Connect with us

Artikel

Dzikir dan Produksi ‘Hormon Bahagia’

Oleh: KH. Budi Rahman Hakim, MSW., PhD.

[Doktor bidang tashawuf dan thariqah dari Tilburg University School of Humanities and Digital Sciences, Tilburg, Belanda/Ketua Penasehat Roudhoh TQN Suryalaya Sirnarasa Pusat]

Published

on

Hormon Kebahagiaan
1

Manusia sebagai makhluq Allah paling sempurna penciptaannya [احسن التقويم] terus menemukan konfirmasi empiris-scientifik-nya. Ini sekaligus membantah adagium: tidak ada manusia super, yang ada hanya jadi manusia itu super. Apa di antara ke-super-an makhluq Allah bernama manusia?

Para pakar dan praktisi di dunia medis antara lain menemukan bahwa sedikitnya ada 4 jenis hormon (happiness chemicals) yang jika ini berproduksi dengan baik dalam diri seorang manusia akan memberi efek rasa bahagia dalam kehidupannya. Semakin melimpah produksi hormon-hormon ini di dalam dirinya semakin bahagia dan bahkan selalu bahagia bahagia selalu hidupnya.

Hebatnya lagi, untuk memproduksi happiness chemicals dalam diri manusia ini sesungguhnya tidak perlu bantuan dari apapun dan dari siapapun di luar dirinya –asalkan tahu tata caranya seperti diajarkan oleh para ahli tentang manusia, baik struktur jasmaninya maupun anatomi ruhaninya.

Fakta mirisnya ialah: karena kurangnya pengetahuan tentang kecanggihan teknologi mesin tubuh-ruh manusia, di antara manusia banyak yang memilih untuk  menciptakan dan memerlukan –bahkan dibuat ketergantungan terhadap –rangsangan eksternal untuk memproduksi kimia alami kebahagiaan yang sejatinya telah tersedia sendiri di tubuhnya.

Karena merasakan sensasi kebahagiaan akibat rangsangan di atas terjadi terus menerus terjadilah proses pencanduan yang sempurna. Zat adiktifnya inilah yang menyulap pemakai/pengguna perangsang ini jadi pecandu (addict). Persoalan muncul ketika tiba keinginan untuk mendapatkan sensasi bahagia –ketagihan– lalu rangsangan-rangsangan dari luar dirinya tadi tidak tersedia mereka merasakan kesakitan yang menyiksa (sakau). Mereka bisa menderita sampai akhirnya mendapat rangsangan dimaksud.

Apa saja happiness chemicals yang ada dalam diri kita?

Pertama, hormon DOPAMIN. Ini adalah jenis hormon yang jika berreproduksi akan melahirkan sensasi perasaan semangat dan optimisme menjalani hidup. Seorang yang hormon Dopaminya melimpah akan termotivasi untuk maju, untuk meraih apa yang diinginkannya dalam hidup. Ia juga meraskan sensasi apresiasi positif dalam hidupnya.

Sebaliknya, kalau hormon Dopamin dalam diri seseorang kurang maka ia akan didominasi rasa malas, tidak punya semangat hidup dan selalu pesimis dalam ikhtiar mencapai atau mewujudkan apa yang ia citakan dalam hidup. Seorang yang hormon Dopaminnya rendah maka ia selalu negatif merespon sesuatu, dalam berinteraksi dengan sesama.

Untuk memantik produksi hormon Dopamin dalam diri seseorang, para ahli dan praktisi medis menyarankan agar ia sering-sering mengucap kalimat syukur (gratitude), kapanpun dimanapun dalam situasi apapun. Latih terus menerus diri untuk selalu berterimakasih kepada kehidupan atas segala anugerah yang telah diterima. Latih untuk terus mengucap terimakasih terhadap apa yang ada yang telah dipunyai dalam hidup. Mereka menyarankan agar dipadu dengan gerakan, olah raga, dan sering-sering menyelesaikan tugas hingga tuntas.

Guru-guru Agung Pecinta Kesucian Jiwa dengan jelas dan tegas menyatakan bahwa ekspresi syukur terbaik adalah dzikirullah. Dzikir itu syukur, berdasarkan firman ALLAH dalam hadits qudsi:

اذا ذكرتني شكرتني اذا نسيتني كفرتني

Semakin banyak dzikirnya, banyak syukurnya. Semakin banyak bersyukurnya, semakin besar rasa syukurnya, semakin besar rasa terimakasih. Rasa terimakasih ini hadir pada seorang yang merasakan telah banyaknya anugerah, karunia, nikmat dari ALLAH yang ia terima.

Rasa syukur dan rasa terimakasih dengan amaliyah dzikir inilah yang akan memantik produksi hormon dopamin dalam jumlah yang berlimpah. Berlimpahnya hormon dopamin dalam diri seseorang maka semakin semangat, penuh motivasi dan optimis dengan kehidupannya. Ia pastinya bahagia menjalani semua kegiatan hidupnya. Kalau dzikirnya belum meraih perasaan ini maka tandanya dzikirnya belum banyak, dzikirnya mesti sesuai petunjuk dokter ruhani Ahli Silsilah.

Hormon Bahagia
2

Kedua, hormon OXYTOCIN. Happiness chemical ini merupakan jenis hormon yang jika berproduksi dalam diri seseorang maka akan melahirkan perasaan cinta dan kepuasan terhadap apapun yang terjadi dalam hidupnya. Semakin massal produksi hormon Oxytocin dalam diri seseorang maka semakin berlimpah rasa cinta dalam hidupnya. Hidup dirasakannya indah dan baik-baik saja.

Sebaliknya, jika seseorang kekurangan hormon Oxytocin maka hidupnya dikuasai rasa benci terhadap apapun dan siapapun. Ia mudah membenci. Seorang yang produksi hormon Oxytocinnya rendah ia sering tidak merasa puas dengan apa yang ada dalam kehidupannya, sekaligus mudah terbakar iri hati lalu mendengki.

Untuk memantik keluarnya hormon ini, para pakar dan praktisi medis menasehatkan agar seseorang harus rajin menjalin relasi/hubungan yang sehat dengan antar alam sekitarnya, dengan sesama manusia, menjalin tali kasih dalam pernikahan, percintaan,  pertamanan dan persahabatan; juga menjalin relasi yang baik dengan hewan dan tumbuh-tumbuhan. Kegiatan beranjangsana/silaturahim, bersalam-salaman, saling peluk, juga merupakan aktivitas yang direkomendasikan untuk memproduksi hormon oxytocin.

Para Pecinta Kesucian Jiwa sejak awal perjalanan meniscayakan diri membangun relasi persahabatan dengan Guru Wali Allah sebagai sosok the perfect man (shohbah) dan sesama ikhwan. Inilah yang menjaganya untuk selalu di maqom khusus. Shohbah adalah perantara seseorang membangun relasi istimewa dengan Tuhan, ALLAH, melalui para kekasih pilihanNya dengan tuntunan dzikrullah.

Rajin kumpul duduk bersama manusia-manusia istimewa akhlaqnya yang masih hidup di dunia bahkan dengan yang sudah berpindah ke alam sebelah. Pada saat yang sama, menjalin hubungan yang baik dengan para ikhwan. Ini adalah untuk memantik produksi hormon oxytocin agar hidupnya penuh cinta dan jika hatinya penuh cinta tidak tersisa baginya rasa benci. Seorang yang hormon cintanya melimpah akan mampu melakoni riyadhoh: ‘mencintai dan menyayangi orang yang membenci.’

Ketiga, hormon SEROTONIN. Ini ada hormon yang mengatur mood seseorang atau mood stabilizer. Kalau hormonnya Serotoninnya kurang, maka seseorang akan mudah bete –bad mood. Uring-uringan, ngeluh, mengaduh. Hidup dirasakan tidak ada enaknya. Hidupnya –bahasa gaulnya– moody alias tergantung mood. Baperan.

Sebaliknya, kalau produksi dan cadangan hormon Serotonimnya melimpah maka seseorang akan selalu in a good mood. Selalu feeling good. Hidup dirasakan nyaman dan enak. Semua persoalan dan tantangan kehidupan dibawa enjoy. Santay dan tenang saja ada sebesar apapun masalah dihadapi.

Para pakar dan praktisi medis menyarankan, agar tubuh memproduksi hormon Serotonim, maka seseorang harus rutin melakukan meditasi/yoga, lalu mengatur nafas, deep breathing. Melakukan lari hingga berkeringan sambil berjemur sinar matahari pagi.

Ajaran amalan Pecinta Kesucian Jiwa dengan jelas melatih kita untuk mengistiqomahkan dzikir yang tata caranya, suara dan geraknya, sesuai dengan apa yang disarankan medis. Dzikir senafas-senafas, menarik nafas panjang dan menahannya, dzikir sampai berkeringat. Syeikh Muhammad Abdul Gaos jelas menyampaikan dzikir itu olah raga –selain olah nyawa dan olah rasa.

3

Keempat, hormon ENDORPHINS. Ini adalah hormon canggih dalam diri manusia yang memiliki fungsi untuk menghilangkan rasa nyeri, rasa sakit utamanya di hati. Inilah yang namanya ‘the pain killer chemical’.

Seorang yang produksi hormon Endrophinsnya stabil bahkan melimpah maka ia punya daya tahan yang kuat menghadapi kenyataan hidup apapun bagaimana pun. Ia punya kekuatan fisik dan mental untuk bertahan bahkan maju-berkembang meski diterpa berbagai hantaman gelombang pasang surut kehidupan. Ia tetap tangguh melewati segala perubahan cuaca serta ragam pancaroba kehidupan.

Sebaliknya, seorang mengalami kekurangan cadangan hormon ini maka ia sangat rentan terserang sakit hati dan kecewa. Sakit hati dan kecewa biasanya karena terlalu tinggi ekspektasi dan terlalu dalam mencintai. Itulah bawaan asli manusia yang seringkali membuat manusia terbang tinggi tapi juga terjerembab jatuh ke titik terendah.

Sakit hati dan kecewa yang berkepanjangan inilah yang akhirnya bisa membahayakan kesehatan tubuhnya. Demikian, seorang yang produksi hormonnya rendah mudah terserang penyakit. Hormon ini berkelindan dengan imun system (sistem kekebalan tubuh). Jika produksi hormon Endorphinsnya sedikit maka imunity-nya turun, jika banyak maka imunity-nya naik.

Oleh karenanya penting bagi seseorang untuk terus memproduksi hormon Endorphins dalam jumlah berlimpah. Jika cadangan hormon ini meruah maka ia semakin meningkat daya tahannya dari serangan apapun, kapanpun dan bagaimanapun. Pertanyaannya, bagaimana agar cadangan hormon ini melimpah?

Para pakar dan praktisi medis memberi saran agar seseorang produksi hormon Endorphins-nya melimpah untuk sering-sering melakukan praktek meditasi, sering-sering melakukan gerakan olah raga, berjoget sambil senyum-tertawa. Selalu menggunakan wewangian sebagai aroma terapi.

Amalan dzikir yang telah, sedang dan akan selalu kita istiqomahkan memenuhi prasyarat produksi massal hormon Endorphins. Bagaimana tidak, dzikir yang tata caranya telah dituntunkan melalui proses Talqin Dzikir mensyaratkan pengamalnya untuk: 1) mengeluarkan vibrasi suara dengan frekuensi keras ke dalam dan keluar; 2) gerak dzikir –kepala dan badan– yang terarah dan seirama dengan suara; 3) memejamkan mata untuk konsentrasi.

Hadrotus Syeikh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul Ra Qs tegas menyatakan bahwa ketika sedang berdzikir, kita itu sedang ber-olah raga, olah nyawa dan olah rasa. Makin banyak –hingga berkeringat– dan istiqomah dzikirnya maka makin sehat jasad, nyawa dan rasanya. Sehat jasad, nyawa dan rasanya maka bahagia hidupnya.

Teruskan dzikirnya, kapanpun dan di mana pun, hingga tak terasa cadangan produksi hormon Endorphins melimpah ruah. Tanda melimpah ruah, kita akan merasakan kekuatan menghadapi cacian, hinaan, gangguan eksternal yang biasanya membuat kita sakit hati dan kecewa. Tidak sakit hati itu perintah dari Guru-guru Sufi Agung Pecinta Kesucian Jiwa. “Kita mah jangan sakit hati, kasihan orang lain.”

Salam bahagia.[]

Artikel

Ngaji Kitab Tasawuf Dari Ulama Syam

Published

on

Turki, JATMAN.OR.ID – Kitab Tasawuf Risalah Mustarsyidin karya Imam Haris Al-Muhasibi (243 H) seperti sebuah ceramah yang ditulis, tanpa bab dan tema mengalir bahkan kadang ada beberapa tema yang diulang. Alhamdulillah kemarin pagi langsung dibaca khatam selama 2 jam oleh Syekh Dr Khaled Kharsah.

Karena khatam saya upayakan untuk merekonstruksi dalam bacaan ringan tanpa menghilangkan subtansi, agar orang yang baru memulai belajar Tasawuf seperti saya dapat dengan mudah memahami. Sebab meskipun kitab ini berukuran kecil namun menjadi rujukan beberapa kitab Tasawuf besar seperti Ihya’ Ulumuddin, Qut Al-Qulub, Risalah Qusyairiyah dan sebagainya.

Saya mengawali dari hal. 90. Sebab bahasan utama dari kitab Tasawuf adalah menjernihkan hati, membersihkan jiwa atau menyucikan kalbu.

قال بعض الحكماء مثل القلب مثل بيت له ستة أبواب ثم قيل له احذر ألا يدخل عليك من أحد هذه الأبواب شئ فيفسد عليك البيت فالقلب هو البيت والابواب اللسان والسمع والبصر واليدان والرجلان والشم فمتى انفتح باب من هذه الأبواب بغير علم ضاع البيت

“Hati, ibaratnya adalah rumah dengan 6 pintu. Pintu-pintu tersebut harus dijaga. Demikian pula, hati memiliki 6 pintu, yakni mata, mulut, telinga, hidung, dua tangan dan kaki. Bila ada pintu yang tidak dijaga maka akan ada maling yang mencuri dar dalam rumah.”

Syetan akan berupaya masuk ke dalam hati karena hati adalah pusat kendali dan kontrol. Jika hati baik maka baik seluruh anggota tubuh. Dan jika hati rusak maka rusak seluruh tubuh (HR Muslim).

Kewajiban mulut adalah berkata jujur baik saat senang atau marah. Menahan ucapan baik saat menyendiri atau banyak orang. Sebagaimana terdapat dalam hadis:

ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺃﺧﺒﺮﻧﻲ ﺑﻌﻤﻞ ﻳﺪﺧﻠﻨﻲ اﻟﺠﻨﺔ ﻭﻳﺒﺎﻋﺪﻧﻲ ﻋﻦ اﻟﻨﺎﺭ

“Wahai Rasulullah, beritahu kepadaku sebuah amalan yang dapat memasukkan ke surga dan menjauhkan dari neraka…”

Diantara jawaban Nabi shalallahu alaihi wa sallam:

ﻭﻫﻞ ﻳﻜﺐ اﻟﻨﺎﺱ ﻓﻲ اﻟﻨﺎﺭ ﻋﻠﻰ ﻭﺟﻮﻫﻬﻢ ﺃﻭ ﻋﻠﻰ ﻣﻨﺎﺧﺮﻫﻢ ﺇﻻ ﺣﺼﺎﺋﺪ ﺃﻟﺴﻨﺘﻬﻢ

“Bukankah manusia dijerumuskan ke neraka tidak lain karena perangkap mulut mereka sendiri?” (HR Tirmidzi)

Mata juga memiliki tugas, yakni memejamkan mata dari hal-hal yang diharamkan dan hal-hal yang dirahasiakan agar tidak dilihat. Sebagaimana dalam hadis:

«اﻟﻨﻈﺮﺓ ﺳﻬﻢ ﻣﺴﻤﻮﻡ ﻣﻦ ﺳﻬﺎﻡ ﺇﺑﻠﻴﺲ ﻟﻌﻨﻪ اﻟﻠﻪ ﻓﻤﻦ ﺗﺮﻛﻬﺎ ﺧﻮﻓﺎ ﻣﻦ اﻟﻠﻪ ﺁﺗﺎﻩ اﻟﻠﻪ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ ﺇﻳﻤﺎﻧﺎ ﻳﺠﺪ ﺣﻼﻭﺗﻪ ﻓﻲ ﻗﻠﺒﻪ»

“Penglihatan adalah panah beracun dari iblis, semoga Allah melaknatnya. Barangsiapa meninggalkan pandangan (yang terlarang) karena takut kepada Allah maka Allah akan memberikan iman yang dapat ia rasakan manisnya iman dalam hatinya”

Syekh Dr Khaled Kharsah mengutip takhrij dari Syekh Abu Ghuddah terkait riwayat hadis tersebut:

هناك روايات عديدة في الحاكم والطبراني في الكبير باسانيد ضعيفة

Ada banyak riwayat tentang hadis tersebut oleh Al-Hakim dan Thabrani dengan sanad yang dhaif (hal. 93)

Jika hati terlanjur sakit maka penyakit hati diobati (hal. 56)

1. Prasangka buruk

واحم القلب عن سوء الظن بحسن التأويل

Jagalah hati dari prasangka buruk dengan takwil yang bagus

2. Iri hati

وادفع الحسد بقصر الامل

Singkirkan iri hati dengan angan-angan yang pendek

3. Sombong

وانف الكبر بسلطان العز

Buang kesombongan dengan keagungan Allah

4. Menjaga amanah

واحفظ امانتك بطلب العلم

Jaga amanah dengan ilmu

5. Musibah

واستعد الصبر لكل موطن

Persiapkan sabar di semua tempat

6. Nikmat

واصحب النعمة بالشكر

Bersyukur atas nikmat

7. Selalu minta tolong kepada Allah

واستعن بالله في كل أمر

Minta pertolongan Allah dalam setiap hal

8. Tekun

وكل عمل تحب تلقاه به فألزم به نفسك

Setiap amal yang engkau senangi untuk menghadap kepada Allah maka teguhkan hatimu

9. Menghindari keburukan orang lain

وكل أمر تكرهه لغيرك فاعتزله من اخلاقك

Jika tidak senang dari orang lain maka hindarilah

10. Selektif memilih teman

وكل صاحب لا تزداد به خيرا في كل يوم فانبذ عنك صحبته

Jika ada teman yang tidak menambah kebaikan bagi mu maka jangan berteman dengannya

11. Menerima kesalahan orang

وحصن عملك باداب أهل الحلم

Jaga amalmu dengan akhlak mulia

12. Memaafkan

وخذ بحظك من العفو والتجاوز

Sediakan pintu maaf

Oleh: KH. Ma’ruf Khozin

(Ketua Komisi Fatwa MUI Jawa Timur)

Continue Reading

Artikel

Kelahiran Cahaya Peradaban: Analisa Pergerakan Nabi Muhammad Saw

Published

on

Bekasi, JATMAN.OR.ID – Bayi agung dari klan Bani Hasyim yang lahir pada 12 Robiul Awal tahun 570 M (dalam pendapat lain disebut 571 Masehi) lahir dalam masa konflik itu bernama Muhammad Saw. Bangsa Arab mungkin tidak pernah memprediksi bahwa di tanah panas itu, akan lahir manusia yang mampu mambangun mercusuar peradaban umat manusia kurang dari 1 abad.

Komunitas Yahudi khususnya, mereka menafsirkan bahwa akan ada penerus di dalam komunitas mereka yang akan memperjuangkan “Tanah yang dijanjikan” sebagaimana Musa memperjuangkan kaumnya dari penindasan Fir’aun. Walaupun beberapa Pendeta Yahudi dari mereka yang ahli kitab, juga dari pendeta Nasrani mengakui bahwa akan ada Jabang Bayi yang nanti akan meneruskan Risalah Nabi Ibrahim As., Musa As. dan Isa As. di dalam sejarah Agama Samawi.

Mengapa saya menyebut sebagai Tahun Konflik? Pertama, bahwa pada saat itu, Tanah Makkah yang telah menjadi tempat ziarah seluruh manusia, diserbu oleh Tentara Abrahah yang berambisi menghancurkan Ka’bah yang dibuat oleh Bapak Agama Samawi, Ibrahim As. Mereka iri karena tempat tersebut dijadikan sebagai ritus besar manusia dari berbagai penjuru, khususnya mereka yang bertauhid, untuk kembali mengingat Ibrahim beserta keluarganya. Dapat kita lihat bahwa Abrahah dan Pengikutnya merupakan penganut Kristen dan memiliki tempat ritual sendiri, ia ingin menghancurkan Kabah karena ingin tempat ritualnya menjadi tujuan utama. Menurut Prof. Quraish Syihab, dalam tafsirnya di Surah Al-Fil, menerangkan, bahwa pada Surah Al-Fil ada kata “Kaid” yang berarti ada motif atau sesuatu yang tersembunyi di balik penyerangan Abrahah. Kaid tersebut adalah kedengkian Abrahah terhadap masyarakat Makkah yang mendapatkan keuntungan materi dan kemuliaan akibat banyaknya orang yang mengunjungi Ka’bah.

Kedua, karena pada saat itu terjadi saling klaim antara umat Yahudi dan Nasrani, bahwa Nabi yang meneruskan risalah ialah lahir dari kelompok keduanya.

Muhammad Saw. yang Agung itu kemudian lahir sebagai Bayi yang dicita-citakan agama samawi sebelumnya. Ia lahir dari Bangsa Arab keturunan Abd Manaf, Keturunan Abdul Mutholib, tetua pemegang kunci Ka’bah. Di bawah kendalinyalah Ka’bah diurus. Karenanya beliau tidak pernah menyembah Patung. Karena faham bahwa Tuhan yang disembah adalah Tuhan yang disembah Ibrahim. Bukan Berhala buatan manusia, sebagaimana orang Arab lain kebanyakan menyembahnya. Keluarga keturunan Muhammad kemungkinan besar memahami Sejarah Kenabian karena ketika ditarik garis keturuannya yaitu sampai kepada Ibrahim As melalui Ismail As.

Sebelum lahir, Nabi Agung Muhammad Saw. sudah dalam keadaan Yatim. Ayahnya meninggal pada saat ia masih di dalam kandungan.

Kondisi bangsa Arab pada waktu itu tergolong mapan soal Kesejahteraan (wealth) namun mereka mengalami sebuah disintegrasi Budaya. Hal ini bisa kita lihat akan majunya perdagangan internasional. Bahkan dalam sebuah Teori Genealogi penyebaran Islam, orang Arab sudah berdagang ke Negeri Cina. Bangsa Arab hidup berklan (Clan) dan dipimpin oleh seorang Syaikh, yang memiliki hak prerogatif untuk mengatur harta rampasan perang dan menentukan perang atau tidaknya sekelompok klan. Karakter dipengaruhi lingkungan. Arab ialah tanah panas yang kering, tak heran bahwa mereka mesti berkelompok untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan memiliki tatanan politik dalam urusan perang.

Dalam perspektif Sosiologi dan Antropologi, Muhammad Saw. dilahirkan dari Klan Tua, yang dihormati oleh klan-klan lain. Hal tersebut kemudian tidak heran Abdul Mutholib menjadi pemegang kunci Ka’bah. Ketika lahir dari perut Ibunda Aminah, Nabi Muhammad diarak dan diadakan upacara sebagai bentuk penghormatan bahwa telah lahir bayi dari Klan Tua yang terhormat.

Sepertinya jika membuka sejarah, Muhammad sebagai bayi dan masa anak-anak justru seringkali menghadapi situasi yang menyedihkan. Hal ini mungkin dinamakan sebagai “Situasi Ambang Batas”. Bagaimana mungkin Anak yang lahir sudah ditinggal Ayahnya dan ketika umur 6 Tahun menjadi Yatim Piatu dapat membawanya menjadi Pemimpin terkemuka yang sukses mendidik masyarakat arab yang mengalami disintegrasi Budaya parah? Perbudakan, Judi, Membunuh Bayi perempuan, kesalahan orientasi spiritual telah terjadi di masa Muhammad kecil. Jelas secara genetik, intelektualitas Muhammad menolaknya. Inilah awal mulanya ia mentransfigurasi diri dan mentrasformasi masyarakat secara zohir dan batin. Ia akan melampaui “Kemampuan ambang Batas” dirinya sebagai manusia biasa.

Situasi ambang Batas yang dimaksudkan ialah pengalaman merespons keadaan tersulit dalam hidup seseorang. Hal tersebut membutuhkan kemampuan batin dan intelek agar dapat mengendalikan Stimulus (di luar) dan Respons (di dalam) diri Nabi.

Pengalaman menyedihkan, kesulitan hidup, serta kritik atas Budaya bangsanya merupakan hal yang membuat dirinya mampu melampaui manusia biasa sebagai manusia pada umumnya. Bekal-bekal seperti keturunan yang membuatnya memiliki previlage, berada dalam situasi Ambang Batas, serta karakteristik kepribadian yang kuat, ialah modal awal Nabi Muhammad SAW. Hidupnya selalu penuh dengan tantangan dan hampir tidak pernah mengalami “fase nyaman”.

Benar bahwa ketika Muhammad berumur 40 tahun, mengalami fase yang disebut sebagai “menarik diri” (Teori ini seperti dikemukakan Sejarawan Toynbee dalam A Study Of History hal tersebut terjadi pada semua Tokoh Sejarah yang memiliki Kemampuan besar pada Perubahan umat Manusia). Ini merupakan puncak dari Muhammad Saw melepaskan kemampuan biasanya kepada kemampuan luar biasa yang tidak dimiliki orang lain. Situasi puncak ini merupakan pencerahan bagi dirinya dalam menghadapi realitas eksistensi masyarakatnya. Ia mempelajarinya sembari mencari inspirasi dari keadaan hening. Dalam istilah Jawa, ini dinamakan Tapa. Tapa melepaskan sifat-sifat manusia biasa. Dalam diskursus sejarah, sangat sering ditemukan laku ini pada orang-orang yang membawa perubahan besar. Proses tersebut dinamakan Transfigurasi. Mengolah kepribadian lama, menjadi lebih mumpuni menghadapi masalah.

Sampai akhirnya dia Kembali dalam keadaan yang lebih siap. Kekuatan spiritualitas pribadinya membimbingnya untuk secara terang melakukan transformasi sosial.

Kita menjadi tidak heran kemudian beliau mampu mengemban dua tugas secara langsung dan sukses. Selain sebagai Sayyidin Ing Alaga (pemimpin revolusi) dan Sayyidin Panata Agama (pemimpin spiritual) bagi masyarakat Arab.

Kekuatan konsolidasinya seperti air yang membasahi Kapas. Karena ditopang berbagai macam kemampuan. Ia mempunyai simpul-simpul pergerakan yang kokoh. Terlebih sahabatnya yang tak lain adalah mertua, ponakan, serta menantunya. Muhammad mengikatnya secara genetik. Sehingga kuat sekali pengaruhnya.

Agamanya, adalah agama yang rasional, dan membawa rasa spiritual ke arah yang lebih tinggi. Dari Tuhan yang dibuat, menjadi Tuhan yang membuat. Dari Tuhan yang terlihat dan lemah, ke Tuhan yang Tidak terlihat (namun meliputi) dan Maha Kuat. Agamanya menghargai Eksistensi manusia. Ia melarang praktik Budaya membunuh anak perempuan. Dia juga menyampaikan bahwa seumur hidup seorang anggotanya, adalah belajar. Sudah pasti ia menginginkan bahwa masyarakatnya dapat menjadi kelompok di dunia yang intelek tetapi memiliki rasa penghargaan terhadap eksistensi manusia.

Muhammad Saw. adalah manusia yang patut dipelajari fikir dan geraknya. Sayangnya kita mungkin jarang sekali yang mengkajinya. Padahal secara keilmuan, beliau sedang mempraktikkan bagaimana kita dapat mengantarkan sebuah bangsa yang Tandus, yang berkarakter keras ke berbagai belahan dunia dan mengatakan bahwa “Aku berhasil mengubahnya”.

Semoga Allah menyebarkan wewangian di kuburnya yang Mulia, dengan wangi Kebijaksanaan, dan Teladan kepada seluruh Umat Manusia.

Bekasi, 11 Oktober 2021/ Robiul Awal 1443 H

Fajar Chaidir Qurrota A’yun
(Ketua PK MATAN STAI HAS Bekasi)

Continue Reading

Artikel

Model Manajemen Kepemimpinan Transformasional di Bidang Pendidikan

Published

on

By

Jakarta, JATMAN Online – Mutu proses pendidikan dianggap baik apabila sumber daya sekolah mampu mentransformasikan multi jenis masukan dan situasi untuk mencapai derajat nilai tambah tertentu bagi peserta didik. Hal-hal yang termasuk kerangka mutu proses pendidikan ini adalah kesehatan, keakraban, saling menghormati, kepuasan, dan lain- lain.

Hasil pendidikan dikatakan bermutu jika mampu melahirkan keunggulan akademik dan ekstrakurkuler pada peserta didik yang dinyatakan lulus untuk satu jenjang pendidikan atau menyelesaikan program pembelajran tertentu. Selain itu, mutu pendidikan dapat dilihat dari tertib administrasi.

Salah satu model kepemimpinan pendidikan yang diprediksi mampu mendorong terciptanya efektifitas institusi pendidikan adalah kepemimpinan transformasional. Jenis kepemimpinan ini menggambarkan adanya tingkat kemampuan pemimpin untuk mengubah mentalitas dan perilaku pengikut menjadi lebih baik dengan cara menunjukkan dan mendorong mereka untuk  melakukan  sesuatu yang kelihatan mustahil.

Konsep kepemimpinan ini menawarkan perspektif perubahan pada keseluruhan institusi pendidikan, sehingga pengikut menyadari eksistensinya untuk membangun institusi yang siap menyongsong perubahan bahkan menciptakan perubahan. Sejalan dengan yang diungkapkan O’ Leary (2021) menyatakan bahwa Kepemimpinan transformasional adalah gaya kepemimpinan yang digunakan oleh seorang manager bila ia ingin suatu kelompok melebarkan batas dan memiliki kinerja melampaui status quo atau mencapai serangkaian sasaran organisasi yang sepenuhnya baru.

Seiring dengan perubahan kepemimpinan kepala sekolah atau madrasah dalam hal ini pondok pesantren, karena aturan regulasi dari pemerintah melalui peraturan kementrian agama yang ada, maka manajemen kepemimpin juga akan mengalami perubahan. Pondok pesantren adalah salah satu model pendidikan Islam Khas Nusantara.

Secara garis besar metode pendidikan di Pesantren adalah penggabungan antara metode pendidikan modern dan tradisional. Penggabungan dua metode ini didasarkan pada tuntutan zaman, bahwa, kita tidak dapat mengelak dari tantangan, perkembangan, dan kemajuan zaman dengan segala perniknya, tetapi juga kita sepatutnya tidak melepaskan nilai-nilai tradisional yang biasanya mengajarkan tentang nilai-nilai luhur budaya dan agama.

Dr. Suryadi selaku Koordinator Program studi S3 Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Jakarta, mengadakan Pengabdian Kepada Masyarakat di Pondok Pesantren Al-Ashiriyyah Nurul Iman Parung Bogor, memberikan pelatihan terhadap kepala sekolah, guru, santri dan mahasiswa/I dari pondok pesantren tersebut, yang berjumlah 400 peserta via zoom (22/09).

“Ekspektasi pelatihan ini adalah Menjadikan pondok pesantren Sebagai role model dalam menerapkan model kepemimpinan transformasional bidang Pendidikan,” ungkap Suryadi.

Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini diawali dengan Paparan secara Umum oleh Dr. Suryadi, dilanjutkan oleh dr. Santi Anugerahsari, SpM, M.Sc, FISQua (Kepala SMF Mata RSUD Koja)  menyampaikan materi tentang manajemen kepemimpinan di era covid: cara hidup sehat di era pandemic, dilanjutkan oleh  Nining Parlina, S.Pd. Gr., M.Si (Han) menyampaikan materi tentang Manajemen Kepemimpinan : praktik Mindfullness sebagai strategi Manajemen Stress dikalangan pendidik di era disrupsi.

Materi dilanjutkan oleh Rihlah Nur Aulia,MA (Dosen dan peneliti Fakultas Ilmu Sosial UNJ) memperkuat materi  dengan tema Karakteristik Kepemimpinan Transformasional di Lembaga Pendidikan Islam.  Sesi selanjutnya dilanjutkan oleh pemateri dari kepala sekolah SMAN 36 Jakarta bapak Drs. Moch Endang Supardi, M.Si., M.Pd menyampaikan Materi tentang Kepemimpinan Transformasional kepala sekolah dalam peningkatan mutu pendidikan di persekolahan. Selanjutnya pemateri pamungkas dari kepala Sekolah SMAN 109 Jakarta menyampaikan materi tentang Kepemimpinan Transformasional dalam manajemen kesiswaan.

Pelatihan ini mendapatkan apresiasi dan antusiasme yang tinggi dari semua peserta, dibuktikan adanya pertanyaan mendalam dari tiap materi yang disampaikan oleh pemateri.

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending