Dimensi Tasawuf Masa Rasulullah Saw

Seorang ulama, Syekh Thaha Abdul Baqi Surur telah mengatakan bahwa kehidupan Rasulullah saw. sebelum menjadi rasul dan hingga setelah menjadi rasul, telah dijadikan teladan utama bagi umat manusia dan orang-orang sufi yang tidak menyeleweng ke agama-agama lain selain Islam.

Okt 5, 2023
Dimensi Tasawuf Masa Rasulullah Saw

Kehidupan Rasulullah saw. telah mencerminkan ciri-ciri dan perilaku kehidupan seorang sufi yang sangat sederhana dan menderita. Di samping itu, beliau menghabiskan waktunya dalam beribadah dan bertaqarrub kepada Allah Swt. Meskipun Rasulullah belum secara official diangkat sebagai seorang rasul, beliau seringkali melakukan uzlah di Gua Hira' selama berbulan-bulan sampai akhirnya menerima wahyu pertama.

Tasawuf sendiri adalah esensi dari ajaran yang Rasulullah bawa yang juga berdasarkan pada wahyu Allah Swt. Jika berbicara soal awal mula tasawuf, dapat terlihat dari bagaimana Rasulullah bertahannuts untuk mensucikan ruhaninya. Padahal Allah sendiri pada saat itu belum menurunkan ajaran-Nya. Tapi Rasulullah dengan kebersihan hatinya sudah lebih dahulu mengetahui hal-hal yang dapat mendekatkan dirinya pada Tuhan-Nya.

Seorang ulama, Syekh Thaha Abdul Baqi Surur telah mengatakan bahwa kehidupan Rasulullah saw. sebelum menjadi rasul dan hingga setelah menjadi rasul, telah dijadikan teladan utama bagi umat manusia dan orang-orang sufi yang tidak menyeleweng ke agama-agama lain selain Islam.

Setelah resmi diangkat sebagai rasul utusan Allah, keadaan dan cara hidup beliau masih seperti sedia kala, sangat merakyat. Meskipun beliau sudah masuk di area yang serba dapat dipenuhi keinginannya. Pada malam hari, beliau sangat sedikit tidur. Waktunya sangat dipergunakan untuk bertawajjuh dan memperbayak zikir kepada Allah Swt. Adapun tempat tidurnya hanya terbuat dari balai kayu biasa dengan alasnya dari daun kurma. Beliau tidak pernah memakai pakaian dari wol meskipun mampu membelinya. Beliau mencintai cara hidup yang sederhana dan inilah yang menjadi teladan para sufi untuk menempuh jalan kebenaran.

Salah satu contoh kesederhanaa Rasulullah adalah dalam urusan makan. Beliau dan keluarganya tidak pernah mendapati makanan yang melimpah dalam kesehariannya. Namun hanya sekedar tidak kelaparan dan terpenuhinya kebutuhan pokok sehari-hari.

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah

ما شبع آل محمد صلى الله عليه وسلم من طعام ثلاثة أيام حتى قبض

"Keluaraga Rasulullah tidak pernah merasakan kenyang dari makanan selama tiga hari sampai ia sembelit."

Biasanya, sekali dalam dua atau tiga hari barulah beliau dan keluarganya makan dengan kenyang. Itupun dengan roti gandum, makanan yang sangat sederhana.

Kesahajaan menu makan Rasulullah saw. membuat istrinya Aisyah ra. selalu menangis setiap kali mengingatnya. Kadang hal demikian terjadi berbulan-bulan lamanya. 

Perlu dicatat bahwa apa yang dilakukan Rasulullah ini merupakan pola makan yang sifatnya khusus hanya bagi Rasulullah yang tidak boleh diikuti oleh umatnya. Namun Rasulullah ingin setidaknya umatnya mempu menerapkan pola hidup yang hampir mendekati hal tersebut agar tidak tenggelam dalam kenikmatan hidup. 

Dalam hadis yang diriwatkan oleh Al Maqdam bin Ma'di, Rasulullah saw. bersabda yang artinya,

"Manusia tidak memenuhi wadah yang lebih buruk daripada perut. Cukuplah bagi manusia beberapa suapan kecil yang dapat menegakkan tulang punggungnya. Bila tidak dapat, usahakanlah sepertiga untuk napasnya," (HR. Turmudzi).

Jadi tidak ada seorang pun yang berhak mengajukan keberatan kepada kaum zuhud dengan protes bahwa mereka cenderung menyiksa badan dengan menerapkan pola makan dan minum, sebab kehidupan Rasulullah identik dengan pola makan yang amat zuhud. Apalagi beliau juga mengajak umatnya agar mengikuti jejaknya dalam hal tersebut karena tahu persis efek negatif yang ditimbulkan perut kenyang. Dan efek positif meminimalisir konsumsi makanan yang dapat membebaskannya dari jerat materi dan belenggu fisik.