Connect with us

Artikel

Dzikir dan Produksi ‘Hormon Bahagia’

Oleh: KH. Budi Rahman Hakim, MSW., PhD.

[Doktor bidang tashawuf dan thariqah dari Tilburg University School of Humanities and Digital Sciences, Tilburg, Belanda/Ketua Penasehat Roudhoh TQN Suryalaya Sirnarasa Pusat]

Published

on

Hormon Kebahagiaan
1

Manusia sebagai makhluq Allah paling sempurna penciptaannya [احسن التقويم] terus menemukan konfirmasi empiris-scientifik-nya. Ini sekaligus membantah adagium: tidak ada manusia super, yang ada hanya jadi manusia itu super. Apa di antara ke-super-an makhluq Allah bernama manusia?

Para pakar dan praktisi di dunia medis antara lain menemukan bahwa sedikitnya ada 4 jenis hormon (happiness chemicals) yang jika ini berproduksi dengan baik dalam diri seorang manusia akan memberi efek rasa bahagia dalam kehidupannya. Semakin melimpah produksi hormon-hormon ini di dalam dirinya semakin bahagia dan bahkan selalu bahagia bahagia selalu hidupnya.

Hebatnya lagi, untuk memproduksi happiness chemicals dalam diri manusia ini sesungguhnya tidak perlu bantuan dari apapun dan dari siapapun di luar dirinya –asalkan tahu tata caranya seperti diajarkan oleh para ahli tentang manusia, baik struktur jasmaninya maupun anatomi ruhaninya.

Fakta mirisnya ialah: karena kurangnya pengetahuan tentang kecanggihan teknologi mesin tubuh-ruh manusia, di antara manusia banyak yang memilih untuk  menciptakan dan memerlukan –bahkan dibuat ketergantungan terhadap –rangsangan eksternal untuk memproduksi kimia alami kebahagiaan yang sejatinya telah tersedia sendiri di tubuhnya.

Karena merasakan sensasi kebahagiaan akibat rangsangan di atas terjadi terus menerus terjadilah proses pencanduan yang sempurna. Zat adiktifnya inilah yang menyulap pemakai/pengguna perangsang ini jadi pecandu (addict). Persoalan muncul ketika tiba keinginan untuk mendapatkan sensasi bahagia –ketagihan– lalu rangsangan-rangsangan dari luar dirinya tadi tidak tersedia mereka merasakan kesakitan yang menyiksa (sakau). Mereka bisa menderita sampai akhirnya mendapat rangsangan dimaksud.

Apa saja happiness chemicals yang ada dalam diri kita?

Pertama, hormon DOPAMIN. Ini adalah jenis hormon yang jika berreproduksi akan melahirkan sensasi perasaan semangat dan optimisme menjalani hidup. Seorang yang hormon Dopaminya melimpah akan termotivasi untuk maju, untuk meraih apa yang diinginkannya dalam hidup. Ia juga meraskan sensasi apresiasi positif dalam hidupnya.

Sebaliknya, kalau hormon Dopamin dalam diri seseorang kurang maka ia akan didominasi rasa malas, tidak punya semangat hidup dan selalu pesimis dalam ikhtiar mencapai atau mewujudkan apa yang ia citakan dalam hidup. Seorang yang hormon Dopaminnya rendah maka ia selalu negatif merespon sesuatu, dalam berinteraksi dengan sesama.

Untuk memantik produksi hormon Dopamin dalam diri seseorang, para ahli dan praktisi medis menyarankan agar ia sering-sering mengucap kalimat syukur (gratitude), kapanpun dimanapun dalam situasi apapun. Latih terus menerus diri untuk selalu berterimakasih kepada kehidupan atas segala anugerah yang telah diterima. Latih untuk terus mengucap terimakasih terhadap apa yang ada yang telah dipunyai dalam hidup. Mereka menyarankan agar dipadu dengan gerakan, olah raga, dan sering-sering menyelesaikan tugas hingga tuntas.

Guru-guru Agung Pecinta Kesucian Jiwa dengan jelas dan tegas menyatakan bahwa ekspresi syukur terbaik adalah dzikirullah. Dzikir itu syukur, berdasarkan firman ALLAH dalam hadits qudsi:

اذا ذكرتني شكرتني اذا نسيتني كفرتني

Semakin banyak dzikirnya, banyak syukurnya. Semakin banyak bersyukurnya, semakin besar rasa syukurnya, semakin besar rasa terimakasih. Rasa terimakasih ini hadir pada seorang yang merasakan telah banyaknya anugerah, karunia, nikmat dari ALLAH yang ia terima.

Rasa syukur dan rasa terimakasih dengan amaliyah dzikir inilah yang akan memantik produksi hormon dopamin dalam jumlah yang berlimpah. Berlimpahnya hormon dopamin dalam diri seseorang maka semakin semangat, penuh motivasi dan optimis dengan kehidupannya. Ia pastinya bahagia menjalani semua kegiatan hidupnya. Kalau dzikirnya belum meraih perasaan ini maka tandanya dzikirnya belum banyak, dzikirnya mesti sesuai petunjuk dokter ruhani Ahli Silsilah.

Hormon Bahagia
2

Kedua, hormon OXYTOCIN. Happiness chemical ini merupakan jenis hormon yang jika berproduksi dalam diri seseorang maka akan melahirkan perasaan cinta dan kepuasan terhadap apapun yang terjadi dalam hidupnya. Semakin massal produksi hormon Oxytocin dalam diri seseorang maka semakin berlimpah rasa cinta dalam hidupnya. Hidup dirasakannya indah dan baik-baik saja.

Sebaliknya, jika seseorang kekurangan hormon Oxytocin maka hidupnya dikuasai rasa benci terhadap apapun dan siapapun. Ia mudah membenci. Seorang yang produksi hormon Oxytocinnya rendah ia sering tidak merasa puas dengan apa yang ada dalam kehidupannya, sekaligus mudah terbakar iri hati lalu mendengki.

Untuk memantik keluarnya hormon ini, para pakar dan praktisi medis menasehatkan agar seseorang harus rajin menjalin relasi/hubungan yang sehat dengan antar alam sekitarnya, dengan sesama manusia, menjalin tali kasih dalam pernikahan, percintaan,  pertamanan dan persahabatan; juga menjalin relasi yang baik dengan hewan dan tumbuh-tumbuhan. Kegiatan beranjangsana/silaturahim, bersalam-salaman, saling peluk, juga merupakan aktivitas yang direkomendasikan untuk memproduksi hormon oxytocin.

Para Pecinta Kesucian Jiwa sejak awal perjalanan meniscayakan diri membangun relasi persahabatan dengan Guru Wali Allah sebagai sosok the perfect man (shohbah) dan sesama ikhwan. Inilah yang menjaganya untuk selalu di maqom khusus. Shohbah adalah perantara seseorang membangun relasi istimewa dengan Tuhan, ALLAH, melalui para kekasih pilihanNya dengan tuntunan dzikrullah.

Rajin kumpul duduk bersama manusia-manusia istimewa akhlaqnya yang masih hidup di dunia bahkan dengan yang sudah berpindah ke alam sebelah. Pada saat yang sama, menjalin hubungan yang baik dengan para ikhwan. Ini adalah untuk memantik produksi hormon oxytocin agar hidupnya penuh cinta dan jika hatinya penuh cinta tidak tersisa baginya rasa benci. Seorang yang hormon cintanya melimpah akan mampu melakoni riyadhoh: ‘mencintai dan menyayangi orang yang membenci.’

Ketiga, hormon SEROTONIN. Ini ada hormon yang mengatur mood seseorang atau mood stabilizer. Kalau hormonnya Serotoninnya kurang, maka seseorang akan mudah bete –bad mood. Uring-uringan, ngeluh, mengaduh. Hidup dirasakan tidak ada enaknya. Hidupnya –bahasa gaulnya– moody alias tergantung mood. Baperan.

Sebaliknya, kalau produksi dan cadangan hormon Serotonimnya melimpah maka seseorang akan selalu in a good mood. Selalu feeling good. Hidup dirasakan nyaman dan enak. Semua persoalan dan tantangan kehidupan dibawa enjoy. Santay dan tenang saja ada sebesar apapun masalah dihadapi.

Para pakar dan praktisi medis menyarankan, agar tubuh memproduksi hormon Serotonim, maka seseorang harus rutin melakukan meditasi/yoga, lalu mengatur nafas, deep breathing. Melakukan lari hingga berkeringan sambil berjemur sinar matahari pagi.

Ajaran amalan Pecinta Kesucian Jiwa dengan jelas melatih kita untuk mengistiqomahkan dzikir yang tata caranya, suara dan geraknya, sesuai dengan apa yang disarankan medis. Dzikir senafas-senafas, menarik nafas panjang dan menahannya, dzikir sampai berkeringat. Syeikh Muhammad Abdul Gaos jelas menyampaikan dzikir itu olah raga –selain olah nyawa dan olah rasa.

3

Keempat, hormon ENDORPHINS. Ini adalah hormon canggih dalam diri manusia yang memiliki fungsi untuk menghilangkan rasa nyeri, rasa sakit utamanya di hati. Inilah yang namanya ‘the pain killer chemical’.

Seorang yang produksi hormon Endrophinsnya stabil bahkan melimpah maka ia punya daya tahan yang kuat menghadapi kenyataan hidup apapun bagaimana pun. Ia punya kekuatan fisik dan mental untuk bertahan bahkan maju-berkembang meski diterpa berbagai hantaman gelombang pasang surut kehidupan. Ia tetap tangguh melewati segala perubahan cuaca serta ragam pancaroba kehidupan.

Sebaliknya, seorang mengalami kekurangan cadangan hormon ini maka ia sangat rentan terserang sakit hati dan kecewa. Sakit hati dan kecewa biasanya karena terlalu tinggi ekspektasi dan terlalu dalam mencintai. Itulah bawaan asli manusia yang seringkali membuat manusia terbang tinggi tapi juga terjerembab jatuh ke titik terendah.

Sakit hati dan kecewa yang berkepanjangan inilah yang akhirnya bisa membahayakan kesehatan tubuhnya. Demikian, seorang yang produksi hormonnya rendah mudah terserang penyakit. Hormon ini berkelindan dengan imun system (sistem kekebalan tubuh). Jika produksi hormon Endorphinsnya sedikit maka imunity-nya turun, jika banyak maka imunity-nya naik.

Oleh karenanya penting bagi seseorang untuk terus memproduksi hormon Endorphins dalam jumlah berlimpah. Jika cadangan hormon ini meruah maka ia semakin meningkat daya tahannya dari serangan apapun, kapanpun dan bagaimanapun. Pertanyaannya, bagaimana agar cadangan hormon ini melimpah?

Para pakar dan praktisi medis memberi saran agar seseorang produksi hormon Endorphins-nya melimpah untuk sering-sering melakukan praktek meditasi, sering-sering melakukan gerakan olah raga, berjoget sambil senyum-tertawa. Selalu menggunakan wewangian sebagai aroma terapi.

Amalan dzikir yang telah, sedang dan akan selalu kita istiqomahkan memenuhi prasyarat produksi massal hormon Endorphins. Bagaimana tidak, dzikir yang tata caranya telah dituntunkan melalui proses Talqin Dzikir mensyaratkan pengamalnya untuk: 1) mengeluarkan vibrasi suara dengan frekuensi keras ke dalam dan keluar; 2) gerak dzikir –kepala dan badan– yang terarah dan seirama dengan suara; 3) memejamkan mata untuk konsentrasi.

Hadrotus Syeikh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul Ra Qs tegas menyatakan bahwa ketika sedang berdzikir, kita itu sedang ber-olah raga, olah nyawa dan olah rasa. Makin banyak –hingga berkeringat– dan istiqomah dzikirnya maka makin sehat jasad, nyawa dan rasanya. Sehat jasad, nyawa dan rasanya maka bahagia hidupnya.

Teruskan dzikirnya, kapanpun dan di mana pun, hingga tak terasa cadangan produksi hormon Endorphins melimpah ruah. Tanda melimpah ruah, kita akan merasakan kekuatan menghadapi cacian, hinaan, gangguan eksternal yang biasanya membuat kita sakit hati dan kecewa. Tidak sakit hati itu perintah dari Guru-guru Sufi Agung Pecinta Kesucian Jiwa. “Kita mah jangan sakit hati, kasihan orang lain.”

Salam bahagia.[]

Artikel

Mengenal Tuhan dalam Perspektif Tauhid Wujudi

Published

on

Ketahuilah Tuhan itu Wujud yang Absolut yang tunggal [Wahdatul Wujud]. Karena tidak bisa dikenal hakikat-Nya hanya melalui pikiran yang relatif.

Mengenal Tuhan melalui pikiran laksana melihat obyek melalui bayangan sebuah cermin. Jadi tergantung cerminnya. Kalau cerminnya utuh dan bening maka terhadap objek yang tunggal akan tetap terlihat tunggal.

Akan tetapi jika cerminnya pecah, pecah tiga umpamanya, maka maka obyek yang tunggal akan terlihat tiga.  Begitu juga jika pecah menjadi banyak, maka obyek tunggal akan terlihat banyak.

Itulah sebabnya dalam disiplin teologi/ilmu ketuhanan didapati banyak konsep ketuhanan. Diatanranya:

1. Ada Polyteisme/Tuhan itu banyak
2. Ada Henoteisme/ada diagungkan di antara Tuhan yang banyak sebagai Maha Dewa
3. Ada Monoteisme/Tuhan itu Tunggal tidak dan terpisah dari alam [Imanen]
4. Ada Panteisme/semua keberadaan adalah tampilan dari sifat Tuhan.

Dalam Islam jalan untuk mengenal Tuhan adalah melalui Tauhi. Namun demikian dalam Islam sendiri meski Tuhannya sama yaitu Allah, rujukannya juga sama alqur’an dan hadits, akan tetapi ada perbedaan dalam konsepnya, ada banyak aliran yang berkembang, seperti As’ariyah, Muktazilah, Qodariyah, Jabariyah, dan Mujassimah.

Padahal Tuhan itu Esa adanya [Ahadit Dzat] sebagaimana yang telah dikonseptualisasikan oleh beberapa ulama sufi. Syeikh Al-Junaid Al-Baghdadi menjelaskakan:

التوحيد إفراد الموحد بتحقيق وحدانيته بكمال أحديته أنه الواحد الذي لم يلد ولم يولد، بنفي الأضداد والأنداد والأشباه بلا تشبيه ولا تكسف والتصوير ولاتمثيل ليس كمثله شيء وهو السميع البصير..

“Tauhid adalah menunggalkan yang Maha Tunggal (Muwahid) dengan mewujudkan Wahdaniyah-Nya lewat Kamilah (ke-Maha Kesempurnaan) Ahadiyah-Nya. Bahwa Dia-lah yang Wahdah, yang tiada beranak dan tidak diperanakkan. Kontra terhadap antagoni, tanpa keraguan dan keserupaan, tanpa upaya penyerupaan, tanpa bertanya bagaimana, tanpa tashawur (penggambaran), tanpa  pemisalan dan tidak ada sesuatu pun yang menyamai-Nya. Dan Dialah Yang Maha Mendengar dan Maha Melihat.”[i]  

Al-Imam Abu Hamid Al-Ghazali  menjelaskan

انظر بعين التوحيد المحض وهذا النظر بعرفك قطعاً أنه الشاكر وأنه المشكور وأنه المحب وأنه المحبوب وهذا نظر من عرف أنه ليس الوجود غيره وأن كل شيء هالك إلا وجهه وأن ذلك صدق في كل حال ازلا وأبدا، لأن الغير هو الذي يتصور أن يكون له بنفسه قوام، ومثل هذا الغير لا وجود له بل هو محال أن بوجد إذ الموجود المحقق هو القائم بنفسه، وما ليس له بنفسه قوام فليس له بنفسه وجود بل هو قائم بغيره فهو موجود بغيره فإن اعتبر ذاته ولم يلتفت إلى غيره لم يكون له وجود البتة، وانما الموجود هو القائم بنفسه والقائم بنفسه هو الذي لو قدر عدم غيره بقي موجوداً فإن كان مح قيامه بنفسه يقوم بوجوده وجود غيره فهو قيوم، ولا قيوم إلا واحد، ولا يتصور أن يكون غير ذلك، فإذن ليس في الوجود غير الحي القيوم وهو الواحد الصمد

“Pandanglah dengan mata tauhid yang murni bahwasanya Dia (Allah) adalah Dzat yang bersyukur dan Dia itu yang berhak atas yang masykur (yang disyukuri). Dia yang mencintai dan dicintai. Ini adalah syuhud/pandangan orang yg mengetahu. Bahwa tidak ada sesuatu pun yang wujud selain Dia. Dan setiap sesuatu itu pasti binasa, kecuali Dzat-Nya.

Dan yang demikian itu benar di dalam setiap hal, baik dalam Azali dan Qadim-Nya. Karena sesungguhnya yang lain dari Al-Haq itu yang tergambar bahwasanya ada baginya yang berdiri sendiri dan contoh yang lain ini tidak akan wujud bagiNya, bahkan mustahil baginya akan wujud. Karena yang wujud hakiki ialah Yang berdiri Dengan Sendiri-Nya. Dan selain Dia tidak ada baginya berdiri sendiri. Maka tidak ada baginya wujud. Bahkan ia yang berdiri dengan Sebab yang lainnya, niscaya ia tidak akan wujud sama sekali.

Hanya saja yang telah wujud adalah Al-Qaim Binafsihi. Jikalau diumpamakan yang lain tidak ada lagi, maka Dia tetap Baqa (kekal) ada-Nya. Jikalau beserta berdiri sendiri-Nya, berdiri pula wujud lainnya dengan sebab Wujud-Nya, maka Dia itu Al-Qayyum (Maha Berdiri) dan tidak ada yang Al-Qayyum selain yang Ahadiyah dan tidak tergambar bahwa ada yang lain. Jadi, tidak akan wujudlah Yang Maha Hidup dan berdiri sendiri. Dialah Yang Maha Esa dan Tempat Meminta.”[ii]

Al-Imam Shadruddin Al-Qunawi menjelaskan

والحق سبحانه من حيث وحدة وجوده لم يصدرعنه إلا الواحد لا ستحالة إظهار الواحد غير الواحد وذلك عندنا هو الوجود العالم المفاص على أعيان المكونات ما وجد منها وما لم يوجد مما سبق العلم بوجود وهذا الوجود مشترك بين القلم الأعلى الذي هو أول موجود المسمى أيضاً بالعقل الأول وبين سائر الموجودات

“Al-Haq Subhanallah wa Ta’ala dari sisi ketunggalan Wujud tidak akan muncul kecuali yang Wahdah (Tunggal). Sebab, mustahil kenyataan Wahdah pada selain yang Wahdah dan Sesungguhnya wujud alam yang membias pada segala wujud alam Semesta baik apa yang ditemukan atau tidak termasuk sesuatu yang telah dahulu wujud alam yaitu wujud mustyarak (ambigu) yang terbagi pada Qalam a’ala (tertinggi) sebagai awal Maujud yang bernama Aqal Awwal sebagai pusat kejadian segala Maujud alam semesta.”[iii]

Hanya para arif/resi/genoses yang benar mengenal Tuhan. Mereka para al Arif Billah mengenal Tuhan dengan mata hati [Bashirah]. Dan untuk itu harus bisa melampaui pikiran dan hawa nafsu.

Agar bisa melampaui pikiran dan hawa nafsu dalam mengenal Tuhan inilah maka didalam Agama Islam disediakan dua jalan:

1. Jalan syariah/eksoteris
2. Jalan thariqoh/esoteris

Melalui jalan thariqoh dengan melakukan disiplin kerohanian yang ketat serta dibimbing oleh Mursyid Murrobi/guru master yang sejati. Maka para pejalan spiritual/salik akan sampai pada tujuan dari segala tujuan yaitu kesadaran Tauhidul Wujud.

Orang-orang yang telah sampai pada kesadaran tauhidul wujud mereka akan merasakan pengalaman Ketuhanan Yang Sama yang disebut dalam istilah tasawuf dengan Syuhudul Wahdah fil Katsrah/Melihat yang Tunggal dalam yang banyak dan Syuhudul Katsrah fil Wahdah/Melihat yang banyak dalam yang Tunggal.

Dalam Filsafat Ketuhanan, Tuhan dinyatakan bersifat Absolute Relatively. Sebagai wujud yang hakiki, Dia absolut. Dan sebagai konsep ilmi/konsepsi Dia Relative.

Inilah yang dimaksud puja sastra dalam kitab Sota Soma yang terkenal menjadi semboyan “Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hono Darmo Magroa”

Penulis: Budi Handoyo
(Dosen Prodi Hukum Tata Negara Islam Jurusan Syariah dan Ekonomi Islam STAIN Teungku Diruendeng Meulaboh-Kabupaten Aceh Barat)


[i]  Al-Qusyairi, Risalah Al-Qusyairiya fi Ilmi At-Tashawwuf , Maktabah Al-Tawfikiyah Al-Qaherah hal 22)

[ii] Al-Ghazali,  Ihya Ulumuddin  Juz IV Syirkat Al-Quds, Al-Qaherah hal 132

[iii] Shadruddin Al-Qunawi,  Miftahul Ghaib Al-Jami wal Wujud, Dar Al-Kotob Al-ilmiyah, Beirut hal 21-22

Continue Reading

Artikel

Tauhid Sufi dalam Pandangan Ulama Aceh

Published

on

Dr. Muhammad Dhiahuddin Kuswandi[i] menjelaskan klasifikasi tauhid yang terbagi menjadi tiga tingkatan:

– Untuk orang awam, yaitu tauhid yang didasarkan pada Ilmu Kalam
– Untuk orang khawash, yaitu tauhid yang didasarkan pada Ilmu Filsafat Perennial
– Untuk orang khawasul  khawash, yaitu tauhid yang didasarkan Ilmu Tauhid Sufi.

Tauhid sufi adalah tauhid murni yang didasarkan pada faham wahdtul wujud sebagaimana yang telah dikonseptualisasikan oleh tokoh-tokoh sufi antara lain Al-Hallaj, Syeikh Ibnu Arabi, Syeikh Abdul Qadir al Jilani, Imam Shadruddin al Qunawi, Abdul Karim al Jili, Syeikh Abdul Rauf al Singkili dan lain sebagainya.

Dalam pandangan wahdatul wujud, hanya ada satu wujud mutlaq yaitu Allah Swt. sebagai hakikat segala sesuatu. Sedangkan alam dan manusia adalah merupakan tajalli atau madhar dari Sifat-Nya.

Pencapaian tertinggi dalam tauhdi sufi ini ditandai dengan pengalaman ruhani [religius experince] berupa kesadaran dikenal

شهود الكثرة في الوحدة وشهود الوحدة في الكثرة

Menyaksikan yang Eka [Tunggal] dalam aneka [banyak]  dan menyaksikan yang aneka dalam Eka.[ii]

Maksud شهود الكثرة في الوحدة  ibarat sebatang pohon. Kita lihat banyaknya daun, buah, cabang, ranting, kayu dan akar semuanya itu datang dari biji yang tampak pada sirr hati. Adapun pikiran kita hanyalah biji semata. Dari contoh ini dapat diambil makna bahwa daun, buah, cabang, ranting, kayu dan akar adalah cosmos [alam semesta termasuk manusia]. Sedangkan biji adalah ibarat Allah Swt.

Adapun maksud شهود الوحدة في الكثرة adalah memandang secara mesra kepada Allah Swt. Meliputi ia pada zarratul wujud sebagaimana contoh di atas, di mana yang tampak hanya biji. Kemudian dari biji itulah timbul daun dan sebagainya.[iii]

Abuya Syeikh. H. Amran Waly Al-Khalidy mengartikan Tauhid Sufi ibarat Tauhid Af’al, Tauhid Sifat dan Tauhid Dzat. Sebagaimana yang kita ketahui bahwasanya makhluk ini adalah bekas dari perbuatan Allah. Perbuatan ini bersambung dengan sifat-sifat-Nya dan sifat-Nya berdiri pada Dzat-Nya. Oleh karena itu, apabila hilang perbuatan kita dalam perbuatan-Nya, sifat kita dalam sifat-Nya dan wujud kita dalam Dzat-Nya, orang-orang yang seperti inilah yang dapat bertauhid sufi. Hilang Wujud selain Allah Swt. di dalam Wujud-Nya, maka zahirlah dalam pandangannya Allah itu Esa pada perbuatan-Nya, pada sifat-Nya dan pada Dzat-Nya.[iv]

Imam Muhyiddin Ibnu Arabi, berkata;

من شهد الخلق لا فعل لهم فقد فاز، ومن شهدهم لا حياة لهم فقد حاز، ومن شهدهم عين العدم فقد وصل

“Barang siapa yang menyaksikan makhluk tiada ada perbuatan bagi mereka, maka sungguh ia telah menang. Barangsiapa yang menyaksikan makhluk tiada hidup bagi mereka, maka sungguh ia telah mendapat keuntungan. Dan Barangsiapa yang menyaksikan makhluk tiada wujud, maka sungguh ia telah wushul (sampai kepada Allah Swt).”[v]

Adapun arti dari sufi sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Sayyidi Abdul Karim Al-Jili

الصوفي : من صفا من كدورات البشرية بأسماء الحق ولصفاته وذاته فهو مصفى مما سوى الحق.

“Sufi adalah orang yang jernih dan bersih hatinya dari berbagai kotoran manusiawi, dan mengisi bathinnya dengna nama-nama sifat-sifat dan Dzat Allah Swt. serta mensucikan segala sesuatu selain Al-Haq.”[vi]

Kegunaan Tauhid Sufi sebetulnya adalah untuk memperbaiki diri dengan cara bertaubat, zuhud, mudah melaksanakan ketaatan, menjunjung tinggi perintah dan menjauhi larangan Allah Swt. baik dari segi ibadah dan muamalah. Untuk menghilangkan ananiyah (wujud diri), dapat beribadah dengan tidak melihat amal, imbalan dan maksud diri (popularitas) serta berkasih sayang sesama hamba Allah Swt. dan makhluk-Nya. Karena dia melihat bahwa baik dirinya maupun orang lain adalah milik Allah Swt. Sehingga ia dapat berakhlak dengan akhlak-Nya. Sebagaimana Sabda Rasulullah Shalallahu Alayhi Wasallam;

تخلقوا بأخلاق الله

“Berakhlak kamu dengan Akhlak Allah Swt.”

Penulis: Budi Handoyo
(Dosen Prodi Hukum Tata Negara Islam, Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam, STAIN Teungku Diruendeng Meulaboh-Kabupaten Aceh Barat)


[i] Pimpinan Keluarga Besar Wali Songo dan Pimpinan Majelis Tasbih Surabayah

[ii] Muhammad  Dhiahuddin Kuswandi, Tauhid Tasawuf dalam Peranan  dan Jejaknya dalam Peradaban Nusantara, Makalah Disampaikan Muzakarah Tauhid Tasawuf ke IV Asia Tenggara di Pesantren   Raudha Al-Hikam, Cibinong=Bogor Jawa Barat, pada Tanggal 25 s/d 27 Agustus 2016, hal 4-6

[iii] Haderanie, Permata  yang Indah [Ad-Durrunnafis], Nur Ilmu, Surabaya, hal 114-114

[iv] Abuya Syech H. Amran Waly Al-Khalidi, Risalah Tauhid Tasawuf & Tauhid Shufi Abuyah Syaikh Amran Waly Al-Khalidi, Jilid 1, Darul Ihsan, Labuhan Haji, Aceh Selatan, hal 105

[v] Abdul Madjid Syarnubi, Syarah Al-Hikam Ibnu Athaillah Al-Sakandari, Dar Ibnu Katsir, Beirut, hal  81

[vi] Abdul Karim Al-Jili, Al-Manazhiru Al-Ilahiyyah, Dar Al-Manar, Al-Qaherah, hal 170

Continue Reading

Artikel

Menjadi Waliyullah yang Kaya

Published

on

Kebanyakan orang awam beranggapan bahwa menempuh jalan tasawuf adalah meninggalkan seluruh perkara dunia dan hidup dalam kemisikinan. Ketahuilah, bahwa itu salah besar. Dr. Abdul Fattah as Samman dalam disertasinya mengungkap bahwa harta kekayaan Rasulullah Saw. jika dijumlahkan mencapai angka yang fantastis, yaitu setara dengan 1.217 Kg emas atau 1.217.000 gram. Jika harga emas pada hari ini adalah Rp.955.000, maka Rasulullah Saw. memiliki kekayaan sebesar Rp.1.162.235.000.000. angka yang sangat tinggi untuk orang yang dianggap miskin. Bahkan, bisa jadi ketika Rasulullah Saw. hidup di zaman ini, maka beliau akan mendapat gelar Crazy Rich Mekkah.

Namun, apakah Rasulullah Saw. menggunakan hartanya untuk kepentingan pribadi? Tentu saja tidak. Beliau menyedekahkan seluruh hartanya untuk kepentingan agama Islam. Maka itu pula yang dijadikan teladan oleh sahabat-sahabat yang lain seperti Abu Bakar, Umar bin Khatthab, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf dan lainnya. Bayangkan jika Rasulullah Saw. adalah orang yang miskin, tentu orang lain akan menganggap Rasulullah Saw. hanya memanfaatkan harta sahabat-sahabatnya tanpa memberikan kontribusi nyata terhadap keberlangsungan umat.

Perilaku Rasulullah Saw. seperti itulah yang kemudian ditiru oleh wali-wali Allah Swt. Menjadi ahli tasawuf bukanlah melarang kita untuk menjadi kaya dan memilih menjadi miskin. Melainkan melarang kita untuk dibutakan oleh kekayaan tersebut. Justru apabila ahli tasawuf itu adalah orang yang kaya, maka ia akan dengan mudah mendermakan hartanya di jalan Allah Swt. Dengan begitu agama Allah Swt. menjadi hidup dan keberkahannya akan kembali kepadanya. Seorang ulama mengatakan sebuah ungkapan bijak,

“Letakkanlah hartamu di tanganmu, jangan di hatimu. Maka jika kau ingin melepasnya, kau akan melepaskannya dengan mudah.”

Inilah sesungguhnya yang disebut zuhud. Hidup sederhana yang tidak bergantung kepada harta meskipun ia kaya. Jika seseorang berorientasi kepada kekayaan semata, ia akan lalai dikarenakan harta tersebut. Namun jika seseorang itu kaya karena Allah Swt., maka tentu saja ia akan memanfaatkan harta itu dengan sebaik-baiknya di jalan Allah Swt. sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw. dan para sahabatnya.

Rasulullah Saw. Bersabda:

ازهد فى الدنيا يحبك الله وازهد فيما فى ايدي الناس يحبوك

“Berzuhudlah terhadap dunia, niscaya Allah Swt. akan mencintaimu. Dan berzuhudlah terhadap perkara manusia, niscaya mereka akan mencintaimu.” (HR. Ibnu Majah)

Syeikh Abu Hasan as Sadzili adalah salah satu waliyullah yang kaya. Pakaiannya berkelas dan rumahnya seperti istana. Namun seluruh kekayaannya itu tidak membuatnya lupa kepada Allah Swt. bahkan ia berkata,

لا كبيره عندنا اكبر من اثنين حب الدنيا بالايثار والمقام على الجهل بالرضا لانه حب الدنيا راس كل خطيئه والمقام على الجهل اصل معصيه

“Tidak ada dosa yang lebih besar melebihi mencintai dunia hingga menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya serta ridha terhadap kebodohan. Karena mencintai dunia adalah pokok setiap kesalahan dan ridha terhadap kebodohan adalah pokok dari kemaksiatan”

Wallahu a’lam

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending