunyai dalam hidup. Mereka menyarankan agar dipadu dengan gerakan, olah raga, dan sering-sering menyelesaikan tugas hingga tuntas.

Guru-guru Agung Pecinta Kesucian Jiwa dengan jelas dan tegas menyatakan bahwa ekspresi syukur terbaik adalah dzikirullah. Dzikir itu syukur, berdasarkan firman ALLAH dalam hadits qudsi:

اذا ذكرتني شكرتني اذا نسيتني كفرتني

Semakin banyak dzikirnya, banyak syukurnya. Semakin banyak bersyukurnya, semakin besar rasa syukurnya, semakin besar rasa terimakasih. Rasa terimakasih ini hadir pada seorang yang merasakan telah banyaknya anugerah, karunia, nikmat dari ALLAH yang ia terima.

Rasa syukur dan rasa terimakasih dengan amaliyah dzikir inilah yang akan memantik produksi hormon dopamin dalam jumlah yang berlimpah. Berlimpahnya hormon dopamin dalam diri seseorang maka semakin semangat, penuh motivasi dan optimis dengan kehidupannya. Ia pastinya bahagia menjalani semua kegiatan hidupnya. Kalau dzikirnya belum meraih perasaan ini maka tandanya dzikirnya belum banyak, dzikirnya mesti sesuai petunjuk dokter ruhani Ahli Silsilah.

Hormon Bahagia
2

Kedua, hormon OXYTOCIN. Happiness chemical ini merupakan jenis hormon yang jika berproduksi dalam diri seseorang maka akan melahirkan perasaan cinta dan kepuasan terhadap apapun yang terjadi dalam hidupnya. Semakin massal produksi hormon Oxytocin dalam diri seseorang maka semakin berlimpah rasa cinta dalam hidupnya. Hidup dirasakannya indah dan baik-baik saja.

Sebaliknya, jika seseorang kekurangan hormon Oxytocin maka hidupnya dikuasai rasa benci terhadap apapun dan siapapun. Ia mudah membenci. Seorang yang produksi hormon Oxytocinnya rendah ia sering tidak merasa puas dengan apa yang ada dalam kehidupannya, sekaligus mudah terbakar iri hati lalu mendengki.

Untuk memantik keluarnya hormon ini, para pakar dan praktisi medis menasehatkan agar seseorang harus rajin menjalin relasi/hubungan yang sehat dengan antar alam sekitarnya, dengan sesama manusia, menjalin tali kasih dalam pernikahan, percintaan,  pertamanan dan persahabatan; juga menjalin relasi yang baik dengan hewan dan tumbuh-tumbuhan. Kegiatan beranjangsana/silaturahim, bersalam-salaman, saling peluk, juga merupakan aktivitas yang direkomendasikan untuk memproduksi hormon oxytocin.

Para Pecinta Kesucian Jiwa sejak awal perjalanan meniscayakan diri membangun relasi persahabatan dengan Guru Wali Allah sebagai sosok the perfect man (shohbah) dan sesama ikhwan. Inilah yang menjaganya untuk selalu di maqom khusus. Shohbah adalah perantara seseorang membangun relasi istimewa dengan Tuhan, ALLAH, melalui para kekasih pilihanNya dengan tuntunan dzikrullah.

Rajin kumpul duduk bersama manusia-manusia istimewa akhlaqnya yang masih hidup di dunia bahkan dengan yang sudah berpindah ke alam sebelah. Pada saat yang sama, menjalin hubungan yang baik dengan para ikhwan. Ini adalah untuk memantik produksi hormon oxytocin agar hidupnya penuh cinta dan jika hatinya penuh cinta tidak tersisa baginya rasa benci. Seorang yang hormon cintanya melimpah akan mampu melakoni riyadhoh: ‘mencintai dan menyayangi orang yang membenci.’

Ketiga, hormon SEROTONIN. Ini ada hormon yang mengatur mood seseorang atau mood stabilizer. Kalau hormonnya Serotoninnya kurang, maka seseorang akan mudah bete –bad mood. Uring-uringan, ngeluh, mengaduh. Hidup dirasakan tidak ada enaknya. Hidupnya –bahasa gaulnya– moody alias tergantung mood. Baperan.

Sebaliknya, kalau produksi dan cadangan hormon Serotonimnya melimpah maka seseorang akan selalu in a good mood. Selalu feeling good. Hidup dirasakan nyaman dan enak. Semua persoalan dan tantangan kehidupan dibawa enjoy. Santay dan tenang saja ada sebesar apapun masalah dihadapi.

Para pakar dan praktisi medis menyarankan, agar tubuh memproduksi hormon Serotonim, maka seseorang harus rutin melakukan meditasi/yoga, lalu mengatur nafas, deep breathing. Melakukan lari hingga berkeringan sambil berjemur sinar matahari pagi.

Ajaran amalan Pecinta Kesucian Jiwa dengan jelas melatih kita untuk mengistiqomahkan dzikir yang tata caranya, suara dan geraknya, sesuai dengan apa yang disarankan medis. Dzikir senafas-senafas, menarik nafas panjang dan menahannya, dzikir sampai berkeringat. Syeikh Muhammad Abdul Gaos jelas menyampaikan dzikir itu olah raga –selain olah nyawa dan olah rasa.

3

Keempat, hormon ENDORPHINS. Ini adalah hormon canggih dalam diri manusia yang memiliki fungsi untuk menghilangkan rasa nyeri, rasa sakit utamanya di hati. Inilah yang namanya ‘the pain killer chemical’.

Seorang yang produksi hormon Endrophinsnya stabil bahkan melimpah maka ia punya daya tahan yang kuat menghadapi kenyataan hidup apapun bagaimana pun. Ia punya kekuatan fisik dan mental untuk bertahan bahkan maju-berkembang meski diterpa berbagai hantaman gelombang pasang surut kehidupan. Ia tetap tangguh melewati segala perubahan cuaca serta ragam pancaroba kehidupan.

Sebaliknya, seorang mengalami kekurangan cadangan hormon ini maka ia sangat rentan terserang sakit hati dan kecewa. Sakit hati dan kecewa biasanya karena terlalu tinggi ekspektasi dan terlalu dalam mencintai. Itulah bawaan asli manusia yang seringkali membuat manusia terbang tinggi tapi juga terjerembab jatuh ke titik terendah.

Sakit hati dan kecewa yang berkepanjangan inilah yang akhirnya bisa membahayakan kesehatan tubuhnya. Demikian, seorang yang produksi hormonnya rendah mudah terserang penyakit. Hormon ini berkelindan dengan imun system (sistem kekebalan tubuh). Jika produksi hormon Endorphinsnya sedikit maka imunity-nya turun, jika banyak maka imunity-nya naik.

Oleh karenanya penting bagi seseorang untuk terus memproduksi hormon Endorphins dalam jumlah berlimpah. Jika cadangan hormon ini meruah maka ia semakin meningkat daya tahannya dari serangan apapun, kapanpun dan bagaimanapun. Pertanyaannya, bagaimana agar cadangan hormon ini melimpah?

Para pakar dan praktisi medis memberi saran agar seseorang produksi hormon Endorphins-nya melimpah untuk sering-sering melakukan praktek meditasi, sering-sering melakukan gerakan olah raga, berjoget sambil senyum-tertawa. Selalu menggunakan wewangian sebagai aroma terapi.

Amalan dzikir yang telah, sedang dan akan selalu kita istiqomahkan memenuhi prasyarat produksi massal hormon Endorphins. Bagaimana tidak, dzikir yang tata caranya telah dituntunkan melalui proses Talqin Dzikir mensyaratkan pengamalnya untuk: 1) mengeluarkan vibrasi suara dengan frekuensi keras ke dalam dan keluar; 2) gerak dzikir –kepala dan badan– yang terarah dan seirama dengan suara; 3) memejamkan mata untuk konsentrasi.

Hadrotus Syeikh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul Ra Qs tegas menyatakan bahwa ketika sedang berdzikir, kita itu sedang ber-olah raga, olah nyawa dan olah rasa. Makin banyak –hingga berkeringat– dan istiqomah dzikirnya maka makin sehat jasad, nyawa dan rasanya. Sehat jasad, nyawa dan rasanya maka bahagia hidupnya.

Teruskan dzikirnya, kapanpun dan di mana pun, hingga tak terasa cadangan produksi hormon Endorphins melimpah ruah. Tanda melimpah ruah, kita akan merasakan kekuatan menghadapi cacian, hinaan, gangguan eksternal yang biasanya membuat kita sakit hati dan kecewa. Tidak sakit hati itu perintah dari Guru-guru Sufi Agung Pecinta Kesucian Jiwa. “Kita mah jangan sakit hati, kasihan orang lain.”

Salam bahagia.[]

Artikel

Ngopi Online: Tasawuf dan Psikologi dalam Pengembangan Diri

Published

on

By

Jakarta, JATMAN.OR.ID: Kajian psikologi dan tasawuf beberapa tahun belakangan semakin banter dibicarakan kalangan akademis. Tentu banyak faktor yang melatarbelakanginya. Dua ilmu ini ibarat kopi dan gula, sama-sama nikmat diarungi terutama jika dileburkan menjadi satu maka muncul sebuah perkataan; nikmat mana yang bisa didustakan?

Berpijak dari sini, pada Rabu (24/2) Pengurus Wilayah Mahasiswa Ahlith Thoriqoh Al-Mu’tabaroh An-Nahdliyyah (MATAN) DKI Jakarta bekerjasama dengan Lembaga Training Gets Indonesia mengadakan webinar bertajuk “Ngopi Online” (Ngilen).

Webinar ini dikemas dengan konsep santai, namun tidak kehilangan substansi materi yang didiskusikan. Mengangkat tema “Similaritas Psikologi dan Tasawuf dalam Pengembangan Diri”.

Coach Indra Hanjaya sebagai pemateri yang merupakan founder Gets Indonesia dan M. Aqil Syahrian selaku perwakilan dari PW MATAN DKI Jakarta sebagai moderator.

Diskusi ini diawali dengan sambutan yang disampaikan Wakil Ketua PW MATAN DKI Jakarta Idris Wasahua, M.H. dan dari perwakilan Gets Indonesia Sri Herlina, S.Psi.

Ngilen perdana ini, begitu menarik perhatian para peserta karena Keluasan wawasan dan pengalaman Coach Jaya sebagai Spiritual Life.

“Similaritas psikologi dan tasawuf bisa ditemukan dalam psikologi transpersonal,” kata Coach Jaya.

Psikologi transpersonal sendiri merupakan salah satu aliran dalam dunia psikologi yang mengintegrasikan aspek spiritual ke dalam disiplin keilmuannya.

“Psikologi tidak hanya menyentuh aspek pikiran dan perilaku saja, tetapi juga bergerak lebih jauh hingga aspek spiritual yang menyentuh jiwa, hati, dan rasa” ujarnya.

Psikologi semacam ini, telah tumbuh dan berkembang di daerah Timur (termasuk Indonesia) sejak dua ribu tahun yang lalu. Hanya saja, hal itu memang tidak banyak diperhatikan dan disorot sebagaimana psikologi transpersonal beberapa dekade terakhir.

Sementara itu, tasawuf yang berkutat pada tazkiyah al-nufus dan tashfiyah al-qulub merupakan proses pembentukan karakter yang melalui tahapan-tahapan dalam jangka waktu tertentu. Misalnya terdapat trilogi Takhalli, Tahalli, dan Tajalli yang menjadi doktrin umum dalam dunia tasawuf.

Ketiga fase tersebut tidak lain bertujuan untuk menuju insan paripurna, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw. Tak hanya itu, tasawuf di era modern juga bisa diaplikasikan dalam penanggulangan terorisme dan radikalisme; pencegahan korupsi; hingga rehabilitasi pengguna narkoba.

“Gets Indonesia sendiri dalam hal pemberdayaan diri mengembangkan sebuah metode bernama Panca Olah, yakni sinergi antara Olah Pikir, Olah Hati, Olah Rasa, Olah Raga, dan Olah Karsa. Dengan kelima aspek tersebut, seseorang akan mampu mengetahui potensi dirinya, lalu kemudian mengaktualisasikannya dalam kehidupan nyata”, pungkasnya

Lebih lanjut, Coach Jaya menjelaskan, tujuan utama dari penerapan Panca Olah ialah terciptanya revolusi spiritual dalam diri manusia. Revolusi spiritual merupakan sebuah peningkatan dan perluasan kesadaran yang berdampak pada perubahan pemikiran dan tindakan dalam kehidupan sehari-hari.

“Adanya rasa kasih sayang terhadap sesama makhluk hidup di muka bumi, baik itu sesama manusia, tetumbuhan, hewan, dan lain sebagainya itulah hasil dari aktulisasi Panca Olah”, Jelas Coch Jaya.

Dengan hal itu, maka terciptalah harmoni dalam struktur alam semesta secara keseluruhan.

Continue Reading

Artikel

Maqom Kasyaf Imam Ahmad Ibnu Athoillah Assakandari RA.

Oleh: Habib Muhdhor as-Segaf

Published

on

Ibnu Athoillah

Kasyaf adalah merupakan karomah dan karunia Allah yang diberikan kepada seorang hamba yang dikasihiNya. Kasyaf dapat diartikan terbukanya tembok pemisah antara seorang hamba dengan Allah SWT untuk dapat melihat, merasakan dan mengetahui hal-hal ghaib yang sangat sulit diterima oleh akal sehat.

Kasyaf dapat digapai oleh siapa saja yang memiliki kedekatan khusus dengan Allah SWT. Hal itu sebagaimana spa yang telah dijelaskan oleh Syaikh Imam Yusuf ibn Ismail An-Nabhani RA dalam salah satu karyanya yang berjudul Jami’ Karamat Al-Auliya.

Dalam kitab yang memuat biografi 695 wali (di luar wali-wali yang muncul di Asia Tenggara) itu, terlihat jelas betapa para wali rata-rata memiliki kemampuan untuk menggapai mukasyafah. Termasuk di dalamnya Imam Ghazali RA, Ibnu Arabi RA, dan Imam Syafi’i RA. Bentuk kasyafnya bermacam-macam. Sesuai kondisi kehidupan para wali tersebut.

Kaitannya dengan hal itu, Rasulullah SAW pernah mengatakan bahwa, “Seandainya hati kalian tidak dilanda keraguan dan tidak mengajak kalian untuk banyak bicara, niscaya kalian akan mendengar apa yang sedang aku dengar.”

Dalam hadis lain, sebagaimana dinukilkan dari kitab Ihya Úlum Al-Din, Rasulullah SAW berkata, ”Seandainya bukan karena setan yang menyelimuti qalbu anak cucu Adam maka niscaya mereka akan dengan mudah menyaksikan para malaikat gentayangan di jagad raya kita.”

Di dalam al-Quran juga ada isyarat yang memungkinkan seseorang memperoleh kasyaf. Ada beberapa ayat yang mengisyarakatkan demikian. Di antaranya, ayat 37 Surah Qaaf. “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedangkan dia menyaksikannya.”

Salah satu contoh maqom kekasyafan adalah cerita yang dialami oleh Abul Fadhal Yusuf bin Muhammad RA atau yang disebut Ibnun Nahwi dengan gurunya Imam Ahmad Ibnu Athoillah Assakandari RA. Semoga kita memperoleh barokahnya. amin.

Adapun cerita tersebut adalah sebagai berikut.

يقول الامام ابن النحوى ابو فضل يوسف بن محمد رحمه الله حضرت مجلس سيدى ابن عطاءالله السكندرى ذات يوم وهو يومئذ من كبار أهل التصوف فى عصره.

Abul Fadhal Yusuf bin Muhammad RA yang terkenal dengan sebutan nama Ibnun Nahwi, pengubah qashidah al-munfarijah, pernah menceritakan bahwa suatu hari saya menghadiri majlis ilmu guruku Imam Ahmad Ibnu Athoillah Assakandari RA, dan pada saat itu beliau tergolong salah seorang pembesar ahli tasawuf di zamannya.

فنظرت إليه متعجبا من علومه ، فقلت فى نفسى, ياترى الشيخ فى أى مقام من المقامات هو؟

Maka kedua mataku menatap kepadanya dengan penuh kekaguman akan keluasan ilmunya, sembari berkata pada diriku, “Betapa tinggi derajat dan maqommu wahai guruku, namun, ia berada di tingkatan dan maqom yang mana??” dengan penuh penasaran, hatiku bertanya.    

فنظر لى الشيخ و قطع حديثه وقال فى مقام المذنبين العاصين يا بن النحوى.

Eh, ternyata dia tahu bisikan hatiku, dia langsung melihatku, lalu menghentikan perkataanya, seraya mengatakan, “Wahai Ibnu Nahwi, kedudukan dan maqomku adalah kedudukan dan maqom orang-orang yang berdosa dan ahli maksiat,” dengan dengan penuh kerendahan beliau menjawab.

فعجبت من ذلك و لزمت الصمت من هيبته ثم سلمت عليه و انصرفت.

Akupun terkejut mendengar ucapanya itu, aku langsung diam, melihat begitu besarnya haibah beliau, lalu aku mendekat kepadanya dan berjabatan tangan, kemudian pulang.

فرأيت فى تلك الليلة سيدنا رسول الله ﷺ

على مرتبة عالية و الصحابة الكرام حوله و الناس مجتمعون.

Malamnya aku mimpi Baginda Nabi SAW, beliau berada di tingkat yang sangat tinggi dan para sahabat berada di dekatnya, sementara para sholihin berkumpul di sekitarnya.

فقال رسول الله ﷺ: أين تاج الدين بن عطاء الله ؟

Lalu Baginda Nabi SAW bertanya kepada mereka, “Dimana Tajuddin Ahmad Ibnu Athoillah Assakandari?”

فقال : نعم يارسول الله.

Maka dia mendekat kepadanya, dan berkata,”Iya, ini saya ya Rasulullah.”

فقال رسول الله ﷺ تكلم فإن الله يحب كلامك. فتكلم.

Lalu Nabi saw berkata kepadanya, “Berbicaralah, karena Allah SWT senang dengan ucapamu, silahkan berbicara.”

واستيقظت, فجئت لسيدى ابن عطاءالله رضى الله عنه.

Akupun terbangun, lalu esok harinya aku segera menemui guruku Imam Ahmad Ibnu Athoillah Assakandari RA.

فسمعته يتكلم بما سمعته فى الرؤيا أمام سيدنا رسول الله ﷺ.

Begitu sampai dan mendengar apa yang dituturkannya itu, ternyata sama seperti apa yang disampaikan di hadapan Baginda Nabi SAW, yang didengar dalam mimpinya semalam.

فقلت فى نفسى هذا والله هو المقام.

Maka aku langsung berkata pada diriku, “Ohh, ternyata itu maqomnya, sungguh sangat tinggi.”

فنظر لى سيدى ابن عطاء الله السكندرى

وقـــــــــــــــال “وما خفى عنك كان أعظم يا بن النحوى.” رضى الله عن الشيخ ابن عطاءالله السكندرى.

Begitu bisikan hatiku itu berhenti, ternyata dia tahu, maka guruku Imam Ahmad Ibnu Athoillah Assakandari RA langsung menoleh kepadaku dan berkata kepadaku, “Wahai Ibnu Nahwi, apa yang belum kamu ketahui tentang diriku ini masih banyak.”

Wallahu a’lam.

Continue Reading

Artikel

Fase Kehidupan di Alam Dunia (1)

Kupas Tuntas Perjalanan Hidup Manusia dalam Lima Alam

Oleh: DR. KH. M. Hamdan Rasyid, MA

Published

on

Fase kehidupan di alam dunia, dimulai sejak manusia dilahirkan oleh Allah SWT dari perut ibunya dan berakhir ketika diwafatkan oleh Allah SWT. Sesudah mengalami kehidupan di alam rahim selama kurang lebih sembilan bulan, janin tumbuh dan membentuk diri sehingga menjadi bentuk yang sempurna, maka dengan izin Allah SWT manusia terlahir dari perut seorang ibu ke alam dunia ini dengan perjuangan yang sangat melelahkan antara hidup dan mati.

Sesudah lahir di alam dunia, manusia akan mengalami berbagai perkembangan menuju kematangan dan kedewasaan, kemudian kemunduran menuju masa tua dan kematian. Perkembangan adalah serangkaian perubahan progesif yang terjadi sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman. Menurut Van den Daele “Perkembangan berarti perubahan secara kualitatif”. Ini berarti bahwa perkembangan bukan sekedar bertambahnya berat atau tinggi badan serta kemampuan seseorang. Perkembangan adalah suatu proses integrasi dari banyak struktur dan fungsi yang kompleks. Di dalam perkembangan ini ada dua proses yang saling bertentangan yaitu pertumbuhan atau evolusi dan kemunduran atau involusi. Kedua proses ini terjadi mulai dari pembuahan dan berakhir dengan kematian. Manusia tidak pernah statis, semenjak pembuahan hingga kematian manusia selalu mengalami perubahan, baik kemampuan fisik maupun psikologis.

Plaget menuturkan bahwa dua struktur itu “tidak pernah statis dan sudah ada semenjak awal”. Dengan kata lain bahwa organisme yang matang selalu mengalami pembuahan yang progesif sebagai tanggapan terhadap kondisi yang bersifat pengalaman dan mengakibatkan jaringan interaksi yang majemuk. Fakta yang penting dari perkembangan adalah bahwa dasar-dasar permulaan adalah sikap kritis, kebiasaan, dan pola perilaku yang dibentuk selama bertahun tahun. Tahun pertama sangat menentukan seberapa jauh individu-individu berhasil menyesuaikan diri, baik dalam penyesuaian diri pribadi maupun penyesuaian sosial. Keberhasilan

dalam menyesuaikan diri pada masa ini sangat mempengaruhi perkembangan dalam kehidupan pada masa-masa berikutnya hingga ketika manusia bertambah tua. Beberapa proses yang kompleks dari perkembangan manusia adalah sbb:

  1. Proses Fisik (physical process) yaitu perubahan yang bersifat biologis. Dari gen yang diwariskan orang tua, perubahan hormon selama hidup, bertambahnya tinggi badan, berat badan dan kemampuan motorik seseorang telah mencerminkan perkembangan biologis menuju kepada kematangan (maturation).
  2. Proses Kognitif (cognitive process) yaitu perubahan yang terjadi dalam diri seseorang yang meliputi daya pikir, kecerdasan dan bahasa individu. Seperti bagaimana mengingat alamat rumah, pelajaran, menyusun kalimat, mengetahui warna-warna benda. Semua itu menunjukan peranan proses kognitif dalam perkembangan.
  3. Proses Sosial Emosional (socio-emotional process) yaitu proses perubahan yang terjadi pada emosi seseorang serta dalam berhubungan (berinteraksi) dengan orang lain. Emosi dapat mempengaruhi perubahan jasmaniah seseorang yang tampak dalam memberikan respon atau tanggapan terhadap suatu peristiwa.

Ketiga macam proses di atas, baik proses fisik, kognitif maupun sosial emosional saling berkaitan satu sama lain. Sebagai contoh, proses emososial membentuk proses kognitif. Proses kognitif mendukung atau membatasi proses sosial-emosional. Sementara proses fisik mempengaruhi proses kognitif. Semua ini akan selalu bergantung satu sama lain. Jadi manusia tidak akan bisa terlepas dari ketiga proses ini karena pada dasarnya manusia akan selalu mengalami perubahan dari pembuahan sampai kematian, baik dari segi fisik maupun psikologis.

(Bersambung…)

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending