Connect with us

Artikel

Dzikir dan Produksi ‘Hormon Bahagia’

Oleh: KH. Budi Rahman Hakim, MSW., PhD.

[Doktor bidang tashawuf dan thariqah dari Tilburg University School of Humanities and Digital Sciences, Tilburg, Belanda/Ketua Penasehat Roudhoh TQN Suryalaya Sirnarasa Pusat]

Published

on

Hormon Kebahagiaan
1

Manusia sebagai makhluq Allah paling sempurna penciptaannya [احسن التقويم] terus menemukan konfirmasi empiris-scientifik-nya. Ini sekaligus membantah adagium: tidak ada manusia super, yang ada hanya jadi manusia itu super. Apa di antara ke-super-an makhluq Allah bernama manusia?

Para pakar dan praktisi di dunia medis antara lain menemukan bahwa sedikitnya ada 4 jenis hormon (happiness chemicals) yang jika ini berproduksi dengan baik dalam diri seorang manusia akan memberi efek rasa bahagia dalam kehidupannya. Semakin melimpah produksi hormon-hormon ini di dalam dirinya semakin bahagia dan bahkan selalu bahagia bahagia selalu hidupnya.

Hebatnya lagi, untuk memproduksi happiness chemicals dalam diri manusia ini sesungguhnya tidak perlu bantuan dari apapun dan dari siapapun di luar dirinya –asalkan tahu tata caranya seperti diajarkan oleh para ahli tentang manusia, baik struktur jasmaninya maupun anatomi ruhaninya.

Fakta mirisnya ialah: karena kurangnya pengetahuan tentang kecanggihan teknologi mesin tubuh-ruh manusia, di antara manusia banyak yang memilih untuk  menciptakan dan memerlukan –bahkan dibuat ketergantungan terhadap –rangsangan eksternal untuk memproduksi kimia alami kebahagiaan yang sejatinya telah tersedia sendiri di tubuhnya.

Karena merasakan sensasi kebahagiaan akibat rangsangan di atas terjadi terus menerus terjadilah proses pencanduan yang sempurna. Zat adiktifnya inilah yang menyulap pemakai/pengguna perangsang ini jadi pecandu (addict). Persoalan muncul ketika tiba keinginan untuk mendapatkan sensasi bahagia –ketagihan– lalu rangsangan-rangsangan dari luar dirinya tadi tidak tersedia mereka merasakan kesakitan yang menyiksa (sakau). Mereka bisa menderita sampai akhirnya mendapat rangsangan dimaksud.

Apa saja happiness chemicals yang ada dalam diri kita?

Pertama, hormon DOPAMIN. Ini adalah jenis hormon yang jika berreproduksi akan melahirkan sensasi perasaan semangat dan optimisme menjalani hidup. Seorang yang hormon Dopaminya melimpah akan termotivasi untuk maju, untuk meraih apa yang diinginkannya dalam hidup. Ia juga meraskan sensasi apresiasi positif dalam hidupnya.

Sebaliknya, kalau hormon Dopamin dalam diri seseorang kurang maka ia akan didominasi rasa malas, tidak punya semangat hidup dan selalu pesimis dalam ikhtiar mencapai atau mewujudkan apa yang ia citakan dalam hidup. Seorang yang hormon Dopaminnya rendah maka ia selalu negatif merespon sesuatu, dalam berinteraksi dengan sesama.

Untuk memantik produksi hormon Dopamin dalam diri seseorang, para ahli dan praktisi medis menyarankan agar ia sering-sering mengucap kalimat syukur (gratitude), kapanpun dimanapun dalam situasi apapun. Latih terus menerus diri untuk selalu berterimakasih kepada kehidupan atas segala anugerah yang telah diterima. Latih untuk terus mengucap terimakasih terhadap apa yang ada yang telah dipunyai dalam hidup. Mereka menyarankan agar dipadu dengan gerakan, olah raga, dan sering-sering menyelesaikan tugas hingga tuntas.

Guru-guru Agung Pecinta Kesucian Jiwa dengan jelas dan tegas menyatakan bahwa ekspresi syukur terbaik adalah dzikirullah. Dzikir itu syukur, berdasarkan firman ALLAH dalam hadits qudsi:

اذا ذكرتني شكرتني اذا نسيتني كفرتني

Semakin banyak dzikirnya, banyak syukurnya. Semakin banyak bersyukurnya, semakin besar rasa syukurnya, semakin besar rasa terimakasih. Rasa terimakasih ini hadir pada seorang yang merasakan telah banyaknya anugerah, karunia, nikmat dari ALLAH yang ia terima.

Rasa syukur dan rasa terimakasih dengan amaliyah dzikir inilah yang akan memantik produksi hormon dopamin dalam jumlah yang berlimpah. Berlimpahnya hormon dopamin dalam diri seseorang maka semakin semangat, penuh motivasi dan optimis dengan kehidupannya. Ia pastinya bahagia menjalani semua kegiatan hidupnya. Kalau dzikirnya belum meraih perasaan ini maka tandanya dzikirnya belum banyak, dzikirnya mesti sesuai petunjuk dokter ruhani Ahli Silsilah.

Hormon Bahagia
2

Kedua, hormon OXYTOCIN. Happiness chemical ini merupakan jenis hormon yang jika berproduksi dalam diri seseorang maka akan melahirkan perasaan cinta dan kepuasan terhadap apapun yang terjadi dalam hidupnya. Semakin massal produksi hormon Oxytocin dalam diri seseorang maka semakin berlimpah rasa cinta dalam hidupnya. Hidup dirasakannya indah dan baik-baik saja.

Sebaliknya, jika seseorang kekurangan hormon Oxytocin maka hidupnya dikuasai rasa benci terhadap apapun dan siapapun. Ia mudah membenci. Seorang yang produksi hormon Oxytocinnya rendah ia sering tidak merasa puas dengan apa yang ada dalam kehidupannya, sekaligus mudah terbakar iri hati lalu mendengki.

Untuk memantik keluarnya hormon ini, para pakar dan praktisi medis menasehatkan agar seseorang harus rajin menjalin relasi/hubungan yang sehat dengan antar alam sekitarnya, dengan sesama manusia, menjalin tali kasih dalam pernikahan, percintaan,  pertamanan dan persahabatan; juga menjalin relasi yang baik dengan hewan dan tumbuh-tumbuhan. Kegiatan beranjangsana/silaturahim, bersalam-salaman, saling peluk, juga merupakan aktivitas yang direkomendasikan untuk memproduksi hormon oxytocin.

Para Pecinta Kesucian Jiwa sejak awal perjalanan meniscayakan diri membangun relasi persahabatan dengan Guru Wali Allah sebagai sosok the perfect man (shohbah) dan sesama ikhwan. Inilah yang menjaganya untuk selalu di maqom khusus. Shohbah adalah perantara seseorang membangun relasi istimewa dengan Tuhan, ALLAH, melalui para kekasih pilihanNya dengan tuntunan dzikrullah.

Rajin kumpul duduk bersama manusia-manusia istimewa akhlaqnya yang masih hidup di dunia bahkan dengan yang sudah berpindah ke alam sebelah. Pada saat yang sama, menjalin hubungan yang baik dengan para ikhwan. Ini adalah untuk memantik produksi hormon oxytocin agar hidupnya penuh cinta dan jika hatinya penuh cinta tidak tersisa baginya rasa benci. Seorang yang hormon cintanya melimpah akan mampu melakoni riyadhoh: ‘mencintai dan menyayangi orang yang membenci.’

Ketiga, hormon SEROTONIN. Ini ada hormon yang mengatur mood seseorang atau mood stabilizer. Kalau hormonnya Serotoninnya kurang, maka seseorang akan mudah bete –bad mood. Uring-uringan, ngeluh, mengaduh. Hidup dirasakan tidak ada enaknya. Hidupnya –bahasa gaulnya– moody alias tergantung mood. Baperan.

Sebaliknya, kalau produksi dan cadangan hormon Serotonimnya melimpah maka seseorang akan selalu in a good mood. Selalu feeling good. Hidup dirasakan nyaman dan enak. Semua persoalan dan tantangan kehidupan dibawa enjoy. Santay dan tenang saja ada sebesar apapun masalah dihadapi.

Para pakar dan praktisi medis menyarankan, agar tubuh memproduksi hormon Serotonim, maka seseorang harus rutin melakukan meditasi/yoga, lalu mengatur nafas, deep breathing. Melakukan lari hingga berkeringan sambil berjemur sinar matahari pagi.

Ajaran amalan Pecinta Kesucian Jiwa dengan jelas melatih kita untuk mengistiqomahkan dzikir yang tata caranya, suara dan geraknya, sesuai dengan apa yang disarankan medis. Dzikir senafas-senafas, menarik nafas panjang dan menahannya, dzikir sampai berkeringat. Syeikh Muhammad Abdul Gaos jelas menyampaikan dzikir itu olah raga –selain olah nyawa dan olah rasa.

3

Keempat, hormon ENDORPHINS. Ini adalah hormon canggih dalam diri manusia yang memiliki fungsi untuk menghilangkan rasa nyeri, rasa sakit utamanya di hati. Inilah yang namanya ‘the pain killer chemical’.

Seorang yang produksi hormon Endrophinsnya stabil bahkan melimpah maka ia punya daya tahan yang kuat menghadapi kenyataan hidup apapun bagaimana pun. Ia punya kekuatan fisik dan mental untuk bertahan bahkan maju-berkembang meski diterpa berbagai hantaman gelombang pasang surut kehidupan. Ia tetap tangguh melewati segala perubahan cuaca serta ragam pancaroba kehidupan.

Sebaliknya, seorang mengalami kekurangan cadangan hormon ini maka ia sangat rentan terserang sakit hati dan kecewa. Sakit hati dan kecewa biasanya karena terlalu tinggi ekspektasi dan terlalu dalam mencintai. Itulah bawaan asli manusia yang seringkali membuat manusia terbang tinggi tapi juga terjerembab jatuh ke titik terendah.

Sakit hati dan kecewa yang berkepanjangan inilah yang akhirnya bisa membahayakan kesehatan tubuhnya. Demikian, seorang yang produksi hormonnya rendah mudah terserang penyakit. Hormon ini berkelindan dengan imun system (sistem kekebalan tubuh). Jika produksi hormon Endorphinsnya sedikit maka imunity-nya turun, jika banyak maka imunity-nya naik.

Oleh karenanya penting bagi seseorang untuk terus memproduksi hormon Endorphins dalam jumlah berlimpah. Jika cadangan hormon ini meruah maka ia semakin meningkat daya tahannya dari serangan apapun, kapanpun dan bagaimanapun. Pertanyaannya, bagaimana agar cadangan hormon ini melimpah?

Para pakar dan praktisi medis memberi saran agar seseorang produksi hormon Endorphins-nya melimpah untuk sering-sering melakukan praktek meditasi, sering-sering melakukan gerakan olah raga, berjoget sambil senyum-tertawa. Selalu menggunakan wewangian sebagai aroma terapi.

Amalan dzikir yang telah, sedang dan akan selalu kita istiqomahkan memenuhi prasyarat produksi massal hormon Endorphins. Bagaimana tidak, dzikir yang tata caranya telah dituntunkan melalui proses Talqin Dzikir mensyaratkan pengamalnya untuk: 1) mengeluarkan vibrasi suara dengan frekuensi keras ke dalam dan keluar; 2) gerak dzikir –kepala dan badan– yang terarah dan seirama dengan suara; 3) memejamkan mata untuk konsentrasi.

Hadrotus Syeikh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul Ra Qs tegas menyatakan bahwa ketika sedang berdzikir, kita itu sedang ber-olah raga, olah nyawa dan olah rasa. Makin banyak –hingga berkeringat– dan istiqomah dzikirnya maka makin sehat jasad, nyawa dan rasanya. Sehat jasad, nyawa dan rasanya maka bahagia hidupnya.

Teruskan dzikirnya, kapanpun dan di mana pun, hingga tak terasa cadangan produksi hormon Endorphins melimpah ruah. Tanda melimpah ruah, kita akan merasakan kekuatan menghadapi cacian, hinaan, gangguan eksternal yang biasanya membuat kita sakit hati dan kecewa. Tidak sakit hati itu perintah dari Guru-guru Sufi Agung Pecinta Kesucian Jiwa. “Kita mah jangan sakit hati, kasihan orang lain.”

Salam bahagia.[]

Artikel

Ajaran Martabat Tujuh, Mutiara Hilang yang Ditemukan Kembali

Hamzah Alfarisi, Redaktur JATMAN Online

Published

on

By

JATMAN.OR.ID – Sabtu, 17 April 2021 pukul 20.30 WIB, PW MATAN DKI Jakarta menyelenggarakan pengajian ramadhan yang bertajuk “Kajian manuskrip kitab Al-Tuhfah Al-Mursalah” karya Syekh Fadhl Allah al-Burhanpuri via Zoom. Kajian ini merupakan bagian dari program Kajian Sufi Ramadhan yang diselenggarakan di bulan ramadhan kali ini. Sebagai anak kandung dari JATMAN, MATAN memiliki tanggung jawab untuk menyebarkan tarekat di kalangan anak muda dan kajian ini dalam rangka mewujudkan tanggung jawab tersebut. Selain kajian manuskrip ini, MATAN DKI Jakarta juga menyelenggarakan kajian kitab “Bidayatul Hidayah” karya sufi besar Imam Al-Ghazali setiap Kamis dan Jum’at pukul 20.20 WIB.

Kajian manuskrip ini diampu oleh Dr KH Ali M Abdillah, yang merupakan ketua PW MATAN DKI Jakarta sekaligus Sekretaris Komisi Pengakajian, dan Penelitian MUI Pusat. Dalam kajiannya, beliau memaparkan bahwa kitab Al-Tuhfah Al-Mursalah adalah penafsiran dari Tauhid Wujudiah Ibnu Arabi, yang bercorak tasawuf falsafi. Ajaran tasawuf falsafi yang berkembang di Nusantara bersumber dari ajaran Ibnu Arabi, yang diantaranya adalah ajaran Martabat Tujuh dalam kitab Al-Tuhfah Al-Mursalah karya Syekh Fadl Allah al-Burhanpuri (w 1630) dari Gujarat India.

Dalam perkembangannya, ajaran Martabat Tujuh ini mengalami pasang surut. Pada masa Syekh Syamsuddin al-Sumatrani, ajaran martabat tujuh mengalami puncak kejayaannya karena mendapat dukungan dari Kesultanan Aceh Iskandar Muda (1607-1636). Namun pada masa Syekh Nuruddin Al-Raniri yang saat itu menjadi Mufti Kesultanan Iskandar Tsani yang menggantikan Syekh Syamsuddin, beliau mengeluarkan fatwa sesat terhadap ajaran Martabat Tujuh yang dianggap menyimpang (ilhad).

Tuduhan sesat yang dialamatkan oleh Syekh Nuruddin Al-Raniri kepada ajaran Martabat Tujuh diselesaikan secara dialogis oleh ulama muda Sayfurrijal. Akhirnya, beliau mendapat simpati dari Sultanah Safiyyat al-Din (1641-1674), kemudian diangkat sebagai mufti menggantikan Syekh Nuruddin Al-Raniri. Sejak saat itulah, ajaran Martabat Tujuh berkembang kembali di tanah Aceh. Perkembangan ajaran Martabat Tujuh di Nusantara tidak dapat dipisahkan dari Syekh Abdul Rauf Al-Sinkili yang memiliki murid diantaranya Dawud Al-Jawi al-Rumi, Burhanudin Ulakan, Muhyi Pamijahan, dan Abdul Malik Trengganu.

Ajaran Martabat Tujuh pada zaman kolonial Belanda ditumpas habis berdasarkan fatwa sesat oleh Mufti Betawi. Ulama-ulama yang mengajarkan Martabat Tujuh dilarang mengajarkannya atau jika mengajarkannya akan ditangkap. Selain itu, manuskrip ulama-ulama yang mengembangkan ajaran Martabat Tujuh ini dibawa oleh Kolonial Belanda. Akhirnya, kini kita hanya dapat berziarah, namun tidak bisa mempelajari ilmu dari Syekh Muhyi Pamijahan, karena manuskrip-manuskrip beliau dibawa ke Belanda.

Di akhir sesi, Kyai Ali menuturkan: “Ini (ajaran Martabat Tujuh) adalah mutiara yang hilang, yang sekarang pada abad ke-21, kita temukan kembali. Mari kita pelajari kembali karena sekarang sudah tidak ada lagi hambatan untuk mempelajarinya”.

Sumber tambahan: Sufisme Jawa: Ajaran Martabat Tujuh Sufi Agung Mangkunegaran Kyai Muhammad Santri.

Baca juga: Launching Buku Sufisme Jawa: Kyai Muhammad Santri Mitos atau Fakta?

Continue Reading

Artikel

Renungan Menyambut Ramadhan 2021 M

Idris Wasahua, Wakil Ketua MATAN DKI JAKARTA

Published

on

By

 JATMAN.OR.ID – Manusia merupakan makhluk yang hidup di dua alam sekaligus, yakni alam fisik (alam nasut) dan alam metafisik (alam malakut). Tubuh kita hidup di alam fisik, alam yang bisa kita lihat dan kita raba yang terikat ruang dan waktu. Sedangkan, ruh kita hidup di alam metafisik yang tidak terikat ruang dan waktu. Karena berada di alam malakut, ruh kita tidak dapat dilihat oleh mata lahir karena ruh merupakan bagian batiniah dari diri kita. Ruh hanya dapat dilihat dengan mata batin.

Ada sebagian hambah yang terpilih (Karena selalu melatih mata batinnya dengan riyadha keruhanian atau kerana anugerah Allah SWT) yang dapat menengok ke alam malakut sehingga dapat melihat ruh dirinya atau ruh orang lain. Seperti halnya tubuh fisik yang memerlukan makanan/gizi agar bisa tetap sehat dan kuat, ruh juga memerlukan makanan/ gizi. Untuk meningkatkan kualitas ruh agar ia sehat dan kuat, kita perlu memberinya cahaya-cahaya Ilahiah dalam bentuk zikir, doa, dan ibadah-ibadah lainnya seperti shalat, haji, dan puasa terutama di bulan Ramadhan.

Di bulan Ramadhan ini, kita berusaha menerangi ruh kita dengan berbagai makanan ruhani. Kita memandikan ruh kita dengan proses pensucian batin seperti istighfar, mengendalikan hawa nafsu, dan menjauhkan diri dari kemaksiatan. Sebagaimana halnya tubuh fisik, ruh yang tidak diperhatikan dan dipelihara, ruh yang kekurangan makanan, akan menjadi ruh yang lemah, sakit-sakitan, dan dikuasai setan. Ciri-ciri ruh yang sakit seperti kegelisahan, keresahan, kebingungan, hidup yang tidak bermakna, hidup tanpa tujuan, kekosongan eksistensial. Singkatnya, ruh yang sakit tampak dalam hidup yang tidak tenteram.

Seperti tubuh, ruh mempunyai rupa yang bermacam-macam, baik buruk, indahnya, bau busuk, harumnya. Rupa ruh jauh lebih beragam dari rupa tubuh. Berkenaan dengan wajah lahiriah, kita dapat saja menyebut seseorang “wajahnya mirip binatang”, tetapi pasti ia bukan binatang. Namun, ruh dapat betul-betul berupa binatang. Ruh kita menjadi indah dan baik dengan akhlak yang baik, dan menjadi buruk dengan akhlak yang buruh. Menurut teori akhlak Imam Al-Ghazali, orang yang selalu mengikuti hawa nafsunya akan memiliki ruh yang berbentuk babi, orang yang selalu dengki dan dendam akan memiliki ruh yang berbentuk binatang buas, orang yang selalu mencari dalih buat membenarkan kemaksiatan akan mempunyai ruh yang berbentuk setan (monster), demikian seterusnya.

Ketika ruh turun ke bumi, karena berasal dari Yang Maha Suci, ia datang dalam keadaan suci. Namun, ketika kita kembali kepad-NYA, ruh kita datang dalam bermacam bentuk, tergantung bagaimana kita memberikan makanan kepadanya selama di duni. (Disarikan dari buku “Meraih Cinta Ilahi, Belajar Menjadi Kekasih Allah”, karya Jalaluddin Rakhmat). Bulan Puasa merupakan salah satu bulan yang penuh dengan aktivitas ibadah ritual yang lebih berorientasi pada peningkatan kualitas ruhaniah. Semoga bulan Puasa kali ini dapat kita dayagunakan untuk meningkatkan kualitas, kesehatan dan kecantikan ruh kita agar kelak kembali menghadap Sang Pemilik ruh dalam rupa yang baik. Aamiin

Selamat menjalani Ibadah Puasa. Mohon Maaf Lahir & Batin. Depok, 13 April 2021.

Baca juga: Gus Hamid: Hidupkan Malam Nisfu Sya’ban

Continue Reading

Artikel

Implementasi Pancasila Melalui Pendekatan Tasawuf Agama

Oleh: Brigjen Pol. R. Ahmad Nurwakhid, SE., M.M (Kajian Intelijen Spiritual (KIS) DP-BNPT RI)

Published

on

By

Photo: damailahindonesiaku.com/

JATMAN.OR.ID  – Tujuh puluh lima (75) tahun pasca dideklarasikan dalam Pidato 1 Juni 1945 oleh Soekarno, Pancasila masih menghadapi sejumlah tantangan di antaranya adalah dikotomi dan pembenturan Pancasila dengan Islam. Pola doktrinasi Pancasila ala Orde Baru juga telah melahirkan trauma kolektif masyarakat terhadap Pancasila. Pada titik ini lah, implementasi Pancasila menggunakan pendekatan tasawuf agama menemukan signifikansinya.

Dari segi historis, Pancasila sejatinya digali dari nilai-nilai tasawuf dan budaya luhur Bangsa Indonesia. Di samping itu pendekatan tasawuf lebih relevan dan kontekstual dalam kehidupan masyarakat yang dinamis dan plural, sehingga semangat berbangsa dan bernegara yang berlandaskan pada nilai-nilai luhur Pancasila akan mudah diimplementasikan. Nilai-nilai tasawuf agama dapat ditanamkan ke dalam hati dan jiwa masyarakat bangsa Indonesia untuk membentuk dan mengembangkan karakter Pancasilais.

Nilai-nilai Pancasila dan Tasawuf mempunyai keselarasan, dimana keduanya merupakan sumber moral atau akhlak. Tasawuf sebagai sebuah konsep keagamaan dapat memperkuat posisi Pancasila sebagai dasar negara. Pengamalan tasawuf sebagai sebuah ibadah dalam Islam adalah inheren dengan pengamalan Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Nilai-nilai Pancasila dilihat dari perspektif tasawuf akan semakin memperkuat posisi Pancasila sebagai ideologi negara dan falsafah Bangsa Indonesia. Penghayatan dan pelaksanaan nilai-nilai Pancasila dalam perspektif tasawuf diharapkan dapat membentuk karakter Pancasilais, yakni karakter yang mulia dan terpuji dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara Indonesia. Dalam artian, tujuan dari tasawuf yang menitikberatkan tidak hanya keshalehan secara personal (individual), namun juga keshalehan sosial, sejalan dengan apa yang digadang-gadangkan oleh prinsip Pancasila.

Sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa, mengandung arti bahwa manusia Indonesia dalam seluruh kehidupannya harus meyakini adanya Tuhan Yang Maha Esa, yang merupakan fondasi agama (akidah-tauhid), sehingga dalam pemahaman, penghayatan, dan pengamalan Pancasila haruslah menginduk kepada agama. Dalam sudut pandang tasawuf akhlaki berarti menghendaki adanya sikap murāqabah (merasa selalu dalam pengawasan Allah), guna mengontrol setiap aktifitas agar manusia senantiasa menghindarkan diri dari perbuatan tercela, berusaha membersihkan diri dari sifat-sifat tercela, yang hal tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan takhalli, yaitu pensucian diri, baik hati maupun jiwanya.

Sila kedua Kemanusiaan yang adil dan beradab merupakan perwujudan dari tahalli, yaitu memperindah diri dengan membangun rasa cinta kasih dalam hati maupun jiwanya, melalui maḥabbah yang menghasilkan kelembutan hati, berupa perasaan cinta, mengasihi, dan menyayangi terhadap sesama yang diwujudkan melalui perlakuan yang adil dan beradab terhadap seluruh makhluk-Nya.

Sila ketiga Persatuan Indonesia mengandung nilai-nilai di antaranya ialah menumbuh kembangkan rasa cinta tanah air. Cinta tanah air sebagai perwujudan maḥabbah yakni bentuk syukur dengan mengelola dan memanfaatkan karunia Tuhan berupa tanah air dengan sebaik-baiknya sebagai wujud pengabdian diri kepada Tuhan. Di dalam sila ketiga juga menghendaki adanya sikap itsar dan futuwwah yaitu lebih mementingkan orang lain dari pada diri sendiri dan selalu berusaha meringankan kesulitan orang lain, rela berkorban. Serta pentingnya persatuan sebagaimana disampaikan dalam ayat wa’tasimu bi hablillah.

Sila keempat kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan mengandung adanya sikap itsar dalam bermusyawarah yaitu lebih mementingkan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi dan golongan, serta sikap zuhud yang mampu mengekang hawa nafsu keduniawian yang menghasilkan sikap qana’ah dan tawakal dalam menerima keputusan yang telah disepakati bersama dalam musyawarah.

Selanjutnya sila kelima, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, merupakan tujuan yang ingin dicapai bangsa Indonesia. Hal ini berkaitan dengan tasawuf yang dapat diartikan sebagai tajalli (menyambungkan diri dengan dimensi Tuhan), dimana meyakini bahwa cita-cita dan tujuan nasional Bangsa Indonesia hanya bisa dicapai dengan melibatkan “campur tangan” Tuhan Yang Maha Esa (metafisika ketuhanan). Dalam hal ini diperolehnya cahaya (nur) Ketuhanan berupa muncul dan meresapnya sifat keadilan Tuhan dalam diri tiap-tiap manusia Indonesia, yang kemudian diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari dengan mengembangkan sikap adil terhadap sesama dalam menjalankan kehidupan sosial, sehingga terwujud keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Implementasi nilai-nilai Pancasila melalui pendekatan dan pengamalan tasawuf agama akan menghilangkan celah atau peluang bagi kelompok paham radikalisme untuk membenturkan, men-dikotomi, serta upaya mengganti ideologi Pancasila dengan ideologi Khilafah maupun lainnya. Hal ini merupakan “imunitas” bagi ketahanan nasional terutama aspek ideologi Pancasila, sekaligus sebagai optimalisasi dalam mewujudkan cita-cita maupun tujuan nasional Bangsa Indonesia.

Pemerintah perlu membumikan Pancasila secara holistik, di seluruh level masyarakat, terutama generasi muda, dilakukan dengan metode “kekinian” (milenial), dengan pendekatan tasawuf agama.

Baca juga: Bahaya Syirik dalam Batin Menurut Pandangan Tasawuf

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending